• Tidak ada hasil yang ditemukan

HASIL DAN PEMBAHASAN Karakteristik geograf

Daerah Aliran Sungai Cianjur secara geografis terletak diantara 106025’00’’ BT - 107014’30’’ BT dan 06025’00’’ LS - 06050’40’’ LS, letaknya berbatasan dengan puncak dan punggung Gunung Gede Pangrango di bagian barat, Waduk Cirata di bagian timur, perbukitan Gunung Geulis di bagian utara dan Gunung Puntang di bagian selatan.

Gambar 3.2. Lokasi penelitian DAS Cianjur H =

i i 1 2 (ni/n) log (ni/n)

DAS Cianjur terdiri dari sungai utama (Sungai Cianjur) dengan beberapa anak sungai (Cigadog, Cianjur Leutik, Cibeureum, dan Cikukulu) yang bermuara pada sungai utama.

Kawasan ini mencakup 26 desa, 6 wilayah kecamatan dalam Kabupaten Cianjur Propinsi Jawa Barat. Kawasan ini merupakan salah satu sub-DAS Citarum Tengah terutama pada Daerah aliran Sungai Cisokan. Oleh sebab itu DAS Cianjur sesungguhnya merupakan sub-DAS Cisokan atau sub-DAS Citarum Bagian Tengah. Luas kawasan yang termasuk dalam kawasan DAS Cianjur adalah 5935.42 ha (berdasarkan delinasi menggunakan peta kontur dan peta sungai skala 1 : 25 000 dengan program ArcView versi 3.2). Luas wilayah DAS Cianjur ini sebesar 24.2% dari luas wilayah administratif tingkat kecamatan (30 810.5 ha) dan hanya 2.1% dari luas total wilayah administratif Kabupaten Cianjur. DAS Cianjur juga merupakan DAS lokal yang berada di wilayah Kabupaten Cianjur, sehingga lebih mudah dalam pengelolaan dan pelestarian fungsi-fungsi DAS bagi pemerintah daerah dalam upaya pengelolaan DAS tersebut.

Karakteristik Topografi

Topografi kawasan DAS Cianjur bervariasi dan membentang dari ketinggian 275 m dpl sampai dengan 2862.5 m dpl (Tabel 3.1) yang terdiri dari: 1. Dataran rendah (ketinggian 250-500 m dpl) yang mencakup wilayah DAS

Cianjur seluas 1854.12 ha.

2. Dataran menengah (ketinggian 500-750 m dpl) yang mencakup wilayah DAS Cianjur seluas 640.5 ha dan ketinggian 700-1000 m dpl seluas 796.56 ha. 3. Dataran tinggi dengan ketinggian 1000-1250 m dpl yang mencakup wilayah

DAS Cianjur seluas 1190.05 ha, ketinggian 1250-1500 m dpl dengan luas wilaya 562.11 ha, 1500-1750 m dpl dengan luas wilayah 337.05 ha, 1750- 2000 m dpl dengan luas wilayah 208.32 dan ketinggian >2000 m dpl dengan luas wilayah 341.08 ha.

Daerah dataran tinggi merupakan pegunungan dengan kemiringan lereng yang bervariasi dengan pola lereng mengikuti pola alur sungai.

Tabel 3.1. Kelas kemiringan lereng wilayah DAS Cianjur beserta luasannya No Kelas Lereng Kemiringan (%) Keterangan Luasan (ha) (%) 1 A 0-3 Datar 2 017.21 33.99 2 B 3-8 Agak Landai 1 350.22 22.75 3 C 8-15 Landai 71.29 22.99 4 D 15-25 Agak Curam 457.96 7.72 5 E 25-45 Curam 1 149.65 19.37 6 F >45 Curam sekali 189.89 3.18 Total 5 935.42 100 Sumber: Saroinsong (2002)

Gambar 3.3. Peta kelas lereng DAS Cianjur (Sumber: Rahmad 2007)

Karakterisitik Iklim

Kondisi iklim di wilayah DAS Cianjur secara umum merupakan daerah iklim hujan tropis, selalu basah dengan curah hujan rata-rata setiap bulannya lebih dari 60 mm (Tabel 3.2).

