BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN
4.5 Hasil Penetapan Kadar Total Flavonoid
4.6.4 Hasil Analisis Nilai IC 50
Hasil absorbansi diinterpretasikan ke dalam nilai IC50 (Inhibitory Concentration of 50%) di mana IC50 ini menunjukkan konsentrasi substrat yang mampu meredam 50% aktivitas dari radikal bebas DPPH (Molyneux, 2004).
Contoh perhitungan IC50 dapat dilihat pada Lampiran 17. Hasil perhitungan nilai IC50 dari larutan infusa kental dan ekstrak kental dapat dilihat pada Tabel 4.11;
4.12; 4.13 dan 4.14 berikut.
Tabel 4. 11 Nilai IC50 dari larutan infusa kental 10% Daun Kucai Persamaan Regresi Koefisien
Tabel 4. 12 Nilai IC50 dari larutan Ekstrak Kental Etanol 96% Daun Kucai Persamaan Regresi Koefisien
Tabel 4. 13 Nilai IC50 dari larutan Ekstrak Kental Etil Asetat Daun Kucai Persamaan Regresi Koefisien
Tabel 4. 14 Nilai IC50 dari larutan Ekstrak Kental n-Heksan Daun Kucai Persamaan Regresi Koefisien
Menurut Molyneux (2004) nilai IC50 berbanding terbalik dengan aktivitas antioksidan, semakin tinggi aktivitas antioksidannya, maka nilai IC50 semakin rendah. Berdasarkan Tabel 4.11 diperoleh bahwa ekstrak kental etil asetat yang memiliki aktivitas antioksidan paling tinggi dibandingkan dengan pelarut lainnya yaitu dengan nilai IC50 sebesar 236,5096 µg/ml.
IC50 menunjukkan bahwa sampel uji dapat menyebabkan peredaman sebanyak 50% dari aktivitas DPPH, hal ini dapat dilihat juga dari perubahan warna dari sampel uji yang berwarna ungu pekat ketika ditambahkan DPPH yang akan berubah menjadi kekuningan jika sampel uji memiliki aktivitas peredaman (Molyneux, 2004).
Ekstrak kental daun kucai dengan pelarut etil asetat memiliki aktivitas antioksidan yang tertinggi dibandingkan ekstrak kental daun kucai dengan pelarut lainnya dan infusa kental daun kucai. Hal ini dikarenakan senyawa bioaktif yang berperan sebagai penghambat radikal bebas DPPH dari ekstrak daun kucai dapat terekstrak dengan baik jika menggunakan pelarut etil asetat serta kemungkinan kerusakan senyawa bioaktif pada infusa akibat dari pemanasan (Suryani, dkk., 2015).
Berdasarkan penelitian yang telah dilakukan kandungan total flavonoid pada ekstrak etil asetat lebih tinggi dibandingkan ekstrak dengan pelarut lainnya.
Hal ini dikarenakan senyawa flavonoid yang berpotensi sebagai antioksidan lebih banyak terlarut dalam pelarut etil asetat sehingga aktivitas peredaman radikal bebas DPPH yang tertinggi juga ditunjukkan oleh ekstrak dengan pelarut etil asetat.
BAB V
KESIMPULAN DAN SARAN
5.1 Kesimpulan
Berdasarkan hasil penelitian dan pengamatan yang telah dilakukan dapat disimpulkan:
a. Hasil skrining fitokimia simplisia daun kucai menunjukkan adanya golongan senyawa alkaloid, glikosida, flavonoid, tanin dan steroid.
b. Penggunaan pelarut yang berbeda dapat mempengaruhi kadar total fenol dan total flavanoid dalam infusa kental dan ekstrak kental daun kucai. Total fenol terbanyak terdapat dalam ekstrak kental etanol daun kucai sedangkan pada total flavonoid terbanyak terdapat pada ekstrak kental etil asetat daun kucai.
c. Kandungan total fenol dan total flavonoid dalam infusa kental dan ekstrak kental daun kucai dengan pelarut yang berbeda dapat menunjukkan aktivitas peredaman radikal bebas yang berbeda, di mana aktivitas peredaman tertinggi terletak pada ekstrak kental etil asetat yang memiliki kadar total flavonoid tertinggi.
