• Tidak ada hasil yang ditemukan

1. 7 Sistematika Skripsi

BAB 4 : Hasil dan Pembahasan

2.1 Model Pembelajaran ARIAS dengan Tim Ahli

2.1.1 Karakteristik model ARIAS

Siahaan et al. (2010: 23) menyatakan lima komponen ARIAS adalah : 1. Assurance, (percaya diri), yang berhubungan dengan sikap percaya, yakin

akan berhasil atau yang berhubungan dengan harapan untuk berhasil.

2. Relevance, berhubungan dengan kehidupan siswa baik berupa pengalaman sekarang atau yang telah dimiliki maupun yang berhubungan dengan kebutuhan karir sekarang atau yang akan datang.

3. Interest, adalah yang berhubungan dengan minat/perhatian siswa.

4. Assessment, yaitu yang berhubungan dengan penilaian terhadap siswa. Penilaian merupakan suatu bagian pokok dalam pembelajaran yang memberikan keuntungan bagi guru dan murid.

5. Satisfaction adalah reinforcement (penguatan) dapat memberikan rasa bangga dan puas pada siswa yang penting dan perlu dalam kegiatan pembelajaran. Sopah (2007) juga menyatakan bahwa model pembelajaran ARIAS terdiri dari lima komponen (assurance, relevance, interest, assesment, dan satisfaction) yang disusun berdasarkan teori belajar.

Kelima komponen dalam pembelajaran ARIAS merupakan satu kesatuan yang diperlukan dalam kegiatan pembelajaran. Lima komponen model ARIAS sebagai berikut:

2.1.1.1 Assurance (percaya diri/yakin)

Assurance (percaya diri/yakin) yaitu berhubungan dengan sikap percaya, yakin akan berhasil atau yang berhubungan dengan harapan untuk berhasil. Seseorang yang memiliki sikap percaya diri yang sangat tinggi cenderung akan berhasil bagaimanapun kemampuan yang ia miliki. Sikap dimana seseorang merasa yakin, percaya dapat berhasil mencapai sesuatu akan mempengaruhi mereka bertingkah laku untuk mencapai keberhasilan tersebut. Siswa yang memiliki sikap percaya diri memiliki penilaian yang positif tentang dirinya.

Sikap percaya diri agar dapat berhasil perlu ditanamkan pada siswa untuk mendorong mereka agar berusaha dengan maksimal guna mencapai keberhasilan yang optimal. Dengan sikap yakin, penuh percaya diri, dan merasa mampu dapat melakukan sesuatu dengan berhasil, siswa terdorong untuk melakukan sesuatu kegiatan dengan sebaik-baiknya sehingga dapat mencapai hasil yang baik dari sebelumnya atau dapat melebihi orang lain.

Menurut Sopah (2007), ada beberapa cara yang dapat digunakan untuk mempengaruhi sikap percaya diri siswa, antara lain:

(1) Membantu siswa menyadari kekuatan dan kelemahan diri serta menanamkan

pada siswa gambaran diri positif terhadap diri sendiri.

(2) Menggunakan suatu patokan, standar yang memungkinkan siswa dapat

mencapai keberhasilan (misalkan dengan mengatakan kalau kamu tentu dapat menjawab pertanyaan di bawah ini tanpa melihat buku).

(3) Memberikan tugas kepada siswa dimulai dari yang mudah sampai tugas yang sukar. Menyajikan materi bertahap sesuai dengan urutan dan tingkat kesukaran.

Keller (1987: 5) menjelaskan tentang strategi untuk meningkatkan self-confidence sebagai berikut:

a) allow students opportunity to become independent in learning and practicing a skill.

b) have students learn new skills under low risk conditions, but practice performance of well-learned tasks under realistic conditions.

c) help students understand that the pursuit of excellence does not mean that anything short of perfection is failure, leardn to feel good about genuine accomplishment.