Tabel 3. 2. Data iklim DAS Cianjur tahun 2005 – 2007

Bulan

Tahun 2005 Tahun 2006 Tahun 2007

Suhu (0C) RH (%) Curah Hujan (mm) Suhu (0C) RH (%) Curah Hujan (mm) Suhu (0C) RH (%) Curah Hujan (mm) Jan 20.2 89 377.8 20.0 92 414.0 24.0 86 196.0 Feb 20.2 90 583.2 20.1 92 412.0 20.0 91 330.0 Maret 20.3 89 410.2 20.3 92 105.0 20.1 89 338.0 April 20.3 86 225.9 20.4 92 319.0 28.0 88 320.0 Mei 20.8 85 231.0 20.7 91 139.0 20.9 86 217.0 Juni 20.4 87 195.7 20.0 92 106.0 20.4 86 145.0 Juli 19.9 85 147.3 19.6 92 44.0 20.3 81 12.0 Agt 20.1 84 113.3 19.4 89 30.0 20.4 78 70.0 Sept 19.9 85 131.7 21.1 78 9.0 21.0 76 108.0 Okt 21.1 85 219.4 21.8 78 109.0 221.3 81 337.0 Nop 21.5 85 365.9 22.2 83 220.0 21.6 82 438.0 Des 20.5 91 308.8 21.2 88 403.0 20.8 87 417.0 Rata-rata 20.4 87 275.9 20.6 88 193.0 19.2 84 244.0

Sumber: Stasiun Klimatologi Pacet (2007)

Berdasarkan serial curah hujan selama 10 tahun, maka menurut sistem klasifikasi Kopen, kawasan DAS Cianjur termasuk dalam tipe sistem Af yaitu iklim hujan tropis. Rata-rata curah hujan pertahun bervariasi dari 3 572 mm di wilayah DAS hulu sampai dengan 1 858 mm pada bagian hilir. Kelembaban rata- rata berkisar antara 80% - 82% dengan suhu rata-rata terendah 16.9 0C dan rata- rata tertinggi sekitar 24.840C. Sedangkan jumlah hari hujan pertahunnya juga bervariasi antara 116 hari/tahun sampai dengan 159 hari/tahun. Kondisi iklim ini menunjukkan bahwa di wilayah DAS Cianjur sangat memungkinkan untuk dikembangkan sebagai kawasan agroforestri potensial dengan mempertimbangkan pemilihan jenis tanaman pada setiap zonanya.

Kondisi Geologi/tanah

Tanah yang berada di lokasi DAS Cianjur meliputi 13 satuan peta tanah (SPT) dengan jenis-jenis tanah meliputi (a) regosol ditrik (sistem klasifikasi Pusat Penelitian Tanah) atau tergolong Inceptisol (menurut klasifikasi USDA Soil Taxonomy). Tekstur lapisan atas dan bawah lempung pasir berkerikil, epipedon ochric, drainase agak cepat, bentuk wilayah agak berbukit sampai bergunung, vulkan dengan bahan induk berupa tufa intermedier. (b) Kambisol vertik atau tergolong inceptisol, tekstur bagian atas dan bawah liat berat, drainase sangat terhambat, epidon ochric bahan induk tufa intermedier. (c) Kambisol distrik atau tergolong inceptisol inceptisol, tekstur bagian atas dan bawah liat berat, dainase sangat terhambat, epidon ochric bahan induk tufa intermedier. (d) Andosol distrik atau tergolong andosol, tekstur lapisan bagian atas liat berdebu, bagian bawah liat, epipedon ochric, drainase cepat, vulkan, bahan induk tufa intermedier. (e) Latosol argilik distrik atau utisol. Tekstur bagian atas dan bawah liat berat, epipedon ochric, drainase cepat, sistem dataran, bahan induk tufa intermedier. (f) Mediteran argilik atau tergolong Alfisol. Tekstur lapisan atas liat, lapisan bawah liat berat, drainase agak terhambat, bentuk wilayah datar. (g) mediteran kambik atau alfisol, tekstur bagian atas dan bawah liat, epipedon ochric, drainase sedang, lereng perbukitan, bahan induk tufa intermedier. (h) Podsolik argilik atau tergolong

ultisol, tekstur liat sampai berat, drainase agak terhambat, bentuk wilayah berbukit atau bergelombang.

Gambar 3.5. Peta jenis tanah di DAS Cianjur (Sumber: Rahmad 2007) Penggunaan lahan

Pola penggunaan lahan seluruh kawasan DAS Cianjur dapat dikelompokkan menjadi 3 kelompok yaitu kawasan hutan, kawasan pemukiman dan lahan pertanian (Tabel 3.3).

