Analisis dari aspek non finansial dilakukan untuk mengetahui sejauh mana usaha peternakan peternakan Perusahaan X yang terletak di Desa Gobang, Kecamatan Rumpin, Kabupaten Bogor, Jawa Barat layak untuk dilaksanakan. Aspek nonfinansial yang dikaji terdiri dari dari aspek pasar,
aspek teknis, aspek manajaemen, aspek hukum, aspek sosial, ekonomi, budaya dan aspek lingkungan.
Aspek Pasar
Pasar merupakan aspek yang penting karena akan menentukan keberlangsungan usaha peternakan ini dimasa yang akan datang.sehingga perusahaan dapat menentukan seberapa besar atau target yang akan diproduksi, aspek ini juga adalah salah satu aspek yang menjadi sumber pendapatan bagi perusahaan untuk melakukan kegiatan operasional.
1. Permintaan dan Penawaran
Berdasarkan analisis yang dilakukan diketahui bahwa permintaan lebih besar dari pada penawaran yang ada, menurut pemilik untuk permintaan dihari normal artinya permintaan yang tidak dipengaruhi oleh kondisi seperti hari besar atau hari besar sehingga mempengaruhi permintaan terhadap telur. untuk hari normal permintaan yang mencapai 4 ton perhari atau sekitar 267 peti telur dengan berat bersih adalah 15 kg. Telur di distribusikan kepada agen tetap perusahaan dengan minimal pengiriman 100 peti telur dalam sekali transaksi, daerah pengiriman adalah daerah Jabodetabek. Kondisi berbeda terjadi ketika memasuki hari besar atau hari libur permintaan telur bisa mencapai 5 sampai 6 ton per hari sehingga peluang pasar masih ada untuk dipenuhi, pemilik sendiri mengatakan bahwa dimasa datang konsumsi telur akan terus naik dikarenakan pendapatan masyarakat rata-rata meningkat, dan telur juga memiliki harga yang murah dibandingkan sumber protein hewani yang lain seperti daging ayam atau sapi, lebih efisien dalam pengolahan dan penyimpanan artinya konsumen tidak perlu pengolahan yang kompleks dalam mengolahnya untuk dikonsumsi. Meskipun perusahaan telah melakukan pengembangan dengan menambah produksi sebesar 16 923 ekor ayam sehingga dihasilkan sekitar 1 ton telur. Seluruh produksi habis terjual, perusahaan masih belum mampu memenuhi permintaan telur dari para konsumen atau agen penyalur sehingga dapat dikatakan bahwa menurut aspek pasar bahwa usaha ini dikatakan layak untuk dilaksanakan dan dikembangkan.
2. Pemasaran Output
Produk atau output perusahaan ini adalah telur, kotoran ayam, dan daging ayam afkir. Kotoran ayam dijual dalam bentuk karungan dengan berat sekitar 50 kg dengan harga Rp4 000 per karung, ayam afkir dijual dengan harga sekitar Rp30 000 per ekor ayam, kriteria dalam menjual ayam ini adalah melihat ketika ayam sudah turun produktifitasnya atau Hen day sekitar 60 sampai 70 persen atau biasanya umur ayam mencapai 70 minggu. Telur adalah produk utama dari usaha ini harga telur sekitar 16 000 per kilogram. Pemasran dilakukan dengan cara menelepon kepada farm minimal satu hari sebelum produk dikirim, produk berupa telur utuh dalam peti kayu dimuat ke dalam mobil truk diikat dengan rapi dan dikirim, biaya pengirirman atau transportasi ditanggung oleh peternakan sehingga konsumen atau agen penyalur hanya menunggu di tempat atau toko miliknya, perusahaan X sudah memiliki pelangan tetap atau saluran pemasaran yang tetap dan telah terjadi sistem bon artinya penjual atau
agen dapat menjual produk dengan melakukan pembayaran seteklah produk habis, strategi ini juga memperkuat saluran pemasaran perusahaan X sehingga aspek pemasaran layak.
Berdasarkan hasil pengamatan yang dilakukan analisis aspek pasar yang terdiri dari permintaan, penawaran dan pemasaran yang dilakukan oleh Perusahaan X adalah layak untuk dilaksanakan. Menurut Jumingan (2009) salah satu indikator usaha dikatakan layak secara aspek pasar adalah terdapat permintaan dari produk yang dihasilkan. Permintaan terhadap telur yang dihasilkan oleh Perusahaan X masih belum dapat dipenuhi atau masih banyak. Pemasaran produk telur ini sudah memiliki pelanggan tetap dan strategi pemasaran yang baik sehingga pemasaran dapat dikatakan layak.
