• Tidak ada hasil yang ditemukan

HASIL DAN PEMBAHASAN

Dalam dokumen SATRIA Universitas Sumatera Utara (Halaman 44-62)

Hasil

Bivalvia yang ditemukan di Pantai Pendaratan Desa Jaring Halus diperoleh sebanyak 456 individu terdiri dari 4 famili dan 4 spesies. Pada stasiun I ditemukan sebanyak 4 spesies dengan jumlah 152 individu, stasiun II ditemukan sebanyak 4 spesies dengan jumlah 156 individu dan pada stasiun III ditemukan sebanyak 4 spesies dengan jumlah 148 individu. Komposisi bivalvia dapat dilihat pada tabel 4.

Tabel 4. Komposisi Bivalvia Pada Masing-Masing Stasiun Penelitian

No Jenis Bivalvia Nama Lokal Stasiun

I II III

1 Mactra grandis - + + +

2 Tellina remies Tiram + + +

3 Meretrix meretrix Kepah + + +

4 Anadara granosa Kerang Batu + + +

Jumlah 4 4 4

Keterangan : (+) ditemukan;

Analisis Bivalvia

Kepadatan Populasi (K)

Kepadatan populasi Bivalvia menunjukkan pada stasiun II mempunyai nilai kepadatan (K) tertinggi yaitu 52 ind/m2, diikuti stasiun I dengan nilai kepadatan 51 ind/m2 sedangkan nilai kepadatan terendah terdapat pada stasiun III dengan nilai 49 ind/m2. Berdasarkan jumlah bivalvia yang diperoleh pada setiap stasiun penelitian, diperoleh nilai kepadatan populasi seperti tertera pada gambar 7.

Gambar 7. Kepadatan Populasi Bivalvia

Kepadatan Relatif (KR)

Nilai kepadatan relatif (KR) tertinggi terdapat pada stasiun I dan terendah pada stasiun II dengan yang paling banyak didapatkan selama penelitian adalah Meretrix meretrix dan spesies yang paling sedikit ditemukan adalah Anadara granosa. Berdasarkan jumlah bivalvia yang diperoleh pada setiap stasiun penelitian, diperoleh nilai kepadatan populasi seperti tertera pada tabel 5.

Tabel 5. Kepadatan Relatif Bivalvia

No Jenis Bivalvia Jumlah

Kepadatan Relatif (%)

Indeks Keanekaragaman (H´), Keseragaman (E) dan Dominansi (C) pada setiap Stasiun Penelitian

Analisis keanekaragaman bivalvia dapat ditentukan dengan menggunakan Indeks Keanekaragaman Shannon-Wienner. Nilai indeks keanekaragamn (H´) berkisar antara 0,38-1,11 termasuk dalam kategori rendah , nilai Indeks Keseragaman (E) berkisar antara 0,88-0,93 dengan kategori tinggi dan nilai Indeks Dominansi (C) berkisar antara 0,27-0,38 termasuk dalam kategori tidak ada jenis yang mendominasi. Nilai Indeks Keanekaragaman (H´), Indeks Keseragaman (E) dan Indeks Dominansi (C) bivalvia pada setiap stasiun dapat

Kategori Sedang Tinggi Tidak Ada yang

Mendominasi

II 0,89 0,93 0,37

Kategori Rendah Tinggi Tidak Ada yang

Mendominasi

III 0,38 0,88 0,27

Kategori Rendah Tinggi Tidak Ada yang

Mendominasi

Parameter Lingkungan Perairan

Berdasarkan hasil pengamatan nilai rata-rata parameter lingkungan pada Pantai Pendaratan Desa Jaring Halus Kabupaten Langkat dapat dilihat pada tabel 7.

Tabel 7. Parameter Lingkungan Perairan yang didapatkan Selama Penelitian

Tekstur Substrat Perairan Pantai Pendaratan Desa Jaring Halus

Dari hasil penelitian yang diperoleh bahwa hasil tekstur substrat yaang didapat pada Pantai Pendaratan Desa Jaring Halus Kecamatan Secanggang Kabupaten Langkat yaitu lempung berpasir. Hasil analisis substrat dapat dilihat pada tabel 8.

