• Tidak ada hasil yang ditemukan

NI KOMANG SRI YULIANTARI NPM.:

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "NI KOMANG SRI YULIANTARI NPM.:"

Copied!
235
0
0

Teks penuh

(1)

MENINGKATKAN AKTIVITAS DAN PRESTASI BELAJAR SISWA DALAM PEMBELAJARAN BANGUN RUANG SISI DATAR MELALUI

IMPLEMENTASI CTL DENGAN BANTUAN ALAT PERAGA PADA SISWA KELAS V A SD NEGERI 10 KESIMAN

TAHUN PELAJARAN 2013 / 2014

OLEH:

NI KOMANG SRI YULIANTARI NPM.: 10.8.03.51.30.1.5.1558

PROGRAM STUDI PENDIDIKAN MATEMATIKA FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN

UNIVERSITAS MAHASARASWATI DENPASAR DENPASAR

(2)

ii SKRIPSI

DIAJUKAN UNTUK MEMENUHI PERSYARATAN MEMPEROLEH GELAR SARJANA PENDIDIKAN PROGRAM STUDI PENDIDIKAN MATEMATIKA FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN UNIVERSITAS

MAHASARASWATI DENPASAR.

Telah melalui proses bimbingan dan disetujui Pada tanggal: 2 Agustus 2014

MENYETUJUI: PEMBIMBING I, Drs. I Wayan Suandhi, M. Pd NIP.: 19521213 197802 1 002 PEMBIMBING II, Drs. I Ketut Suwija, M. Si NIP.: 19660819 198203 1 003 MENGETAHUI,

KETUA PROGRAM STUDI PENDIDIKAN MATEMATIKA FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN

UNIVERITAS MAHASARASWATI DENPASAR

Drs. I Gusti Ngurah Nila Putra, M. Pd NIP.: 19550212 198603 1 002

(3)

iii

TIM PENGUJI

UJIAN SKRIPSI SARJANA PENDIDIKAN PROGRAM STUDI PENDIDIKAN MATEMATIKA FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN

UNIVERSITAS MAHASARASWATI DENPASAR.

PENGUJI UTAMA,

Drs. I Gusti Ngurah Nila Putra, M. Pd NIP.: 19550212 198603 1 002

PENGUJI PEMBANTU I,

Drs. I Wayan Suandhi, M. Pd NIP.: 19521213 197802 1 002

PENGUJI PEMBANTU II,

Drs. I Ketut Suwija, M. Si NIP.: 19660819 198203 1 003

(4)

iv

DITERIMA OLEH PANITIA UJIAN SKRIPSI SARJANA PENDIDIKAN PROGRAM STUDI PENDIDIKAN MATEMATIKA FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN UNIVERSITAS MAHASARASWATI

DENPASAR.

HARI : Jumat

TANGGAL : 15 Agustus 2014

MENGESAHKAN,

(5)

v

MOTTO

Jadilah orang besar yang menuju tujuan melalui

rintangan dan hambatan

Bukan orang lemah yang menunggu orang besar

menciptakan kesempatan untuknya

(6)

vi

KATA PERSEMBAHAN Karya Tulis Ini Kupersembahkan

Kepada Orang Tuaku Tercinta

Bapak (I Nengah Kasih & Mama (Ni Katut Terini)

Yang sudah memberikan omank kepercayaan untuk menjadi seorang seperti sekarang. Terima kasih atas segala pengorbananmu selama ini hingga menjadikan omank manusia yang memiliki arti dan semangat juang dalam menghadapi masalah-masalah yang omank hadapi. Tanpa kalian ini takkan bisa omank lalui.

Kakak and Adikku Tercinta

Kakak (Ni Kadek Sepvartiniasih) & Adik (I Nengah Bagas Mardiasa dan I Komang Meigi Prastika)

Yang dengan tulus senantiasa memberikan cinta kasih, doa dan motivasi dalam segala hal hingga omank dapat menyelesaikan studi di Universitas Mahasaraswati Denpasar

Seseorang yang Omank sayang Agus Eka Jaya Parnama

Yang dengan tulus senantiasa memberikan kasih sayngnya, doa dan motivasi dalam segala hal hingga omank dapat menyelesaikan skripsi ini.

Sahabat-Sahabat Terbaikku

Terima kasih atas dukungan dam motivasinya selama ini, karna berkat kalian semua omank dapat menyelesaikan skripsi ini.

(7)

vii

KATA PENGANTAR

Puji syukur dipanjatkan kehadapan Ida Sang Hyang Widhi Wasa/Tuhan Yang Maha Esa, karena atas berkat rahmat-Nya sehingga skripsi yang berjudul “Meningkatkan aktivitas dan prestasi belajar siswa dalam pembelajaran bangun ruang sisi datar melalui implementasi CTL dengan bantuan alat peraga pada siswa VA SD Negeri 10 Kesiman tahun pelajaran 2013/2014” dapat diselesaikan tepat pada waktunya.

Skripsi ini disusun dalam rangka memenuhi salah satu syarat dalam menyelesaikan pendidikan untuk memperoleh gelar sarjana dalam bidang pendidikan matematika di Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Mahasaraswati Denpasar. Terselesaikannya penyusunan skripsi ini tidak lepas dari bantuan, masukan dan bimbingan dari berbagai pihak sehingga melalui

kesempatan yang baik ini disampaikan ucapan terima kasih yang setulus-tulusnya kepada:

1. Rektor Universitas Mahasaraswati Denpasar berserta staff, atas kesempatan dan fasilitas yang diberikan selama mengikuti pendidikan Program S1.

2. Dekan Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Mahasaraswati Denpasar beserta staff, atas petunjuk dan saran-saran yang bermanfaat selama mengikuti pendidikan Program S1.

3. Kepala Perpustakaan Universitas Mahasaraswati Denpasar, atas dukungan dan fasilitas yang diberikan selama mengikuti pendidikan Program S1.

4. Ketua Program Studi Pendidikan Matematika FKIP Universitas Mahasaraswati Denpasar yang telah membimbing dan memberikan petunjuk selama mengikuti pendidikan Program S1.

5. Bapak Drs. I Wayan Suandhi, M. Pd, selaku pembimbing I dan Bapak Drs. I Ketut Suwija,M.Si, selaku pembimbing II yang penuh kesabaran, dan ketelitian untuk memberikan bimbingan, saran, dan kritik mulai dari awal penyusunan hingga penyelesaian skripsi ini.

(8)

viii

6. Segenap Dosen Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Mahasaraswati Denpasar yang turut serta memberikan dukungan dan motivasi selama mengikuti perkuliahan dan dalam menyusun skripsi ini.

7. Ibu Dewa Ayu Manik, S.Ag, M.Pd, selaku Kepala SD Negeri 10 Kesiman, atas izin serta bantuan yang diberikan selama mengadakan penelitian dalam rangka penyusunan skrisi ini.

8. Ibu Desak Made Oka Astiti, S.Pd.SD, selaku guru mata kelas VA SD Negeri 10 Kesiman, atas segala bantuan, masukan serta motivasinya selama pelaksanaan penelitian.

9. Ni Ketut Suarningsih dan Ni Kadek Widyawati, selaku teman sejawat yang telah membantu dalam pengumpulan data selama penelitian berlangsung dan memberikan motivasi selama mengikuti perkuliahan dan penyusunan skripsi ini. 10. Semua pihak yang tidak dapat disebutkan satu persatu yang telah dengan tulus memberikan bantuan berupa saran-saran serta kemudahan-kemudahan dalam menyelesaikan skripsi ini.

Menyadari akan keterbatasan peneliti, segala kritik dan saran yang

membangun sangat diharapkan. Semoga dengan terselesaikannya skripsi ini dapat menambah kasanah ilmu pengetahuan terutama dalam pengetahuan pendidikan matematika.

Denpasar, Agustus 2014 Peneliti

(9)

ix

DAFTAR ISI

Halaman

HALAMAN JUDUL ... i

LEMBAR PERSETUJUAN ... ii

TIM PENGUJI ... iii

LEMBAR PENGESAHAN ... iv

MOTTO ... v

KATA PERSEMBAHAN ... vi

KATA PENGANTAR ... vii

DAFTAR ISI ... ix

DAFTAR TABEL ... xi

DAFTAR GAMBAR ... xii

DAFTAR LAMPIRAN ... xiii

ABSTRAK ... xv

BAB I PENDAHULUAN ... 1

A. Latar Belakang Masalah ... 1

B. Fokus Penelitian ... 6

C. Rumusan Masalah ... 6

D. Tujuan Penelitian ... 6

E. Manfaat Penelitian ... 7

F. Penjelasan Istilah ... 8

BAB II LANDASAN TEORI ... 14

A. Hakikat Matematika ... 14

B. Teori Konstruktivisme ... 16

C. Contextual Teaching and Learning (CTL) ... 21

D. Aktivitas dan Prestasi Belajar Siswa ... 29

E. Alat Peraga ... 35

F. Pembelajaran Bangun Ruang Sisi Datar ... . 37

G. Implementasi CTL dalam Pembelajaran Bangun Ruang Sisi Datar dengan bantuan Alat Peraga ... 48

BAB III METODE PENELITIAN ... .. 52

A. Pendekatan dan Jenis Penelitian ... 52

B. Kehadiran Peneliti ... 54

C. Lokasi dan Subyek Penelitian ... 54

D. Data dan Sumber data ... 54

E. Metode Pengumpulan Data ... 56

F. Metode Analisis Data ... 60

G. Pengecekan Keabsahan Data ... 63

(10)

x

BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN ... 74

A. Hasil Penelitian ... 74 B. Pembahasan ... 76 BAB V PENUTUP ... 81 A. Simpulan ... 81 B. Saran... 81 DAFTAR PUSTAKA ... 83

