PETANI DI PROVINSI SUMATERA BARAT ABSTRACT
HASIL DAN PEMBAHASAN
Faktor Penentu dalam Tingkat Adopsi Sistem Pertanian Sayuran Organik dan Keberdayaan Petani
Analisis terhadap faktor penentu dalam tingkat adopsi sistem pertanian sayuran organik dan keberdayaan petani menggunakan SEM dengan bantuan program LISREL 8.30. Hasil uji kesesuaian model menunjukkan bahwa hybrid model yang diperoleh (Gambar 14) telah fit dengan data yang ditunjukkan oleh lima ukuran Goodness of Fit, yaitu: nilai RMSEA =0,054 (≤0,08), nilai GFI= 0,95
(≥0,90), nilai AGFI = 0,95 (≥0,90), nilai CFI=0,98 (≥0,90), dan nilai NFI=0,96 (≥0,95) yang berarti model yang dihasilkan melalui penelitian ini dapat
diberlakukan untuk populasi. Hasil analisis menghasilkan model struktural dalam bentuk diagram lintasan sebagaimana yang disajikan pada Gambar 14. Pengaruh langsung dan tidak langsung antar peubah penelitian disajikan dalam Tabel 35. Hasil analisis model struktural pada Gambar 14 memperlihatkan faktor- faktor penentu perilaku petani dalam sistem pertanian sayuran organik, faktor- faktor penentu dalam tingkat adopsi sistem pertanian sayuran organik oleh petani, dan faktor-faktor penentu tingkat keberdayaan petani sayuran. Gambar 14 menunjukkan bahwa faktor-faktor yang berpengaruh nyata terhadap perilaku petani dalam sistem pertanian sayuran organik adalah peubah: (1) intensitas belajar petani (X2) dan (2) dukungan penyuluhan (X3). Pengaruh kedua peubah ini bersifat langsung. Secara simultan pengaruh kedua peubah terhadap perilaku petani adalah sebesar 0,65. Hal ini mempunyai makna bahwa keragaman data yang bisa dijelaskan oleh model tersebut sebesar 65 persen, sedangkan sisanya dijelaskan oleh peubah lain yang belum terdapat dalam model.
Model persamaan struktural faktor-faktor yang mempengaruhi perilaku petani dalam sistem pertanian sayuran organik adalah:
Untuk menguji hipotesis dilakukan dengan membandingkan nilai t-hitung dan t- tabel untuk masing-masing peubah. Jika nilai t-hitung masing-masing peubah lebih besar dari t-tabel (1,96) pada taraf nyata 0,05, maka hipotesis 1 diterima. Mengacu pada persamaan 1, Gambar 14 dan Tabel 35 maka secara statistik intensitas belajar petani dan dukungan penyuluhan berpengaruh nyata terhadap perilaku petani dalam sistem pertanian sayuran organik sebesar 0,73 dan 0,16.
Dengan demikian hipotesis 1 penelitian yang berbunyi: “Perilaku petani dalam
sistem pertanian sayuran organik dipengaruhi secara nyata oleh karakteristik internal petani, intensitas belajar petani dan dukungan penyuluhan”, diterima untuk peubah intensitas belajar petani (X2) dan dukungan penyuluhan (X3) dan ditolak untuk peubah karakteristik internal petani (X1).
