• Tidak ada hasil yang ditemukan

TINJAUAN PUSTAKA

F. Keterkaitan Antar Variabel

1. Earning Management dan Nilai Perusahaan.

Para manajer memiliki fleksibilitas untuk memilih beberapa alternatif dalam mencatat transaksi sekaligus memilih opsi-opsi yang ada dalam perlakuan akuntansi. Fleksibilitas ini digunakan oleh manajemen perusahaan untuk mengelola laba. Perilaku manajemen yang mendasari lahirnya manajemen laba adalah perilaku opportunistic manajer dan efficient contracting. Sebagai perilaku opportunistic, manajer memaksimalkan utilitasnya dalam menghadapi kontrak kompensasi dan hutang dan political cost (Scott, 2006).

Perilaku oportunis ini direflesikan dengan melakukan rekayasa keuangan dengan menerapkan income increasing atau income decraesing decretionary accrual. Sedangkan sebagai efficient contracting yaitu meningkatkan keinformatifan laba dalam mengomunikasikan informasi privat.

34 Pada dasarnya, defenisi operasional dari earning management menurut Belkaoui (2007: 201) adalah:

“Perilaku yang dilakukan manajer perusahaan untuk meningkatkan atau menurunkan laba dalam proses pelaporan keuangan eksternal dengan tujuan untuk menguntungkan dirinya sendiri”.

Manajer sebagai pengelola perusahaan lebih banyak mengetahui informasi internal dan prospek perusahaan di masa yang akan datang dibanding pemilik sehingga menimbulkan kesenjangan informasi. Dengan adanya asimetri informasi, menyebabkan prinsipal tidak dapat mengetahui kondisi yang sebenarnya, sehingga manajer dapat memanfaatkan fleksibilitas yang diberikan standar akuntansi untuk melakukan manajemen laba.

Menurut Haris (2004) dalam Ujiyantho dan Bambang (2007: 8) manajemen laba yang dilakukan manajer pada laporan keuangan akan mempengaruhi nilai saham yang selanjutnya akan mempengaruhi nilai perusahaan.

Dari penelitian – penelitian sebelumnya, maka hipotesis yang diajukan adalah:

Ha.1 : terdapat pengaruh earning management terhadap nilai perusahaan.

35 2. Mekanisme Corporate Governance dan nilai perusahaan

Corporate governance merupakan seperangkat sistem yang mengatur dan mengendalikan perusahaan untuk menciptakan nilai tambah (value added) bagi para pemangku kepentingan. Menurut Nasution dan Setiawan (2007), Corporate Governance merupakan konsep yang diajukan demi peningkatan kinerja perusahaan melalui supervis atau monitoring kinerja manajemen dan menjamin akuntabilitas manajemen terhadap stakeholder dengan mendasarkan pada kerangka peraturan.

Konsep corporate governance diajukan demi tercapainya pengelolaan perusahaan yang lebih transaparan bagi semua pengguna laporan keuangan. Bank Dunia mendefinisikan corporate governance sebagai aturan dan standar organisasi di bidang ekonomi yang mengatur perilaku pemilik perusahaan, direktur, dan manajer serta perincian dan penjabaran tugas dan wewenang serta pertanggungjawabannya kepada investor (pemegang saham dan kreditur).

Penerap corporate governance dipercaya dapat meningkatkan nilai perusahaan. Kusumawati dan Riyanto (2005: 3) mengemukakan bahwa corporate governance yang efektif dalam jangka panjang dapat meningkatkan kinerja perusahaan dan menguntungkan pemegang saham. Tjager, et al (2003) dalam Lastanti (2004: 25) menyatakan bahwa secara teoritis praktek

36 corporate governance dapat meningkatkan nilai perusahaan diantaranya meningkatkan kinerja keuangan, mengurangi resiko yang merugikan akibat tindakan pengelola yang cenderung menguntungkan diri sendiri dan umumnya corporate governance dapat meningkatkan kepercayaan investor.

Konflik kepentingan tersebut dapat diminimalkan dengan suatu mekanisme yang mampu mensejajarkan kepentingan pemegang saham selaku pemilik dengan kepentingan manajemen (Lastanti, 2004: 25).

Gray dan Radebaugh (2009) menggambarkan sebuah mekanisme corporate governance yang dibagi ke dalam dua struktur. Mekanisme merupakan suatu aturan main, prosedur dan hubungan yang jelas antara pihak yang mengambil keputusan dengan pihak yang melakukan kontrol terhadap keputuan tersebut. Pertama adalah struktur mekanisme pengendalian internal perusahaan. Pihak- pihak yang terlibat dalam mekanisme internal ini adalah agent dan principal yang terdiri komposisi board of directors dan executive manajer di dalam perusahaan. Yang kedua adalah struktur mekanisme pengendalian eksternal. Struktur mekanisme pengendalian external terdiri dari stakeholder yang berkepentingan dan berhubungan dengan perusahaan antara lain Pasar Modal, Pasar Uang, Auditor, Paralegal dan regulator. Struktur mekanisme pengendalian

37 eksternal merupakan mekanisme pengendalian yang dibentuk pihak dari luar perusahaan.