(11)

xi

DAFTAR TABEL

Tabel Halaman

01. Contoh Pembelajaran Bangun Ruang Sisi Datar Melalui

Implementasi CTL dengan Bantuan Alat Peraga ... 49

02. Kriteria Penskoran Tes Prestasi Belajar Siswa dalam Bentuk Soal Uraian ... 58

03. Pedoman Kriteria Aktivitas Belajar Siswa ... 60

04. Pedoman Konversi Skor Aktivitas Belajar Siswa ... 61

05. Pedoman Konversi Skor Keterlaksanaan Pembelajaran ... 63

06. Langkah-Langkah Pembelajaran untuk Pertemuan I pada Siklus I ... 66

07. Langkah-Langkah Pembelajaran untuk Pertemuan II pada Siklus I ... 69

08. Rekapitulasi Hasil Analisis Data Aktivitas Belajar Siswa ... 75

09. Rekapitulasi Hasil Analisis Data Prestasi Belajar Siswa ... 75

10. Rekapitulasi Hasil Analisis Data Keterlaksanaan Pembelajaran ... 76

(12)

xii

DAFTAR GAMBAR

Gambar Halaman

01. Kubus ABCD.EFGH ... 39

02. Jaring-Jaring Kubus ABCD.EFGH ... 41

03. Menemukan Rumus Luas Permukaan Kubus ABCD.EFGH ... 41

04. Menemukan Rumus Volume Kubus ABCD.EFGH ... 42

05. Balok ABCD.EFGH ... 44

06. Jaring-Jaring Balok ABCD.EFGH... ... 46

07. Menemukan Rumus Luas Permukaan Balok ABCD.EFGH ... 46

08. Menemukan Rumus Volume Balok ABCD.EFGH ... 47

(13)

xv

DAFTAR LAMPIRAN

Lampiran Halaman

01. Daftar Nama Subyek Penelitian Siswa Kelas VA SD N 10 Kesiman

Tahun Ajaran 2013/2014 ... 86

02. Daftar Nilai Ujian Akhir Semester Ganjil Siswa Sebagai Skor Prestasi Belajar Siswa Prasiklus kelas VA SD N 10 Kesiman Tahun Ajaran 2013/2014 Untuk Pembentukan Kelompok Belajar CTL ... 88

03. Analisis Data Prestasi Belajar Siswa Pada Prasiklus ... 90

04. Perengkingan Nilai Ujian Akhir Semester Ganjil Siswa Kelas VA SD N 10 Kesiman Tahun Ajaran 2013/2014 Untuk Pembentukan Kelompok Belajar CTL ... 91

05. Daftar Nama Anggota Kelompok Belajar Siswa Kelas VA SD N 10 Kesiman Sebagai Subyek Penelitian ... 93

06. Indikator dan Deskriptor Observasi Aktivitas Belajar Siswa ... 95

07. Lembar Observasi Aktivitas Belajar Siswa ... 96

08. Lembar Observasi Keterlaksanaan Pembelajaran ... 98

09. Jadwal Pelaksanaan Penelitian ... 100

10. Silabus ... 101

11. Program Satuan Pembelajaran (PSP) ... 105

12. Rencana Pelaksanaan Pembelajaran(RPP) Siklus I ... 108

13. Lembar Kerja Siswa (LKS 01) ... 115

14. Kunci Jawaban LKS 01 ... 118

15. Hasil Observasi Aktivitas Belajar Siswa Pertemuan I Pada Siklus I ... 120

16. Hasil Observasi Keterlaksanaan Pembelajaran Pertemuan I Pada Siklus I ... 122

17. Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP) Siklus I ... 124

18. Lembar Kerja Siswa (LKS 02) ... 131

19. Kunci Jawaban LKS 02 ... 133

20. Hasil Observasi Aktivitas Belajar Siswa Pertemuan II Pada Siklus I ... 135

21. Hasil Observasi Keterlaksanaan Pembelajaran Pertemuan II Pada siklus I ... 137

22. Pengembangan Tes Akhir Siklus I ... 139

23. Tes Akhir Siklus I ... 142

24. Kunci Jawaban Tes Akhir Siklus I ... 146

25. Analisis Data Aktivitas Belajar Siswa Pada Siklus I ... 149

26. Daftar Nilai Tes Prestasi Belajar Siswa Pada Siklus I ... 151

27. Analisis Data Prestasi Belajar Siswa Pada Siklus I ... 153

28. Analisis Data Keterlaksanaan Pembelajaran Pada Siklus I... 155

29. Catatan Lapangan Pertemuan I dan II Pada Siklus I ... 157

30. Rencana Pelaksanaan Pembelajaran(RPP) Siklus II ... 158

(14)

xvi

32. Kunci Jawaban LKS 03 ... 167

33. Hasil Observasi Aktivitas Belajar Siswa Pertemuan IV Pada Siklus II ... 169

34. Hasil Observasi Keterlaksanaan Pembelajaran Pertemuan IV Pada Siklus II ... 171

35. Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP) Siklus II ... 173

36. Lembar Kerja Siswa (LKS 04) ... 180

37. Kunci Jawaban LKS 04 ... 182

38. Hasil Observasi Aktivitas Belajar Siswa Pertemuan V Pada Siklus II ... 185

39. Hasil Observasi Keterlaksanaan Pembelajaran Pertemuan V Pada siklus II ... 187

40. Pengembangan Tes Akhir Siklus II... 189

41. Tes Akhir Siklus II ... 192

42. Kunci Jawaban Tes Akhir Siklus II ... 196

43. Analisis Data Aktivitas Belajar Siswa Pada Siklus II ... 199

44. Daftar Nilai Tes Prestasi Belajar Siswa Pada Siklus II ... 201

45. Analisis Data Prestasi Belajar Siswa Pada Siklus II ... 203

46. Analisis Data Keterlaksanaan Pembelajaran Pada Siklus II ... 205

47. Catatan Lapangan Pertemuan IV dan V Pada Siklus II ... 207

48. Persentase Peningkatan Prestasi Belajar Siswa Dari Siklus I ke Siklus II ... 208

49. Persentase Peningkatan Prestasi Belajar Siswa Dari Siklus I ke Siklus II ... 209

50. Surat Izin Penelitian ... 211

51. Surat Keterangan Penelitian ... 212

52. Riwayat Hidup ... 213

53. Surat Pernyataan keaslian Tulisan ... 214

54. Dokumentasi Kegiatan Pembelajaran melalui Implementasi CTL dengan Bantuan Alat Peraga ... 215

(15)

xiii

ABSTRAK

Sri Yuliantari, Ni Komang. 2014. Meningkatkan aktivitas dan prestasi belajar

siswa dalam pembelajaran bangun ruang sisi datar melalui implementasi CTL dengan bantuan alat peraga pada siswa kelas VA SD Negeri 10 Kesiman tahun pelajaran 2013/2014. Skripsi, Program Studi Pendidkan

Matematika FKIP Universitas Mahasaraswati Denpasar. Pembimbing: (I) Drs. I Wayan Suandhi, M.Pd, (II) Drs. I Ketut Suwija, M.Si.

Kata Kunci: Aktivitas Belajar, Prestasi Belajar, CTL, Alat Peraga.

Berdasarkan hasil observasi di kelas VA SD Negeri 10 Kesiman, diketahui aktivitas dan prestasi belajar matematika siswa masih rendah. Hal tersebut dapat diketahui dari hasil pengamatan kegiatan pembelajaran sehingga ditemukan beberapa permasalahan, diantaranya guru dominan menggunakan metode ceramah, kegiatan pembelajaran lebih berpusat pada guru, dalam menjelaskan materi, guru jarang menggunakan alat peraga. Selain itu juga, guru tidak memberikan aplikasi materi pembelajaran secara langsung dengan kehidupan sehari-hari. Sementara siswa hanya mencatat yang di tulis guru di papan tulis, tanpa ada aktivitas yang membantu siswa dalam memahami materi sehingga siswa menjadi kurang konsentrasi. Dari hasil wawancara dengan guru matematika kelas VA SD Negeri 10 Kesiman menunjukkan fakta mengenai prestasi belajar siswa yang dilihat dari rata-rata nilai mata pelajaran matematika pada semester ganjil tahun pelajaran 2013/2014, menunjukkan masih berada di bawah standar KKM yang ditetapkan, dimana pencapaian rata-rata nilai prestasi siswa yang masih kurang dari 75, ketuntasan belajar (KB) di bawah 85%, dan daya serap (DS) juga di bawah 75%. Berdasarkan hal tersebut, maka solusi yang dipandang dapat memperbaiki pembelajaran di kelas tersebut adalah melalui implementasi CTL dengan bantuan alat. Adapun rumusan masalahnya yaitu apakah terjadi

peningkatan aktivitas dan prestasi belajar siswa dalam pembelajaran bangun ruang sisi datar melalui implementasi CTL dengan bantuan alat peraga pada siswa kelas VA SD Negeri 10 Kesiman tahun pelajaran 2013 / 2014. Berdasarkan rumusan masalah tersebut, tujuan dari penelitian ini yaitu untuk mengetahui apakah terjadi peningkatan aktivitas dan prestasi belajar siswa dalam pembelajaran bangun ruang sisi datar melalui implementasi CTL dengan bantuan alat peraga pada siswa kelas VA SD Negeri 10 Kesiman tahun pelajaran 2013 / 2014.

Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dan jenis penelitian ini adalah penelitian tindakan kelas (PTK). Subyek dalam penelitian ini adalah siswa kelas VA SD Negeri 10 Kesiman tahun pelajaran 2013/2014 sebanyak 44 orang. Data yang dikumpulkan dalam penelitian ini meliputi data aktivitas belajar siswa dan data keterlaksanaan pembelajaran dikumpulkan dengan teknik observasi.

(16)

xiv

Sedangkan data prestasi belajar siswa dikumpulkan dengan teknik tes. Data yang terkumpul selanjutnya dianalisis dengan analisis statistik deskriptif.

Penelitian ini dilaksanakan sampai dua siklus. Hasil analisis data disajikan sebagai berikut: rata-rata skor aktivitas belajar siswa pada siklus I, dan siklus II berturut-turut sebesar: “8,27”, dan “12,00” dengan kategori berturut-turut adalah kurang aktif, dan aktif. Rata-rata nilai prestasi belajar siswa (X), daya serap (DS), dan ketuntasan belajar (KB) pada siklus I, dan siklus II bertutut- turut sebesar:

“76,50”, “76,50%”, dan “70,50%”, serta “82,68”, “82,68%”, dan 88,64%”. Persentase peningkatan rata-rata nilai prestasi belajar siswa (X), daya serap (DS), dan ketuntasan belajar (KB) dari siklus I ke siklus II berturut-turut sebesar:

“8,08%”, “8,08%”, dan “25,73%”. Dan rata-rata skor keterlaksanaan

pembelajaran pada siklus I, dan siklus II berturut-turut sebesar: “66,17%”, dan “94,45%” dengan kategori berturut-turut adalah cukup baik, dan sangat baik.

