• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB II IMPLEMENTASI KEGIATAN

B. IMPLEMENTASI KEGIATAN WORKSHOP DAN PELATIHAN ORGANISASI

B.3. Hari Pertama, 9 Oktober 2018. Kegiatan Workshop Dan Pelatihan

Pengembangan Kapasitas Aparat Pemerintah Daerah Kabupaten Teluk Bintuni.

Kegiatan hari pertama diawali dengan acara ceremonial pembukaan dengan susunan Acara adalah sebagai berikut:

1. Pembukaan Kegiatan Workshop dan Pelatihan:

17 | L a p o r a n K e g i a t a n W o r k s h o p d a n P e l a t i h a n

a. Sambutan Kemitraan yang diwakili oleh Program Manager.

b. Sambutan Tangguh LNG yang diwakili oelh Papuan Affair Manager.

c. Sambutan sekaligus membuka kegiatan workshop dan pelatihan secara resmi oleh Pemerintah Kab. Teluk Bintuni yang diwakili oleh Assisten III.

1) Sesi pertama diisi oleh Dr. Hariawan Bihamding, MA (BPSDM Kemendagri) dengan membawakan materi yang berjudul Percepatan Pembangunan Daerah melalui Penguatan Disiplin Aparatur Sipil Negara di Tingkat Lokal. Pemaparan diawali dengan perkenalan diri pemateri secara singkat kepada para peserta.

Dan melanjutkan penjelasan tentang pentingnya disiplin bagi aparatur sipil negara.

Disiplin merupakan masalah klasik dan mendasar dalam membangun bangsa Indonesia. Pertanyaan kenapa disiplin sangat perlu bagi pelayan publik, kemudian pemateri mengatakan kenapa bangsa jerman, singapura dan Jepang bisa menjadi negara maju. Disiplin menjadi kata kunci untuk keberhasilan suatu bangsa. Disiplin adalah kesanggupan untuk menaati kewajiban (17 kewajiban) dan menghindari larangan (15 larangan) yang diatur dalam regulasi yang berlaku.

a) Aturan yang mengatur tentang disiplin bagi PNS meliputi:

 UU Nomor 5 Tahun 2014 tentang ASN pasal .

Untuk menjamin terpeliharanya tata tertib dlm kelancaran pelaksanaan tugas, PNS wajib mematuhi disiplin PNS.

 PP Nomor 53 Tahun 2010 tentang Disiplin PNS

dalam rangka mewujudkan PNS yang handal, profesional, dan bermoral sebagai penyelenggara pemerintahan yang menerapkan prinsip-prinsip kepemerintahan yang baik (good governance), maka PNS sebagai unsur aparatur negara dituntut untuk memiliki sikap disiplin, jujur, adil, transparan, dan akuntabel dalam melaksanakan tugas

 Perka BKN Nomor 21 Tahun 2010

18 | L a p o r a n K e g i a t a n W o r k s h o p d a n P e l a t i h a n

Penegakkan aturan disiplin bagi PNS bertujuan untuk mewujudkan PNS yang handal profesional dan bermoral sebagai penyelenggara pemerintah yang menerapkan prinsip-prinsip good governance dalam menjalan tugas secara transparan dan akuntabel dengan tetap tunduk pada pancasila UUD 1945 dan setia pada negara kesatuan republik Indonesia.

Sebagai seorang warga negara ketika diangkat menjadi PNS maka sejak saat itu pula ia (PNS) menyerahkan sebagian kedaulatan pribadinya kepada negara dan pemerintah Republik Indonesia. Sebab setelah menjadi PNS harus menaati kewajiban (17 kewajiban) dan menghindari larangan (15 larangan) yang ditentukan dalam peraturan perundang-undangan yang berlaku atau peraturan kedinasan yang apabila tidak ditaati atau dilanggar dijatuhi hukuman disiplin.

Ada 3 bentuk disiplin yakni: pertama, Disiplin Preventif adalah tindakan yang dilakukan untuk mendorong PNS menaati standar dan norma sehingga tidak terjadin pelanggaran. Kedua, Disiplin korektif yakni sebuah tindakan yang diambil setelah terjadinya pelanggaran, tindakan ini dimaksudkan untuk mencegah pelanggaran lebih lanjut; dan yang ketiga, Disiplin Progresif adalah tindakan pencegahan yang diambil untuk mencgah terjadinya pengulangan pelanggaran.

Pelanggaran disiplin meliputi:

a) Ucapan

Setiap kata-kata yang diucapkan dihadapan atau dapat didengar orang lain.

b) Tulisan

Pernyataan pikiran dan atau c) Perbuatan

19 | L a p o r a n K e g i a t a n W o r k s h o p d a n P e l a t i h a n

Setiap tingkah laku, sikap atau tindakan yang dilakukan PNS atau tidak melakukan sesuatu yang seharusnya dilakukan sesuai dengan peraturan perundang-undangan yang berlaku.

