1983 1993 1983 1993 1983 1993 1983 1993 Bimas/Inmas
1. Sapi Potong < 601 601-1200 1201-1800 > 1800 Jumlah
3.5. Hasil Analisis Prosfektif Partisipatif (PPA)
Berdasarkan metode PPA, beberapa tahap yang telah dilakukan adalah : (a) menetapkan batasan sistem yang akan dicapai, adalah suatu ungkapan verbal yang meliputi dimensi ruang dan waktu (spatial dimension and timeframe), untuk kegiatan analisis sensus pertanian maka ditetapkan sistem Apa yang mungkin terjadi pada perekonomian Pedesaan Indonesia Tahun 2020? Dengan definisi Perekonomian Pedesaan adalah segala usaha atau aktivitas pemanfaatan sumberdaya dalam upaya perolehan pendapatan masyarakat pedesaan pada tahun 2020. (b) mengidentifikasi variabel, memilih dan menetapkan variabel yang sekiranya terkait dengan sistem tersebut di atas, dari hasil partisipasi beberapa stakeholders, maka setelah dieliminir variabel yang duplikasi diperoleh sejumlah 31 variable yang sekiranya akan terkait dengan sistem yang telah ditetapkan tersebut, (c) menganalisis pengaruh timbal-balik dari seluruh variabel, dengan metode partisipasi maka masing-masing veriabel diberikan penilaian bobot pengaruh langsung terhadap variabel lain yang bobotnya berkisar antara 0-3, dimana 0=tidak berpengaruh, 1=berpengaruh rendah, 2=berpengarus sedang dan 3=sangat berpengaruh, (d) melakukan interpretasi hubungan pengaruh dan ketergantungan sehingga diperoleh variabel yang memberikan pengaruh kuat, variabel yang ketergantungan kuat, semua ini diperoleh setelah melakukan sorting nilai-nilai variable, (e) menetapkan variable kunci dan (f) membangun skenario, dari kombinasi variabel kunci.
Secara rinci jumlah variabel adalah sebanyak 31 variabel dan nilai pengaruh langsung dari masing-masing variabel tertera pada Tabel 3.5.1. Variabel tersebut merupakan hasil proses eliminasi secara partisipatif dari para stakeholders yang mengajukan variabel dikoreksi oleh definisi variabel yang sebelumnya sudah disepakati. Setelah variabel tersebut diperoleh, maka dilanjutkan dengan pemberian nilai pengaruh langsung dari masing-masing variabel secara partisipatif juga untuk menyepakati berapa nilai pengaruh langsungnya 0, 1, 2 atau 3. Nilai 0 pada baris menunjukkan variabel tersebut (pada posisi baris) tidak berpengaruh langsung sama sekali terhadap variabel yang di depannya (kolomnya). Nilai 1 pada baris menunjukkan variabel tersebut (pada posisi baris) berpengaruh langsung rendah terhadap variabel yang di depannya (kolomnya). Nilai 2 pada baris menunjukkan variabel tersebut (pada posisi baris) berpengaruh langsung sedang terhadap variabel yang di depannya (kolomnya). Nilai 3 pada baris menunjukkan variabel tersebut (pada posisi baris) berpengaruh langsung kuat terhadap variabel yang di depannya (kolomnya).
Setelah terpenuhi semua kolom dan baris,maka dari 31 variabel tersebut di tentukan urutan variabel yang memiliki penguruh global dari yang terkuat sampai terendah dan menentukan variabel yang memiliki ketergantungan global terkuat sampai terendah. Variabel yang memiliki urutan pengaruh kuat dan urutan ketergantungan kuat tertera pada Tabel 3.5.2. Dari tabel dapat dijelaskan bahwa 10 variabel urutan tertinggi yang memiliki pengaruh langsung global adalah : kebijakan, bencana alam, investasi, kelembagaan, infrastruktur, penerapan teknologi, air, agroindustri, aturan WTO dan pencemaran. Sementara 10 variabel teratas yang memiliki ketergantungan global adalah : Penerapan teknologi, investasi, pendapatan, kesempatan kerja, produktivitas tenaga kerja, agroindustri, harga komoditas, luas lahan, pasar, dan produktivitas modal.