Tabel 3.3. Pola penggunaan lahan dan luasan di lokasi penelitian

Luas lahan (ha)

Galudra Mangunkerta Selajambe

Lahan (ha) % Lahan (ha) % Lahan (ha) % Hutan 128.8 26.5 0.0 0.0 0.0 0.0 Talun 90.3 18.6 0.0 0.0 0.0 0.0 Kebun campuran 0.0 0.0 0.0 0.0 15.7 4.3 Lahan kering 242.3 49.8 11.9 7.0 50.9 14.0 Sawah (padi) 13.1 2.7 141.0 83.6 274.2 75.6 Perumahan 11.9 2.4 15.9 9.4 22.0 6.1 Total 486.4 100 168.8 100 362.8 100

Luasan hutan sekitar 1130.64 ha (19.05%) terutama terkonsentrasi di kawasan hulu DAS Cianjur. Kawasan permukiman seluas 954.19 ha membentang dari daerah tengah sampai ke hilir terdiri dari 6 kecamatan yaitu Pacet, Cugenang, Cianjur, Karang Tengah, Cilaku dan Sukaluyu dengan mayoritas penduduk pada 6 kecamatan tersebut berprofesi sebagai petani.

Selain itu, kepemilikan dan luasan lahan di wilayah DAS umumnya berbeda, seperti yang terdapat di DAS Cianjur-Cisokan (Tabel 3.4).

Tabel 3.4. Luasan lahan dan struktur kepemilikannya di lokasi penelitian Luas

lahan (ha)

Galudra Mangunkerta Selajambe

Rumah Tangga % Rumah Tangga % Rumah Tangga % < 0.1 805.0 72.2 450.0 51.0 581.0 57.1 0.1 - 0.5 253.0 22.7 350.0 39.7 355.0 34.9 > 0.5 - 1 25.0 2.2 50.0 5.7 33.0 3.2 > 1 - 1.5 15.0 1.3 25.0 2.8 22.0 2.2 > 1.5 - 2 8.0 0.7 27.0 0.8 12.0 1.2 > 2 - 5 3.0 0.3 0.0 0.0 10.0 1.0 > 5 - 8 3.0 0.3 0.0 0.0 4.0 0.4 > 8 - 0 2.0 0.2 0.0 0.0 0.0 0.0 > 10 1.0 0.1 0.0 0.0 0.0 0.0 Total 1115 100 882 100 1 017 100

Sumber : Profile data Desa Galudra, Mangunkerta dan Selajambe Arifin (2002).

Lahan pertanian merupakan kawasan paling luas dan terdiri dari beberapa jenis pemanfaatan yaitu sawah dengan luasan 1997.07 ha (33.65%), tegalan dengan luas wilayah 911.06 ha atau sekitar 15.35%, perkebunan teh seluas 451.16 ha atau 7.60%, kebun campuran seluas 366.89 ha atau sekitar 6.18% dan talun seluas 125.40 ha atau 2.11%.

Tanaman sayuran yang berpotensi dikembangkan pada sistem agroforestri Karakteristik lahan di DAS Cianjur memungkinkan untuk pengembangan tanaman sayuran. Gambaran produksi dan keadaan tanaman sayuran terdapat pada Tabel 3.5.

Tabel 3.5. Keadaan tanaman sayuran tahun 2002 dan 2003

N o Jenis sayuran Luas Tanam (ha) Luas Panen (ha) Produktivitas (kw/ha) Produksi Bruto (ton) 2002 2003 2002 2003 2002 2003 2002 2003 1 Bawang Merah 21 18 15 26 135.33 136.15 203 354 2 Bawang Daun 2 514 2 481 2 339 2 220 254.00 263.54 59 410 58 506 3 Kentang 246 95 191 81 299.69 336.79 5 724 2 728 4 Kubis 906 772 1 123 677 313.00 313.00 35 150 21 190 5 Kembang Kol 0 32 0 22 0 408.18 0 898 6 Petsai / Sawi 1 290 1 454 1 477 1 207 237.35 187.48 35 056 18 448 7 Wortel 2 153 2 316 2 233 2 392 311.01 267.67 69 448 56 826 8 Lobak 129 169 161 167 218.20 195.93 3 513 3 272 9 Kacang Merah 700 472 774 437 158.81 158.79 12 292 6 939 10 Kacang Panjang 943 948 910 894 152.07 179.94 13 838 16 087 11 Cabe Merah 1 501 1 077 1 558 934 183.82 216.52 28 639 20 223 12 Cabe Rawit 0 648 0 493 0 121.26 0 5 978 13 Jamur 0 91 0 30 0 3.67 0 11 14 Tomat 1 048 963 1 258 906 144.83 268.02 18 220 21 495 15 Terung 494 463 534 463 220.56 257.45 11 778 11 920 16 Buncis 854 907 1 026 800 219.92 246.58 22 564 19 726 17 Ketimun 823 766 848 786 215.71 231.32 18 292 18 182 18 Labu Siam 823 766 848 786 215.71 231.32 18 292 18 182 19 Kangkung 127 171 136 123 71.03 96.26 966 1 184 20 Bayam 115 138 113 126 70.00 78.49 791 989

