PROVINSI LAMPUNG
HASIL DAN PEMBAHASAN Karakteristik Responden
Petani responden berumu pendidikan petani adalah tamat orang (81,25%). Rata-rata respo seluas 0,25 hingga 1 hektar den yang dihasilkan ialah sebesar 8.0 jual pepaya california Rp2000/kg sebesar Rp56.080.000. Pepaya petani menggunakan pupuk kim Nutrition. Pestisida yang digunak 250 ml. Peralatan yang diguna golok, ember, sprayer, selang dan
tahui periode waktu yang diperlukan untuk pe vestasi, yang menggunakan rumus Kadariah (
= x 1 tahun
yback Period, I0 adalah investasi awal dan A
setiap periode.
dilakukan dengan memperhitungkan sa an produksi, penurunan harga jual dan pe paya california di Kecamatan Kalianda dan W jual 12,5%, kenaikan biaya produksi 6, 0%. Sensitivitas dapat dihitung menggunak ).
atau IRR atau Net B/C ratio atau PP atau G adalah NPV atau IRR atau Net B/C ratio atau rubahan, X adalah Rata-rata perubahan NPV au Gross B/C, Y1adalah Harga jual atau biaya
erubahan,Y0adalah Harga jual atau biaya prod
aha dan Yadalah Rata-rata perubahan harga ialah jika nilai laju kepekaan > 1, maka hasi bahan dan jika nilai laju kepekaan < 1, m rhadap perubahan
iptif kualitatif digunakan untuk menganalisis sosial dan lingkungan serta pemasaran dari
mur 25-57 tahun, dengan rata-rata 44,66 tahun at sekolah menengah atas (SMA) yaitu seb sponden mengusahakan pepaya california pa
engan rata-rata 0,51 hektar. Produksi pepaya 8.000 kg buah hingga 30.000 kg per tahun den 0/kg sehingga penerimaan rata-rata petani p ya california yang dibeli berbentuk batang d kimia seperti NPK, TSP, Urea, Gandhasil da
akan juga pestisida kimia. Satu botol pestisida nakan ialah peralatan sederhana seperti can dan mesin air.
pembayaran h (2001). = x 1 tahun (5) Ab adalah salah satu peningkatan n Way Panji 6,41% dan akan rumus (6) u Gross B/C tau PP atau V atau IRR aya produksi roduksi atau rga jual atau sil kegiatan maka hasil s kelayakan ri budidaya un. Tingkat sebanyak 26 pada lahan ya california engan harga i per tahun dan benih, dan Power sida berisikan cangkul, arit,
Analisis Finansial Usahatani Pepaya California Tabel 2
Kriteria Finansial Usahatani Pepaya Californiadi Kabupaten Lampung Selatan
Kriteria Nilai Layak
Net B/C Gross B/C 35,53 3,78 Layak Layak PP (tahun) 0,13 Layak NPV (Rp) Rp57.751.540,21 Layak IRR (%) 27,63% Layak
Sumber : Data Primer Diolah, 2015
Tabel 2, merupakan hasil perhitungan analisis finansial usahatani pepaya california. Umur ekonomis yang digunakan ialah 3 tahun dengan tingkat suku bunga 14% yang merupakan Suku Bunga Bank Indonesia (2015). Berdasarkan tabel 1 dapat dikatakan usahatani pepaya california layak diusahakan karena memiliki nilai Net B/C dan NPV yang lebih besar dari 1, nilai Payback Periode yang lebih kecil dari umur ekonomis, dan nilai IRR yang lebih besar dari tingkat suku bunga yang digunakan yaitu sebesar 14%.
Penelitian sejenis yang digunakan sebagai pembanding pada penelitian ini ialah hasil penelitian terdahulu Rizana (2014), Seftiana (2010) dan Astanu (2013) yang meneliti tentang kelayakan usahatani pepaya california di Lampung Selatan dan Subang serta kelayakan finansial tanaman pala di Kabupaten Tanggamus. Perbedaan antara penelitian ini dengan penelitian terdahulu salah satu nya tidak menganalisis aspek-aspek kelayakan budidaya pepaya california, selain itu juga dipengaruhi oleh penggunaan tingkat suku bunga dan umur ekonomis yang berbeda.