Selain itu, sebelum menentukan variabel kunci ditetapkan variabel yang memiliki kekuatan global dengan menggunakan rumus tertentu (telah diuraikan dalam metodologi) dan kekuatan global terbobot, hasilnya adalah tertera pada Tabel 3.5.3 Dari tabel tersebut, semakin mengkristal bahwa ada beberapa variabel yang memiliki pengaruh global dan ketergantungan global muncul lagi pada kekuatan global, seperti : bencana alam, kebijakan, aturan WTO, infrastruktur, kelembagaan, Air, Pencemaran dan Investasi
Tabel 3.5.1. Variabel dan pengaruh langsung antar variabel No Dari - Terhadap 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 26 27 28 29 30 31 1 Status Garap 0 0 3 0 0 0 0 2 0 0 0 0 0 0 0 0 0 2 0 0 0 0 0 2 0 0 0 0 0 0 2 Luas Lahan 1 0 2 0 0 0 0 3 0 0 0 0 3 0 0 0 0 3 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 3 Kualitas Lahan 0 0 3 0 0 0 0 0 0 0 2 0 0 3 3 0 0 3 0 0 0 0 0 0 0 2 0 0 0 0 4 Penerapan Teknologi 0 0 0 0 0 0 2 0 0 0 3 2 3 3 3 0 1 2 0 2 0 0 0 3 0 0 0 0 1 0 5 Ketersed. Teknologi 0 0 0 3 0 0 0 0 0 0 2 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 1 1 0 0 0 0 6 Komposisi Umur 0 0 0 2 0 0 3 0 0 3 0 0 0 0 3 0 0 2 0 0 0 0 0 0 0 0 3 0 0 0 7 Pendidikan 0 0 0 2 1 0 3 1 1 2 0 0 2 0 3 0 0 1 0 0 0 0 0 0 0 0 2 0 0 0 8 Ketrampilan 0 0 0 3 0 0 0 1 2 2 1 0 3 0 3 0 0 2 0 0 0 0 0 0 1 0 0 0 0 0 9 Akses Modal 0 0 0 3 0 0 0 0 0 0 3 0 0 2 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 1 0 0 0 0 0 10 Upah Kerja 0 0 0 2 0 0 0 0 0 3 1 0 3 0 2 0 0 3 0 0 1 0 0 0 1 0 0 0 0 0 11 Ketersed. TK 0 2 0 1 0 0 0 0 0 3 2 0 3 0 2 0 0 0 0 0 0 0 0 0 2 0 0 0 0 0 12 Investasi 0 2 0 2 1 0 0 0 1 2 0 3 3 2 0 0 0 2 3 0 0 0 2 2 3 0 0 0 0 2 13 Air 0 2 3 3 0 0 0 0 0 0 0 2 2 2 2 0 1 0 0 0 0 0 2 2 2 0 0 0 1 0 14 Kesempatan Kerja 0 0 0 0 0 0 0 1 0 3 0 0 0 0 1 0 0 2 0 0 0 0 0 2 0 0 0 0 0 0 15 Produktivitas Modal 0 0 0 0 0 0 0 0 2 0 0 2 0 0 0 0 0 2 0 0 0 0 0 2 2 0 0 0 0 0 16 Produktivitas TK 0 2 0 0 0 0 0 0 0 3 0 2 0 0 0 0 0 3 0 0 0 0 0 0 1 0 0 0 0 0 17 Bencana Alam 0 3 3 2 0 0 0 0 0 0 1 2 3 3 1 1 1 3 3 3 0 2 3 1 0 3 3 0 2 3 18 Pencemaran 0 2 3 2 0 0 0 0 0 0 0 3 2 1 0 0 0 0 0 2 0 0 0 0 2 1 0 0 1 0 19 Pendapatan 1 2 0 2 0 0 3 0 2 0 0 2 0 0 0 0 0 0 0 0 3 0 0 0 0 0 0 0 0 0 20 Infrastruktur 0 2 0 2 0 0 1 0 1 0 0 2 3 1 1 1 0 0 0 3 0 2 2 1 2 0 0 0 0 3 21 Harga Komoditas 0 0 