Berdasarkan hasil analisis data tersebut dapat disimpulkan bahwa terjadi peningkatan aktivitas dan prestasi belajar siswa dalam pembelajaran bangun ruang sisi datar melalui implementasi CTL dengan bantuan alat peraga pada siswa kelas VA SD Negeri 10 Kesiman tahun pelajaran 2013/2014.Berdasarkan simpulan maka kepada guru-guru SD disarankan untuk mengimplementasikan CTL dengan bantuan alat peraga sebagai salah satu alternatif dalam pemilihan model

pembelajaran di SD dan kepada peneliti lain yang memilih model CTL sebagai salah satu upaya untuk meningkatkan aktivitas dan prestasi belajar siswa, hendaknya dalam proses pembelajaran mampu meningkatkan aktivitas dan prestasi belajar siswa melalui implementasi CTL dengan bantuan alat peraga.

(17)
(18)

1

BAB I PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Masalah

Perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi dewasa ini menuntut adanya peningkatan kualitas Sumber Daya Manusia (SDM). Usaha untuk meningkatkan kualitas SDM dilakukan melalui proses belajar mengajar dalam lembaga pendidikan. Keberhasilan suatu proses belajar mengajar dipengaruhi oleh faktor internal dan faktor eksternal. Faktor internal adalah hal-hal yang berasal dari dalam diri siswa diantaranya adalah intelegensi, minat, motivasi, kemampuan awal dan sebagainya. Sedang faktor eksternal adalah hal-hal yang berasal dari luar diri siswa diantaranya kurikulum, metode pembelajarann, sosial ekonomi dan

sebagainya.

Hamalik (2001:2) mengatakan bahwa “Pendidikan adalah usaha sadar untuk menyiapkan peserta didik melalui kegiatan bimbingan, pengajaran, dan/atau latihan bagi peranannya di masa yang akan datang.” Dari pendapat tersebut maka untuk dapat meningkatkan mutu pendidikan tidak terlepas dari komponen-komponen yang terlibat dalam proses pembelajaran di kelas. Komponen tersebut meliputi siswa sebagai pelajar, guru selaku pendidik, strategi dan metode pembelajaran. Dari beberapa komponen tersebut yang paling berpengaruh terhadap peningkatan mutu pendidikan adalah guru. Tugas guru tidak hanya sebagai pendidik, tetapi juga sebagai perencana, pelaksana, dan pengelola proses belajar mengajar di kelas agar dapat berjalan secara optimal. Jika semua guru secara terpadu berhasil melakukan

(19)

tugasnya dan menciptakan pembelajaran secara optimal, maka setiap siswa

memperoleh kesempatan yang luas untuk terbentuk sebagai siswa yang unggul dan berkualitas. Namun kenyataannya, mutu pendidikan di Indonesia masih tergolong rendah. Kegiatan belajar mengajar yang masih kaku dan belum mampu

membangun kondisi belajar yang kondusif merupakan masalah yang menghambat keberhasilan dalam pendidikan. Proses belajar mengajar yang berpusat pada guru membawa kondisi pendidikan yang stagnan. Bahkan masih rendahnya kemampuan guru dalam mengelola kelas merupakan persoalan lain yang menambah kemacetan dalam pembelajaran yang dinamis dan dialogis. Ini jelas terlihat pada pendidikan matematika. Sebagai tolok ukur rendahnya pendidikan matematika bisa dilihat dari hasil Ujian Nasional pelajaran matematika yang dari tahun ke tahun masih jauh dari harapan. Dengan demikian, jika guru kurang menguasai strategi mengajar maka siswa akan sulit menerima materi pelajaran dengan sempurna. Guru dituntut untuk mengadakan inovasi dan berkreasi dalam melaksanakan pembelajaran, sehingga hasil belajar siswa memuaskan. Metode pembelajaran ada berbagai macam

diantaranya adalah metode ceramah, metode demonstrasi, metode diskusi, metode inkuiri, metode kooperatif dan sebagainya. Setiap metode pembelajaran

mempunyai karakteristik tertentu dengan kelebihan dan kekurangan masing-masing.

Namun saat ini, umumnya guru menggunakan metode yang sama untuk setiap materi yaitu metode konvensional. Metode Konvensional adalah metode dalam proses belajar mengajar yang menerapkan cara – cara terdahulu dimana guru bertindak sebagai penyampai materi dan siswa hanya sebagai objek dalam

(20)

teliti serta mencatat hal-hal penting yang disampaikan guru, metode seperti ini memberikan kesan bahwa siswa cenderung hanya sebagai subyek dan membatasi siswa untuk berperan aktif dalam kegiatan belajar mengajar, selain itu metode konvensional seringkali menjadikan siswa jenuh dan enggan dalam menerima materi pelajaran. Sehingga tujuan pembelajaran yang telah ditetapkan tidak tercapai secara optimal. Agar tujuan pembelajaran tercapai secara optimal guru harus

cermat dalam memilih metode pembelajaran yang digunakan, karena suatu metode mempunyai spesifikasi tersendiri artinya suatu metode yang cocok untuk suatu materi belum tentu cocok jika diterapkan pada materi yang lain.

Matematika sebagai salah satu ilmu dasar selalu mengalami perkembangan seiring dengan banyaknya kegunaan matematika dalam kehidupan sehari-hari. Sebagai suatu disiplin ilmu, matematika sangat besar peranannya dalam perkembangan dunia ilmu pengetahuan dan teknologi. Untuk mewujudkan

terciptanya peningkatan kualitas sumber daya manusia melalui pendidikan tidaklah mudah, banyak hambatan yang dialami khususnya didalam kegiatan pembelajaran. Hambatan-hambatan tersebut mengakibatkan prestasi belajar siswa belum

mencapai harapan, terutama mata pelajaran matematika.

Matematika disamping dapat berkembang mandiri juga berkembang atas tuntutan keperluan bidang lain. Salah satu manfaatnya adalah membantu

memecahkan permasalahan sehari-hari. Menurut logika masyarakat secara umum, seseorang berminat mempelajari sesuatu dengan tekun bila dia melihat manfaat dari yang dipelajarinya itu dalam hidupnya. Manfaat itu bisa berupa kemungkinan meningkatkan kesejahteraannya, harga dirinya, kepuasannya dan sebagainya. Matematika untuk orang banyak dilihat sebagai alat (tool) untuk membantu

(21)

menyelasaikan masalah yang dihadapinya. Kalau persepsi ini dalam proses pembelajaran matematika dapat direalisasikan maka siswa akan menjadi lebih tertarik untuk mempelajari matematika mengingat perkembangan intelektual siswa pada umumnya bergerak dari konkret ke abstrak.

Setiap konsep abstrak dalam matematika yang baru dipahami anak perlu segera diberikan penguatan supaya mengendap, melekat, dan tahan lama tertanam sehingga menjadi miliknya dalam pola pikir maupun pola tindaknya. Untuk keperluan ini maka diperlukan belajar melalui berbuat dan pengertian, tidak sekedar hafalan atau mengingat fakta saja yang tentunya mudah dilupakan.

Berdasarkan hasil wawancara dengan guru kelas dan observasi di kelas V A SD Negeri 10 Kesiman tahun pelajaran 2013/2014, diketahui aktivitas dan prestasi belajar matematika siswa masih rendah. Hal tersebut dapat diketahui dari hasil wawancara, dimana fakta mengenai prestasi belajar siswa yang dilihat dari nilai rata-rata kelas untuk mata pelajaran matematika pada semester ganjil tahun pelajaran 2013/2014, menunjukkan masih berada di bawah standar KKM yang ditetapkan, dimana pencapaian rata-rata nilai prestasi siswa yang masih kurang dari 75 yaitu 68,88, ketuntasan belajar (KB) di bawah 85% yaitu hanya 66%, dan daya serap (DS) juga di bawah 80% yaitu hanya 69%. Disamping itu dari hasil pengamatan kegiatan pembelajaran, ternyata guru dominan menggunakan metode ceramah, kegiatan pembelajaran lebih berpusat pada guru, dalam menjelaskan materi, guru jarang menggunakan alat peraga. Selain itu juga, guru tidak memberikan aplikasi materi pembelajaran secara langsung dengan kehidupan sehari-hari supaya siswa mudah memahami materi yang diajarkan. Sementara

(22)

siswa hanya mencatat yang di tulis guru di papan tulis, tanpa ada aktivitas yang membantu siswa dalam memahami materi yang disampaikan oleh guru, sehingga siswa menjadi kurang konsentrasi, sering bermain dengan temannya, siswa tidak berani menanyakan langsung kepada guru apabila ada materi yang belum

dipahami, sehingga dari tingkah laku siswa terlihat bahwa siswa bosan mengikuti pelajaran.

Melihat persoalan tersebut, maka salah satu implementasi pembelajaran yang mampu mengatasi persoalan tersebut adalah dengan mengimplementasikan

Contextual Teaching and Learning (CTL). CTL adalah sistem belajar yang

didasarkan pada filosofi bahwa siswa mampu menyerap pelajaran apabila mereka menangkap makna dalam materi akademis yang mereka terima, dan mereka menangkap makna dalam soal-soal sekolah sehingga mereka bisa mengkaitkan informasi baru dengan pengetahuan dan pengalaman yang sudah mereka miliki sebelumnya. Ada tujuh prinsip pembelajaran kontekstual yang harus dikembangkan oleh guru diantaranya: (1) Konstruktivisme (Constructivism). (2) Menemukan (Inquiry). (3) Bertanya (Questioning). (4) Masyarakat Belajar (Learning

Community). (5) Pemodelan (Modelling). (6) Refleksi (Reflection). (7) Penilaian

Sebenarnya (Authentic Assessment). Pendekatan kontekstual (CTL) dalam pembelajaran bangun ruang sisi datar dapat menumbuhkan suasana belajar yang optimal dan lebih bermakna. Dalam hal ini pengetahuan dan pengalaman siswa akan dikaitkan dengan contoh-contoh benda dalam kehidupan siswa sehari-hari dan berusaha membuat dalam bentuk alat peraga. Upaya ini diharapkan dapat

(23)

memperbaiki proses pembelajaran sehingga aktivitas dan prestasi belajar siswa meningkat.

Berdasarkan uraian di atas, peneliti tertarik untuk melakukan penelitian dengan judul “Meningkatkan Aktivitas dan Prestasi Belajar Siswa dalam Pembelajaran Bangun Ruang Sisi Datar Melalui Implementasi CTL Dengan Bantuan Alat Peraga pada Siswa Kelas VA SD Negeri 10 Kesiman Tahun Pelajaran 2013 / 2014”.