Analisis Sensitivitas Pepaya California
Tabel 3 (Lampiran), merupakan perhitungan sensitivitas terhadap penurunan produksi pepaya california yang diasumsikan turun sebesar 10% yang didapatkan dari informasi petani dan Dinas Tanaman Pangan dan Hortikultura Lampung Selatan akibat serangan hama dan penyakit. Pada Tabel 3 dapat dilihat bahwa penurunan produksi pepaya california sebesar 10% mengalami perubahan dari masing-masing kriteria investasi, nilai Gross B/C, Net B/C, NPV, IRR dan Payback Period masih dalam keadaan layak. Setelah dianalisis semua kriteria investasi seperti Gross B/C,Net B/C, NPV, Payback Period dan IRR menunjukkan sensitif terhadap perubahan akibat adanya penurunan produksi pepaya california sebesar 10%.
Tabel 4 (Lampiran), merupakan perhitungan terhadap penurunan harga output sebesar 12,5%, dimana harga pepaya california yang bulat Rp2000 sedangkan yang bulat Rp1750. Pada Tabel 4 dapat dilihat mengalami perubahan dari masing-masing kriteria investasi, nilai Gross B/C, Net B/C, NPV, dan Payback Period masih dalam keadaan layak. Setelah dianalisis semua kriteria investasi seperti Gross B/C,Net B/C, NPV, Payback Period dan IRR menunjukkan usahatani pepaya california sensitif terhadap perubahan harga pepaya california yang mengalami penurunan 12,5%.
Analisis sensitivitas terhadap kenaikan biaya produksi pepaya california menggunakan asumsi kenaikan biaya sebesar 6,41% yang terjadi akibat inflansi tahun 2015. Terlihat pada Tabel 5 (Lampiran) bahwa dengan kenaikan biaya produksi mengakibatkan perubahan nilai dari Gross B/C, Net B/C, NPV, IRR dan Payback Period masih dalam keadaan layak setelah mengalami perubahan. Setelah dianalisis hanya kriteria Gross B/C, Net B/C dan IRR yang sensitif terhadap perubahan akibat kenaikan biaya produksi dari pepaya california.
0% 20% 40% 60% 80% Sulit Tidak Sulit
Kelayakan Teknis Budidaya
Menurut aspek budidaya pepaya california suhu yang cocok untuk tanaman pepaya california 25-300C dengan curah hujan 1000-2000 mm/tahun dengan pH yang netral untuk menghindari jamur dan busuk batang. Kondisi tanah sedikit berpasir dan ditanam diketinggian dibawah 500mdpl (Amir Hamzah, 2014). Daerah penelitian pepaya california di Kecamatan Kalianda dan Way Panji sudah memenuhi kriteria syarat tumbuh pepaya california. Pepaya california tidak memerlukan teknis khusus dalam perawatannya. Cara penggunaan pupuk dan dosis obat-obatan sudah sesuai dengan ketentuannya.
Sumber sarana produksi seperti benih, bibit, obat-obatan tidak sulit didapatkan oleh petani. Hanya saja kendala dalam pemberian pupuk kimia yang masih terbatas. Petani daerah penelitian tidak tergabung dalam kelompok tani sehingga ada keterbatasan jumlah pupuk yang dapat petani gunakan untuk usahatani pepaya california.
Gambar 1 dapat dilihat bahwa 59% petani di Kecamatan Kalianda dan Way Panji kesulitan dalam mendapatkan pupuk kimia, sedangkan 41% petani tidak kesulitan karena petani tersebut hanya memiliki lahan pepaya california skala kecil sehingga pupuk kimia yang diperlukan hanya sedikit.
Sumber : Data Primer Diolah, 2015 Gambar 1
Kesulitan Petani dalam Mendapatkan Pupuk Kimia Kelayakan Ekonomi
Secara aspek ekonomi dan setelah dihitung secara finansial budidaya pepaya california layak untuk dibudidayakan. Sebagian besar petani yang membudidayakan pepaya california dapat meningkatkan pendapatan dan dapat dipanen berulang yang cocok untuk masyarakat memenuhi kebutuhan hidupnya.
Kendala yang dirasakan petani ialah keterbatasan modal untuk pembeliaan sarana produksi sehingga mengakibatkan petani membudidayakannya secara terbatas. Sehingga petani harus menyisihkan keuntungan untuk keberlanjutan usahataninya. Sebagian besar petani tidak memiliki pekerjaan tetap, beberapa petani memiliki pekerjaan tetap seperti karyawan PT.Biru Laut atau pegawai negri yang bisa meminjam modal usahtaninya dengan meminjam modal di koperasi tempat mereka bekerja.