0 2 0 0 0 0 0 1 0 1 0 0 2 2 0 0 3 0 0 0 0 0 2 1 0 0 0 3 22 Tabungan 0 0 0 0 0 0 1 0 2 0 0 2 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 23 Harg Saprodi 0 1 0 2 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 2 2 0 0 2 0 3 0 0 0 0 2 0 1 2 0 24 Energi 0 0 0 2 0 0 1 0 0 0 1 1 1 2 0 2 0 0 0 0 0 0 0 0 3 0 0 0 0 1 25 Kelembagaan 2 0 0 2 2 0 0 1 2 2 1 2 2 1 0 0 0 0 0 1 1 2 1 1 1 1 1 0 0 2 26 Agroindustri 0 0 0 2 0 0 0 0 1 1 0 3 0 3 2 2 0 2 2 0 2 0 0 1 1 1 0 0 0 1 27 Kebijakan 2 2 0 2 2 0 2 0 2 2 0 3 3 3 0 0 1 1 0 3 3 0 3 2 2 2 3 3 1 3 28 Demografi 0 3 0 0 0 3 1 0 0 0 3 0 0 0 0 1 0 2 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 29 Aturan WTO 0 0 0 1 1 0 0 0 0 0 0 2 0 2 0 0 0 0 1 1 3 0 1 0 1 2 3 0 0 3 30 Kendala Biotik 0 0 1 2 0 0 0 0 0 0 0 1 0 0 1 0 1 0 1 0 1 0 1 0 0 0 1 0 0 1 31 Pasar 0 0 0 1 0 0 0 0 0 0 0 2 0 0 0 0 0 0 2 0 3 0 1 0 1 2 2 0 0 0 Global dependence 6 23 10 53 7 3 9 10 20 20 16 46 19 38 21 33 2 8 41 11 26 6 11 13 20 30 18 12 4 8 22
Tabel 3.5.2. Jumlah variabel dan nilai pengaruh serta ketergantungan global
No Pengaruh Global Nilai No Ketergantungan Global Nilai
1 Kebijakan 50 1 Penerapan Teknologi 53
2 Bencana Alam 46 2 Investasi 46
3 Investasi 30 3 Pendapatan 41
4 Kelembagaan 28 4 Kesempatan Kerja 38
5 Infrastruktur 27 5 Produktivitas TK 33
6 Penerapan Teknologi 25 6 Agroindustri 30
7 Air 24 7 Harga Komoditas 26
8 Agroindustri 24 8 Luas Lahan 23
9 Aturan WTO 21 9 Pasar 22
10 Pencemaran 19 10 Produktivitas Modal 21
11 Pendidikan 18 11 Akses Modal 20
12 Ketrampilan 18 12 Upah Kerja 20
13 Harga Komoditas 17 13 Kelembagaan 20
14 Harg Saprodi 17 14 Air 19
15 Kualitas Lahan 16 15 Kebijakan 18
16 Komposisi Umur 16 16 Ketersed. TK 16
17 Upah Kerja 16 17 Energi 13
18 Ketersed. TK 15 18 Demografi 12
19 Pendapatan 15 19 Infrastruktur 11
20 Energi 14 20 Harg Saprodi 11
21 Pasar 14 21 Kualitas Lahan 10
22 Demografi 13 22 Ketrampilan 10
23 Luas Lahan 12 23 Pendidikan 9
24 Produktivitas TK 11 24 Pencemaran 8
25 Kendala Biotik 11 25 Kendala Biotik 8
26 Produktivitas Modal 10 26 Ketersed. Teknologi 7
27 Status Garap 9 27 Status Garap 6
28 Akses Modal 9 28 Tabungan 6
29 Kesempatan Kerja 9 29 Aturan WTO 4
30 Ketersed. Teknologi 7 30 Komposisi Umur 3
31 Tabungan 5 31 Bencana Alam 2
Jumlah 566 Jumlah 566
Sumber : Hasil pengolahan PPA.