B. Fokus Penelitian

Berdasarkan latar belakang masalah, yang menjadi fokus penelitian ini adalah meningkatkan aktivitas dan prestasi belajar siswa dalam pembelajaran bangun ruang sisi datar melalui implementasi CTL dengan bantuan alat peraga pada siswa kelas VA SD Negeri 10 Kesiman tahun pelajaran 2013 / 2014.

C. Rumusan Masalah

Berdasarkan latar belakang masalah di atas, maka rumusan masalah penelitian ini adalah sebagai berikut.

1. Bagaimanakah peningkatan aktivitas belajar siswa dalam pembelajaran bangun

ruang sisi datar melalui implementasi CTL dengan bantuan alat peraga pada siswa kelas VA SD Negeri 10 Kesiman tahun pelajaran 2013 / 2014.

2. Seberapabesar peningkatan prestasi belajar siswa dalam pembelajaran bangun

ruang sisi datar melalui implementasi CTL dengan bantuan alat peraga pada siswa kelas VA SD Negeri 10 Kesiman tahun pelajaran 2013 / 2014.

(24)

D. Tujuan Penelitian

Berdasarkan rumusan masalah yang dikemukakan di atas, maka tujuan yang ingin dicapai dari penelitian ini adalah sebagai berikut.

1. Meningkatkan aktivitas belajar siswa dalam pembelajaran bangun ruang sisi

datar melalui implementasi CTL dengan bantuan alat peraga pada siswa kelas VA SD Negeri 10 Kesiman tahun pelajaran 2013 / 2014.

2. Meningkat prestasi belajar siswa dalam pembelajaran bangun ruang sisi datar

melalui implementasi CTL dengan bantuan alat peraga pada siswa kelas VA SD Negeri 10 Kesiman tahun pelajaran 2013 / 2014

E. Manfaat Penelitian

Apabila terjadi peningkatan aktivitas dan prestasi belajar siswa dalam pembelajaran bangun ruang sisi datar melalui implementasi CTL dengan bantuan alat peraga, maka manfaat yang dapat diperoleh dari hasil penelitian ini adalah sebagai berikut.

1. Bagi Siswa

Bagi siswa yang menjadi subjek penelitian akan mendapatkan pengalaman baru dalam belajar melalui penerapan CTL karena dalam proses pembelajaran siswa lebih mudah memahami materi yang diajarkan karena dihubungkan dengan benda-benda nyata dan konkret yang ada disekitarnya sehingga mampu mengubah sikap siswa yang awalnya pasif menjadi aktif sehingga prestasi belajar siswa meningkat.

(25)

Bagi guru, hasil penelitian ini dapat dijadikan sebagai tambahan

pengetahuan dalam upaya menciptakan situasi kelas yang lebih aktif dan kreatif guna meningkatkan aktivitas dan prestasi belajar siswa melalui penerapan pembelajaran kontekstual.

3. Bagi Sekolah

Dengan implentasi CTL dapat dijadikan acuan dan sumbangan informasi dalam mengembangkan metode pembelajaran untuk meningkatkan aktivitas dan prestasi belajar siswa sehingga dapat meningkatkan mutu pembelajaran di sekolah sesuai dengan tujuan pendidikan.

F. Penjelasan Istilah

Untuk menghindari terjadinya salah pengertian yang timbul terhadap istilah yang dipergunakan dalam judul penelitian ini, maka perlu dijelaskan beberapa istilah sebagai berikut.

1. Meningkatkan

Meningkatkan mempunyai makna “menjadi lebih baik” (Daryanto, 1997:403). Menurut Tim Penyusun Kamus Besar Bahasa Indonesia Edisi Ketiga (2005: 1060) “meningkatkan adalah menaikkan, mempertinggi, memperhebat hal atau sesuatu.” Jadi sesuai dengan uraian di atas, yang dimaksud dengan

meningkatkan adalah segala cara yang digunakan untuk memperbaiki, menaikkan, mempertinggi, memperhebat hal atau sesuatu menjadi lebih baik.

(26)

Tim Penyusun Kamus Besar Bahasa Indonesia Edisi Ketiga (2005:23) menyatakan bahwa “aktivitas artinya keaktifan; kegiatan; kesibukan.” Menurut Rousseau (dalam Sardiman, 2006:96) “aktivitas adalah segala kegiatan yang dilaksanakan yang berupa pengamatan sendiri, pengalaman sendiri, penyelidikan sendiri, dengan bekerja sendiri dan fasilitas yang diciptakan sendiri baik secara rohani maupun teknis.” Jadi aktivitas adalah keaktifan dari suatu kegiatan baik secara jasmani maupun rohani.

“Belajar adalah suatu rangkaian kegiatan jiwa raga untuk menuju ke

perkembangan pribadi manusia seutuhnya.”(Sardiman, 2006:21). Menurut Dimyati dan Mudjiono (2009:295) belajar adalah kegiatan individu memperoleh

pengetahuan, perilaku dan keterampilan dengan cara mengolah bahan belajar . Jadi yang dimaksud dengan belajar adalah kegiatan individu untuk memperoleh

pengetahuan dan perubahan prilaku serta keterampilan sebagai akibat dari proses mengolah bahan pelajaran untuk menuju ke perkembangan pribadi manusia seutuhnya

Jadi yang dimaksud dengan aktivitas belajar adalah keaktifan dari suatu kegiatan yang yang dilaksanakan baik secara jasmani maupun rohani untuk mengubah prilaku individu sebagai akibat dari proses mengolah bahan pelajaran untuk menuju ke perkembangan pribadi manusia seutuhnya.

3. Prestasi Belajar

Menurut Tim Penyusun Kamus Besar Bahasa Indonesia Edisi Ketiga (2005:895) “prestasi adalah hasil pelajaran yang diperoleh dari kegiatan belajar di

(27)

sekolah yang bersifat kognitif dan biasanya ditentukan melalui pengukuran dan penilaian yang diberikan oleh guru.” Hal senada juga disampaikan oleh Wardani, dkk. (dalam Suerni, 2007:9) yakni “prestasi adalah suatu kemampuan seseorang yang didapat setelah ia melakukan suatu kegiatan.” Berdasarkan pendapat-pendapat tersebut, maka prestasi adalah hasil yang telah dicapai individu setelah ia

melakukan suatu kegiatan belajar di sekolah yang bersifat kognitif dan biasanya ditentukan melalui pengukuran dan penilaian yang diberikan oleh guru.

Menurut Slameto (1995:2) “belajar adalah suatu tingkah laku yang baru secara keseluruhan, sebagai hasil pengalamannya sendiri dalam interaksi dengan lingkungannya.” Belajar menurut Depdiknas (2002:26) adalah usaha memperoleh kepandaian atau ilmu, perubahan tingkah laku atau tanggapan yang disebabkan oleh pengalaman. Jadi dapat disimpulkan bahwa belajar adalah suatu tingkah laku yang baru secara keseluruhan dalam usaha memperoleh kepandaian atau ilmu, sebagai hasil pengalamannya sendiri dalam interaksi dengan lingkungannya. Dari pernyataan di atas dapat disimpulkan bahwa prestasi belajar berarti hasil yang telah dicapai individu setelah ia melakukan suatu kegiatan dalam usaha memperoleh kepandaian atau ilmu yang bersifat kognitif dan biasanya ditentukan melalui pengukuran dan penilaian yang diberikan oleh guru.

4. Implementasi

Tim Penyusun Kamus Besar Bahasa Indonesia Edisi Ketiga (2005:427) menyatakan bahwa “implementasi adalah penerapan, pelaksanaan.” Menurut Mulyasa (dalam Adnyani, 2013:11) “Implementasi adalah suatu proses penerapan

(28)

ide, konsep, kebijakan, atau inovasi dalam suatu tindakan praktis sehingga memberikan dampak baik berupa perubahan pengetahuan keterampilan, maupun nilai, dan sikap.”

Jadi yang dimaksud dengan implementasi adalah suatu proses pelaksanaaan atau penerapan ide, konsep, kebijakan, atau inovasi dalam suatu tindakan praktis sehingga memberikan dampak baik berupa perubahan pengetahuan keterampilan, maupun nilai, dan sikap.

5. Contextual Teaching and Learning (CTL)

Depdiknas (dalam Taniredja, dkk., 2011:49) menyatakan bahwa

“Contextual Teaching and Learning (CTL) adalah konsep belajar yang membantu guru mengkaitkan antara materi yang diajarkan dengan situasi dunia nyata peserta didik dan mendorong peserta didik membuat hubungan antara pengetahuan yang dimilikinya dengan penerapannya dalam kehidupan mereka sehari-hari.”

Sementara itu Johnson (2002:14) menyatakan bahwa:

CTL adalah sistem belajar yang didasarkan pada filosofi bahwa siswa mampu menyerap pelajaran apabila mereka menangkap makna dalam materi akademis yang mereka terima, dan mereka menangkap makna dalam soal-soal sekolah sehingga mereka bisa mengkaitkan informasi baru dengan pengetahuan dan pengalaman yang sudah mereka miliki sebelumnya. Senada dengan pendapat-pendapat diatas, Riyanto (2009:159) menyatakan bahwa “Contextual Teaching and Learning (CTL) merupakan konsep belajar yang membantu guru mengaitkan antara materi yang diajarkan dengan situasi dunia nyata siswa dan mendorong antara pengetahuan yang dimilikinya dengan

(29)

Dari pemaparan di atas, maka yang dimaksud dengan CTL adalah konsep belajar yang membantu guru mengkaitkan antara materi yang diajarkan dengan situasi dunia nyata dimana lebih banyak memberikan kesempatan siswa untuk menemukan dan mencoba sendiri pengetahuan yang dimilikinya dengan

penerapannya dalam kehidupan mereka sebagai anggota keluarga dan masyarakat.

6. Alat Peraga

Menurut Hamalik (2007:51) “Alat peraga atau disebut juga alat bantu belajar merupakan alat/ media yang dapat digunakan untuk membantu siswa belajar, sehingga kegiatan belajar menjadi lebih efektif dan efisien.” Depdikbud (dalam Wahyuni, 2011:10) mengartikan istilah alat peraga sebagai “alat bantu untuk mendidik atau mengajar agar apa yang diajarkan mudah dimengerti anak didik.”

Jadi yang dimaksud dengan alat peraga adalah alat/media yang dapat digunakan untuk mendidik atau mengajar agar apa yang diajarkan mudah dimengerti siswa, sehingga kegiatan belajar menjadi lebih efektif dan efisien.