5.2 Saran
Berdasarkan pembahasan dan kesimpulan, maka penulis menyarankan untuk menguji aktivitas antioksidan daun kucai menggunakan fraksi dari ekstrak kental etil asetat daun kucai.
DAFTAR PUSTAKA Food and Agricultural Science and Technology (SEAFAST) Center, IPB.
Halaman 9, 57-60.
Anonim. (2000). Parameter Standar Umum Ekstrak Tumbuhan Obat. Cetakan Pertama. Jakarta: Direktorat Jenderal Pengawasan Obat dan Makanan, Direktorat Pengawasan Obat Tradisional. Halaman 5, 10-11.
Anonim. (2018). Allium schoenoprasum (L). United States Department of Agriculture Natural Resources Conservation Service. Diunduh dari https://plants.usda.gov/core/profile?symbol=ALSC. Pada tanggal 21 Juni 2018.
Badan POM R. I. (2008). Acuan Sediaan Herbal. Volume Keempat. Edisi Pertama. Jakarta: Badan Pengawasan Obat dan Makanan Republik Indonesia. Halaman 35.
Bhaigyabati, Th., Devi, P. G., dan Bag, G. C. (2014). Total Flavonoid Content and Antioxdant Activity of Aqueous Rhizome Extract of Three Hedychium Species of Manipur Valley. Research Journal of Pharmaceutical, Biological and Chemical Science. 5(5) : 970-975.
Chang, C. C., Yang, M. H., Wen, H. M., dan Chern, J. C. (2002). Estimation of Total Flavonoid Content in Propolis by Two Complementary Colorimetric Methods. Journal of Food and Drug Analysis. Vol. 10(3) : 178-182.
Depkes R. I. (1995). Materia Medika Indonesia. Cetakan Pertama. Jilid VI.
Jakarta: Departemen Kesehatan RI. Halaman 112-114, 322-325, 333-337.
Ditjen POM, Depkes R. I. (1979). Farmakope Indonesia. Edisi Ketiga. Cetakan Pertama. Jakarta: Departemen Kesehatan RI. Halaman 33, 772.
Ervianingsih dan Razak, A. (2017). Uji Daya Hambat Ekstrak Daun Kucai (Allium schoenoprasum L.) Terhadap Pertumbuhan Streptococcus mutans.
Jurnal Mandala Pharmacon Indonesia. Vol. 3(2): 1-6.
Farnsworth, N. R. (1966). Review Article: Biological and Phytochemical Screening of Plants. Journal of Pharmaceutical Sciences. Vol. 55(3) : 262-265.
Geng, S., Liu, Y., Ma, H., dan Chen, C. (2015). Original Research Article:
Extraction and Antioxidant Activity of Phenolic Compounds from Okra Flowers. Tropical Journal of Pharmaceutical Research. 14(5) : 807-814.
Harborne, J. B. (1984). Phytochemical methods. Second Editon. Penerjemah:
Padmawinata, K. dan Soediro, I. (1987). METODE FITOKIMIA.
Bandung: Penerbit ITB. Halaman 47, 49-51, 71.
Harmita. (2004). Review Artikel: PETUNJUK PELAKSANAAN VALIDASI METODE DAN CARA PERHITUNGANNYA. Majalah Ilmu Kefarmasian. Vol. 1(3) : 117-135.
Hutabalian, M. R. U. (2018). Kelarutan Kalsium Batu Ginjal Pada Ekstrak Daun Kucai (Allium schoenoprasum L.) Secara Spektrofotometri Serapan Atom.
Skripsi. Medan: Fakultas Farmasi Universitas Sumatera Utara.
Kepmenkes R. I. (2007). Keputusan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor 381/Menkes/SK/III/2007 Tentang KEBIJAKAN OBAT TRADISIONAL TAHUN 2007. Departemen Kesehatan Republik Indonesia.
Kosasih, E. N., Setiabudhi, T., dan Heryanto, H. (2004). Peran Antioksidan Pada Lanjut Usia. Jakarta : Pusat Kajian Nasional Masalah Lanjut Usia.
Halaman 56-57.
Lenkova, M., Bystricka, J., Toth, T., dan Hrstkova, M. (2016). Evaluation and Comparison of the content of total polypenols and antioxidant activity of selected species of the genus Allium. Journal of Central European Agriculture. 17(4): 1119-1133.
