HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
A. Hasil Penelitian
3. Hasil Analisis Data Keterlaksanaan Pembelajaran
dan Lampiran 46, maka dapat disajikan rekapitulasi hasil analisis data keterlaksanaan pembelajaran seperti pada Tabel 10 berikut
Tabel 10. Reapitulasi Hasil Analisis Data Keterlaksanaan Pembelajaran Siklus Pertemuan Persentase Keterlaksanaan Pembelajaran Katagori
I
I 61,11% Kurang Baik
II 72,22% Cukup Baik
Rata-rata 66,17% Cukup Baik
II
IV 88,89% Baik
V 100% Sangat Baik
Rata-rata 94,45% Sangat Baik
B. Pembahasan
Berdasarkan hasil observasi di kelas VA SD Negeri 10 Kesiman, diketahui
aktivitas dan prestasi belajar siswa masih rendah. Hal tersebut dapat diketahui dari hasil wawancara, dimana fakta mengenai prestasi belajar siswa yang dilihat dari nilai rata-rata kelas untuk mata pelajaran matematika pada semester ganjil tahun pelajaran 2013/2014, menunjukkan masih berada di bawah standar KKM yang ditetapkan, dimana pencapaian rata-rata nilai prestasi siswa yang masih kurang dari 75, ketuntasan belajar (KB) di bawah 85%, dan daya serap (DS) juga di bawah 75%. Berdasarkan hasil observasi tersebut maka diadakan penelitian tindakan kelas dengan judul meningkatkan aktivitas dan prestasi belajar siswa melalui
implementasi CTL dengan bantuan alat peraga pada siswa kelas VA SD Negeri 10 Kesiman tahun pelajaran 2013/2014.
Dari hasil analisis data aktivitas belajar siswa pada siklus I diketahui bahwa rata-rata skor aktivitas belajar siswa pada siklus I yaitu 8,28 dengan katagori “kurang aktif”. Hasil analisis data prestasi belajar siswa pada siklus I diperoleh
rata-rata nilai prestasi belajar siswa (X) yaitu 76,50, Daya Serap (DS) yaitu 76,50%, dan Ketuntasan Belajar (KB) yaitu 70,50%. Serta hasil persentase
keterlaksanaan pembelajaran pada siklus I adalah 66,17% dengan katagori “cukup baik”. Berdasarkan hasil analisis data aktivitas belajar, data prestasi belajar siswa
dan data keterlaksanaan pembelajaran pada siklus I tersebut maka dapat dikatakan bahwa pembelajaran pada siklus I belum optimal sebab pembelajaran dikatakan optimal apabila rata-rata skor aktivitas belajar siswa mencapai kategori aktif yaitu jika 11,665 ≤ Ā < 14,995 dan prestasi belajar siswa minimal memenuhi standar
KKM yang ditetapkan yaitu (X) minimal 75, daya serap (DS) minimal 75% dan ketuntasan belajar (KB) minimal 85%. Serta suatu pembelajaran dikatakan optimal apabila keterlaksanaan pembelajaran sudah mencapai kualifikasi ”baik” jika tingkat
keterlaksanaan pembelajaran dari 80%-89%.
Berdasarkan hasil catatan lapangan (Lampiran 29) ditemukan beberapa kendala yang menyebabkan belum optimalnya pembelajaran pada siklus I, yaitu: (1) siswa belum bisa menjalin kerjasama yang baik dalam belajar kelompok, (2) siswa yang mempunyai kemampuan kurang, malu untuk bertanya kepada guru maupun temannya, (3) siswa yang pandai mendominasi dalam menjawab pertanyaan guru, (4) siswa belum mampu mengaitkan materi pelajaran dengan benda-benda di lingkungan sekitar mereka, (5) guru kurang efektif dalam mengelola kelas sehingga waktu yang tersedia tidak dapat dimanfaatkan dengan efektif oleh guru, (6) pemantauan dan arahan guru kepada siswa saat mengerjakan LKS masih kurang intensif, (7) guru tampak terlalu tergesa-gesa dalam
Berkaitan dengan belum optimalnya pembelajaran pada siklus I yang disebabkan oleh beberapa kendala yang telah diuraikan di atas, maka perlu
dilakukan perbaikan dan penyempurnaan pelaksanaan tindakan pada siklus I untuk kemudian dilaksanakan pada siklus II. Refleksi tersebut yaitu: (1) membimbing siswa agar dapat bekerjasama dalam menyelesaikan tugas kelompok, (2) menunjuk siswa yang kemampuannya kurang dan malu bertanya untuk menjawab pertanyaan yang diberikan guru kemudian memberi nilai sebagai motivasi, (3) menunjuk siswa yang mewakili kelompoknya dalam melakukan presentasi hasil diskusinya di depan kelas sehingga tidak didominasi oleh siswa yang pandai saja, (4) meminta siswa untuk membawa beberapa benda yang ada di lingkungan sekitar mereka (yang ada kaitannya dengan materi pelajaran) untuk didiskusikan dalam kelas, (6) guru lebih intensif dalam memberikan bantuan yang berupa arahan atau petunjuk kepada
siswa saat mengerjakan LKS kemudian mengurangi bantuan tersebut dan memberi kesempatan kepada siswa untuk mengambil alih tanggung jawab pembelajaran, (7)
menjelaskan konsep materi secara sistematis dan tidak tergesa-gesa dengan tetap memperhatikan alokasi waktu.
