• Tidak ada hasil yang ditemukan

METODE PENELITIAN

Lokasi dan Waktu penelitian

Penelitian ini dilakukan di Perusahaan X yang merupakan peternakan ayam petelur yang berada di Desa Gobang, Kecamatan Rumpin, Kabupaten Bogor, Jawa Barat. Perusahaan X merupakan peternakan yang dimiliki oleh Bapak Aki. Pemilihan lokasi penelitian dilakukan dengan sengaja atau

purposive dengan pertimbanagan bahwa Perusahaan X melakukan kegiatan

produksi telur dalam jumlah yang besar dengan menggunakan kandang semi permanen. Jumlah yang besar mengakibatkan investasi yang besar. Kegiatan pengumpulan data dilakukan pada bulan Januari 2015 sampai dengan Februari 2015.

Jenis dan Sumber Data

Informasi data yang digunakan dalam penelitian ini menggunakan dua jenis sumber data yaitu sumber data primer dan sekunder, secara jelas dapat dilihat pada Tabel 8.

Tabel 8 Jenis dan sumber data

No Jenis Data Sumber Data

1 Data primer :Informasi tentang peternakan ayam petelur di Perusahaan X yang terdiri dari:

 Proses pelaksanaan Peternakan, keadaan pasar, struktur organisasi kandang dan dampak yang terjadi bagi lingkungan masyarakat sekitar

 Jumlah produksi telur per hari

 Biaya operasional ternak ayam petelur

 Biaya investasi yang dikeluarkan

 Umur ekonomis usaha

Pengamatan atau observasi langsung dan wawancara dengan kepala kandang dan pekerja Perusahaan X

2 Data sekunder : kontribusi usaha agribisnis terhadap PDB, stastistik peternakan seperti jumlah populasi, dan konsumsi rata-rata per kapita, dan proses pelaksanaan peternakan ayam petelur.

Badan Pusat Staistik (BPS), Survei Sosial Ekonomi Nasional, Dinas Peternakan dan perikananan kabupaten Bogor, Internet dan Studi literature dari penelitian terdahulu.

Metode Pengumpulan data

Metode yang digunakan dalam pengumpulan data adalah dengan teknik wawancara langsung, wawancara mendalam dan observasi. Teknik pengumpulan data primer dengan wawancara, sedangkan pengumpulan data sekunder dilakukan dengan cara studi literatur dan penjelajah informasi via internet. Pengambilan data dengan metode pengamatan langsung dilokasi

penelitian, yakni dengan wawancara langsung dengan pihak terkait yang berada di dalam dan diluar lingkungan peternakan serta penelitian terdahulu tentang kelayakan usaha dan pengembangan peternakan usaha ayam ras petelur. Selain itu juga data pendukung yang diperoleh dari buku-buku dari perpustakaan IPB, Instansi terkait dan media cetak dan internet

Metode Pengolahan Data

Metode pengolahan data yang digunakan dalah pengolahan data secara kuantitatif dan kualitatif sesuai dengan sifat data. Analisis data secara kualitatif dilakukan agar mendapatkan informasi gambaran peternakan ayam ras petelur secara deskrptif atau dengan cara mengintrepretasikan dari setiap aspek studi kelayakan yang terdiri dari aspek finansial dan aspek non finansial. Analisis deskriptif terhadap aspek nonfinansial berupa aspek pasar, aspek teknis, aspek menejemen, aspek hukum, dan aspek sosial ekonomi dan lingkungan sedangkan analisis kuantitatif adalah analisis yang digunakan untuk melakukan analisis terhadap kriteria kelayakan secara finansial yang terdiri dari analisis nilai bersih sekarang (Net Present Value atau NPV), tingkat pengembalian investasi (Internal Rate of Return atau IRR), Net Benefit Cost Ratio (Net B/C) dan masa pengembalian investasi (Payback Period atau PP), serta dilakukan juga analisis Switching value. Data yang diperoleh diolah dengan menggunakan komputer dengan program komputer Microsoft Excel 2013 dan kalkulator.

Analisis Kelayakan Aspek Non Finansial

Aspek non finanasial terdiri dari aspek pasar, aspek teknis, aspek menejemen, aspek hukun, dan aspek sosial lingkungan. Setiap aspek saling berpengaruh terhadap kelayak usaha peternakan ayam ras petelur ini, bila salah satu aspek hasilnya tidak layak maka perlu dilakukan evaluasi atau perbaikan sehingga usaha dapat dikatakan layak secara non finansial.

