1983 1993 1983 1993 1983 1993 1983 1993 Bimas/Inmas
1. Padi Sawah < 21 21-40 41-60 > 60 Jumlah
Indonesia 10.33 18.88 29.6 41.2 100
Sumatera Utara 4.48 16.49 19.18 59.86 100 Nusa Tenggara Barat 4.09 51.16 16.51 28.24 100 Kalimantan Selatan 26.72 31.71 16.51 25.06 100 Sulawesi Selatan 3.37 17.86 24.99 53.78 100 2. Padi Ladang < 6 6-10 11-15 > 15 Jumlah
Indonesia 14.36 19.69 21.72 44.23 100
Sumatera Barat 22.18 12.27 18.49 47.06 100
Nusa Tenggara Barat 100 0 0 0 0
Kalimantan Selatan 59.15 3.66 34.15 3.05 100 Sulawesi Selatan 94.74 5.26 0 0 100 Sumber : Survei Rumah Tangga Usaha Padi (SPD 04-S)
Untuk penggunaan pupuk, rataan penggunaan menurut jenis pupuk disajikan pada Tabel 3.4.12. Untuk pupuk Urea secara nasional rataan penggunaannya pada padi sawah sekitar 222 Kg/ha dan 131 Kg/ha untuk padi ladang. Untuk pupuk KCL, penggunaannya sekitar 78 Kg/ha untuk padi sawah dan sekitar 63 Kg/ha pada padi ladang, sedangkan
pada padi ladang. Sementara itu, rataan penggunaan masing-masing jenis pupuk di empat provinsi penelitian bervariasi antar wilayah dan antarr jenis pupuk.
Tabel 3.4.12. Luas Tanam dan Rata-rata Penggunaan Pupuk Padi Sawah dan Padi Ladang menurut Jenis dan Wilayah, 2003
Rata-rata Penggunaan (Kg/Ha) Komoditas/Wilayah Luas Tanam (Ha) Urea KCL TSP/SP36 1. Padi Sawah Indonesia 10,328,877 221.78 78.34 121.65 Sumatera Barat 443,784 130.77 48.5 99.59 Nusa Tenggara Barat 169,470 243.6 45.24 126.74 Kalimantan Selatan 400,467 103.07 33.25 64.41 Sulawesi Selatan 735,598 184.59 77.19 80.05
2. Padi Ladang
Indonesia 1,132,066 131.24 63.22 80.85
Sumatera Barat 9,449 90.48 26.78 69.38 Nusa Tenggara Barat 47,057 136.38 5.45 49.76 Kalimantan Selatan 47,875 66.64 22.25 39.9 Sulawesi Selatan 4,315 106.9 67.24 58.62 Sumber : Survei Rumah Tangga Usaha Padi (SPD 04-S)
Untuk komoditas jagung dan kedelai, dinamika adopsi teknologi penggunaan pupuk menurut jenis dapat disimak pada Tabel 3.4.13. Seperti halnya pada komoditas padi, adopsi teknologi penggunaan pupuk Urea pada tanaman jagung dan kedelai partisipasinya juga relatif tinggi dibanding partisipasi penggunaan pupuk jenis yang lain. Pola dinamika yang ada relatif serupa dengan adopsi penggunaan pupuk pada tanman padi, dalam hal ini adopsi penggunaan pupuk Urea cenderung menurun pada periode 1983 -1993 diikuti oleh meningkatnya partisipasi adopsi penggunaan pupuk TSP/DAP dan jenis pupuk lainnya pada selang waktu yang sama.
Tabel 3.4.13. Tingkat adopsi pemupukan usahatani jagung dan kedelai di Indonesia, 1983 dan 1993 *)
Urea (%) TSP/DAP (%) Lainnya (%) Jumlah (kg/ha) Wilayah/komoditas 1983 1993 1983 1993 1983 1993 1983 1993 Jagung 1. Jawa 89,8 80,6 10,1 17,6 0,1 1,8 150,73 178,21 2. Luar Jawa 65,3 56,8 29.3 35,9 5,4 7,3 28,60 96.14 3. Indonesia 87,8 69,1 11,7 21,3 0,5 9,6 111,28 153.56 Kedelai 4. Jawa 5. Luar Jawa 6. Indonesia 56,5 40,5 55,0 53,2 44,8 50,8 41,2 45,7 41,5 42,9 43,7 43,1 2,3 13,8 3,0 3,9 11,5 6,1 85,35 18,08 69,38 144,36 63,89 106,10 Sumber : Struktur Ongkos Usahatani Padi dan Palawija, 1983-1993. Biro Pusat Statistik
*) Rusastra, et al. 1998
Untuk tahun 2003, partisipasi rumah tangga dalam penggunaan pupuk Urea tingkat partisipasinya bervariasi menurut tingkat penggunaan maupun wilayah. Secara nasional,
yaitu 46 persen, diikuti oleh penggunaan antara 66-130 Kg/Ha sekitar 27 persen rumahtangga. Selanjutnya penggunaan benih antara 131-195 Kg/Ha dan lebih besar dari 195 kg/Ha masing-masing partisipasi rumah tangganya mencapai 18 persen dan sembilan persen (Tabel 4.5.14).
