ANALISIS DAN PEMBAHASAN
B. Hasil analisi dan pembahasan
1. Uji Statistik Deskriptif Variabel Penelitian
Statistik deskriptif digunakan untuk menggambarkan nilai maksimum, minimum dan rata-rata masing-masing variabel penelitian yang digunakan. Alat yang digunakan untuk mendeskripsikan variabel dalam penelitian ini adalah nilai minimum, maksimum, rata-rata (mean) dan standar deviasi.
Variabel-variabel yang digunakan dalam penelitian ini meliputi earning management yang diproksikan dengan discretionary accrual, corporate governance yang diukur dengan dewan komisaris, kepemilikan manajerial, kepemilikan institusional dan klasifikasi akuntan publik serta ukuran perusahaan yang merupakan variabel independen terhadap nilai perusahaan yang diukur dengan menggunakan harga saham penutupan yang merupakan variabel dependen. Hasil pengujian variabel-variabel tersebut secara deskriptif dijelaskan seperti berikut ini :
a. Earning management
Berdasarkan perhitungan dengan rumus model Jones yang dimodifikasi (Riahi-Belkoui, 2007) maka didapat hasil perhitungan statistik deskriptif manajemen laba tahun 2008, 2009, 2010, dan 2011 dengan spss 16.0 sebagai berikut :
69
Sumber: data diolah
Berdasarkan hasil statistik deskriptif diatas, terlihat bahwa nilai minimum dari earning management yang diproksikan dengan discretionary accrual sebesar -1,19 yang membuktikan besaran income descreasing (salah satu model manajemen laba) dengan tujuan agar laba terlihat lebih kecil dari yang seharusnya, sedangkan nilai maksimum 1,80 membuktikan bahwa income increasing yang termasuk pola manajemen laba telah dilakukan didalam perusahaan sampel, hal ini didukung oleh bonus plan hypotesis, bahwa manjer meningkatkan laba dengan tujuan untuk memperoleh bonus yang dihitung atas dasar laba. Standar deviasi pada tabel menunjukkan kemiringan data pada nilai 0,27433 dengan nilai rata – rata populasi -0,0042 nilai mean ini dibawah nilai dari standar deviasi hal ini menunjukkan bahwa data tidak terdapat outliet (Sujianto, 2009).
Tabel 4.2
Descriptive Statistics
N Minimum Maximum Mean Std. Deviation
Earning 336 -1.19 1.80 -.0042 .27433
70 b. Jumlah Dewan komisaris
Dewan komisaris adalah proksi dari corporate governance yang diukur berdasarkan jumlah dewan komisaris yang ada dalam suatu perusahaan. Hasil perhitungan statistik deskriptif untuk jumlah dewan komisaris selama tahun periode penilitian dengan SPSS 16.0 adalah sebagai berikut :
Table 4.3
Descriptive Statistics
N Minimum Maximum Mean Std. Deviation
Komisaris 336 2.00 11.00 4.3185 1.82595
Valid N (listwise) 336
Sumber : data sekunder diolah
Dari hasil pengujian table 4.3 menunjukkan bahwa nilai minimum komisaris independen sebesar 2,00 atau 2 orang yang dimiliki oleh PT. Inti Keramik Alam Asri Industri.Tbk dan PT Beton Jaya Manunggal. Tbk selama periode 2008-2011 dan nilai maksimum sebesar 11,00 atau 11 orang yang dimiliki oleh PT Astra Internasional. Tbk pada tahun 2010 dan 2011. Nilai mean sebesar 4,3185 atau 4 orang dan standar deviasi dari dewan komisaris independen sebesar 1,82595 atau 2 orang.