Gambar 2 menjelaskan bahwasannya 95% petani mengalami kesulitan dalam kepemilikan modal (memakai modal sendiri), sedangkan 5% mendapatkan pinjaman dari koperasi tempat mereka bekerja. Pengembalian modal dilakukan dengan cara memotong gaji dengan bunga 1,2% per tahun.
Sumber: Data Primer Diolah, 2015 Gambar 2
Sumber Kepemilikan Modal Kelayakan Sosial dan Lingkungan
Aspek sosial dan lingkungan yang dirasakan petani dengan adanya usahatani pepaya california membuka lapangan pekerjaan bagi masyarakat sekitar seperti buruh tani, pedagang dan sarana daerah sentra pepaya california berangsur-angsur membaik. Wilayah penelitian hanya sedikit dalam pencurian buah hanya 1-2 buah saja dan tidak semua petani mengalami pencurian buah. Pengolahan limbah budidaya untuk lahan sekitar tepi pantai belum berjalan dengan baik dikarena beberapa petani membuang limbah batang pepaya california ke laut, tetapi sebagian petani lainnya membiarkan membusuk dilahan menganggap sebagai pupuk organik.
Kenaikan harga-harga sembako mempengaruhi terhadap usahatani pepaya california. Dengan naiknya harga sembako maka mempengaruhi petani untuk membiayai usahataninya, karena petani sebagian besar mencampur pengeluaran rumah tangga dengan usahataninya. Terlihat pada Gambar 3 bahwa 53% petani beranggapan kenaikan harga mempengaruhi dalam usahataninya, sedangkan 47% tidak merasa berpengaruh dikarenakan skala usahataninya tidak besar.
Sumber: Data Primer Diolah, 2015 Gambar 3
Pengaruh Kenaikan Biaya Usahatani Kelayakan Pemasaran
Saluran pemasaran pepaya california di Kecamatan Kalianda dan Way Panji pada umumnya petani yang membudidayakan pepaya california ialah perseorangan tidak tergabung dalam kelompok tani, sehingga hasil panennya dijual semua kepada pedagang besar.
Gambar 4, menjelaskan bahwa pepaya california memiliki 2 saluran. Saluran pertama dari petani 100% hasil dijual ke pedagang pengumpul 80% pepaya california dijual kepada pedagang pengecer lalu terakhir ke konsumen. Saluran kedua petani menjual 100% hasil panennya ke pedagang pengumpul lalu 20% pepaya california dijual kepada agen buah yang lalu dijual kembali ke konsumen terakhir.
0% 50% 100% Pinjam Koperasi Modal Pribadi 0% 50% 100% Berpengaruh Tidak Berpengaruh
Sumber : Data Primer Diolah, 2015 Gambar 4
Saluran-saluran Pemasaran Pepaya California PENUTUP
Kriteria atau faktor yang perlu diprioritaskan dalam pengembangan agroindustri berbasis siwalan di Kecamatan Pragaan Kabupaten Sumenep adalah kriteria bahan baku (13,65%), teknologi (13,42%), modal (12,96%), peluang pasar (12,96%), tenaga kerja (12,03%), kebijakan pemerintah (12,03%), sarana prasarana (11,8%), dan dampak lingkungan (11,11%). Bahan baku menjadi prioritas utama penentu pengembangan agroindustri siwalan. Sedangkan dampak lingkungan menjadi prioritas terakhir atau tidak menjadi pertimbangan oleh pelaku usaha agroindustri siwalan di Kecamatan Pragaan Kabupaten Sumenep. Alternatif agroindustri berbasis siwalan yang terpilih dan berpotensi untuk dikembangkan di Kecamatan Pragaan Kabupaten Sumenep adalah agroindustri kerajinan tangan, dan selanjutnya diikuti agroindustri sirup, agroindustri gula merah, agroindustri selai, agroindustri gula semut, agroindustri nata, agroindustri jelly drink, agroindustri jubada, agroindustri tuak, dan urutan potensial yang terkhir adalah agroindustri buah kaleng. Pemerintah seharusnya memberikan bantuan sarana produksi berupa teknologi atau peralatan yang lebih modern kepada pelaku usaha pengolahan siwalan, sehingga proses pengolahan berjalan lebih cepat dan efisien serta kualiatas produk yang dihasilkan lebih baik. Pemerintah perlu melakukan pembinaan dan pelatihan dalam membuat kerajinan tangan atau anyaman dari daun siwalan kepada pelaku usaha yang masih belum terampil. Sehingga nantinya bisa menciptakan dan menghasilkan produk kerajinan tangan yang lebih kreatif dan berkualitas.