Tanaman sayuran juga menjadi tanaman utama pada sistem agroforestri. Tanaman sayuran memiliki potensi untuk dikembangkan karena wilayah ini memang merupakan salah satu sentra produksi untuk tanaman sayuran (terutama sayuran dataran tinggi) untuk wilayah Provinsi Jawa Barat.

Karakteristik wilayah penelitian

Deskripsi wilayah penelitian di DAS Cianjur terdapat pada Tabel 3.6. Tabel 3.6. Deskripsi lokasi penelitian di Daerah Aliran Sungai Cianjur

Zona Deskripsi Ketinggian tempat (mdpl) Koordinat/ lokasi Tofografi Jarak dari kota Cianjur (km) Luas Wilayah (ha) Jumlah Penduduk (jiwa) Kepadatan rata- rata/km Hulu > 900 S 6046’ 23” – 6047’ 15” ; E 106059’ 7” – 10703’ 16” 70% bukit 30% dataran 12.90 373.40 3 807 102 Tengah 300-900 S 60 47’ 44” – 60 48’ 14” ; E 1070 3’ 11” – 1070 5’ 8” 40% bukit 60% dataran 9.80 212.90 5 029 210 Hilir ±300 S 60 48’ 7” – 60 49’ 18” ; E 1070 12’ 17” – 1070 14’ 32” semuanya berupa dataran 10.00 115.48 6 359 287 Zona Hulu

Wilayah penelitian untuk zona hulu adalah Desa Galudra. Desa Galudra masuk wilayah Kecamatan Cugenang Kabupaten Cianjur. Galudra ini merupakan wilayah dataran tinggi dan pegunungan pada ketinggian 1 300 m dpl, dengan lanskap lereng yang curam. Beberapa area pedesaan adalah tipe hutan sebagai zona penyangga Taman Nasional Gunung Gede Pangrango. Desa Galudra memiliki luas wilayah sebesar 373 400 ha dengan jumlah penduduk 3 807 jiwa, kepadatan/km 102 dan pendapatan perkapita Rp.1 897 292/tahun.

Gambar 3.2. Peta penggunaan lahan wilayah hulu (Ali dan Arifin, 2007) Lahan pertanian Galudra adalah berupa lahan kering. Agroforestri pada kawasan ini dilaksanakan dengan sangat intensif berupa intercropping, multiple cropping, maupun dalam bentuk alley cropping dengan tegakan utamanya berupa pinus dan kayu putih. Pola Agroforestri ini secara intensif dilaksanakan pada lahan-lahan kehutanan yang merupakan bagian dari daerah Penyangga Taman Nasional Gunung Gede Pangrango. Tanaman yang dibudidayakan secara intensif adalah jenis sayuran dataran tinggi tropis seperti wortel, bawang daun, jagung manis, sawi, tomat, cabe, kobis, selada, brokoli, bawang daun dan labu siam. Sedangkan agroforestri berbentuk talun terdapat pada lereng sungai dengan topografi yang curam.

Zona Tengah

Lokasi penelitian zona tengah DAS Cianjur adalah Desa Mangunkerta. Desa Mangunkerta secara administratif termasuk ke dalam wilayah Kecamatan Cugenang. Di sebelah selatan mengalir Sungai Cisarua yang langsung membagi desa dan berbatasan dengan Desa Srampat, sedangkan di sebelah utara mengalir Sungai Cianjur Kecil yang juga langsung membagi desa dan berbatasan langsung dengan Desa Nyalindung. Di sebelah timur berbatasan dengan Desa Gasol dan di sebelah barat berbatasan dengan Desa Sukamulya. Jumlah penduduk desa

Mangunkerta sebanyak 5.029 jiwa dengan kapadatan/km 210 jiwa dan pendapatan perkapita Rp 264.839/tahun.

