• Tidak ada hasil yang ditemukan

Karakteristik pola tanam dan produktivitas tanaman pada sistem agroforestri di DAS Cianjur

Karakteristik pola tanam sistem agroforestri di DAS Cianjur

Terdapat perbedaan karakteristik pola tanam tanaman semusim di tiga zona DAS Cianjur (Tabel 4.1).

Tabel 4.1. Karakteristik pola tanam pada sistem agroforestri di DAS Cianjur

Zona

Karakteristik Pola Tanam

Bentuk pola tanam Tata letak tanaman Intensifikasi pengelolaan

Indeks pertanaman Hulu Pola lorong (Alley

cropping)

Teratur, bentuk barisan, bedengan, tumpang sari

Sangat intensif 2.93

Tengah Pola lorong (Alley cropping) dan mixed cropping

Teratur, dalam bentuk barisan-barisan dan blok

Intensif 2.53

Hilir Kebun campuran (Mixed cropping)

Tidak teratur, banyak jenis

Kurang intensif

Sistem agroforestri di zona hulu dan tengah berupa agroforestri sederhana dengan pola lorong (alley cropping), tata letak tanaman teratur dalam baris dan blok-blok, penanaman sepanjang tahun dengan pengelolaan sangat intensif dan intensif.

Perbedaan karakteristik ini dipengaruhi oleh faktor agroklimat (suhu, kelembaban dan curah hujan) (Tabel 4.2). Suhu memegang peranan penting terhadap pertumbuhan tanaman. Rosario et al (1986), menyatakan bahwa setiap proses fisiologi seperti respirasi dan fotosintesis dibatasi oleh suhu. Suhu juga dapat mempengaruhi aktivitas enzim menjadi aktif. Contoh pada suhu rendah, kelembaban tinggi dan curah hujan yang tinggi, maka tanaman sayuran seperti kobis, wortel, bawang daun dan brokoli dapat tumbuh dengan baik, bahkan dapat dilaksanakan penanaman sepanjang tahun.

Tabel 4.2. Keadaan iklim dan tofografi tiga zona DAS Cianjur Karakter

Wilayah

Iklim Topografi

Hulu Suhu udara: 19-22C, kelembaban udara: 80-82%, curah hujan: 3388.6 mm/tahun

70% perbukitan, 30% dataran

Tengah Suhu udara: 21-22C,kelembaban udara: 80-82%, curah hujan: 3388.6 mm/tahun

40% perbukitan, 60% dataran

Hilir Suhu udara: 25C, kelembaban udara: 80- 82%, curah hujan: 1963.0 mm/tahun

seluruhnya berupa dataran

Sumber Ali dan Arifin (2007). Bentuk pola tanam

Pola tanam lorong (allley cropping) di hulu dilaksanakan di lahan kehutanan di kawasan Taman Nasional Gunung Gede Pangrango. Tegakan utama (pohon) berupa pohon pinus dan kayu putih. Pola tanam berupa intercroping,

interplanting dan mix-intercropping. Tamanan pinus telah berumur 4-5 tahun dengan jarak tanam 4m x 5m dan kayu putih yang berumur >10 tahun dengan jarak tanam 10m x 10m. Pengelolaan oleh petani dengan sistem pesanggem (petani bisa memanfaatan lahan-lahan dan mendapatkan hasil dari lahan-lahan di bawah tegakan/pohon sampai tegakan/pohon kehutanan itu tumbuh dengan tajuk sempurna). Pola ini telah berlangsung sejak tahun 1998 dengan melibatkan tiga

kelompok tani hutan yaitu Kelompok Tani Hutan Mekar Tani, Jaya Tani dan Kelompok Tani Hutan Subur yang masing-masing beranggotakan 12 petani hutan (total anggota 36 petani) dengan luas lahan setiap petani 400 – 600 m2.

Pada tegakan (pohon pinus) dilakukan pemangkasan cabang sebanyak 2-3 kali setahun dimaksudkan selain untuk mendapatkan pohon yang tinggi juga untuk mengurangi tajuk, sehingga ruang antar pohon bisa dimanfaatkan untuk budidaya tanaman semusim oleh masyarakat/petani. Pengelolaan lahan pada pola lorong ini sangat intensif dengan masa bera antara 1-2 minggu. Tanaman yang dominan ditanam berupa tanaman sayuran dataran tinggi yaitu wortel, kobis, tomat, bawang daun, sawi dan cabe baik secara tunggal maupun campuran seperti wortel – sawi, tomat – sawi, tomat – bawang daun.

