Proses pengambilan keputusan pembelian konsumen dan daya beli terhadap suatu produk atau jasa dipengaruhi oleh karakteristik dan latar belakang konsumen yang beragam. Karakteristik konsumen dan proses pengambilan keputusan pembelian dapat dianalisis secara deskriptif yang dapat membantu pihak Restoran Bebek Goreng H. Slamet untuk mengevaluasi apakah sudah sesuai dengan dengan segmentation, targeting dan positioning (STP) yang ingin dicapai. Segmentasi yang ingin dicapai yaitu semua kalangan. Target yang ingin dicapai yaitu mahasiswa/pelajar, keluarga karena lokasi Restoran Bebek Goreng H. Slamet dekat dengan perumahan, sekolah, kampus, dan kantor. Sedangakan posisi pasarnya adalah restoran tradisional yang menyediakan menu olahan daging bebek dengan konsep family restaurant. Berdasarkan hasil penelitian pada 100 responden, karakteristik umum responden yang digunakan dalam penelitian ini yaitu usia, jenis kelamin, status pernikahan, lokasi tempat tinggal, pendidikan terakhir, pekerjaan, dan tingkat pendapatan responden per bulan.
Jenis Kelamin
Berdasarkan jenis kelamin, responden yang cenderung lebih sering berkunjung yaitu responden berjenis kelamin perempuan dengan persentase sebesar 60 persen, sedangkan responden yang berjenis kelamin laki-laki yaitu sebesar 40 persen. Hal ini disebabkan perempuan lebih sering berkunjung, berkumpul dengan teman-temannya, sahabat, keluarga, maupun rekan kerjanya dan sesuai dengan target pasar. Lokasi restoran dekat dengan perumahan, sekolah, kampus, dan kantor, sehingga rata-rata pegunjung yang datang perempuan secara bergerombol bersama teman maupun rekan kerjanya, dan rombongan keluarga rata-rata hanya ada satu laki-laki sebagai kepala keluarga lainnya perempuan. Segmentasi pasarnya sudah sesuai untuk semua kalangan, baik laki-laki maupun perempuan bebas berkunjung ke restoran. Sebaran responden berdasarkan jenis kelamin dapat dilihat pada Tabel 8.
Usia
Usia merupakan salah satu faktor yang mampu mempengaruhi proses pembelian dalam suatu produk, karakteristik ini penting diketahui oleh pemasar karena usia dapat dijadikan sebagai dasar untuk menentukan segmentasi dari produk yang ditawarkan oleh restoran. Karakteristik konsumen berdasarkan kelompok usia dapat dilihat pada Tabel 8, diketahui bahwa konsumen yang berkunjung ke Restoran Bebek Goreng H. Slamet Bogor berusia 17-26 tahun diperoleh persentase sebesar 62 persen, sedangkan pada usia 27-36 tahun diperoleh persentase sebesar 29 persen. Responden yang berkunjung dengan usia 37-46 tahun diperoleh persentase sebesar 7 persen dan responden dengan usia ≥47
33 tahun diperoleh persentase sebesar 2 persen. Jika dilihat pada Tabel 8 semua kalangan usia dapat mengunjungi restoran dan menikmati hidangan yang disajikan restoran, sehingga segmentasi pasarnya sudah sesuai dengan harapan restoran. Namun, mayoritas pengunjung yang datang yaitu berusia 17-26 tahun. Hal ini disebabkan lokasi restoran dekat dengan kampus, sekolah, dan kantor sehingga responden yang berkunjung lebih banyak pada rentang usia antara 17-26 tahun. Status Pernikahan
Berdasarkan status pernikahan, karakteristik responden Restoran Bebek Goreng H. Slamet Bogor dengan status belum menikah lebih banyak yaitu sebesar 55 persen, sedangkan responden dengan status menikah yaitu sebesar 45 persen. Perbedaan jumlah responden berdasarkan status pernikahan tersebut tidak telalu jauh, sehingga dapat disimpulkan bahwa pengunjung Restoran Bebek Goreng H. Slamet adalah kelompok remaja dan keluarga. Hal ini sudah sesuai dengan segmentasinya untuk semua kalangan baik yang sudah menikah ataupun belum menikah dan sesuai dengan positioningnya restoran tersebut salah satu tempat yang cocok untuk berkumpul dengan teman, rekan bisnis, dan cocok untuk bersantai bersama keluarga. Target pasarnya juga sudah tercapai keluarga, mahasiswa, anak sekolah, maupun pegawai kantoran yang makan di restoran. Sebaran responden berdasarkan status pernikahan dapat dilihat pada Tabel 8. Tempat Tinggal
Karakteristik responden berdasarkan tempat tinggal, diketahui bahwa reponden yang berkunjung ke Restoran Bebek Goreng H. Slamet tidak hanya yang berasal dari Bogor namun juga dikunjungi oleh responden yang berasal dari luar Bogor. Berdasarkan hasil penelitian, diketahui bahwa pengunjung restoran lebih banyak yang berasal dari Bogor yaitu sebesar 86 persen sedangkan dari luar Bogor yaitu sebesar 14 persen. Hal ini sesuai dengan target pasarnya karena lokasi restoran dekat dengan perumahan. Tempat tinggal konsumen akan berpengaruh terhadap konsumsinya. Menurut Sumarwan (2011) konsumen yang tinggal di kota akan cenderung mencari makanan yang mudah dan memiliki akses yang cukup dekat dengan tempat tinggalnya. Sebaran responden berdasarkan tempat tinggal dapat dilihat pada Tabel 8.