7. Pembelajaran Bangun Ruang Sisi Datar

Menurut Hamalik (2007:57). “ Pembelajaran adalah suatu kombinasi yang tersusun meliputi unsur – unsur manusiawi, material, fasilitas, perlengkapan dan prosedur yang saling mempengaruhi untuk mencapai tujuan pembelajaran.” Pembelajaran atau pengajaran menurut Degeng (dalam Uno, 2008:2) adalah upaya untuk membelajarkan siswa. Jadi pembelajaran adalah suatu kombinasi yang tersusun meliputi unsur – unsur manusiawi, material, fasilitas, perlengkapan dan prosedur yang saling mempengaruhi untuk membelajarkan siswa

(30)

Menurut Suwaji (dalam Mery, 2012:21) bangun ruang dalam konteks geometri dimensi tiga (geometri ruang) adalah himpunan semua titik, garis dan bidang dalam ruang berdimensi tiga yang terletak dalam bagian tertutup beserta seluruh permukaan yang membatasinya merupakan rangkaian dari beberapa bangun datar. Menurut Tim Penyusun LKS RAMA (2014:27) “Sisi datar

merupakan suatu bidang yang membatasi bangun ruang yang permukaannya datar atau rata.”Jadi yang dimaksud dengan bagun ruang adalah himpunan semua titik, garis dan bidang dalam ruang berdimensi tiga yang terletak dalam bagian tertutup beserta seluruh permukaan yang membatasinya merupakan bidang yang datar atau rata.

Jadi yang dimaksud dengan pembelajaran bangun ruang sisi datar adalah suatu upaya atau kegiatan yang dirancang untuk membelajarkan siswa mempelajari bangun tiga dimensi yang terdiri dari himpunan semua titik, garis dan bidang dalam ruang berdimensi tiga yang terletak dalam bagian tertutup beserta seluruh

(31)

14

BAB II

LANDASAN TEORI

A. Hakikat Matematika

Hakikat adalah mencari kebenaran yang sebenar-benarnya. Pada

hakikatnya matematika bersifat abstrak, artinya matematika tersebut merupakan materi imajinasi (tidak nyata). Sehingga dituntut siswa supaya berfikir kritis dan memiliki daya khayal atau imajinasi yang tinggi untuk memecahkan persoalan dalam matematika. Selain itu juga harus menguasai konsep materi yang dipelajari serta ketelitian untuk menyelesaikan soal matematika.

Banyak ahli yang mengemukakan pengertian matematika baik secara umum maupun khusus. Johnson dan Rising (dalam Winataputra, 1992:120) dalam bukunya mengatakan bahwa ”matematika adalah pola berpikir, pola mengorganisasikan, pembuktian yang logis, bahasa yang menggunakan istilah yang cermat, jelas dan akurat yang berupa bahasa simbol mengenai ide-ide.” Hal senada juga disampaikan oleh Ruseffendi (1992:54) bahwa ”matematika

terbentuk sebagai hasil pemikiran manusia yang berhubungan dengan ide, proses, dan penalaran.”

Pada tahap awal matematika terbentuk dari pengalaman manusia dalam dunianya secara empiris, kemudian pengalaman tersebut diproses di dalam dunia rasio, diolah secara analisis, sintesis dan penalaran didalam struktur kognitif sehingga memperoleh suatu kesimpulan tentang konsep-konsep matematika. Winataputra, dkk. (1992:122) menyatakan bahwa:

(32)

Perlu diketahui bahwa baik isi maupun metode mencari kebenaran dalam matematika berbeda dengan ilmu pengetahuan alam apalagi dengan ilmu pengetahuan umumnya. Metode mencari kebenaran yang dipakai oleh matematika adalah metode deduktif, sedangkan oleh ilmu pengetahuan alam adalah metode induktif atau eksperimen. Namun dalam matematika mencari kebenaran itu bisa dimulai dengan cara induktif, tetapi seterusnya

generalisasi yang benar untuk semua keadaan harus bisa dibuktikan secara deduktif. Dalam matematika, suatu generalisasi, sifat, teori atau dalil itu belum dapat diterima kebenarannya sebelum dapat dibuktikan secara deduktif.

Hal ini dimaksudkan bukan berarti ilmu lain diperoleh tidak melalui penalaran, akan tetapi dalam matematika lebih menekankan aktivitas dalam dunia rasio (penalaran), sedangkan dalam ilmu lain lebih menekankan hasil observasi atau eksperimen disamping penalaran.

Belajar mengajar matematika dalam prosesnya haruslah memperhatikan perkembangan kognitif dari anak didik. Sesuai dengan yang dikemukakan oleh Piaget bahwa pada siswa Sekolah Dasar masih berada pada tahap operasi konkret, pekerjaan-pekerjaan logis dapat dilakukan dengan bantuan benda-benda konkret.

Berdasarkan pendapat tersebut siswa Sekolah Dasar akan lebih tertarik dan dapat bersifat positif terhadap pengajaran matematika. Zoltan P. Dienes (dalam Ruseffendi, 1992:56) mengemukakan bahwa tiap-tiap konsep atau prinsip dalam matematika dapat dipahami dengan baik jika disajikan dalam bentuk konkret.

Pada tahap operasional konkret ini ditandai oleh terjadinya cara berpikir logis yang dikaitkan dengan objek-objek nyata.

Jadi pada hakikatnya matematika adalah ilmu pengetahuan bersifat abstrak yang merupakan pola berpikir yang berhubungan dengan ide-ide (gagasan-gagasan), proses, dan hubungan yang diatur secara logika, serta ketajaman

(33)

penalaran yang dapat memberi penjelasan yang akurat dan menyelesaikan masalah

dalam kehidupan sehari-hari. Hakikat inilah yang akan dituangkan dalam kegiatan belajar mengajar sebagai suatu indikator yang akan dijadikan tolok ukur pencapaian tujuan dengan menggunakan metode, sarana dan prasarana yang ada untuk mencapai tujuan yang telah ditentukan.

B. Teori Konstruktivisme 1. Pengertian Konstruktivisme

”Konstruktivisme merupakan suatu aliran yang berupaya membangun tata susunan hidup kebudayaan yang bercorak medern. Konstruktivisme membina suatu konsensus yang paling luas dan mengenai tujuan pokok dan tertingi dalam

kehidupan umat manusia” (Jalaludin dalam Riyanto, 2009:143).

Suparno (dalam Sardiman, 2006:38) menguraikan lima prinsip dalam teori belajar konstruktivisme, diantaranya sebagai berikut.

(1) Belajar berarti mencari makna, makna yang diciptakan oleh siswa dari apa yang mereka lihat, dengar, rasakan dan alami. (2) Konstruksi makna adalah proses yang terus menerus. (3) belajar bukanlah kegiatan mengumpulkan fakta, tetapi merupakan pengembangan pemikiran dengan membuat pengertian yang baru. Belajar bukanlah hasil perkembangan, tetapi perkembangan itu sendiri. (4) Hasil belajar dipengaruhi oleh pengalaman subjek belajar dengan dunia fisik dan lingkungannya. (5) Hasil belajar seseorang tergantung pada apa yang telah diketahui, si subjek belajar, tujuan, motivasi yang mempengaruhi proses interaksi dengan bahan yang sedang dipelajari.

Konstruktivisme menekankan bahwa pengetahuan kita adalah konstruksi atau bentukan kita sendiri jadi bukanlah suatu tiruan dari kenyataan melainkan gambaran suatu realitas. Shapiro (dalam Suparno, 1997:28) mengatakan bahwa

(34)

”Pengetahuan adalah kerangka untuk mengerti bagaimana seseorang

mengorganisasikan pengalaman dan apa yang mereka percayai sebagai realitas.” Manusia mengkonstruksi pengetahuan mereka melalui interaksi mereka dengan objek, fenomena, pengalaman, dan lingkungan mereka. Suatu pengetahuan dianggap benar apabila pengetahuan itu dapat berguna untuk menghadapi dan memecahkan persoalan atau fenomena yang sesuai. Bagi konstruktivisme, pengetahuan tidak dapat ditransfer begitu saja dari seseorang kepada orang lain, tetapi diinterpretasikan sendiri oleh masing-masing orang. Pengetahuan bukan sesuatu yang sudah jadi melainkan suatu proses yang berkembang terus menerus. Dalam proses itu keaktifan seseorang yang ingin tahu sangat berperan dalam perkembangan pengetahuannya.

2. Konstruktivisme Piaget

Piaget adalah psikolog pertama yang menggunakan filsafat

konstruktivisme dalam proses belajar. Menurut Piaget (dalam Wardhana, 2010:14) bahwa pada dasarnya setiap individu sejak kecil sudah memiliki kemampuan untuk mengkonstruksi pengetahuannya sendiri. Pengetahuan yang dikonstruksi oleh anak sebagai subjek akan menjadi pengetahuan yang bermakna. Sementara itu,

pengetahuan yang hanya diperoleh melalui proses pemberitahuan tidak akan menjadi pengetahuan yang bermakna. Pengetahuan tersebut hanya untuk diingat, tetapi setelah itu akan dilupakan. Sardiman (2006:37) menyebutkan ”belajar merupakan proses mengasimilasikan dan menghubungkan pengalaman atau bahan yang dipelajarinya dengan pengertian yang sudah dimiliki, sehingga pengertiannya menjadi berkembang.

(35)

Adapun beberapa istilah dari Piaget (dalam Suparno, 1997:30) yang perlu dipahami untuk menjelaskan proses perkembangan seseorang dalam mencapai

pengertian, adalah sebagai berikut.

a. Skema dan Skemata

Skema adalah suatu struktur mental atau kognitif yang dengannya seseorang secara intelektual beradaptasi dan mengkoordinasi lingkungan sekitarnya. Skemata adalah hasil kesimpulan atau bentukan mental, konstruksi hipotesis, seperti intelek, kreativitas, kemampuan, dan naluri.

b. Asimilasi

Asimilasi adalah proses kognitif yang dengannya seseorang

mengintegrasikan persepsi, konsep, ataupun pengalaman baru, ke dalam skema atau pola yang sudah ada di dalam pikirannya. Asimilasi dapat dipandang sebagai suatu proses kognitif yang menempatkan dan mengklasifikasikan kejadian atau rangsangan yang baru dalam skema yang telah ada dan mengklasifikasikan kejadian atau rangsangan yang baru dalam skema yang telah ada.

c. Akomodasi

Apabila dalam menghadapi rangsangan atau pengalaman yang baru, seseorang tidak dapat mengasimilasikan pengalaman yang baru itu dengan skema yang telah dimiliki, maka seseorang akan membentuk skema baru yang dapat cocok dengan rangsangan yang baru tersebut atau memodifikasi skema yang ada sehingga cocok dengan rangsangan itu.

d. Equilibrium

Dalam perkembangan intelek seseorang terdapat proses equilibrium, yakni pengaturan diri secara mekanis untuk mengatur keseimbangan proses asimilasi dan

(36)

akomodasi. Disequilibrium adalah keadaan tidak seimbang antara asimilasi dengan akomodasi. Equilibrium membuat seseorang dapat menyatukan pengalaman luar dengan struktur dalamnya (skemata). Bila terjadi ketidakseimbangan, maka seseorang dipacu untuk mencari keseimbangan dengan jalan asimilasi atau akomodasi.

e. Teori Adaptasi Intelek

Menurut Piaget, mengerti adalah suatu proses adaptasi intelektual yang dengannya pengalaman-pengalaman dan ide-ide baru diinteraksikan dengan apa yang sudah diketahui oleh seseorang yang sedang belajar untuk membentuk struktur pengertian yang baru, baik dengan proses asimilasi maupun akomodasi.

