HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN 4.1 Sintaks Pra-penelitian
4.5 Hasil Penelitian .1 Hasil Belajar Kognitif
4.7.1 Hasil Belajar Kognitif
Berdasarkan tabel 4.2 diperoleh nilai rata-rata tes evaluasi siklus I sebesar 75,5 dengan ketuntasan klasikal 62,5%. Hasil ini diperoleh setelah pelaksanaan tes evaluasi selesai. Pada siklus I siswa yang dikatakan tuntas sejumlah 20 siswa dari 32 siswa, sehingga ketuntasan klasikal yang didapat pada siklus I adalah 62,5%. Berdasarkan data tersebut, hasil belajar kognitif pada siklus I belum memenuhi indikator yang ditentukan karena hasil belajar secara klasikal belum tuntas. Hal itu disebabkan beberapa faktor, yaitu:
(1) siswa kurang siap karena baru pertama kali menerima pembelajaran menggunakan model ARIAS dengan Tim Ahli,
(2) siswa memerlukan banyak waktu untuk memahami model ARIAS dengan
Tim Ahli karena model diskusi ini sangat memerlukan kemampuan pemahaman dan komunikasi siswa,
(3) siswa masih malu – malu ketika menyampaikan materi ke teman – temannya sehingga materi sulit dipahami siswa lain,
(4) sebagian siswa masih belum paham dalam menentukan titik terdekat dan titik terjauh mata manusia yang menderita cacat mata,
(5) sebagian siswa belum paham tentang pengertian bayangan maya dan nyata. Permasalahan-permasalahan tersebut kemudian didiskusikan bersama guru dan pengamat pada proses refleksi siklus I untuk mencari solusi yang tepat, sehingga pembelajaran pada siklus II dapat dilaksanakan dengan lebih baik. Permasalahan siswa yang terkait dengan materi yang diajarkan, diselesaikan dengan memberi
pekerjaan rumah (PR) dan dikumpulkan pada minggu berikutnya. Berdasarkan hasil pekerjaan rumah, hampir semua siswa menjawab betul, sehingga dapat disimpulkan bahwa mayoritas siswa sudah paham tentang materi yang diajarkan pada siklus pertama.
Pada siklus II, siswa yang dikatakan tuntas belajar kognitif sejumlah 24 siswa dari 32 siswa dan nilai rata-rata tes evaluasi siswa meningkat menjadi 78,1 dengan ketuntasan klasikal mencapai 75%. Pelaksanaan pembelajaran pada siklus II lebih baik dari sebelumnya karena sebagian besar siswa sudah mulai mengenal model pembelajaran yang saya kenalkan, sehingga siswa sudah lebih siap dan lebih antusias. Terdapat peningkatan nilai kognitif siswa pada siklus II jika dibandingkan dengan siklus I. Siswa lebih tertib dalam melaksanakan diskusi dan antusias ketika disuruh mengerjakan soal di depan. Hal inilah yang menyebabkan kemampuan siswa dalam mengerjakan soal dapat terlatih, sehingga ketika diberikan tes evaluasi, siswa dapat mengerjakan dengan tenang dan semangat. Terkait materi yang diajarkan, sebagian siswa masih belum paham bagaimana melukiskan pembentukan bayangan pada lensa, sehingga kesulitan ketika melukiskan pembentukan bayangan pada lup maupun kamera. Seperti siklus pertama, untuk menyelesaikan permasalahan tersebut, siswa diberi pekerjaan rumah supaya dikerjakan dengan sungguh – sungguh. Hasil pekerjaan rumah menunjukkan bahwa siswa sudah memahami materi. Peneliti menyimpulkan proses pembelajaran siklus II lebih baik dari siklus sebelumnya. Walaupun begitu, ketuntasan klasikal pada siklus II yang hanya mencapai 75%
belum mencapai target. Maka dari itu, diperlukan siklus selanjutnya supaya ketuntasan klasikal siswa mampu mencapai lebih dari 85%.