71 c. Kepemilikan institusional
Kepemilikan saham institusioal diukur dari jumlah persentase saham yang dimiliki oleh institusi disetiap perusahaan. Maka hasil statistik deskriptif kepemilikan saham institusional adalah sebagai berikut :
Table 4.4
Descriptive Statistics
Sumber : data diolah
Pada tabel 4.4 menunjukkan bahwa sampel yang kepemilikan saham institusionalnya terbesar adalah PT. Bentoel Internasional Investama Tbk ditahun 2010 yaitu sebesar 99,14% dan sampel dengan proporsi kepemilikan saham institusional terkecil adalah PT. Beton Jaya Manunggal Tbk pada tahun 2008-2009. Untuk besaran rata-rata komposisi saham yang dimiliki oleh pihak institusional dari banyaknya jumlah data yang diteliti sebesar 71,59%. standar deviasi dari kepemilikan saham institusional sebesar 19,03245, nilai ini menunjukkan besarnya keragaman dari kepemilikan saham instituonal yang diteliti.
N Minimum Maximum Mean Std. Deviation
institusional 336 .00 99.14 71.5869 19.03245
72 d. Kepemilikan Manajerial
Dalam penelitian ini kepemilikan manajerial diukur dengan dummy variable, apabila ada kepemilikan manajerial dalam perusahaan maka akan dinilai satu jika tidak maka nol. hasil statistik deskriptif kepemilikan manajerial adalah sebagai berikut :
Table 4.5
Sumber: data diolah
variabel kepemilikan manajerial memiliki nilai minimum sebesar 0,00% dan nilai maksimum sebesar 100%. Nilai rata-rata variabel ini adalah sebesar 0,2411 dengan standar deviasi sebesar 0,42837. Hal ini berarti bahwa manajer perusahaan memiliki 24% saham dari seluruh saham perusahaan.
e. Klasifikasi Akuntan Publik
Klasifikasi akuntan publik dalam penelitian ini menggunakan dummy variable. Jika perusahaan diaudit oleh KAP Big 4 maka akan dinilai satu, sedangkan jika tidak diaudit oleh KAP Big 4 makan nilainya nol. hasil statistik deskriptif klasifikasi akuntan publik adalah sebagai berikut :
Descriptive Statistics
N Minimum Maximum Mean Std. Deviation
Manajerial 336 .00 1.00 .2411 .42837
73 Table 4.6
Descriptive Statistics
N Minimum Maximum Mean Std. Deviation
Kap 336 .00 1.00 .4077 .49215
Valid N (listwise) 336
Sumber : data sekunder diolah
Variabel klasifikasi akuntan publik memiliki nilai minimum sebesar 0,00% dan nilai maksimum sebesar 100%. Nilai rata-rata variabel ini adalah sebesar 0,4077 sedangkan nilai standar devisasi sebesar 0,49215. Hal ini berarti bahwa perusahaan sampel rata-rata menggunakan kalsifikasi akuntan publik yang berkualitas sebesar 40%. Penggunaan akuntan publik yang berkualitas akan mengurangi kesempatan perusahaan untuk melakukan kecurangan dalam menyajikan informasi yang tidak akurat.
f. Ukuran perusahaan
Menurut Yenny Charlemagne (2005) dalam Asnawi dan Wijaya (2006), ukuran perusahaan berdasarkan total assets dikategorikan menjadi dua kriteria, yaitu :
1. Perusahaan besar, kriterianya : total assets lebih besar dari 400 milliar.
2. Perusahaan kecil, kriterianya : total assets lebih kecil dari 400 milliar.
74 Variabel ukuran perusahaan berdasarkan total assets dibentuk menjadi variabel dummy, yaitu : perusahaan besar dengan nilai dummy 1 dan perusahaan kecil dengan nilai dummy 0. Hasil statistik deskriptif ukuran perusahaan adalah sebagai berikut : Tabel 4.7 V a r i
sumber: data diolah
Tabel ukuran perusahaan memiliki nilai minimum sebesar 0,00% dan nilai maksimum sebesar 100%. Nilai rata-rata variabel ini adalah sebesar 0,7411 sedangkan nilai standar devisasi sebesar 0,4387. Hal ini berarti perusahaan sampel dapat dikategorikan dalam perusahaan besar dengan tingkat persebaran data sebesar 0,4387 karena memiliki nilai standar deviasi yang lebih kecil dari nilai rata – rata (0,43870 < 0,7411), sehingga dapat disimpulkan hampir semua perusahaan sampel memiliki ukuran perusahaan yang sama.
