• Tidak ada hasil yang ditemukan

HASIL DAN PEMBAHASAN Elastisitas Produksi Anggrek

Dalam dokumen PROSIDING SEMINAR NASIONAL AGRIBISNIS DA (1) (Halaman 162-167)

PRICE ANALYSIS OF DENDROBIUM ORCHID (PHALAENOPSIS AMABILIS L)

HASIL DAN PEMBAHASAN Elastisitas Produksi Anggrek

Produksi anggrek dalam penelitian ini dianalisis menggunakan analisis Regresi Linier Berganda dengan melihat pengaruh faktor – faktor produksi yang mempengaruhi produksi anggrek. Dari model regresi yang ditransformasikan pada model type Cobb Douglas dapat diketahui kondisi produksi anggrek di tingkat petani.

Berdasarkan hasil penelitian, maka analisis produksi dijelaskan sesuai dengan tahapan pemeliharaan anggrek yang diusahakan oleh pengusaha anggrek yaitu

Elastisitas dan Pengaruh Faktor Produksi pada Anggrek Tahap Seeding

Berdasarkan hasil analisis Regresi Linear yang ditransformasikan pada model type Cobb Douglas diperoleh hasil pada Tabel 1 sebagai berikut.

Tabel 1

Pengaruh Faktor Produksi terhadap Produksi Anggrek Tahap Seeding Faktor Produksi Koefisien Regresi thitung Signifikan

Konstanta 3.416 15.200 0,000 Bibit 0,039 0,735 0,470 Pupuk 0,009 0,167 0,871 Luas Lahan 0,107 2,852 0,160 R2 = 0,891 Fhitung = 29,98 (Signifikan = 0,0) Sumber : Hasil Analisis 2015

Pada tabel di atas menunjukkan bahwa model yang digunakan pada penelitian secara teori dapat diterima karena R2 lebih besar dari 50% yaitu sebesar 89,1% sedangkan 10,9% dijelaskan oleh variabel lain yang tidak dimasukkan pada model ini. Fhitung mempunyai tingkat kesalahan 0% sehingga model ini memenuh kriteria kepastian model yang sangat nyata.

Elastisitas produksi pada masing-masing faktor produksi sebesar : 0,639 untuk bibit; 0,009 untuk pupuk; dan 0,017 untuk luas lahan. Angka – angka elastisitas tersebut berdasarkan teori produksi berada pada daerah rasional, berarti pengusaha anggrek pada usahatani anggrek tahap seeding telah memenuhi kriteria efisiensi teknis, kedua nilai elastisitas. Berada pada kisaran elastisitas 0 sampai dengan 1.

Secara statistis dari kegita faktor produksi hanya satu variabel yang berpengaruh secara nyata yaitu luas lahan dengan thitung 2,852 dengan tingkat kesalahahan 16%. Adapun variabel yang lain yaitu bbit dan pupuk secara statistik tidak berpengaruh secara nyata, tetapi secar teori sudah benar karena koefisiennya bernilai positif.

Elastisitas dan Pengaruh Faktor Produksi pada Produksi Anggrek Remaja

Berdasarkan hasil analisis regresi linier berganda dengan ditransformasikan pada model type Cobb Douglas agar koefisien regresinya, sekaligus menjadi elastisitas produksi diperoleh hasil seperti pada Tabel 2.

Tabel 2

Pengaruh Faktor Produksi Terhadap Produksi Anggrek Remaja

Faktor Produksi

Koefisien

Regresi

t

hitung

Signifikan

Konstanta

1,480

3,533

0,006

Bibit

0, 180

2,709

0,020

Pupuk

0,082

0,519

0,614

Luas Lahan

0,306

3,888

0,003

R

2

= 0,994

F

hitung

= 637,805 (Signifikan = 0,0)

Sumber : Hasil Analisis, 2015

Pada tabel diatas menunjukkan bahwa model yang digunakan pada penelitian ini untuk melihat pengaruh faktor produksi terhadap produksi anggrek remaja secara statistik dapat diterima kerena R2mencapai 0,944, hal ini berarti bahwa 99,4 %. Variasi

produksi anggrek remaja dapat dijelaskan oleh variasi variabel bibit, pupuk dan luas lahan, sedang sisanya 0,6 % dijelaskan oleh variabel lain yang tidak dimasukkan model ini. Hasil perhitungan Uji F menunjukkan Fhitung sebesar 637,805 dengan tingkat kesalahan 0%. Hal ini menunjukkan bahwa model ini memenuhi kriteria kepastian model yang sangat nyata.

Elastisitas produksi pada masing – masing faktor produksi yaitu bibit sebesar 0,306, pupuk 0,082, dan koefisien luas lahan sebesar 0,18. Angka-angka elastisitas tersebut berdasarkan teori produksi berada dalam daerah rasional, dengan demikian pengusaha anggrek pada usahatani anggrek remaja telah memenuhi kriteria efisiensi secara teknis, karena nilai elastisitas tersebut berada pada kisaran elastisitas 0 sampai dengan 1.