Pada siklus III, siswa yang dikatakan tuntas sejumlah 28 siswa dari 32 siswa dan nilai rata-rata tes evaluasi siswa meningkat menjadi 82,2 dengan ketuntasan klasikal mencapai 87,5%. Adanya peningkatan ini menunjukkan bahwa model pembelajaran ARIAS dengan Tim Ahli dapat mempengaruhi hasil belajar kognitif secara positif. Hal ini sesuai dengan penelitian Devi (2012: 8) yang menyatakan bahwa model pembelajaran ARIAS mampu meningkatkan hasil belajar aspek kognitif siswa karena model pembelajaran ini disajikan secara menarik dan dapat menumbuhkan rasa percaya diri sehingga siswa bersemangat dalam belajar.
Terdapat peningkatan nilai kognitif siswa pada siklus III jika dibandingkan dengan siklus I maupun siklus II. Selain disebabkan karena siswa lebih tertib dalam melaksanakan diskusi dan antusias ketika disuruh mengerjakan soal di depan, siswa juga aktif untuk menolong teman sebaya yang belum paham tentang materi yang diajarkan. Maka dari itu, seluruh siswa dapat memahami materi. Hal ini tidak terjadi pada siklus I maupun II. Pada siklus I dan II, guru agak kesulitan untuk mengetahui siswa yang sudah paham tentang materi yang diajarkan dan yang belum paham. Hal ini dikarenakan siswa yang belum paham hanya diam dan cenderung masih malu untuk bertanya. Faktor kemampuan bertanya, berlatih mengerjakan soal di depan kelas, dan saling membantu siswa lain inilah yang menyebabkan kemampuan siswa dalam mengerjakan soal dapat lebih terlatih, sehingga persentase hasil belajar kognitif pada siklus III merupakan yang tertinggi
dibandingkan dua siklus sebelumnya. Ketuntasan klasikal aspek kognitif siklus III sudah mencapai lebih dari 85%, sehingga sudah cukup dalam melakukan penelitian.
Nilai rata – rata dan ketuntasan klasikal dari siklus pertama sampai siklus ketiga memang terjadi peningkatan. Walaupun begitu, berdasarkan uji gain, besar peningkatan aspek kognitif dari siklus I dan siklus II hanya sebesar 11%. Nilai tersebut masih tergolong rendah. Keadaan yang hampir sama juga berlaku pada hasil belajar kognitif siswa dari siklus II ke siklus III. Berdasarkan nilai uji gain, peningkatan aspek kognitif sebesar 20%. Walaupun harga peningkatan tersebut lebih tinggi dibandingkan harga peningkatan dari siklus I ke siklus II, tetapi nilai 20% juga masih termasuk kategori rendah.
Secara umum, dapat disimpulkan bahwa model pembelajaran ARIAS dengan Tim Ahli mampu meningkatkan hasil belajar aspek kognitif. Hal ini sesuai penelitian Nurhaeni (2011: 88) yang menjelaskan bahwa pembelajaran yang disertai aspek pembelajaran kooperatif mampu meningkatkan pemahaman siswa, sehingga hasil belajar mampu meningkat. Peningkatan hasil belajar kognitif di kelas X MIA 2 termasuk kategori rendah. Hal tersebut dikarenakan beberapa faktor, yaitu: (1) waktu 20 menit dianggap kurang untuk siswa mengerjakan tes evaluasi di setiap akhir siklus, (2) siswa terlalu fokus mencari materi di buku untuk mengisi soal – soal LDS tanpa memahami lebih lanjut, (3) ada beberapa siswa yang belum paham tentang materi, tetapi tidak mau menanyakan pada teman atau guru, (4) beberapa siswa tidak fokus pada kegiatan presentasi di depan
kelas maupun ketika dijelaskan guru, dan (5) siswa baru pertama kali melakukan model diskusi sundicate group.