Descriptive Statistics
N Minimum Maximum Mean Std. Deviation
Size 336 .00 1.00 .7411 .43870
75 g. Nilai perusahaan
Nilai perusahaan di-proksi-kan harga saham penutupan sebagai dasar perhitungannya. Adapun hasil perhitungan statistik deskriptif nilai perusahaan adalah sebagai berikut :
Table 4.8
Descriptive Statistics
N Minimum Maximum Mean Std. Deviation
Nilai 336 1.06 1620.00 2.39722 292.33617
Valid N (listwise) 336
Sumber : data sekunder diolah
Dilihat dari tabel 4.8 diatas menunjukkan bahwa nilai minimum nilai perusahaan sebesar 1,06 sedangkan nilai maksimum sebesar 1620 dan mean sebesar 2,39722 dengan standar deviasi 292,33617. Hal ini menunjukkan bahwa rata-rata perusahaan yang digunakan sampel memiliki nilai positif (meningkat). Homongan Siallagan dan Mas’ud Machfoedz (2006).
2. Uji asumsi klasik
a. Uji normalitas
Uji normalitas dilakukan dengan menggunakan metode propability-plot (p-plot), pengujian ini dimaksudkan untuk mengetahui apakah dalam model regresi, variabel pengganggu atau residual mempunyai distribusi normal.
76 Pengujian normalitas yang dilakukan dalam penelitian ini untuk menguji apakah data telah berdistribusi normal atau tidak, adapun hasil yang didapat adalah sebagai berikut :
Gambar 4.1
P- plot
Dari gambar 4 memperlihatkan penyebaran data yang ada disekitar dan mengikuti garis diagonal. Ini menunjukkan bahwa model regresi telah memenuhi asumsi normalitas. b. Uji Multikoloniearitas
Multikolonealitas menunjukkan apakah dalam model regresi ditemukan adanya korelasi antar variabel bebas (variabel independen). Model regresi yang baik seharusnya tidak terjadi kolerasi antar variabel independennya. Terdapat beberapa metode yang dapat digunakan untuk mendeteksi
77 adanya masalah multikolinearitas, salah satu metodenya ialah dengan melihat nilai korelasi parsial.
Uji multikolinearitas dengan korelasi parsial dilakukan dengan membandingkan antara koefesien determinasi keseluruhan dengan nilai koefesien korelasi parsial semua variabel bebasnya. Jika nilai koefesien determinasi keseluruhan lebih besar dari nilai koefesien parsial semua variabel bebasnya maka model tersebut tidak mengandung gejala multikolinearitas (Suliyanto, 2011: 88).
Hasil uji multikolonieritas terhadap data ditunjukkan pada tabel berikut ini :
Tabel 4.9
Hasil uji multikolinearitas
Summaryb M o d e l
Sumber : data diolah
Model R R Square Adjusted R Square Std. Error of the Estimate 1 .772a .596 .589 .27104
78 Coefficientsa Model Unstandardized Coefficients Standardized Coefficients t Sig. Correlations B Std. Error Beta
Zero-order Partial Part
1 (Constant) .394 .017 23.099 .000 Earning -.061 .028 -.114 -2.187 .029 .471 -.120 -.077 Komisaris -.059 .052 -.041 -1.124 .262 .082 -.062 -.039 Institusional .188 .025 .267 7.463 .000 .376 .380 .261 Manajerial -.011 .018 -.021 -.599 .549 .016 -.033 -.021 Kap -.167 .087 -.204 -1.929 .055 .659 -.106 -.068 Ukuran .778 .098 .954 7.958 .000 .721 .402 .279
Sumber : data sekunder diolah
Berdasarkan output pada model summary terlihat bahwa koefesien determinasi secara keseluruhan adalah sebesar 0.596 sedangkan untuk nilai korelasi parsial yang terlihat bahwa nilai-nilainya tidak ada yang lebih besar dari koefesien determinasi keseluruhannya, hal ini menunjukkan bahwa model regresi yang terbentuk tidak terjadi gejala multikolinearitas.