Faktor yang paling besar mempengaruhi perilaku petani dalam sistem pertanian sayuran organik adalah intensitas belajar petani dan diikuti oleh dukungan penyuluhan. Indikator yang merefleksikan intensitas belajar petani adalah: ragam metode belajar, kesesuaian materi belajar, frekuensi belajar, ragam
RMSEA=0,054, GFI=0,97, AGFI=0,95, CFI=0,98, NFI=0,96 Gambar 14 Model Struktural Faktor Penentu Adopsi Sistem
Tabel 35 Dekomposisi Pengaruh Langsung dan Pengaruh Tidak langsung antar Peubah Penelitian
Pengaruh antar peubah Koefisien Pengaruh Peubah Bebas Peubah Terikat Lang sung
Tidak langsung melalui Total Nilai t
pada α = 0,05 R2 Y1 Y2 Y1 dan Y2 X2 Y1 0,73 0,73 22,43 0,65 X3 0,16 0,16 5,21 X2 Y2 - 0,31 0,31 3,92 0,46 X3 -0,27 -0,27 4,46 X4 0,22 0,22 3,65 X5 0,31 0,31 3,92 Y1 0,42 0,42 5,35 X2 Y3 - - - 0,18 0,18 5,95 0,75 X3 - - - 0,04 0,04 2,97 X4 - - 0,13 - 0,13 3,31 X5 0,42 - - - 0,42 21,37 Y1 - - 0,24 - 0,24 4,83 Y2 0,58 - - - 0,58 16,48 Keterangan :
X2=Intensitas belajar petani X3=Dukungan penyuluhan X4=Sifat inovasi
X5= Dukungan lingkungan eksternal
Y1=Perilaku petani dalam Sistem Pertanian Sayuran Organik Y2=Tingkat Adopsi Sistem Pertanian Sayuran organik Y3=Tingkat keberdayaan petani sayuran
sumber informasi, intensitas interaksi dengan anggota kelompok, dan intensitas interaksi dengan sumber belajar. Hasil penelitian Zulvera et al. (2014) menunjukkan bahwa intensitas belajar petani di Kabupaten Agam dan Tanah Datar tergolong rendah yang tercermin dari sangat rendahnya ragam metode belajar yang digunakan petani, rendahnya frekuensi belajar yang dilakukan petani, sangat rendahnya ragam sumber informasi serta intensitas interaksi dengan sumber belajar. Rendahnya intensitas belajar petani mempengaruhi perilaku petani yang tercermin dari rendahnya keterampilan petani dalam sistem pertanian sayuran organik.
Peubah berikutnya yang mempengaruhi perilaku petani dalam sistem pertanian sayuran organik adalah dukungan penyuluhan. Dukungan penyuluhan direfleksikan oleh peubah ketepatan metode penyuluhan, kesesuaian materi penyuluhan, kesesuaian model komunikasi, kompetensi penyuluh dan intensitas penyuluhan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa dukungan penyuluhan tergolong sedang, yang tercermin dari semua indikator kecuali intensitas penyuluhan yang berada pada kategori rendah. Dukungan penyuluhan yang dirasakan sedang oleh petani ini mempengaruhi perilaku petani yang tercermin dari tingkat pengetahuan petani tentang sistem pertanian sayuran organik tergolong sedang, sikap petani terhadap sistem pertanian sayuran organik tergolong baik, namun keterampilan petani dalam sistem pertanian sayuran
organik berada pada kategori rendah. Hal ini memperlihatkan bahwa penyuluhan sebagai proses pendidikan yang bertujuan untuk mengubah perilaku petani kearah yang lebih baik belum berlangsung sesuai dengan prinsip-prinsip pendidikan. Slamet (2003) menyatakan bahwa untuk menguji apakah suatu kegiatan itu pendidikan atau bukan dapat dilihat dengan hasil kegiatan tersebut, apakah menghasilkan perubahan perilaku pada orang-orang yang terkena kegiatan. Perubahan perilaku biasanya berupa: (1) perubahan dalam pengetahuan atau hal yang diketahui, (2) perubahan dalam keterampilan atau kebiasaan dalam melakukan sesuatu, dan (3) perubahan dalam sikap mental atau segala sesuatu yang dirasakan (Slamet 2003).
Faktor-faktor yang Mempengaruhi Tingkat Adopsi Sistem Pertanian sayuran Organik
Hasil analisis SEM yang disajikan pada Gambar 14 menunjukkan bahwa peubah-peubah yang berpengaruh langsung terhadap tingkat adopsi sistem pertanian sayuran organik secara berturut-turut adalah: (1) perilaku petani berkaitan dengan sistem pertanian sayuran organik (Y1), (2) dukungan lingkungan eksternal (X5), (3) sifat inovasi (X4) dan (4) dukungan penyuluhan (X3). Secara simultan pengaruh keempat peubah terhadap tingkat adopsi sistem pertanian sayuran organik adalah sebesar 0,46. Hal ini mempunyai makna bahwa keragaman data yang bisa dijelaskan oleh model tersebut sebesar 46 persen, sedangkan sisanya dijelaskan oleh peubah lain yang belum terdapat dalam model. Dan peubah yang berpengaruh tidak langsung terhadap tingkat adopsi sistem pertanian sayuran organik adalah intensitas belajar petani.