Aspek Teknis
1. Lokasi peternakan dan kandang
Lokasi peternakan adalah aspek penting karena jika lahan atau lokasi tidak layak maka usaha tidak dapat dilaksanakan dengan baik, lokasi usaha yang baik bagi peternakan adalah jauh dari pemukiman, masyarakat karena akan terkena dampak negatif dari usaha peternakan usaha ini seperti bau dan limbah yang dihasilkan. Lokasi juga harus mempunyai sumber air bersih yang cukup karena air adalah hal penting yang akan mendukung kegiatan budidaya dan operasional peternakan, akses transportasi yang baik dan jalan yang dapat dilalui oleh kendaran sehingga proses pengiriman dapat berjalan dengan baik kondisi jalan yang baik pula akan menentukan kulaiatas telur seperti persentase telur yang pecah yang diakibatkan jalan yang kurang baik. Jaringan listrik yang memadai untuk melaksanakan kegiatan usaha peternakan yang digunakan untuk mesin, penerangan, dan mempermudah proses kegiatan dimalam hari.
Usaha peternakan ayam ras petelur perusahaan X terletak ± 300 meter dari jalan raya dan pemukiman warga tidak terlalu padat atau belum ada pemukiman yang berada sekitar peternakan, lokasi ini dipilih dengan pertimbangan agar usaha dapat berjalan dengan baik dengan aman dalam jangka waktu yang cukup lama, dan lokasi tersebut terhindar dari kebisingan akibat lalu lintas kendaraan sehingga ayam akan dapat tenang dalam proses bertelur.
Akses jalan dari kandang sampai jalan raya besar sudah cukup baik, walaupun belum dilapisi dengan aspal tapi sudah cukup aman bagi kendaraan untuk membawa telur dengan aman. Ketersedian sumber air sudah cukup baik terdapat dua sumber air yang digunakan yaitu sumber air sungai yang ditampung dalam tandon berukuran 10 000 liter air dan yang kedua bersumber dari sumur bor air yang digunakan ketika sumber air sungai kotor atau tidak layak digunakan. Pasokan listrik sudah mempunyai gardu listrik tersendiri yang difasilitasi oleh Perusahaan Listrik Negara (PLN) sehingga kebutuhan listrik sudah terpenuhi jika terjadi pemadaman listrik oleh PLN, Perusahaan X mempunyai sebuah Generator Set (Genset) untuk memenuhi ketika pemadaman terjadi. Luas peternakan Perusahaan X yang digunakan dalam penambahan 16 923 ekor ayam adalah 2 000 m2 digunakan untuk 4 kandang dengan ukuran 35 x 8 meter yang diisi 4200 lebih ekor ayam. Terdapat mess
tempat para pekerja beristirahat, gudang telur dan pakan yang terdiri dalam satu bangunan. Layout peternakan Perusahaan X dapat dilihat pada Gambar 3.
Keterangan
G : Gudang pakan dan telur T : Torem Penampungan air KL : Kandang Lama
KB : Kandang Baru
Gambar 3 Layout peternakan X
Kandang ayam pada Perusahaan X menggunakan atap dari asbes dengan kerangka yang terdiri dari kayu hutan berbentuk bulat dengan panjang rata-rata empat meter, sedangkan pondasinya terbuat dari bagunan tembok beton dengan tinggi 4 meter, di dalam kandang terdapat cage atau batre sebagai tempat ayam tinggal, ukuran sebuah kandang batre adalah 30x30 cm. Dalam satu kandang yang berukuran 35 x 8 meter terdapat 116 lebih batre yang diisi maksimal oleh 2 ekor ayam, batre terbuat dari bahan besi kawat sehingga kuat dan tahan lama, umur ekonomis kandang 10 tahun gambar kandang dapat dilihat pada Gambar 4. Bagian dasar kandang dibuat miring sehingga kotoran dapat turun dan tertampung pada selokan yang telah dibuat sehingga kotoran akan mudah dibersihkan dan akan lebih cepat kering. Lokasi kandang dibuat atau didesain agar matahari dapat masuk di pagi hari dan ayam tidak kepanasan disiang hari Dilihat dari lokasi perkandangan yang ada di Perusahaan X sudah sesuai dengan ketentuan perkandangan. Satu buah kandang dapat menampung sekitar 4200 lebih ekor ayam.