Gambar 3.3. Peta penggunaan lahan wilayah tengah (Ali dan Arifin, 2007) Keberadaan pertanaman tanaman semusim hampir berlangsung sepanjang tahun. Di daerah ini curah hujannya juga cukup tinggi, sehingga tidak ada masalah air. Cara penanaman tanaman semusim lebih teratur dalam baris-baris maupun blok-blok tanaman dengan jarak tertentu, hal ini terjadi karena pada umumnya petani di daerah ini merupakan petani-petani spesialis lahan kering dan praktek agroforestri merupakan pekerjaan pokok bagi sebagian besar petani. Pengolahan tanah optimum, benih dan bibit umumnya beli dari pasar serta dilakukan pemeliharaan tanaman seperti pengendalian hama penyakit dan gulma. Jenis tanaman semusim lebih beragam, sementara untuk pohon dilakukan pemangkasan terutama daun untuk mengurangi pengaruh negatif naungan. Talas Bogor (Colocasia esculenta L ) ditanam terutama di pinggir teras sehingga mempunyai nilai tambah yaitu disamping produksi juga untuk menahan erosi (aspek konservasi).

Zona Hilir

Zona hilir wilayah penelitian ini adalah Desa Selajambe. Desa Selajambe secara administratif termasuk wilayah Kecamatan Sukaluyu. Di sebalah selatan berbatasan dengan Desa Tanjungsari, sedangkan di sebelah utara berbatasan

dengan Desa Sukasirna. Di sebelah timur berbatasan dengan Desa Hegarmanah dan sebalah barat berbatasan dengan Desa Babakan Caringin Kecamatan Karang Tengah. Desa ini berada kurang lebih 10 km dari Kota Cianjur dan 5 km dari ibukota kecamatan. Desa ini memiliki jumlah penduduk sebanyak 6.359 jiwa dengan luas wilayah seluas 115.48 ha yang terdiri dari sawah setengan teknis 21.6 ha, lahan kering 11.454 ha dan pemukiman 71.560 ha. Desa ini memiliki kerapatan 2.087 jiwa/km2. Tanaman utama pada lahan kering (kebun campuran) adalah jagung, cabe, ketela pohon, tomat dan ubi jalar.

Penggunaan lahan pada tahun 2000 di zona bawah ini relatif sama dengan jumlah jenis penggunaan lahan pada tahun 1990 sebanyak 4 jenis yaitu sawah, tegal, kebun campuran dan pemukiman (Gambar 3.4). Pada tahun 2000 penggunaan lahan tetap sama yaitu didominasi oleh sawah sebesar 75.37% dari total keseluruhan luas wilayah. Untuk tegalan seluas 4.64%, pemukiman sekitar 12.91% dan penggunaan lahan untuk kebun campuran sekitar 12.91% dari total luas wilayah.

Gambar 3.4. Peta penggunaan lahan wilayah hilir (Ali dan Arifin, 2007) Penggunaan lainnya mengalami peningkatan luas lahan yaitu penggunaan lahan sawah, kebun campuran dan pemukiman. Pada tahun 1990 luas lahan untuk penggunaan sawah meningkat dari 73.37% menjadi 73.54% pada tahun 2000 atau mengalami perubahan bertambah sebesar 1.83%. Kebun campuran pada tahun 1990 luasnya sebesar 3.98% pada tahun 2000 menjadi 7.08%, sedangkan

penggunaan untuk pemukiman pada tahun 1990 sebesar 5.34% pada tahun 2000 berubah menjadi 12.91% dari total luas wilayah lahan keseluruhan. Penggunaan untuk pemukiman ini mengalami perubahan (bertambah) sebesar 7.57% (Ali dan Arifin, 2007).

Waktu tanam untuk tanaman semusim umumnya juga terbatas. Penanaman hanya berlangsung selama Bulan Oktober-Desember untuk jenis tanaman cabe, tomat, jagung, terong atau kacang panjang, dan selanjutnya tanaman dibiarkan tumbuh sampai tanaman tidak berproduksi (mati). Hal ini terjadi karena keterbatasan air (curah hujan rata-rata tahunan 1000 - 2000 mm/tahun) terutama pada musim kemarau (hanya mengandalkan air hujan) sementara air irigasi teknis hanya dialokasikan untuk pertanian lahan sawah, yang lebih menjadi fokus usaha pertanian mereka. Untuk penanaman selanjutnya beberapa petani menanam ketela pohon yang sebenarnya juga menguntungkan karena dengan umurnya yang cukup panjang dan relatif tahan kekeringan maka tanaman ini cocok sampai masa penanaman tanaman selanjutnya.

