BAB III METODE PENELITIAN
J. Metode/Teknik Analisis Data
1. Hasil Belajar Siswa
Gambar 2.4 Garis Transfersal B. Efektivitas Pembelajaran
Efektivitas adalah suatu ukuran yang menyatakan seberapa jauh target (kualitas, kuantitas, dan waktu) dicapai. Semakin besar presentase target dicapai semakin tinggi efektivitasnya (Hidayat, 1986).
Efektivitas pembelajaran adalah ukuran keberhasilan dari suatu proses interaksi antar siswa maupun antara siswa dengan guru dalam situasi edukatif untuk mencapai tujuan pembelajaran. Efektivitas pembelajaran dapat dilihat dari prestasi belajar siswa, respon siswa terhadap pembelajaran dan aktivitas siswa selama pembelajaran berlangsung (Gie dan The Liang, 1985). Efektivitas pada penelitian ini adalah ukuran keberhasilan seberapa jauh hasil belajar dan keaktifan siswa dicapai pada pembelajaran menggunakan GeoGebra.
1. Hasil Belajar
Menurut Nana Sudjana (1989 : 22) hasil belajar adalah kemampuan-kemampuan yang dimiliki siswa setelah ia menerima pengalaman belajarnya. Nana Sudjana (1989 : 22) kembali
18
menjelaskan bahwa dalam sistem pendidikan nasional rumusan, rumusan tujuan pendidikan, baik tujuan kurikuler maupun instruktur sekolah, menggunakan klasifikasi hasil belajar dari Benyamin Bloom yang secara garis besar membaginya menjadi tiga ranah, antara lain sebagai berikut :
a. Ranah Kognitif
Ranah kognitif berkenaan dengan hasil belajar intelektual yang terdiri dari pengetahuan, pemahaman, aplikasi, analitis, sintetis dan evaluasi.
b. Ranah Afektif
Ranah afektif berkenaan dengan sikap yang terdiri dari lima aspek yaitu penerimaan, jawaban atau reaksi, penilaian, organisasi, dan internalisasi.
c. Ranah Psikomotorik
Ranah psikomotorik berkenaan dengan hasil belajar keterampilan dan kemampuan bertindak.
Ketiga ranah tersebut merupakan objek penilaian terhadap hasil belajar. Di antara ketiga ranah tersebut, ranah kognitif merupakan ranah yang paling banyak digunakan oleh guru di sekolah karena berkaitan dengan kemampuan siswa dalam menguasai isi bahan pelajaran. Adapun objek penilaian terhadap hasil belajar dalam penelitian ini adalah ranah kognitif. Penilaian pada ranah kognitif tersebut dilihat dari penilaian terhadap kemampuan siswa dalam
19
mengerjakan soal yang diberikan oleh guru dan diwujudkan dalam bentuk angka, huruf, atau kata-kata yang menggambarkan bukti keberhasilan seseorang dalam menerima suatu pembelajaran. Hasil dapat diketahui dari evaluasi yang dilakukan guru.
Ranah kognitif terdiri dari enam jenis perilaku (Bloom, dkk dalam Aunurrahman, 2012: 49) yaitu pengetahuan, pemahaman, penerapan, analisis, sintesis, dan evaluasi.
a. Pengetahuan, mencakup kemampuan ingatan tentang hal-hal yang telah dipelajari dan tersimpan di dalam ingatan. Pengetahuan tersebut dapat berkenaan dengan fakta, peristiwa, pengertian, kaidah, teori, prinsip, atau metode.
b. Pemahaman, mencakup kemampuan menangkap sari dan makna hal-hal yang dipelajari.
c. Penerapan, mencakup kemampuan menerapkan metode, kaidah untuk menanggapi masalah yang nyata dan baru. Perilaku ini misalnya tampak dalam kemampuan menggunakan prinsip.
d. Analisis, mencakup kemampuan merinci suatu kesatuan ke dalam bagian-bagian sehingga struktur keseluruhan dapat dipahami dengan baik.
e. Sintesis, mencakup kemampuan membentuk suatu pola baru, misalnya tampak di dalam kemampuan menyusun suatu program kerja.
20
f. Evaluasi, mencakup kemampuan membentuk pendapat tentang beberapa hal berdasarkan kriteria tertentu. Sebagai contoh kemampuan menilai hasil karangan.