Tingkat Pendidikan
Karakteristik konsumen berdasarkan tingkat pendidikan, diketahui bahwa sebagian besar konsumen yang datang ke Restoran Bebek Goreng H. Slamet Bogor berpendidikan terakhir Sarjana dengan persentase sebesar 50 persen. Responden berpendidikan terakhir Pasca Sarjana yaitu sebesar 5 persen, Diploma sebesar 17 persen, Sekolah Menengah Atas 28 persen, Sekolah Menengah Pertama dan Sekolah Dasar sebesar 0 persen. Pendidikan yang berbeda akan menyebabkan selera konsumen juga berbeda. Mayoritas responden berpendidikan terakhir sarjana dan SMA. Hal ini sesuai dengan target pasarnya karena lokasi restoran dekat dengan kampus dan Sekolah Menengah Atas. Segmentasinya belum sesuai dengan harapan pihak restoran karena pengunjung restoran pendidikan redah tidak ditemui berkunjung ke restoran. Pendidikan seseorang akan berpengaruh terhadap pendapatannya, tidak jarang konsumen yang pendidikannya rendah berpenghasilan terbatas dan lebih memilih untuk makan di
34
rumah (Sumarwan 2011). Sebaran responden berdasarkan tingkat pendidikan dapat dilihat pada Tabel 8.
Pekerjaan
Berdasarkan karakteristik pekerjaan responden, sebagian besar pekerjaan reponden Restoran Bebek Goreng H. Slamet adalah sebagai pelajar/mahasiswa yaitu sebesar 38 persen. Selanjutnya yaitu pegawai swasta sebesar 33 persen berada diurutan ke dua. Hal ini dikarena lokasi restoran dekat dengan kampus, sekolahan, dan kantor sesuai dengan target pasar restoran. Responden lainnya yaitu pegawai negeri/BUMN sebesar 9 persen, wiraswasta sebesar 9 persen, guru/dosen sebesar 3 persen, ibu rumah tangga sebesar 6 persen, dan pendiunan sebesar 1 persen. Menurut Sumarwan (2011), tingkat pendidikan dan pekerjaan adalah dua karakteristik konsumen yang saling berhubungan. Pendidikan akan mementukan jenis pekerjaan yang dilakukan seorang konsumen. Berdasarkan tingkat pendidikan terakhir diketahui bahwa mayoritas reponden berpendidikan terakhir sebagai sarjana dan SMA, sehingga berpengaruh terhadap jenis pekerjaan yaitu mayoritas sebagai mahasiswa atau pelajar yang sedang melangsungkan studi pascasarjana dan sebagai pegawai swasta. Berdasarkan segmentasinya sudah tercapai yaitu adanya pengunjung yang datang dengan berbagai jenis pekerjaan. Sebaran responden berdasarkan pekerjaan dapat dilihat pada Tabel 8.