1. Aspek Pasar

Analisis aspek pasar dilakukan pada usaha ini yaitu untuk menilai seberapa besar potensi pasar yang ada untuk produk yang ditawarka, atau untuk melihat permintaan dan penawaran telur yang ada di, bagaimana melakukan pemasaran telur yang dihasilkan. Menurut Jumingan (2009) jika dari hasil penelitian pasar diperoleh kesimpulan tidak ada permintaan dari produk maupun output yang dihasilkan maka usaha tersebut dikatakan tidak layak karena diperkirakan tidak akan berhasil dimasa depan. Menurut Nurmalina et al. (2010) aspek pasar dan pemasaran dikatakan layak apabila strategi yang digunakan efektif dan efisien dalam mengatasi permasalahan terhadap komponen tersebut, sehingga dapat meningkatkan pangsa pasar yang dimiliki perusahaan. Sehingga aspek pasar dikatakan layak jika terdapat permintaan dari produk yaitu telur sehingga mengguntungkan maka dikatakan layak.

2. Aspek Teknis

Aspek teknis ini mencakup lokasi usaha, proses pelaksanaan usaha, serta tata letak. Menurut Jumingan (2009) penilaian aspek teknis dilihat dari lokasi usaha apakah sudah tepat, teknologi yang digunakan apakah sudah

sesuai, ketersediaan bahan baku sehingga usaha dapat berjalan secara berkelanjutan, proses budidaya yang sesuai dengan panduan, dan penggunaan mesin dan alat produksi apakah sudah sesuai. Dari proses budidaya adalah bagaimana kegiatan budidaya dari proses persiapan kandang sampai panen, menejemen budidaya yang di dalamnya terdapat pemberian pakan, OVD, dan pengendalian penyakit. dan pengawasan kualitas telur.

3. Aspek Hukum

Aspek hukum yang dikaji dalam penelitian ini terkait dengan izin dalam menjalankan usaha, bentuk badan usaha maupun sertifikat-sertifikat yang dimiliki oleh pihak Shagrila Farm. Menurut Nurmalina et al. (2010), aspek menejemen dikatakan layak apabila alokasi pengorganisasian sumber daya dapat berjalan dengan baik sesuai dengan kebutuhan serta implementasi pekerjaan yang dapat mendukung pencapaian tujuan dan target perusahaan. Aspek hukum dari suatu usaha sangat diperlukan dalam hal mempermudah dan memperlancar kegiatan usaha pada saat menjalin jaringan kerjasama dengan pihak lain. Jika terdapat ijin atau sertifikat yang dimiliki oleh maka usaha ini dikatakan layak berdasarkan aspek hukum.

4. Aspek Menejemen

Aspek menejemen pada penelitian ini lebih difokuskan pada sumber daya manusia yang akan mengelola usaha peternakan. Aspek menejemen yang dikaji terkait empat fungsi menejemen (perencanaan, pengorganisasian, pengarahan dan pengendalian), bentuk struktur organisasi, deskripsi jabatan, dan jumlah tenaga kerja yang digunakan. Nurmalina et al. (2010) menjelaskan aspek menejemen dalam operasi harus dapat dikelola dengan baik, seperti struktur organisasi bisnis, deskripsi masing-masing jabatan, jumlah tenaga kerja yang digunakan dan penentuan anggota direksi dan tenaga-tenaga inti. Jika sudah terdapat fungsi menejemen, dan dapat melakukan pengelolaan dan pembagian kerja yang jelas maka secara menejemen usaha layak untuk dilaksanakan.

5. Aspek Sosial, Ekonomi, dan Lingkungan

Perlunya analisis dampak lingkungan dilakukan karena dapat memberikan gambaran kepada pelaku usaha tentang dampak yang dapat ditimbulkan suatu usaha terhadap lingkungan jika dijalankan. Menurut Nurmalina et al. (2010), aspek ini mempelajari bagaimana pengaruh bisnis terhadap lingkungan, apakah dengan adanya bisnis menciptakan lingkungan yang semakin baik atau semakin rusak.. Aspek ini menunjang keberlangsungan suatu bisnis, suatu pengembangan usaha dikatakan layak apabila membawa manfaat atau dampak positif lebih besar dari pada dampak negatif bagi lingkungan sekitar usaha. Aspek sosial yang dikaji dalam penelitian ini terkait dengan dampak yang ditimbulkan terhadap lingkungan sosial sekitar kegiatan usaha, seperti perbaikan mutu hidup masyarakat, ketersediaan lapangan kerja baru, peningkatan keahlian masayarakt dalam budidaya ikan hias, serta dapat mengurangi pengangguran. Menurut Nurmalina et al. (2010), dalam aspek sosial, ekonomi dan budaya yang akan dinilai adalah seberapa besar bisnis mempunyai dampak sosial, ekonomi dan budaya terhadap masyarakat