Di zona tengah, sistem agroforestri sederhana dengan pola lorong (alley cropping) dilaksanakan di sebagian areal perkebunan teh, dengan sistem pesanggem serta di kebun yang merupakan kebun-kebun hak milik (milik perseorangan), yang dimiliki oleh masyarakat setempat maupun oleh pendatang (dari luar Desa Mangunkerta). Agroforestri pada lahan-lahan hak milik berupa agroforestri kompleks, sedangkan status petani sebagai petani penggarap. Pada sistem agroforestri di areal perkebunan teh, petani mendapatkan luas lahan rata- rata seluas 1 patok (400m2), sedangkan di luar perkebunan teh (30%) milik pribadi dan (10%) sebagai penggarap dengan pemilik orang dari luar Desa Mangunkerta. Luasan garapan rata-rata lebih besar dari 400 m2.

Pada alley cropping di areal yang dimiliki perkebunan teh, tegakan/pohon berupa pohon mahoni. Pemangkasan tajuk dilaksanakan sebanyak 2 kali setahun dengan masa bera 2-3 minggu. Tanaman dominan pada pola lorong di tengah adalah jagung, cabe, tomat, wortel, dan sawi.

Sistem agroforestri di hilir berupa kebun campuran hak milik, dengan struktur vegetasi yang rapat, jarak tanam tidak teratur. Pemeliharaan tanaman tidak intensif, alokasi waktu untuk pengelolaan kebun juga rendah yang disebabkan oleh terbatasnya air terutama pada musim kemarau akibat rendahnya curah hujan dibandingkan di hulu dan tengah. Selain itu petani di hilir lebih berorientasi pada pengerjaan tanah sawah. Berdasarkan kepemilikannya, petani di

hilir umumnya hanya sebagai penggarap, sementara pemilik kebun campuran (73.33%) adalah orang-orang dari luar Desa Selajambe. Tanaman yang dominan ditanam di hilir adalah jagung, cabe keriting, tomat dan singkong. Adapun jenis tanaman semusim dan pola tanam pada alley cropping di tiga zona DAS Cianjur terdapat pada Tabel 4.3.

Tabel 4.3. Jenis tanaman semusim dan pola tanam pada sistem agroforestri masyarakat di DAS Cianjur

Zona DAS

Jenis tanaman Dominan Pola Tanam

Monokultur Polikultur Hulu Wortel-sawi; Bawang daun

/kubis; cabe/tomat-wortel

wortel, bawang daun, kobis, cabe

Wortel-sawi, Wortel, bwg daun

Tengah Jagung-cabe, cabe (tanaman lama – tomat/sawi ; (sawi), serta talas di tepi/pinggir sengkedan.

Jagung, cabe, tomat, wortel

Jagung-cabe, Cabe-sawi, Tomat-Sawi

Hilir Jagung/cabe keriting/tomat; tanaman bumbu dan obat yang tumbuh di musim penghujan dan sebagian petani menanam singkong dan ubi jalar.

Jagung, cabe keriting dan tomat

Jagung-cabe, Jagung-singkong

Pola tanam dan sistem pertanaman di suatu wilayah juga ditentukan oleh faktor iklim dan lahan/tanah, serta tujuan pengelolaan pada setiap zona agroekologi (Das, 2005). Pola tanam di hulu dan tengah berlangsung sepanjang tahun, sedangkan di hilir, pola tanam masih didasarkan pada kebiasaan pola musim penghujan (Oktober–Maret) dan kemarau (April-September). Sedangkan untuk kesesuaian lahan, menurut Saroinsong (2002), bahwa petani di tiga zona DAS Cianjur masih menggunakan indikator pertumbuhan dan produktivitas komoditas tertentu pada suatu kawasan serta neighbour effect dimana petani cenderung meniru pengelolaan lahan sebelumnya di dekatnya yang dianggap cukup berhasil. Keadaan ini berpengaruh terhadap rotasi tanaman (Tabel 4.4) dimana, di hulu 73.33% dengan 3 jenis tanaman, sedangkan di tengah dan hilir masing-masing 79.99% dan 73.33% dengan 2 jenis tanaman. Rotasi tanaman yang hampir sama sepanjang tahun ini menurut DAS (2005) akan mengakibatkan

terjadinya ketidakseimbangan konsentrasi hara tanah yang berdampak negatif bagi pertumbuhan tanaman.