Dari keenam jenis perilaku tersebut merupakan objek penilaian terhadap ranah kognitif. Dari keenam jenis perilaku dalam penelitian ini akan digunakan tiga jenis perilaku, yaitu: pemahaman, penerapan, dan analisis. Jadi dapat disimpulkan hasil belajar adalah suatu bukti keberhasilan (mampu memahami, menerapkan, dan menganalisis materi pembelajaran) usaha siswa yang dicapai melalui proses atau kegiatan pembelajaran.
2. Keaktifan Siswa
Keaktifan adalah kegiatan yang bersifat fisik maupun mental, yaitu berbuat dan berfikir sebagai suatu rangkaian yang tidak dapat dipisahkan (Sardiman, 2008).
Belajar diperlukan aktivitas sebab pada prinsipnya belajar adalah berbuat. Berbuat untuk mengubah tingkah laku, jadi melakukan kegiatan (Sardiman, 2008: 95). Sardiman (2008: 101) kembali menjelaskan kegiatan siswa dapat digolongkan menjadi visual
activities, oral activities, listening activities, writing activities, drawing
activities, motor activities, mental activities, dan emotional activities.
a. Visual activities, kegiatan yang termasuk di dalamnya misalnya, membaca, memerhatikan gambar demonstrasi, percobaan, perkerjaan orang lain.
21
b. Oral activities, kegiatan yang temasuk di dalamnya seperti: menyatakan, merumuskan, bertanya, memberi saran, mengeluarkan pendapat, mengadakan wawancara, diskusi, interupsi.
c. Listening activities, kegiatan yang termasuk di dalamnya sebagai contoh mendengarkan: uraian, percakapan, diskusi, musik, pidato. d. Writing activities, kegiatan yang termasuk di dalamnya seperti
misalnya menulis cerita, karangan, laporan, angket, menyalin. e. Drawing activities, kegiatan yang termasuk di dalamnya misalnya:
menggambar, membuat grafik, peta, diagram.
f. Motor activities, kegiatan yang termasuk di dalamnya antara lain: melakukan percobaan, membuat kontruksi, model mereparasi, bermain, berkebun, berternak.
g. Mental activities, kegiatan yang termasuk di dalamnya sebagai contoh misalnya: menanggapi, mengingat, memecahkan soal, menganalisis, melihat hubungan, mengambil keputusan.
h. Emotional activities, kegiatan yang termasuk di dalamnya seperti misalnya, menaruh minat, merasa bosan, gembira, bersemangat, bergairah, berani, tenang, gugup.
Klasifikasi aktivitas di atas, menunjukkan bahwa aktivitas di sekolah cukup kompleks dan bervariasi. Kalau berbagai macam kegiatan tersebut dapat diciptakan di sekolah, tentu sekolah-sekolah akan lebih dinamis, tidak membosankan dan benar-benar menjadi pusat aktivitas belajar yang maksimal dan bahkan akan
22
memperlancar peranannya sebagai pusat dan transformasi kebudayaan.
Menurut (Aunurrahman, 2012 : 119) keaktifan anak dalam belajar merupakan persoalan penting dan mendasar dan harus dipahami, disadari dan dikembangkan oleh setiap guru di dalam proses pembelajaran. Demikian pula berarti harus dapat diterapkan oleh siswa dalam setiap bentuk kegiatan belajar. Aunurahman menambahkan keaktifan belajar ditandai oleh adanya keterlibatan secara optimal, baik intelektual, emosional dan fisik juga dibutuhkan.
Siswa tidak hanya sekedar aktif mendengarkan, mengamati, dan mengikuti, akan tetapi terlibat langsung di dalam melaksanakan suatu percobaan, peragaan atau mendemonstrasikan sesuatu. Dengan keterlibatan langsung berarti siswa aktif mengalami dan melakukan proses belajar sendiri. Untuk dapat lebih cepat berhasil dalam belajar perlu aktifitas yang tinggi, sehingga dengan sedikit petunjuk dan bantuan yang diperlukan dari guru, siswa dapat menyelesaikan masalah dan selebihnya berusaha dengan menggunakan akal budi dan pengalamnnya sendiri. Dari beberapa pendapat di atas dapat disimpulkan keaktifan siswa adalah kegiatan-kegiatan yang dilakukan siswa dalam proses belajar yang terkait dengan aktivitas fisik maupun mental (misalnya: berdiskusi, bertanya, mengemukakan mendapat, menjawab pertanyaan, mendengarkan, serius dalam memecahkan masalah).