Model persamaan struktural faktor-faktor yang mempengaruhi tingkat adopsi sistem pertanian sayuran organik adalah:
Y2 =0,42*Y1-0,27*X3+0,22*X4+0,31*X5, R2=0,46...(Persamaan 2) Untuk menguji hipotesis dilakukan dengan membandingkan nilai t-hitung dan t- tabel untuk masing-masing peubah. Jika nilai t-hitung masing-masing peubah lebih besar dari t-tabel (1,96) pada taraf nyata 0,05, maka hipotesis 2 diterima. Mengacu pada persamaan 2, Gambar 14 dan Tabel 35 maka secara statistik peubah dukungan perilaku petani, dukungan lingkungan, sifat inovasi dan dukungan penyuluhan berpengaruh nyata terhadap tingkat adopsi sistem pertanian sayuran organik. Dengan demikian hipotesis 2 penelitian yang berbunyi:
“Tingkat adopsi sistem pertanian sayuran organik dipengaruhi secara nyata oleh perilaku petani dalam sistem pertanian sayuran organik, dukungan penyuluhan, sifat inovasi pertanian organik, dan dukungan lingkungan”, diterima.
Pengaruh keempat peubah tersebut bersifat langsung, dengan pengaruh terbesar secara berturut-turut adalah: perilaku petani dalam sistem pertanian sayuran organik, dukungan lingkungan eksternal, dukungan penyuluhan dan persepsi petani tentang sifat inovasi. Tingkat adopsi petani terhadap sistem pertanian sayuran organik rendah. Rendahnya tingkat adopsi petani terhadap sistem pertanian sayuran organik disebabkan oleh lemahnya perilaku petani dalam sistem pertanian sayuran organik terutama berkaitan dengan keterampilan petani dalam sistem pertanian sayuran organik, lemahnya dukungan lingkungan terutama dukungan kebijakan dan kelembagaan terkait usahatani sayuran organik,
rendahnya persepsi petani terhadap sifat-sifat inovasi sistem pertanian sayuran organik terutama keuntungan relatif dan keteramatan inovasi, serta lemahnya intensitas penyuluhan. Pengaruh masing-masing faktor terhadap tingkat adopsi sistem pertanian sayuran organik oleh petani diuraikan sebagai berikut.
Perilaku Petani dalam Sistem Pertanian Sayuran Organik
Perilaku petani merupakan faktor pertama yang memberikan pengaruh paling kuat terhadap tingkat adopsi sistem pertanian sayuran organik oleh petani yang direfleksikan oleh indikator: (a) pengetahuan petani tentang sistem pertanian sayuran organik, (b) sikap petani terhadap sistem pertanian sayuran organik, dan (3) keterampilan petani dalam sistem pertanian sayuran organik. Hal ini menunjukkan bahwa perilaku petani dapat meningkatkan adopsi sistem pertanian sayuran organik. Semakin baik perilaku petani dalam merespon sistem pertanian sayuran organik maka akan semakin meningkat adopsi sistem pertanian sayuran organik oleh petani.
Indikator keterampilan petani dalam sistem pertanian sayuran organik merupakan indikator yang paling kuat merefleksikan perilaku petani (λ=0,82)
diikuti oleh sikap (λ=0,68) dan pengetahuan petani tentang sistem pertanian sayuran organik (λ=0,61). Dengan demikian pengaruh keterampilan petani dalam
sistem pertanian sayuran organik berpotensi paling besar untuk meningkatkan adopsi petani terhadap sistem pertanian sayuran organik. Hasil penelitian Zulvera
et al. (2014) menunjukkan bahwa tingkat pengetahuan petani tentang sistem pertanian sayuran organik tergolong sedang, sikap petani terhadap sistem pertanian sayuran organik tergolong baik, namun keterampilan petani dalam sistem pertanian sayuran organik tergolong rendah. Rendahnya keterampilan petani dalam sistem pertanian sayuran organik mempengaruhi tingkat adopsi sistem pertanian sayuran organik oleh petani. Tingkat adopsi petani terhadap sistem pertanian sayuran organik di Kabupaten Agam dan Tanah Datar tergolong rendah. Dapat dikatakan rendahnya tingkat adopsi sistem pertanian sayuran organik oleh petani salah satunya dipengaruhi oleh perilaku petani yang tercermin dari rendahnya keterampilan petani dalam sistem pertanian sayuran organik. Meskipun sikap petani terhadap sistem pertanian sayuran organik tergolong baik dan tingkat pengetahuannya berada pada kategori sedang, namun rendahnya keterampilan petani menyebabkan rendahnya tingkat adopsi petani.