Tabel 4.4. Rotasi tanaman pada sistem agroforestri masyarakat di DAS Cianjur Zona DAS Pola 1 Pola 3 Pola 2

Hulu Wortel, sawi-bwg daun- wortel

Wortel-tomat Wortel-bwg daun - kobis - sawi Wortel, sawi-kobis-wortel Wortel-cabe

Wortel-cabe-Kobis

Tengah Wortel-cabe-jagung Cabe-jagung Wortel-cabe- jagung-sawi Wortel-jagung-sawi Wortel-jagung

Tomat-jagung

Hilir Cabe-jagung Cabe -

Tomat-jagung Tomat -

Jagung-ketela pohon Jagung -

Ketela pohon -

Pola penanaman tumpang sari pada alley cropping di hulu dan tengah juga dapat menyelamatkan unsur hara yang tercuci ke lapisan bawah. Hal ini disebabkan perbedaan zona perakaran antar pohon dan tanaman semusim. Akar pohon umumnya tumbuh lebih dalam dan dapat menyerap unsur hara pada lapisan tersebut. Semakin dalam dan berkembang perakaran pohon tersebut, maka semakin banyak unsur hara yang diselamatkan, sehingga akar pepohonan ini menyerupai jaring yang akan menangkap unsur hara yang mengalir ke lapisan bawah, dan fungsi ini sering disebut sebagai “Jaring Penyelamat Hara”. Contoh pada tanaman petaian yang ditanam di sela-sela tanaman jagung (Hairiyah 2005). Sedangkan di hilir pada kebun campuran dengan struktur tegakan yang rapat, perakaran tidak teratur sehingga ruang untuk tumbuh tanaman semusim terbatas serta memungkinkan terjadinya kompetisi penyerapan hara yang lebih besar.

Gbr 4.2 alley cropping di hulu Gbr 4.3 Alley cropping di tengah Gbr 4.4 Kebun Campuran di hilir

Frekuensi petani menanam jenis tanaman yang tinggi di hulu dan tengah karena adanya kesesuaian jenis tanaman (genetik) yang dipilih dengan kondisi lingkungannya (Tabel 4.5). Tanaman yang ditanam pada lingkungan yang sesuai maka proses fisiologis tanaman seperti proses pembungaan tidak terganggu. Sementara pada lingkungan yang tidak sesuai tanaman akan mengalami stres, fase pembungaan tidak akan terjadi dan tanaman dorman. Hal ini sesuai dengan hasil penelitian Poerwanto (2003), bahwa tanaman perlu mendapatkan lingkungan yang sesuai, karena differensiasi pembungaan terjadi setelah tanaman keluar dari stres. Terganggunya tanaman pada fase ini dalam waktu yang lama mengakibatkan tanaman tidak dapat berproduksi.

Tabel 4.5. Frekuensi petani melakukan pola tanam untuk berbagai jenis tanaman pada sistem agroforestri masyarakat di DAS Cianjur.

Zona DAS

Frekuensi

Satu jenis Dua jenis Tiga jenis

Jenis % Jenis % Jenis %

Hulu Wortel 16.67 Wortel dan sawi 26.67 Wortel, sawi, bwg daun

3.33 B daun 10.00 Wortel dan bwg

daun

10.00 Cabe, wortel, bwg daun

3.33 Cabe 6.67 Cabe dan wortel 10.00

Kobis 3.33 Cabe dan b daun 6.67

Tomat 3.33

Total 40.00 53.32 6.67

Tengah Cabe 13.33 Cabe, jagung 23.33 Cabe, jagung dan ketela pohon

6.67 Jagung 13.33 Wortel jagung 16.67 Tomat,jagung dan

Singkong

3.33 Tomat 1.33 Tomat, jagung 13.33

Wortel 1.33

Kc Panjang 1.33

Total 36.67 53.32 10.00

Hilir Cabe 23.33 Cabe, jagung 10.00 Tomat 10.00 Tomat, jagung 3.33 Jagung 26.66 Jagung, singkong 16.67