Gambar 4 Kandang batre atau lebih dikenal dengan cage 2. Bibit Ayam Layer
Bibit yang digunakan oleh Perusahaan X digunakan adalah jenis Hixex Brown yang dibeli dari beberapa perusahaan seperti Samsung, Malindo,
Ge nse t KL KL KL KL KL KL KL G KL KL KL KL KL KL KL KL KL KL K B K B K B K B Mess T
Sierad, dan Patriot. Jenis yang biasa digunakan adalah Hixex Brown karena dirasa lebih baik dalam kemampuan bertahan hidup karena tingkat kematian yang rendah sekitar 0.3 sampai 3 persen sebelum layer. Bibit atau layer yang digunakan biasanya berumur 18 minggu dan dalam penambahan ini tingkat kematian sekitar 10 persen. Dalam proses budidaya pemeliharaan ayam ini didasarkan pada pola produksi dengan umur produksi 52 minggu, yang dimulai dari 18 sampai 52, dengan puncak produksi mencapai 92 persen pada umur 23 sampai 42 minggu. 3. Pakan
Menejemen pemberian pakan haruslah sangat baik agar tidak ada pakan yang terbuang begitu saja, pemberian pakan disesuaikan dengan kebutuhan ayam untuk hidup dan bertelur, kelebihan atau kekurangan pakan yang diberikan akan berakibat pada Food Convertion Rate (FCR). Semakin tinggi maka ayam akan mengkonsumsi pakan lebih banyak sehingga biaya akan lebih banyak atau besar. Pakan yang diberikan adalah pakan dengan jenis starter yang diproduksi oleh PT Global, setiap umur ayam memiliki menejemen pemberian pakan yang berbeda, tabel menejemen pemberian pakan dapat dilihat pada Tabel 9.
Tabel 9 Proporsi jumlah pakan ayam per ekor per hari
Umur ayam layer (minggu) Jumlah Pakan (gram per ekor per hari) 18 sampai 23 23 sampai 40 40 sampai 70 110 116 115 Sumber : Perusahaan X ( 2015)
4. Obat-obatan dan Vaksin (OVD)
OVD digunakan untuk mencegah dan mengobati penyakit yang terjadi atau menyerang ayam sehingga mempengaruhi produkstifitas atau mengalami kematian jika tidak ditangani dan vitamin diberikan agar kondisi ayam tetap optimal karena kondisi alam yang terjadi seperti cuaca ekstrim. Obat-obatan yang digunakan biasanya diberikan pada ayam yang mengalami penyakit pernapasan dan pencernaan. Tingak kematian ayam yang diakibatkan penyakit sangat tinggi apalagi jika penyakit tersebut disebabkan oleh virus sehingga vaksinasi dilakukan apabila sudah terjadi tanda-tanda bahwa ayam mengalami inveksi virus seperti badan panas, lemas, atau tingkah laku yang tak wajar, selain vaksinasi tindakan pencegahan seperti sanitasi selalu dilakukan dalam persiapan kandang dan pembersihan kotoran jika sudah menumpuk. Vaksinasi yang dilakukan oleh Perusahaan X sudah terprogram artinya sudah terjadwal. Pemberian vaksin dilakukan dengan cara oral dan suntik, sedangkan pemberian obat dilakukan dengan mencampur dengan air atau pakan ayam.
5. Sarana dan Prasarana Penunjang Lainya
Sekam (rice hulls) adalah substrat yang digunakan untuk alas dari telur yang akan dikirim tidak hanya sekam biasanya yang dapat digunakan untuk menjadi alas tetapi serutan kayu juga dapat digunakan, mengingat keterbatasanya maka serutan kayu jarang digunakan. sekam juga mampu menyerap dan menahan suhu telur tidak terlalu berubah drastis dan
mampu menjadi penahan yang baik jika ada goncangan akibat transportasi. Sekam diperoleh dari pengempul yang mengirim sekam secara teratur. Peti telur terbuat dari kayu dengan berat sekitar tiga sampai empat kilogram, jika peti rusak atau tidak dapat digunakan maka akan membeli dari pengrajin peti kayu yang berada di sekitar peternakan dengan harga Rp3 000 per peti. Koran juga menjadi bahan penunjang karena digunakan untuk melapisi peti kayu sebelum diisi oleh sekam, biasanya koran bekas dibeli dari daerah tangerang dengan harga Rp3 000 per kilogram. Egg tray atau tempat penampungan telur yang terbuat dari bahan plastik adalah sarana penunjang lainya, alat ini berukuran 30 x 30 cm dengan isi berjumlah 30 butir telur ayam, harga satu buah egg tray Rp12 000 perbuah yang dibeli dari daerah tanggerang. Gambar Egg tray dan peti telur dapat dilihat pada Gambar 5.