Tabel 3.4.14. Partisipasi rumah tangga dalam penggunaan pupuk Urea pada Jagung dan Kedelai menurut tingkat penggunaan dan wilayah, 2003 (persen)
Komoditas/Wilayah Rata-rata Penggunaan Pupuk Urea (Kg/Ha) 1. Jagung < 66 66-130 131-195 > 195 Jumlah Indonesia 45.96 26.74 18.1 9.2 100 Sumatera Barat 77.73 18.07 3.36 0.84 100 Nusa Tenggara Barat 60.79 17.37 12.89 8.95 100 Kalimantan Selatan 65.99 21.09 9.52 3.4 100 Sulawesi Selatan 46.3 27.06 14.21 12.43 100
2. Kedelai < 31 31-60 61-90 > 90 Jumlah
Indonesia 70.15 20.08 6.55 3.22 100
Sumatera Barat 0 0 0 0 0
Nusa Tenggara Barat 81.17 12.56 5.83 0.45 100
Kalimantan Selatan 100 0 0 0 100
Sulawesi Selatan 28.46 42.31 23.85 5.38 100 Sumber : Survei Rumah Tangga Usaha Padi (SPW 04-S)
Pada tanaman kedelai, secara nasional penggunaan pupuk Urea dominan pada tingkat penggunaan kurang dari 31 persen dengan tingkat partisipasi rumah tangga sekitar 70 persen. Penggunaan pupuk Urea pada tanaman kedelai bervariasi antar wilayah, namun di dua provinsi penelitian yaitu Provinsi Nusa Tenggara Barat dan Kalimantan Selatan memiliki pola serupa dengan rataan di tingkat nasional (Tabel 4.5.14).
Tabel 3.4.15. Partisipasi rumah tangga dalam penggunaan pupuk TSP/SP36 pada Jagung dan Kedelai menurut tingkat penggunaan dan wilayah, 2003 (persen) Komoditas/Wilayah Rata-rata Penggunaan Pupuk TSP/SP36(Kg/Ha)
1. Jagung < 16 16-30 31-45 > 45 Jumlah
Indonesia 63.29 34.27 1.81 0.63 100 Sumatera Barat 54.55 43.43 1.52 0.51 100 Nusa Tenggara Barat 95.91 4.09 0 0 100 Kalimantan Selatan 59.4 30.08 9.02 1.5 100 Sulawesi Selatan 87.98 10.74 1.13 0.15 100 2. Kedelai < 21 21-40 41-60 > 60 Jumlah Indonesia 52.33 35.07 2.38 0.21 100
Sumatera Barat 0 0 0 0 0
Nusa Tenggara Barat 94.74 4.21 0 1.05 100
Kalimantan Selatan 100 0 0 0 100
Sulawesi Selatan 41.38 58.62 0 0 100 Sumber : Survei Rumah Tangga Usaha Padi (SPW 04-S)
Partisipasi rumah tangga pada penggunaan pupuk TSP/SP36 pada usahatani jagung juga menunjukkan variasi antar wilayah. Namun demikian secara umum pola nasional maupun di empat provinsi penelitian terdapat kesamaan. Dalam hal ini partisipasi dominan berada pada tingkat penggunaan kurang dari 16 Kg/Ha dengan besaran tingkat partisipasi
Seperti halnya penggunaan pupuk Urea, penggunaan pupuk TSP/SP36 pada tanaman kedelai bervariasi menurut wilayah. Secara nasional partisipasi petani mengelompok pada penggunaan pupuk TSP/SP36 kurang dari 21 Kg/Ha dan antara 21-40 Kg/Ha masing-masing dengan tingkat partisipasi rumah tangga sekitar 52 dan 35 persen. Di Provinsi Kalimantan Selatan bahkan 100 persen petani kedelai menggunakan pupuk TSP/SP36 kurang dari 21 Kg/Ha (Tabel 3.4.15.).