Setiap akhir siklus siswa selalu ditanya tentang tes evaluasi, apakah soal yang dikerjakan termasuk kategori sulit atau mudah. Jawaban bervariasi, ada yang menjawab mudah, sedang, dan sulit. Ketika ditanya tentang alasannya, siswa yang menjawab mudah beranggapan bahwa soal yang diberikan saat evaluasi hampir mirip dengan soal – soal yang dikerjakan pada latihan soal pemahaman, hanya angka dan bentuk soalnya saja yang berbeda. Hal ini dapat disimpulkan bahwa rata – rata siswa yang beranggapan tes evaluasi mudah dikarenakan mereka melaksanakan kegiatan diskusi dan memperhatikan persentasi dengan sungguh – sungguh. Sedangkan siswa yang beranggapan bahwa tes evaluasi sulit, dikarenakan mereka masih belum paham tentang materi yang diajarkan. Ketika diberikan latihan soal, hampir semua siswa mampu mengerjakan, tetapi ketika diberikan tes evaluasi dengan tipe soal yang berbeda, mereka masih kesulitan. Walaupun pendapat siswa tentang tes evaluasi berbeda – beda, tetapi rata – rata nilai siswa dari siklus I sampai siklus III mengalami peningkatan.
Hasil belajar kognitif siswa setiap siklus jika ditampilkan dalam grafik seperti gambar dibawah ini:
4.7.2 Hasil Belajar Afektif
Indikator keberhasilan untuk aspek afektif dapat dilihat dari hasil observasi yang dilakukan pengamat terhadap kegiatan pembelajaran. Jika hasil tersebut mencapai 70% secara individual dan 75% secara klasikal, maka hasil belajar dikatakan tuntas. Proses penilaian observasi tersebut dilakukan ketika proses kegiatan belajar mengajar sedang berlangsung. Kegiatan observasi aspek afektif pada penelitian di SMA Negeri 2 Kebumen ini, peneliti dibantu oleh dua teman kerja sejawat, yaitu: (1) Siti Zulaikhah (Mahasiswi Politeknik Dharma Patria Kebumen), (2) Isnaeni Nur Charomah (Alumni Poltekkes), dan Uswatun Khasanah (Mahasiswi Universitas Muhammadiyah Purworejo).
Pada siklus I, ketuntasan klasikal hasil belajar afektif sebesar 75%. Nilai prosentase tersebut sudah memenuhi target ketuntasan klasikal, yaitu 75%, tetapi sangat perlu dilakukan siklus selanjutnya untuk mengetahui apakah model pembelajaran yang digunakan mampu meningkatkan hasil belajar afektif atau tidak. Pengamat melakukan observasi untuk memberikan penilaian terhadap masing – masing siswa sesuai indikator yang telah dibuat. Proses penilaian ini dilakukan ketika kegiatan belajar mengajar sedang berlangsung.
Ketuntasan klasikal hasil belajar afektif siklus I sudah tuntas, tetapi berada pada persentase yang minim. Hal ini dikarenakan beberapa faktor, yaitu:
1. Siswa baru pertama kali melakukan diskusi tipe sundicate group, sehingga saya dibantu guru harus menjelaskan terlebih dahulu apa pengertiannya.
2. Pada penelitian ini, pembentukkan anggota kelompok secara acak dan bebas. Hal ini tidak biasa dilakukan oleh siswa. Siswa lebih suka memilih anggota kelompok sendiri.
3. Waktu untuk melakukan diskusi tidak terlalu banyak dikarenakan sebagian waktu diskusi digunakan untuk menjelaskan prosedur dan langkah – langkah diskusi.
Pada proses refleksi siklus I, permasalahan tersebut kemudian didiskusikan bersama guru dan pengamat untuk mencari solusi, sehingga pembelajaran pada siklus II dapat dilaksanakan dengan lebih baik.
Proses penilaian hasil belajar afektif pada siklus II berlangsung lebih lancar dan kondusif. Siswa sudah tidak perlu dijelaskan lagi tentang langkah – langkah diskusi. Para siswa juga sudah tidak mempermasalahkan tentang pembagian anggota kelompok secara acak dan bebas. Kegiatan diskusi yang mulai baik ini menyebabkan ketuntasan klasikal meningkat sebesar 9,38%, yaitu menjadi 84,38%. Ketuntasan klasikal ini sudah melampaui target, tetapi dikarenakan hasil belajar kognitif yang belum mencapai target dan untuk mengetahui peningkatan hasil belajar afektif, maka proses penilaian afektif juga dilanjutkan ke siklus III.
