• Tidak ada hasil yang ditemukan

Internal Rate of Return (IRR)

Dalam dokumen PROSIDING SEMINAR NASIONAL AGRIBISNIS DA (1) (Halaman 143-153)

POTENSI BISNIS UKM BATIK MADURA Novi D.B Tamami, Slamet Sobari dan Ihsannudin

2. Internal Rate of Return (IRR)

adalah analisis finansial untuk menghitung tingkat bunga yang menyamakan nilai sekarang investasi dengan nilai sekarang penerimaan-penerimaan kas bersih dimasa mendatang. IRR juga dapat didefinisikan sebagai suatu tingkat bunga dimana seluruh net cash flow sesudah dipresent value-kan sama jumlahnya dengan

investment cost atau suatu tingkat bunga yang dapat menyamakan nilai NPV sama dengan nol. Menurut Husnan dan Suwarsono (2000) bahwa apabila tingkat bunga ini lebih besar dari pada tingkat bunga relevan (tingkat keuntungan yang diisyaratkan), maka investasi dikatakan menguntungkan, sebaliknya jika lebih kecil dikatakan merugikan.

Analisis IRR dapat digunakan untuk mencari pada tingkat bunga (discount rate) berapa akan dihasilkan NPV sama dengan nol, atau mendekati initial investment. Ketentuan perhitungan IRR adalah : meningkatkan tingkat bunga yang menghasilkan NPV positif sekecil-kecilnya dan tingkat bunga yang menghasilkan NPV negatif yang sekecil-kecilnya, menentukan tingkat bunga tersebut di atas dilakukan dengan cara coba-coba sampai mendapatkan tingkat bunga yang dimaksud.

Prosedur perhitungan untuk memperoleh nilai IRR dilakukan dengan mencoba- coba (Interpolasi). Bila NPV pada tingkat discount rate positif, maka percobaan pertama dilakukan dengan menggunakan nilaidiscount rateyang lebih besar dari nilai

discount rate yang berlaku sebelumnya. Sebaliknya bila pada tingkat discount rate

yang berlaku nilai NPV negatif, maka percobaan pertama dilakukan dengan menggunakan discount rate yang lebih kecil dari tingkat discount rate yang berlaku. Selanjutnya percobaan diulang sampai memperoleh NPV yang bernilai positif dan NPV yang bernilai negatif. Nilai NPV hasil Interpolasi yang bernilai positif disebut NPV’, sedangkan NPV yang bernilai negatif disebut NPV”. Tingkat bunga (discount rate) yang digunakan disebut i’dan i”.

Kriteria IRR memberikan pedoman bahwa proyek akan dipilih apabila nilai IRR lebih besar dari pada sosialdiscount rate, dan sebaliknya jika nilai IRR lebih kecil dari padadiscount rate, maka sebaiknya proyek tidak dijalankan.

IRR = + " "+ Keterangan :

i’ : tingkatdiscount ratepadainterpolasipertama (lebih kecil) i” : tingkatdiscount ratepadainterpolasikedua (lebih besar) NPV’ : nilai NPV padadiscount ratepertama (positif)

NPV” : nilai NPV padadiscount ratekedua (negatif) 3. Net Benefit-Cost Ratio (Net B/C)

Menurut Suratman (2001), teknik profitabilitas index disebut juga dengan analisis benefit cost ratio (B/C ratio), merupakan analisis finansial yang mengukur layak atau tidaknya suatu usulan proyek investasi dengan cukup membandingkan antara present value aliran kas proyek dengan present value (initial invesment). Jika nilai profitabilitas index lebih besar dari 1, usulan proyek dikatakan layak, sebaliknya jika profitabilitas index lebih kecil dari 1, usulan proyek dikatakan tidak layak. Sebagaimana metode NPV, maka metode ini perlu menentukan terlebih dahulu tingkat bunga yang akan dipergunakan.

Net Benefit-Cost Ratio (Net B/C) merupakan perbandingan antara net benefit

yang telah didiscount positive dengan net benefityang telah didiscount negative. Jika nilai net B/C > 1 berarti proyek/usaha tersebut layak untuk dikerjakan, dan proyek tidak diterima jika net B/C ratio < 1, untuk net B/C sama dengan satu berarti cash in flows

sama dengan cash out flows atau disebut break event point, yaitu dimana total cost

sama dengan totalrevenue. Perhitungan Net B/C dengan menggunakan persamaan 3.

