• Tidak ada hasil yang ditemukan

HASIL DAN PEMBAHASAN Karakteristik Responden

Dalam dokumen HASIL PENELITIAN SOSIAL EKONOMI PERTANIAN (Halaman 152-160)

ANALISIS KINERJA USAHATANI SAYURAN ORGANIK DI KOTA BANDAR LAMPUNG

HASIL DAN PEMBAHASAN Karakteristik Responden

Berdasarkan penelitian yang telah dilakukan pada usahatani sayuran organik di Kelurahan Sepang Jaya Kota Bandar Lampung, diperoleh usia petani sayuran organik berkisar umur 45-55 tahun. Oleh karena itu petani sayuran organik di Kota Bandar Lampung termasuk kedalam usia produktif sehingga berpotensi untuk menajalankan dan mengembangkan usahanya. Hal ini dikarenakan pada usia ini umumnya seseorang memiliki tingkat kemauan, semangat dan kemampuan lebih tinggi untuk mengembangkan suatu usaha.

Tingkat pendidikan juga berpengaruh pada kemampuan pelaku usahatani sayuran organik dalam memperoleh informasi, mengadopsi teknologi dan keterampilan dalam mengelola usahatani. Pendidikan yang ditempuh petani sudah cukup baik, karena petani responden telah menempuh pendidikan S1. Hal tersebut menunjukkan bahwa tingkat pendidikan responden usahatani sayuran organik di Kota Bandar Lampung dapat dikatakan tinggi sehingga responden mempunyai kemampuan yang baik dalam menerima, menyerap dan menerapkan teknologi, inovasi, informasi dan pengetahuan yang didapat dalam menjalankan kegiatan usahataninya.

Pengalaman usaha merupakan salah satu indikator penentu keberhasilan suatu usahatani. Pengalaman berusahatani petani sayuran organik yaitu dua sampai empat tahun. Oleh karena itu, dapat dikatakan kedua responden penelitian sayuran organik tergolong baru dalam melakukan usahatani sayuran organik.

Penggunaan Sarana Produksi Usahatani Sayuran Organik Penggunaan Benih

1.

Benih merupakan faktor yang penting dalam budidaya sayuran organik yang mempengaruhi produksi sayuran. Ketersediaan bahan baku merupakan salah satu faktor yang menentukan keberhasilan suatu usaha. Kuantitas dan kualitas benih mempengaruhi produk yang dihasilkan.

Benih sayuran yang digunakan oleh petani sayuran organik antara lain benih sayuran caysem, pakcoy hijau, pakcoy putih, sawi putih, kangkung, bayam hijau, bayam merah selada hijau, dan sawi pait. Berikut rata-rata jumlah benih yang digunakan per luas usahatani (0,1 ha) yang diusahakan dalam satu kali musim tanam.

Tabel 1. Jumlah benih sayur organik satu musim tanam

No Jenis Sayuran Rata-Rata Jumlah benih (gr)

(0,1 ha) Rata-Rata Jumlah benih (gr) (1 ha)

1 Caysem 87,50 875,00 2 Pakcoy Hijau 87,50 875,00 3 Pakcoy Putih 125,00 1.250,00 4 Sawi Putih 50,00 500,00 5 Kangkung 125,00 1.250,00 6 Bayam Hijau 125,00 1.250,00 7 Bayam Merah 50,00 500,00 8 Selada Hijau 50,00 500,00 9 Sawi Pait 62,50 625,00 Total 762,50 7.625,00

Tabel 1 menjelaskan bahwa rata-rata jumlah benih sayuran organik yang digunakan pada luas lahan 0,1 ha adalah 762,50 gr. Rata-rata jumlah benih sayuran organik yang digunakan pada luas lahan 1 ha adalah 7.625,00 gr. Pada penelitian ini petani menggunakan bibit merek panak merah, bintang, jawara dan you know seed. Responden penelitian membeli bahan baku tersebut di toko-toko pertanian di Kota Bandar Lampung. Rata-rata benih dibeli dengan harga Rp15.000–Rp35.000 per sachetnya bergantung dengan jenis sayuran yang dibeli.

Penggunaan Pupuk 2.

Pupuk digunakan untuk membantu tanaman dalam memperoleh nutrisi. Kedua pelaku usahatani sayuran organik melakukan pemupukan pada saat pengolahan lahan. Kemudian dilakukan pemupukan kembali pasa saat tanaman sayuran berusia dua minggu. Pupuk yang digunakan adalah pupuk kompos kotoran kambing dan arang sekam.