Sifat Fisika dan Kimia Pantai Pendaratan Desa Jaring Halus Berdasarkan Metode Storet

Sifat fisika dan kimia Pantai Pendaratan Desa Jaring Halus Kecamatan Secanggang Kabupaten Langkat dihubungkan dengan metode Storet dengan pemanfaatan kelas tertinggi adalah kelas C untuk kegiatan pariwisata, diperoleh

Parameter Satuan Baku

hasil yaitu untuk stasiun I, Stasiun II dan Stasiun III tercemar sedang. Nilai skor setiap stasiunnya dapat dilihat pada tabel 9.

Tabel 9. Kondisi Fisika dan Kimia Pantai Pendaratan Desa Jaring Halus Berdasarkan Metode Storet

Analisis Kurva Abundance and Biomass Comparison (ABC)

Analisis kualitas air yang ditentukan dengan parameter biologi perairan dapat digambarkan menggunakan kurva ABC. Analisis kurva ABC digunakan untuk mengetahui kondisi lingkungan dengan menganalisis total kepadatan relatif (ind/m²) dan biomassa relatif dari bivalvia (g/m²). Nilai persentase kumulatif kepadatan relatif dan persentase kumulatif biomassa relatif bivalvia pada setiap stasiun yang diperoleh selama penelitian. Stasiun I, jenis jenis bivalvia ranking yang membentuk kurva ABC terdiri 4 jenis yaitu Mactra grandis, Tellina remies, Meretrix meretrix, Anadara granosa. Nilai kepadatan relatif bivalvia berkisar antara 14,47-40,79% dan nilai biomassa relatif bivalvia berkisar antara 12,07-40%

yang akan membentuk nilai persentase kumulatif pada kurva ABC. Hasil kurva ABC menggambarkan stasiun I termasuk katagori perairan yang tercemar sedang karena kurva biomassa per satuan luas dan kurva kepadatan per satuan luas saling tumpang tindih. Hasil kurva ABC stasiun I (Gambar 8).

Parameter Satuan Baku

Gambar 8. Kurva ABC pada stasiun I

Pada stasiun II, jenis jenis bivalvia ranking yang membentuk kurva ABC terdiri 4 jenis yaitu Mactra grandis, Tellina remies, Meretrix meretrix, Anadara granosa.

Nilai kepadatan relatif bivalvia berkisar antara 10,90-37,82% dan nilai biomassa relatif bivalvia berkisar antara 10,14-38,60% yang akan membentuk nilai persentase kumulatif pada kurva ABC. Hasil kurva ABC menggambarkan stasiun II termasuk katagori perairan yang tercemar sedang karena kurva biomassa per satuan luas dan kurva kepadatan per satuan luas saling tumpang tindih. Hasil kurva ABC stasiun II (Gambar 9).

` Gambar 9. Kurva ABC pada stasiun II

05

Pada stasiun III, jenis-jenis bivalvia ranking yang membentuk kurva ABC terdiri 4 jenis yaitu Mactra grandis, Tellina remies, Meretrix meretrix, Anadara granosa.

Nilai kepadatan relatif bivalvia berkisar antara 16,89-29,73% dan nilai biomassa relatif bivalvia berkisar antara 13,69-34,17% yang akan membentuk nilai persentase kumulatif pada kurva ABC. Hasil kurva ABC menggambarkan stasiun III termasuk kategori perairan yang tercemar sedang karena kurva biomassa per satuan luas dan kurva kepadatan per satuan luas saling tumpang tindih. Hasil kurva ABC stasiun III (Gambar 10).

Gambar 10. Kurva ABC pada stasiun III Pembahasan

Komposisi Bivalvia

Hasil penelitian pada stasiun I, II dan III terdapat 4 spesies bivalvia. Pada stasiun I, II, dan III spesies bivalvia yang ditemukan adalah Mactra grandis, Tellina remies, Meretrix meretrix dan Anadara granosa. Bivalvia yang ditemukan berada pada daerah pesisir yang masih dipengaruhi oleh adanya air tawar dari

stasiun dipengaruhi oleh perbedaan faktor lingkungan yang dibutuhkan untuk kehidupan bivalvia di perairan oleh setiap spesies yang berbeda. Hal ini sesuai dengan Setyono (2006) yang menyatakan kekerangan ada yang hidup di air tawar, darat, maupun di perairan pesisir dan laut. Namun demikian, mayoritas kekerangan hidup di perairan laut, baik di perairan pantai (dangkal) maupun di laut dalam.