Net B/C = ( ) ( ) Net B/C = ( )

Keterangan :

Bt : benefit kotor pada tahun ke-t Ct : biaya kotor pada tahun ke-t n : umur ekonomis dari proyek i :discount rateyang berlaku t : 1,2,3,4, dst

R : Total PV pendapatan (C)op : Total PV pengeluaran Ct : Investasi awal

HASIL DAN PEMBAHASAN

Pendapatan Ukm Batik Madura di Tiga Kabupaten

Berikut ini merupakan perbandingan jumlah biaya, penerimaan dan pendapatan UKM Batik Madura di Kabupaten Bangkalan, Pamekasan dan Sumenep.

Tabel1

Perbandiangan Biaya UKM Batik Madura di Tiga Kabupaten Nama UKM/ Jenis

Biaya

Vatur Jaya Bintang Abadi Melati Biaya Tetap (Rp/th) 73.719.333

3.837.000

8.644.000 Biaya Variabel (Rp/th) 1.153.800.000 268.500.000 569.280.000 Biaya Total (Rp/th) 1.227.519.333 272.337.000 577.924.000

Dari tabel di atas terlihat jelas bahwa dari sisi biaya UKM Batik Bintang Abadi Pamekasan paling efisien dibandingkan yang lain, sedangkan ukm batik Vatur Jaya Kabupaten Bangkalan menghabiskan biaya paling banyak. Dari ketiga ukm batik di masing-masing Kabupaten, baik Bangkalan, Pamekasan dan Sumenep ketiganya mengalokasikan biaya terbesar pada biaya variable produksi dengan beban terbesar terserap pada kegiatan pembelian bahan baku kain.

Tabel 2

Penerimaan dan Pendapatan UKM Batik Madura di Tiga Kabupaten Nama UKM/ Jenis produk Vatur Jaya Bintang Abadi Melati Batik Tulis (Harga) 470 unit Rp.185.000/unit 400 unit Rp. 80.000/unit 450 unit Rp.120.000/unit Batik Cap (Harga) 600 unit Rp.40.000/unit 50 unit Rp.50.000/unit Baju Batik (Harga) 30 unit Rp. 260.000/unit Total Penerimaan (Rp/th) Rp. 1.425.000.000 Rp. 402.000.000 Rp.648.000.000 Total Pendapatan (Rp/th) Rp.197.481.000 Rp.129.663.000 Rp. 70.076.000

Berdasarkan tabel diatas ketiga ukm batik Madura memperoleh pendapatan yang sangat berbeda. Pendapatan tertinggi diperoleh oleh ukm batik vatur jaya Tanjung Bumi Kabupaten Bangkalan sebesar Rp. 197.481.000 per tahun atau rata-rata Rp. 16.456.750 per bulan. Hal ini disebabkan oleh besarnya skala produksi yang dikelola oleh ukm Vatur jaya jauh lebih besar dibadingkan ukm lainnya. Disamping itu ukm ini sudah melakukan diversifikasi produk berupa baju batik jadi siap pakai dengan mematok harga untuk kalangan menengah ke atas.

Kelayakan Usaha UKM Batik Madura di Tiga Kabupaten UKM Vatur Jaya Kabupaten Bangkalan

NPV (Net Present Value) merupakan selisih antara benefit (penerimaan) dengan cost (pengeluaran) yang telah di present value kan. Kegunaan menggunakan NPV adalah menghitung manfaat usaha saat dimasa yang akan datang yang akan dinilai saat ini. suatu usaha dikatakan layak apabila NPV >0. Berdasarkan hasil analisis diketahui bahwa UKM batik Vatur Jaya layak untuk dijalankan karena memiliki nilai NPV positif Tabel 3.

IRR (Internal Rate of Return) merupakan analisis finansial untuk menghitung tingkat bunga yang menyamakan nilai sekarang investasi dengan nilai sekarang penerimaan-penerimaan kas bersih dimasa mendatang. Dalam perhitungan diatas nilai IRR adalah sebesar 16,4% lebih besar dari bunga pinjaman sebesar 9% yang berarti usaha tersebut layak melakukan investasi dan menjalankan operasional usahanya.

Tabel 3

Perhitungan NPV dan IRR ukm Vatur Jaya

Nilai B/C ratio merupakan perbandingan antara pendapatan dan biaya produksi. Berdasarkan pienerimaan dan biaya yang dikeluarkan, nilai B/C ratio atas biaya total yang diperoleh adalah sebesar 0,16 > 0 berarti usaha tersebut layak untuk dijalankan dan dapat memberikan keuntungan. Nilai B/C ratio sebesar 0,16 berarti untuk setiap Rp.100.000 biaya yang dikeluarkan, maka usaha batik Vatur Jaya akan memperoleh keuntungan sebesar Rp. 16.000. B/C ratio sebesar 0,16 menunjukkan bahwa usaha batik Vatur Jaya menguntungkan untuk dijalankan.