Secara statistik, penelitian ini hanya satu variabel yaitu pupuk yang tidak berpengaruh secara nyata terhadap produksi anggrek. Namun, secara teori sudah benar karena koefisien regresi variabel ini bernilai positif artinya variabel pupuk dapat meningkatkan produksi anggrek, namun pengaruhnya tidak nyata karena tingkat kesalahannya 61,4 %.

Elastisitas dan Pengaruh Faktor Produksi pada Produksi Anggrek Dewasa

Berdasarkan analisis dengan menggunakan model tipe Cobb Douglass diperoleh hasil seperti pada Tabel 3.

Tabel 3

Pengaruh Faktor Produksi terhadap Produksi Anggrek Dewasa Faktor Produksi Koefisien Regresi thitung Signifikan

Konstanta 1,853 1,439 0,175 Bibit 0,025 2,049 0,046 Pupuk 0,010 1,830 0,175 Luas lahan 0,881 3,575 0,004 R2 = 0,983 Fhitung = 199,74 (Signifikan = 0,0)

Sumber : Hasil Analisis, 2015

Pada tabel diatas menunjukkan bahwa model yang digunakan pada penelitian ini untuk melihat pengaruh faktor produksi terhadap produksi anggrek dewasa, secara statistik dapat diterima karena R2mencapai 0,982, hal ini berarti bahwa 98,2 %. Variasi produksi anggrek dewasa dapat dijelaskan oleh variasi variabel bibit, pupuk dan luas lahan, sedang sisanya sebesar 0,8 % dijelaskan oleh variabel lain yang tidak dimasukkan model ini. Hasil perhitungan Uji F menunjukkan F hitung sebesar 199,74 dengan tingkat kesalahan 0 %. Hal ini menunjukkan bahwa model ini memenuhi kriteria kepastian model yang sangat nyata.

Elastisitas produksi pada masing-masing faktor produksi yaitu bibit sebesar 0,025, pupuk sebesar 0,010 dan koefisien elastisitas untuk luas lahan sebesar 0,881. Angka – angka elastisitas tersebut berdasarkan teori produksi berada pada daerah rasional, dengan demikian pengusaha anggrek dewasa telah memenuhi kriteria efisiensi secara teknis, karena nilai elastisitas tersebut berada pada kisaran elastisitas 0 sampai dengan 1.

Secara statistik dari ketiga faktor tersebut yang tidak berpengaruh secara nyata terhadap produksi anggrek dewasa adalah pupuk. Namun secara teori sudah

Produksi Break Event Point

Untuk menghitung Produksi Break Event Point anggrek tahap seeding, anggrek remaja dan anggrek dewasa yang diusahakan petani, didasarkan bahwa Total Cost merupakan fungsi dari produksi yaitu TC = f (Q), kemudian secara matematis fungsi dirumuskan dalam bentuk fungsi linear yaitu TC = a + bQ, kemudian fungsi ini disesuaikan dengan teori biaya yaitu ditransformasikan ke model kuadratis menjadi :

=

+

Berdasarkan model tersebut, maka dengan langkah – langkah matematis dapat ditentukan Produksi Break Event Point pada tingkat harga yang berlaku saat ini.

Produksi Break Event Point Anggrek Tahap Seeding

Hasil analisis model kuadratik yang digunakan dalam penelitian ini diperoleh persamaan sebagai berikut :

= 8,0097 + 18997,98

0,928

Model ini secara statistik sudah benar karena = 0,818 dengan pengertian bahwa variasi Total Cost dapat dijelaskan oleh varisi produksi anggrek tahap seeding.

Uji kepastian model uji F secara statistik dapat diterima karena F hitung = 26,6 dengan tingkat kesalahan 0 % dengan demikian model ini mempunyai ketepatan yang sangat nyata. Adapun pengaruh produksi terhadap Total Cost secara teori sudah benar karena koefisien regresinya bernilai positif. Sehingga apabila produksi naik dapat dipastikan bahwa Total Cost akan naik.

Untuk menentukan produksi Break Event Point dapat dilakukan dengan manipulasi matematis, dengan asumsi dalam jangka panjang tidak ada biaya tetap, karena biaya tetap dalam jangka panjang merupakan biaya variabel, adapun perhitungan secara matematis sebagai berikut :

= 8.997,446 + 8947,968 0,929

Berdasarkan perhitungan ini, apabila pengusaha anggrek menjual anggrek tahap seeding sebesar Rp 3.166,- per pot, maka produksi Break Event Point dicapai pada 3112 pot anggrek seeding, sedangkan produksi rata-rata amggrek seeding sebanyak 8216 pot dengan harga per pot sebesar Rp 25.000,-.

Produksi Break Event Point Anggrek Remaja

Hasil analisis model kuadratik digunakan dalam penelitian ini diperoleh persamaan sebagai berikut.

= 50.000.000 + 28159,947 + 0,547

Model ini secara statistik sudah benar karena R2 = 0,966 yang berarti bahwa variasi Total Cost dapat dijelaskan oleh variasi produksi sebesar 96,6 %, sedangkan 3,4 % dipengaruhi variabel lain yang dimasukkan dalam model ini.