Tingkat partisipasi penggunaan pupuk KCL bervariasi antar wilayah dan di empat provinsi penelitian tidak terdapat pola yang searah dengan pola yang terjadi di tingkat nasional. Rataan nasional menunjukkan bahwa partisipasi rumah tangga paling dominan pada penggunaan pupuk KCL lebih dari 15 Kg/Ha dengan tingkat partisipasi hampir 47 persen, diikuti dengan penggunaan antara 11-15 Kg/Ha sekitar 27 persen dan penggunaan antara 6-10 dan kurang dari enam kilogram/Ha masing-masing sebesar 18 dan delapan persen. Penggunaan pupuk KCL di Provinsi Sumatera Barat cukup beragam yang ditunjukkan oleh tingkat partisipasi sekitar 20 – 29 persen untuk keempat kategori tingkat penggunaan pupuk KCL pada usahatani jagung di wilayah tersebut. Pola hampir serupa terjadi di Provinsi Kalimantan Selatan, namun untuk Provinsi Nusa Tenggara Barat petani dominan menggunakan KCL antara 6-10 Kg/Ha dengan tingkat partisipasi hampir 85 persen. Sementara itu di Provinsi Sulawesi Selatan petani dominan menggunakan pupuk KCl antara 11-15 Kg/Ha dengan tingkat partisipasi sekitar 60 persen (Tabel 3.4.16).
Tabel 3.4.16. Partisipasi rumah tangga dalam penggunaan pupuk KCL pada Jagung dan Kedelai menurut tingkat penggunaan dan wilayah, 2003 (persen
Wilayah Rata-rata Penggunaan Pupuk KCL(Kg/Ha)
1. Jagung < 6 6-10 11-15 > 15 Jumlah
Indonesia 8.24 18.26 26.88 46.62 100 Sumatera Barat 27.11 28.94 24.18 19.78 100
Nusa Tenggara Barat 0 84.55 0 15.45 100
Kalimantan Selatan 23.7 27.01 32.23 17.06 100 Sulawesi Selatan 3.76 15.68 60.31 20.25 100
2. Kedelai < 5 5-8 9-12 > 12 Jumlah
Indonesia 16.26 22.57 17.49 43.68 100
Sumatera Barat 0 0 0 0 0
Nusa Tenggara Barat 51.62 32.63 0.32 15.42 100
Kalimantan Selatan 100 0 0 0 100
Sulawesi Selatan 2.99 20.36 29.34 47.31 100 Sumber : Survei Rumah Tangga Usaha Padi (SPW 04-S)
Pola yang berbeda ditemukan pada penggunaan pupuk KCL pada tanaman kedelai, dalam hal ini rataan di tingkat nasional partisipasi dominan pada penggunaan pupuk lebih dari 12 Kg/Ha dengan tingkat partisipasi sekitar 44 persen. Namun di Provinsi Nusa Tenggara Barat dan Kalimantan Selatan dominan pada penggunaan KCL kurang dari lima kilogram/hektar dengan tingkat partisipasi masing-masing sekitar 52 dan 100 persen (Tabel 3.4.16).
Tabel 3.4.17 menunjukkan luas tanam jagung dan kedelai serta rata-rata penggunaan pupuk menurut jenis dan wilayah. Terlihat bahwa luas tanam jagung menurut penggunaan pupuk luasannya tidak berbeda dengan luas tanam menurut penggunaan benih baik secara rataan nasional maupun di empat provinsi penelitian. Hal ini dapat diartikan bahwa petani jagung tidak ada yang tidak melakukan pemupukan pada usahataninya. Namun demikian rata-rata penggunaan pupuk tersebut bervariasi menurut jenis maupun wilayah.
Tabel 3.4.17. Luas tanam dan rata-rata penggunaan pupuk Jagung dan Kedelai menurut jenis dan wilayah, 2003
Rata-rata Penggunaan Pupuk (Kg/Ha) Wilayah /komoditas
Luas Tanam (Ha)
Urea KCl TSP/SP36
1. Jagung
Indonesia 3,650,969 149.63 61.76 38.51 Sumatera Barat 40,338 79.94 26.70 30.61 Nusa Tenggara Barat 41,404 115.57 38.40 8.23 Kalimantan Selatan 18,677 59.47 34.15 33.37 Sulawesi Selatan 216,445 148.53 49.48 14.00
2. Kedelai
Indonesia 596,475 57.30 53.15 28.74
Sumatera Barat 1,304 0.00 0.00 0.00
Nusa Tenggara Barat 85,813 19.30 30.14 3.32 Kalimantan Selatan 4,424 17.39 8.70 13.04 Sulawesi Selatan 17,413 75.84 68.36 17.61 Sumber : Survei Rumah Tangga Usaha Padi (SPW 04-S)
Untuk tanaman kedelai, terlihat adanya variasi dalam penggunaan pupuk menurut jenis maupun wilayah, dalam hal ini secara umum rataan penggunaan pupuk Urea, TSP/SP36 maupun KCL di tingkat nasional rata-rata lebih tinggi dibanding rata-rata penggunaan pupuk di empat provinsi penelitian. Khusus data penggunaan pupuk untuk semua jenis Provinsi Nusa Tenggara Barat perlu dicermati kembali. Data partisipasi petani di provinsi ini dalam penggunaan pupuk menurut jenis maupun dalam rata-rata penggunaan semua bernilai nol. Jika data tersebut benar, padahal luasan tanam kedelai di Nusa Tenggara Barat cukup besar, artinya usahatani kedelai di wilayah ini diusahakan tanpa pemupukan sama sekali.
