• Tidak ada hasil yang ditemukan

perhitungan keuangan dimasukan ke dalam Arus Kas atau Cash Flow yang terdiri dari komponen Inflow sebagai penerimaan dan pengeluaran Outflow. Hasil arus kas yang diperoleh dilakukan analisis aspek finanasial melalui analisis laba rugi. Penilaian kriteria investasi yaitu Net Present Value (NPV),

Internal Rate of Return (IRR), Net B/C, dan Payback Period (PP), serta

dilakukan analisis Switching value jika terjadi perubahan variabel input atau output dimasa depan.

KERANGKA PEMIKIRAN

Kerangka Pemikiran Teoritis

Kerangka pemikiran teoritis merupakan landasan atau kumpulan teori-teori yang relevan dengan masalah. Teori konsep kelayakan usaha yang meliputi pengertian kelayakan usaha dari beberapa ahli kelayakan usaha dan aspek-aspek kelayakan usaha yang meliputi aspek kelayakan non finansial dan aspek finansial ketika bisnis dikatakan layak jika memenuhi kriteria kelayakan tersebut. Berikut adalah teori-teori yang dapat digunakan dan relevan dengan penelitian ini.

Studi Kelayakan Bisnis

Menurut Nurmalina et al. (2009) studi kelayak bisnis merupakan penelahaan atau analisis tentang apakah suatu kegiatan investasi memberikan manfaat atau hasil bila dilaksanaknan. Banyak peluang dan kesempatan yang ada dalam kegiatan bisnis telah menuntut perlu adanya penilaian sejauh mana kegiatan dan kesempatan tersebut dapat memberikan manfaat bila bisnis dilakukan. Menurut Gittingger (1986) proyek merupakan suatu kegiatan yang mengeluarkan uang atau biaya-biaya dengan harapan akan memperoleh hasil dan secara logika merupakan wadah untuk melakukan kegiatan-kegiatan perencanaan, pembiayaan dan pelaksanaan dalam satu unit. Rangkaian dasar dalam perencanaan dan pelaksanaan proyek adalah siklus proyek yang terdiri dari tahap-tahap identifikasi, persiapan dan analisis penilaian, pelaksanaan dan evaluasi Noor dan Henry (2009).

Proyek merupakan suatu keseluruhan aktivitas yang mengunakan sumber untuk mendapatkan manfaat dengan harapan akan mendapatkan keuntungan, menurut Kadariah (1999). Studi kelayakan bisnis adalah penelitian tentang dapat tidaknya suatu bisnis dilaksanakan dengan berhasil menurut Husnan dan Muhammad (2000). Analisis kelayakan dilakukan untuk melihat apakah suatu bisnis dapat memberikan manfaat atas investasi yang akan ditanamkan. Menurut Umar (1999) studi kelayakan bisnis adalah suatu penelitian tentang layak atau tidaknya suatu investasi dilaksanakan. Hasil kelayakan merupakan perkiraan suatu bisnis menghasilkan keuntungan yang layak bila telah dioperasionalkan. Perkiraan keberhasilkan mungkin dapat ditafsirkan berbeda-beda sesuai dengan pihak yang menjalankan tujuan bisnis. Studi kelayakan bisnis perlu dilakukan sehingga dapat diketahui masalah-masalah yang akan terjadi pada usaha dimasa yang akan datang, sehingga dapat kegagalan atau dampak merugikan kepada usaha yang dijalankan dan tujuan bisnis dapat tercapai

Menurut Nurmalia et al. (2010) secara umum aspek-aspek yang perlu diperhatikan dalam stui kelayakan bisnis adalah sebagai berikut:

1. Umur ekonomis suatu bisnis merupakan ukuran umum yang sering dipakai, ditetapkan berdasarkan jangka waktu (periode) yang kira-kira sama dengan umur ekonomis dari aset terbesar yang ada.

2. Umur teknis suatu bisnis merupakan ukuran untuk memudahkan perhitungan, biasanya digunakan untuk bisnis yang besar atau bergerak diberbagai bidang sehingga akan lebih mudah menggunakan umur teknis dari unsur-unsur investasi. Umur teknis biasanya lebih panjang dari umur ekonomis, tetapi tidak berlau jika terjadi keusangan teknologi.

3. Untuk bisnis yang umur ekonomisnya lebih dari 25 tahun biasanya umur bisnis ditentukan selama 25 tahun karena nilai-nilai sesudah 25 tahun jika di discount rate dengan tingkat suku bunga lebih besar dari 10 persen maka present valuenya akan kecil sekali karena DF-nya kecil mendekati nol.