Piaget juga berpendapat bahwa pengetahuan dibentuk siswa melalui pengalamannya sendiri setelah berinteraksi dengan lingkungan, pengetahuan datang dari tindakan, serta perkembangan kognitif sebagian besar bergantung pada seberapa jauh anak aktif dalam berinteraksi dengan lingkugannya. Dalam hal ini guru hanya berperan sebagai fasilitator dan bukan sebagai pemberi materi.

3. Konstruktivisme Vygotsky

Menurut Vygotsky (dalam Wahyuni, 2011:16) ”perkembangan kognitif adalah hasil interaksi sosial dalam konteks budaya dan pembelajaran merupakan hasil interaksi anak dengan orang dewasa atau guru melalui konsep intructional

scaffolding.” Scaffolding berarti memberikan kepada seseorang anak sejumlah

besar bantuan selama tahap – tahap awal pembelajaran dan kemudian mengurangi bantuan tersebut dan memberikan kesempatan kepada anak untuk mengambil alih tanggung jawab yang semakin besar, segera setelah ia mampu mengerjakan sendiri.

(37)

Bantuan yang diberikan guru dapat berupa petunjuk, peringatan, dorongan

menguraikan masalah dalam bentuk lain yang memungkinkan siswa dapat mandiri. Selain itu Vygotsky menyatakan bahwa pembelajaran terjadi pada saat anak

bekerja dalam zona perkembangan proksimal (zone of proximal development) yaitu daerah antartingkat perkembangan sesungguhnya yang didefinisikan sebagai kemampuan memecahkan masalah secara mandiri dan tingkat perkembangan potensial yang didefinisikan sebagai kemampuan memecahkan masalah di bawah bimbingan orang dewasa atau teman sebaya yang lebih mampu (Rosalin, 2008:12). Pada awal pembelajaran guru memberikan sejumlah bantuan kepada siswa,

selanjutnya secara bertahap bantuan tersebut dikurangi dan memberikan kesempatan kepada siswa untuk mengemukakan pendapatnya sendiri sehingga pada akhirnya dapat menyelesaikan masalah secara mandiri.

Dari penjelasan di atas jelaslah bahwa perkembangan kognitif dan potensial menekankan pada siswa yang membentuk atau membangun sendiri pengetahuannya, bertanggung jawab atas hasil belajarnya, dan membuat penalaran atas apa yang dipelajarinya baik secara individu maupun secara kelompok.

Menurut prinsip konstruktivisme, seorang pengajar atau guru berperan sebagai mediator dan fasilitator yang membantu agar proses belajar siswa berjalan dengan baik. Suparno (1997:66) menyatakan fungsi mediator dan fasilitator dijabarkan dalam beberapa tugas yaitu: (1) menyediakan pengalaman belajar yang memungkinkan siswa bertanggung jawab dalam membuat rancangan, proses, dan penelitian; (2) menyediakan atau memberikan kegiatan-kegiatan yang merangsang keingintahuan siswa dan membantu mereka untuk mengekspresikan gagasan-gagasannya dan mengkomunikasikan ide ilmiah mereka; dan (3) memonitor,

(38)

mengevaluasi dan menunjukkan apakah siswa mampu menggunakan pikirannya dalam belajar atau menghadapi persoalan baru yang berkaitan dan memmbantu siswa mengevaluasi hipotesis dan kesimpulan. Dalam proses belajar siswa harus aktif mencari informasi dengan membentuk pengetahuannya dan guru membantu agar pencarian itu berjalan dengan baik. Dalam hal ini antara guru dan siswa sama-sama membangun pengetahuan dan dapat saling mengisi antara guru dan siswa sehingga hubungan antara guru dan siswa dapat dijadikan mitra dalam membangun pengetahuan.

C. Contextual Teaching and Learning (CTL) 1. Hakikat Pembelajaran Kontekstual

Untuk memperkuat dimilikinya pengalaman belajar yang aplikatif bagi siswa, tentu saja diperlukan pembelajaran yang lebih banyak memberikan kesempatan kepada siswa untuk melakukan, mencoba, dan mengalami sendiri (learning to do), sehingga lebih ditekankan pada upaya memfasilitasi siswa untuk mencari kemampuan untuk bisa hidup (life skill) dari apa yang dipelajarinya. Dengan demikian, pembelajaran lebih bermakna senantiasa bersentuhan dengan situasi di kehidupan yang terjadi di lingkungannya.

Johnson (dalam Rusman, 2010:189) menguraikan makna pembelajaran CTL sebagai berikut.

contextual teaching and learning anables students to connect the content of academic subject with the immediate context of their daily lives to discover meaning. It enlarges their personal context

furthermore, by providing students with fresh experience that stimulate the brain to make new connetion and consecuently, to discover new meaning.

(39)

(CTL memungkinkan siswa menghubungkan isi mata pelajaran akademik dengan konteks kehidupan sehari – hari untuk menemukan makna. CTL memperluas konteks pribadi siswa lebih lanjut melalui pemberian pengalaman segar yang akan merangsang otak guna menjalin hubungan baru untuk menemukan makna yang baru)

Menurut Depdiknas (2005:18) enam elemen kunci dalam pembelajaran kontekstual yaitu: (1) belajar bermakna; (2) aplikasi pengetahuan; (3) berpikir tingkat tinggi; (4) kurikulum yang berkaitan dengan standar; (5) respon terhadap budaya; dan (6) penilaian otentik. Penjelasan lebih rinci dapat dilihat berikut ini.

a. Belajar Bermakna

Pemahaman, relevansi pribadi dan penilaian seorang pembelajar yang melekat pada isi yang dipelajari. Belajar dirasakan sebagai suatu kebutuhan yang sesuai dengan kehidupan.

b. Aplikasi Pengetahuan

Kemampuan untuk mengetahui bagaimana sesuatu yang telah dipelajari itu dapat diteruskan pada situasi dan fungsi lain di masa depan.

c. Berpikir Tingkat Tinggi

Pembelajar diminta untuk berpikir kritis dan kreatif dalam pengumpulan data, pemahaman terhadap isu-isu atau memecahkan masalah.

d. Kurikulum yang Berkaitan dengan Standar

Isi pengajaran berkaitan dengan suatu keluasan atau jangkauan bermacam standar lokal, wilayah bagian, nasional, dan/atau perusahaan atau industri.

e. Respon Terhadap Budaya

Pendidikan harus memahami dan menghargai nilai-nilai, kepercayaan dan adat istiadat siswa, sesama guru dan masyarakat sekitar. Berbagai macam budaya

(40)

individu maupun kelompok mempengaruhi belajar. Budaya-budaya dan hubungan antar budaya mempengaruhi bagaimana seorang guru mengajarkannya.

f. Penilaian Otentik

Penggunaan berbagai strategi penilaian yang menunjukkan hasil nyata dari pembelajar secara valid sangat diharapkan. Penilaian tersebut meliputi kegiatan-kegiatan dan proyek-proyek siswa yang menggunakan fortopolio, rubrik, ceklist, dan petunjuk observasi. Penilaian tersebut hendaknya melibatkan peserta didik menjadi peserta yang aktif dalam penilaian belajarnya sendiri dan menggunakan setiap penilaian tersebut untuk meningkatkan kemampuan menulisnya.

2. Definisi CTL

Depdiknas (dalam Taniredja, dkk., 2011:49) menyatakan bahwa

“Contextual Teaching and Learning (CTL) adalah konsep belajar yang membantu guru mengkaitkan antara materi yang diajarkan dengan situasi dunia nyata peserta didik dan mendorong peserta didik membuat hubungan antara pengetahuan yang dimilikinya dengan penerapannya dalam kehidupan mereka sehari-hari.”

Sementara itu Johnson (2002:14) menyatakan bahwa “CTL adalah sistem belajar yang didasarkan pada filosofi bahwa siswa mampu menyerap pelajaran apabila mereka menangkap makna dalam materi akademis yang mereka terima, dan mereka menangkap makna dalam soal-soal sekolah sehingga mereka bisa mengkaitkan informasi baru dengan pengetahuan dan pengalaman yang sudah mereka miliki sebelumnya.” Senada dengan itu, Riyanto (2009:159) menyatakan bahwa “Pendekatan kontekstual ( Contextual Teaching and Learning (CTL))

(41)

merupakan konsep belajar yang membantu guru mengaitkan antara materi yang diajarkan dengan situasi dunia nyata siswa dan mendorong antara pengetahuan

yang dimilikinya dengan penerapannya dalam kehidupan mereka sebagai anggota

keluarga dan masyarakat.”

Dari pemaparan di atas, maka yang dimaksud dengan CTL adalah konsep belajar yang membantu guru mengkaitkan antara materi yang diajarkan dengan situasi dunia nyata dimana lebih banyak memberikan kesempatan siswa untuk menemukan dan mencoba sendiri pengetahuan yang dimilikinya dengan

penerapannya dalam kehidupan mereka sebagai anggota keluarga dan masyarakat.