Berdasarkan Tabel 2 dijelaskan bahwa rata-rata jumlah pupuk yang digunakan pada luas lahan 0,1 ha adalah 6.850,00 kg dan rata-rata jumlah pupuk yang digunakan pada luas lahan 1 ha adalah 68.500,00 kg. Pupuk dibeli di toko-toko pertanian terdekat di Kota Bandar Lampung. Harga pupuk yang berlaku di daerah penelitian satu tahun terakhir (2016) adalah pupuk kompos kotoran kambing sekitar Rp 360/gr – Rp 375/gr dan arang sekam sekitar Rp 160/gr – Rp 180/gr. Berikut rata-rata jumlah pupuk yang digunakan per luas usahatani (0,1 ha) yang diusahakan dalam satu kali musim tanam.

Tabel 2. Rata-rata penggunaan pupuk oleh petani sayuran organik

No Jenis pupuk Rata-Rata Jumlah Pupuk (kg) (0,1 ha) Rata-Rata Jumlah Pupuk (kg) (1 ha) 1 Pupuk Kompos Kotoran Kambing 4.150,00 41.500,00

2 Arang sekam 2.700,00 27.000,00

Total 6.850,00 68.500,00

Rata-rata 3.425,00 34.250,00

Penggunaan Kemasan 3.

Kemasan sayuran organik merupakan pembungkus sayuran organik pada saat terjadi proses pembelian. Kemasan sayuran organik berupa plastik yang banyak dijual dipasaran. Pada kemasan terdapat sablon dari merek sayuran organik dan untuk beberapa jenis sayuran

menggunakan stiker. Pengemasan sayuran organik bertujuan agar produk sayuran terjaga kualitasnya serta dapat menarik perhatian konsumen karena sayuran tetap terlihat segar. Berdasarkan Tabel 3 dapat dilihat bahwa rata-rata jumlah biaya yang dikeluarkan untuk pembelian kemasan pada usahatani sayuran organik di Kota Bandar Lampung per luas usahatani (0,1 ha) yang diusahakan dalam satu kali musim tanam.

Tabel 3. Rata-rata biaya kemasan pada usahatani sayuran organik di Kota Bandar Lampung

No Jenis Kemasan Rata-Rata Biaya Kemasan (0,1 ha) Rata-Rata Biaya Kemasan (1 ha)

1 Plastik 1.563.514,29 15.635.142,86

2 Stiker 505.333,33 5.053.333,33

3 Sablon 4.042.666,67 40.426.666,67

Modal Awal 4.

Modal merupakan faktor penting dalam kegiatan usahatani. Modal dalam usahatani tidak hanyak berupa uang, tetapi juga dapat berupa alat-alat atau mesin-mesin. Berdasarkan hasil penelitian yang telah dilakukan modal awal yang dimiliki kedua responden merupakan modal sendiri. Modal merupakan segala sesuatu yang dapat digunakan untuk menjalankan suatu usaha. Modal sangat mempengaruhi jalannya suatu usaha. Status kepemilikan modal awal usahatani sayuran organi keseluruhan berasal dari modal milik sendiri.

Tabel 4. Sebaran responden berdasarkan modal awal usahatani sayuran organik di Kota Bandar Lampung

No Responden Modal Awal (Rp) Status Modal 1 Sepang Jaya Organic

(Ibu Yohana) 40.000.000 Modal sendiri 2 Kayu Manis Farm

(Bapak Wayan) 10.000.000 Modal sendiri

Tabel 4 menunjukkan bahwa jumlah modal awal yang digunakan oleh responden sayuran organik cukup besar. Jumlah modal awal yang digunakan kedua responden berbeda. Hal ini dikarenakan perlunya biaya yang cukup tinggi untuk mendapatkan tanah/lahan yang bebas dari pencemaran.

Penggunaan Peralatan 5.

Kegiatan usahatani sayuran organik selain membutuhkan bahan baku dan bahan penunjang untuk menjalankan usahanya, juga memerlukan beberapa macam peralatan yang digunakan untuk memperlancar kegiatan usahatani sayuran organik. Peralatan yang dimiliki kedua pelaku usahatani sayuran organik dalam penelitian ini relatif sama yaitu cangkul, golok, arit, ember, pot tray, paranet, alat press dan selang. Pada Tabel 5 menunjukan biaya penyusutan peralatan pada sayuran organik di Kota Bandar Lampung.