23
Penilaian terhadap keaktifan siswa dalam penelitian ini adalah keaktifan siswa mengikuti pembelajaran matematika menggunakan
GeoGebra, keaktifan siswa berinteraksi dengan guru, keaktifan siswa
berinteraksi dengan siswa lain, keaktifan siswa dalam mengerjakan soal latihan menggunakan GeoGebra, kemandirian siswa dalam belajar matematika, dan partisipasi siswa dalam pembelajaran.
C. Garis-Garis Sejajar
Dua garis dikatakan sejajar bila dan hanya bila kedua garis tidak memiliki titik yang berserikat.
Sudut adalah gabungan dua segmen garis dengan titik ujung yang sama. Garis adalah deretan titik-titik (bisa tak terhingga jumlahnya) yang
saling berdekatan.
Dua garis dikatakan berpotongan bila dan hanya bila kedua garis memiliki minimal satu titik yang berserikat.
1. Sifat-Sifat Garis Sejajar
Untuk mempelajari sifat-sifat garis sejajar, digunakan pernyataan-pernyataan yang telah diakui kebenarannya tanpa perlu pembuktian, yang disebut aksioma. Aksioma-aksioma itu merupakan dasar untuk pembuktian sifat-sifat garis sejajar.
a. Aksioma 1
Melalui dua buah titik yang berbeda dapat dibuat tepat satu garis lurus. Perhatikan gambar 2.5 di bawah ini. Melalui titik A dan titik B dapat dibuat hanya satu garis lurus yaitu garis a.
24
A B a
a
b P
Gambar 2.6 Dua Garis Sejajar
b. Aksioma 2
Melalui sebuah titik di luar suatu garis hanya dapat dibuat tepat satu garis yang sejajar dengan garis tersebut. Perhatikan gambar 2.6 di bawah ini. Melalui titik P di luar garis a, hanya dapat dibuat satu garis yang sejajar dengan garis a yaitu garis b.
c. Teorema 1
Jika sebuah garis memotong salah satu dari dua garis yang sejajar, maka garis itu juga akan memotong garis yang kedua. d. Teorema 2
Jika sebuah garis sejajar dengan dua garis lainnya, maka ketiga garis itu sejajar. Perhatikan gambar 2.7 di bawah ini. Garis a sejajar garis c dan garis b sejajar garis c dengan demikian garis a sejajar garis b.
Gambar 2.5 Garis Lurus
a b
c
25 2 3 4 1 2 4 3 m k l ● Θ Θ ●
2. Sudut-Sudut yang Terjadi jika Dua Garis Sejajar Dipotong oleh Garis Lain
Perhatikan gambar 2.8. Garis k sejajar garis l dipotong oleh garis m di titik A dan B, maka akan terjadi sudut-sudut berikut.
a. Sudut-sudut Sehadap
Perhatikan gambar 2.8. Sudut dan sudut menghadap ke arah yang sama, yaitu arah kiri atas. Sudut-sudut dengan disebut sudut-sudut sehadap. Sudut-sudut sehadap lainnya adalah:
dengan dengan dengan
Sudut-sudut sehadap dapat ditunjukkan pada gambar-gambar sederhana berikut ini
1 A
B
Gambar 2.8 Garis Transfersal
26 ●
● Θ
Θ
Pada gambar 2.9 di atas, yang diberikan tanda sama merupakan sudut-sudut sehadap. Ternyata sudut-sudut sehadap selalu dalam bentuk huruf F.
b. Sudut-sudut Dalam Berseberangan
Perhatikan gambar 2.8. Sudut dan sudut terletak sebelah menyebelah terhadap garis m, dan berada di bagian dalam antara garis k dan l. Sudut-sudut seperti dengan disebut sudut-sudut dalam berseberangan. Sudut dalam berseberangan lainnya adalah sudut dengan sudut .