Selain hal tersebut, memberi tugas yang sukar tetapi cukup realistis untuk diselesaikan atau sesuai dengan kemampuan siswa juga mampu menanamkan rasa percaya diri pada siswa. Misalnya memberi tugas kepada siswa dimulai dari yang mudah berangsur sampai ke tugas yang sukar (Keller & Suzuki, 2004: 179).

2.1.1.2 Relevance (Relevansi)

Relevansi berhubungan dengan kehidupan siswa, baik kehidupan sekarang maupun kehidupan yang akan datang. Konsep-konsep fisika tidak dapat diajarkan melalui defenisi, tetapi hendaknya melalui contoh-contoh yang relevan. Siswa kan terdorong mempelajari sesuatu yang akan dipelajari jika ada relevansinya dengan kehidupan mereka, dan memiliki tujuan yang jelas. Sesuatu yang memiliki arah, tujuan, sasaran yang jelas, ada manfaat, dan relevan dengan kehidupan akan

mendorong individu untuk mencapai tujuan tersebut. Dalam kegiatan pembelajaran, guru perlu memperhatikan unsur relevan ini.

Menurut Keller (1987: 4), ada beberapa strategi untuk meningkatkan relevansi, yaitu: a) experience b) present worth c) future usefulness d) need matching e) modeling f) choice

Sedangkan menurut Sopah (2007), ada beberapa cara yang dapat digunakan untuk meningkatkan relevansi dalam pembelajaran, antara lain:

(1) Mengemukakan tujuan sasaran yang akan dicapai. Tujuan yang jelas akan memberikan harapan yang jelas pada siswa dan mendorong mereka untuk mencapai tujuan tersebut.

(2) Mengemukakan manfaat pelajaran bagi kehidupan siswa baik untuk masa

sekarang maupun masa yang akan datang.

(3) Menggunakan bahasa yang jelas atau contoh-contoh yang ada

hubungannya dengan pengalaman nyata atau nilai-nilai yang dimiliki siswa.

2.1.1.3 Interest (Perhatian)

Interest berhubungan dengan minat/perhatian siswa. Oleh karena itu, guru harus memperhatikan berbagai bentuk minat/perhatian dalam kegiatan pembelajaran. Siswa akan kembali mengerjakan sesuatu yang menarik sesuai

dengan minat mereka. Membangkitkan dan memelihara minat merupakan usaha menumbuhkan keingintahuan siswa yang diperlukan dalam kegiatan pembelajaran.

Keller (1987: 3) menjelaskan tentang pentingnya perhatian siswa sebagai berikut:

...attention, is an element of motivation and is also a prerequisite for learning. The motivational concern is for getting and sustaining attention. As an element of learning, the concern is for directing attentio to the appropriatestimuli. Atone level, it is fairly easy to gain attention. A dramatic statement, a sharp noise, a quite pause – all of these and many other devices are used.

Sopah (2007) menjelaskan beberapa cara yang dapat dilakukan untuk membuat kegiatan belajar mengajar menjadi lebih menarik, antara lain:

(1) Menggunakan cerita atau analogi.

(2) Memberikan kesempatan kepada siswa untuk berpartisipasi aktif dalam pembelajaran, misalnya berdiskusi, mengajukan pertanyaan, atau mengemukakan masalah yang perlu dipecahkan.

(3) Mengadakan variasi dalam kegiatan pembelajaran misalnya dari variasi serius ke humor, dari cepat ke lambat, dari suara keras ke suara yang sedang, dan mengubah gaya mengajar.

Keller seperti yang dikutip oleh Chang dan Lehman (2002: 83), menyatakan bahwa dalam kegiatan pembelajaran, perhatian siswa tidak hanya harus dibangkitkan melainkan juga harus dipelihara. Oleh karena itu, guru harus memperhatikan berbagai bentuk cara mengajar dan memfokuskan pada minat dan perhatian dalam kegiatan pembelajaran.

2.1.1.4 Assessment (Evaluasi)

Komponen Assessment di dalam model pembelajaran ARIAS disebut

evaluasi. Assesment berhubungan dengan evaluasi terhadap siswa. Menurut Tyler, seperti yang dikutip oleh Arikunto (2010a: 3) menjelaskan bahwa evaluasi adalah sebuah proses pengumpulan data untuk menentukan sejauh mana, dalam hal apa, bagian mana tujuan pendidikan sudah tercapai. Sedangkan menurut Hamalik (2002: 30) evaluasi adalah serangkaian kegiatan yang dirancang untuk mengukur keefektifan sistem mengajar/belajar sebagai keseluruhan atau proses penilaian untuk menggambarkan prestasi yang dicapai seseorang siswa dengan kriteria yang telah ditetapkan.

Manfaat evaluasi bagi guru adalah sebagai alat untuk mengetahui apakah yang telah diajarkan sudah dipahami oleh siswa, untuk memonitor kemajuan siswa sebagai individu maupun sebagai kelompok, untuk merekam apa yang telah dicapai siswa, dan untuk membantu siswa dalam belajar.

Evaluasi diri dapat mendorong siswa untuk berusaha lebih baik lagi dari sebelumnya agar mencapai hasil yang maksimal. Evaluasi diri merupakan evaluasi yang mendukung proses belajar mengajar serta membantu siswa meningkatkan keberhasilannya. Dengan demikian, evaluasi diri dapat mendorong siswa untuk meningkatkan apa yang ingin dicapai.

Model pembelajaran ARIAS memasukkan komponen assessment

dikarenakan assessment merupakan salah satu bentuk motivasi. Menurut

Mortimore dan Mortimore, seperti yang dikutip oleh Stobart dan Gipps (1998: 10) mengemukakan bahwa:

Examinations at secondary level are traditionally seen as having great motivating potential: they provide pupils with a powerfull incentive to work, just at the age when they are becoming resistant to parental and teacher control and more interested in the outside world.

Selain hal tersebut, menurut Pasaribu dan Simanjuntak, seperti yang dikutip oleh Ahmadi dan Supriyono (2004: 200), menegaskan bahwa tujuan khusus dari evaluasi diantaranya adalah menemukan sebab – sebab kemajuan atau kegagalan, dan memperbaiki mutu pelajaran/ cara bekerja dan metode belajar.

2.1.1.5 Satisfaction (Kepuasan)

Menurut Francom dan Reeves (2010: 57), salah satu tindakan pada tahap satisfaction adalah “obtaining student reactions to the new motivational design and determining student satisfaction level.” Sedangkan menurut Siahaan et al., (2010: 23) menyatakan bahwa satisfaction adalah reinforcement (penguatan) yang dapat memberikan rasa bangga dan puas pada siswa dan perlu dalam kegiatan pembelajaran.

Berkaitan dengan rasa puas siswa terhadap hasil belajar siswa, Keller (1987: 6) menjelaskan sebagai berikut:

This category incorporates research and practices that help make people feel good about their accomplishments. According to reinforcement theory, people should be more motivated if the task and the reward are defined, and an appropriate reinforcement schedule is used. Generally this is true, but people sometimes become resentful and even angry when they are told what they have to do, and what they will be given as a reward.

Siswa yang telah berhasil mengerjakan atau mencapai sesuatu merasa bangga atas keberhasilan tersebut. Keberhasilan dan kebanggaan itu menjadi penguat bagi siswa untuk mencapai keberhasilan berikutnya. Seseorang merasa bangga dan puas karena apa yang dikerjakan dan dihasilkan mendapat penghargaan baik bersifat verbal maupun non verbal dari orang lain atau lingkungan. Dengan demikian, memberikan penguatan merupakan salah satu cara yang dapat digunakan untuk mempengaruhi hasil belajar siswa. Untuk itu, rasa bangga dan puas perlu ditanamkan dan dijaga dalam diri siswa.

Menurut Sopah (2007) beberapa cara yang dapat dilakukan antara lain:

(1) Memberi penguatan, penghargaan yang pantas baik secara verbal maupun

non verbal kepada siswa yang telah menampilkan keberhasilannya. Ucapan guru: bagus kamu telah mengerjakannya dengan baik sekali, menganggukkan kepala sambil tersenyum sebagai tanda setuju atas jawaban siswa terhadap suatu pertanyaan, merupakan suatu bentuk penguatan kepada siswa yang telah berhasil melakukan kegiatan.

(2) Memperlihatkan perhatian yang besar pada siswa yang mengalami seperti membimbingnya sehingga mereka merasa dikenal dan dihargai oleh guru. 2.1.2 Tim Ahli

Tim ahli merupakan model diskusi jenis sundicate group. Jenis diskusi ini terdiri dari 3-6 orang yang berasal dari kelompok utama dan mempunyai tugas membahas tentang materi tertentu (Moedjiono & Hasibuan, 2006: 21). Setelah melakukan diskusi, siswa wajib mempresentasikan pada anggota kelompok utama dan kepada semua siswa di depan kelas.

Model diskusi penting dilakukan siswa untuk melatih bekerjasama antar sesama teman. Diskusi merupakan kegiatan memecahkan sebuah permasalahan secara bersama-sama untuk mengambil kesimpulan dari permasalahan. Melalui diskusi, siswa berlatih untuk berkomunikasi dengan orang lain secara berkelompok. Siswa juga dituntut untuk aktif mengeluarkan ide/gagasan untuk memberikan pendapat tentang suatu permasalahan melalui kegiatan diskusi. Hal ini mampu merangsang kreativitas, keberanian, membangun kerjasama kelompok, dan melatih sikap saat berkomunikasi dengan orang lain.

Menurut Tarigan (2008: 40), diskusi pada hakikatnya merupakan suatu metode untuk memecahkan permasalahan dengan proses berpikir kelompok. Oleh karena itu, diskusi merupakan suatu kegiatan kerjasama atau aktivitas koordinatif yang mengandung langkah-langkah dasar tertentu yang harus dipatuhi oleh seluruh kelompok.

Bulatau, seperti yang dikutip oleh Mulawati (2011: 15), menyatakan bahwa manfaat diskusi ini adalah tentang pemikiran bersama yang mempunyai kemampuan kreatif, dalam artian realistis. Jika ada yang sejalan, maka hal ini dapat memicu seseorang untuk bertindak dengan daya dorong yang lebih kuat, berkat kerja sama dan keyakinan bersama.

Berdasarkan penjelasan para ahli, model diskusi merupakan hal penting yang sangat dianjurkan untuk dilaksanakan dalam pembelajaran. Menurut Dipodjojo (1984: 64), dalam sebuah dikusi kelompok, tiap anggota kelompok hendaknya menyadari tujuan yang hendak dicapai, adanya hormat - menghormati, dan menghargai pendapat orang lain, serta bersikap tertib dalam bersoal jawab.

Maka dari itu pembelajaran diskusi diharapkan mampu meningkatkan sikap positif siswa.

Pada penelitian ini, model diskusi Tim Ahli digunakan untuk mendukung model utama ARIAS. Berbagai macam permasalahan siswa yang menyebabkan rendahnya hasil belajar siswa, seperti sudah dijelaskan oleh peneliti pada latar belakang, dicoba diselesaikan menggunakan model pembelajaran ini. Model pembelajaran ARIAS dengan Tim Ahli diharapkan dapat meningkatkan hasil belajar siswa, baik berupa kognitif, afektif, dan psikomotor, serta minat siswa terhadap kegiatan diskusi pada mata pelajaran fisika.

2.2 Materi Alat-alat Optik

a. Mata

Sistem optik yang paling penting adalah mata. Mata memiliki sebuah lensa cembung yang berfungsi untuk memfokuskan bayangan benda pada lapisan peka cahaya di bagian belakang bola mata yang disebut retina. Retina berisi struktur indra-cahaya yang sangat halus yang disebut batang dan kerucut yang menerima dan memancarkan informasi di sepanjang saraf optik ke otak.

selaput pelangi retina

pupil lensa mata

kornea saraf optic

otot siliari

Gambar 2.1 Diagram mata manusia (Sumarsono, 2009: 112) Secara umum, bagian-bagian mata beserta fungsinya adalah sebagai berikut:

1. Kornea. Kornea merupakan bagian luar mata yang tipis, lunak, dan transparan. Kornea berfungsi menerima dan meneruskan cahaya yang masuk pada mata, serta melindungi bagian mata yang sensitif di bawahnya.

2. Pupil. Pupil merupakan celah sempit berbentuk lingkaran dan berfungsi agar cahaya dapat masuk ke dalam mata.

3. Iris. Iris adalah selaput berwarna hitam, biru, atau coklat yang berfungsi untuk mengatur besar kecilnya pupil. Warna yang disebabkan oleh iris merupakan warna mata seseorang.

4. Aquaeus Humour. Aquaeus humour merupakan cairan di depan lensa mata untuk membiaskan cahaya ke dalam mata.

5. Otot Akomodasi. Otot akomodasi adalah otot yang menempel pada lensa mata dan berfungsi untuk mengatur tebal dan tipisnya lensa mata.

6. Lensa Mata. Lensa mata berbentuk cembung, berserat, elastis, dan bening. Lensa ini berfungsi untuk membiaskan cahaya dari benda supaya terbentuk bayangan pada retina.

7. Retina. Retina adalah bagian belakang mata yang berfungsi sebagai tempat terbentuknya bayangan.

8. Vitreous Humour. Vitreous humour adalah cairan di dalam bola mata yang berfungsi untuk meneruskan cahaya dari lensa ke retina.

9. Bintik Kuning. Bintik kuning adalah bagian dari retina yang berfungsi sebagai tempat terbentuknya bayangan yang jelas.

10. Bintik Buta. Bintik buta adalah bagian dari retina yang apabila bayangan jatuh pada bagian ini, maka bayangan tampak tidak jelas atau kabur.

11. Saraf Mata. Saraf mata befungsi untuk meneruskan rangsangan bayangan dari retina menuju ke otak. Bentuk lensa kristal dapat diubah sedikit oleh kerja otot siliari.

Apabila mata difokuskan pada benda yang jauh, otot akan mengendur dan sistem lensa mata berada pada panjang fokus maksimumnya, kira-kira 2,5 cm yang merupakam jarak dari lensa ke retina. Apabila benda di dekatkan, otot sililari akan meningkatkan kelengkungan lensa dan mengurangi panjang fokusnya, sehingga bayangan difokuskan ke retina. Proses ini disebut akomodasi. Bayangan yang jatuh di retina adalah nyata, terbalik, dan diperkecil.

Mata Normal

Jarak terdekat yang dapat difokuskan mata disebut titik dekat mata (PP = punctum proximum). Orang dewasa muda biasanya mempunyai titik dekat ±25 cm, walaupun anak-anak sering kali bisa memfokuskan benda pada jarak 10 cm. Selanjutnya, semakin tua usia seseorang, kemampuan berakomodasi makin kurang dan titik dekat bertambah. Adapun jarak terjauh di mana benda masih dapat terlihat jelas disebut titik jauh (PR = punctum remotum). Mata normal adalah mata yang memiliki titik dekat PP = ±25 cm dan titik jauh PR = tak

berhingga. Sebagian populasi manusia memiliki mata yang tidak berakomodasi dalam kisaran normal yaitu ±25 cm sampai tak berhingga, atau memiliki kelainan mata yang dikenal sebagai cacat mata.