c. Uji Autokolerasi
Untuk mengetahui ada tidaknya masalh autokorelasi digunakan uji Durbin Watson. Uji D-W hanya digunakan untuk autokorelasi tingkat stud an mensyaratkan adanya intercept (konstanta) dalam model regersi dan tidak ada
79 variabel lagi diantara variabel independen (Ghozali, 2005: 96).
Panduan mengenai angka D-W untuk mendeteksi autokorelasi biasa dilihat pada table D-W, yang biasa dilihat pada buku stastistik yang relevan. Namun demikian secara umum biasa diambil patokan (Santoso, 2000: 219) :
1. Angka D-W dibawah -2 berarti ada autokorelasi positif 2. Angka D-W di antara -2 sampai +2 berarti tidak ada
autokorelasi
3. Angka D-W di atas +2 berarti ada Autokorelasi negatif
Tabel 4.10 Hasil uji autokolerasi
Model Summaryb Model R R Square Adjusted R Square Std. Error of the Estimate Durbin-Watson 1 .772a .596 .589 .27104 1.900 Sumber: Data Diolah
Dari tabel diatas dapat disimpulkan bahwa nilai Durbin- Watson sebesar 1,900. Hal ini menunjukkan bahwa nilai Durbin –Watson berada diantara -2 sampai +2, artinya tidak ada masalah autokorelasi dalam penelitia ini. Ukuran yang diambil berdasarkan sumber Singgih Santoso (2000: 219).
80 d. Uji heterokedastisitas
Heterokedastisitas dilakukan untuk menguji apakah dalam model regresi terjadi ketidaksamaan variance dari residual suatu pengamatan ke pengamatan lain. Hasil pengujian dapat diamati dengan menggunakan grafik scatterplot.
Gambar 4.2
Hasil uji heterokedastisitas
Gambar 4.2
Hasil uji heteroskedastisitas
Dari grafik scatterplot diatas terlihat bahwa titik-titik menyebar secara acak serta tersebar baik diatas maupun dibawah angka 0 pada sumbu Y Maka dapat disimpulkan bahwa tidak terjadi heteroskedastisitas pada model regresi yang dipakai.
81 3. Koefesien determinasi (adjusted R²)
Koefesien determinasi bertujuan untuk menerangkan seberapa jauh kemampuan variabel-variabel independen menjelaskan variabel dependen. Kelemahan dalam menggunakan R² adalah adanya bias terhadap jumlah variabel independen yang dimasukkan kedalam model. Dalam penelitian ini digunakan nilai adjusted R² untuk mengukur kemampuan variabel-variabel independen menjelaskan variabel dependen.
Tabel 4.11
Hasil analisis adjusted R²
Model Summaryb Model R R Square Adjusted R Square Std. Error of the Estimate 1 .772a .596 .589 .27104 Sumber : data sekunder diolah
Tabel 4.11 menunjukkan nilai R² sebesar 0.723. hal ini berarti nilai perusahaan sebagai variabel dependen yang diproksikan dengan harga saham dapat dijelaskan oleh variabel independen yang diproksikan dengan earning management, kepemilikan institusional, kepemilikan managerial, klasifikasi akuntan publik, jumlah komisaris independen dan ukuran perusahaan sebesar 72%. sedangkan sisanya 28% dijelaskan oleh variabel lain yang tidak diikutsertakan dalam model seperti manajemen resiko,
82 leverage (Uyun, 2011), bonus kompensasi, komite audit dan ukuran dewan direksi (Praditha, 2011), serta corporate social responsibility (Permanasari, 2010).