Sebelum ditetapkan variabel kunci yang akan dijadikan sebagai basis untuk menetapkan skenario, maka dianalisis masing-masing variabel yang sudah keluar pada variabel yang memiliki pengaruh dan ketergantungan global serta juga memiliki kekuatan global. Jika dari variabel-variabel tersebut ditemukan variabel yang tidak mungkin dapat dikelola (sebagai exogenous variable) dan hanya memiliki fungsi mempengaruhi ke dalam sistem, maka variabel tersebut dieliminir lagi secara partirsipatif. Setelah mengeliminir variabel tersebut, maka secara partisipatif juga menentukan keadaan-keadaan masing-masing variabel yang secara teknik dapat dilaksanakan (workable) untuk dijadikan sebagai pilihan dalam menentukan skenario untuk mencapai kondisi sitem yang kondusif sesuai dengan harapan yang telah disepakati semula. Dalam penetapatan keadaan variabel tersebut pemilihan terakhir adalah keadaan dalam satu variabel yang tidak terkait atau kontras (mutual exclusive).
Tabel 3.5.3. Variabel kekuatan global dan kekuatan terbobot
No Kekuatan Global Nilai No Kekuatan Global Terbobot Nilai
1 Bencana Alam 0.077886 1 Bencana Alam 4.201963
2 Kebijakan 0.064955 2 Kebijakan 3.504361
3 Infrastruktur 0.033894 3 Infrastruktur 1.828613
4 Aturan WTO 0.031166 4 Aturan WTO 1.681421
5 Kelembagaan 0.028857 5 Kelembagaan 1.556871
6 Komposisi Umur 0.023805 6 Komposisi Umur 1.284293
7 Air 0.023667 7 Air 1.276826 8 Pencemaran 0.023623 8 Pencemaran 1.274445 9 Pendidikan 0.021201 9 Pendidikan 1.143823 10 Investasi 0.020922 10 Investasi 1.128773 11 Ketrampilan 0.020444 11 Ketrampilan 1.102973 12 Agroindustri 0.018846 12 Agroindustri 1.016732
13 Harg Saprodi 0.018236 13 Harg Saprodi 0.983824
14 Kualitas Lahan 0.017396 14 Kualitas Lahan 0.938522 15 Penerapan Teknologi 0.014157 15 Penerapan Teknologi 0.763771
16 Energi 0.012826 16 Energi 0.691943
17 Ketersed. TK 0.012823 17 Ketersed. TK 0.691829
18 Upah Kerja 0.012564 18 Upah Kerja 0.677821
19 Demografi 0.011943 19 Demografi 0.644354
20 Harga Komoditas 0.011874 20 Harga Komoditas 0.64063 21 Kendala Biotik 0.011252 21 Kendala Biotik 0.607029
22 Pasar 0.009619 22 Pasar 0.518957
23 Status Garap 0.009541 23 Status Garap 0.514721
24 Luas Lahan 0.007269 24 Luas Lahan 0.392168
25 Pendapatan 0.007099 25 Pendapatan 0.382977
26 Ketersed. Teknologi 0.006184 26 Ketersed. Teknologi 0.333615 27 Produktivitas Modal 0.005699 27 Produktivitas Modal 0.307479
28 Akses Modal 0.004935 28 Akses Modal 0.266235
29 Produktivitas TK 0.004859 29 Produktivitas TK 0.262126
30 Tabungan 0.004015 30 Tabungan 0.216633
31 Kesempatan Kerja 0.003045 31 Kesempatan Kerja 0.164273
Jumlah 0.574602 Jumlah 31
Sumber : Hasil pengolahan PPA.