Tabel 4

Perhitungan B/C Ratio UKM Vatur Jaya

Benefit = TR-TC 197.480.667

Total Cost 1.227.519.333

B/C Ratio 0,16

UKM Bintang Abadi Kabupaten Pamekasan NPV

Tabel 5

Perhitungan NPV dan IRR UKM Batik Bintang Abadi

analisis diketahui bahwa UD. Bintang Abadi layak dijalankan karena memiliki nilai NPV positif yaitu sebesar Rp. 586.848.631.

IRR merupakan analisis finansial untuk menghitung tingkat bunga yang menyamakan nilai sekarang investasi dengan nilai sekarang penerimaan penerimaan kas bersih di masa datang. Dalam perhitungan analisis di atas diketahui bahwa nilai IRR sebesar 15,38 yang artinya bahwa nilai IRR lebih besar dari tingkat suku bunga 9%. sehingga dapat dikatakan bahwa usaha ini layak untuk melakukan investasi dan menjalankan operasional usahanya.

Tabel 6

Perhitungan B/C Rasio UKM Batik Bintang Abadi

keterangan Nilai

Profit Rp 129.663.000

TC Rp 272.337.000

B/C Rasio 0,48

Nilai B/C ratio merupakan perbandingan antara pendapatan dan biaya produksi. Berdasarkan tabel di atas diketahui bahwa nilai B/C ratio sebesar 0,48 > 0 berarti usaha tersebut layak untuk dijalankan dan dapat membeikan keuntungan. Hal ini menunjukakan bahwa dengan B/C ratio sebesar 0,48 berarti untuk setiap Rp.100.000 biaya yang dikeluarkan, maka usaha batik Melati akan memperoleh keuntungan sebesar Rp. 48.000. dengan B/C ratio sebesar 0,48 menunjukkan bahwa usaha batik Bintang Abadi menguntungkan untuk dijalankan.

UKM Melati Kabupaten Sumenep

Tabel 7

Perhitungan NPV dan IRR UKM Batik Bintang Abadi

Net Present Value(NPV) merupakan selisih antara benifit (penerimaan) dengan

cost (pengeluaran) yang telah di present value-kan. Kegunaan menggunakan metode NPV adalah menghitung manfaat usaha saat dimasa yang akan datang yang akan dinilai saat ini. Suatu usaha akan dikatakan layak apabila nilai NPV > 0. Berdasarkan hasil analisis diketahui bahwa UKM batik Melati layak dijalankan karena memiliki nilai NPV positif (Lampiran 3).

Internal Rate of Return (IRR) merupakan analisis finansial untuk menghitung tingkat bunga yang menyamakan nilai sekarang investasi dengan nilai sekarang penerimaan- penerimaan kas bersih dimasa datang. Dalam perhitungan diatas nilai IIR sebesar 16,13% > bunga pinjaman 9% sehingga dapat dikatakan bahwa UKM batik Melati layak melakukan investasi dan menjalankan oprasional usahanya.

Tabel 8

Perhitungan B/C Ratio UKM Batik Melati Profit (TR-TC) Rp97.076.000

TC Rp577.924.000

B/C Ratio 0,16

Nilai B/C ratio merupakan perbandingan antara pendapatan dan biaya produksi. Berdasarkan penerimaan dan biaya yang dikeluarkan, nilai B/Cratio atas biaya total yang diperoleh adalah sebesar 0,16 > 0 berarti usaha tersebut layak untuk dijalankan dan dapat membeikan keuntungan. Hal ini menunjukakan bahwa dengan B/C ratio sebesar 0,18 berarti untuk setiap Rp.100.000 biaya yang dikeluarkan, maka usaha batik Melati akan memperoleh keuntungan sebesar Rp. 16.000. dengan B/C ratio sebesar 0,16 menunjukkan bahwa usaha batik Melati menguntungkan untuk dijalankan.

PENUTUP

Menciptakan lembaga pembiayaan mikro yang dimaksudkan dalam kajian ini tidak berarti harus persis meniru yang dilakukan oleh Grameen Bank di Bangladesh, tetapi hendaknya lebih didasarkan pada kondisi masyarakat Indonesia. Hal ini merupakan tantangan bagi bangsa Indonesia untuk menciptakan model kredit mikro yang sesuai dengan jati diri masyarakatnya. Secara filosofis kehadiran lembaga kredit mikro sangat diperlukan untuk membiayai usahatani di perdesaan Indonesia yakni dalam kerangka penanggulangan kemiskinan. Kredit adalah hak azasi manusia yang fundamental karena dengan kredit yang tersalur dengan baik, individu (rumah tangga) dapat menciptakan lapangan pekerjaan bagi dirinya sendiri. Dilihat dari aspek keadilan, penyediaan kredit mikro tersebut juga terkait dengan kesetaraan akses terhadap sumber daya keuangan (financial capital), mengoptimalkan peran sumber daya manusia (human capital) yang dimiliki warga miskin, dan upaya menumbuhkan (memelihara) modal sosial (social capital) yang menjadi perekat dalam hubungan antar individu dalam komunitas. Model (lembaga) kredit mikro yang dibutuhkan untuk pembiayaan pertanian rakyat dan penanggulangan kemiskinan adalah lembaga kredit mikro yang terorganisir dengan baik yang memiliki konsep tidak hanya menyalurkan kredit semata tetapi juga berfungsi sebagai lembaga pemberdaya. Di Indonesia terdapat tiga zona yang memiliki ciri spesifik yang harus menjadi perhatian dalam penanggulangan kemiskinan yaitu kemiskinan pada wilayah perkotaan, perdesaan pedalaman, dan wilayah pesisir.

DAFTAR PUSTAKA

Ajani, O.I.Y. and G.A. Tijani. 2009. The Role of Social Capital in Access to Micro Credit in Ekiti Nigeria.Pakistan J.Soc.Sci. 6 (3): 125-132.

Arifin, B. 2004. Decomposing the Performance of Indonesian Agriculture.

http://barifin.file.wordpress.com/.../2004-arifin-decomposing-agricultural-gro...

Diakses tanggal 5 pebruari 2014.

Ashari. 2009. Optimalisasi Kebijakan Kredit Program Sektor Pertanian di Indonesia.

Analisis Kebijakan Pertanian7 (1): 21-42.

Chowdhury, A. 2009. Microfinance as a Poverty Reduction Tool - A Critical Assesment. DESA Working Papers No. 89.

LPPI. 2014. Koperasi Karya Usaha Mandiri (KopKUM).

http://www.lppi.or.id/index.php/module/Pages/sub/81/id/skim-dan-pelayanan 386.Diakses Tanggal 11 Pebruari 2014.

Latifee, H.I. 2012. Development of Microfinance for The Poor. Paper Presented on November 27 2012 at Hotel Randayan, Kubu Raya Regency, West Kalimantan, Indonesia.

Omar, M.Z., M. Ridham, dan C.S.M. Nor. 2012. Pencapaian Skim Kredit Mikro Amanah Ikhtiar Malaysia (AIM) dalam Lanskap Pembangunan Luar Bandar: Satu Penilaian. Geografia Online, Malaysia Journal of Society and Space 8 issue 2: 7-19.

Perhepi. 2004. Pembangunan Perdesaan, Rekonstruksi Kelembagaan Ekonomi. Perhimpunan Ekonomi Pertanian Indonesia, Oktober 2004.

Rahardjo. 2010.Pengantar Sosiologi Pedesaan dan Pertanian. Cetakan ketiga. Gadjah Mada University Press. Yogyakarta.

Rustiadi, E. dan S. Hadi. 2006. Pengembangan Agropolitan Sebagai Strategi Pembangunan Perdesaan dan Pembangunan Berimbang. dalam Kawasan Agropolitan Konsep Pembangunan Desa-Kota Berimbang. Crespent Press. Kampus IPB Baranangsiang P4W-LPPM IPB. Bogor.

Soubbotina, T.P. and K.A. Sheram. 2000. Beyond Economic Growth Meeting the Challanges of Global Development. The World Bank. Washington, D.C.

Swastika, D.K.S. 2011. Membangun Kemandirian dan Kedaulatan Pangan untuk Mengentaskan Petani dari Kemiskinan.Pengembangan Inovasi Pertanian4 (2): 103 – 117.

Yunus, M. 1987. Credit for Self Employment A Fundamental Human Right. Grameen Bank. Bangladesh.

Yunus, M. 2008. Menciptakan Dunia Tanpa Kemiskinan. Terjemahan oleh Rani R. Moediarta. Cetakan kedua. PT Gramedia Pustaka Utama. Jakarta.

UPAYA PENGEMBANGAN AGRIBISNIS DAN PEMASARAN

Dalam dokumen PROSIDING SEMINAR NASIONAL AGRIBISNIS DA (1) (Halaman 143-153)