Hasil penelitian ini memperkuat apa yang disampaikan Rolling dan Kuiper (Leeuwis 2009) yang menyatakan bahwa petani melakukan atau tidak melakukan sesuatu tergantung kepada: (a) apa yang mereka yakini benar/apa yang mereka tahu, (b) apa yang mereka cita-citakan yang akan dicapai (c) apa yang mereka pikir bahwa mereka mampu melakukannya, dan (d) apa yang mereka pikir bahwa mereka diperbolehkan atau diharapkan untuk melakukan. Hal ini dikembangkan oleh Leeuwis (2009) yang menjelaskan bahwa respon individu petani terhadap inovasi yang ditawarkan salah satunya tergantung pada peubah yang berkaitan dengan kekuatan petani untuk memobilisir sumberdaya, ketersediaan keterampilan dan kompetensi yang dirasakan petani. Menurut Tjitropranoto (2005) kapasitas diri petani akan menentukan tingkat potensi atau kesiapan petani dalam menerima teknologi yang dikenalkan kepadanya. Adapun kapasitas diri petani tersebut terdiri dari pengetahuan, keterampilan, sikap, percaya diri, komitmen dan kewirausahaan.
Perilaku petani dalam sistem pertanian sayuran organik merupakan respon petani terhadap informasi yang berkaitan dengan sistem pertanian sayuran organik yang diterima petani. Perilaku atau aktivitas yang ada pada individu atau organisme tidak timbul dengan sendirinya, tetapi sebagai akibat dari adanya stimulus atau rangsang yang mengenai individu atau organisme tersebut (Walgito 2005). Berdasarkan hasil analisis SEM (Gambar 14) diketahui bahwa faktor- faktor yang berpengaruh nyata positif terhadap perilaku petani dalam sistem pertanian sayuran organik adalah intensitas belajar petani dan dukungan penyuluhan.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa intensitas belajar petani merupakan faktor paling besar pengaruhnya terhadap perilaku petani dalam sistem pertanian sayuran organik. Temuan penelitian mendukung pendekatan belajar yang menyatakan bahwa perilaku ditentukan oleh apa yang telah dipelajari individu pada masa lalu (Sears et al. 1985). Intensitas belajar petani direfleksikan oleh indikator ragam metode belajar, kesesuaian materi belajar, frekuensi belajar, ragam sumber informasi, intensitas interaksi dengan anggota kelompok, dan intensitas interaksi dengan sumber belajar. Hal ini menunjukkan bahwa semakin tinggi tingkat intensitas belajar petani maka semakin tinggi pengetahuan, sikap dan keterampilan petani. Kondisi ini berpengaruh secara tidak langsung terhadap tingkat adopsi sistem pertanian sayuran organik oleh petani. Hasil penelitian yang berkaitan dengan perilaku petani dalam sistem pertanian sayuran organik yang dilakukan Zulvera et al. (2014) menunjukkan bahwa intensitas belajar petani tergolong rendah dengan rataan skor 40,60 dengan rentang skor 0 – 100. Rendahnya intensitas belajar petani terutama pada aspek ragam metode belajar, frekuensi belajar, ragam sumber informasi dan intensitas interaksi dengan sumber belajar mempengaruhi rendahnya perilaku petani dan secara tidak langsung berpengaruh terhadap rendahnya tingkat adopsi sistem pertanian sayuran organik oleh petani.
Dukungan penyuluhan pertanian
Dukungan penyuluhan pertanian merupakan faktor yang mempengaruhi perilaku petani secara langsung dan mempengaruhi tingkat adopsi sistem pertanian sayuran organik secara tidak langsung. Dukungan penyuluhan mempengaruhi perilaku petani secara nyata dan positif, yang bermakna bahwa semakin kuat dukungan penyuluhan pertanian maka semakin tinggi pengetahuan, sikap dan keterampilan petani. Faktor dukungan penyuluhan direfleksikan oleh peubah: (a) ketepatan metode penyuluhan, (b) kesesuaian materi penyuluhan, (c) kesesuaian model komunikasi, (c) kompetensi penyuluh, dan (d) kompetensi penyuluh. Kompetensi penyuluh memiliki pengaruh dominan terhadap peningkatan perilaku petani melalui penyuluhan, diikuti oleh kesesuaian model komunikasi dan kesesuaian materi penyuluhan.