keseluruhan. Suatu bisnis dapat diterima oleh masyarakat sekitar apabila secara sosial, budaya dan ekonomi memberikan kesejahteraan. Apabila dapat melakukan pengelolaan lingkungan yang baik seperti pengolahan limbah sehingga tidak menjadi damapak negatif yang merugikan lingkungan terutama bagi masyarakat sekitar, dan dapat meningkatakan kesehjateraan masyarakat sekitar dengan menyerap tenaga kerja maka usaha peternakan dikatakan layak untuk dilaksanakan.

Analisis Kelayakan Aspek Finansial

Aspek finansial mengkaji tentang perhitungan berapa jumlah dana yang dibutuhkan untuk membangun dan kemudian mengoperasikan kegiatan bisnis. Aspek finansial bertujuan untuk mengetahui apakah usaha yang dijalankan memiliki manfaat. Keadaan tersebut membuat pelaku usaha perlu mengkaji rencana investasi secara tepat agar modal yang ada dikeluarkan sesuai dengan rencana. Pelaku usaha harus mengetahui atau dapat memprediksi keuntungan proyek yang dijalankan serta berapa lama kemampuan bisnis yang akan dijalankan dapat mengembalikan modal yang telah diinvestasikan. Analisis aspek finansial pada peternakan ayam petelur ini adalah kelayakan investasi yang meliputi Net Present Value (NPV), Net Benefit Cost Ratio (Net B/C),

Payback Period (PP) dan analisis Switching value untuk melihat kepekaannya

terhadap perubahan-perubahan yang terjadi dalam mempengaruhi kelayakan investasi.

1. Net Present Value (NPV)

Net Present Value (NPV) merupakan manfaat bersih yang diterima

perusahaan selama umur usaha pada tingkat diskonto tertentu. Suatu usaha dikatakan layak jika jumlah seluruh manfaat biaya yang diterima melebihi biaya yang dikeluarkan, atau jika NPV lebih besar dari pada nol. Nilai yang dihasilkan oleh perhitungan NPV adalah dalam satuan mata uang rupiah (Rp). Menurut Nurmalina et al. (2009), secara sistematis rumus yang digunakan dalam perhitungan NPV adalah sebagai berikut:

Keterangan :

Bt = Manfaat (benefit) pada tahun ke-t Ct = Biaya (cost) pada tahun ke-t N = Tahun kegiatan (t=0,1,2,3,…,n) i = Tingkat discount rate (persen) = Discount factor (DF) pada tahun ke-t

Kriteria Penilaian :

 Jika NPV > 0, maka usaha tersebut menguntungkan dan layak dilaksanakan.

 Jika NPV = 0, maka usaha tersebut tidak untung dan tidak rugi, keputusan diserahkan pada pihak menejemen perusahaan.

 Jika NPV < 0, maka usaha tersebut merugikan dan tidak layak dilaksanakan.

2. Net Benefit Cost Ratio ( Net B/C)

Net benefit cost ratio (Net B/C) merupakan perbandingan antara manfaat

bersih yang bernilai positif dengan manfaat bersih yang bernilai negatif. Analisis ini bertujuan untuk mengetahui besarnya penerimaan dibanding dengan pengeluaran selama umur usaha. Usaha dikatakan layak apabila

Net B/C Ratio yang dihasilkan dalam pengembangan usaha tersebut lebih

besar dari satu. Menurut Nurmalina et al. (2010), secara matematis rumus yang digunakan dalam perhitungan Net B/C ratio adalah sebagai berikut :

Untuk Keterangan :

Bt = Manfaat (benefit) pada tahun ke-t Ct = Biaya (cost) pada tahun ke-t

i = Discount rate (persen) t = Tahun

Kriteria penilaian :

Net B/C > 1, maka usaha layak atau menguntungkan Net B/C = 1, maka usaha tidak untung dan tidak rugi Net B/C < 1, maka usaha tidak layak atau merugikan 3. Internal Rate of Return (IRR)