Sudut-sudut dalam berseberangan dapat ditunjukkan pada gambar-gambar sederhana berikut ini :
Pada gambar 2.10 di atas, yang diberi tanda sama merupakan sudut-sudut dalam berseberangan. Ternyata sudut-sudut dalam berseberangan selalu dalam bentuk huruf Z atau N.
c. Sudut-sudut Luar Berseberangan
Perhatikan gambar 2.4. Sudut dan sudut terletak sebelah menyebelah garis m, dan berada di bagian luar garis k dan l. Sudut-sudut seperti dengan disebut sudut-sudut luar
27
berseberangan. Sudut-sudut luar berseberangan lainnya adalah sudut dan sudut .
d. Sudut-sudut Dalam Sepihak
Perhatikan gambar 2.8. Sudut dan sudut terletak pada pihak yang sama (di atas) terhadap garis m dan terletak di bagian dalam antara garis k dan l. Sudut-sudut seperti dengan disebut dengan sudut-sudut dalam sepihak. Sudut-sudut dalam sepihak lainnya adalah sudut dengan sudut .
e. Sudut-sudut Luar Sepihak
Perhatikan gambar 2.8. Sudut dan sudut terletak pada pihak yang sama (di atas) terhadap garis m, dan terletak dibagian luar antara garis k dan l. Sudut-sudut seperti dengan disebut sudut-sudut luar sepihak. Sudut-sudut luar sepihak lainnya adalah sudut dengan sudut .
3. Hubungan Sudut-Sudut pada Dua Garis Sejajar a. Sudut-Sudut Sehadap
Teorema 3
Jika dua buah garis sejajar dipotong oleh garis lain, maka sudut-sudut yang sehadap sama besar.
b. Sudut Dalam Berseberangan Teorema 4
Jika dua buah garis sejajar dipotong oleh garis lain, maka sudut-sudut dalam berseberangan sama besar.
28 a b c 1 2 3 4 1 2 3 4 A B
Diketahui : a // b dipotong oleh garis c (lihar gambar 2.11) Buktikan : besar !
Bukti :
(Sehadap)
(Bertolak belakang) Jadi, besar .
c. Sudut Luar Berseberangan Teorema 5
Jika dua buah garis sejajar dipotong oleh garis lain, maka sudut-sudut luar berseberangan sama besar.
Diketahui : a // b dipotong oleh garis c (lihar gambar 2.11) Buktikan : besar !
Bukti :
(Sehadap)
(Bertolak belakang) Jadi, besar
29 d. Sudut-sudut Dalam Sepihak
Teorema 6
Jika dua buah garis sejajar dipotong oleh garis lain, maka jumlah besar sudut-sudut dalam sepihak adalah .
Diketahui : a // b dipotong oleh garis c (lihat gambar 2.11) Buktikan : besar
Bukti :
(Berpelurus)
(Sehadap)
Jadi,
Sudut dalam sepihak yang lain adalah . e. Sudut-sudut Luar Sepihak
Teorema 7
Jika dua buah garis sejajar dipotong oleh garis lain, maka jumlah besar sudut-sudut luar sepihak adalah .
Diketahui : a // b dipotong oleh garis c (lihar gambar 2.11) Buktikan : besar
Bukti :
(Berpelurus)
(Sehadap)
Jadi,
30 D. Penelitian yang Relevan
Penelitian ini berdasarkan pada masalah yang dilihat atau diamati oleh peneliti melalui proses wawancara dan observasi. Masalah pada sekolah yang akan diteliti yaitu SMP Charitas 01 Belitang adalah keaktifan siswa yang masih kurang dan hasil belajar matematika siswa yang kurang memuaskan, terutama di kelas VII.
Untuk mengatasi masalah tersebut peneliti mencoba memodifikasi proses pembelajaran yaitu menggunakan media pembelajaran program
GeoGebra. Laboratorium komputer di SMP Charitas 01 Belitang cukup
memadahi untuk digunakan dan sebagian besar siswa yang bersekolah di SMP Charitas 01 Belitang mempunyai laptop untuk digunakan sebagai media pembelajaran. Sehingga, para siswa dapat belajar matematika dengan menggunakan program GeoGebra. Menurut para ahli yang telah dibahas pada subbab sebelumnya media pembelajaran program GeoGebra dapat memberikan efek yang baik terhadap keaktifan siswa dan hasil belajar matematika siswa.