Tingakat Pendapatan
Karakteristik responden Restoran Bebek Goreng H. Slamet berdasarkan tingkat pendapatan, diketahui bahwa sebagian besar konsumen memiliki tingkat pendapatan rata-rata per bulan sebesar Rp 2 500 000-Rp 5 000 000 sebesar 35 persen. Responden lainnya memiliki tingakat pendapatan rata-rata lebih dari Rp 5 000 000 sebesar 14 orang, Rp 1 500 000-Rp 2 500 000 sebesar 25 persen, Rp 500 000-Rp 1 500 000 sebesar 23 persen, dan kurang dari Rp 500 000 yaitu sebesar 3 persen. Menurut Sumarwan (2011), tingkat pendapatan merupakan imbalan yang diteriman oleh seorang konsumen dari pekerjaan yang dilakukannya. Jumlah pendapatan akan menggambarkan besarnya daya beli dari seorang konsumen. Sebaran responden berdasarkan tingkat pendapatan perbulan menyatakan bahwa Restoran Bebek Goreng H. Slamet dapat dijangkau oleh semua kalangan. Hal ini diketahui bahwa pengunjung Restoran Bebek Goreng H. Slamet berada pada kelas ekonomi menengah ke atas dan kelas ekonomi menengah ke bawah, sesuai dengan segmentasi yang diharapkan. Pendidikan seseorang akan berpengaruh terhadap pendapatannya (Sumarwan 2011). Berdasarkan tingkat pendidikan terakhir mayoritas berpendidikan sarjana, memiliki pekerjaan sebagai pelajar/mahasiswa dan pegawai swasta, sehingga pendapatannya pun dipengaruhi oleh pendidikan dan pekerjaannnya mayoritas berpendapatan Rp 2 500 000-Rp 5 000 000. Sebaran responden berdasarkan tingkat pendapatan dapat dilihat pada Tabel 8.
35 Tabel 8 Sebaran responden berdasarkan karakteristik konsumen Restoran Bebek
Goreng H. Slamet Bogor
Karakteristik Umum Kategori Jumlah Persentase (%)
Jenis kelamin Laki-laki 40 40
Perempuan 60 60
Usia 17-26 62 62
27-36 29 29
37-46 7 7
≥47 2 2
Status pernikahan Sudah Menikah 45 45
Belum Menikah 55 55
Tempat tinggal Bogor 86 86
Luar Bogor 14 14
Pendidikan terakhir Sarjana 50 50
Pasca Sarjana 5 5
Diploma 17 17
SMA 28 28
SMP 0 0
SD 0 0
Pekerjaan Pelajar/ Mahasiswa 38 38
Pegawai Swasta 33 33
Pegawai Negeri/BUMN 9 9
Wiraswasta 9 9
Ibu Rumah Tangga 6 6
Guru/ Dosen 3 3 Lainnya 1 1 Tingkat pendapatan >Rp 5000 000 14 14 Rp 2 500 000-Rp 5 000 000 35 35 Rp 1 500 000-Rp 2 500 000 25 25 Rp 500 000-Rp 1 500 000 23 23 < Rp 500 000 3 3
Berdasarkan karakteristik konsumen dapat disimpulkan bahwa karakteristik konsumen Restoran Bebek Goreng H. Slamet Bogor umumnya sudah sesuai dengan
segmenting, targeting, dan positioning restoran. Karakteristik konsumen Restoran Bebek Goreng H. Slamet Bogor berjenis kelamin laki-laki dan perempuan perbandingannya tidak berbeda jauh, dengan usia 17-27 tahun, berasal dari Bogor, dan mayoritas responden berpendidikan sarjana. Pengunjung restoran belum menikah dan yang sudah menikah perbandingannya tidak berbeda jauh, mayoritas pengunjung pelajar/mahasiswa dan pegawai swasta, dan pendapatan pengujung Restoran Bebek Goreng H. Slamet Bogor per bulan Rp 2 500 000-Rp 5 000 000.
Proses Pengambilan Keputusan Pembelian Konsumen
Karakteristik dan latar belakang yang beragam akan mempengaruhi pribadi konsumen dalam proses pengambilan keputusan pembelian untuk mengkonsumsi suatu produk atau jasa. Proses keputusan pembelian dimulai
36
dengan tahap proses pengenalan kebutuhan, pencarian informasi, evaluasi alternatif, keputusan pembelian, dan pasca pembelian (Kotler 2005). Berikut ini merupakan rincian proses pengambilan keputusan pembelian responden Restoran Bebek Goreng H. Slamet Bogor.