Meretrix meretrix adalah spesies yang semuanya ada di keempat stasiun.

Meretrix meretrix hidup di perairan dipengaruhi oleh beberapa faktor lingkungan yang akan mendukung kehidupan Meretrix meretrix salah satunya adalah salinitas. Rendahnya salinitas pada stasiun III tetap mendukung kehidupan dari spesies tersebut. Hal ini sesuai dengan Indraswari et al, (2014) yang menyatakan bahwa Meretrix meretrix dapat ditemukan hidup membenamkan diri pada substrat berpasir, mulai dari tepi pantai hingga masuk sekitar 300 m ke badan sungai dengan kisaran salinitas perairan antara 1‰ hingga 30‰.

Kepadatan Populasi (K) dan Kepadatan Relatif Bivalvia (KR)

Secara keseluruhan nilai total kepadatan tertinggi bivalvia yang ditemukan pada setiap stasiun penelitian terdapat pada stasiun II dengan total nilai kepadatan sebesar 52 ind/m2, total kepadatan terendah terdapat pada stasiun III yaitu sebesar 48 ind/m2. Hal ini sesuai dengan Simangunsong (2010) yaitu potensi kerang di suatu perairan dapat dilihat dari kelimpahan, sebaran jenisnya. Adapun kelimpahan, sebaran dan keragaman jenis spesies tersebut dipengaruhi oleh karakteristik habitat seperti kondisi perairan dan jenis substrat. Habitat memiliki peranan penting bagi kelangsungan hidup biota perairan. Selain sebagai tempat hidup, habitat berperan sebagai tempat berkembang biak dan pemasok makanan.

Oleh karena itu kondisi suatu habitat memiliki pengaruh yang besar terhadap kestabilan komunitas yang ada di dalamnya. Selanjutnya Nybakken (1992) mengatakan bahwa bivalvia tersebar di perairan pesisir seperti estuari, dengan dasar perairan lumpur bercampur pasir. Beberapa diantaranya hidup pada substrat yang lebih keras seperti lempung, kayu atau batu, air tawar serta sedikit yang hidup di daratan seperti, mussels (kepah), clamp (kerang) dan tiram yang merupakan anggota Bivalvia yang hidup di laut.

Nilai kepadatan tertinggi terdapat pada stasiun II dengan nilai 52 ind/m2 dapat dikategorikan bahwa kepadatan kerang di Pantai Pendaratan Desa Jaring Halus khususnya pada stasiun II tergolong maksimum. Hal ini sesuai dengan Apriliani (2012) bahwa kerang dengan kepadatan 50-100 ind/m2 disebut kepadatan maksimum.

Nilai kepadatan relatif di setiap stasiun bervariasi, nilai tertinggi terdapat pada stasiun I yaitu 40,79% dengan jenis Meretrix meretrix dan yang terendah yaitu terdapat pada stasiun II dengan spesies Tellina remies dengan nilai 10,09%

dan stasiun III Anadara granosa dengan nilai 16,89%. Nilai kepadatan relatif yang rendah menunjukkan bahwa stasiun II tidak sesuai untuk kehidupan Tellina remies dan stasiun III tidak sesuai untuk Anadara granosa. Menurut Barus (2004), kepadatan relatif merupakan proporsi dari jumlah total individu suatu jenis yang terdapat pada seluruh sampling area. Sedangkan frekuensi kehadiran merupakan nilai yang menyatakan jumlah kehadiran suatu jenis dalam sampling plot yang ditentukan. Suatu habitat dikatakan sesuai dengan perkembangan suatu organisme apabila nilai KR > 20%.

Indeks Keanekaragaman (H´), Keseragaman (E) dan Dominansi (C) pada setiap Stasiun Penelitian

Dari Hasil perhitungan nilai indeks keanekaragaman (H´) selama tiga kali pengamatan diperoleh nilai indeks keanekaragaman berkisar antara 0,38-1,11.