Markham, K. R. (1982). Techniques of flavonoid identification. Penerjemah:
Padmawinata, K. (1988). Cara Mengidentifikasi Flavonoid. Bandung:
Penerbit ITB. Halaman 1-3.
Molyneux, P. (2004). Original Article: The use of the stable free radical diphenylpicrylhydrazyl (DPPH) for estimating antioxidant activity.
Songklanakarin J. Sci. Technol. Vol. 26(2) : 211-219.
Rebaya, A., Belghith, S. I., Baghdikian, B., Leddet, V. M., Mabrouki, F., Olivier, E., Cherif, J. K., dan Ayadi, M. T. (2014). Total Phenolic, Total Flavonoid, Tannin Content, and Antioxidant Capacity of Halimium halimifolium (Cistaceae). Journal of Applied Pharmaceutical Science. Vol. 5(01): 052-057.
Rohman, A. (2007). Kimia Farmasi Analisis. Cetakan Pertama. Yogyakarta:
Pustaka Pelajar. Halaman 220; 252-256.
Sayuti, K. dan Yenrina, R. (2015). Antioksidan Alami dan Sintetik. Cetakan Pertama. Padang: Andalas University Press. Halaman 31-32; 37-38; 75-77.
Sihombing, D. R. (2014). Aktivitas Antimikroba Ekstrak Umbi Lokio (Allium schoenoprasum L.) Terhadap Bakteri Escherichia coli, Staphylococcus aureus, Shigella dysenteriae, dan Lactobacillus acidophilus. Tesis.
Medan: Fakultas Pertanian Universitas Sumatera Utara.
Sinaga, G. (2016). Uji Antioksidan Ekstrak Air Bawang Merah (ALLIUM CEPA L.), Bawang Putih (Allium sativum L.) dan Bawang Batak (Allium chinense L.) Dengan Metode Dpph. Skripsi. Medan: Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam Universitas Sumatera Utara.
Suryani, N. C., Permana, D. G. M., dan Anom Jambe, A. A. G. N. (2015).
Pengaruh Jenis Pelarut Terhadap Kandungan Total Flavonoid Dan Aktivitas Antioksidan Ekstrak Daun Matoa (Pometia pinnata). Program Studi Ilmu dan Teknologi Pangan. Bali: Fakultas Tekonologi Pertanian, Universitas Udayana. Halaman 1-10.
Stanojevic, L., Stankovic, M., Nikolic, V., Nikolic, L., Ristic, D., Brunet, J. C., dan Tumbas, V. (2009). Article: Antioxidant Activity and Total Phenolic and Flavonoid Contents of Hieracium pilosella L. Extracts. Sensors 9.
5702-5714.
Wardhany, S. (2018). Kelarutan Kalsium Batu Ginjal Pada Infus Daun Kucai (Allium schoenoprasum L.) Secara Spektrofotometri Serapan Atom.
Skripsi. Medan: Fakultas Farmasi Universitas Sumatera Utara.
WHO. (1998). Quality control methods for medicinal plant materials. World Health Organization Geneva. Halaman 33-35.
Lampiran 1. Surat Hasil Identifikasi Tumbuhan
Lampiran 2. Gambar alat
Gambar 1. Rotary Evaporator
Gambar 2. Panci Infusa
Lampiran 3. Tanaman Kucai
Gambar 3. Tanaman Kucai
Gambar 4. Daun Kucai
dicuci, ditiriskan , dan ditimbang sebagai berat basah
dikeringkan dalam lemari pengering
ditimbang berat kering dihaluskan
Lampiran 4. Bagan Alir Penyiapan Sampel dan Karakterisasi Simplisia
Daun Kucai
Simplisia
Serbuk simplisia
Karakteristik simplisia
Skrining fitokimia Infusa dan Ekstraksi - Penetapan kadar sari
larut air
- Penetapan kadar sari larut etanol
ditimbang 100 g simplisia
dimasukkan ke dalam panci infusa ditambahkan 750 ml akuades
dipanaskan di atas penangas air selama 15 menit dihitung setelah suhu mencapai 900C sambil sesekali diaduk
diserkai selagi panas
dicuci ampas dengan air panas hingga volume 1000 ml.