3.4.2. Adopsi Teknologi Sub Sektor Hortikultura Teknologi Biologis (Benih)
Bawang merah merupakan salah satu komoditas penting di subsektor hortikultura, hal ini terkait dengan relatif tingginya fluktuasi harga yang terjadi antar musim dan kelembagaan pemasaran maupun pengelolaan usahatani bawang yang memiliki resiko relatif tinggi (Supriyati, et.al.2003). Keragaan adopsi teknologi pada usahatani bawang merah dilihat dari tingkat penggunaan benih/bibit menunjukkan bahwa sebagian besar petani bawang merah menggunakan benih lebih dari 600 Kg/Ha. Rataan nasional tingkat partisipasi petani yang menggunakan benih lebih dari 600 Kg/Ha sebesar 74 persen. Sementara itu pada tingkat penggunaan yang sama di provinsi Sumatera Barat, Nusa Tenggara Barat dan Sulawesi Selatan tingkat partisipasi masing-masing sebesar 75; 84; dan 93 persen (Tabel 3.4.18). Tabel 3.4.18. Persentase rumah tangga menurut tingkat penggunaan benih pada komoditas
Bawang Merah dan Cabe Merah di Indonesia, 2003
Lokasi Penggunaan Benih (Kg/Ha)
Bawang Merah < 201 201-400 401-600 > 600 Jumlah
Indonesia 13 8 5 74 100
Sumbar 0 20 5 75 100
NTB 4 7 5 84 100
Kalsel 0 0 0 0 0
Sulsel 7 0 0 93 100
Sumbar 1 72 11 16 100
NTB 4 86 0 10 100
Kalsel 5 83 2 10 100
Sulsel 6 78 3 13 100
Sumber : Badan Pusat Statistik (BPS), Sensus Pertanian (2003), Jakarta
Selain bawang merah, komoditas cabe merah merupakan salah satu komoditas strategis di subsektor hortikultura mengingat fluktuasi harga maupun dinamika permintaan yang sangat bervariasi antar waktu. Di saat menjelang hari besar Idul Fitri, Natal dan Tahun Baru umumnya permitaan cabe merah meningkat tajam dan harga pada saat yang sama meningkat cukup tajam (Saptana, et al.). Oleh karena itu penelaahan terhadap tingkat adopsi teknolgi pada komoditas cabe merah diharapkan dapat digunakan sebagai bahan masukan untuk pengembangan kmoditas cabe merah di masa datang.
Tingkat partisipasi rumah tangga pada berbagai tingkat penggunaan benih dalam usahatani cabe merah dapat disimak pada Tabel 3.4.17. Data pada tabel tersebut menunjukkan tingkat partisipasi rumah tangga tertinggi pada penggunaan benih antara 4 – 6 Kg/Ha dengan besaran partisipasi antara 72 (Provinsi Sumatera Barat) – 87 persen (rataan di tingkat nasional). Sedangkan pada kategori tingkat penggunaan benih cabe merah yang lainnya tingkat partisipasinya beragam dan relatif kecil.
Teknologi Kimia (Pupuk)
Untuk adopsi teknologi pengunaan pupuk Urea ada usahatani bawang merah, dan cabe merah data pada Tabel 3.4.18. Terlihat bahwa tingkat partisipasi rumahtangga bervariasi antar wilayah maupun antar jenis pupuk. Di antara empat provinsi penelitian, usahatani bawang merah tidak ditemukan di Provinsi Kalimantan Selatan. Penggunaan pupuk Urea partisipasi rumah tangga relatif tinggi digunakan di Provinsi Nusa Tenggara Barat dan Sumatera Barat dengan penggunaan lebih dari 300 Kg/Ha masing-masing dengan partisipasi 62 dan 100 persen.
Tabel 3.4.18. Persentase rumah tangga menurut tingkat penggunaan pupuk Urea pada komoditas Bawang Merah dan Cabe Merah di Indonesia, 2003
Lokasi Rata-rata Penggunaan Pupuk Urea (Kg/Ha) < 101 101-200 201-300 > 300 Jumlah 1. Bawang Merah Indonesia t.d t.d t.d t.d t.d Sumbar 10 10 18 62 100 NTB 0 0 0 100 100 Kalsel 0 0 0 0 0 Sulsel 0 0 0 0 0