Keanekaragaman bivalvia pada stasiun I tergolong keanekaragaman sedang, pada stasiun II tergolong rendah dan pada stasiun III tergolong rendah Nilai indeks keanekaragaman pada stasiun I sebesar 1,11 stasiun II sebesar 0,89 dan stasiun III sebesar 0,38. Hal ini sesuai dengan Fitrianti (2014) bahwa H’ < 1 : Keanekaragaman jenis rendah, 1 < H’ < 3 : Keanekaragaman jenis sedang.

Dari ketiga stasiun nilai H’ yang didapatkan dapat dijadikan sebagai pendugaan bagaimana kondisi perairan tersebut. Pada stasiun I yaitu 1,11 dapat diduga bahwa kondisi perairan berpolusi berat dikarenakan pada stasiun I merupakan dekat dengan pemukiman penduduk yang padat. Pada stasiun II yaitu dan 0,89 berada pada laut daerah peralihan antara air tawar dan air laut dan pada stasiun III yaitu 0,38 dapat diduga dengan kondisi perairan berpolusi rendah dikarenakan berada pada muara sungai. Hal ini sesusai dengan Setyono (2006) yang menyatakan kategori H’ terhadap kondisi perairan yaitu nilai H’ 1,0 - 2,0 : polusi sedang; 0,0 - 1,0: polusi berat. Selanjutnya Dahuri et al, (1996) menjelaskan bahwa muara sungai merupakan daerah peralihan antara air tawar dan air laut, kerang darah biasanya lebih banyak dijumpai pada daerah yang lebih jauh dari muara sungai karena muara sungai merupakan daerah yang paling banyak terkena dampak dari ke tiga faktor yaitu bahan pencemar dan kegiatan perikanan yang mengeksploitasi kerang secara berlebihan.

Berdasarkan hasil pengamatan nilai indeks keseragaman (E) umumnya menunjukkan nilai yang lebih tinggi dibandingkan nilai indeks dominansi. Nilai indeks keseragaman yang tinggi akan menunjukkan nilai indeks dominansi yang rendah, begitu pula sebaliknya. Nilai indeks keseragaman yang tinggi terdapat pada stasiun II yaitu 0,93 dan yang terendah terdapat pada stasiun III yaitu 0,88.

Nilai tersebut menjelaskan bahwa setiap jenis menyebar secara merata. Hal ini sesuai dengan Fitriana (2006) Maka nilai keseragaman yang tinggi berarti bahwa E > 0,6 yang artinya memiliki keseragaman jumlah individu setiap spesies sama.

Nilai indeks dominansi berkisar antara 0,35-0,38. dapat dilihat bahwa ketiga stasiun nilai indeks dominansinya mendekati nol yang artinya tidak ada jenis yang mendominasi pada setiap stasiun. Nilai indeks dominansi pada setiap stasiun memiliki nilai lebih kecil dari indeks keseragaman jenis artinya ada individu yang mendominasi dan biasanya diikuti dengan indeks keseragaman yang besar. Menurut Dewi et al, (2013) menyatakan bahwa nilai dominansi mempunyai kecenderungan mendekati 0 artinya tidak ada jenis yang mendominansi perairan yang berarti setiap individu pada stasiun pengamatan mempunyai kesempatan yang sama dan secara maksimal dalam memanfaatkan Sebaliknya, semakin mendekati nilai 1 maka penyebaran cenderung tidak merata dan ada jenis yang mendominasi.

Parameter Lingkungan

Berdasarkan hasil penelitian yag dilakukan di dalam tiga kali pengamatan pada 3 stasiun yang berbeda yaitu stasiun I 27,59 oC, stasiun II 26,22 oC dan stasiun III 27.36 oC. Namun, secara keseluruhan suhu hasil penelitian yang didapatkan hampir merata. Suhu pada stasiun I tinggi disebabkan banyaknya

buangan limbah bahan bakar yang dikeluarkan dari kapal-kapal nelayan. Buangan limbah ini akan memicu proses penguapan di perairan yang lebih tinggi sehingga suhu perairan menjadi lebih meningkat. Pengukuran selalu dilakukan terakhir kali di stasiun ini menyebabkan waktu pengukuran dilakukan pada saat pertengahan hari yaitu pukul 10:00-11:00 WIB sehingga suhu menjadi lebih tinggi dibandingkan dengan stasiun lainnya. Hal ini sesuai dengan Effendi (2003) yang menyatakan bahwa suhu suatu badan air dipengaruhi oleh musim, lintang (latitude), ketinggian dari permukaan laut (altitude), waktu dalam hari, sirkulasi udara, penutupan awan, dan aliran serta kedalaman badan air kemudian suhu hasil penelitian masih sesuai dengan baku mutu yang dikeluarkan oleh Menteri Lingkungan Hidup dengan Surat Keputusan No.51 Tahun 2004 yaitu 26-32oC.