4. Uji hipotesis
a. Uji Individu (uji t)
Uji t bertujuan untuk menguji seberapa jauh variabel-variabel independen secara individu menerangkan variabel dependen (ghozali, 2005). Berikut pengujiannya :
Tabel 4.12 Hasil uji regresi variabel
Model Unstandardized Coefficients Standardized Coefficients t Sig. B Std. Error Beta 1 (Constant) .394 .017 23.099 .000 Earning -.061 .028 -.114 -2.187 .029 Komisaris -.059 .052 -.041 -1.124 .262 Institusional .188 .025 .267 7.463 .000 Manajerial -.011 .018 -.021 -.599 .549 Kap -.167 .087 -.204 -1.929 .055 Ukuran .778 .098 .954 7.958 .000 Sumber : data sekunder diolah
Berdasarkan tabel 4.12 diatas maka persamaan regresinya dapat dirumuskan sebagai berikut:
Y = 0,394 – 0,061 − 0,059 ₂+ 0,188 D
83 Untuk menguji hipotesis yang diajukan diterima atau ditolak dengan melihat tingkat signifikasi (pada kolom sig) di tabel 4.12 maka hipotesis penelitian tentang pengaruh antar variabel .dependen dan variabel independen secara individu dapat dijelaskan sebagai berikut :
1) Earning management terhadap nilai perusahaan
Hasil pengujian hipotesis 1 mengenai pengaruh manajemen laba terhadap nilai perusahaan menunjukkan koefesien 0,114 nilai t sebesar -2,187 dengan signifikansi sebesar 0,029. Nilai signifikansi pengujian tersebut lebih kecil dari 0,05. Dengan demikian variabel earnings management mempunyai pengaruh yang signifikan terhadap nilai perusahaan. Dengan demikian, hipotesis 1 yang menyatakan bahwa earning management berpengaruh terhadap nilai perusahaan diterima.
Hasil ini selaras dengan penelitian yang dilakukan oleh Paramita (2008), Diah Ayu Pratiwi (2010) yang menyatakan bahwa earning management mempunyai pengaruh yang signifikan terhadap nilai perusahaan.
Berdasarkan agency theory bahwa hubungan keagenan dapat menimbulkan konflik kepentingan antara pemilik (investor) dan manajer (agen). Kontrak dibuat dengan harapan dapat meminimalisir konflik kepentingan
84 tersebut. Hasil penlitian ini menemukan bahwa tindakan earning management yang dilakukan oleh manajer tidak akan memberikan reaksi yang menguntungkan yang nantinya akan berdampak pada penurunan nilai perusahaan yang tercermin pada harga saham itu sendiri, sehingga ketika tujuan yang dimiliki antara pihak manajemen dan pihak pemodal berbeda maka konflik keagenan tidak dapat dihindari dalam perusahaan tersebut.
Pihak manajemen akan merugikan pemilik modal dengan berperilaku tidak etis dan opportunistic yang dapat memberikan dampak pada kualitas labai. Laba yang bersifat oportunis yang memiliki kualitas rendah tidak akan mewakili informasi yang sebenarnya yang tentunya akan sangat merugikan bagi para investor dan juga perusahanan sebab hal ini berhubungan dengan nilai dari perusahaan tersebut yang tercermin dari harga saham yang ditransaksikan.
Hasil penelitian ini bertentangan dengan penelitian yang dilakukan oleh Theresia (2005) Ujiyanto dan Pramuka (2007). Earning management (discrecionary accrual) tidak berpengaruh secara signifikan terhadap nilai perusahaan.
85 2) Jumlah Dewan Komisaris terhadap nilai perusahaan
Dari hasil uji t pada tabel 4.12 menunjukkan nilai koefesien sebesar 0,041 dengan nilai t sebesar -1,124 dan nilai signifikan dewan komisaris sebesar 0,262. Nilai signifikansi pengujian tersebut lebih besar dari 0,05. yang berarti dewan komisaris tidak berpengaruh secara signifikan terhadap nilai perusahaan.
