• Tidak ada hasil yang ditemukan

TINJAUAN PUSTAKA

B. Earning Management

4. Mekanisme Corporate Governance

Penelitian ini menggunakan empat aspek corporate governance yaitu dewan komisaris, kepemilikan manajerial, kepemilikan institusional dan jumlah komite audit.

a. Dewan Komisaris

Dewan komisaris bertugas melakukan pengawasan dan memberikan masukan kepada dean direksi perusahaan. Dewan komisaris tidak memiliki otoritas langsung terhadap perusahaan. Fungsi utama dari dewan komisaris adalah

25 mengawasi kelengkapan dan kualitas informasi laporan atas kinerja dewan direksi. Posisi dewan komisaris sangat penting dalam menjembatani kepentingan principal dalam sebuah perusahaan.

Hardikasari (2011) menyebutkan bahwa penelitian mengenai ukuran dewan komisaris terhadap kinerja perusahaan memiliki hasil yang beragam. Dalam penelitiannya tersebut, disebutkan argumen dari Yermack (1996), Sundgren dan Wells (1998), dan Jensen (1993), yang menyatakan bahwa semakin banyak personil yang menjadi dewan komisaris dapat berakibat pada makin buruk kinerja yang dimiliki perusahaan. Hal tersebut dikarenakan dengan semakin banyaknya anggota dewan komisaris maka badan ini akan mengalami kesulitan dalam menjalankan perannya, diantaranya kesulitan dalam komunikasi dan koordinasi antar anggota dewan komisaris. Dengan semakin banyaknya anggota dewan komisaris, pengawasan terhadap dewan direksi jauh lebih baik, masukan atau opsi yang akan didapat direksi akan jauh lebih banyak.

Dalam membangun sebuah model Corporate Governance, perusahaan harus memiliki dewan komisaris yang kredibel serta memiliki independensi.

26 Agar pelaksanaan tugas dewan komisaris dapat berjalan secara efektif ada beberapa faktor yang harus dicermati (Aziz, 2012: 68) yaitu :

1. Komposisi jumlah dewan komisaris harus memungkinkan pengambilan keputusan secara efektif, tepat dan cepat, serta dapat bertindak independen.

2. Anggota dewan komisaris harus profesional, yaitu berintegritas dan memiliki kemampuan sehingga dapat menjalankan fungsinya dengan baik termasuk memastikan bahwa direksi telah memperlihatkan kepentingan semua pemangku kepentingan.

3. Fungsi pengawasan dan pemberian nasehat dewan komisaris mencakup tindakan pencegahan, perbaikan, sampai pemberhentian sementara.

4. Dewan komisaris dalam fungsinya sebagai pengawas menyampaikan laporan pertanggungjawaban pengawas atas pengolahan perusahaan oleh direksi.

Proporsi dewan komisaris harus sedemikian rupa sehingga memungkinkan pengambilan keputusan yang efektif, tepat, dan cepat, serta dapat bertindak secara independen.

27

b. Kepemilikan Institusional

Struktur kepemilikan lain adalah kepemilikan institusional. Pemegang saham institusional biasanya berbentuk entitas seperti perbankan, asuransi, dana pensiun, reksadana. Investor institusional memiliki kapabilitas untuk menganalisis laporan keuangan secara langsung dibandingkan investor individual.

Keberadaan investor institusional dipandang mampu menjadi alat monitoring yang efektif bagi perusahaan yang dapat meningkatkan kinerja perusahaan sehingga mampu meningkatkan kepercayaan publik terhadap perusahaan tersebut (junaidi 2007 dalam purwandari 2011: 26).

Semakin besar tingkat kepemilikan saham oleh institusional, maka semakin efektif mekanisme kontrol terhadap kinerja manajemen. Pendapat ini didukung oleh purwandari dan purwaningtias (2011), yang menemukan pengaruh positif signifikan tingkat kepemilikan institusional terhadap nilai perusahaan.

c. Kepemilikan Manajerial

Kepemilikan saham manajerial dapat membantu penyatuan kepentingan antara pemegang saham dengan manajer, semakin meningkat proporsi kepemilikan saham manajerial maka semakin baik kinerja perusahaan. Pada

28 perusahaan dengan kepemilikan manajerial, manajer yang sekaligus pemegang saham tentunya akan menselaraskan kepentingannya sebagai manajer dengan kepentingannya sebagai pemegang saham. Sementara dalam perusahaan tanpa kepemilikan manajerial, manajer yang bukan pemegang saham kemungkinan hanya mementingkan kepentingannya sendiri.