Penyuluhan tentang agroforestri tidak ada, sementara kelompok tani hanya merupakan kelompok tani sawah. Pengolahan tanah dengan olah tanah minimum (minimum tillage) dengan sekali cangkul atau dengan ditugal, benih dan bibit dibuat oleh petani sendiri, dan hanya sebagian kecil petani yang membeli benih dari pasar. Tingkat pemeliharaan tanaman (pemupukan teratur, pemberantasan hama penyakit dan gulma baik secara mekanis maupun kimiawi) juga sangat rendah, sehingga produktivitas tanaman untuk sistem agroforestri di daerah ini rendah.

Karakteristik Sistem Agroforesti Masyarakat di DAS Cianjur Karakter pohon

Hasil pengamatan menunjukkan bahwa terdapat perbedaan karakter sistem agroforestri masyarakat di tiga zona DAS Cianjur. Di zona hulu, sistem agroforestri berbentuk agroforestri sederhana dengan pola tanam lorong (alley cropping) dan terdapat di Kawasan Penyangga Taman Nasional Gunung Gede Pangrango. Di tengah, terdapat 2 sistem agroforestri yaitu agroforestri berbentuk

alley cropping berbasis mahoni yang terdapat di lahan milik perkebunan teh dan agroforestri berupa kebun campuran milik masyarakat. Sedangkan di hilir 86.67% sistem agroforestri dengan pola campuran (mixed cropping) dan 13.33%

alley cropping berbasis sengon (Tabel 3.5).

Tabel 3.5. Karakteristik agroforestri di tiga zona DAS Cianjur Performance Agroforestri Sistem

Agroforestri

Rataan Luasan Agroforestri

( m2 )

Struktur vegetasi

AF sederhana di hulu Sederhana, pola alley cropping

440 m2 Teratur, bentuk barisan,bedengan, tumpang sari. Jumlah jenis tegakan / pohon = 5 ; Tanaman semusim = 12

AF sederhana di tengah Sederhana, pola alley cropping dan kebun campuran

820m2 Teratur, bentuk

barisan dan blok. Jumlah jenis tegakan / pohon = 20 ; Tanaman semusim = 20

AF kompleks di hilir Kompleks (kebun campuran)

660 m2 Tidak teratur, banyak jenis.

Jumlah jenis tegakan / pohon = 32 ; Tanaman semusim = 21

Pola sebaran pohon pada sistem agroforestri di tiga zona DAS Cianjur juga berbeda. Di hulu pohon pinus atau kayu putih ditanam dalam barisan teratur jarak tanam 4m x 10m. Pohon pinus berumur rata-rata berumur 4 tahun, sedangkan kayu putih > 10 tahun. Kondisi pohon pinus dan kayu putih umumnya kurus tidak subur dan selalu dilakukan pemangkasan 2-3 kali dalam 1 tahun. Di

zona hulu ini petani sebagai pesanggem dapat memanfaatkan lahan-lahan di bawah tegakan untuk dimanfaatkan untuk budidaya tanaman, namun petani juga memiliki kewajiban menjaga dan merawat pohon.

Sedangkan di tengah tegakan/pohon dalam sistem agroforestri didominasi oleh jenis mahoni. Di lahan milik perkebunan teh, tegakan mahoni umur 4 tahun dengan jarak tanam teratur 4m x 10m ditanam pada lahan-lahan yang miring. Sedangkan di hilir, pohon penyusun agroforestri didominasi oleh jenis sengon. Sebagian besar pohon sengon tidak ditanam oleh petani. Adapun gambar/sketsa sebaran pohon pada setiap zona DAS Cianjur terdapat pada Lampiran 3 dan 4.

Jumlah spesies pohon dan tanaman semusim juga berbeda di tiga zona DAS Cianjur. Di hulu ditemukan pohon sebanyak 5 spesies, di tengah 20 spesies dan di hilir 23 spesies. Berdasarkan fungsinya, di hulu 80% penghasil kayu dan 20% pohon buah, di tengah 60% penghasil kayu, 30% pohon buah 10% penghasil bunga sedangkan di hilir 56.52% penghasil kayu, 30.43% penghasil buah, 8.70% penghasil bunga dan 4.40% penghasil obat Tabel 3.6. Data spesies pohon dan tanaman penyusun agroforestri pada setiap zona terdapat pada Lampiran 2.