Penelitian ini selaras dengan penelitian yang dilakukan oleh Sylvia (2005) dan Rizal (2008) yang menyatakan bahwa dewan komisaris tidak memiliki pengaruh signifikan terhadap nilai perusahaan.
Namun penelitian ini bertentangan dengan penelitian yang dilaukuan oleh Mas’ud dan Hamonangan (2006) yang menyatakan bahwa dewan komisaris berpengaruh signifikan terhadap nilai perusahaan.
3) Kepemilikan institusional terhdap nilai perusahaan
Berdasarkan tabel 4.12 menunjukkan koefesien 0,267 nilai t sebesar 7,463 dengan nilai signifikansi sebesar 0,000. Nilai signifikansi pengujian tersebut lebih kecil dari 0,05, yang berarti Ha diterima dan Ho ditolak sehingga dapat dikatakan bahwa kepemilikan institusional berpengaruh secara signifikan terhadap nilai perusahaan.
86 Hasil penelitian ini selaras dengan penelitian yang dilakukan, kartika (2007) Rizal (2008) dan Diah Ayu Pratiwi (2010) serta Serli (2011) yang menyatakan bahwa kepemilikan institusional berpengaruh signifikan terhadap nilai perusahaan. Hal ini mungkin dikarenakan pihak institusional dapat mengontrol perusahaan dengan lebih teliti sehingga kemungkinan manajemen melakukan manajemen laba dapat dikurangi yang pada akhirnya akan meningkatkan nilai dari perusahaan tersebut.
Namun penelitian ini bertentangan dengan penelitian yang dilakukan oleh Midiastuty dan Machfoedz (2003) yang menyatakan bahwa kepemilikan institusional tidak berpengaruh sigtifikan terhadap nilai perusahaan. 4) Kepemilikan manajerial terhadap nilai perusahaan
Tabel 4.12 menunjukkan bahwa kepemilikan manajerial memiliki tingkat koefesien 0,021. nilai t sebesar -0,599 dan signifikansi sebesar 0,549. tingkat signifikansi tersebut lebih besar dari 0,05 yang berarti Ho diterima dan Ha ditolak sehingga dapat dikatakan bahwa kepemilikan manajerial tidak berpengaruh secara signifikan terhadap nilai perusahaan.
Hasil penelitian ini sesuai dengan hasil penelitian Permanasari (2010) yang menyatakan bahwa kepemilikan
87 manajerial tidak memiliki pengaruh yang signifikan terhadap nilai perusahaan, begitu juga dengan penelitian Rustendi dan Jimmy (2008). Penolakan hipotesis ini kemungkinan terjadi dikarenakan kepemilikan manajerial terlalu rendah sehingga kinerja manajer dalam mengelola perusahaan kurang optimal dan manajer sebagai pemegang saham minoritas belum dapat berpartisipasi aktif dalam membuat suatu keputusan diperusahaan, sehingga tidak mempengaruhi nilai perusahaan.
Penelitian ini tidak sesuai dengan penelitian yang dilakukan oleh Gudono (2000) dan Mehran (1994). Kedua peneliti tersebut menyatakan bahwa kepemilikan manajerial berpengaruh signifikan terhadap nilai perusahaan.
5) Klasifikasi akuntan publik terhadap terhadap nilai perusahaan
Variabel klasifikasi akuntan publik memiliki nilai koefesien sebesar 0, 204 dengan nilai t sebesar -1,929 dan nilai signifikansi sebesar 0, 055. Nilai signifikansi pengujian tersebut lebih besar dari 0,05. Hal ini berarti klasifikasi akuntan publik tidak berpengaruh signifikan terhadap nilai perusahaan.