diuapkan filtrat diatas penangas air dengan suhu 60-700C hingga mengental
Lampiran 5. Bagan Alir Pembuatan Infusa Kental dan Ekstrak Kental Daun Kucai
a. Pembuatan Infusa Kental 10% Daun Kucai Serbuk Simplisia
Infusa Kental
ditimbang 200 g simplisia dimasukkan ke dalam botol kaca ditambahkan 1500 ml etanol 96% dan ditutup
dibiarkan selama 5 hari dan disimpan di tempat yang terlindung cahaya sambil sesekali diaduk
diserkai, ampas dicuci dengan etanol 96% secukupnya hingga diperoleh 2000 ml.
dipindahkan ke dalam bejana tertutup dan di biarkan ke tempat sejuk dan terlindung dari cahaya selama 2 hari dienap-tuangkan kemudian disaring dipekatkan menggunakan alat rotary evaporator pada suhu 700C
diuapkan maserat diatas penangas air dengan suhu 700C hingga mengental Lampiran 5. (lanjutan)
b. Pembuatan Ekstrak Kental Etanol 96% Daun Kucai
Serbuk Simplisia
Ekstrak Kental Etanol Daun Kucai
ditimbang 200 g simplisia dimasukkan ke dalam botol kaca ditambahkan 1500 ml etil asetat dan ditutup
dibiarkan selama 5 hari dan disimpan di tempat yang terlindung cahaya sambil sesekali diaduk
diserkai, ampas dicuci dengan pelarut etil asetat secukupnya hingga diperoleh 2000 ml.
dipindahkan ke dalam bejana tertutup dan di biarkan ke tempat sejuk dan terlindung dari cahaya selama 2 hari dienap-tuangkan kemudian disaring dipekatkan menggunakan alat rotary evaporator pada suhu 770C sampai diperoleh maserat pekat
diuapkan maserat diuapkan diatas penangas air dengan suhu 770C hingga mengental
Lampiran 5. (lanjutan)
c. Pembuatan Ekstrak Kental Etil asetat Daun Kucai Serbuk Simplisia
Ekstrak Kental Etil Asetat Daun Kucai
ditimbang 200 g simplisia dimasukkan ke dalam botol kaca ditambahkan 1500 ml n-heksan dan ditutup
dibiarkan selama 5 hari dan disimpan di tempat yang terlindung cahaya sambil sesekali diaduk
diserkai, ampas dicuci dengan n-heksan secukupnya hingga diperoleh 2000 ml.
dipindahkan ke dalam bejana tertutup dan di biarkan ke tempat sejuk dan terlindung dari cahaya selama 2 hari dienap-tuangkan kemudian disaring dipekatkan menggunakan alat rotary evaporator pada suhu 700C sampai diperoleh maserat pekat
diuapkan diatas penangas air dengan suhu 770C hingga mengental
Lampiran 5. (lanjutan)
d. Pembuatan Ekstrak Kental n-Heksan Daun Kucai Serbuk Simplisia
Ekstrak Kental n-heksan
diukur Lampiran 6. Bagan Alir Penetapan Kadar Total Fenol
Total Fenol
diinterpretasikan Lampiran 7. Bagan Alir Penetapan Kadar Total Flavonoid
Total Flavonoid dalam Infusa Kental Daun kucai
Absorbansi
dimasukkan ke dalam labu tentukur 50 ml dilarutkan dengan metanol
ditambahkan dengan metanol hingga garis tanda
dipipet 5 ml
dimasukkan ke dalam labu tentukur 25 ml dicukupkan dengan metanol hingga garis tanda
diukur pada panjang gelombang 400-800 nm
Lampiran 8. Bagan Alir Pengukuran Aktivitas Peredaman Radikal Bebas DPPH Penentuan Panjang Gelombang Maksimum DPPH
9,8 mg Serbuk DPPH DPPHDPPH
Larutan Blanko DPPH 0,5 mM (Konsentrasi 200 µg/ml)
Panjang Gelombang maksimum (516 nm)
Larutan DPPH (Konsentrasi 40 µg/ml)
ditimbang 25 mg