Pengenalan Kebutuhan
Pengenalan kebutuhan merupakan tahap pertama dalam proses pengambilan keputusan konsumen. Pengenalan kebutuhan timbul ketika konsumen individu atau kelompok menyadari adanya perbedaan anatara situasi yang diinginkan dengan situasi sebenarnya (Sumarwan 2011).
Berdasarkan pernyataan responden sebagian besar responden akan makan di luar rumah dalam satu bulan lebih dari 7 kali dengan persentase sebesar 39 persen. sedangkan konsumen lainnya makan di luar rumah setiap hari dengan persentase sebesar 21 persen, 1-3 kali dengan persentase sebesar 20 persen, dan 4- 6 kali dengan persentase sebesar 20 persen. Hal ini sesuai dengan karakteristik konsumen, mayoritas pengunjung yang datang yaitu pelajar/mahasiswa yang jarang masak di rumah dan lebih memilih makan di luar rumah, bersama teman maupun rekan kerjanya. Sebaran responden berdasarkan frekuensi makan di luar rumah dapat dilihat pada Tabel 9.
Tabel 9 Sebaran responden berdasarkan frekuensi makan di luar rumah Frekuensi kunjungan (sebulan) Jumlah Responden (Orang) Persentase (%)
Setiap hari 21 21
1-3 kali 20 20
4-6 kali 20 20
>7 kali 39 39
Total 100 100
Berdasarkan data diatas diketahui bahwa tidak satiap hari konsumen makan di rumah. Ada waktu dimana konsumen menginginkan untuk makan di luar rumah. Hal ini didukung oleh karakteristik konsumen yang mayoritas sebagai mahasiswa atau pelajar. Waktu juga akan mendorong pengenalan kebutuhan lain yang diinginkan oleh konsumen. Alasan pertama responden berkunjung ke restoran yaitu mencari makanan yang enak dengan persentase sebesar 51 persen. Alasan ini didukung oleh karakteristik konsumen yang mayoritas berusia 17-26 tahun tergolong kelompok dewasa awal dimana kelompok usia tersebut merupakan kelompok usia produktif yang aktif dan dinamis sehingga lebih banyak melakukan aktivitas di luar rumah serta memiliki tingkat keingin tahuan yang tinggi terhadap menu baru. Alasan lainnya yaitu sekedar ingin mencoba dengan persentase sebesar 15 persen, mencari tempat yang nyaman dengan persentase sebesar 11 persen, gaya hidup dengan persentase sebesar 4 persen dan lainnya dengan persentase sebesar 19 persen. Konsumen akan mencari makanan yang enak ketika sudah merasa bosan dengan makanan yang biasa mereka konsumsi. Sebaran responden berdasakan alasan makan di luar rumah dapat dilihat pada Tabel 10.
37 Tabel 10 Sebaran responden berdasarkan alasan makan di luar rumah
Alasan makan di luar Jumlah Responden (Orang) Persentase (%)
Sekedar ingin mencoba 15 15
Sebagai gaya hidup 4 4
Mencari makanan yang enak 51 51
Mencari tempat yang nyaman 11 11
Lainnya 19 19
Total 100 100
Selain infomasi mengenai alasan konsumen makan di luar rumah juga diperoleh informasi mengenai manfaat yang dicari oleh konsumen dalam mengunjungi atau melakukan pembelian di luar rumah. Berdasarkan hasil penelitian menunjukkan bahwa mayoritas manfaat yang dicari oleh responden ketika makan di luar rumah untuk menghilangkan rasa lapar dengan persentase sebesar 69 persen. Hal ini didukung oleh karakteristik konsumen yang mayoritas sebagai mahasiswa/pelajar dan pegawai swasta, umumnya mereka makan di luar rumah pada jam istirahat untuk menghilangkan rasa lapar sebelum beraktivitas kembali. Manfaat lainnya yang dicari oleh responden ketika makan di luar rumah yaitu pemenuhan gizi dengan persentase sebesar 9 persen, sebagai symbol status sosial dengan persentase sebesar 2 persen, dan lainnya degan persentase sebesar 19 persen. Sebaran responden berdasarkan manfaat makan di luar rumah dapat dilihat pada Tabel 11.