Tabel 5. Biaya penyusutan peralatan sayuran organik di Kota Bandar Lampung

No Jenis Peralatan Rata-Rata Penyusutan (Rp/Musim Tanam) (0,1 ha)

Rata-Rata Penyusutan (Rp/Musim Tanam) (1 ha) 1 Cangkul 6.500,00 65.000,00 2 Golok 2.000,00 20.000,00 3 Arit 2.932,29 29.322,92 4 Ember 7.916,67 79.166,67 5 Paranet 31.250,00 312.500,00 6 Gembor 694,44 6.944,44 7 Lori 833,33 8.333,33 8 Pot Tray 3.541,67 35.416,67 9 Alat Press 9.027,78 90.277,78 10 Selang 416,67 4.166,67 11 Sprinkler Water 142.857,14 1.428.571,43 Total 207.969,99 2.079.699,90 Rata-rata 18.906,36 189.063,63 Tenaga Kerja 6.

Tenaga kerja merupakan faktor penting dalam menentukan keberhasilan pengusaha dalam menjalankan usahanya. Tenaga kerja pada kedua usahatani sayuran organik ini dihitung dengan satuan HOK. Tenaga kerja pada kedua usahatani sayuran organik ini seluruhnya laki-laki. Tidak ada kuali kasi khusus yang diperlukan dalam kegiatan usahatani sayuran organik. Hanya diperlukan kemauan dan keuletan dalam melakukan kegiatan usahatani.

Tabel 6 menunjukkan penggunaan tenaga kerja usahatani sayuran organik selama satu musim. Upah tenaga kerja per hari pada kegiatan usahatani sayuran organik adalah Rp50.000. Penggunaan tenaga kerja untuk pemeliharaan tanaman lebih banyak dibandingkan dengan proses lainnya. Hal tersebut karena pada tanaman sayuran organik diperlukan perlakuan lebih, seperti pada saat penyiangan dan pemberantasan hama untuk mendapatkan kualitas sayuran organik yang baik. Besarnya penggunaan tenaga kerja dalam proses produksi dapat dilihat pada Tabel 6.

Tabel 6. Penggunaan tenaga kerja dalam usahatani sayuran organik di Kota Bandar Lampung No Kegiatan Rata-Rata TKDK (0,1 ha) Rata-Rata TKLK (0,1 ha) Rata-Rata TKDK (1 ha) Rata-Rata TKLK (1 ha) 1 Pengolahan tanah 0,75 3,56 7,50 35,63 2 Penyemaian 0,19 1,69 1,88 16,88 3 Penanaman 0,25 1,50 2,50 15,00 4 Pemeliharaan tanaman 8,19 42,75 81,88 427,50 5 Pemanenan 2,63 11,38 26,25 113,75 6 Pasca panen 1,81 21,56 18,13 215,63 7 Pengangkutan 3,75 12,75 37,50 127,50

Jumlah HOK per musim tanam 17,56 95,19 175,63 951,88

Kinerja Usahatani Sayuran Organik di Kota Bandar Lampung

Keberhasilan suatu usaha dapat dilihat dari kineja usahanya. Kinerja usahatani sayuran organik pada penelitian ini dapat dilihat dari dua aspek penilaian, yaitu kinerja secara ekonomis dan kinerja secara teknis. Kinerja usahatani sayuran secara ekonomis dilihat dari aspek produktivitas, kapasitas, analisis pendapatan dan R/C ratio. Kinerja usahatani secara teknis dilihat dari aspek kualitas dan kecepatan pengiriman.

Kinerja Usahatani Sayuran Organik Berdasarkan Produktivitas 1.

Produktivitas adalah suatu ukuran untuk mengonversi input dari proses transformasi ke dalam output. Produktivitas dari usahatani dihitung dengan mengukur banyaknya hasil produksi yang dapat diperoleh dari satu kesatuan output (tenaga kerja). Berdasarkan hasil perhitungan, rata-rata produktivitas antara output terhadap tenaga kerja usahatani sayuran organik di Kota Bandar Lampung pada luas lahan 0,1 ha didapatkan nilai sebesar 8,66 kg/HOK. Artinya setiap satu HOK mampu memproduksi sebesar 8,66 kg sayuran organik. Pada penelitian Pertiwi (2008) yang berjudul Analisis Usahatani Sayuran Organik di PT Anugerah Bumi Persada “RR Organic Farm”, Kabupaten Cianjur Jawa Barat didapatkan hasil produktivitas sayuran organik sebesar 1,36 kg/HOK. Artinya setiap satu HOK mampu memproduksi sebesar 1,36 kg sayuran organik. Jika dibandingkan dengan penelitian terdahulu kinerja usahatani sayuran organik di Kota Bnadar Lampung sudah baik dengan hasil produktivitas yang lebih besar.