Singkong 10.00

Selain itu, perbedaan frekuensi petani menanam jenis tanaman juga disebabkan oleh perbedaan rentang panen yang panjang pada tanaman sayuran sehingga sangat memungkinkan untuk dikombinasikan dengan pengaruh negatif (kompetisi) yang sangat kecil. Contoh wortel dan sawi yang ditanam bersamaan, pada umur 40-45 hari, sawi sudah dipanen sementara wortel baru dipanen umur 4 bulan. Pola penanaman ini tidak mengganggu pertumbuhan tanaman wortel, tetapi justru petani mendapat keuntungan dari sawi. Begitu juga pada wortel dan bawang daun yang dipanen umur 75-90 hari.

Analisis motivasi pemilihan jenis tanaman

Tujuan penanaman juga berpengaruh terhadap motivasi pemilihan jenis tanaman (Tabel 4.6). Pada zona hulu dan tengah, tujuan penanaman terbesar adalah untuk memenuhi kebutuhan pasar (kemudahan menjual dan keuntungan yang besar), sehingga pola tanam disesuaikan dengan kecenderungan (trend) permintaan pasar saat itu, sementara di hilir dengan tujuan utama untuk kosumsi sehari-hari, sehingga pola tanam lebih mengarah pada efektivitas pemanfaatan lahan karena adanya rentang musim yang panjang, sedangkan pada musim penghujan seluruh tenaga kerja terkonsentrasikan untuk penanaman padi/sawah baik sebagai petani maupun buruh tani (Gambar 4.5).

Tabel 4.6. Motivasi petani dalam menentukan jenis tanaman yang akan ditanam

No Kriteria Zona Daerah Aliran Sungai

Hulu Tengah Hilir

1 Konsumsi sehari-hari -X 10 12

2 Kemudahan menjual 15 17 15

3 Keuntungan yang besar 20 15 5

4 Kesesuaian dengan iklim 5 10 5

5 Keahlian petani/pengalaman 22 18 5

6 Kemudahan pemeliharaan 5 10 8

7 Biaya produksi yang rendah 9 10 10

8 Kemudahan mendapat benih/bibit 12 5 18

9 Mengikuti kebijakan 0 0 0

X

Jumlah petani sampel yang memberikan jawaban terhadap masing-masing kriteria

Hasil uji Chi-Square untuk pemilihan jenis tanaman, menunjukkan bahwa di hulu, nilai Asymp Sig< α = 0.05, berarti terdapat perbedaan kriteria pemilihan jenis tanaman. Namun pada uji lanjut dengan membandingan 2 kriteria yang terbanyak dipilih tidak terdapat perbedaan, sehingga kriteria pemilihan jenis

tanaman di hulu adalah keahlian petani dan keuntungan yang besar. Di tengah nilai Asymp.Sig> α = 0.05, berarti tidak ada perbedaan kriteria dalam memilih jenis tanaman.

Gambar 4.5 Motivasi petani memilih jenis tanaman pada sisten agroforestri di DAS Cianjur

Kriteria yang terbanyak dipilih petani menjadi dasar pemilihan jenis tanaman yaitu keahlian petani dan kemudahan menjual, sedangkan di hilir Asymp.Sig< α = 0.05, berarti juga terdapat perbedaan kriteria pemilihan jenis. Uji lanjut terhadap 2 kriteria yang terbanyak dipilih menunjukkan bahwa kemudahan mendapat benih/bibit dan kemudahan menjual menjadi pertimbangan pemilihan jenis tanaman.

Pemilihan jenis semacam ini menyebabkan sebagian besar tanaman tidak dapat tumbuh dengan baik terutama tanaman-tanaman yang peka terhadap naungan yang banyak diusahakan masyarakat. Sedangkan di tengah dan hulu lebih berorientasi kemudahan menjual, keuntungan yang besar dan kebiasaan serta pengalaman petani sehingga sering terjadi petani menanam jenis tanaman yang sama, dan kesempatan ini sering dimanfaatkan pedagang untuk membeli dengan harga yang murah.