Aspek-Aspek Studi Kelayakan

Dalam melakukan studi kelayakan perlu memperhatikan aspek-aspek yang dapat menentukan bagaimana keuntungan yang diperoleh dari suatu usaha dapat berjalan dengan baik. Menurut Kadariah (1999) terdapat enam aspek yang dibahas dalam studi kelayakan, antara lain aspek teknis, aspek manajerial dan administrasi, aspek organisasi, aspek komersial, dan aspek ekonomis. Menurut Gittinger (1986) analisis dan persiapan proyek terbagi menjadi enam aspek yang saling berhubungan dan saling mempengaruhi. Menurut kasmir dan jakfar (2003) aspek aspek kelayak usaha terdiri dari aspek pasar, aspek teknis, aspek hukum dan menejemen, aspek sosial dan lingkungan, dan aspek finansial atau keuangan. Secara umum aspek non finansial terdiri dari aspek pasar, aspek teknis, aspek lingkungan, aspek hukum, dan aspek sosial ekonomi lingkungan.

1. Aspek Pasar dan Pemasaran

Dalam suatu usaha pasar adalah aspek yang sangat penting karena menentukan pendapatan bagi perusahaan sehingga usaha dapat berjalan dan beroperasi kembali, jika produk yang diproduksi tidak bisa diterima oleh pasar atau kalah saing baik kualitas atas harga, maka dapat dikatakan bahwa secara aspek pasar perusahaan tidak layak untuk dijalankan atau perlu dievaluasi kembali. Menurut Kasmir dan Jakfar (2010) aspek pasar dan menejemen meneliti seberapa besar pasar yang akan dimasuki dan seberapa besar kemampuan perusahaan untuk menguasainya dan strategi apa yang akan dipilih nantinya. Aspek ini menentukan seberapa besar luas pasar, pertumbuhan permintaan, pangsa pasar dari produk. Menurut Nurmalina et al. (2010) aspek pasar dan pemasaran mencoba mempelajari tentang:permintaan, penawaran, perkiraan penjualan dan harga.

2. Aspek Teknis

Aspek teknis suatu aspek yang berkenaan dengan proses pembagunan bisnis secara teknis dan bagaimana bisnis beroperasi setelah bisnis dibangun juga berhubungan dengan input proyek (penyediaan) dan output (produksi) berupa barang-barang nyata dan jasa-jasa. Aspek

teknis terdiri dari lokasi proyek, besaran skala operasional untuk mencapai kondisi yang ekonomis, kriteria pemilihan mesin dan

equipment, proses produksi serta ketepatan penggunaan teknologi.

a. Lokasi Proyek atau Bisnis

Beberapa variabel yang perlu diperhatikan untuk pemilihan lokasi bisnis dibedakan dalam dua golongan besar, yakni variabel utama dan variabel bukan utama Penggolongan ke dalam kedua kelompok tersebut tidak mengandung kekakuan, artinya dimungkinkan untuk berubah golongan sesuai dengan ciri utama output dan bisnis yang bersangkutan. Variabel utama antara lain ketersediaan bahan baku, letak pasar yang dituju, tenaga listrik dan air, supply tenaga kerja, dan fasilitas transportasi. Sedangkan, varibel bukan utama yaitu hukum dan peraturan yang berlaku, iklim dan keadaan tanah, sikap dari masyarakat setempat, dan rencana masa depan perusahaan b. Luas Produksi

Luas produksi adalah jumlah produk yang seharusnya diproduksi untuk, mencapai keuntungan yang optimal. Beberapa faktor yang perlu diperhatikan dalam penentuan luas produksi yaitu batasan permintaan, tersedianya kapasitas mesin-mesin, jumlah dan kemampuan tenaga kerja pengelola proses produksi, kemampuan finansial dan menejemen perusahaan, kemampuan adanya perubahan teknologi produksi dimasa yang akan datang

c. Proses produksi

Proses produksi adalah tahapan-tahapan kegiatan produksi dalam menghasilkan suatu output yang siap jual atau dipasarkan. Proses produksi dikenal adanya 3 jenis proses yaitu proses produksi yang terputus-putus (intermiten), kontinu dan kombinasi. Dalam hal ini sistem kontinu akan lebih baik digunakan karena lebih mampu menekan resiko kerugian akibat fluktuasi harga dan efektivitas tenaga kerja yang lebih baik dibandingkan dengan sistem terputus. Kecuali untuk kegiatan budidaya tanaman semusim yang umumnya mengacu kepada proses produksi yang terputus-putus.