Berdasarkan analisis data aktifitas belajar siswa pada siklus II rata-rata skor aktivitas belajar siswa yaitu 12,00 dengan kategori “aktif”. Dari hasil analisis data
prestasi belajar siswa pada siklus II diperoleh bahwa rata-rata skor prestasi belajar
siswa (X) yaitu 82,68, Daya Serap (DS) yaitu 82,68%, dan Ketuntasan Belajar (KB) yaitu 88,64%. Serta dari hasil analisis data keterlaksanaan pembelajaran diperoleh persentase keterlaksanaan pembelajaran pada siklus II adalah 94,45%.
dalam proses pembelajaran. Perbaikan dan penyempurnaan tindakan pada siklus I yang kemudian dilaksanakan pada siklus II memberi dampak positif dalam proses pembelajaran pada siklus II, diantaranya: (1) siswa sudah mulai mampu
memfokuskan diri untuk belajar dan tidak ribut lagi, (2) dalam belajar kelompok siswa sudah mulai bisa saling membantu dalam menyelesaikan LKS, (3) siswa
yang mempunyai kemampuan kurang dan malu sudah mulai bertanya baik pada teman maupun kepada guru jika mereka belum paham terhadap materi yang dipelajari, (4) siswa yang kemampuannya kurang sudah mau berusaha menjawab pertanyaan guru, (5) siswa sudah mampu mengaitkan materi pelajaran dengan benda-benda yang ada dalam lingkungan disekitarnya, (6) dalam proses pembelajaran guru sudah mampu lebih efektif dalam melakukan pengelolaan
kelas, (7) dengan bimbingan yang lebih intensif yang dilakukan oleh guru kepada siswa dalam mengerjakan LKS, (8) guru sudah bisa menyampaikan materi dengan lebih rileks.
Mengacu pada BAB III bahwa pembelajaran dikatakan optimal apabila aktivitas belajar siswa telah mencapai kategori “aktif”, rata-rata nilai prestasi
belajar siswa (X) minimal 75, daya serap (DS) minimal 75% dan ketuntasan belajar (KB) minimal 85%. Berdasarkan hasil analisis data yang diperoleh pada siklus II, maka pembelajaran pada siklus II dapat dikatakan telah optimal karena telah memenuhi standar KKM yang telah ditetapkan. Selain itu tidak ditemukan lagi kendala-kendala yang sangat berarti dalam proses pembelajaran. Maka penelitian ini dihentikan sampai siklus II.
aktivitas dan prestasi belajar siswa yang ditinjau dari rata-rata skor aktivitas belajar dan penggolongannya, rata-rata skor prestasi belajar siswa, daya serap siswa, dan ketuntasan belajar siswa sudah memenuhi indikator keberhasilan yang ditetapkan. Sehingga melalui implementasi CTL dengan bantuan alat peraga dalam
pembelajaran bangun ruang sisi datar pada siswa kelas VA SD Negeri 10 Kesiman tahun pelajaran 2013/2014 dapat meningkatkan aktivitas dan prestasi belajar siswa.
BAB V PENUTUP
A. Simpulan
Berdasarkan hasil analisis data dan pembahasan, maka dapat
disimpulkan bahwa melalui implementasi CTL dengan bantuan alat peraga terjadi peningkatan aktivitas dan prestasi belajar siswa dalam pembelajaran bangun ruang sisi datar pada siswa kelas VA SD Negeri 10 Kesiman tahun pelajaran 2013/2014. Adapun peningkatan aktivitas dan prestasi belajar siswa yang dicapai sebagai berikut.