Internal rate of return (IRR) menunjukkan rata-rata tingkat keuntungan

internal tahunan perusahaan yang melaksanakan investasi. IRR adalah tingkat suku bunga yang buat nilai NPV usaha tersebut sama dengan nol. Tingkat IRR mencerminkan tingkat bunga maksimal yang dapat dibayar oleh usaha untuk sumber daya yang digunakan. Suatu usaha dikatakan layak apabila IRR yang dihasilkan lebih besar dari pada tingkat suku bunga yang berlaku. Menurut Nurmalina et al. (2010), secara matematis rumus yang digunakan dalam perhitungan IRR adalah sebagai berikut :

Keterangan :

= Discount rate yang menghasilkan NPV positif = Discount rate yang menghasilkan NPV negatif = NPV yang bernilai positif

= NPV yang bernilai negatif Kriteria Penilaian :

 Usaha layak Jika IRR lebih besar tingkat diskonto yang ditetapkan oleh bank

 Usaha tidak layak Jika IRR lebih kecil tingkat diskonto yang ditetapkan oleh bank

4. Payback Periode (PP)

Payback periode (PP) atau analisis waktu pengembalian investasi

oleh suatu usaha untuk dapat mengembalikan biaya invesatasi. Perhitungan dilakukan dengan cara nilai manfaat bersih yang terdapat pada cashflow didiskontokan dan dikomulatifkan. Semakin kecil angka yang dihasilkan, semakin cepat tingkat pengembalian suatu investasi, sehingga usaha yang dijalankan semakin baik untuk dikembangkan. Menurut Nurmalina et al. (2010) secara matematis rumus yang digunakan dalam perhitungan PP adalah sebagai berikut :

Keterangan :

I = Besarnya biaya investasi yang diperlukan

Ab= Manfaat bersih yang dapat diperoleh pada setiap tahunnya Kriteria penilaian :

Lamanya periode waktu pengembalian biaya investasi harus lebih cepat dibandingkan umur usaha yang diproyeksikan dalam cashflow, semakin cepat pengembalian biaya investasi maka semakin baik usaha tersebut untuk dijalankan.

Asumsi-Asumsi Dasar

Asumsi-asumsi dasar yang digunakan dalam penelitian ini adalah : 1. Target pengembangan produksi 1 ton telur

2. Biaya varibel diasumsikan sama setiap tahun, tidak ada kenaikan walaupun dalam kenyataan fluktuasi atau pengaruh faktor lain mempengaruhi terjadinya fluktuasi pada biaya variabel.

3. Umur proyek analisis kelayakan usaha peternakan ayam ini adalah 10 tahun berdasarkan aset penting yaitu kandang.

4. Seluruh modal yang digunakan dalam usaha peternakan ayam petelur ini adalah modal sendiri, sehingga yang digunakan adalah suku bunga deposito dengan acuan Bank Indonesia per februari 2015 sebesar 7.5 persen.

5. Kapasitas maksimal kandang adalah adalah 4 000 lebih ekor ayam layer. 6. Siklus produksi selama 52 minggu termasuk persiapan kandang..

7. Setiap ayam afkir yang dihasilkan terjual habis setiap periodenya dengan harga Rp30 000 per ekor.

8. Harga jual digunakan adalah Rp16 000 perkg cateris paribus 9. Penyusutan investasi dihitung berdasakan metode garis lurus

10. Besarnya pajak yang digunakan berdasarkan Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 46 tahun 2013 tentang tarif umum PPH Wajib Pajak Badan Dalam Negeri yang menetapkan pajak sebesar 1 persen per tahun dari hasil penerimaan, dengan ketentuan total penerimaan tidak melebihi 4.8 miliar dan pajak sebesar 25 persen dengan ketentuan total penerimaan melebihi 4.8 miliar. Ketentuan ini diasumsikan tetap hingga akhir umur bisnis.

Analisis Switching Value

Menurut Gittinger (1986), analisis Switching value merupakan salah satu perlakukan terhadap ketidakpastian. Analisis ini dilakukan setelah analisis kelayakan, untuk mengetahui sejauh mana tingkat Switching value jika terjadi perubahan pada beberapa variabel komponen cashflow terhadap pendapatan dan keuntungan perusahaan. Analisis Switching value dilakukan untuk melihat dampak dari suatu keadaan yang berubah-ubah terhadap hasil suatu analisis. Tujuan analisis ini adalah untuk melihat kembali hasil analisis suatu kegiatan investasi usaha. Varibel-varibel yang dapat digunakan untuk analisis ini adalah harga jual output, keterlambatan pelaksanakan, perubahan volume produksi, serta kenaikan biaya produksi. Variabel-variabel tersebut berpengaruh besar terhadap pendapatan atau keuntungan.

KEADAAN UMUM LOKASI

Dokumen terkait