A B
Gambar 5 Peti telur (a) dan egg tray (b) 6. Proses produksi
Proses produksi pada Perusahaan X dimulai sejak persiapan kandang, pemeliharaan, pemanenan, penyimpanan, dan pengiriman produk sampai diterima oleh pembeli.
a. Persiapan kandang
Persiapan kandang adalah tahap awal dalam kegiatan peternakan ayam petelur. Tahap ini dimulai dari proses pencucian kandang yang di dalamnya terdapat sanitasi dan disinveksi kandang, kegiatan ini dilakukan dengan mencuci setiap bagian kandang dengan menggunakan semprotan air sehingga kotoran dapat lepas dan hilang dari kandang sehingga kandang akan aman bagi ayam karena bibit penyakit sudah hilang, dapat dilihat pada Gambar 6. Disinveksi dilakukan dengan menggunakan cairan disinvektan, setelah kandang bersih dibiarkan beberapa hari lalu dilakukan pengapuran pada setiap bagian kandang, penggunaan kapur diharapkan dapat membunuh atau memutus rantai bibit penyakit yang mungkin dapat berkembang biak. Kegiatan yang dilakukan Perusahaan X adalah dengan melakukan pembersihan dengan cara menyapu terlebih dahulu seluruh bagian kandang sampai bahkan atap kandang juga dibersihkan, setelah bersih maka dilakukan penyemprotan dengan cairan disinveksi berupa cairan kimia atau dapat diganti dengan deterjen, semua bagian kandang disemprot dengan alat semprot bertekanan tinggi sehingga kotoran yang menempel mudah lepas dari kandang. Setelah dilakukan kegiatan ini kandang diistirahatkan dua sampai tiga hari, setelah diistirahatkan lalu kandang diteburi oleh kapur dengan tujuan memutuskan rantai bibit peyakit yang mungkin dapat berkembang biak,
kandang batre, lantai kandang, dan dasar kandang ditaburi kapur dan diistirahatkan dua minggu.
Gambar 6 Persiapan kandang b. Proses Pemeliharaan
Proses pemeliharaan ayam yang dilakukan di Perusahaan X adalah dimulai ketika ayam masuk kandang, ayam langsung diberi minum berupa cairan gula dan vitamin sehingga ayam tidak stres akibat perjalanan dan lingkungan yang baru, setelah ayam sudah nyaman maka esok hari pakan sudah dapat diberikan, pemberian pakan ditentukan berdasarkan bobot badan, umur ayam, dan hen day ayam, pemberian pakan diberikan dua kali dalam sehari yaitu pagi dan sore hari dengan persentase pemberian pakan pada sore hari lebih banyak yaitu 70 persen dan 30 persen untuk pagi hari, secara jelas dapat dilihat pada Tabel 10. Air minum yang diberiakan harus bersih dan sehat sehingga ayam akan bertumbuh dan berproduksi dengan maksimal, pemberian air minum pada ayam sama seperti pakan, tetapi pemberianya dilakukan dengan sistem add libitum atau sekenyangnya artinya ketersedian air akan selalu ada. Pada proses pemeliharaan akan terjadi kematian yang disebabkan berbagai faktor, penyakit yang disebabkan virus adalah penunjang tingkat kematian yang paling tinggi sehingga pemantauan setiap individu sering dilakukan, jika terdapat kelainan atau kondisi ayam yang tidak biasa seperti diam, lemas, atau suhu badan panas maka dokter hewan akan memeriksa kondisi dengan membawa sampel darah ke laboratorium dan akan diketahui penyebab dan cara penanggulangnya, pemberian vaksin dan obat.