Peraturan Pemerintah No. 53 Tahun 2010 Tentang Disiplin Pegawai Negeri Sipil antara lain memuat kewajiban, larangan, dan hukuman disiplin yang dapat dijatuhkan kepada PNS yang telah terbukti melakukan pelanggaran. Penjatuhan hukuman disiplin dimaksudkan untuk membina PNS yang telah melakukan pelanggaran, agar yang bersangkutan mempunyai sikap menyesal dan berusaha tidak mengulangi dan memperbaiki diri pada masa yang akan datang.

Pemberlakukan UU ASN yang sudah berlaku sejak 2014 menggantikan UU No 43/199 tentang Pokok-Pokok Kepegawaian, yang secara teknis dipertegas dengan keluarnya PP No 11/2017 tentang Penatalaksanaan ASN, tugas pokok, fungsi, dan kewenangan „pembina kepegawaian‟ adalah melaksanakan dan mengevaluasi amanat UU ASN, PP 11/2017, PP 53/2010, dan Juknis terkait lainnya. Serta, memberikan sanksi yang tegas bagi pejabat pembina kepegawaian yang apabila tidak melaksanakan amanat dan mandat PP Disiplin ASN/PNS.

Di dalam peraturan tersebut secara tegas disebutkan jenis hukuman disiplin yang dapat dijatuhkan terhadap suatu pelanggaran disiplin. Hal ini dimaksudkan sebagai pedoman bagi pejabat yang berwenang menghukum serta memberikan kepastian dalam menjatuhkan hukuman disiplin. Demikian juga dengan batasan kewenangan bagi pejabat yang berwenang menghukum telah ditentukan dalam Peraturan Pemerintah ini.

Respon yang diberikan peserta setelah mendengar pemaparan materi dengan mengajukan pertanyaan yang berbunyi “Banyak UU dan aturan yang berlaku sangat sulit untuk diimplementasi karena akan membingungkan PNS, namun

20 | L a p o r a n K e g i a t a n W o r k s h o p d a n P e l a t i h a n

yang perlu di tekankan bahwa perlu adanya kesadaran dari diri sendiri yang diawali dari niat PNS itu sendiri. Perubahan peraturan yang sering terjadi kadangkala menjadi kesulitan. Karena aturan belum tersosialisasi dengan baik sudah ada aturan baru yang mungkin saja berbeda”

Kemudian dilanjutkan oleh peserta lainnya dengan memberikan komentar

“Aturan yang berlaku ditempatkan sebagai teguran yang bertujuan untuk melindungi PNS itu sendiri agar tidak melanggaran aturan yang ada. Kenapa aturan cendrung berubah karena dinamisnya perkembangan kehidupan sehingga aturan perlu untuk mengakomodir dinamisnya perubahan lingkungan”.

2) Sesi kedua. Paparan Hasil Studi Sistem Pengembangan Kapasitas Aparat Pemerintah Daerah Kabupaten Teluk Bintuni oleh Ahmad Amien, SE, M.Sc, CA , PhD (cd)

Pada sesi ini merupakan sesi pemaparan hasil studi yang telah dilakukan pada 2 Mei – 2 Juni 2018. Hasil studi tersebut akan menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari laporan kegiatan ini. Sebelum menguraikan temuan studi pemateri menyampaikan kebijakan pengembangan ASN secara nasional yang dituangkan pada roadmap pengembangan ASN dimana pada tahun 2005-2009 pengembangan ASN yang berfokus pada pencapaian good governance, kemudian pada tahun 2010-2014 pengembangan ASN ditempuh dengan cara melakukan reformasi birokrasi dan memberlakukan UU tentang ASN. Pada tahun 2015-2019 kebijakan pengembangan ASN mengarah pada menjadikan ASN yang SMART dengan karakter global mindset, IT/Digital and foreign lang, High Network.

Seangkan pada tahun 2020-2024 kebijakan pengembangan ASN lebih mengarah pada ASN human capital.

21 | L a p o r a n K e g i a t a n W o r k s h o p d a n P e l a t i h a n

Gambar: Slide Materi Pemaparan Hasil Studi Sistem Pengembangan Kapasitas

Idealnya pengembangan ASN di lingkup pemerintah Kab. Teluk Bintuni tidak lagi berbicara pada pencapaian good governance mengingat fokus kebijakan pengembangan ASN untuk pencapaian good governance dicanangkan pada tahun 2004-2009 dan saat ini kebijakan pengembangan ASN yang ditetapkan oleh pemerintah pusat adalah menciptakan ASN yang SMART.