dilarutkan dalam metanol hingga 25 ml
dipipet sebanyak 0,5 ml;
1,5 ml; 2 ml dan 4 ml dengan λ maksimum 516 nm
dihitung persen peredaman dan persamaan regresi
ditimbang 25 mg
dilarutkan dalam metanol hingga 25 ml
dihitung persen peredaman dan persamaan regresi
dipipet sebanyak 0,5 ml;
1,5 ml; 2 ml dan 4 ml dengan λ maksimum 516 nm Lampiran 8. (lanjutan)
Infusa kental Daun Kucai
Larutan Uji (konsentrasi 1000 µg/ml)
Absorbansi
Nilai IC50
Ekstrak kental Daun Kucai
Larutan Uji (konsentrasi 1000 µg/ml)
Absorbansi
Nilai IC50
% Kadar air simplisia = volume air ml
berat sampel g x 100%
Lampiran 9. Perhitungan Pemeriksaan Karakterisasi Simplisia Daun Kucai 1. Penentuan Kadar Air
No Berat Sampel (g) Volume Awal (ml) Volume Akhir (ml)
2. Penentuan Kadar Abu Total
No Berat Sampel
% Kadar sari larut dalam air = berat sari g
berat sampel g 100%
Lampiran 9. (lanjutan)
3. Penentuan Kadar Abu Tidak Larut Asam
No Berat
4. Penentuan Kadar Sari Larut air
No Berat
Lampiran 9. (lanjutan)
5. Penentuan Kadar Sari larut etanol
No Berat Sampel (g)
Berat Cawan kosong (g)
Berat Cawan +Sari (g)
Berat Sari (g)
1. 5,0088 55,6711 55,9366 0,2655
2. 5,0061 60,8943 61,1609 0,2666
3. 5,0059 63,9175 64,1927 0,2752
1. Kadar sari larut etanol =
x
x 100% = 26,50%
2. Kadar sari larut etanol =
x
x 100% = 26,62%
3. Kadar sari larut etanol =
x
x 100% = 27,49%
% Rata- rata sari larut etanol =
3 = 26,87%
% Kadar sari larut dalam etanol = berat sari g berat sampel g
100%
Lampiran 10. Perhitungan Persamanan Regresi dari Kurva Serapan Asam Galat
125,00 0,1165 14,5625 15.625,0000 0,0135
250,00 0,2276 56,9000 62.500,0000 0,0518
500,00 0,4389 219,4500 250.000,0000 0,1926
ƩX = 968,75
ƩY=
0,8824
ƩXY= 296,1156 ƩX²=333.007,8125 ƩY²=0,2635 =
b = 0,1471 – (0,0009)(161,4583) b = 0,0066
Jadi, persamaan regresi adalah Y = 0,0009X + 0,0066 Koefisien korelasi (r),
Lampiran 11. Hasil Penetapan Kadar Total Fenol pada Infusa Kental dan Ekstrak Kental Daun Kucai
1. Kadar Total Fenol pada Infusa Kental 10% Daun Kucai
Berat
0,1026 106,7037 101,6226 0,1039
0,1011 105,0000 103,9604 0,1009
0,1038 107,9630 101,5819 0,1039
0,1041 0,1041 0,1033 0,1035 Keterangan : FP = Faktor Pengenceran
2. Kadar Total Fenol pada Ekstrak Kental Etanol 96% Daun Kucai Berat
0,1068 111,3703 107,0869 0,1071
0,1097 114,5370 109,0829 0,1093
0,1093 114,1296 106,6632 0,1098
0,1089 0,1097 0,1091 0,1092
Lampiran 11. (lanjutan)
3. Kadar Total Fenol Pada Ekstrak Kental Etil Asetat Daun Kucai
Berat
0,1009 104,7778 103,7404 0,1003
0,1027 106,8148 104,7204 0,1033
0,1048 109,1111 103,9153 0,1047
0,1051 0,1049 0,1051 0,1045
4. Kadar Total Fenol Pada Ekstrak Kental n-Heksan Daun Kucai
Berat
0,0972 100,7037 97,7706 0,0971
0,1012 105,1296 100,1235 0,1013
0,1008 0,1011 0,1017 0,1009
Kadar total fenol = konsentrasi Vol.sampel erat sampel g x FP
Lampiran 12. Contoh Perhitungan Kadar Total Fenol pada Infusa Kental Daun Kucai
Rumus perhitungan:
Absorbansi rata-rata = 0,1031
Berat sampel = 10,5 mg = 0,0105 g Volume Sampel = 10 ml = 0,01 L Persamaan regresi : Y = 0,0009X + 0,0066
X = 3 –
= 106,7037 µg/ml Kadar Total Fenol = 3 .