Tabel 11 Sebaran responden berdasarkan manfaat makan di luar rumah Manfaat Jumlah Responden (Orang) Persentase (%)
Menghilangkan rasa lapar 69 69
Pemenuhan gizi 9 9
Symbol status sosial 2 2
Lainnya 19 19
Total 100 100
Pencarian Informasi
Pencarian informasi merupakan tahap ke dua dalam proses pengambilan keputusan pembelian. Pencarian informasi akan dilakukan oleh konsumen setelah mengetahui apa yang menjadi kebutuhan mereka. Pencarian informasi mulai dilakukan ketika konsumen menilai bahwa kebutuhan tersebut bisa dipenuhi dengan membeli dan mengkonsumsi suatu produk. Informasi dapat diperoleh dari lingkungan internal maupun lingkungan eksternal (Sumarwan 2011).
Sumber informasi yang diperoleh responden dalam mengunjungi restoran sebagian besar berasal dari teman dengan persentase sebesar 61 persen. Hal tersebut dikarenakan seseorang akan cenderung memanfaatkan teman sebagai salah satu sumber informasi yang dapat dipercaya. Berdasarkan karakteristik konsumen diketahui bahwa mayoritas konsumen berjenis kelamin perempuan, biasanya datang ke restoran bergerombol bersama dengan teman ataupun rekan kerjanya. Selain itu sumber informasi juga berasal dari keluarga dengan
38
persentase sebesar 2 persen, kebetulan lewat dengan persentase sebesar 22 persen, internet dengan persentase sebesar 7 persen, media cetak dengan persentase 6 persen, dan lainnya dengan persentase sebesar 1 persen. Sebaran responden berdasarkan sumber informasi dapat dilihat pada Tabel 12.
Tabel 12 Sebaran responden berdasarkan sumber informasi Sumber Informasi Jumlah Responden (Orang) Persentase (%)
Teman 61 61 Keluarga 2 2 Internet 7 7 Kebetulan lewat 22 22 Media cetak 6 6 Lainnya 1 1 Total 100 100
Berdasarkan informasi yang diperoleh, masing-masing responden memiliki fokus perhatian yang berbeda dalam mengunjungi restoran. Sebagian besar konsumen menyatakan yang menjadi fokus perhatian responden untuk mengunjungi restoran yaitu karena cita rasa makanannya dengan persentase sebesar 76 persen. Hal ini sesuai dengan pengenalan kebutuhan, alasan responden makan di luar rumah yaitu mencari makanan yang enak, sehingga cita rasa makanan menjadi penting bagi konsumen. Fokus perhatian lainnya yaitu lokasi restoran dengan persentase sebesar 5 persen, kenyamanan tempat dengan persentase sebesar 8 persen, dan harga yang ditawarkan dengan persentase sebesar 11 persen. Sebaran responden berdasarkan fokus perhatian untuk makan di luar rumah dapat dilihat pada Tabel 13.
Tabel 13 Sebaran responden berdasrkan fokus perhatian informasi Fokus Perhatian Jumlah Responden (Orang) Persentase (%)
Lokasi restoran 5 5
Cita rasa makanan 76 76
Kenyamanan tempat 8 8
Harga yang ditawarkan 11 11
Lainnya 0 0
Total 100 100
Evaluasi Alternatif
Tahap evaluasi alternatif merupakan tahap ke tiga dalam proses pengambilan keputusan pembelian. Evaluasi alternatif merupakan tahap membandingkan produk yang dipertimbangkan. Evaluasi alternatif muncul karena banyaknya alternatif pilihan (Hasan 2013).
Berdasarkan hasil penelitian diketahui bahwa sebagian besar yang menjadi pertimbangan awal responden ketika akan berkunjung ke restoran yaitu karena cita rasa makanan dengan persentase sebesar 44 persen. Hal ini sesuai dengan fokus perhatian informasi konsumen yaitu cita rasa makanan. Pertimbangan
39 lainnya yaitu hanya untuk mengisi waktu luang sebesar 7 persen, memenuhi kebutuhan makan sebesar 38 persen, bertemu dengan rekan kerja/teman sebesar 9 persen, dan lainnya sebesar 2 persen. Hal tersebut dapat dilihat pada Tabel 14.