Penelitian akan dilakukan pada kelas VIIA pada materi garis-garis sejajar. Pembelajaran akan menggunakan media pembelajaran program
GeoGebra yang belum pernah digunakan sebelumnya pada kelas ini.
Siswa akan menjalankan program GeoGebra untuk mempelajari materi garis-garis sejajar dengan bantuan guru. Program GeoGebra dipilih karena dapat membantu siswa dalam memahami sudut dan garis-garis sejajar. Dengan visualisasi menggunakan program GeoGebra siswa akan lebih
31
mudah memahami dan mempelajari garis-garis sejajar dan hubungan antar sudut dalam garis-garis sejajar. Penelitian dirancang sedemikian agar dapat dianalisis apakah pembelajaran menggunakan media GeoGebra
memberikan efek yang baik.
Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui apakah pembelajaran menggunakan GeoGebra memberikan efek yang baik terhadap keaktifan siswa dan hasil belajar matematika siswa. Setelah penelitian ini berhasil dalam arti kata pembelajaran menggunakan
GeoGebra dapat meningkatkan keaktifan siswa dan hasil belajar
matematika siswa maka penelitian ini akan sangat bermanfaat terutama bagi sekolah. Guru dapat menggunakan program GeoGebra untuk materi yang sama pada tahun ajaran berikutnya dalam rangka memperbaiki kualitas pembelajaran.
32 BAB III
METODE PENELITIAN
A. Jenis Penelitian
Penelitian ini menunjukkan efektivitas pembelajaran menggunakan
GeoGebra di kelas VIIA SMP Charitas 01 Belitang. Jenis penelitian ini
adalah penelitian deskriptif kuantitatif. Menurut Etta Mamang, Sangadji, dan Sopiah (2010:26) penelitian kuantitatif adalah penelitian yang datanya dinyatakan dalam angka dan dianalisis dengan teknik statistik. Sedangkan penelitian deskriptif adalah penelitian yang bermaksud membuat deskripsi mengenai situasi-situasi atau kejadian-kejadian (Sumadi Suryabrata, 2010: 76).
Dalam penelitian ini jenis penelitian kuantitatif untuk melihat hasil belajar siswa dan keaktifan belajar matematika siswa. Sedangkan jenis penelitian deskriptif untuk melihat hasil pengamatan keaktifan siswa dan analisis hasil belajar.
B. Tempat dan Waktu Penelitian 1. Waktu
Penelitian ini dilakukan sebanyak 3 pertemuan mulai tanggal 1 Mei 2015 sampai dengan 15 Mei 2015.
2. Tempat
Penelitian ini dilaksanakan di kelas VIIA SMP Charitas 01 Belitang yang terletak di Kecamatan Belitang Kabupaten OKU Timur Propinsi Sumatera Selatan.
33 C. Subjek Penelitian
Subjek penelitian adalah siswa kelas VIIA SMP Charitas 01 Belitang tahun pelajaran 2014/2015. SMP Charitas 01 Belitang bukan merupakan salah satu SMP favorit yang ada di Kecamatan Belitang. Banyak siswa dari SMP Charitas 01 Belitang yang berasal dari desa disekitar Kecamatan Belitang. Untuk masuk SMP Charitas 01 Belitang tidak dilakukan tes ujian masuk atau seleksi berdasarkan NEM (Nilai Ebtanas Murni).
D. Objek Penelitian
Objek penelitian ini adalah efektivitas pembelajaran menggunakan
GeoGebra ditinjau dari hasil belajar dan keaktifan siswa.
E. Bentuk Data
1. Hasil Belajar Siswa
Hasil belajar siswa berupa jawaban yang diberikan siswa pada tes akhir terhadap soal-soal tentang garis-garis sejajar. Hasil belajar ini berupa tes akhir dari pembelajaran menggunakan
GeoGebra.
2. Keaktifan Siswa
Keaktifan siswa dinilai oleh observer dengan menggunakan lembar pengamatan keaktifan siswa. Lembar pengamatan keaktifan siswa berupa lembar yang berisikan beberapa pernyataan untuk melihat aktifitas siswa saat proses pembelajaran. Lembar pengamatan
34
keaktifan siswa akan dilakukan pengamatan oleh observer di kelas setiap proses pembelajaran menggunakan GeoGebra.