Pengertian penyuluhan menurut Undang-Undang No. 16 Tahun 2006 tentang Sistem Penyuluhan Pertanian, Perikanan dan Kehutanan yaitu: “Proses pembelajaran bagi pelaku utama serta pelaku usaha agar mereka mau dan mampu menolong dan mengorganisasikan dirinya dalam mengakses informasi pasar, teknologi, permodalan, dan sumber daya lainnya, sebagai upaya untuk meningkatkan produktivitas, efisiensi usaha, pendapatan dan kesejahteraannya,
serta meningkatkan kesadaran dalam pelestarian lingkungan hidup”. Menurut Sumardjo (2010) penyuluhan pada dasarnya merupakan upaya untuk meningkatkan kualitas perilaku seseorang atau individu, yang meliputi kognitif, afektif dan psikomotorik/konotif sehingga memiliki individualitas (human capital
bukan individualistis) yang siap mewujudkan kesejahteraan keluarga dan masyarakatnya.
Dalam rangka mewujudkan tujuan penyuluhan maka lembaga penyuluhan harus didukung oleh tenaga-tenaga yang ahli, trampil dan kompeten. Kompetensi yang harus dimiliki oleh penyuluh menurut Sumardjo (2010) adalah; kompetensi personal, kompetensi sosial, kompetensi andragogik, kompetensi komunikasi inovatif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa tingkat kompetensi penyuluh tergolong sedang dengan rataan skor 59,17 dalam rentang skor 0 – 100, yang bermakna bahwa penyuluh belum sepenuhnya mampu melaksanakan tugasnya sesuai dengan harapan. Berdasarkan hasil wawancara dengan petani di lapangan diperoleh informasi bahwa kompetensi penyuluh yang dirasakan rendah oleh petani adalah dalam hal pengetahuan tentang teknik sistem pertanian sayuran organik dan informasi tentang pasar produk sayuran organik. Analisis deskriptif data memperlihatkan bahwa 58,3 persen penyuluh memiliki pengetahuan tentang teknik pertanian sayuran organik dalam kategori sedang dan 34,7 persen penyuluh memiliki pengetahuan tentang teknik pertanian sayuran organik rendah. Pendapat petani tentang kemampuan penyuluh dalam menjalin kerjasama dengan lembaga agribisnis berkaitan dengan pertanian sayuran organik menunjukkan bahwa 65,7 persen penyuluh memiliki kemampuan yang rendah dan 25 persen memiliki kemampuan sedang dalam menjalin kerjasama dengan lembaga agribisnis. Dan hanya 9,3 persen penyuluh yang dirasakan petani memiliki kemampuan yang tinggi dalam menjalin kerjasama dengan lembaga agribisnis terkait pertanian organik. Meskipun dukungan penyuluhan secara total tergolong sedang, namun penyuluhan belum mampu meningkatkan keterampilan petani ke level yang lebih baik karena terdapatnya beberapa indikator kompetensi penyuluhan, model komunikasi dan kesesuaian materi dan intensitas penyuluhan yang berada dilevel rendah dengan persentase yang tinggi.
Dukungan penyuluhan pertanian merupakan salah satu peubah yang berpengaruh terhadap tingkat adopsi sistem pertanian sayuran organik. Hasil analisis SEM memperlihatkan bahwa penyuluhan pertanian berpengaruh positif terhadap aspek perilaku petani yang meliputi pengetahuan, sikap dan keterampilan dalam sistem pertanian organik, namun penyuluhan pertanian berpengaruh negatif terhadap tingkat adopsi sistem pertanian organik. Hubungan yang negatif ini dapat dijelaskan sebagai berikut. Kegiatan penyuluhan adalah proses pendidikan yang ditujukan untuk mengubah perilaku yang meliputi pengetahuan, sikap dan keterampilan petani, kemudian petani akan mempergunakan pengetahuan dan keterampilan yang dimilikinya tersebut untuk menerapkan inovasi pertanian organik. Jika penyuluhan langsung ditujukan agar petani segera mengadopsi inovasi yang diperkenalkan, hal itu berarti penyuluhan dilakukan dengan sistem pemaksaan, dan ini bertentangan dengan prinsip-prinsip penyuluhan yang berakibat rendahnya tingkat adopsi petani terhadap inovasi.