Tabel 14 Sebaran responden berdasarkan pertimbangan awal berkunjung ke restoran
Pertimbangan Awal Jumlah Responden (Orang) Persentase (%)
Hanya untuk mengisi waktu luang 7 7
Cita rasa makanan 44 44
Memenuhi kebutuhan makan 38 38
Bertemu dengan rekan kerja/teman 9 9
Lainnya 2 2
Total 100 100
Restoran Bebek Goreng H. Slamet Bogor meruapakan salah satu tempat yang dijadikan alternaif ketika konsumen memilih restoran. Menurut Sumarwan (2011), konsumen cenderung akan membeli produk yang sama seperti yang telah dibeli sebelumnya. Berdasarkan tabel 14 diketahui bahwa mayoritas pertimbangan responden berkunjung ke restoran karena cita rasa maknanan. Responden memilih restoran tersebut mayoritas karena cita rasa makanannya yang enak dengan persentase sebesar 78 persen. Hal ini sesuai dengan positioning dari restoran yaitu restoran yang menyediakan menu olahan bebek goreng dengan cita rasa makanan yang enak. Sedangkan pertimbangan lainnya adalah suasana restorannya yang nyaman sebesar 7 persen, lokasi restoran strategis sebesar 9 persen, pelayanan yang ramah sebesar 0 persen, dan lainnya sebesar 6 persen. Sebaran responden berdasarkan pertimbangan memilih Restoran Bebek Goreng H. Slamet dapat dilihat pada Tabel 15.
Tabel 15 Sebaran responden berdasarkan pertimbangan memilih Restoran Bebek Goreng H. Slamet Bogor
Yang menjadi pertimbangan Jumlah Responden (Orang) Persentase (%)
Suasana restoran nyaman 7 7
Citarasa makanan yang enak 78 78
Lokasi restoran 9 9
Pelayanan yang ramah 0 0
Lainnya 6 6
Total 100 100
Keputusan Pembelian
Keputusan pembelian merupakan tahap ke empat dalam proses pengambilan keputusan pembelian. Keputusan pembelian mengenai siapa yang mempengaruhi responden dalam memutuskan berkunjung ke Restoran Bebek Goreng H. Slamet sebagian besar yaitu teman dengan persentase sebesar 37 persen dan keinginan sendiri 34 persen. Hal ini sesuai dengan informasi yang diperoleh responden mengenai restoran yaitu dari teman. Apabila seorang
40
konsumen tidak memiliki pengetahuan mengenai produk yang akan dibelinya, konsumen akan mengendalkan rekomendasi dari temannya atau kerabatnya mengenai produk yang akan dibelinya (Sumarwan 2011). Teman memberikan informasi yang dapat mempengaruhi konsumen untuk melakukan pembelian di Restoran Bebek Goreng H. Slamet. Sebagian besar pengunjung yang datang ke restoran berjenis kelamin perempuan yang biasanya datang bersama temannya atas keinginan sendiri dan pengaruh ajakan dari teman. Sedangkan responden lainnya datang berkunjung karena dipengaruhi oleh rekan kerja sebesar 7 persen, keluarga sebesar 16 persen, dan lainnya sebesar 6 persen. Sebaran responden berdasarkan yang mempengaruhi pembelian di Restoran Bebek Goreng H. Slamet dapat dilihat pada Tabel 16.
Tabel 16 Sebaran responden berdasarkan yang mempengaruhi pembelian di Restoran Bebek Goreng H. Slamet Bogor
Yang mempengaruhi pembelian Jumlah Responden (Orang) Persentase (%)
Sendiri 34 34 Teman 37 37 Rekan kerja 7 7 Keluarga 16 16 Lainnya 6 6 Total 100 100
Sebagian besar responden melakukan kunjungan ke Restoran Bebek Goreng H. Slamet tidak tentu dengan persentase sebesar 83 persen. Hal ini disedabkan responden melakukan kunjungan mayoritas pengaruh dan ajakan dari teman, rekan kerja, ataupun keluarga, dan tidak setiap hari ketika konsumen merasa lapar untuk memenuhi kebutuhan fisiologisnya makan di Restoran Bebek Goreng H. Slamet, sehingga waktu kunjungan tidak tentu. Kemudian, berdasarkan karakteristik responden berprofesi sebagai pelajar/mahasiswa yang umumnya memiliki pendapatan terbatas, sehingga tidak tentu kapan mereka akan makan di luar rumah. Sedangkan responden lainnya melakukan kunjungan pada saat hari kerja sebesar 8 persen dan hari libur sebesar 9 persen. Sebaran responden berdasarkan hari kunjungan dapat dilihat pada Tabel 17.
