BAB II IMPLEMENTASI KEGIATAN
C. REKOMENDASI DAN PENUTUP
C.1. Rekomendasi
Program Pendidikan dan Pelatihan di Kabupaten Teluk Bintuni sebenarnya sudah menjadi kebiasaan yang dijalankan setiap tahun, dengan menyediakan anggaran yang cukup besar, baik pada tingkatan pemerintah daerah, OPD, maupun distrik. Tabel berikut ini menunjukkan nilai alokasi belanja pada beberapa OPD.
Tabel 5. Alokasi Anggaran Diklat OPD
OPD Anggaran Diklat
Komunikasi Informatika Persandian dan Statistik 1,246,450,000
Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang 663,500,000
Pemberdayaan Masyarakat Desa 1,361,740,000
Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak 2,022,200,000
Perencanaan 1,319,123,000
Perhubungan 1,497,000,000
Perumahan Rakyat dan Kawasan Permukiman 1,200,000,000
Rumah Sakit Umum Daerah Bintuni 750,000,000
OPD setiap tahun mengalokasikan anggaran untuk pendidikan dan pelatihan dengan nilai lebih dari 17 milyar Rupiah. Dari jumlah tersebut, berdasarkan hasil penelitian ini diperkirakan sebesar 80% anggaran pendidikan dan pelatihan digunakan untuk mengirimkan pegawai ke luar provinsi Papua Barat. Sehingga, sekitar 14 milyar anggaran terserap untuk mengikuti kegiatan pendidikan dan pelatihan ke luar provinsi. Meskipun pengiriman pegawai untuk mengikuti pendidikan dan pelatihan di luar provinsi akan memberikan tambahan wawasan dan pengetahuan yang lebih baik, hal tersebut juga dapat
33 | L a p o r a n K e g i a t a n W o r k s h o p d a n P e l a t i h a n memunculkan dampak negatif, di antaranya adalah:
1. Kurangnya efektivitas pengembangan kapasitas pegawai yang dikirimkan.Tidak banyak kegiatan pendidikan dan pelatihan yang dilaksanakan oleh lembaga pendidikan berupa bimbingan teknis, pelatihan, workshop, dan lain-lain dengan waktu yang sesuai dengan biaya yang dikeluarkan oleh pemerintah daerah. Seperti telah disebutkan di depan, anggaran pendidikan dan pelatihan untuk setiap pegawai yang dikirimkan adalah sebesar Rp20.000.000,00 yang digunakan untuk menerima materi pelatihan selama dua sampai dengan tiga hari. Tempat pendidikan dan pelatihan yang jauh juga akan mempengaruhi kesiapan dan kemampuan pegawai untuk menerima proses pembelajaran secara efektif.
2. Persepsi yang salah tentang pengiriman pegawai pada Diklat di luar wilayah.
Selama ini, pengiriman pegawai pada Diklat di luar wilayah kabupaten lebih banyak dianggap sebagai bentuk penghargaan. Tanpa adanya perubahan persepsi secara baik, maka kehadiran pegawai pada Diklat tersebut dapat keluar dari tujuan awal pengiriman pegawai tersebut.
3. Terbatasnya jumlah pegawai yang dapat dikirimkan pada Diklat di luar wilayah.
Dengan anggaran sebesar Rp20.000.000,00 per orang untuk mengikuti pendidikan dan pelatihan di luar wilayah akan memperkecil kesempatan lebih banyak pegawai yang diikutsertakan dalam program pendidikan dan pelatihan tersebut.
4. Hasil pendidikan dan pelatihan tidak terstandar. Sering kali, output dari pendidikan dan pelatihan yang diikuti oleh pegawai pada diklat yang dilakukan oleh lembaga yang berbeda memberikan hasil yang tidak standar dan pada akhirnya tidak dapat digunakan dalam kegiatan sehari-hari di Kabupaten Teluk Bintuni.
Oleh karena itu, meskipun persepsi bahwa pengiriman pegawai pada sebuah kegiatan pendidikan dan pelatihan merupakan salah satu bentuk penghargaan atas prestasi dan kinerja pegawai tersebut, dengan pertimbangan efisiensi dan efektivitas program pengembangan kapasitas aparatur sipil, pemerintah Kabupaten Teluk Bintuni dapat mulai mengembangkan sebuah mekanisme pendidikan dan pelatihan yang dilakukan
34 | L a p o r a n K e g i a t a n W o r k s h o p d a n P e l a t i h a n di dalam wilayah Kabupaten Teluk Bintuni.
Selain penyediaan anggaran di setiap OPD, Pemerintah Kabupaten Teluk Bintuni juga mengalokasikan anggaran di setiap distrik sebagai berikut.
Tabel 6. Alokasi Anggaran Diklat Distrik
Distrik Anggaran Diklat
Sebagian besar program pendidikan dan pelatihan yang dilakukan pada tingkat OPD merupakan pendidikan dan pelatihan yang sifatnya teknis dan fungsional, sehingga peran OPD untuk mengirimkan pegawai pada program-program pendidikan dan pelatihan di lembaga pelatihan khusus tetap menjadi kewajiban. Sebagai contoh, mengirimkan auditor inspektorat untuk mengikuti diklat fungsional auditor, mengirimkan pegawai Dinas PU pada diklat ke-PU-an, dan mengirimkan tenaga kesehatan untuk mengikuti diklat di bidang kesehatan, mungkin tidak dapat dilakukan sendiri oleh aparatur fungsional pelatih/widyaiswara di Kabupaten Teluk Bintuni.