3. Strategi Pengajaran yang Berasosiasi dengan CTL

Strategi-strategi pengajaran yang berasosiasi dengan CTL adalah (a) pembelajaran otentik adalah pengajaran yang menghargai siswanya belajar dalam konteks bermakna; (b) pembelajaran berdasarkan inkuiri adalah strategi pengajaran yang mencontoh pada metode ilmiah dan memberikan kesempatan untuk belajar bermakna; (c) pembelajaran berdasarkan masalah merupakan pendekatan

pengajaran dengan memunculkan problem yang dihadapi bersama, siswa ditantang berpikir kritis untuk memecahkannya karena masalah seperti ini membawa makna personal dan sosial bagi siswa; (d) pembelajaran jasa (servise learning) adalah merupakan pengajaran yang mengkombinasikan pelayanan masyarakat dengan pelajaran sekolah yang didasarkan pada kesepakatan untuk

merefleksikan/menyatakan tentang pelayanan itu, dan menekankan pada hubungan pengalaman pelayanan dan pembelajaran akademik; dan (e) pembelajaran

(42)

berdasarkan kerja adalah pendekatan pengajaran dimana siswa menggunakan konteks tempat kerja untuk belajar materi sekolah dan bagaimana materi tersebut digunakan di tempat kerja itu. (Depdiknas, 2005:23)

Dari uraian di atas, dapat disimpulkan bahwa strategi pengajaran yang berasosiasi dengan CTL lebih menekankan pada pembelajaran otentik, inkuiri, pembelajaran jasa, pembelajaran berdasarkan kerja, dan pembelajaran berdasarkan masalah yang mengunakan masalah-masalah dunia nyata atau kontekstual sebagai acuan bagi siswa untuk belajar berpikir logis dan terampil memecahkan masalah.

4. Prinsip-Prinsip Pembelajaran Kontekstual (CTL)

CTL, sebagai suatu model, dalam implementasinya tentu saja memerlukan

perencanaan pembelajaran yang mencerminkan konsep dan prinsip CTL. Setiap model pembelajaran, disamping memiliki unsur kesamaan, juga ada beberapa perbedaan tertentu yang disesuaikan dengan model yang akan diterapkan. Menurut Rusman (2010:193-197) secara umum Contextual Teaching and Learning (CTL) dapat dilakukan dengan menerapkan tujuh prinsip CTL sebagai berikut.

a. Konstruktivisme (Constructivism)

Konstruktivisme merupakan landasan berpikir pendekatan kontekstual, yaitu pengetahuan dibangun oleh siswa itu sendiri dengan membentuk skhema, kategori konsep dan struktur pengetahuan. Jadi pembelajaran harus dikemas menjadi proses mengkonstruksi bukan menerima pengetahuan. Oleh karena itu, tugas guru adalah memfasilitasi kegiatan pembelajaran dengan cara (1) menjadikan pengetahuan bermakna dan relevan bagi siswa, (2) memberi kesempatan kepada siswa untuk

(43)

menemukan dan menerapkan idenya sendiri, dan (3) menyadarkan siswa agar menerapkan strategi mereka sendiri dalam belajar.

b. Menemukan (Inquiry)

Menemukan merupakan bagian inti dari pembelajaran berbasis pendekatan kontekstual. Pengetahuan bukan merupakan hasil mengingat seperangkat fakta – fakta, tetapi merupakan hasil dari menemukan sendiri melalui siklus observasi (observation), bertanya (questioning), mengajukan dugaan (hypothesis),

pengumpulan data (data gathering), dan penyimpulan (conclusion). Langkah – langkah kegiatan menemukan meliputi (1) merumuskan masalah, (2) mengamati atau melakukan observasi, (3) menganalisis dan menyajikan hasil dalam bentuk tulisan, gambar, laporan, bagan, tabel, atau karya lainnya, dan (4)

mengkomunikasikan atau menyajikan hasil karya kepada pembaca, teman sekelas, guru atau audien lain.

c. Bertanya (Questioning)

Bertanya dalam kegiatan pembelajaran dipandang sebagai kegiatan guru untuk mendorong, membimbing, dan menilai kemampuan berpikir siswa. Selain itu, bertanya juga merupakan kegiatan penting bagi siswa dalam pembelajaran yang berbasis inquiry, yaitu untuk menggali informasi, menginformasikan apa yang sudah diketahui, dan mengarahkan perhatian pada aspek yang belum diketahui. Dalam kegiatan pembelajaran bertanya berfungsi untuk (1) menggali informasi, (2) mengecek pemahaman siswa, (3) membangkitkan respon siswa, (4) mengetahui sejauh mana keingintahuan siswa; 5) mengetahui hal-hal yang sudah diketahui oleh siswa, (6) memfokuskan perhatian siswa pada sesuatu yang dikehendaki guru, (7)

(44)

membangkitkan lebih banyak lagi pertanyaan dari siswa, (8) menyegarkan kembali pengetahuan yang telah dimiliki siswa.

d. Masyarakat Belajar (Learning Community)

Masyarakat belajar adalah membiasakan siswa untuk melakukan kerja sama dan memanfaatkan sumber belajar dari teman-teman belajarnya. Learning

community mengatakan bahwa hasil belajar yang diperoleh dari kerja sama dengan

orang lain melalui berbagai pengalaman.

e. Pemodelan (Modelling)

Pemodelan yang dimaksud adalah adanya model yang dapat ditiru dan diamati oleh siswa. Dalam pendekatan kontekstual, guru bukanlah satu-satunya model. Guru dapat melibatkan siswa untuk menjadi model berdasarkan

pengalaman yang dimilikinya.

f. Refleksi (Reflection)

Refleksi adalah cara berpikir tentang apa yang baru terjadi atau baru saja dipelajari atau berpikir kebelakang tentang apa-apa yang sudah dilakukan di masa lalu. Siswa mengendapkan apa yang baru dipelajarinya sebagai struktur

pengetahuan yang baru yang merupakan pengayaan atau revisi dari pengetahuan yang sebelumnya. Realisasi dari kegiatan refleksi berupa (1) pernyataan langsung tentang apa saja yang diperoleh pada hari itu, (2) catatan atau jurnal di buku siswa, (3) kesan an saran siswa mengenai kegiatan pembelajaran pada hari itu, (4) diskusi dan (5) hasil karya.

g. Penilaian Sebenarnya (Authentic Assessment)

Komponen terakhir dalam pembelajaran kontekstual adalah penilaian. Penilaian adalah proses pengumpulan berbagai data dan informasi yang bisa

(45)

memberikan gambaran atau petunjuk terhadap pengalaman belajar. Sehingga akan semakin akurat pemahaman guru terhadap proses dan hasil pengalaman belajar setiap siswa.

Penerapan CTL dalam strategi pembelajaran adalah melibatkan siswa secara aktif, siswa dibagi menjadi kelompok-kelompok; memandang bahwa belajar bukan menghapal, bukan sebagai tempat memperoleh informasi; materi pelajaran

ditemukan oleh siswa sendiri, bukan hasil dari pemberian orang lain; dan penilaian dilaksanakan selama dan sesudah proses pembelajaran.

Seorang guru dikatakan menerapkan pembelajaran kontekstual dalam proses belajar mengajarnya apabila guru tersebut telah menerapkan ke 7 (tujuh) komponen di atas yakni: konstruktivisme (constructivism), menemukan (inquiry), bertanya (questioning), masyarakat belajar (learning community), pemodelan (modelling), refleksi (reflection), dan penilaian otentik (authentic assessment).

5. Langkah-langkah Pembelajaran Kontekstual (CTL)

Secara umum suatu kelas dikatakan menggunakan pembelajaran kontekstual jika menerapkan tujuh prinsip CTL yaitu: konstruktivisme, inkuiri, bertanya, masyarakat belajar, pemodelan,refleksi, dan penilaian otentik.

Adapun kegiatan guru secara riil sesuai dengan penerapan ketujuh komponen CTL di atas adalah: (a) pada kegiatan awal guru melakukan absensi, memberikan apersepsi mengenai materi yang dibahas, (b) pada kegiatan inti, dengan penerapan CTL yaitu: guru mendampingi siswa mengkonstruksi pengetahuan mereka melalui interaksi mereka dengan objek, fenomena, pengalaman, dan lingkungan mereka; guru memberikan stimulus agar siswa

(46)

mengungkapkan apa yang ada dalam pikiran siswa; guru menyuruh siswa menganalisis hasil observasi dalam tulisan, gambar, laporan, bagan, tabel, dan karya lainnya; guru menyuruh siswa menyajikan hasil observasinya pada teman sekelas; guru membimbing siswa jika ada yang melakukan kesalahan dan terus memotivasi siswa untuk memperbaiki kesalahannya; guru menggali pemahaman siswa dengan cara mengadakan tanya jawab untuk mengetahui tingkat pemahaman siswa mengenai materi yang dibahas; guru mendorong siswa untuk lebih banyak bertanya; guru membagi siswa ke dalam kelompok belajar yang heterogen; guru menjelaskan kegiatan siswa yaitu secara berkelompok siswa melakukan eksplorasi tentang masalah-masalah sesuai dengan materi yang dibahas yang nantinya

didiskusikan pemecahannya; guru membagikan LKS kepada masing-masing kelompok dan model sebagai contoh pembelajaran.

Setelah cukup waktu, guru meminta masing-masing perwakilan untuk menyampaikan hasil diskusinya dengan memperagakan kembali model di depan kelas; guru menyuruh siswa menanyakan kembali tentang materi yang belum dimengerti; guru bersama siswa menyimpulkan materi; guru memberikan penilaian terhadap hasil presentasi yang telah dilakukan oleh perwakilan masing-masing kelompok; guru memberikan PR mengenai materi yang telah dibahas; guru menyimpulkan materi yang telah dibahas dan menutup pelajaran.

D. Aktivitas dan Prestasi Belajar Siswa 1. Aktivitas Belajar

(47)

Tim Penyusun Kamus Besar Bahasa Indonesia Edisi Ketiga (2005:23) menyatakan bahwa “aktivitas artinya keaktifan; kegiatan; kesibukan.” Menurut Rousseau (dalam Sardiman, 2006:96) “aktivitas adalah segala kegiatan yang dilaksanakan yang berupa pengamatan sendiri, pengalaman sendiri, penyelidikan sendiri, dengan bekerja sendiri dan fasilitas yang diciptakan sendiri baik secara rohani maupun teknis.” Jadi aktivitas adalah keaktifan dari suatu kegiatan baik secara jasmani maupun rohani.