Tabel 17 Sebaran responden berdasarkan hari kunjungan ke Restoran Bebek Goreng H. Slamet Bogor
Hari Kunjungan Jumlah Responden (Orang) Persentase (%)
Hari kerja 8 8
Hari libur 9 9
Tidak tentu 83 83
Total 100 100
Restoran Bebek Goreng H. Slamet Bogor buka pada saat jam makan siang hingga makan malam. Buka jam 10.00-21.00 WIB pada saat hari biasa dan hari
41 libur buka pada jam 10.00-22.00 WIB. Namun berdasarkan hasil penelitian mayoritas responden melakukan kunjungan ke Restoran Bebek Goreng H. Slamet pada siang hari dengan persentase sebesar 40 persen dan kunjungan pada saat sore hari sebesar 37 persen. Hal ini dikarenakan berdasarkan karakteristik umumnya responden yang berkunjung adalah pelajar/mahasiswa dan pegawai swasta yang berkunjung ke restoran saat jam makan siang dan jam makan sore. Sesuai dengan informasi yang diperoleh dari pihak restoran, restoran ramai dikunjungi pada saat jam makan siang dan jam makan sore. Sedangkan responden lainnya melakukan kunjungan pada malam hari sebesar 23 persen. Sebaran responden berdasarkan waktu kunjungan dapat dilihat pada Tabel 18.
Tabel 18 Sebaran responden berdasarkan waktu kunjungan ke Restoran Bebek Goreng H. Slamet Bogor
Waktu Kunjungan Jumlah Responden (Orang) Persentase (%)
Siang hari 40 40
Sore hari 37 37
Malam hari 23 23
Total 100 100
Keputusan pembelian responden yang berkunjung ke Restoran Bebek Goreng H. Slamet Bogor sebagian besar adalah tergantung situasi dengan persentase sebesar 59 persen. Faktor situasi adalah keadaan lingkungan yang dihadapi oleh seorang konsumen. Konsumen mungkin memiliki waktu yang terbatas, sehingga ia tidak melakukan pencarian informasi secara detail (Sumarwan 2011). Responden lainnya berkunjung dengan terencana sebesar 12 persen, mendadak sebesar 25 persen, dipengaruhi oleh orang lain sebesar 4 persen, dan lainnya. Sebaran responden berdasarkan sifat kunjungan dapat dilihat pada Tabel 26.
Tabel 19 Sebaran responden Restoran Bebek Goreng H. Slamet Bogor berdasarkan sifat kunjungan
Sifat Kunjungan Jumlah Responden (Orang) Persentase (%)
Tergantung situasi 59 59
Terencana 12 12
Mendadak 25 25
Dipengaruhi orang lain 4 4
Lainnya 0 0
Total 100 100
Perilaku Pasca Pembelian
Tahap pasca pembelian merupakan tahap terakhir dari proses pengambilan keputusan pembelian dari suatu produk atau jasa. Tahap ini memberikan hasil seperti konsumen merasa puas atau tidak puas yang berdampak terhadap pembelian selanjutnya apakah akan melakukan kunjungan ulang atau tidak.
42
Berdasarkan hasil penelitian, konsumen yang datang ke Restoran Bebek Goreng H. Slamet sebagian besar sudah merasa puas dengan persentase sebesar 90 persen. Hal tersebut menunjukkan bahwa kinerja dari atribut restoran sesuai dengan kepentingan konsumen. Sebaran responden berdasarkan tingkat kepuasan dapat dilihat pada Tabel 20.
Tabel 20 Sebaran responden Restoran Bebek Goreng H. Slamet Bogor berdasarkan tingkat kepuasan
Tingkat Kepuasan Jumlah Responden (Orang) Persentase (%)
Puas 90 90
Tidak Puas 10 10
Total 100 100
Berdasarkan hasil penelitian, diketahui bahwa sebagian besar kosumen merasa puas dengan atribut di Restoran Bebek Goreng H. Slamet Bogor. Hal ini mendorong konsumen untuk melakukan pembelian ulang. Sebesar 93 persen konsumen bersedia untuk melakukan kunjungan ulang. Hal ini dikarenakan ada beberapa responden yang belum merasa puas tetapi tetap berkunjung ke restoran untuk menghilangkan rasa lapar saja. Sebaran responden berdasarkan keinginan