Produktivitas usahatani dapat ditingkatkan lebih lanjut untuk perkembangan di masa yang akan datang. Peningkatan produktivitas dapat dilakukan dengan cara peningkatan persediaan benih , peningkatan keterampilan sumber daya manusia dengan cara mengikuti pelatihan-pelatihan untuk pengembangan usahatani sayuran organik, serta mengadopsi perkembangan teknologi sehingga dapat meningkatkan produksi sayuran organik.

Kinerja Usahatani Sayuran Organik Berdasarkan Kapasitas 2.

Kapasitas yaitu suatu ukuran yang menyangkut kemampuan dari output pada suatu proses. Desain kapasitas digambarkan sebagi tingkat keluaran yang ideal dimana suatu usahatani akan menghasilkan produksi dalam keadaan maksimal. Berdasarkan perhitungan didapatkan nilai kapasitas tenaga kerja sayuran oragnik di Kota Bandar Lampung pada luas lahan 0,1 ha adalah sebesar 0,89 atau 89%. Jika dibandingkan pada penelitian Pertiwi (2008) didapatkan hasil kapasitas kinerja sebesar 0,86 atau 86%. Artinya dari segi kapasitas usahatani sayuran organik di Kota Bnadar Lampung lebih baik.

Kapasitas yang tidak mencapai 100 persen dari kapasitas tenaga kerja mengikuti kondisi permintaan pasar serta keadaan iklim dan cuaca. Dalam hal kapasitas kedua usahatani sayuran organik di Kota Bandar Lampung sudah baik karena kedua usahatani sudah mampu memanfaatkan penggunaan alat dan tenaga kerja secara efektif dan e sien sesuai dengan kapasitasnya. Peningkatan kapasitas masih dapat dimaksimalkan dengan cara menambah tenaga kerja, bahan baku, meningkatkan kualitas sumber daya manusia, dan penggunaan peralatan yang lebih moderen, namun apabila tidak diikuti penjualan yang baik maka hal ini dapat merugikan petani sayuran organik.

Kinerja Usahatani Sayuran Organik Berdasarkan Pendapatan dan R/C

3. Ratio

Tujuan melakukan kegiatan produksi sayuran organik adalah untuk memperoleh pendapatan yang besar, sehingga usaha tersebut dapat menguntungkan. Harga sayuran organik lebih mahal dibandingkan sayuran non organik hal tersebut merupakan peluang bagi petani sayuran organik untuk memperoleh pendapatan lebih. Pendapatan sayuran organik diperoleh dari selisih antara penerimaan dengan biaya yang dikeluarkan. Pendapatan yang diperoleh kedua usahatani sayuran organik dapat menunjukkan apakah kedua usahatani tersebut sudah menguntungkan atau tidak secara ekonomi dengan melihat nisbah atau perbandingan antara penerimaan dengan biaya (R/C Ratio). Hasil analisis pendapatan pada usahatani sayuran organik di Kota Bandar Lampung menunjukan bahwa besarnya pendapatan pada usahatani diperngaruhi oleh jumlah produksi dan harga.

Berdasarkan analisis pendapatan juga diketahui bahwa besarnya pendapatan Sepang Jaya Organic lebih besar dibandingkan pendapatan Kayu Manis Farm. Hal ini dikarenakan

jumlah produksi pada Sepang Jaya Organic lebih tinggi. Keuntungan relatif dari usahatani sayuran organik dapat dihitung dengan menggunakan analisis R/C ratio. Perhitungan hasil analisis pendapatan dan analisis R/C ratiopada kedua usahatani sayuran organik dalam penelitian ini dapat dilihat pada Tabel 7.