Nilai kecerahan rata-rata pada stasiun I yaitu 0,27 cm, stasiun II yaitu 0,33 cm dan stasiun III yaitu 0,22 cm. Adanya perbedaan nilai kecerahan pada setiap stasiun salah satunya disebabkan pada saat pengamatan dilakukan pada waktu yang berbeda dan kekeruhan perairan itu sendiri. Kecerahan dipengaruhi oleh intensitas cahaya matahari sehingga pada stasiun II ditemukan nilai kecerahan tertinggi dengan waktu pengamatan pukul 10:00-11:00 WIB. Hal ini sesuai dengan Effendi (2003) yaitu kecerahan air tergantung pada warna dan kekeruhan.

Nilai kecerahan dinyatakan dalam satuan meter. Nilai ini sangat dipengaruhi oleh keadaan cuaca, waktu pengukuran, kekeruhan, dan padatan tersuspensi, serta ketelitian orang yang melakukan pengukuran.

Kedalaman pada setiap stasiun penelitian memiliki nilai yang beragam yaitu stasiun I sebesar 0,56 m, stasiun II sebesar 0.76 m dan stasiun III sebesar 0,48 m. Kedalaman setiap organisme perairan berbeda. Nilai kedalaman setiap

stasiun penelitian merupakan kisaran kedalaman yang sesuai dengan habitat bivalvia. Hal ini sesuai dengan Nybakken (1992) yaitu bivalvia memilih habitat dalam lumpur dan pasir dalam laut serta danau tersebar pada kedalaman 0,01 sampai 5000 meter dan termasuk organisme dominan yang menyusun makrofauna di dasar lunak.

Derajat keasaman atau kebasaan (pH) tertinggi terdapat pada stasiun I dan yaitu sebesar 7,33, pH pada stasiun III yaitu sebesar 7,33. Nilai pH stasiun I, II dan III masih mendukung kehidupan biota laut sesuai dengan baku mutu yang dikeluarkan oleh Menteri Lingkungan Hidup dengan Surat Keputusan No.51 Tahun 2004 yaitu 7-8,5. Selanjutnya Marpaung (2013) juga berpendapat bahwa sebagian besar biota akuatik menyukai nilai pH berkisar antara 5,0-9,0 hal ini menunjukkan adanya kelimpahan dari organisme makrozoobenthos, dimana sebagian besar organisme dasar perairan seperti bivalvia memiliki tingkat asosiasi terhadap derajat keasaman yang berbeda-beda.

Salinitas rata-rata hasil penelitian pada stasiun I sebesar 27‰ stasiun II 28‰ dan stasiun III sebesar 25‰. Nilai kisaran salinitas tertinggi pada stasiun II dan terendah pada stasiun III. Pada stasiun III kisaran salinitas terendah dikarenakan stasiun III merupakan wilayah estuari yang masih dipengaruhi air tawar yang berasal dari aliran sungai dibandingkan stasiun I dan II. Hal ini sesuai dengan pendapat Arinardi et al, (1997) yaitu salinitas perairan estuari biasanya lebih rendah daripada salinitas perairan sekelilingnya dan Nybakken (1992) yaitu distribusi suhu di perairan estuari sebagian besar dipengaruhi oleh kedalaman yang merupakan efek masukan dari sungai dan pengaruh perubahan pasang surut.

Pola gradien salinitas bergantung pada musim, topografis, pasang surut dan jumlah air tawar yang masuk.

Nilai DO yang didapatkan dari hasil penelitian berkisar antara 6,4-6,87 dengan nilai terendah terdapat pada stasiun I yaitu 6,4, rendahnya nilai DO di stasiun I diduga disebabkan oleh lebih tingginya suhu di stasiun dibanding stasiun lainnya yaitu 27,59. Namun pada stasiun I masih dapat ditemukan beberapa jenis bivalvia. Sastrawijaya (1991) menyatakan bahwa suhu mempunyai pengaruh besar terhadap kelarutan oksigen, jika suhu naik maka oksigen di dalam air akan menurun. Selanjutnya Brotowidjoyo (1993) menyatakan bahwa kadar oksigen terlarut dalam batas 4,5-7 mg/l tidak mengubah jumlah toleransi konsumsi oksigen oleh Bivalvia baik pada suhu rendah (20-25ºC) maupun tinggi (30ºC) sebagai batas optimum.

Nilai fosfat yang didapatkan pada stasiun I yaitu 0,35 mg/l, pada stasiun II yaitu 0,16 mg/l, pada stasiun yaitu III 0,07 mg/l. Nilai fosfat tertinggi didapatkan pada stasiun I yaitu pada daerah estuari. Pada lokasi penelitian diketahui bahwa adanya buangan limbah yang dilakukan masyarakat sekitar sungai yakni limbah rumah tangga, kegiatan pertambakan, dan tumpahan bahan bakar kapal sehingga memungkinkan kadar fosfat yang tinggi. Hal ini sesuai dengan Makmur et al, (2012) yaitu fosfat merupakan nutrisi yang esensial bagi pertumbuhan suatu organisme perairan, namun tingginya konsentrasi fosfat di perairan mengindikasikan adanya zat pencemar. Senyawa fosfat umumnya berasal dari limbah industri, pupuk, limbah domestik dan penguraian bahan organik lainnya.

Dari hasil penelitian didapatkan bahwa jenis substrat pada stasiun I, II dan III adalah lempung berpasir, dengan persentase pasir yang lebih mendominasi dari

keseluruhan stasiun penelitian. Substrat perairan berperan penting bagi kehidupan organisme bentik yakni sebagai tempat tinggal, mencari makan maupun berlindung dengan cara membenamkan tubuhnya kedalam substrat tersebut. Pada ketiga stasiun merupakan substrat dengan adanya jenis pasir merupakan jenis substrat yang umumnya bivalvia dapat berkembangbiak. Substrat perairan yang berbeda juga akan memiliki kandungan bahan organik yang berbeda pula yang dipengaruhi proses akumulai oleh substrat itu sendiri. Hal ini sesuai dengan Apriliani (2012), yaitu peranan substrat antara lain sebagai tempat tinggal, tempat mencari makan, dan tempat berlindung dari ancaman predator serta perubahan faktor fisika dan kimia terhadap hewan infauna; kemudian Nontji (2007), juga berpendapat yaitu kerang–kerangan membenamkan diri dalam pasir atau lumpur umumnya mempunyai tabung yang di sebut sifon yang terdiri dari saluran untuk memasukkan air dan saluran lainnya untuk mengeluarkan.

Sifat Fisika dan Kimia Pantai Pendaratan Berdasarkan Metode Storet

Berdasarkan hasil perhitungan status mutu air metode storet dapat dilihat bahwa kondisi perairan Pantai Pendaratan Desa Jaring Halus tercemar sedang.

Perhitungan metode storet dilakukan dengan menghitung nilai parameter fisika kimia air yang didapatkan jumlah skor pada stasiun I yaitu -28 yang termasuk kedalam kategori tercemar sedang, serta pada stasiun II yaitu -18 dan III didapatkan jumlah skor -20 yang termasuk kedalam kategori tercemar sedang.

Penentuan status mutu air berdasarkan metode storet menurut Matahelumual (2007), menyatakan bahwa kriteria perairan yang tercemar ringan yaitu pengukuran kualitas air yang memiliki jumlah skor -1 s/d -10 digolongkan kedalam kelas B dan kriteria perairan yang tercemar sedang yaitu pengukuran

kualitas air yang memiliki jumlah skor -11 s/d -30 digolongkan kedalam kelas C.

Selanjutnya Putra et al, (2015) menyatakan bahwa status lingkungan hiidup dapat dilihat dengan indeks storet yang akan memberikan informasi secara keseluruhan status pencemaran pada lingkungan perairan.

Kondisi Perairan Berdasarkan Kurva Abundance and Biomass Comparison (ABC)

Hasil analisis kurva ABC yang diperoleh dari tiga kali pengamatan terhadap tiga stasiun di Pantai Pendaratan Desa Jaring Halus Kabupaten Langkat Provinsi Sumatera Utara pada Gambar 8 – 10. Berdasarkan data yang diperoleh stasiun I, II dan III tergolong tercemar sedang. Kondisi perairan yang tercemar sedang dapat dicirikan oleh posisi kurva biomassa per satuan luas dan kurva jumlah total individu per satuan saling tumpang tindih. Hasil ini sesuai menurut Fadillah et al (2015), yang menyatakan kondisi perairan tersebut tercemar sedang yaitu masuknya pencemar ke badan perairan disebabkan karena aktivitas manusia..

Kondisi setiap stasiun di perairan Pantai Pendaratan Desa Jaring Halus Kabupaten Langkat yang digambarkan oleh kurva ABC termasuk katagori sedang dapat disebabkan oleh kondisi sedimen yang mengandung pasir yang hampir sama pada setiap stasiunnya sehingga kepadatan relatif dan biomassa relatif bivalvia di setiap stasiun hampir sama. Hal ini dikarenakan substrat pasir merupakan habitat bivalvia yang baik untuk tumbuh. Menurut Anjani et al (2012), sedimen yang mengandung pasir cukup tinggi didominasi oleh jenis-jenis bivalvia, sedangkan dasar sedimen yang cukup berpasir merupakan habitat yang cukup baik bagi kehidupan berbagai jenis biota namun sedikit menghambat.

Dari kurva ABC dapat diketahui bahwa perairan pada setiap stasiun tergolong tercemar sedang hal ini dapat disebabkan oleh adanya pengaruh dari kualitas air dan masuknya limbah rumah tangga kedalam perairan yang berada pada setiap stasiun sehingga berakibat pada bivalvia dan berpengaruh pada biomassa dan juga kelimpahan bivalvia. Hal ini sesuai dengan pernyataan Khaeksi et al (2015), yang menyatakan bahwa data kelimpahan dan biomassa spesies yang terdiri dari komunitas bentik lautan dapat dieksploitasi secara luas, yang mana bertujuan untuk menaksir tingkatan kondisi perairan yang dianggap terganggu.

Rekomendasi Pengelolaan

Dari hasil penelitian, analisis yang dapat direkomendasikan untuk menentukan kualitas suatu perairan yaitu metode Kurva ABC. Metode ini menggunakan pendekatan bivalvia sebagai penentu kualitas air. Diketahui bahwa bivalvia merupakan organisme yang kehidupannya berada di dasar perairan dan pergerakannya terbatas sehingga akan lebih lama terpapar oleh faktor fisika dan kimia yang terjadi di perairan. Metode ini mampu menggambarkan adanya gangguan terhadap benthos dimana parameter fisika dan kimia harus tetap diukur sebagai parameter penunjang terhadap hasil dari metode kurva ABC.

Melakukan kegiatan pemantauan secara berkala perlu dilakukan, seperti kondisi fisika dan kimia perairan yang mungkin dapat terjadi perubahan akibat adanya aktivitas yang dilakukan di perairan tersebut sehingga dapat dipertahankan kondisi alamiah. Selain itu, masyarakat wisatawan dan nelayan harus tetap menjaga kondisi lingkungan perairan dengan baik dengan cara memberi sosialisasi tentang pentingnya menjaga kelestarian keanekaragaman hayati demi

kelangsungan hidup bivalvia di perairan agar dapat dimanfaatkan dalam waktu yang panjang.

Adanya kegiatan yang menyebabkan pencemaran di Pantai Pendaratan Desa Jaring halus Kabupaten Langkat seperti pembuangan limbah rumah tangga,

Adanya kegiatan yang menyebabkan pencemaran di Pantai Pendaratan Desa Jaring halus Kabupaten Langkat seperti pembuangan limbah rumah tangga,

Dalam dokumen SATRIA Universitas Sumatera Utara (Halaman 44-62)

Dokumen terkait