Pengembangan Kapasitas ASN sesuai dengan UU ASN:

 Kompetensi yang diperlukan sesuai dengan bidang tugas (Pasal 3 huruf d).

 Sistem Merit adalah kebijakan dan Manajemen ASN yang berdasarkan pada kualifikasi, kompetensi, dan kinerja secara adil dan wajar... Dst (Pasal 51).

 Pengangkatan PNS dalam jabatan tertentu ... ditentukan berdasarkan perbandingan objektif antara kompetensi, kualifikasi, dst(Pasal 68 ayat 2).

 Pengembangan karier PNS dilakukan berdasarkan kualifikasi, kompetensi, penilaian kinerja, dan kebutuhan Instansi Pemerintah (Pasal 69 ayat 1).

Setidak ada 3 kompetensi teknis yang harus dimiliki oleh ASN dalam menjalankan tugas sesuai dengan bidang tugasnya yakni:

22 | L a p o r a n K e g i a t a n W o r k s h o p d a n P e l a t i h a n

 kompetensi teknis: tingkat dan spesialisasi pendidikan, pelatihan teknis fungsional, dan pengalaman bekerja secara teknis;

 kompetensi manajerial: tingkat pendidikan, pelatihan struktural atau manajemen, dan pengalaman kepemimpinan;

 kompetensi sosial kultural: pengalaman kerja berkaitan dengan masyarakat majemuk dalam hal agama, suku, dan budaya sehingga memiliki wawasan kebangsaan

Namun pertanyaannya dalam pengembangan kompetensi teknis, apakah dapat dilakukan secara mandiri oleh pemerintah Kab. Teluk Bintuni? Mengingat ketiadaan lembaga atau badan diklat yang dimiliki oleh Pemerintah kab. Teluk Bintuni. Dengan besarnya alokasi anggaran untuk pengembangan kapasitas SDM ASN pada tahun 2017 yang berjumlah Rp. 22,5 miliar belum menjawab kebutuhan yang ada karena merujuk pada hasil studi menunjukkan bahwa 73 responden menyebutkan bahwa dengan diadakan diklat sebanyak dua kali dalam setahun dirasakan masih cukup kuran. Hal ini disebabkan bahwa topik materi dan jenis diklat belum sesuai dengan kebutuhan ASN dalam menunjang bidang tugasnya.

23 | L a p o r a n K e g i a t a n W o r k s h o p d a n P e l a t i h a n

Tabel 4 Anggaran Diklat menurut OPD T.A 2017

Secara singkat hasil studi menunjukkan bahwa:

a) Jumlah ASN pada lingkup Pemerintah Kabupaten Teluk Bintuni menurut

Pemberdayaan Masyarakat Desa 1.361.740.000 Pemberdayaan Perempuan dan

Sekretariat Daerah 1.460.800.000

Sosial (BPBD) 624.463.000

Sosial (DINSOS) 210.000.000

17.048.357.195

24 | L a p o r a n K e g i a t a n W o r k s h o p d a n P e l a t i h a n

b) Pada level pimpinan, ada problem yang berkaitan dengan kecakapan pimpinan OPD dalam proses menghimpun dan menggerakan orang (SDM:

yang dimiliki), memperoleh dan menggunakan anggaran, mengadakan, mempergunakan, dan memelihara peralatan dan berbagai sumber daya serta pengelolaan program demi tercapainya tujuan organisasi Dinas Daerah.

Fakta seperti ini sangat paradoks dengan orientasi manajemen penyelenggaraan pemerintah modern selalu mengorientasikan tindakan-tindakannya pada pencapaian sesuatu hasil yang nyata (Result Oriented Government). Hal tersebut didukung dengan temuan yang di peroleh peneliti saat melakukan proses pengumpulan data, yakni:

1. Kepemimpinan pada OPD tidak Efektif dan efisien.

2. Kepemimpinan pada OPD tidak komunikatif.

3. Kepemimpinan pada OPD dijalankan secara intuitif

c) Problem kompetensi teknis dan kompetensi lain yang dibutuhkan dalam menjalankan tugas ditemukan disetiap level managerial OPD yang ada di lingkup pemerintah Kab. Teluk Bintuni dengan varian yang berbeda.

d) Kurikulum merupakan aspek terpenting dalam pengembangan diklat daerah.

Metoda pembelajaran untuk diklat manajerial harus dipersiapkan dengan metoda yang berbeda. Pemateri sangat menentukan keberhasilan palatihan teknis/fungsional dan administrasi.

25 | L a p o r a n K e g i a t a n W o r k s h o p d a n P e l a t i h a n

B.4. Hari Kedua, 10 Oktober 2018. Kegiatan Workshop Dan Pelatihan

Dokumen terkait