d. Layout

Layout merupakan keseluruhan proses penentuan bentuk dan penempatan fasilitas-fasilitas yang dimiliki perusahaan. Kriteria yang dapat digunakan untuk evaluasi layout khususnya pabrik antara lain adanya konsentrasi dengan teknologi produksi, adanya arus produk dalam proses yang lancar dari proses satu ke proses yang lain, penggunaan ruangan yang optimal, kemudahan dalam melakukan penyesuaian maupun untuk ekspansi, minimisasi biaya produksi dan memberikan jaminan yang cukup untuk keselamatan tenaga kerja.

e. Pemilihan Jenis Teknologi dan Equipment

Patokan umum yang dapat digunakan dalam pemilihan jenis teknologi adalah seberapa jauh derajat mekanisasi yang di inginkan dan manfaat ekonomi 15 yang diharapkan, di samping kriteria-kriteria yang lain sperti ketepatan jenis teknologi, keberhasilan

penggunaan jenis teknologi tersebut di tempat lain yang memiliki ciri-ciri yang mendekati lokasi dengan lokasi bisnis, kemampuan pengetahuan penduduk (masyarakat) setempat dan kemungkinan pengembangannya, pertimbangan kemungkinan adanya teknologi lanjutan. Selain itu, perlu diperhatikan penggunaan teknologi yang tepat baik dalam penggunaan potensi ekonomi lokal dan kesesuaian dengan kondisi sosial budaya setempat. Pemilihan mesin dan peralatan serta jenis teknologi mempunyai hubungan yang erat sekali. Apabila pengadaan teknologi tidak terpisah dari mesin yang ditawarkan, maka praktis jenis teknologi, mesin dan peralatan yang akan dipergunakan telah menjadi satu (Nurmalina et al. 2010). 3. Aspek Menejemen

Aspek Menejemen mempelajari tentang menejemen dalam masa pembangunan dan menejemen dalam masa operasi. Dalam masa pembangunan bisnis, hal yang dipelajari adalah siapa pelaksana bisnis tersebut, bagaimana jadwal penyelesaian bisnis tersebut, dan siapa yang melakukan studi masing-masing aspek kelayakan bisnis. Nurmalina et

al. (2010) menjelaskan aspek menejemen dalam operasi harus dapat

dikelola dengan baik, seperti struktur organisasi bisnis, deskripsi masing-masing jabatan, jumlah tenaga kerja yang digunakan dan penentuan anggota direksi dan tenaga-tenaga inti.

4. Aspek Hukum

Aspek hukum adalah mempelajari tentang bentuk badan hukum yang akan digunakan. Aspek hukum dalam suatu usaha akan mempermudah dan memperlancar kegiatan bisnis pada saat menjalin jaringan kerjasama dengan pihak lain (Nurmalia et al. 2010). Studi aspek menejemen meliputi penyususnan rencana kerja, siapa yang terlibat, bagaimana mengawasi dan pelaksanaan usaha, jenis-jenis pekerjaan, struktur organisasi dan pengadaaan tenaga kerja yang dibutuhkan (Umar 2005).

5. Aspek Sosial, Ekonomi, dan Lingkungan

Aspek sosial lingkungan terdiri dari pengaruh proyek terhadap penghasilan negara, devisa negara, peluang kerja dan pengembangan wilayah yang proyek dilaksanakan. Dalam aspek ini juga dikaji mengenai dampak negatif terhadap lingkungan sekitar yang diakibatkan oleh proyek itu sendiri. Aspek ekonomi mengkaji tentang kontribusi proyek atau usaha yang dijalankan terhadap perekonomian secara keseluruhan. Aspek ekonomi dalam persiapan dan analisis proyek membutuhkan pengetahuan mengenai apakah suatu proyek yang diusulkan akan memberikan kontribusi yang nyata terhadap pembangunan perekonomian secara keseluruhan dan apakah kontribusinya cukup besar dalam menentukan penggunaan sumber-sumber daya yang diperlukan. Dalam aspek ini sudut pandang yang diambil dalaman alisis ekonomi adalah masyarakat secara keseluruhan. Aspek finansial berkaitan dengan pengaruh secara finansial terhadap proyek yang sedang dilaksanakan. Hal ini menggambarkan keuntungan atau manfaat yang diterima perusahaan secara internal dari adanya proyek tersebut. Aspek finansial juga digunakan untuk mengetahui perkiraan pendanaa dan