Intensifikasi pengelolaan lahan sangat intensif di hulu, dan intensif di tengah. Sedangkan di hilir, pengelolaan lahan dengan olah tanah kurang intensif

0 5 10 15 20 25 Kons um s i s e hari-hari Ke m udahan m e njual Ke untungan yg be s ar Ke s e s uaian dng ik lim

Ke ahlian/pe ngalam an pe tani Ke m udahan pe m e liharaan

Biaya prod re ndah Mudah m e ndapat bibit

hulu tengah hilir

dengan olah tanah minimum (minimum tillage) dengan dicangkul sekali dan/atau ditugal. Pengolahan lahan (pengolahan tanah) yang sangat intensif-intensif di hulu dan tengah berpengaruh terhadap perbaikan struktur tanah. Menurut Titi (2003), struktur tanah yang baik akan merubah konduktivitas dan permeabilitas air, suhu dan aliran udara pada tanah dan keadaan ini dapat memperbaiki transportasi larutan dalam tanah serta distribusi ruangnya. Selain itu pengolahan tanah juga akan berpengaruh terhadap makroporositas, konduktivitas dan kemampuan menyerap tanah (infiltrasi), mengurangi aliran permukaan dan dalam skala besar bisa menurunkan erosi. Tanah dengan makroporositas yang tinggi dilaporkan juga akan meningkatkan resposibilitas terhadap polusi air tanah yang disebabkan oleh bahan kimia yang dipakai dalam budidaya pertanian. Sementara itu pada sistem agroforestri di hilir, dengan pengolahan tanah minimum (minimum tillage), maka struktur tanahnya kurang baik.

Indeks pertanaman di hulu lebih tinggi dibandingkan di tengah dan hilir (Tabel 4.1). Tingginya indeks pertanaman ini, disebabkan oleh adanya kesesuaian jenis tanaman (genetik) yang dipilih dengan kondisi lingkungannya. Tanaman yang ditanam pada lingkungan yang sesuai maka proses fisiologis tanaman seperti proses pembungaan tidak terganggu. Sementara pada lingkungan yang tidak sesuai tanaman akan mengalami stres, fase pembungaan tidak akan terjadi dan tanaman dorman. Hal ini sesuai dengan hasil penelitian Purwanto (2003), yang menyatakan bahwa tanaman perlu mendapatkan lingkungan yang sesuai, karena differensiasi pembungaan terjadi setelah tanaman keluar dari stres. Terganggunya tanaman pada fase ini dalam waktu yang lama mengakibatkan tanaman tidak dapat berproduksi secara optimal.

Kalender Pertanaman pada Sistem Agoforestri Masyarakat di DAS Cianjur Berdasarkan hasil penelitian (wawancara petani responden), bahwa petani di tiga zona DAS Cianjur belum memanfaatkan data iklim untuk penentuan pola tanam tanaman semusim. Pola tanam masih berdasarkan pada kebiasaan pola musim penghujan (Oktober–Maret) dan kemarau (April-September). Keadaan ini mengakibatkan sering terjadi gagal panen dan menurunnya hasil/produksi akibat perubahan/pergeseran musim (musim hujan dan kemarau).

Petani juga terbiasa dengan pengalaman dan kebiasaan mengenai penentuan waktu tanam, cara tanam dan rotasi tanamannya. Tanaman semusim yang ditanam kurang beragam dan cenderung jenis yang sama pada setiap musim tanam (bahkan setiap tahun), dan penanaman jenis yang sama secara terus- menerus ini menurut Das (2005), akan mengakibatkan terjadinya ketidakseimbangan konsentrasi hara tanah yang akan berdampak negatif bagi pertumbuhan tanaman.

Penentuan pola tanam petani belum didasarkan pada data iklim (Gambar 4.6). Waktu tanam masih mengacu pada pola musim penghujan (Oktober–Maret) dan kemarau (April-September). Hal ini menyebabkan tanaman yang ditanam cenderung jenis yang sama pada setiap musim tanam (bahkan setiap tahun). Penanaman jenis yang sama secara terus-menerus ini, menurut Das (2005) akan mengakibatkan terjadinya ketidakseimbangan hara tanah yang akan berdampak negatif bagi pertumbuhan tanaman.