88 Penelitian ini selaras dengan penelitian yang dilakukan oleh Siregar dan Utama (2006) menyatakan bahwa KAP tidak berpengaruh terhadap nilai perusahaan. Semakin tinggi atau bagusnya kualitas dari auditor tidak berpengaruh terhadapi nilai perusahaan. Laporan keuangan yang diaudit oleh auditor bereputasi dipercaya lebih berkualitas sehingga dapat menampilkan nilai perusahaan yang sebenarnya, namun investor tidak terlalu merespon hal ini. Investor cenderung melihat peran monitoring yang dilakukan dewan komisaris dalam meningkatkan nilai dari perusahaan tersebut.
Namun, Penelitian ini bertentangan dengan penelitian yang dilakukan oleh Herawaty (2008) yang menyatakan bahwa klasifikasi akuntan publik yang diukur dengan KAP Big 4 dan Non big 4 berpengaruh terhadap nilai perusahaan.
6) Ukuran perusahaan terhadap nilai perusahaan
Ukuran perusahaan memiliki nilai koefesien sebesar 0, 954 dengan nilai t sebesar 7,958 dan nilai signifikansi sebesar 0,000 Nilai signifikansi pengujian tersebut lebih kecil dari 0,05 yang berarti bahwa Ha dierima dan Ho ditolak. hasil tersebut menunjukkan bahwa
89 variabel ukuran perusahaan berpengaruh signifikan terhadap nilai perusahaan dengan tingkat signifikansi 0,05.
Ukuran perusahaan dapat diproksi melalui Total Asset (TA) atau kekayaan perusahaan pada akhir tahun (Taswan, 2003). Jika perusahaan memiliki total asset yang besar maka pihak manajemen akan lebih leluasa dalam menggunakan asset yang ada di perusahaan tersebut. Kemudahan dalam mengendalikan asset perusahaan akan meningkatkan nilai perusahaan. Sehingga, investor cenderung menyukai perusahaan yang dengan kemampuan memunculkan dana yang lebih besar dibandingkan dengan perusahaan kecil.
Hasil ini selaras dengan penelitian yang dilakukan oleh Rachmawati dan Hanung (2007) serta Herawaty (2008), yang menyatakan bahwa ukuran perusahaan berpengaruh signifikan terhadap nilai perusahaan dimana semakin besar ukuran suatu perusahaan maka nilai perusahaan akan semakin meningkat. Temuan ini menunjukkan bahwa investor mempertimbangkan ukuran perusahaan dalam membeli saham. Ukuran perusahaan dijadikan patokan bahwa perusahaan tersebut mempunyai nilai perusahaan yang baik.
90 Namun hasil ini berbeda dengan penelitian Darmawati (2005) maupun penelitian Siallagan dan Mas’ud (2006) yang menyatakan bahwa ukuran perusahaan tidak berpengaruh terhadap nilai perusahaan. b. Uji simultan (uji F)
Signifikansi model regresi pada penelitian ini diuji dengan melihat nilai signifikansi (pada kolom sig) dan nilai F tabel. Hasil analisis regresi disajikan dalam tabel berikut ini :
Tabel 4.13 Hasil uji simultan
ANOVAb Model Sum of Squares df Mean Square F Sig. 1 Regression 35.723 6 5.954 81.046 .000a Residual 24.169 329 .073 Total 59.892 335 Sumber : data sekunder yang diolah
Dari hasil analisis regresi tersebut, didapat nilai F tabel adalah 81,046 dengan tingkat signifikansi 0,001 oleh karna lebih kecil dari 0,05 maka model regresi panelitian ini dapat dipakai untuk memprediksi nilai perusahaan. Berdasarkan tingkat signifikansi dari tabel 4.13 tersebut lebih kecil dari 0,05 bararti Ha diterima dan Ho ditolak. Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa secara simultan (bersama-sama) earning management, jumlah
91 dewan komisaris, kepemillikan institusional, kepemilikan manajerial, klasifikasi akuntan publik dan ukuran perusahaan berpengaruh terhadap nilai perusahaan. Dengan kata lain, model regresi yang terbentuk adalah signifikan.
93
BAB V