aliran kas proyek bisnis, sehingga dapat diketahui apakah usaha ini layak atau tidak. Analisis finansial bertujuan untuk mengetahui perkiraan dalam hal pendanaan dan aliran kas, sehingga dapat diketahui layak atau tidaknya bisnis yang dijalankan. Menurut Husnan dan Suswarsono (2000) merupakan suatu analisis yang membandingkan antara biaya dan manfaat untuk menentukan apakah suatu bisnis akan menguntungkan selama umur bisnis. Aspek-aspek tersebut akan tercatat dalam aliran kas cash flow. Cash flow yaitu aktivitas keuangan yang mempengaruhi posisi/kondisi kas pada suatu periode terrentu (Nurmalina et al. 2010). Cash flow disusun berdasarkan untuk menunjukkan perubahan kas selama satu periode tertentu serta memberikan alasan mengenai perubahan kas tersebut dengan menunjukkan dari mana sumber-sumber kas dan penggunaannya.

Cash flow terdiri dari cash inflow (arus penerimaan) dan cash outflow

(arus pengeluaran). Cash inflow meliputi nilai produksi total, penerimaan pinjaman, dana bantuan/grants, nilai sewa dan nilai sisa/salvage value. Cash

flow terdiri dari biaya investasi, biaya produksi, biaya pinjaman bunga dan

pajak. Pengurangan cash inflow dengan cash outflow akan diperoleh net benefit (manfaat bersih) yang terdiri dari aspek finansial ini mengkaji beberapa analisis kelayakan finansial yang digunakan yaitu, Net B/C Ratio, Net Present Value (NPV), Internal Rate of Return (IRR) dan Payback Period (PP), Laba rugi dan

Analisis Switching value.

Kriteria Kelayakan Investasi

Studi Kelayakan bisnis pada dasarnya adalah untuk menentukan kelayakan suatu bisnis dengan berdasarkan kriteria investasi. Nurmalia et al (2010) terdapat beberapa kriteria kelayakan investasi yang sering digunakan di antaranya adalah nilai bersih kini atau Net Present Value (NPV), Internal Rate

of Return (IRR), Net Benefit per Cost (Net B/C), dan jangka waktu

pengembalian modal investasi atau Payback Period. Untuk menetukan layak tidaknya suatu kegiatan investasi digunakan metode yang umum dipakai yaitu metoda Discounted Cash Flow, yang seluruh manfaat dan biaya untuk setiap tahun didiskonto dengan discout factor (DF).

NPV dikatakan layak apabila nilainya lebih besar dari nol, IRR layak apabila lebih besar dari tingkat suku bunga, Net B/C layak apabila ilainya lebih besar dari satu dan payback periode layak apabila lebih kecil dari umur bisnis. Hasil nilai IRR akan menghasilkan nilai NPV yang nol. Hubungan antara IRR dan NPV dapat dilihat pada Gambar 1.

Gambar 1 Hubungan antara NPV dan IRR Sumber : Sumber Nurmalia et al. (2010)

Kriteria investasi kelayakan bisnis diatas dapat dipakai sebagai pertimbangan dalam menetukan apakah bisnis layak atau tidak untuk dilaksanakan. Selain itu, setiap kriteria kelayakan dapat dipakai untuk menentukan urutan-urutan berbagai alternatif bisnis dari investasi yang sama Nurmalina et al. (2010).

Konsep Nilai Waktu Uang

Biaya dan manfaat biasanya bukan hanya jumlahnya yang berbeda tetapi waktu yang dibayarkan dan diterima yang berbeda selama umur bisnis. Sejumlah uang baik yang kita keluarkan dalam bentuk biaya bisnis atau yang akan kita peroleh sebagai manfaat bisnis, mempunyai nilai yang berbeda bila dikeluarkan atau diterima dalam waktu yang berbeda. Biaya-biaya bisnis banyak dikeluarkan pada waktu awal bisnis sedangkan manfaat baru akan diterima kemudian. Arus biaya dan manfaat yang terjadi pada waktu yang tidak sama dapat dibandingkan sehingga perlu memperhatikan mengenai perbedaan nilai uang karena adanya pengaruh waktu Nurmalina et al. (2010)

Analisis Switching Value

Analisis Switching value adalah suatu analisis untuk dapat melihat pengaruh-pengaruh yang akan terjadi akibat keadaan berubah-ubah (Gitinger 1986). Pada usaha peternakan sering sekali terjadi perubahan-perubahan variabel input atau output sehingga berpengaruh terhadap kondisi finansial perusahaan. Analisis Switching value diketahui berdasarkan keadaan yang terjadi di lapangan atau kondisi nyata, batas batas maksimum perubahan parameter ini sangat penting karena dapat diketahui apakah usaha tetap layak atau tidak jika terjadi kondisi atau perubahan dimasa depan.