. x 1
Kadar Total Fenol = 101,6226 mg GAE/g ekstrak
Lampiran 13. Perhitungan Persamanan Regresi dari Kurva Serapan Kuersetin Kurva serapan kuersetin
X Y XY X2 Y2
0 0 0 0 0
6,0 0,2312 1,3872 36,00 0,0535
10,0 0,3712 3,7120 100,00 0,1378
14,5 0,5599 8,1186 210,25 0,3135
19,0 0,7079 13,4501 361,00 0,5011
23,5 0,8803 20,6871 552,25 0,7749
ƩX = 73 ƩY=
2,7505
ƩXY= 47,3550 ƩX²=1.259,50 ƩY²=1,7809 = 12,1667
0,4584
a = - n Ʃ - Ʃ n
a = 3 - 3
. - 3 = 3
3 3333
a = 0,0374 b =
b = 0,4584 – (0,0374)(12,1667) b = 0,0033
Jadi, persamaan regresi adalah Y = 0,0374X + 0,0033 Koefisien korelasi (r),
r2 = Ʃ - Ʃ Ʃ n Ʃ - Ʃ n Ʃ - Ʃ n
r2= 3 - 3
. - 3 –
= 0,9996 r = 0,9998
Lampiran 14. Hasil Penetapan Kadar Total Flavonoid pada Infusa Kental dan Ekstrak Kental Daun Kucai
1. Kadar Total Flavonoid pada Infusa Kental 10% Daun Kucai
Berat
2. Kadar Total Flavonoid pada Ekstrak Kental Etanol 96% Daun Kucai
Berat
Lampiran 14. (lanjutan)
3. Kadar Total Flavonoid pada Ekstrak Kental Etil Asetat Daun Kucai
Berat
4. Kadar Total Flavonoid pada Ekstrak Kental n-Heksan Daun Kucai
Berat
Kadar total flavonoid = konsentrasi Vol.sampel
erat sampel g x FP
Lampiran 15. Contoh Perhitungan Kadar Total Flavonoid pada Infusa Kental Daun Kucai
Rumus perhitungan:
Absorbansi rata-rata = 0,0366
Berat sampel = 25,3 mg = 0,0253 g Faktor Pengenceran = 1,667
Volume Sampel = 50 ml = 0,05 L Persamaan regresi : Y = 0,0374X + 0,0033
X = 3 – 33
3 = 0,8890 µg/ml Kadar Total Flavonoid = g ml
3 g x 1,667 Kadar Total Flavonoid = 2,9289 mg QE/g ekstrak
Lampiran 16. Contoh Perhitungan Persen Peredaman DPPH Rumus perhitungan :
Aktivitas Peredaman (%) = bs. kontrol – bs. sampel
bs. Kontrol
Keterangan: Abs. kontrol = Absorbansi tidak mengandung sampel Abs. sampel = Absorbansi sampel
Absorbansi pada larutan Infusa Simplisia Daun Kucai Konsentrasi 50 µg/ml:
Absorbansi Kontrol (konsentrasi 0 µg/ml) = 1,0128 Absorbansi sampel (konsentrasi 50 µg/ml ) = 0,8678 Aktivitas Peredaman (%) = –
= 14,32%
Lampiran 17. Contoh Perhitungan IC50
Perhitungan IC50 dari larutan Infusa Kental 10% Daun Kucai
X Y XY X2 Y2
0 0 0 0 0
50 14,3167 715,8373 2.500 204,9692
100 31,1216 3.112,1643 10.000 968,5567
200 47,3736 9.474,7235 40.000 2244,2597
400 52,0537 20.821,4850 160.000 2709,5890
ƩX = 750 ƩY=
144,8657 ƩXY=
34.124,2101 ƩX²=212.500 ƩY²=6127,3745 = 150
Jadi, persamaan regresi adalah Y = 0,1240X 10,3817 Koefisien Korelasi (r),
Jadi, persamaan regresi untuk mendapatkan nilai IC50 adalah Y = 0,1240X + 10,3817
Nilai IC50 = > 50 = 0,1240X + 10,3817 X = 319,6487 µg/ml