Penelitian ini menggunakan empat mekanisme corporate governance yaitu dewan komisaris, kepemilikan institusional, kepemilikan manajerial dan ukuran KAP.

a. Jumlah dewan komisaris

Mas’ud dan Hamonangan (2006) yang menyatakan bahwa jumlah dewan komisaris berpengaruh signifikan terhadap nilai perusahaan.

Rizal Tirta (2009) membuktikan bahwa good corporate governance yang diukur dengan proporsi dewan komisaris , mempunyai pengaruh yang signifikan terhadap kualitas laba dan nilai perusahaan.

Dari penelitian-penelitian sebelumnya, maka hipotesis yang diajukan adalah:

Ha.2 : terdapat pengaruh jumlah dewan komisaris terhadap nilai perusahaan.

b. Kepemilikan institusional

Boediono (2005: 37) mengungkapkan bahwa kepemilikan institusional memberi pengaruh signifikan terhadap kualitas laba, yang berarti bahwa semakin tinggi kepemilikan institusional maka laba yang dihasilkan

38 semakin berkualitas dan akan meningkatkan nilai perusahaan tesebut.

Drs. Hanung Triatmoko dan Andri Rachamawati (2007: 11) menyatakan bahwa kepemilikan institusional mempunyai pengaruh terhadap kualitas laba dan nilai perusahaan.

Dari penelitian-penelitian sebelumnya, maka hipotesis yang diajukan adalah:

Ha.3 : terdapat pengaruh kepemilikan institusional terhadap nilai perusahaan.

c. Kepemilikan manajerial

Siallagan dan Machfoedz (2006: 19) mengungkapkan bahwa semakin besar kepemilikan manajerial maka nilai perusahaan semakin rendah.

Viola Herawaty (2008: 8) menyatakan bahwa kepemilikan manajerial memiliki pengaruh yang signifikan terhadap nilai perusahaan. Kepemilikan manajerial akan menurunkan nilai perusahaan

Dari penelitian-penelitian sebelumnya, maka hipotesis yang diajukan adalah:

Ha.4 : terdapat pengaruh kepemilikan manjerial terhadap nilai perusahaan.

39 d. Ukuran KAP

Herawaty (2008: 9) menyatakan bahwa klasifikasi akuntan publik yang diukur dengan KAP Big 4 dan Non big 4 berpengaruh terhadap nilai perusahaan.

Viola Herawaty (2008: 9) juga menyatakan kualitas audit memiliki pengaruh yang signifikan terhadap nilai perusahaan. kualitas audit akan meningkatkan nilai perusahaan.

Dari penelitian-penelitian sebelumnya, maka hipotesis yang diajukan adalah:

Ha.5 : terdapat pengaruh earning management terhadap nilai perusahaan.

3. Ukuran perusahaan dan nilai perusahaaan.

Ukuran perusahaan merupakan hal yang penting dalam proses pelaporan keuangan. Ukuran perusahaan dalam penelitian ini diukur dengan melihat seberapa besar asset yang dimiliki oleh sebuah perusahaan. Aset yang dimiliki perusahaan ini menggambarkan hak & kewajiban serta permodalan perusahaan.

Darmawati (2004: 14) menyatakan bahwa perusahaan besar pada dasarnya memiliki kekuatan finansial yang lebih besar dalam menunjang kinerja, tetapi disisi lain, perusahaan dihadapkan pada masalah keagenan yang lebih besar. Hesti

40 (2010) dan Uyun (2010) dalam penelitiannya menemukan bukti bahwa ukuran perusahaan berpengaruh signifikan terhadap kinerja keuangan perusahaan.

Perusahaan dengan aset besar biasanya akan mendapatkan perhatian lebih dari masyarakat. Hal ini akan menyebabkan perusahaan lebih berhati-hati dalam melakukan pelaporan keuangannya. Perusahaan diharapkan akan selalu berusaha menjaga stabilitas kinerja keuangan mereka. Pelaporan kondisi keuangan yang baik ini tentu tidak serta merta dapat dilakukan tanpa melalui kinerja yang baik dari semua lini perusahaan.

Dari penelitian-penelitian sebelumnya, maka hipotesis yang diajukan adalah:

Ha.6 : terdapat pengaruh ukuran perusahaan terhadap nilai perusahaan.

41

Dokumen terkait