Kerangka Pemikiran Operasional

Kegiatan usaha peternakan ayam petelur atau layer ini memiliki peluang yang sangat baik. Telur adalah sumber protein hewani yang murah dan bergizi seiring dengan peningkatan pendapatan masyarakat cenderung meningkatkan

pola konsumsi ingin sehat dan bergizi dengan memenuhi kebutuhan protein hewaninya, sehingga memberikan peluang yang baik bagi pengusaha untuk melakukan pengembangan atau ekspansi usaha mereka. Prospek usaha peternakan telur ayam ras sangat besar dilihat dari rata-rata pertumbuhan konsumsi per kapita sekitar 1.61 persen.

Perusahaan X adalah salah satu dari banyak peternakan yang berada di daerah Kabupaten Bogor. Secara spesisifik usaha peternakan ini berada di Desa Gobang Kecamatan Rumpin, Kabupaten Bogor. Dengan produksi sekitar 3 ton per hari belum mampu memenuhi permintaan. Proses produksi yang dilakukan sebelumnya dilakukan dengan teknologi sederhana,dalam teknis budidaya atau yang lainya, tetapi pada penambahan target 16 923 ekor ayam layer akan digunakan teknologi pemberian air minum dengan menggunakan niple, kelebihan teknologi ini cukup banyak dibanding dengan metode yang digunakan sebelumnya, dari keamanan, ketersedian, dan waktu.

Usaha peternakan ayam ras ini memerlukan investasi yang besar yang dikeluarkan untuk usaha ini sehingga perlu dilakukan analisis kelayakan. Hasil analisis digunakan untuk mengetahui sejauh mana kelayakan usaha peternakan ayam ras petelur perusahaan X baik secara finansial dan non finansial terutama setelah dilakukan penambahan 16 923 ekor ayam. Penentuan kelayakan aspek non finansial dilakukan dengan cara membandingkan kejadian atau kenyataan yang terjadi di lapangan dengan literatur atau penelitian terdahulu melalui kegiatan observasi langsung dan kemudian dianalisis dengan analisis deskriptif. Aspek non finansial yang dianalisis adalah aspek teknis (budidaya), aspek pasar, aspek menejemen, aspek hukum, aspek sosial, ekonomi dan lingkungan. Sedangkan aspek finansial dinilai berdasarkan kriteria investasi bisnis yang meliputi Net Present Value (NPV), Net B/C, Internal Rate of

Return (IRR) dan payback Period (PP).

Informasi tersebut diharapkan dapat memberikan informasi kelayakan aspek finansial dan aspek non finansial bagi usaha peternakan ayam ras petelur perusahaan X. Setelah diketahui kelayakan bisnis melalui kriteria kelayakan investasi maka dapat dilakukan analisis Switching value yang digunakan untuk mengukur perubahan masksimum dari variabel inflow dan outflow akibat perubahan yang terjadi. Variabel input yang akan dianalisis adalah kenaikan harga pakan sedangkan variabel ouput yang akan dianalisis adalah perubahan harga jual telur. Hasil akan menjadi pertimbangan mengenai apa saja yang akan dilakukan dimasa yang akan datang. Ketika bisnis dikatakan layak secara finansial dan non finansial maka bisnis dapat dilaksanakan, tetapi ketika bisnis dikatakan tidak layak maka tidak dapat dilakasanakan sehingga perlu dilakukan peninjauan ulang atau evaluasi terhadap aspek yang tidak layak. Kerangka pemikiran operasioanal dapat dilihat pada Gambar 2.

Gambar 2 Kerangka pemikiran operasional

 Meningkatnya konsumsi telur dan pendapatan masyarakat

 Prospek peternakan ayam petelur sangat baik

Terdapat kekurangan produksi sebesar satu ton telur pada peternakan X, sehingga dilakukan penambahan layer 16 923 ekor

untuk memenuhi kekurangan tersebut

Besarnya investasi dalam usaha dan penggunaan teknologi baru niple

Analisis Kelayakan Usaha

Analisis Nonfinansial 1. Aspek Teknis 2.Aspek Pasar 3.Aspek Manajemen 4.Aspek Hukum 5.Aspek Sosial, ekonomi, lingkungan Analisis Finansial 1. NPV 2. Net B/C 3. IRR 4. Payback period Layak Lanjutkan Tidak Layak Tinjau Ulang Evaluasi Usaha Swiching Value

METODE PENELITIAN

Dokumen terkait