Tabel 10 Proporsi pemberian pakan pada perusahaan X
No Jumlah pakan per ekor ayam (gr) Umur ayam (minggu) 1 2 3 115 116 110 18 sampai 23 23 sampai 40 40 sampai 68/70 Sumber : Perusahaan X (2015)
c. Proses Pemanenan dan Pengemasan
Ayam akan mulai bertelur ketika mulai memasuki minggu ke 18 sampai 20 ayam akan mulai bertelur peningkatan hen day ayam perhari 3 sampai 4 persen puncak produksi dicapai pada minggu ke 25 sampai 40 hen day dapat mecapai 92 persen dalam kondisi puncak produksi. Pemanenan telur dilakukan dengan cara manual oleh anak
kandang, dengan menempatkan telur pada egg tray, pemanenan dilakukan dua kali dalam sehari sekitar jam 10.00 dan jam 16.00. Berdasarkan analisis aspek teknis peternakan Perusahaan X dapat disimpulkan layak untuk dilaksanakan karena dianalisis dari beberapa aspek seperti lokasi yang cukup jauh dari lingkungan masyarakat, terdapat sumber air yang baik, akses transportasi, menejemen pakan dan OVD yang terprogram dengan baik, memiliki tenaga kerja yang sudah berpengalaman, dan secara keseluruhan proses kegiatan ini dilakukan dengan baik dan terencana dari awal sampai telur dapat dikirm kepada konsumen. Kegiatan pengemasan dilakukan dalam gudang, yang di dalamnya terdapat kegiatan sortasi dan grading, telur yang akan dikirim dimasukan ke dalam peti yang telag disediakan sebelumnya, telur yang dimasukan haruslah bersih dan utuh, jika ada telur yang kotor maka para pekerja akan memisahkan dan mencucinya dan apabila ada telur yang retak akan dipisahkan dan dijual dengan harga yang lebih murah atau digunakan untuk konsumsi para pekerja. Setelah telur dimasukan kedlam peti maka akan disusun dalam tumpukan telur dengan rapi. Kegiatan pengemasan dapat dilihat pada Gambar 7.
a. Peti telur b. Penimbangan telur c. Penyususan telur
Gambar 7 Proses pengemasan telur
Aspek Menejemen
Aspek menejemen penting dianalisis karena pada aspek ini akan terlihat bagaimana sistem menejemen yang digunakan dapat memperlancar kegiatan usaha yang akan mempermudah kegiatan usaha ini menjadi lebih terstruktur dengan baik, struktur organisasi adalah salah satu bentuk menejemen yang dimiliki oleh Perusahaan X, di dalam struktur organisasi ini terjabarkan mengenai tugas dan fungsi masing masing individu. Struktur organisasi dapat dilihat pada Gambar 8.
Gambar 8 Struktur organisasi perusahaan X
Pemilik Usaha
Kepala kandang
Sub Gudang Sub Pemeliharaan Sub Pengiriman Sub pembangunan Administrasi
Pemilik dibantu oleh seorang kepala kandang yang mempunyai tugas dalam melaksanakan kegiatan usaha dan bertanggung jawab terhadap hal yang terjadi di lapangan, dan menentukan juga keputusan yang akan diambil perusahaan, sehingga keberadaanya sangat diperlukan, kepala kandang dibantuk oleh bagian produksi, pendistribusian, pengemasan, dan bangunan. Terdapat bagian administrasi yang membantu pemilik dalam melakukan kegiatan admisnistrasi seperti menjawab telepon, masalah pembukuan, recording, dan mencatat biaya-biaya harian yang dibutuhkan.
Kepala kandang adalah bagian yang sangat penting sama seperti perusahaan posisi kepala kandang hampir sama seperti manajer dalam perusahaan besar, untuk deskripsi pekerjaan yang dilaksanakan adalah melakukan pengawasan terutama dalam produksi dan melaksanakan program yang ada seperti vaksin, pemberian pakan, dan pemeliharaan keseluruhan, kepala kandang dibantu oleh anak kandang yang bertugas dalam melakukan pemberian pakan dan melakukan pemanenan serta juga mengawasi jika ada ayam yang sakit sesuai dengan arahan atau panduan kepala kandang.
Pengemasan adalah kegiatan usaha yang penting diperhatikan dalam Perusahaan X terdapat satu kepala sub bagian pengemasan atau mandor gudang telur dan terdapat lima orang bagian pengemasan yang tugasnya mengemas telur ke dalam peti dengan rapi secara manual lalu membersihkan telur yang kotor serta melakukan kegiatan sortasi telur pecah. Bagian pengemasan juga mempunyai pekerjaan seperti menyiapkan peti telur yang dilapisi dengan koran dan sekam.