Pelaksanaan diskusi pada siklus III berjalan dengan sangat baik. Siswa menjadi lebih aktif, kritis, semangat, dan kondusif, sehingga hasil belajar afektif pada siklus III mengalami peningkatan dibandingkan dengan siklus I dan siklus II. Hal ini dibuktikan dengan ketuntasan klasikal mengalami peningkatan 6,25%, yaitu menjadi 90,63%.
Nilai rata – rata dan ketuntasan klasikal dari siklus pertama sampai siklus ketiga terjadi peningkatan. Berdasarkan uji gain, besar peningkatan aspek afektif dari siklus I dan siklus II sebesar 10%. Hampir sama dengan hasil belajar kognitif, nilai tersebut termasuk kategori rendah. Keadaan berbeda terlihat pada hasil belajar afektif siswa dari siklus II ke siklus III. Berdasarkan nilai uji gain, peningkatan hasil belajar aspek afektif sebesar 30%. Nilai peningkatan tersebut lebih tinggi dibandingkan harga peningkatan dari siklus I ke siklus II. Nilai 30% juga sudah termasuk kategori sedang.
Siklus I sampai siklus III, kehadiran siswa masuk kelas untuk melaksanakan kegiatan pembelajaran sudah baik. Sebagian besar siswa langsung masuk kelas ketika kegiatan pembelajaran mata pelajaran sebelumnya sudah usai. Hanya sebagian kecil siswa yang tidak langsung masuk kelas dikarenakan ada urusan dengan guru tertentu atau mengembalikan alat ke laboratorium. Walaupun begitu, kegiatan pembelajaran dengan model ARIAS dengan Tim Ahli dari siklus I sampai siklus III berjalan dengan baik dan lancar.
Kegiatan pembelajaran siklus I, rata – rata siswa masih pasif terhadap kegiatan pembelajaran. Hal ini dikarenakan siswa masih belum mengenal tentang model yang baru dan merasa diawasi, sehingga tingkah laku siswa menjadi kaku. Setelah dilaksanakan refleksi bersama guru dan pengamat, ada beberapa bagian yang diperbaiki seperti yang sudah dijelaskan di subbab 4.5 (Hasil Penelitian), sehingga pelaksanaan pembelajaran pada siklus II dan siklus III, siswa sudah lebih aktif, baik melakukan diskusi, bertanya, menanggapi, mengeluarkan pendapat, dan sebagainya.
Sebelum dilaksanakan pembelajaran menggunakan model ARIAS dengan Tim Ahli, siswa disuruh mengisi angket untuk mengetahui minat siswa terhadap kegiatan diskusi pada mata pelajaran fisika. Berdasarkan data awal, siswa kurang berminat terhadap kegiatan diskusi, hal ini yang juga menyebabkan siswa pasif ketika melaksanakan diskusi pada siklus pertama. Setelah siswa dijelaskan tentang manfaat diskusi dan kegiatan presentasi, pada bagian akhir siklus pertama siswa sudah mulai berminat pada kegiatan diskusi, sehingga pelaksanaan pembelajaran pada dua siklus selanjutnya semakin lancar. Hasil penelitian tentang minat diskusi siswa dijelaskan lebih lanjut pada sub-subbab 4.7.4 (Peningkatan Minat Siswa).
Secara umum dapat disimpulkan bahwa model pembelajaran ARIAS dengan Tim Ahli mampu meningkatkan hasil belajar afektif. Hasil penelitian ini sesuai dengan hasil penelitian Husna (2010: 17) yang menyatakan bahwa model ARIAS dapat meningkatkan hasil belajar belajar aspek afektif yang ditunjukkan dengan perbedaan hasil belajar afektif antara kelas yang menggunakan model ARIAS dengan kelas yang menggunakan model konvensional.
Hasil belajar afektif siswa ditampilkan dalam grafik seperti gambar dibawah ini: