• Tidak ada hasil yang ditemukan

4 HASIL DAN PEMBAHASAN Produksi Udang di Indonesia

Dalam dokumen Kitin Kitosan (Halaman 36-64)

Indonesia memiliki potensi perikanan yang sangat besar, baik dari segi  jenis maupun volume produksinya. Produksi perikanan indonesia meningkat sebesar 13,64% pada tahun 2012 atau mencapai 15,5 juta ton dibandingkan pada tahun sebelumnya. Peningkatan produksi perikanan ini diikuti oleh peningkatan  jumlah ekspor sebesar 6% pada tahun 2012. Salah satu produksi perikanan yang menjadi komoditas penting adalah udang. Berdasarkan data statistik yang dimiliki oleh Kementerian Kelautan dan Perikanan, udang dikategorikan sebagai produk  perikanan dengan peningkatan produksi rata-rata sebesar 1,51% dari tahun 2008 –  2012, dimana produksi udang pada tahun 2012 meningkat 2,65% mencapai 678.549 ton. Udang juga turut memberikan kontribusi ekspor terbesar bagi Indonesia. Jumlah ekspor udang pada tahun 2012 mencapai 162.068 ton dengan nilai ekspor sebesar US$ 1.304 juta. Disamping itu, udang memberikan kontribusi yang signifikan dalam peningkatan ekonomi nasional yaitu 33,85% dari keseluruhan komoditi produksi perikanan.

Pada umumnya, udang diproses terlebih dahulu sebelum diekspor. Painte (2008) menjelaskan bahwa untuk memenuhi kebutuhan pasar, bentuk penyajian udang yang akan diekspor disajikan dalam beberapa bentuk yang lebih spesifik yaitu whole (utuh), headless  (tanpa kepala),  peeled   (dikupas kulitnya), deveined  (dibuang ususnya),raw (segar), frozen (beku), dan canned  (dikalengkan). Adanya  peningkatan permintaan di pasar internasional akan diikuti dengan peningkatan  jumlah limbah udang seperti cangkang dan ekornya. Penelitian yang telah dilakukan Chasanah (1994) menyimpulkan bahwa rata-rata sebesar 40% dari satu ekor udang adalah bagian yang dapat dimakan, dimana bagian lainnya seperti kepala udang, cangkang udang dan ekor udang berakhir menjadi limbah yang tidak memiliki nilai ekonomi. Cangkang dan kepala udang tidak akan memberikan nilai ekonomi apabila dibuang begitu saja dan hanya akan menimbulkan permasalahan lingkungan. Limbah cangkang udang bersifat mudah membusuk dan bersifat bulky  atau menyita ruangan, sehingga dalam  penanganannya diperlukan tempat yang cukup luas dan tertutup agar tidak

mencemari lingkungan (Prasetyo 2003).

Ekspor dan impor tidak hanya dilakukan untuk komoditi udang, namun juga untuk komoditi cangkang udang. Berdasarkan data yang didapatkan dari Statistik Kelautan dan Perikanan pada tahun 2012, cangkang udang terdaftar melalui kode HS 0508002000 dengan deskripsi produk cangkang moluska, crustacean. Data  jumlah ekspor dan impor cangkang udang dapat ditunjukkan pada Tabel 8.

Tabel 8 menunjukkan bahwa ekspor cangkang udang mengalami  peningkatan dari tahun ke tahun dengan peningkatan rata-rata sebesar 90,24% dari tahun 2009 hingga tahun 2013. Total impor cenderung mengalami penurunan rata-rata sebesar 73,45%. Data peningkatan jumlah ekspor menunjukkan bahwa terdapat peningkatan produksi cangkang udang di Indonesia yang disertai dengan adanya kecenderungan peningkatan pemanfaatan cangkang udang secara global. Kondisi global ini tentunya perlu dijadikan peluang untuk memacu  pengembangan industri kitin dan kitosan di Indonesia. Di sisi lain,

Tabel 8 Total dan Volume Ekspor dan Impor Cangkang Udang Data Tahun Peningkatan rata-rata (%) 2009 2010 2011 2012 2013 2009-2013 Total Ekspor (Kg) 573334 1125414 1449031 1917913 1090739 90,24  Nilai (US$) 324785 899762 893123 918266 585306 80,21 Total Impor (Kg) 184375 167865 37249 157494 48946 -73,45  Nilai (US$) 128766 201453 176346 494497 93958 -27.03

Sumber : Statistik Kelautan dan Perikanan 2012  penurunan impor kitin dan kitosan di Indonesia perlu di analisis lebih lanjut dan ditelusuri sebabnya. Penurunan impor dapat dikatakan positif jika ternyata suplai  bahan baku untuk industri kitin dan kitosan di Indonesia berlebih dan stabil dengan mengandalkan pasokan dari dalam negeri. Namun dapat menjadi negatif  jika faktor penurunan impor ini dikarenakan menurunnya produksi kitin dan kitosan di dalam negeri atau berkurangnya industri kitin dan kitosan di dalam negeri.

Pemilihan limbah cangkang udang sebagai sumber bahan baku utama kitin dan kitosan didasari oleh adanya tambak udang yang menjamin suplai bahan baku kitin kitosan yang berkelanjutan dan dapat diandalkan (Roberts, 2008 di dalam Hayes 2012). Kementerian Kelautan dan Perikanan telah memetakan  pengembangan produk berbasis udang yang dibagi berdasarkan bagian kepala udang, badan udang dan kulit udang. Peta pengembangan produk berbasis udang dapat dilihat pada Gambar 6.

Sumber: Kementerian Kelautan dan Perikanan

Gambar 6 Pengembangan Produk Berbasis Udang (sumber: Kementerian Kelautan dan Perikanan)

Industri Kitin dan Kitosan di Indonesia

Kitin dan kitosan adalah bagian dari pohon industri udang, dimana kitin dan kitosan adalah produk turunan dari bahan baku cangkang dan kepala udang. Pohon industri udang dapat dilihat pada Gambar 7.

Gambar 7 Pohon Industri Udang

Data unit penanganan, pengolahan hasil perikanan nonkonsumsi (UPPN) Kitin -Kitosan yang ada di Indonesia saat ini terdapat lebih kurang 3 (tiga) UPPN dengan kode produk HS No 3913909000 (Polimer alami lainnya dan modifikasi) yang tersentralisasi di Pulau Jawa yaitu di Cirebon (Provinsi Jawa Barat), Serang (Provinsi Banten) dan Pasuruan (Provinsi Jawa Timur). Pemasaran produk kitin maupun kitosan tersebut dilakukan ke beberapa wilayah di Jabodetabek, Jawa Barat dan Jawa Tengah. Pemasaran kitin dan kitosan ke luar negeri diantaranya Australia, Korea, China dan Jepang. Hingga saat ini, harga jual kitin dalam bentuk cair untuk ekspor dalam kemasan berkisar US$ 6-8/kg, sedangkan harga jual kitosan mencapai US$ 30-50/kg dengan kebutuhan bahan baku cangkang udang sebesar 20-40 ton per bulan dengan kisaran harga Rp 6000-6500/kg. Nilai ekspor dari kitin dan kitosan dapat dilihat pada Tabel 9.

Tabel 9 Nilai Ekspor Produk (HS 3913909000)

2012 2013 2014

Berat Bersih (kg) 348715 329511 344597

 Nilai F.O.B (US$) 4044389 4293581 4631544

*Data diolah dari BPS

Pengembangan industri kitin dan kitosan di Indonesia mendapatkan dukungan pemerintah seperti tercantum dalam Peraturan Presiden Republik

Udang Se ar Daging Cangkang Udang Kaleng Kerupuk Udang Udang Beku Kitosan Kitin Pembuatan Fotografi Kosmetik  Farmasi

Bahan Pen awet Pengolahan air  Tail on  Peeled devined   Head On  Head less Kepala Kitosan Kitin Terasi Penguat rasa Pigmen Astaxantin

Indonesia No 28 tahun 2008 tentang Kebijakan Industri Nasional, yaitu industri kitin dan kitosan adalah bagian dari agroindustri khususnya industri produk  perikanan dan kelautan yang terklaster sebagai industri prioritas untuk  pengembangan industri di Indonesia tahun 2015. Tujuan jangka panjang terkait dengan pengembangan industri kitin dan kitosan adalah pengembangan industri  bioteknologi yang berbasis produk hasil laut, seperti kosmetika dan farmasi. Sementara itu, pada tujuan jangka menengah diharapkan agar industri hasil laut dan perikanan akan fokus untuk meningkatkan pemanfaatan limbah produk hasil laut dan perikanan menjadi produk yang memiliki nilai seperti kitin, kitosan dan gelatin.

Dukungan pemerintah atas pengembangan industri kitin dan kitosan ini  juga muncul dari Kementerian Kelautan dan Perikanan, bahwa industri kitin dan kitosan terintegrasi dengan industrialisasi udang yang juga menjadi bagian dari Implementasi  Blue Economy. Konsep  Blue economy adalah alternatif konsep ekonomi yang diaplikasikan pada sektor perikanan dan kelautan berdasarkan lima  prinsip utama, yaitu: (1) efisiensi sumber daya alam (2) zero waste (3) melibatkan

aspek sosial (4) sistem produksi yang terus berputar dan (5) inovasi dan adaptasi. Oleh karena itu, industri kitin dan kitosan difokuskan pada pemanfaatkan produk samping khususnya dari industri pengolahan udang. Di samping kitin dan kitosan, industri kitin dan kitosan di Indonesia juga menghasilkan beberapa produk turunannya. Beberapa produk turunan dari kitin dan kitosan yaitu:

a. Anti jamur alami bagi tumbuhan

Dengan menggunakan bahan aktif kitosan, produk ini berfungsi sebagai aktivator (meningkatkan aktivitas sel-sel tumbuhan dan proses fotosintesis), regulator (memacu sistem imun dan ketahanan pada tumbuhan), dan stimulator (menstimulasi pertumbuhan tanaman dengan meningkatkan nutrisi alami dari tanah). Penggunaan bahan ini dapat menurunkan penggunaan  pestisida maupun bahan kimia lain yang akan mencemari lingkungan. Produk

turunan yang memiliki nama dagang Chi-farm, dapat dilihat pada Gambar 8.

Gambar 8 Produk Anti Jamur dari Kitin dan Kitosan  b. Bahan tambahan pada makanan.

Bahan tambahan ini merupakan bahan yang dapat digunakan untuk mempertahankan kualitas dan rasa pada beberapa jenis makanan seperti daging, mie, bakso, roti, sayur, buah-buahan, serta ikan dan produk ikan lainnya. Bahan ini memiliki keunggulan untuk menggantikan bahan kimia lain pada makanan seperti STPP (Sodium Tripoliposfat ), CMC (Carboxymethyl Cellulose) dan  Natrium Carbonate. Selain itu, bahan ini

dapat menghambat proses oksidasi untuk mempertahankan warna dan membantu meningkatkan ketahanan pada makanan. Terdapat dua merk dagang untuk produk ini yaitu Chito-fresto dan Chito-F Deli. Salah satu contoh produk tersebut dapat dilihat pada Gambar 9.

Gambar 9 Produk Bahan Tambahan Makanan dari Kitin dan Kitosan c. Produk kecantikan

Beberapa produk kecantikan yang telah dibuat dari kitin dan kitosan adalah sabun, pembersih muka, lotion,  pelembab bibir, sampo, dan penyegar ruangan. Produk-produk tersebut telah diekspor ke beberapa negara tujuan seperti Uni Emirat Arab, Jerman, dan Malaysia. Di Indonesia, telah dipasarkan melalui perusahaan retail yang telah bekerja sama dengan Institut Pertanian Bogor yang tersebar di beberapa pusat perbelanjaan di kota-kota  besar seperti Yogyakarta, Jakarta, Bali, Bandung. Contoh produk kecantikan

tersebut dapat dilihat pada Gambar 10.

Gambar 10 Berbagai Produk Kecantikan dari Kitin dan Kitosan d. Anti bau alami

Produk yang memiliki nama dagang Chito-Q Green memiliki fungsi sebagai deodoran yang dapat menghilangkan bau, amis dan busuk, ikan, rokok dan lain-lain. Produk ini dapat diaplikasikan pada lemari sepatu, pasar ikan, dan toilet.

e. Antibakteri pada tekstil

Produk ini merupakan anti bakteri yang merupakan gabungan dari kitosan dan senyawa logam kompleks (Zn dan Ag). Produk yang memiliki merk

dagang AntiTex-66-8, dapat diaplikasikan pada pakaian (pakaian bayi, seragam militer, kaos kaki, pakaian dalam, kaos dan lainnya) dan bahan tekstil lainnya (gorden, seprai, selimut, pelapis dinding dan matras).

Faktor Kekuatan, Kelemahan, Peluang dan Ancaman

Berdasarkan hasil wawancara mendalam terhadap responden terpilih, dapat diidentifikasikan faktor-faktor internal yaitu kekuatan ( strengths-S) dan kelemahan (weaknesses-W), serta faktor-faktor eksternal seperti peluang (opportunities-O) dan ancaman (threats-T) yang berpengaruh terhadap  pengembangan industri kitin dan kitosan. Hasil identifikasi ini kemudian akan

ditransfer pada matriks internal eksternal untuk penetapan posisi industri kitin dan kitosan. Selain itu, hasil identifikasi faktor internal dan eksternal juga akan digunakan untuk merumuskan alternatif strategi melalui analisis SWOT dan AHP. Analisis terhadap faktor kekuatan, kelemahan, peluang dan ancaman pada industri kitin dan kitosan dijelaskan pada sub bab selanjutnya.

Faktor Kekuatan

Dilihat dari segi akademisi, pelaku industri dan instansi pemerintahan, terdapat 6 faktor kekuatan yang dapat digunakan dalam pengembangan industri kitin dan kitosan. Faktor kekuatan tersebut diantaranya adalah:

a. Kemampuan Industri mengikuti perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi

Ilmu pengetahuan dan teknologi (IPTEK) berkembang sangat pesat dan hal ini merupakan salah satu kekuatan industri kitin dan kitosan. Banyaknya informasi mengenai penelitian yang telah dilakukan dan disebarkan melalui  berbagai jurnal ilmiah terakreditasi menjadi sarana bagi transfer teknologi untuk mendukung proses produksi kitin dan kitosan. Kemajuan IPTEK dapat mendukung efisiensi industri kitin dan kitosan dalam hal penggunaan bahan  baku dan material lainnya, meningkatkan kualitas produk dan melakukan  pengembangan produk.

 b. Penerapanquality control 

Industri kitin dan kitosan di Indonesia menghasilkan produk kitin dan kitosan yang berkualitas. Jaminan kualitas ini ditandai dengan diberlakukannya Standar Nasional Indonesia (SNI) untuk produk kitin dan kitosan. Ekspor kitin dan kitosan juga menunjukkan bahwa kualitas kitin dan kitosan sudah memenuhi kriteria global dan dapat bersaing dengan produsen dari negara lain.

c. Relasi yang baik dengan pemasok bahan baku

Industri kitin dan kitosan mampu membina hubungan yang baik dengan  pemasok bahan baku. Hal ini dapat diketahui dari jaminan ketersediaan bahan  baku dan berdasaarkan wawancara pada salah satu industri, disampaikan  bahwa bahan baku yang mereka dapatkan melimpah dari pengepul khusus di wilayah industri tersebut berdiri. Kitin dan kitosan merupakan jenis  biopolimer yang berasal dari cangkang Crustaceae  seperti udang, kepiting dan rajungan. Industri pengolahan udang dan kepiting terus meningkat dari tahun ke tahun. Indonesia memiliki sekitar 170 unit industri pengolahan

udang dengan kapasitas produksi mencapai 500 ribu ton per tahun (Indrasti 2012). Banyaknya jumlah unit pengolahan udang maka limbah cangkang udang yang ditimbulkan akan semakin tinggi. Namun yang perlu diperhatikan adalah ketersediaan bahan baku ini sifatnya sporadis di seluruh Indonesia dengan jumlah yang tidak menentu. Di sisi lain, bukti melimpahnya cangkang udang di Indonesia dapat dilihat dari adanya jumlah ekspor cangkang udang yang meningkat dari tahun ke tahun.

d. Penerapan Standar Nasional Indonesia untuk produk kitin dan kitosan

Industri kitin dan kitosan PT X turut dilibatkan dalam penyusunan SNI dan saat ini sudah menerapkan SNI tersebut dalam produksi kitin dan kitosan. Pemerintah Indonesia melalui Kementerian Kelautan dan Perikanan telah menerbitkan Standar Nasional Indonesia (SNI) 7948: 2013: Kitin –   syarat mutu dan pengolahan serta SNI 7949:2013: Kitosan –   syarat mutu dan  pengolahan. SNI tersebut diberlakukan dalam rangka untuk meningkatkan

merupakan jaminan mutu kitin dan kitosan.

Faktor Kelemahan

Faktor kelemahan merupakan faktor strategis yang perlu diatasi dalam hal  pengembangan industri kitin dan kitosan. Berdasarkan hasil wawancara, terdapat 8 faktor kelemahan yang terkait dengan pengembangan industri kitin dan kitosan:

a. Keterbatasan modal untuk Industri Kecil Menengah (IKM) Kitin

Proses pembuatan kitin merupakan proses yang cukup sederhana dibandingkan dengan proses pembuatan kitosan. Oleh karena itu, industri kecil menengah yang berada di daerah produsen udang maupun produk olahan udang perlu didorong untuk dapat memanfaatkan limbah cangkang udang menjadi kitin. Namun kendala yang terjadi adalah keterbatasan modal  bagi IKM yang menjalankan usaha tersebut. Minimnya kualitas SDM untuk IKM, menjadi salah satu faktor penghambat IKM untuk mengajukan  pinjaman modal pada bank atau instansi keuangan lain.

 b. Lemahnya kerjasama antar Instansi Pemerintahan, pelaku industri dan Perguruan Tinggi

Pengembangan industri kitin dan kitosan memerlukan interaksi dan kolaborasi dari berbagai stakeholder yaitu Instansi Pemerintahan, pelaku industri dan Perguruan Tinggi. Industri dalam hal ini berfungsi sebagai  penggerak (driving force), sementara itu perguruan tinggi berfungsi untuk melakukan transfer teknologi dan ilmu pengetahuan pada industri baru maupun industri eksisting. Pemerintah memiliki peran sebagai pendorong dan  penyedia modal bagi industri baru berbasis teknologi baru. Namun pada kenyataannya, kerjasama antar stakeholder masih belum terjalin secara dinamis. Sebagai contoh, instansi pemerintah, industri dan perguruan tinggi memiliki badan penelitian dan pengembangan yang berjalan masing-masing dengan tujuan dan kepentingan yang berbeda-beda.

c. Ketidakmampuan industri untuk mengefisiensikan biaya produksi

Tingginya biaya produksi merupakan salah satu aspek yang menjadi  perhatian pengembangan industri kitin dan kitosan. Salah satu komponen  biaya produksi yang menjadi fokus adalah biaya bahan baku. Terpenuhinya kebutuhan bahan baku berupa cangkang udang sangat dipengaruhi oleh tingginya produksi udang tambak atau udang tangkap dan kondisi

lingkungan. Karena hal itulah, maka harga yang ditentukan untuk bahan baku menjadi fluktuatif tergantung pada kondisi ketersediaan cangkang udang di  pasaran.

d. Belum ada kerjasama untuk membentuk asosiasi industri kitin dan kitosan Berdasarkan informasi yang didapatkan, bahwa industri kitin dan kitosan yang ada saat ini belum memiliki tujuan membentuk asosiasi industri. Asosiasi memiliki peranan penting dalam meningkatkan iklim usaha yang kondusif dan kompetitif baik dalam negeri ataupun secara global. Disamping itu, asosiasi juga dapat berperan sebagai wadah untuk menyalurkan aspirasi/kepentingan pelaku industri kepada penentu kebijakan atau pihak lain  juga dalam hal penyeimbang harga jual dan harga beli produk atau bahan  baku di pasaran. Dengan adanya asosiasi industri kitin dan kitosan, diharapkan industri kitin dan kitosan dapat berkembang dengan pesat dan dapat berkontribusi terhadap pertumbuhan ekonomi Indonesia.

e. Lemahnya promosi produk kitin kitosan

Kitin dan kitosan merupakan produk antara atau intermediate  product   yang tergolong baru dan belum banyak dikenal di pasar khususnya Indonesia. Berbagai penelitian mengenai kegunaan dan manfaat kitin dan kitosan telah dilakukan baik di dalam maupun di luar negeri, namun komersialisasi kitin dan kitosan masih terbatas hanya di kalangan peneliti pada universitas atau lembaga penelitian dan pengembangan. Industri kitin dan kitosan PT X juga memiliki kelemahan tidak memiliki divisi pemasaran khusus. Minimnya  promosi produk kitin dan kitosan menyebabkan tingkat pembelian yang

stagnant karena jumlah konsumen yang tidak bertambah. f. Ketidakmampuan untuk bersaing dengan industri pakan ternak

Limbah udang berupa cangkang dan kepala juga dapat dimanfaatkan sebagai  bahan baku pakan ternak. Penggunaan cangkang udang sebagai bahan baku

tambahan untuk pakan ternak lebih mudah diterapkan karena tidak membutuhkan teknologi ataupun peralatan khusus dan hanya melalui proses  pengeringan dan pencacahan. Disamping itu, tingginya kebutuhan pakan ternak di suatu daerah tertentu menjadi penyebab sulitnya akses terhadap  bahan baku limbah udang.

g. Belum mampu melakukan perluasan industri kitin dan kitosan diremote area Industri kitin dan kitosan di Indonesia tersentralisasi di Pulau Jawa, walaupun di sisi lain potensi bahan baku (limbah cangkang udang) tersebar secara sporadis dalam jumlah besar di seluruh pulau di Indonesia khususnya di remote area  atau area terpencil yang belum memiliki fasilitas atau infrastruktur yang memadai. Pemanfaatan limbah cangkang udang yang tersebar di remote area  sebagai bahan baku industri kitin dan kitosan yang eksisting di Pulau Jawa tidak efektif dan menimbulkan ekonomi biaya tinggi.  Namun menanggapi kondisi tersebut, industri kitin dan kitosan PT X belum memiliki arah untuk melakukan perluasan industri khusus kitin di remote area  untuk dapat mengoptimalkan pemanfaatan limbah cangkang udang dan meminimumkan biaya pengiriman bahan baku.

h. Keterbatasan jumlah Sumber Daya Manusia (SDM) ahli bidang kitin dan kitosan

Pengembangan industri kitin dan kitosan khususnya industri kitin di kawasan remote area  harus diawali dengan persiapan SDM yang kompeten untuk

mendidik tenaga terampil di daerah tersebut. Peran SDM berkompeten ini adalah untuk melatih pekerja khususnya di industri pengolahan udang yang tersebar di seluruh Indonesia untuk memberikan nilai tambah atas cangkang udang yang dihasilkan menjadi produk lain khususnya kitin yang memiki nilai ekonomi tinggi. Tersebarnya potensi bahan baku industri kitin dan kitosan, disertai dengan dibutuhkannya banyak SDM yang berkompeten untuk melatih para pelaku industri pengolahan udang maupun unit-unit  pengolahan udang di seluruh Indonesia untuk memproduksi kitin dan/atau kitosan, yang pada akhirnya dapat mendorong peningkatan pertumbuhan industri kitin.

Faktor Peluang

Faktor peluang merupakan faktor eksternal yang mendukung perkembangan industri kitin dan kitosan. Berdasarkan hasil wawancara, terdapat 5 faktor peluang yang dapat dimanfaatkan untuk pengembangan industri kitin kitosan, yaitu:

a. Potensi pasar ekspor

Terdapat permintaan pasar global yang signifikan dan terus meningkat terhadap kitin dan kitosan untuk berbagai aplikasi seperti industri pangan,  bioteknologi, farmasi, kedokteran serta lingkungan. Jepang adalah pasar terbesar untuk kitosan khususnya untuk aplikasi pada pengolahan air. Sementara itu, Amerika Serikat adalah pasar terbesar kedua untuk kitin dengan aplikasi penggunaan terbesar pada penjernih air, sedangkan  penggunaan terbesar kitosan adalah untuk kosmetik dan toiletries  seperti sabun, shampo dan pasta gigi. Potensi konsumsi kitosan dunia (Chitin & Chitosan, April 2008 dalam Hayes 2012) dapat dilihat pada Tabel 10.

Tabel 10 Konsumsi Kitosan Dunia Berdasarkan Aplikasi (t), 2010, 2015

Aplikasi 2010 2015

(Proyeksi)

Proyeksi CAGR (%)

Pengolahan Air 6,670 11,436 11.55

Kosmetik dan toiletries 2,031 3,776 13.39

Makanan dan minuman 1,641 3,154 14.12

Kesehatan dan Medis 1,474 3,063 15.93

Bahan Kimia Pertanian 1,181 2,604 17.36

Bioteknologi 508 925 12.81

Pulp dan Kertas 252 456 12.77

Tekstil 172 336 14.48

Fotografi 116 222 14.04

Lain-lain 225 407 12.75

Secara global, produksi kitin dan kitosan di Eropa didestinasikan untuk pasar Amerika. Sementara itu permintaan di Eropa diproyeksikan semakin meningkat sejak Jerman diekspektasikan sebagai pasar terbesar karena adanya tekanan dari kelompok lingkungan untuk menggunakan produk yang alami/biodegradable  (Hayes, 2012). Hal tersebut tentunya patut dijadikan sebagai peluang yang perlu dimanfaatkan bagi industri kitin dan kitosan di Indonesia untuk mencapai pasar ekspor dunia.

 b. Trend industri ramah lingkungan

Kesadaran untuk melakukan upaya pelestarian lingkungan menjadi acuan  bagi pelaku bisnis untuk melakukan aktivitas bisnis yang berwawasan lingkungan. Pembangunan industri yang berkelanjutan pun tidak hanya mengacu pada faktor ekonomi dan sosial, namun juga mencakup faktor lingkungan seperti menggunakan sumber daya alam yang dapat diperbaharui, melakukan efisiensi energi dan bertanggung jawab atas limbah yang dihasilkan. Adanya insentif seperti pengurangan pajak bagi industri pioner yang menggunakan sumber daya alam yang dapat diperbaharui, penghargaan seperti PROPER dan sertifikasi manajemen lingkungan turut mempengaruhi  pertumbuhan dan peningkatan daya saing setiap industri. Adanya trend

industri ramah lingkungan ini diharapkan dapat dimanfaatkan untuk  pengembangan industri kitin dan kitosan khususnya di Indonesia.

c. Peran Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) di remote area  sebagai  pembentuk tenaga terampil IKM kitin

Arah pengembangan industri kitin dan kitosan di Indonesia adalah fokus pada  pengembangan industri kitin khususnya di daerah tertentu yang memiliki  banyak industri pengolahan udang. Hal ini didasari oleh persebaran bahan  baku berupa cangkang udang dipengaruhi oleh keberadaan industri  pengolahan udang itu sendiri. Kondisi yang ada saat ini adalah banyaknya  jumlah cangkang udang yang tidak termanfaatkan seperti di Kalimantan Utara. Namun tingginya biaya transportasi dan infrastruktur yang tidak memadai menjadikan cangkang udang tersebut tidak layak secara ekonomi untuk dijadikan bahan baku di industri kitin dan kitosan yang ada di Pulau Jawa.

d. Banyaknya riset terkait dengan pengembangan kitin dan kitosan

Kitin dan kitosan merupakan hal yang bukan baru dalam dunia penelitian di kalangan akademisi. Berbagai penelitian telah dilakukan untuk meneliti tentang pemanfaatan cangkang udang sebagai kitin dan kitosan ataupun mengenai potensi pemanfaatan kitin dan kitosan untuk berbagai produk turunannya (kito-oligosakarida, nanochitosan dsb) atau produk aplikasinya

Dalam dokumen Kitin Kitosan (Halaman 36-64)

Dokumen terkait