Tabel 7. Hasil analisis pendapatan per bulan (per musim tanam) usahatani sayuran organik di Kota Bandar Lampung

Uraian Usahatani sayuran organik per 0,1 ha Usahatani per 1 ha Fisik Harga (Rp) Nilai (Rp)

Penerimaan 22.644.000,00 226.440.000,00 Sayuran organik 3.774,00 6.000,00 22.644.000,00 226.440.000,00 Biaya Produksi a. Biaya Tunai 11.225.303,34 112.253.033,41 Biaya Variabel 9.754.803,34 97.548.033,41 Benih (gr) 80,03 526,67 42.151,62 421.516,20 Pupuk (kg) 3.425,00 268,75 920.468,75 9.204.687,50 Kemasan (kg) 0,00 0,00 6.111.514,29 61.115.142,86 a. Plastik (lbr) 3.774,00 414,29 1.563.514,29 15.635.142,86 b. Stiker (lbr) 3.032,00 166,67 505.333,33 5.053.333,33 c. Plastik Sablon (lbr) 6.064,00 666,67 4.042.666,67 40.426.666,67 Tenaga Kerja Luar Keluarga (HOK) 7,32 366.105,77 2.680.668,69 26.806.686,85

Biaya Tetap 1.470.500,00 14.705.000,00 Listrik (Rp/bulan) 278.000,00 2.780.000,00 Pajak (Rp/bulan) 112.500,00 1.125.000,00 Transportasi 1.080.000,00 10.800.000,00 b. Biaya Diperhitungkan 1.214.494,55 12.144.945,50 Biaya Variabel 487.254,85 3.045.342,84

Tenaga Kerja Dalam Keluarga (HOK) 1,35 67.548,08 91.254,85 912.548,54 Sayuran dikonsumsi (pack) 30,00 6.000,00 180.000,00 1.800.000,00 Sayuran tidak laku (pack 72,00 3.000,00 216.000,00 2.160.000,00

Biaya Tetap 727.239,70 7.272.396,96

Penyusutan Peralatan (Rp) 18.906,36 189.063,63

Sewa Lahan (Rp) 708.333,33 7.083.333,33

Total Biaya 12.439.797,89 124.397.978,91

Pendapatan

a. Pendapatan Atas Biaya Tunai 11.418.696,66 114.186.966,59 b. Pendapatan Atas Biaya Total 10.204.202,11 102.042.021,09

R/C Rasio

a. R/C Atas Biaya Tunai 2,02 2,02

b. R/C Atas Biaya Total 1,82 1,82

Berdasarkan Tabel 7, maka dapat dijelaskan bahwa nilai R/C ratio atas biaya tunai adalah sebesar 2,02. Hal ini berarti setiap Rp1.000.000 biaya tunai yang dikeluarkan maka akan memberikan penerimaan kembali sebesar Rp2.202.000. Nilai R/C ratio atas biaya total diperoleh sebesar 1,82 yang mengindikasikan bahwa setiap Rp 1.000.000 atas keseluruhan biaya total yang dikeluarkan akan memberikan penerimaan sebesar Rp1.182.000. Usahatani sayuran organik tersebut dapat dikatakan e sien karena memiliki nilai rasio penerimaan atas biaya yang lebih dari satu (R/C ratio > 1). Demikian dapat disimpulkan usahatani sayuran organik dapat dikatakan layak dikembangkan karena menguntungkan bagi petani.

Kinerja Usahatani Sayuran Organik Berdasarkan Kualitas 4.

Kualitas dari proses pada umumnya diukur dengan tingkat ketidaksesuaian dari produk yang dihasilkan. Usahatani sayuran organik yang ada di Kota Bandar Lampung sangat mengedepankan kualitas dari produk sayuran mereka. Petani sayuran organik memiliki standar kualitas yang sama terhapat produk yang mereka jual. Untuk mengetahui suatu sayuran berkualitas atau tidak dilakukan dengan kasat mata. Sayuran yang berkualitas yang dipilih kedua usahatani tersebut adalah sayuran yang segar, tidak busuk, tidak kerdil, tidak ada penyakit dan tidak ada bercak pada daun. Apabila terdapat sayuran yang rusak, sayuran tersebut tidak akan dijual. Untuk mengantisipasi kerusakan pada sayuran maka diperlukan perhatian lebih pada saat proses penanaman. Berdasarkan perlakuan tersebut kedua usahatani tersebut dapat dikatakan baik dalam menjaga kualitas produk sayurannya.

Kinerja Usahatani Sayuran Organik Berdasarkan Kecepatan Pengiriman 5.

Kecepatan pengiriman diukur berdasarkan jumlah waktu antara produk ketika dipesan untuk dikirimkan ke pelanggan. Petani sayuran organik dapat menghasilkan sayuran organik dalam waktu 3-4 minggu tergantung jenis sayurannya. Sayuran organik dikirim setiap hari, oleh karena itu petani menanam sayuran organik setiap hari untuk memenuhi permintaan sayuran organik dipasaran. Sayuran organik yang sudah dipanen kemudian dibersihkan dan dikemas. Setelah dikemas sayuran di pasarkan.