“Belajar adalah suatu rangkaian kegiatan jiwa raga untuk menuju ke

perkembangan pribadi manusia seutuhnya.”(Sardiman, 2006:21). Menurut Dimyati dan Mudjiono (2009:295) belajar adalah kegiatan individu memperoleh

pengetahuan, perilaku dan keterampilan dengan cara mengolah bahan belajar . Jadi yang dimaksud dengan belajar adalah kegiatan individu untuk memperoleh

pengetahuan dan perubahan prilaku serta keterampilan sebagai akibat dari proses mengolah bahan pelajaran untuk menuju ke perkembangan pribadi manusia seutuhnya

Jadi yang dimaksud dengan aktivitas belajar adalah keaktifan dari suatu kegiatan yang yang dilaksanakan baik secara jasmani maupun rohani untuk mengubah prilaku individu sebagai akibat dari proses mengolah bahan pelajaran untuk menuju ke perkembangan pribadi manusia seutuhnya.

b. Jenis-Jenis Aktivitas Belajar

Dierich (dalam Hamalik, 2001:172) membagi kegiatan belajar menjadi 8 kelompok, yaitu (1) kegiatan-kegiatan visual yaitu membaca, melihat gambar-gambar, mengamati eksperimen, demonstrasi, pameran, dan bermain; (2)

(48)

kegiatan-kegiatan lisan yaitu mengemukakan suatu fakta atau prinsip, menghubungkan suatu kejadian,mengajukan pertanyaan, memberi saran, mengemukakan pendapat,

wawancara, diskusi, dan interupsi; (3) kegiatan-kegiatan mendengarkan yaitu mendengarkan penyajian bahan, mendengarkan percakapan atau dikusi kelompok, mendengarkan suatu permainan; (4) kegiatan-kegiatan menulis yaitu menulis cerita, menulis laporan, memeriksa karangan, membuat rangkuman, mengerjakan tes, dan mengisi angket; (5) kegiatan-kegiatan menggambar yaitu menggambar, membuat grafik, chart, diagram, peta, dan pola; (6) kegiatan-kegiatan metrik yaitu melakukan percobaan, memilih alat-alat, melaksanakan pameran, membuat model, menyelenggarakan permainan, dan menari; (7) kegiatan-kegiatan mental yaitu merenungkan, mengingat, memecahkan masalah, menganalisis, faktor-faktor, melihat, hubungan-hubungan, dan membuat keputusan; dan (8) kegiatan-kegiatan emosional yaitu minat, membedakan, berani, tenang, dan lain-lain. Kegiatan-kegiatan dalam kelompok ini terdapat dalam semua jenis Kegiatan-kegiatan dan overlap satu sama lain.

Berdasarkan klasifikasi di atas, aktivitas belajar di sekolah sangat bervariasi. Apabila berbagai macam aktivitas tersebut dapat diciptakan di sekolah maka sekolah akan menjadi dinamis, tidak membosankan bagi siswanya, dan sepenuhnya dapat dijadikan tempat sebagai pusat belajar yang baik bagi siswa. Dengan demikian, kreativitas guru untuk menciptakan aktivitas belajar yang bervariasi tersebut sangatlah dperlukan.

(49)

Prinsip-prinsip aktivitas belajar dalam hal ini dilihat dari sudut pandang

perkembangan konsep jiwa menurut ilmu jiwa. Maka sudah barang tentu yang menjadi fokus perhatian adalah komponen manusiawi yang melakukan aktivitas dalam belajar-mengajar, yakni siswa dan guru.

Menurut Sardiman (2006:97-100) secara garis besar prinsip aktivitas belajar dari sudut pandangan ilmu jiwa adalah (1) menurut pandangan ilmu jiwa lama yaitu dalam proses belajar mengajar guru senantiasa mendominasi kegiatan, aktivitas siswa terutama terbatas pada mendengarkan, mencatat, menjawab apabila guru bertanya. Proses belajar mengajar seperti ini jelas tidak mendorong siswa untuk berpikir dan beraktivitas. Yang banyak beraktivitas adalah guru. Hal ini sudah barang tentu tidak sesuai dengan hakikat pribadi siswa sebagai subjek belajar; (2) menurut pandangan ilmu jiwa modern yaitu ilmu jiwa yang

menerjemahkan jiwa manusia sebagai sesuatu yang dinamis, memiliki potensi dan energi sendiri. Oleh karena itu secara alami siswa akan lebih aktif, karena adanya motivasi dan bermacam-macam kebutuhan. Sehingga tugas pendidik atau guru adalah membimbing dan menyediakan kondisi agar siswa dapat mengembangkan bakat dan potensinya.

Dari uraian di atas, dapat disimpulkan bahwa di zaman modern seperti sekarang ini, prinsip aktivitas menurut pandangan ilmu jiwa lama sudah tidak cocok diterapkan. Karena seiring perkembangan zaman, siswa-siswa sudah banyak yang berfikir kritis dan lebih aktif di dalam memecahkan suatu permasalahan dalam pendidikan sehingga guru hanya sebagai mediator dan fasilitator dalam proses belajar mengajar.

(50)

2. Prestasi Belajar

a. Pengertian Prestasi Belajar

Menurut Tim Penyusun Kamus Besar Bahasa Indonesia Edisi Ketiga (2005:895) “prestasi adalah hasil pelajaran yang diperoleh dari kegiatan belajar di sekolah yang bersifat kognitif dan biasanya ditentukan melalui pengukuran dan penilaian yang diberikan oleh guru.” Hal senada juga disampaikan oleh Wardani, dkk. (dalam Suerni, 2007:9) yakni “prestasi adalah suatu kemampuan seseorang yang didapat setelah ia melakukan suatu kegiatan.” Berdasarkan pendapat-pendapat tersebut, maka prestasi adalah hasil yang telah dicapai individu setelah ia

melakukan suatu kegiatan belajar di sekolah yang bersifat kognitif dan biasanya ditentukan melalui pengukuran dan penilaian yang diberikan oleh guru.

Menurut Slameto (1995:2) “belajar adalah suatu tingkah laku yang baru secara keseluruhan, sebagai hasil pengalamannya sendiri dalam interaksi dengan lingkungannya.” Belajar menurut Depdiknas (2002:26) adalah usaha memperoleh kepandaian atau ilmu, perubahan tingkah laku atau tanggapan yang disebabkan oleh pengalaman. Jadi dapat disimpulkan bahwa belajar adalah usaha memperoleh pengalaman baru yang mengakibatkan perubahan tingkah laku pada diri yang bersangkutan. Dari pernyataan di atas dapat disimpulkan bahwa prestasi belajar berarti hasil yang telah dicapai individu setelah ia melakukan suatu kegiatan dalam usaha memperoleh kepandaian atau ilmu yang bersifat kognitif dan biasanya ditentukan melalui pengukuran dan penilaian yang diberikan oleh guru.

(51)

b. Ciri-Ciri Prestasi Belajar

Belajar pada hakikatnya merupakan usaha sadar yang dilakukan individu untuk memenuhi kebutuhannya. Setiap kegiatan belajar yang dilakukan siswa akan menghasilkan perubahan-perubahan dalam dirinya, yang oleh Bloom dan kawan-kawan dikelompokkan ke dalam kawasan kognitif, afektif dan psikomotor. Ciri-ciri perubahan perilaku sebagai prestasi belajar yang dikemukakan Makmun (dalam Yamin, 2009:190) adalah (1) berifat intensional, dalam arti pengalaman atau praktek latihan itu dengan sengaja dan disadari dilakukan bukan secara kebetulan. Dengan demikian perubahan karena kematangan, keletihan, atau penyakit tidak dapat dipandang sebagai hasil belajar atau prestasi belajar; (2) bersifat positif, dalam arti sesuai yang diharapkan (normatif), atau kriteria

keberhasilan (criteria of success) baik dipandang dari segi siswa maupun guru; (3) bersifat efektif , dalam arti perubahan prestasi belajar itu relatif tetap, dan setiap saat diperlukan dapat direproduksikan dan dipergunakan seperti dalam ujian maupun dalam penyesuaian diri dalam kehidupan sehari-hari dalam rangka mempertahankan kelangsungan hidupnya.

c. Faktor yang Mempengaruhi Prestasi Belajar Siswa

Untuk mencapai tujuan pembelajaran matematika tersebut faktor yang

mempengaruhi proses belajar mengajar perlu dikelola dengan sebaik-baiknya. Ada beberapa faktor yang mempengaruhi proses belajar mengajar yaitu siswa sebagai subjek belajar, guru sebagai pengajar dituntut adanya profil kualifikasi tertentu dalam hal pengetahuan, kemampuan, sikap dan tata penilaian (Sardiman, 2006:19).

Gambar

Gambar 01. Kubus ABCD.EFGH
Gambar 02. Gambar Jaring-Jaring Kubus
Gambar 03. Menemukan Rumus Luas Permukaan Kubus ABCD.EFGH             Dari Gambar 03 di atas, diketahui bahwa P 1  adalah persegi DCGH, P 2 adalah persegi EADH, P 3  adalah persegi ABCD, P 4  adalah persegi BFGC, P 5
Gambar 04. Menemukan Rumus Volume Kubus ABCD.EFGH             Dari Gambar 04 (b) di atas, diperlukan 27 kubus satuan volume untuk  membentuk Kubus ABCD.EFGH
+7

Referensi

Dokumen terkait

Upaya Meningkatkan Prestasi Belajar dengan Menggunakan Alat Peraga Sebagai Media Pembelajaran Matematika Pokok Bahasan Bangun Ruang Sisi Lengkung Siswa Kelas IXD MTsN Ngemplak

EKSPERIMENTASI PENGAJARAN MATEMATIKA MENGGUNAKAN METODE DISKUSI DENGAN ALAT PERAGA PADA.. POKOK BAHASAN BANGUN DATAR DITINJAU DARI AKTIVITAS

Indikator pencapaian untuk materi volum dan luas permukaan bangun ruang sisi datar, yaitu: (1) menentukan unsur-unsur bangun ruang sisi datar meliputi sisi, rusuk,

Pengertian Bangun Ruang Sisi Datar .... Mengidentifikasi Bagian-bagian Bangun Ruang

Pendekatan (CTL) dalam pembelajaran bangun ruang sisi datar dapat menumbuhkan suasana belajar yang optimal dan lebih bermakna. Pengetahuan dan pengalaman siswa akan

Proses pengembangan perangkat pembelajaran matematika dengan pendekatan Contextual Teaching and Learning (CTL) pada materi bangun ruang sisi datar kelas VIII SMP

Pembelajaran bangun ruang sisi datar dengan pendekatan Guided Discovery berbantuan GeoGebra lebih efektif dibandingkan dengan pembelajaran bangun ruang sisi

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh model pembelajaran Teams Games Tournament (TGT) berbantuan alat peraga terhadap kemampuan pemahaman konsep matematis siswa pada materi bangun ruang sisi datar bagian kubus dan