F. Instrumen Pembelajaran
Rencana pelaksanaan pembelajaran atau RPP dibuat berdasarkan pembelajaran matematika menggunakan GeoGebra sebagai alat bantu dalam memahami pelajaran. RPP pada pembelajaran menggunakan
GeoGebra berdasarkan pada pendidikan berkarakter sesuai kurikulum
KTSP 2006 hanya saja menggunakan GeoGebra. Saat pembelajaran berlangsung digunakan program GeoGebra untuk menjelaskan dan memahami garis-garis sejajar.
Implikasi prisnsip keaktifan atau aktifitas bagi guru di dalam proses pembelajaran adalah (Aunurrahman, 2012 :120-121) :
1) Memberi kesempatan, peluang seluas-luasnya kepada siswa untuk berkreativitas dalam proses belajarnya.
2) Memberi kesempatan melakukan pengamatan, penyelidikan, atau inkuiri dan eksperimen.
3) Memberi tugas individual dan kelompok melalui kontrol guru. 4) Memberikan pujian verbal dan non verbal terhadap siswa yang
memberikan respons terhadap pertanyaan-pertanyaan yang diajukan. 5) Menggunakan multi metode dan multi media di dalam pembelajaran. Standar Kompetensi: 5. Memahami hubungan garis dengan garis, garis dengan sudut, sudut dengan sudut, serta menentukan ukurannya.
35
Kompetensi Dasar: 5.2. Memahami sifat-sifat sudut yang terbentuk jika dua garis berpotongan atau dua garis sejajar berpotongan dengan garis lain.
Pokok Bahasan: Sudut dan Garis-Garis Sejajar Sub Pokok Bahasan: Garis-Garis Sejajar
Indikator: 1. Menggunakan sifat-sifat garis sejajar.
2. Menentukan sudut-sudut yang terjadi jika dua garis sejajar dipotong oleh garis lain.
3. Menentukan hubungan sudut-sudut pada dua garis sejajar. 4. Menggunakan teorema sudut pada pada dua garis sejajar. 5. Menghitung besar sudut.
Adapun instrumen pembelajaran lengkap dapat dilihat pada Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP), pada lampiran B1.
G. Persiapan Penelitian
Sebelum melaksanakan penelitian, peneliti melakukan wawancara kepada guru matematika di SMP Charitas 01 Belitang. Wawancara dilakukan untuk mengetahui kesulitan siswa. Jika kesulitan siswa bergeser atau ada kesulitan lain maka program dapat dimodifikasi disesuaikan dengan kesulitan siswa. Setelah melakukan wawancara maka dapat diambil kesimpulan bahwa kesulitan siswa tidak bergeser dari program yang sudah disiapkan.
Peneliti melakukan observasi saat guru mengajar di kelas, ini dilakukan untuk meminimalisir pergantian guru saat dilakukan penelitian.
36
Observasi dilakukan pada hari Jumat, 8 Mei 2015 di kelas VIIA; Jumat, 8 Mei 2015 di kelas VIIB; dan Senin, 11 Mei 2015 di kelas VIIA. Dari observasi di dapat guru mengajar dengan metode ceramah. Media yang digunakan guru hanya papan tulis, guru membuat gambar di papan tulis dengan menggunakan penggaris yang tersedia, saat memberikan latihan soal, soal dibacakan oleh guru dan siswa mencatat, dan diakhir pembelajaran siswa diberikan beberapa PR (pekerjaan rumah).
Selain melakukan wawancara dengan guru matematika dan melakukan observasi saat guru matematika mengajar, dilakukan juga observasi di laboratorium komputer di SMP Charitas 01 Belitang dan mendata siswa yang memiliki laptop di kelas VIIA. Dari laboratorium komputer didapat 15 komputer, 9 komputer dapat digunakan dan 6 komputer tidak dapat digunakan. Dari kelas VIIA 6 siswa yang memiliki laptop dan dapat digunakan pada saat penelitian berlangsung. Total komputer yang dapat digunakan adalah 15 komputer. Hal ini menyebabkan perubahan Rancangan Pelaksanaan Pembelajaran (RPP). Siswa menjadi berkelompok, setiap kelompok terdiri dari dua orang yang memegang satu komputer atau laptop. Setelah RPP direvisi maka RPP dikonsultasikan ke guru matematika. Selain konsultasi RPP, tes hasil belajar juga dikonsultasikan. Guru matematika SMP Charitas 01 Belitang setuju dengan RPP dan tes hasil belajar dengan yang telah dirancang.