Hasil pengamatan dan wawancara dengan petani menunjukkan bahwa penyuluhan yang dilakukan di daerah penelitian cenderung bersifat linear. Hal ini terlihat dari materi penyuluhan yang ditetapkan oleh penyuluh bukan berasal dari
hasil diskusi dan interaksi antar petani. Kondisi ini menunjukkan bahwa penyuluhan di Kabupaten Agam dan Tanah Datar belum partisipatif masih berlaku paradigma linear. Hasil penelitian Sumardjo (1999) menunjukkan bahwa penyuluhan dengan pendekatan dialogis, humanis, dan dengan model komunikasi yang konvergen secara signifikan lebih efektif untuk meningkatkan kemandirian petani dibanding dengan model penyuluhan yang top-down dan dengan model komunikasi yang linier. Paradigma penyuluhan yang cenderung linear dan kurang terjadinya interaksi antar petani merupakan penyebab dukungan penyuluhan berpengaruh negatif terhadap tingkat adopsi sistem pertanian sayuran organik oleh petani.
Hubungan yang negatif antara penyuluhan dengan tingkat adopsi sistem pertanian sayuran organik juga disebabkan penyuluhan tentang pertanian organik hanya dilakukan secara intensif pada periode tertentu disaat ada program pengembangan sayuran organik. Setelah batas waktu program tersebut selesai, penyuluhan tentang organik tidak intensif dan berkelanjutan lagi. Walaupun program pertanian organik masih ada di lokasi tersebut, namun kelompok petani yang akan disentuh secara intensif oleh penyuluhan organik adalah kelompok yang baru lagi. Tidak berkelanjutannya kegiatan penyuluhan organik ini
digambarkan petani “seolah-olah mereka dilepaskan pada saat belum pandai
berjalan sendiri”, yang berakibat mereka tidak melanjutkan pengetahuan yang diperoleh dengan penerapan di lahan usahataninya.
Merujuk pada pendapat Padmowiharjo (2006) bahwa penyuluhan pertanian adalah proses pemberdayaan petani, bukan lagi sebagai proses transfer teknologi kepada petani seperti pada masa Revolusi Hijau yang lalu dan penyuluhan adalah suatu sistem pendidikan (Slamet 2003), maka penyuluhan harus dilakukan dengan berpijak pada falsafah pendidikan yang salah satunya adalah kesinambungan. Sejalan dengan pendapat Pranadji (2003) penyebab kurang berhasilnya upaya pemberdayaan masyarakat masa lalu diantaranya adalah upaya pemberdayaan umumnya masih terlalu berorientasi pada target, jangka pendek dan tidak berlanjut. Rendahnya intensitas penyuluhan, dan tidak berkelanjutannya program penyuluhan menyebabkan lemahnya dukungan penyuluhan terhadap perubahan perilaku petani. dan secara tidak langsung mempengaruhi rendahnya tingkat adopsi petani terhadap sistem pertanian sayuran organik.
Dukungan Lingkungan
Dukungan lingkungan merupakan faktor berikutnya yang mempengaruhi tingkat adopsi sistem pertanian sayuran organik oleh petani, yang direfleksikan oleh peubah: (a) dukungan kebijakan, (b) dukungan lembaga yang terkait dengan usahatani, (c) dukungan sistem sosial, dan (d) dukungan sumberdaya alam dan infrastruktur. Keempat peubah mempengaruhi tingkat adopsi secara nyata dan positif, yang bermakna bahwa semakin tinggi dukungan lingkungan eksternal maka akan semakin tinggi tingkat adopsi sistem pertanian sayuran organik oleh petani.