Proses pemasaran sayuran organik dilakukan selama 5 sampai 6 hari dalam seminggu. Petani sayuran organik di Kota Bandar Lampung memasarkan produk ke supermarket- supermarket yang ada di Bandar Lampung dan outlet-outlet sayuran, waktu yang dibutuhkan untuk mengantar produk ke tempat penjualan hanya memakan waktu kurang lebih 30 menit sampai dengan satu jam. Kegiatan memasarkan sayuran tersebut dapat menghabiskan biaya transport sekitar Rp 20.000,00. Dilihat dari kecepatan dan ketepatan waktu pengiriman produk sayuran organik di Kota Bandar Lampung sudah dikatakan baik dengan alasan produk yang dikirimkan ke konsumen tidak terlalu lama yaitu setiap hari sehingga dapat memenuhi kebutuhan penduduk akan sayuran organik.

KESIMPULAN DAN SARAN

Berdasarkan hasil penelitian yang telah dilakukan, maka dapat disimpulkan bahwa: kinerja usahatani sayuran organik di Kota Bandar Lampung menguntungkan karena sudah memiliki kinerja yang baik dilihat dari aspek produktivitas, kapasitas, kualitas, dan kecepatan pengiriman. Hasil penelitian menunjukkan bahwa nilai R/C ratio atas biaya tunai adalah sebesar 2,02. Hal ini berarti setiap Rp1.000.000 biaya tunai yang dikeluarkan maka akan memberikan penerimaan kembali sebesar Rp2.202.000. Nilai R/C ratio atas biaya total diperoleh sebesar 1,82 yang mengindikasikan bahwa setiap Rp 1.000.000 atas keseluruhan biaya total yang dikeluarkan akan memberikan penerimaan sebesar Rp1.182.000 Berdasarkan hasil tersebut maka kegiatan usahatani sayuran organik dapat dikembangkan di Kota Bandar Lampung.

Saran yang dapat diberikan untuk pengembangan usahatani sayuran organik adalah (1) pelaku usahatani sayuran organik diharapkan terus meningkatkan kualitas serta variasi jenis sayuran yang dihasilkan agar tidak terpengaruh oleh pesaing sejenis yang memberikan harga lebih murah. Petani sayuran organik juga perlu melakukan promosi untuk memperkenalkan produk sayuran organik sehingga dapat meningkatkan permintaan terhadap sayuran organik. Promosi dapat dilakukan melalui media sosial. (2) Pihak pemerintah daerah, melalui Dinas Pertanian, Peternakan dan Kehutanan Kota Bandar Lampung dan Badan Ketahanan Pangan dan Pelaksana Penyuluhan (BKPPP) diharapakan dapat membantu dalam pengembangan sayuran organik di Kota Bandar Lampung dan dapat membantu dalam membuka pasar,

sehingga petani tidak kesulitan dalam memasarkan sayuran organik yang dihasilkan. Pemerintah juga perlu melakukan sosialisasi kepada masyarakat tentang kandungan gizi sayuran organik, sehingga masyarakat mau beralih untuk mengonsumsi sayuran organik.

DAFTAR PUSTAKA

Achmadi,E.E. 2011. Organik Vs Non Organik. http://www.femina.co.id. Diakses pada tanggal 20 Mei 2016.

David, F.R. 2006. Manajemen Strategi. Buku 1, Edisi kesepuluh. Salemba Empat. Jakarta. Direktorat Jenderal Hortikultura, 2010. Perkembangan PDB Komoditas Hortikultura

Indonesia. http:/ hortikultura.deptan.go.id. Diakses pada 10 April 2016.

Pertiwi,D.M. 2008. Analisis Usahatani Sayuran Organik di PT Anugrah Bumi Persada “RR Organic Farm”, Kabupaten Cianjur, Jawa Barat. Skripsi. Institut Pertanian Bogor. Bogor.

Rangkuti, F.2014. Teknik Membedah Kasus Bisnis Analisis SWOT. Gramedia Pustaka. Jakarta.

Sutanto, R. 2002. Penerapan Pertanian Organik ; Pemasyarakatan dan Pengembangannya. Kanisius. Yogyakarta.

ANALISIS RANTAI PASOK DAGING AYAM BROILER PADA RPA

Dalam dokumen HASIL PENELITIAN SOSIAL EKONOMI PERTANIAN (Halaman 152-160)