Wilayah DAS

Bulan

Okt Nop Des Jan Peb Mar Apr Mei Jun Juli Agus Sep

Gambar 4.6. Kalender tanam sistem agroforestri di DAS Cianjur

Tomat Jagung Wortel

Jagung Cabe keriting

Tengah Pola 1

Pola 2

Jagung Talas/ubi kayu

Ubi kayu Cabe keriting

Hilir Pola 1

Pola 2

Wortel + sawi Bawang Daun Jagung manis

Bw daun Wortel +sawi Cabe keriting

Hulu Pola 1

Sedangkan penentuan kesesuaian lahan dengan jenis tanaman, petani masih menggunakan indikator pertumbuhan dan produktivitas komoditas tertentu pada suatu kawasan serta neighbour effect dimana petani cenderung meniru pengelolaan lahan sebelumnya di dekatnya yang dianggap cukup berhasil (Saroinsong et al. 2007).

Produktivitas sistem agroforestri di tiga zona DAS Cianjur

Produktivitas tanaman semusim di DAS Cianjur terdapat pada Gambar 4.7- Gambar 4.12. Tingginya produktivitas tanaman semusim (tanaman sayuran) di hulu dan tengah (Gambar 4.7 dan 4.8) selain karena kesesuaian faktor iklim juga karena faktor agronomis.

R ata-rata produktivitas beberapa tanaman s emus im pada z ona hulu 0 10 20 30 40 50 60 S urvei P etak C ontoh S urvei P etak C ontoh

A grofores try NonA grofores try Dis perta C ianjur P otens i Has il to n /h a /m u s im t a n a m W ortel B awang Daun K obis Tomat

Faktor iklim terutama suhu berpengaruh terhadap kecepatan reaksi, peningkatan fungsi enzim, kondisi lingkungan tanah serta meningkatkan aktivitas fisiologi tanaman. Sedangkan pada kelembaban dan curah hujan yang tinggi, maka besarnya evavorasi potensial standart (Eto) akan lebih rendah dari curah

hujan bulanan sepanjang tahun. Berdasarkan hal tersebut maka kebutuhan air tidak akan menjadi faktor pembatas pertumbuhan, dan cukup tersedia selama masa pertumbuhannya (Arsyad 1989). Produktivitas juga dipengaruhi oleh jarak pohon pada sistem agroforestri. Di zona hulu dengan jarak tanaman pinus 3m x 4m, memungkinkan tanaman dapat tumbuh dan berproduksi dengan baik karena Gambar 4.7. Rata-rata produktivitas beberapa tanaman semusim di zona hulu

R ata-rata produktivitas beberapa tanaman s emus im pada z ona teng ah 0 5 10 15 20 25 30 35 40 45 50 S urvei P etak C ontoh S urvei P etak C ontoh

A grofores try NonA grofores try Dis perta C ianjur P otens i Has il to n /h a /m u s im t a n a m W ortel Tomat C abe K eriting J agung manis

R ata-rata produktivitas beberapa tanaman s emus im pada z ona hilir 0 5 10 15 20 25 30 35 40 45 S urvei P etak C ontoh S urvei P etak C ontoh

A grofores try NonA grofores try Dis perta C ianjur P otens i Has il to n /h a /m u s im t a n a m Tomat C abe K eriting J agung Ubi K ayu adanya perbedaan sebaran perakaran dan tingkat kedalaman perakaran antara pohon pinus dengan tanaman semusim.