Secara rinci hasil akhir variabel kunci, setelah melakukan tapahan penghitungan dan tahapan diskusi secara partisipatif, maka variabel kunci terpilih adalah sejumlah 7 variabel yang dapat dijadikan sebagai basis alternatif penentuan skenario aktivitas dalam rangka mencapai keadaan yang diharapkan pada kondisi Perekonomian Pedesaan Indonesia Tahun 2020, variabel dan keadaan tersebut tertera pada Tabel 3.5.4. Dari tabel tersebut dapat diuraikan bahwa variabel, defisini variabel dan keadaan aksi mutual exclusive yang dapat dilaksanakan dalam menyusun skenario adalah sebagai berikut :
Tabel 3.5 4. Variabel kunci dan keadaan alternatif variabel sebagai bahan penyusunan skenario
A B C D
1 Kebijakan
Pemerintah melindungi usaha tani dari pengaruh liberalisasi .
Pemerintah menciptakan iklim yang kondusif melalui
pembangunan infrastruktur agar terciptanya efisiensi di tingkat usaha tani
Pemerintah membebaskan swasta untuk melakukan investasi di semua sektor
Pemerintah tidak mempuyai visi yang konsisten untuk jangka panjang tentang tata cara pengaturan perekonomian pedesaan
2 Investasi
Investasi tersedia secara cukup, bersumber dari masyarakat setempat dengan pengelolaannya oleh LSM (investasi di pedesaan mandiri)
Tersedia investasi swasta untuk meningkatkan produksi pangan di wilayah sentra produksi
Tersedia investasi pemerintah untuk meningkatkan kualitas SDM pedesaan melalui pendidikan dan ketrampilan
Investasi di pedesaan, baik sumber pemerintah maupun swasta kurang memadai karena lebih banyak dialokasikan ke wilayah perkotaan dan peri-urban
3 Aturan WTO
Semua negara di dunia meratifikasi aturan WTO sehingga membuat pasar produk pertanian terintegrasi sehingga tidak ada batas negara
Negara berkembang bersatu melawan negara maju sehingga negara berkemang dapat meningkatkan efisiensi pertanian dan pembangunan pedesaan
Aturan WTO di suspend sehingga tiap negara berjalan sendiri-sendiri dengan aturan main sendiri dan beberapa komoditas dikuasai oleh beberapa negara pemain utama dunia
4 Penerapan Teknologi
Penerapan teknologi pertanian dilakukan dengan baik, tepat guna, dan sesuai dengan permintaan pasar (appropriate technology adoption)
Penerapan teknologi pertanian sulit dilakukan karena tidak sesuai dengan kondisi fisik lahan dan sosial-ekonomi petani
5 Infrastruktur
Kondisi infrastruktur memadai dan dapat mendukung kegiatan ekonomi di pedesaan secara merata
Di Indonesia Bagian Tengah tahun 2020, di sebagian pedesaan yang laju pembangunannya cepat kondisi infrastrukturnya baik, sementara di pedesaaan yang laju
pembangunannya lambat kondisi infrastrukturnya tidak memadai.
Di Indonesai Bagian Timur tahun 2020, pembangunan
infrastruktur di pedesaan kurang memadai sehingga tidak mendukung aktivitas perekonomian di pedesaan
6 Air
Kuantitas dan kualitas air untuk pertanian dan non pertanan sesuai kebutuhan karena masyarakat mampu melestarikan SDA dengan teknologi yang ada (termasuk tersedianya teknologi pengolahan air tercemar/limbah cair)
Akses terhadap air untuk pertanian dan non pertanian sulit karena SDA tercemar dan semakin ketatnya persaingan penggunaan air antar sektor
7 Kualitas Lahan
Kualitas lahan menurun akibat intensitas penanaman yan tinggi
Peningkatan kualitas lahan karena penggunaan prinsip konservasi dan pemupukan organik
Kualitas lahan meningkat dan menurun antar waktu karena adanya pengaruh harga komoditas yang merubah komoditas yang diusahakan
Kualitas lahan menurun di daerah sentra produksi tanaman pangan karena adanya tuntutan untuk mencapai swasembada pangan
No Variabel Kunci
IV. KESIMPULAN DAN IMPLIKASI