Masalah yang sering ditimbulkan dari struktur kepemilikan ini adalah agency conflict, dimana terdapat kepentingan antara manajemen perusahaan sebagai pengambil decision maker dan para pemegang saham sebagai owner dari perusahaan (Praditha 2011: 43). Manajer yang sekaligus pemegang saham akan meningkatkan nilai perusahaan, karena dengan meningkatnya nilai perusahaan maka nilai kekayaannya sebagai individu pemegang saham akan ikut meningkat pula (Soliha dan Taswan, 2002 dalam Christiawan dan Tarigan, 2007: 5).

d. Klasifikasi akuntan publik

Klasifikasi akuntan publik dibentuk sebagai sebuah bagian khusus di perusahaan yang bertugas mengoptimalkan fungsi pengawasan yang sebelumnya merupakan tanggung jawab penuh dari dewan direksi. Peranan klasifikasi akuntan

29 publik diatur melalui surat edaran Bapepam nomor SE-03/PM/2002 dalam surat itu dinyatakan bahwa klasifikasi akuntan publik terdiri dari tiga orang, diketuai oleh komisaris independen perusahaan dengan proporsi 30% dengan terselenggaranya pengelolaan korporasi yang baik. Klasifikasi akuntan publik yang bertanggung jawab untuk mengawasi laporan keuangan, mengawasi audit eksternal, dan mengamati sistem pengendalian internal (termasuk audit internal). Klasifikasi akuntan publik meningkatkan integritas dan kredibilitas pelaporan keuangan melalui:

1. Pengawasan atas proses pelaporan termasuk sistem pengendalian internal.

2. Mengawasi proses audit secara keseluruhan. Hasil mengindikasikan bahwa adanya klasifikasi akuntan publik memiliki konsekuensi pada laporan keuangan (Dechow, P, 1995 dalam herawati 2008: 7 ), yaitu:

a. berkurangnya pengukuran akuntansi yang tidak tepat. b. Berkurangnya pengungkapan akuntansi yang tidak

tepat.

c. Berkurangnya tindakan kecurangan manajemen dan tindakan ilegal.

Laporan keuangan yang diaudit oleh auditor bereputasi dipercaya lebih berkualitas sehingga dapat

30 menampilkan nilai perusahaan yang sebenarnya. Oleh karena itu diduga perusahaan yang diaudit oleh KAP Big 4 dapat meningkatkan nilai perusahaan daripada perusahaan yang diauditoleh KAP Non Big 4. Sehingga semakin tinggi kualitas auditor yang digunakan perusahaan maka akan mengakibatkan semakin tinggi nilai perusahaan tersebut.

D. Ukuran Perusahaan

Ukuran perusahaan adalah suatu skala, dimana dapat diklasifikasikan besar kecilnya perusahaan menurut berbagai cara, antara lain: total aktiva, log size, nilai pasar saham, dan lain-lain. Pada dasarnya ukuran perusahaan hanya terbagi menjadi 3 kategori yang didasarkan kepada total asset perusahaan yaitu perusahaan besar (large firm), perusahaan menengah (medium firm), dan perusahaan kecil (small firm) (Machfoedz, 1994 dalam Darmawati: 13).

Menurut Rodoni dan Ali (2010: 180), proksi ukuran perusahaan biasanya adalah total aset perusahaan. Total aset maupun nilai pasar ekuitas perusahaan menjadi faktor penentu dalam mengukur besar kecilnya suatu perusahaan. Dengan semakin besarnya total aset yang dimiliki kita dapat melihat modal aset yang dimiliki.

Variabel ukuran perusahaan dilihat dari segi total aktiva yang dimiliki oleh perusahaan tersebut (Ardi Murdoko Sudarmadji & Lana Sularto: Pengaruh Ukuran Perusahaan, Profitabilitas, Leverage Dan

31 Tipe Kepemilikan Perusahaan Terhadap Luas Voluntary Disclosure Laporan Keuangan Tahunan. PESAT. Vol. 2. 2007).

Hesti (2010) dan Uyun (2010) dalam penelitiannya menemukan bukti bahwa ukuran perusahaan berpengaruh positif signifikan terhadap kinerja keuangan perusahaan. Perusahaan dengan aset besar biasanya akan mendapatkan perhatian lebih dari masyarakat. Hal ini akan menyebabkan perusahaan lebih berhati-hati dalam melakukan pelaporan keuangannya. Perusahaan diharapkan akan selalu berusaha menjaga stabilitas kinerja keuangan mereka. Pelaporan kondisi keuangan yang baik ini tentu tidak serta merta dapat dilakukan tanpa melalui kinerja yang baik dari semua lini perusahaan.

Berdasarkan beberapa pendapat para ahli dapat disimpulkan bahwa ukuran perusahaan adalah suatu variabel yang digunakan dalam mengukur besar atau kecilnya suatu perusahaan yang dapat diukur dengan menggunakan komponen ukuran perusahaan yaitu dari besarnya aset yang dimiliki, nilai pasar ekuitas dan penjualan perusahaan.

Dokumen terkait