Perbedaan ini menurut Radjati (2006) akan memberikan keuntungan terhadap peningkatan efisiensi penyerapan hara. Pengaturan jarak antar pohon dan jarak antar pohon dengan tanaman semusim yang tepat memungkinkan pohon dapat berperan positif terhadap tanaman semusim. Pengaturan yang tepat memungkinkan pohon menyerap unsur hara yang tidak terjangkau oleh tanaman semusim (penyelamat unsur hara), serta pohon dapat berperan sebagai penahan angin (shelter belt), serta menjadi tempat hidup hama penyakit tanaman

Gambar 4.8. Rata-rata produktivitas beberapa tanaman semusim di zona tengah

R ata-rata p ro d u ktiv itas wo rtel p ad a z o n a 0 5 10 15 20 25 30 35 40 45 50 S urvei P etak C ontoh S urvei P etak C ontoh

A grofores try NonA grofores try Dis perta C ianjur P otens i Has il to n /h a /m u s im Hulu Tengah Pohon juga bisa menjadi penaung tanaman terutama pada awal masa tumbuh sehingga evavorasi tanaman dapat dikurangi dan tanaman bisa tumbuh dengan baik. Hal ini sesuai dengan pendapat Mercado et al. (2011), yang menyatakan bahwa penanaman tanaman semusim pada jarak 10-40 kaki (ft) dari pohon, menyebabkan produktivitas beberapa tanaman sayuran meningkat dibandingkan dengan penanaman di tempat terbuka (tanpa pohon).

Sistem agroforestri di zona hilir, berupa kebun campuran, kerapatan pohon lebih tinggi, sehingga memungkinkan terjadi cekaman pertumbuhan yang disebabkan oleh naungan, akibatnya produktivitas tanaman menjadi rendah (Gambar 4.9).

Gambar (4.10), menunjukkan bahwa tanaman sayuran dataran tinggi (wortel), yang ditanam di zona tengah memiliki produksi yang lebih rendah. Hal ini sesuai dengan hasil beberapa studi tentang ekofisiologi tanaman di bawah naungan seperti pada padi gogo (Chozin et al. 2000), kedelai (Sopandie et al. 2004), talas (Djukri 2003) dan lada (Wahid 1997), yang menunjukkan bahwa dampak dari cekaman intensitas cahaya adalah terganggunya proses metabolisme tanaman, yang menyebabkan menurunnya laju fotosintesis dan sintesis karbohidrat. Hal ini terkait dengan kondisi lingkungan yang kurang sesuai untuk pertumbuhan tanaman wortel. Secara ekologi hal ini juga menunjukkan tingkat adaptasi tanaman, dimana setiap tanaman memiliki dapat tumbuh dan berproduksi dengan baik jika jika syarat tumbuh untuk tanaman tersebut terpenuhi. Hal ini juga terjadi

Terdapat perbedaan produktivitas tanaman pada data survei, pengamatan sample pada petak pengamatan, rataan dari Dinas Pertanian Kab Cianjur dan potensi hasil. Hal ini diduga disebabkan oleh perbedaan metode pengumpulan data. Survei wawancara menggunakan data dari laporan petani, data produktivitas pada petak contoh diambil dengan cara mengamati dan menghitung secara langsung produktivitas sampel tanaman pada petak yang telah ditentukan, sedangkan data dari Dinas Pertanian Kab Cianjur (2009), merupakan data produktivitas rata-rata yang tidak membedakan kondisi agroforestri atau non agroforestri maupun lahan kering atau lahan basah (sawah). Produktivitas agroforestri masih jauh di bawah nilai potensi hasil. Hal ini diduga disebabkan oleh faktor pengelolaan tanaman dan faktor lingkungan yang tidak sepenuhnya dapat memenuhi persyaratan tumbuh dari beberapa jenis tanaman tersebut.

SIMPULAN

1. Terdapat perbedaan pola tanam tanaman semusim di tiga zona DAS Cianjur. Di zona hulu sistem agroforestri sederhana dengan pola tanam alley cropping,

di tengah 70% agroforestri sederhana dengan pola tanam alley cropping dan 30% kebun campuran, sedangkan di hilir agroforestri kompleks.

2. Secara umum penentuan pola tanam lebih banyak didasarkan pada kebiasaan pola musim penghujan ( Oktober-Maret) dan kemarau (April-September), dan tidak terdapat perbedaan kalender pertanaman.

3. Motivasi pemilihan jenis tanaman di hulu adalah keahlian petani dan keuntungan yang besar, di tengah adalah keahlian petani dan kemudahan menjual, sedangkan di hilir adalah kemudahan mendapat benih/bibit dan kemudahan menjual.

4. Secara umum produktivitas tanaman semusim pada sistem agroforestri di

Dokumen terkait