Uji kapasitas model yaitu Uji F secara statistik dapat diterima karen F hitung = 167,92 dengan tingkat kessalahan 0 % dengan demikian model ini mempunyai ketepatan yang sangat nyata. Adapun pengaruh produksi terhadap Total Cost secara teori sudah benar karena koefisien regresinya bernilai positif, sehingga apabila produksi naik dapat dipastikan Total Costnya naik.

Untuk menentukan produksi Break Event Point dapat dilakukan dengan manipulasi matematis, dengan asumsi dalam jangka panjang tidak ada biaya tetap, karena dalam jangka panjang semua biaya menjadi biaya variabel. Adapun perhitungan secara matematis sebagai berikut :

= 50.000.000 + 28159,947 + 0,547

Berdasarkan perhitungan ini, apabila pengusaha anggrek menjual anggrek remaja dengan harga Rp 38.620,- per pot, maka produksi Break Event Point dicapai pada 9.560 pot anggrek remaja, sedangkan produksi rata-rata anggrek remaja sebanyak 28.800 pot.dengan harga per pot sebesar Rp 65.000,-.

Produksi Break Event Point Anggrek Dewasa

Hasil analisis model kuadratik hubungan Total Cost dengan produksi penelitian ini didapatkan persamaan sebagai berikut.

= 50.000.000 + 61951,369 + 2,448

Model ini secara statistik sudah benar karena R2 = 0,956 yang berarti bahwa variasi Total Cost dapat dijelaskan oleh variasi produksi sebesar 95,6 %, sedangkan 4,4 % dipengaruhi variabel lain yang dimasukkan dalam model ini.

Uji kapasitas model yaitu Uji F secara statistik dapat diterima karen F hitung = 129,26 dengan tingkat kessalahan 0 % dengan demikian model ini mempunyai ketepatan yang sangat nyata. Adapun pengaruh produksi terhadap Total Cost secara teori sudah benar karena koefisien regresinya bernilai positif, sehingga apabila produksi naik dapat dipastikan Total Costnya naik.

Untuk menentukan produksi Break Event Point dapat dilakukan dengan manipulasi matematis, dengan asumsi dalam jangka panjang tidak ada biaya tetap, karena dalam jangka panjang semua biaya menjadi biaya variabel. Adapun perhitungan secara matematis sebagai berikut.

= 50.000.000 + 61951,369 + 2,448

Berdasarkan perhitungan ini, apabila pengusaha anggrek menjual anggrek dewasa dengan harga Rp 84.078,- per pot, maka produksi Break Event Point dicapai pada 4.519 pot anggrek dewasa, sedangkan produksi rata-rata anggrek dewasa ditingkat pengusaha saat ini adalah 14.625 pot bunga anggrek. dengan harga per pot sebesar Rp 175.000,-.

PENUTUP

Faktor produksi (Bibit, Pupuk, dan Luas lahan) secara bersama – sama berpengaruh secara signifikan terhadap produksi bunga anggrek dendrobium. Dan secara parsial baik pada tahap seeding, remaja dan dewasa faktor luas lahan berpengaruh secara signifikan terhadap produksi Bunga anggrek dendrobium sedangkan bibit berpengaruh signifikan pada tahap remaja dan dewasa. Produksi Anggrek yang dikelola pengusaha anggrek di Surabaya secara umum telah memenuhi kriteria efisiensi secara teknis baik pada pengusahaan tahapan anggrek seeding, anggrek remaja, anggrek dewasa. Karena elastisitas pada masing – masing tahapan berada pada kisaran elastisitas 0 sampai dengan 1. Produksi anggrek secara umum di atas produksi Break event point tingkat harga yang berlaku saat ini, sehingga dapat

masih dapat memperluas usahanya. Produksi anggrek pada masing-masing pengusaha secara umum masih di bawah rata-rata. Oleh karena itu. Produksi anggrek masih dapat ditingkatkan dengan memperhatikan teknik budidaya yang lebih baik. Misalnya kombinasi pupuk, media yang sesuai dan mengkondisikan lingkungan terutama suhu dan kelembapan udara

DAFTAR PUSTAKA

Hamidi K.dan Arifudin Lamusa (2014). Pengaruh Faktor-Faktor Produksi Terhadap Produksi Usaha Industri Kerajinan Taangan Mutiara Ratu di Kota Palu.E Jurnal Agrotekbis 2(6):676-680.

Henderson JM and Quant (1971) Microeconomic Theory: A Mathematical Approach (Economics Handbook Series). Second Edition. MCGraw Hill Book Company Inc. New York

Nugiantoro B, Gunawan, Marzuki (2001). Statistik Terapan Untuk Penelitian Ilmu-Ilmu Sosial. Gadjah Mada Press. Yogyakarta

Harahap N, Dwi KumalaV.(2008)

Pengaruh Efisiensi Biaya Produksi Terhadap

Dalam dokumen PROSIDING SEMINAR NASIONAL AGRIBISNIS DA (1) (Halaman 162-167)