DAFTAR PUSTAKA
Arikunto S. 2002. Prosedur Penelitian Suatu Pendekatan Praktek. Rineka Cipta. Jakarta.
Astanu DA. 2013. Analisis Kelayakan Finansial Budidaya Intensif Tanaman Pala di Kecamatan Gisting Kabupaten Tanggamus. JIIA Vol 1: No 3 : 1-8.
Badan Pusat Statistik Provinsi Lampung 2014. Lampung dalam Angka. Bandar Lampung.
Bank Indonesia. 2015. Angka Inflansi Tahun 2015. Jakarta.
Dinas Pertanian, Tanaman Pangan, dan Hortikultura Provinsi Lampung. 2014. Data Produksi Hortikultura Lampung Selatan. Dinas Pertanian Tanaman Pangan dan Hortikultura Provinsi Lampung. Bandar Lampung.
Gittinger JP dan Hans AA. 1993. Evaluasi Proyek. Jakarta.
Hamzah, A. 2014. Jurus Sukses Bertanam Pepaya California. Jakarta.
Kadariah. 2001. Evaluasi Proyek Analisa Ekonomi. Lembaga Penerbit Fakultas Ekonomi. Universitas Indonesia. Jakarta.
Rizana, D. 2014. Analisis Penentuan Harga Pokok Produksi dan Kelayakan Finansial Pepaya California di Kabupaten Lampung Selatan. JIIA Vol 2: No 3 : 1-9.
Seftiana, L. 2010. Analisis Kelayakan Usahatani Pepaya di Desa Blendung, Kecamatan Purwadadi Kabupaten Subang. JMA IPB Vol 3 : No 2 : 1-6.
Lampiran
Tabel 1
Produksi Buah-buahan Utama Menurut Kabupaten atau Kota dan Jenis Buah di Provinsi Lampung (ton) tahun 2014.
No Kabupaten/Kota Mangga Durian Jeruk Pisang Pepaya Nanas Lainnya 1 Lampung Barat 1.205 1.873 1.768 14.786 2.201 286 15.436 2 Tanggamus 804 18.775 34 13.677 776 15 26.537 3 Lampung Selatan 4.453 11.321 58 205.668 1.879 190 17.654 4 Lampung Timur 1.966 2.334 555 122.107 117.216 87 18.453 5 Lampung Tengah 2.234 897 498 14.263 1.005 504.654 23.125 6 Lampung Utara 2.840 1.750 490 13.377 766 138 10.798 7 Way Kanan 5.987 1.346 397 6.744 287 123 9.267 8 Tulang Bawang 1.245 18 105 1.345 332 44 4.678 9 Pesawaran 2.950 5.496 125 309.031 1.009 156 33.569 10 Pringsewu 113 176 237 1.227 67 1 1.639 11 Mesuji 178 5 2 1.470 51 17 1.653
12 Tulang Bawang Barat 790 10 76 1.015 200 40 5.571
13 Bandar Lampung 256 465 4 540 210 7 1.428
14 Metro 34 10 6 142 143 9 7.890
Lampung 25.055 44.476 4.355 705.392 126.142 505.767 177.698 Sumber: Badan Pusat Statistik Provinsi Lampung, 2014.
Tabel 3
Perubahan Nilai Analisis Usaha Akibat Adanya Penurunan Harga Output Sebesar 12,5%
Ket Nilai Awal Nilai Perubahan Laju Kepekaan
Ket
Gross B/C Ratio 3,78 3,31 1,00 Sensitif
Net B/C Ratio 35,53 17,44 5,12 Sensitif
NPV Rp57.751.540,21 Rp47.934.112,34 1,39 Sensitif
PP 0,13 0,14 1,00 Sensitif
IRR 27,63% 13,36% 5,22 Sensitif