Rabun Jauh (Miopi)

Miopi atau rabuh jauh disebut juga mata dekat karena hanya dapat melihat jelas benda-benda yang dekat. Mata ini tidak dapat berakomodasi minimum secara normal. Titik jauh matanya kurang dari jauh tak hingga (PR < ~). Sifat tersebut menyebabkan mata miopi yang digunakan untuk melihat benda jauh tak hingga akan membentuk bayangan di depan retina. Miopi biasanya disebabkan oleh bola mata yang terlalu lonjong atau kelengkungan lensa mata yang terlalu besar. Penderita miopi jika ingin melihat benda yang jauh jauh dapat dibantu

dengan kacamata lensa negatif (lihat Gambar 2.2).Setelah menggunakan

kacamata berlensa cekung ini, bayangan benda yang jauh akan jatuh tepat di retina.

Gambar 2.2 Lensa negatif/divergen/cekung membantu rabun jauh (Handayani & Damari, 2009: 129)

Rabun Dekat (Hipermetropi)

Hipermetropi atau rabun dekat disebut juga mata jauh karena hanya dapat melihat jelas benda-benda yang jauh. Mata ini tidak dapat berakomodasi maksimum secara normal berarti titik dekatnya lebih besar dari 25 cm (PP > 25 cm). Karena sifat di atas maka setiap melihat benda pada titik baca normal (25 cm) bayangannya akan berada di belakang retina. Untuk mengatasinya diperlukan lensa positif (lihat Gambar 2.3). Bagaimana lensa kaca mata yang dibutuhkan? Jika ingin membaca normal maka benda harus berada pada jarak baca S = 25 cm dan bayangan lensa harus berada pada titik dekat mata S‟ = - PP.

Gambar 2.3 Lensa positif/konvergen/cembung membantu rabun dekat (Sumarsono: 2009: 114)

Hubungan posisi benda, bayangan yang terbentuk, dan panjang fokus suatu lensa tipis dapat ditulis dalam rumus matematik:

dengan:

s = jarak benda ke mata (m) s’ = jarak bayangan ke mata (m)

f = panjang fokus lensa (m)

Kemampuan suatu lensa positif untuk mengumpulkan cahaya atau kemampuan lensa negatif untuk menyebarkan cahaya dinyatakan dengan istilah kekuatan lensa (P) dapat dirumuskan sebagai berikut:

dengan:

P = kekuatan lensa (D = dioptri)

f = panjang fokus lensa (m)

Presbiopi

Presbiopi disebut juga mata tua, yaitu mata yang titik dekat dan titik jauhnya telah berubah. Titik dekatnya menjauh dan titik jauhnya mendekat. Berarti mata presbiopi tidak bisa melihat benda dekat maupun jauh dengan jelas. Mata yang memiliki sifat seperti ini mengalami miopi maupun hipermetropi. Cara menanganinya adalah menggunakan kaca mata rangkap. Berdasarkan penjelasan tersebut, dapat dituliskan sifat-sifat mata presbiopi sebagai berikut:

(a) PP > 25 cm, (b) PR < ~,

(c) tidak bisa melihat benda jauh maupun dekat, dan

(d) penyelesaiannya merupakan gabungan miopi dan hipermetropi. Astigmatisma

Astigmatisma biasanya disebabkan oleh kornea atau lensa yang kurang bundar sehingga benda titik difokuskan sebagai garis pendek, yang mengaburkan bayangan. Hal ini dikarenakan kornea berbentuk sferis dengan bagian silindrisnya bertumpuk. Gambar 2.4 menunjukkan bahwa lensa silindris memfokuskan titik menjadi garis yang paralel dengan sumbunya. Mata astigmatisma memfokuskan berkas pada bidang vertikal, katakanlah pada jarak yang lebih dekat dengan yang dilakukannya untuk berkas pada bidang horizontal. Kesimpulannya, cacat mata astigmatisma tidak dapat membedakan garis-garis tegak dengan garis-garis mendatar secara bersama-sama. Astigmatisma dapat ditolong menggunakan lensa silindris yang mengimbanginya.

Gambar 2.4 Lensa silindris untuk mata astigmatisma (Sumarsono: 2009: 114) Katarak

Katarak adalah kondisi lensa mata yang terdapat bercak putih seperti awan. Kondisi ini membuat pandangan mata terganggu. Katarak dapat mempengaruhi jarak pandang mata dan mata silau. Katarak umumnya tidak menyebabkan iritasi atau rasa nyeri. Katarak biasanya tumbuh secara perlahan dan tidak menyebabkan rasa sakit. Pada tahap awal kondisi ini hanya akan mempengaruhi sebagian kecil bagian dari lensa mata anda dan mungkin saja tidak akan mempengaruhi pandangan anda. Saat katarak tumbuh lebih besar maka noda putih akan mulai menutupi lensa mata dan mengganggu masuknya cahaya ke mata. Pada akhirnya pandangan mata anda akan kabur dan mengalami distorsi.

Tanda dan gejala katarak antara lain: (1) pandangan mata yang kabur, suram atau seperti ada bayangan awan atau asap, (2) sulit melihat pada malam hari, (3) sensitif pada cahaya, dan (4) terdapat lingkaran cahaya saat memandang sinar. Pengobatan katarak biasanya dengan melakukan operasi.

Glaukoma

Glaukoma adalah salah satu jenis penyakit mata dengan gejala yang tidak langsung, yang secara bertahap menyebabkan penglihatan pandangan mata semakin lama akan semakin berkurang sehingga akhirnya mata akan menjadi buta. Hal ini disebabkan karena saluran cairan yang keluar dari bola mata terhambat. Bola mata akan membesar dan menekan saraf mata yang berada di belakang bola mata. Oleh sebab itu, saraf mata tidak mendapatkan aliran darah dan mati.

b. Kamera

pencari gambar lensa

diafragma

shutter film

Kamera adalah alat yang digunakan untuk menghasilkan bayangan fotografi pada film negatif. Kamera digunakan untuk mengabadikan kejadian-kejadian penting. Kamera terdiri atas beberapa bagian, antara lain, sebagai berikut:

1. Lensa cembung, berfungsi untuk membiaskan cahaya yang masuk sehingga terbentuk bayangan yang nyata, terbalik, dan diperkecil,

2. Diafragma, adalah lubang kecil yang dapat diatur lebarnya dan berfungsi untuk mengatur banyaknya cahaya yang masuk melalui lensa,

3. Apertur, berfungsi untuk mengatur besar-kecilnya diafragma,

4. Pelat film, berfungsi sebagai tempat bayangan dan menghasilkan gambar negatif, yaitu gambar yang berwarna tidak sama dengan aslinya, tembus cahaya.

Pelat film menggunakan pelat seluloid yang dilapisi dengan gelatin dan perak bromida untuk menghasilkan negatifnya. Setelah dicuci, negatif tersebut dipakai untuk menghasilkan gambar positif (gambar asli) pada kertas foto. Kertas foto merupakan kertas yang ditutup dengan lapisan tipis kolodium yang dicampuri dengan perak klorida. Gambar yang ditimbulkan pada bidang transparan disebut gambar diapositif.

Perbedaan mata dengan kamera ditampilkan pada tabel berikut: Tabel 2.1 Perbedaan kamera dan mata

No Pembeda Kamera Mata

1. tempat bayangan film retina

2. pengatur cahaya diafragma iris

3. jarak bayangan berubah, sesuai

dengan jarak benda

tetap

4. jarak fokus tetap berubah, sesuai

dengan jarak benda Sedangkan persamaannya adalah:

Kamera dan mata sama – sama memiliki