35 | L a p o r a n K e g i a t a n W o r k s h o p d a n P e l a t i h a n
Berbeda dengan pelaksanaan program pendidikan dan pelatihan yang dilakukan oleh OPD, pendidikan dan pelatihan yang dilakukan oleh aparatur distrik lebih banyak dilakukan dalam rangka peningkatan kapasitas aparatur distrik untuk melaksanakan tata kelola pemerintahan distrik yang lebih baik, sehingga kegiatan pendidikan dan pelatihan tersebut dapat dilakukan secara mandiri.
Dari hasil penelitian dan FGD yang telah dilakukan, maka peneliti menyimpulkan beberapa hal sebagai berikut:
1. Pemerintah Kabupaten Teluk Bintuni sudah saatnya untuk merintis kegiatan pendidikan dan pelatihan di dalam wilayah kabupaten dengan memanfaatkan sumber daya manusia dan sumber dana yang dimiliki. Pemerintah Kabupaten dapat mulai menggeser kegiatan pendidikan dan pelatihan administratif untuk dilakukan secara internal. Sebagai contoh, pelatihan di bidang perencanaan dan keuangan.
Kedua bidang pelatihan ini seharusnya dilakukan oleh seluruh OPD, BLUD, dan Distrik, dengan penerimaan yang sama antar-instansi. Pelaksanaan diklat perencanaan dan keuangan yang dilakukan di tempat yang berbeda-beda akan menghasilkan output yang berbeda, sedangkan pemerintah kabupaten wajib menyeragamkan proses perencanaan dan keuangan.
2. Pemerintah Kabupaten Teluk Bintuni perlu merancang sistem kelembagaan pendidikan dan pelatihan dengan sekaligus melakukan penertiban struktur organisasi dan tata kelola pemerintahan yang saat ini telah ada. Saat ini, fungsi pendidikan dan pelatihan terletak pada Badan Kepegawaian Pendidikan dan Pelatihan Kabupaten Teluk Bintuni. Namun demikian, tugas dari bidang Pendidikan dan Pelatihan sejauh ini bukan untuk mendidik dan melatih pegawai. Selain itu, Badan Kepegawaian Pendidikan dan Pelatihan juga tidak memiliki kelompok jabatan fungsional pendidik dan pelatih.
3. Pengaturan kelembagaan dan persiapan penyediaan infrastruktur pendidikan dan pelatihan perlu dilakukan dengan mendasarkan pada prioritas-prioritas yang tepat.
Metoda penyampaian materi pendidikan dan pelatihan untuk level jabatan yang berbeda harus disikapi sesuai dengan harapan para peserta pelatihan, dan tidak
36 | L a p o r a n K e g i a t a n W o r k s h o p d a n P e l a t i h a n
dilakukan secara generik. Selain itu, penyediaan kurikulum juga sangat penting untuk memperhatikan perbedaan karakter pendidikan dan pelatihan pada jenjang jabatan yang berbeda tersebut.
4. Pemerintah Kabupaten Teluk Bintuni perlu melakukan kerjasama, terutama dalam hal pendampingan pengembangan kelembagaan pendidikan dan pelatihan maupun pendampingan penyusunan kurikulum dan penyediaan calon pendidik/pelatih dengan para pemangku kepentingan di bidang pengembangan kapasitas aparatur sipil, termasuk dengan akademisi maupun industri. Pengembangan kompetensi pendidik dan pelatih tidak dapat dicapai secara instan, sehingga kerjasama jangka panjang merupakan keharusan untuk dilaksanakan.
37 | L a p o r a n K e g i a t a n W o r k s h o p d a n P e l a t i h a n C.2. Penutup
Laporan ini diajukan oleh Partnership for Governance Reform Indonesia (PGRI) kepada Tangguh LNG, sebagai bagian dari instrumen monitoring dan evaluasi. Dalam lingkup programatik laporan ini, secara substantif dan manajerial, telah memperoleh legalisasi dari Partnership for Governance Reform Indonesia (PGRI).
Jakarta, 8 Desember 2018
Inda Presanti Loekman Miftah Adhi Ikhsanto
Program Director Program Manager
38 | L a p o r a n K e g i a t a n W o r k s h o p d a n P e l a t i h a n
LAMPIRAN 1: Daftar Hadir Peserta Kegiatan Workshop Dan Pelatihan Organisasi Pemerintahan Daerah Dalam Rangka Studi Sistem Pengembangan Kapasitas Aparat Pemerintah Daerah Kabupaten Teluk Bintuni
39 | L a p o r a n K e g i a t a n W o r k s h o p d a n P e l a t i h a n
LAMPIRAN 2: Foto Kegiatan Kegiatan Workshop Dan Pelatihan Organisasi Pemerintahan Daerah Dalam Rangka Studi Sistem Pengembangan Kapasitas Aparat Pemerintah Daerah Kabupaten Teluk Bintuni
Gambar 1. Ceremonial Pembukaan Kegiatan Workshop dan Pelatihan
Gambar 2. Sambutan oleh Tangguh LNG (Papuan Manager Affairs)
40 | L a p o r a n K e g i a t a n W o r k s h o p d a n P e l a t i h a n
Gambar 3. Pemaparan Materi Hari Pertama Sesi I
Gambar 4. Pemaparan Materi Hari Pertama Sesi II
41 | L a p o r a n K e g i a t a n W o r k s h o p d a n P e l a t i h a n
Gambar 5. Pemaparan Materi Hari kedua Sesi I (Role Play)
Gambar 6. Pemaparan Materi Hari Kedua Sesi II
42 | L a p o r a n K e g i a t a n W o r k s h o p d a n P e l a t i h a n
Gambar 7. Pemaparan Materi Hari Kedua Sesi III
Gambar 8. Ceremonial Penutupan
43 | L a p o r a n K e g i a t a n W o r k s h o p d a n P e l a t i h a n Gambar 9. Foto Bersama
44 | L a p o r a n K e g i a t a n W o r k s h o p d a n P e l a t i h a n