Tabel 3.6. Spesies pohon dan tanaman semusim (berdasarkan fungsinya) pada sistem agroforestri di tiga zona DAS Cianjur

Jenis Penyusun

Zona DAS

Hulu Tengah Hilir

Jumlah spesies % Jumlah spesies % Jumlah spesies % Tegakan Pohon (kayu) 4 80 12 60 13 56.52 Pohon Buah-buahan 1 20 6 30 7 30.43 Penghasil bunga/hias 0 0 2 10 2 8.70 Penghasil Obat 0 0 0 0 1 4.40 Total 5 100 20 100 23 100.00 Tan Semusim Sayuran 10 83.33 13 65 13 62.00 Pangan 1 8.33 4 20 4 19.04 Buah 1 8.33 2 10 2 9.52 Hias 0 0 1 5 2 9.52 Total 12 100 20 100 21 100.00

Perbedaan jumlah spesies pohon di hulu dan tengah disebabkan oleh tujuan dari pemilihan pohon yang dikaitkan dengan fungsi ekologis dan ekonomis pohon pada setiap zona DAS. Berdasarkan fungsi ekologis pohon yang dipilih adalah pohon yang mempunyai nilai konservasi tinggi dengan perakaran yang dalam dan perkembangan tajuk yang cepat. Sedangkan dari nilai ekonomis adalah pohon yang mempunyai nilai ekonomis tinggi baik berupa getah maupun kulit kayunya (pinus dan kayu putih).

Sistem agroforestri di tengah didominasi pohon mahoni karena disamping memiliki perakaran yang kuat, harga jual kayunya tinggi, ranting bekas pangkasan bisa dimanfaatkan untuk kayu bakar dan daunnya untuk pakan ternak. Sedangkan di hilir, agroforestri berupa kebun campuran dengan jumlah spesies pohon lebih banyak, karena pohon selain untuk memenuhi fungsi ekologis dan ekonomis, juga fungsi produksi yaitu, untuk memenuhi kebutuhan pangan.

Rendahnya jumlah spesies pohon di hulu dan tengah juga disebabkan oleh pola alley cropping yang memerlukan spesies pohon tertentu agar tidak terjadi kompetisi antar pohon dan tanaman, baik kompetisi ruang tumbuh maupun kompetisi penyerapan unsur hara. Pada Alley cropping dengan tegakan pinus di hulu dan mahoni di tengah, masih memungkinkan tersedianya ruang tumbuh bagi tanaman semusim. Hal ini sesuai dengan hasil penelitian Sabarnurdin et al.

(2004), yang menyatakan bahwa pada alley cropping dengan pohon mahoni, pohon memberikan pengaruh pada proses berbagi (sharing) ruang tumbuh dengan tanaman (cash crop). Seiring dengan perkembangan tajuk tegakan mahoni, maka lebar ruang pertanian semakin turun dan ruang pertanian mempunyai ketidakaktifan tinggi pada saat perkembangan tajuk mahoni antar baris sudah bertemu. Adapun masa aktif ruang pertanian berkisar 5.2 sampai 8.7 tahun. Sedangkan menurut Kurniawan (2004), pada agroforestri pinus dengan kedelai, dengan melakukan pemangkasan 1/3 tajuk bagian bawah, mampu meningkatkan penangkapan cahaya yang lolos ke bawah pohon dari 20% menjadi 23% pada saat awal pemangkasan (0 hst) dan pada saat kedelai tumbuh vegetatif maksimum (40 hst) meningkat dari 23% menjadi 28%.

Faktor lain yang mempengaruhi jumlah spesies pohon adalah tingkat intensifikasi sistem agroforestri. Tingkat intensifikasi pertanian yang makin meningkat ke hulu maka pohon yang dipilih hanya jenis-jenis tertentu yang masih dapat memberi ruang untuk tumbuh dan berkembangnya tanaman yang diusahakan petani. Selain itu dengan tofografi yang umumnya berbukit, maka pohon yang dipilih adalah pohon yang memiliki perakaran yang dalam dan tidak terlalu menyebar, tajuk tidak terlalu lebar, mudah dipangkas, sehingga pohon ini bisa memiliki fungsi ganda yaitu dapat mengurangi erosi, daun pangkasan bisa dimanfaatkan untuk menambah bahan organik tanah dan pakan ternak.