Hasil penelitian mmenunjukkan bahwa dukungan kebijakan dan kelembagaan terkait usahatani sayuran organik tergolong rendah dengan rataan skor 49,9 dan 49,31 dalam rentang skor 0-100. Lemahnya dukungan kebijakan
pemerintah yang berkaitan dengan pertanian organik, menyebabkan rendahnya adopsi petani terhadap sistem pertanian sayuran organik. Begitu juga dengan ketersediaan lembaga-lembaga yang mendukung usahatani organik, mulai dari hulu hingga hilir, yang meliputi lembaga sarana produksi, lembaga modal, pemasaran, lembaga informasi, sertifikasi dan pembelajaran yang dapat diakses oleh petani merupakan bagian dari faktor yang mempengaruhi keberlanjutan adopsi sistem pertanian organik oleh petani. Hal ini sejalan dengan hasil penelitian Karki et al. (2011) dan Ismail et al. (2013). Rendahnya tingkat ketersediaan dari lembaga-lembaga yang mendukung usahatani sayuran organik menyebabkan rendahnya tingkat adopsi sistem pertanian sayuran organik. Menurut Purnaningsih et al. (2006), faktor-faktor yang mempengaruhi keputusan petani dalam mengadopsi inovasi adalah, kepastian pasar dari produk yang dihasilkan, ketersediaan sarana transportasi dan telekomunikasi, ketersediaan sarana pembelajaran dan sarana kredit.
Hasil penelitian Pattanapant dan Shivakoti (2009) menunjukkan bahwa proses sertifikasi organik yang sulit menjadi salah satu faktor kendala dalam meningkatkan penerapan pertanian organik. Untuk kasus Provinsi Sumatera Barat, proses sertifikasi yang memberatkan bagi petani adalah berkaitan dengan penyusunan dokumen untuk sertifikasi. Dalam penyusunan dokumen ini petani harus mencatat semua aktivitas usahatani yang dilakukannya mulai dari penyiapan lahan sampai pemasaran hasil usahatani. Berkaitan dengan proses ini petani
menyebutnya” mencatat apa yang dikerjakan, dan mengerjakan apa yang dicatat”.
Jadi meskipun Lembaga Sertifikasi Organik Provinsi Sumatera Barat tidak memungut biaya pengurusan sertifikasi bagi petani organik, namun pekerjaan tulis menulis ini menjadi kendala bagi petani untuk mengajukan dokumen sertifikasi. Sifat Inovasi Sistem Pertanian Sayuran Organik
Sifat inovasi adalah faktor keempat yang berpengaruh terhadap tingkat adopsi sistem pertanian sayuran organik, yang direfleksikan oleh: (a) tingkat keuntungan relatif dan (b) tingkat keteramatan inovasi sistem pertanian sayuran organik. Hasil penelitian menunjukkan bahwa sifat inovasi sistem pertanian sayuran organik berpengaruh secara nyata dan positif terhadap tingkat adopsi sistem pertanian sayuran organik. Hal ini mengandung makna bahwa semakin baik persepsi petani tentang sifat sistem pertanian sayuran organik maka semakin tinggi tingkat adopsi petani terhadap sistem pertanian sayuran organik.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa tingkat adopsi sistem pertanian sayuran organik oleh petani di Kabupaten Agam dan Tanah Datar tergolong rendah. Rendahnya tingkat adopsi petani terhadap sistem pertanian sayuran organik dipengaruhi oleh rendahnya persepsi petani terhadap tingkat keuntungan relatif dan keteramatan inovasi sistem pertanian sayuran organik. Hasil penelitian sejalan dengan penelitian yang dilakukan oleh Bellaaj et al. (2008) yang menunjukkan bahwa persepsi penerima inovasi tentang karakteristik dari inovasi mempunyai pengaruh yang nyatat terhadap keputusan adopsi inovasi. Karakteristik inovasi tersebut terdiri dari tingkat relatif advantage, kompleksitas,
kompatibilitas, keteramatan dan triability. Pandangan sasaran terhadap karakteristik ini dapat mempengaruhi sikapnya terhadap inovasi, dan sikap tersebut akan mempengaruhi niatnya untuk menerapkan inovasi.
Keuntungan relatif sistem pertanian sayuran yang dirasakan rendah oleh petani meliputi jumlah waktu dan tenaga yang dihabiskan untuk pertanian organik lebih tinggi dibandingkan dengan sistem pertanian non organik, produksi diawal memulai usahatani organik dirasakan lebih rendah dari produksi sistem