37 H. Keabsahan Data
Di dalam penelitian maka data mempunyai kedudukan yang paling tinggi, karena data merupakan penggambaran variabel yang diteliti, dan berfungsi sebagai alat pembuktian hipotesis. Oleh karena itu benar tidaknya data, sangat menentukan bermutu tidaknya hasil penelitian. Sedangkan benar tidaknya data, tergantung dari baik tidaknya instrumen pengumpulan data. Instrumen yang baik harus memenuhi dua persyaratan penting yaitu valid dan reabel (Suharsimi Arikunto, 1989: 135).
1. Validitas
Validitas adalah suatu ukuran yang menunjukkan tingkat-tingkat kevalidan atau kesahihan suatu instrumen. Suatu instrumen yang valid atau sahih mempunyai validitas tinggi. Sebaliknya instrumen yang kurang valid berarti memiliki validitas rendah (Suharsimi Arikunto, 1989:136). Dalam menentukan validitas suatu instrumen semisal tes hasil belajar matematika bentuk uraian digunakan rumus korelasi
product moment dengan angka besar yaitu:
∑ ∑ ∑
√[ ∑ ∑ ][ ∑ ∑ ]
Keterangan:
= korelasi product moment soal ke-i
n = jumlah siswa
= skor soal ke-i dari siswa ke-j = skor total siswa ke-j
38
Selanjutnya hasil Rxy dibandingkan dengan product
moment dengan = 5%, jika maka alat ukur dinyatakan valid. Sebuah istrumen dikatakan valid apabila dapat mengungkap data dari variabel yang diteliti secara tepat (Suharsimi Arikunto, 2009 :136). 2. Reabilitas
Reabilitas menunjuk pada satu pengertian bahwa sesuatu instrumen cukup dapat dipercaya untuk digunakan sebagai alat pengumpul data karena instrumen tersebut sudah baik (Suharsimi Arikunto, 1989:142). Reliabilitas dari instrumen menunjukkan bahwa instrumen tersebut layak digunakan oleh siapa saja dan kapan saja. Untuk memperoleh reliabilitas soal prestasi belajar digunakan rumus Alpha Cronbach yaitu (Suharsimi Arikunto, 2009: 178-196):
[
] [
∑
]
Keterangan :
= Koefisien reabilitas instrumen k = banyaknya butir soal
∑ = Jumlah variansi skor butir soal ke-i = Variansi total
Nilai r yang diperoleh dari hasil perhitungan dengan rumus Alpha Cronbach diatas kemudian akan dibandingkan dengan harga r
39
tabel dengan
= 0,05 dan dk = N-2 (N = banyaknya siswa). Bila rhit > rtab maka instrumen dinyatakan reliabel. Langkah selanjutnya adalah menafsirkan angket koefisien reliabilitas. Sedangkan untuk mengetahui kriteria berpedoman pada penggolongan berikut (Suharsimi Arikunto, 2009: 245):Antara 0,800 sampai dengan 1,00 = sangat tinggi Antara 0,600 sampai dengan 0,800 = cukup Antara 0,400 sampai dengan 0,600 = agak rendah Antara 0,200 sampai dengan 0,400 = sangat rendah 3. Tingkat Kesukaran
Analisis tingkat kesukaran dimaksudkan untuk mengetahui apakah soal tergolong mudah atau sukar. Tingkat kesukaran adalah bilangan yang menunjukkan sukar atau mudahnya sesuatu soal. (Suharsimi Arikunto, 1989:207).
Tingkat kesukaran (TK) pada masing-masing butir soal dihitung dengan menggunakan rumus (Asep Jihad dan Abdul Haris, 2013: 182):
Keterangan:
TK = Tingkat kesukaran
= Jumlah skor kelompok atas (28%) = Jumlah skor kelompok bawah (28%) n = Jumlah siswa kelompok atas dan
40
maks = skor maksimal soal yang bersangkutan Sementara kriteria interprestasi tingkat kesukaran digunakan pendapat Sudjana (1999:137, dalam Asep Jihad dan Abdul Haris, 2013: 182):
Tabel 3.1
Kriteria Tingkat Kesukaran Soal