Di hilir, 100% agroforestri pada lahan-lahan masyarakat sehingga jenis pohon yang ditanam ditentukan sendiri oleh pemilik/penggarap (Tabel 3.7). Faktor kepemilikan ini mempengaruhi jumlah jenis pohon. Di hulu petani sama sekali tidak memiliki hak atas pohon, begitu juga di tengah pada kebun campuran di areal PTPN, sedangkan di hilir karena kepemilikan ada pada masyarakat (pemilik) maka pemilik memiliki hak untuk memilih dan memanfaatkan pohon yang ditanam sesuai dengan tujuan penanaman.

Tabel 3.7. Pola kepemilikan lahan di tiga zona DAS Cianjur

No Kriteria

Zona DAS

Hulu Tengah Hilir

Jumlah % Jumlah % Jumlah % 1 Petani/penggarap

lahan kehutanan

30 100 18 60 0 0.00

2 Petani sebagai pemilik sendiri

0 0 9 30 6 6.67

3 Petani/penggarap milik orang luar desa

0 0 3 10 19 63.33

4 Petani luar daerah yang menggarap sendiri

0 0 0 0 5 16.67

Jumlah 30 100 30 100 30 100.00

Luasan lahan garapan pada sistem agroforestri (kebun campuran) secara umum kita bedakan menjadi 4 (empat). Luas rata-rata lahan garapan petani juga berbeda di tiga zona DAS Cianjur. Di hulu luas lahan garapan petani 100% sempit dengan rata-rata 440 m2 lebih rendah dibanding di tengah sebesar 820 m2 dan di hilir 660 m2 (Tabel 3.8). Perbedaan rata-rata luas lahan garapan ini diduga

akan mempengaruhi jenis tanaman dan pohon. Rata-rata luasan lahan yang sempit di hulu disebabkan petani mendapatkan lahan yang hampir merata dari BTNGGP (Balai Taman Nasional Gunung Gede Pangrango) dengan luasan 400m2-600m2, begitu juga di tengah, pada lahan milik PTPN 8 (Perkebunan Teh Gunung Gedeh) dengan luasan juga 400m2-600m2. Pada 30 % petani yang menggarap lahan milik sendiri atau orang lain (selain PTPN) luasannya bervariasi antara 400 m2- >1200 m2. Sedangkan di hilir 100% lahan milik petani (milik sendiri atau milik orang lain) maka luasannya juga beragam dengan rata-rata lebih luas dibanding di hulu dan di tengah. Rata-rata luas lahan garapan juga mempengaruhi tingkat intensifikasi pemanfaatan lahan. Di hulu dan tengah dengan luas garapan yang sempit petani akan lebih intensif dalam pemanfaatan lahan. Sedangkan di hilir cenderung kurang intensif (86.68%) dan hanya 13.32% intensif berupa agroforestri sederhana berbasis sengon terutama pada lahan-lahan yang cukup luas dan dimiliki oleh orang lain (dari luar Desa Selajambe).

Tabel 3.8. Rata-rata luas lahan garapan pada sistem agroforestri masyarakat di DAS Cianjur

Zona DAS

Luas Lahan Garapan Luas

rataan (m2) <400 (m2) 400-800 (m2) 800-1200 (m2) >1200 (m2)

Jumlah % Jumlah % Jumlah % Jumlah %

Hulu 0 0.00 30 100.00 0 0.00 0 0.00 440

Tengah 18 60.00 8 26.60 1 3.33 3 10.00 820

Hilir 11 36.67 9 30.00 8 26.60 2 6.67 660

Selain itu jumlah jenis komponen penyusun juga dipengaruhi oleh status garapan dan sistem bagi hasil dari sistem agroforestri yang dikelola (Tabel 3.9). Tabel 3.9. Status garapan dan sistem bagi hasil agroforestri di tiga zona DAS

Cianjur

Kriteria

Zona DAS

Hulu Tengah Hilir

Jumlah % Jumlah % Jumlah %

Hasil untuk penggarap 30 100.00 18 60.00 6 20.00

Bagi hasil (50 : 50) 0 0.00 3 10.00 2 6.67

Milik sendiri 0 0.00 9 30.00 12 40.00

Pohon untuk penggarap 0 0.00 0 0.00 2 6.67

Pohon dibagi hasil 0 0.00 0 0.00 0 0.00

Pohon ke pemilik lahan 0 0.00 9 0.00 8 26.67

Dokumen terkait