Pendistribusian adalah hal yang penting diperhatikan karena berhubungan dengan kualitas telur dan keamanan telur yang akan dibawa, terdapat dua orang supir yang tugasnya mengantar telur sampai tujuan, serta bagian ini juga membeli bahan atau alat yang dibutuhkan oleh kandang dalam menjalankan usahanya. Bagian bangunan adalah bagian yang tugasnya melakukan kegiatan seperti memperbaiki kandang yag rusak, membangun kandang, memperbaiki jalan. Jumlah pekerja bangunan tidak pasti artinya ketika perusahaan akan melakukan kegiatan maka akan ditentukan jumlah pekerja yang akan digunakan, status mereka adalah pekerja lepas harian.
Usaha peternakan Perusahaan X telah terdapat fungsi menejemen dan deskripsi pekerjaan yang jelas setiap individu, jumlah tenaga kerja yang ada adalah dua belas orang dengan masing masing jabatan serta deskripsi pekerjaan masing-masing, yang terdiri dari empat anak kandang, satu kepala kandang, satu mandor gudang pakan dan telur, satu sekertaris, satu supir, dan emapt orang karyawan gudang telur.
Aspek Hukum
Aspek hukum adalah mengenai tentang perijinan terhadap usaha yang telah didirikan, apakah usaha peternakan ini sudah memiliki ijin pembentukan usaha, serta ijin lainya yang bersangkutan dengan usaha peternakan. perusahaan X memang belum menentukan badan usaha terkait usaha yang telah dijalankan tetapi untuk ijin dari RT/RW dan ijin dari warga sekitar usaha peternakan ini sudah memilikinya, sehingga sudah hampir sepuluh tahun usaha ini tidak pernah terkendala atau mengalami ganguan dalam menjalankan usahanya. Usaha peternakan seharusnya memiliki betuk badan usaha yang jelas sehingga dapat dengan mudah mengurus ijin usaha atau ijin lainya dari dinas
terkait, dan jika sudah memiliki badan usaha maka dapat dipantau oleh pemerintah daerah atau dinas peternakan dalam melaksanakan kegiatan usaha peternakan ini, walaupun hanya ijin dari warga sekitar dan RT/RW tetap dikatakan layak karena usaha inipun sudah berlangsung sepuluh tahu lebih, hanya mungkin perlu ditambah ijin lain dari dinas terkait sehingga dalam pengembangan usaha nantinya tidak akan ada masalah yang timbul menganggu usaha ini.
Aspek Sosial, Ekonomi, dan Lingkungan
Aspek sosial, ekonomi, dan lingkungan adalah aspek yang menjadi
dampak akibat adanya usaha peternakan ini, apakah dampak negatif atau damapak positif. Usaha peternakan tidak akan pernah terlepas dari dampak negatif, hanya saja sebesar apakah damapak negatif yang diterima masyarakat sekitar dibandingkan dampak positifnya. masyarakat dapat menilai bahwa keberadaan perusahaan ini lebih banyak memberikan dampak positif kepada masyarakat baik dari aspek sosial, ekonomi, dan lingkungan.
Aspek sosial dan ekonomi yang berdampak terhadap masyarakat sekitar adalah bau kotoran ayam yang tercium, ini menggangu masyarakat tetapi karena sudah terbiasa masyarakat tidak terlalu mempermasalahkanya, kontribusi perusahaan terhadap sosial masyarakat berupa penyerapan tenaga kerja sebagai karyawan sehingga secara langsung juga meningkatkan pendapatan masyarakat sekitar kandang, dan dapat mengurangi pengangguran. Limbah yang dihasilkan oleh perusahaan memiliki nilai ekonomi, sehingga keberadaanya perlu diatur dengan baik sehingga menguntungkan, penanganan limbah dengan cara memasukanya kekarung adalah cara agar kotoran tidak menyebar dan memudahkan dalam pengangkutan, diharapkan pengaruh limbah dapat diminimalkan.
Analisis aspek sosial, ekononomi, dan lingkungan yang dilakukan di perusahaan X telah membuktikan bahwa dari adanya usaha peternakan ini dampak positif lebih besar diterima oleh masyarakat sekitar usaha ini