• Tidak ada hasil yang ditemukan

METODE PENELITIAN

Dalam dokumen SATRIA Universitas Sumatera Utara (Halaman 33-44)

Waktu dan Tempat Penelitian

Penelitian ini dilaksanakan pada Bulan Juni - Juli 2019 di Perairan Pantai Pendaratan Desa Jaring Halus Kecamatan Secanggang Kabupaten Langkat Sumatera Utara. Desa Jaring Halus terletak pada 3º51'30"-3º59'45" LU dan 98º30'-98º42' BT dengan ketinggian ± 1 m dpl. (Gambar 2). Identifikasi bivalvia dilakukan di Laboratorium Lingkungan Perairan Program Studi Manajemen Sumberdaya Perairan Fakultas Pertanian Universitas Sumatera Utara. Pengukuran parameter fisika dan kimia perairan dilakukan langsung di lapangan dan analisis Sampel substrat di lakukan di laboratorium PPKS (Pusat Penelitian Kelapa Sawit) Medan.

Gambar 2. Peta Lokasi Penelitian

Alat dan Bahan

Alat dan bahan yang digunakan dalam peneltian ini adalah sebagai berikut:

Tabel 1. Alat dan bahan penelitian

No Nama Alat dan Bahan Satuan Keterangan Alat

1 Global position system (gps) Menentukan titik koordinat

2 Termometer oC Mengukur suhu

3 Ph mter Mengukur ph air

4 DO meter mg/l Mengukur DO air

5 Secchi disk Cm Mengukur kecerahan air

6 Meteran gulung M Mengukur panjang plot

7 Botol sampel air Menyimpan sampel air

8 Kamera digital Dukumentasi penetian

9 Buku Identifikasi bivalvia Mengidentifikasi jenis bivalvia

10 Alat tulis Mencatat hasil penetilian

11 Refraktometer Ppt Mengukur salinitas air 12 Timbangan analitik G Menimbang biomassa Bahan

1 Sampel Bivalvia Bahan utama peneltian

2 Sampel air Menguji nitrat dan fosfat

3 Sample substrat Menguji kandungan C-Organik

4 Kertas label Menandai sampel bivalvia

5 Aquadest Mencuci bivalvia

6 Tissu Membersihkan alat penelitian

Deskripsi Setiap Stasiun Pengamatan Stasiun I

Lokasi ini merupakan daerah yang banyak mengalami aktivitas rumah tangga dan langsung berbatasan dengan laut. Stasiun ini berada pada titik koordinat 098°34"11' BT dan 03°56"53' LU Dapat dilihat pada Gambar (3)

Gambar 3. Lokasi Stasiun I Stasiun II

Stasiun ini tidak ditemukan adanya kegiatan masyarakat.Lokasi ini berada pada koordinat 098°34"15' BT dan 03°56"55' LU. Dapat dilihat pada Gambar 4.

Gambar 4. Lokasi Stasiun II

Stasiun III

Stasiun ini terjadi pemanfaatan ekosistem mangrove dan merupakan daerah nelayan meletakkan bubu untuk menangkap kepiting bakau dan mencari kerang-kerangan. Stasiun ini berada pada titik koordinat 098°34"17' BT dan 03°56"51' LU dapat dilihat pada Gambar 5.

Gambar 5. Lokasi Stasiun III Prosedur Penelitian

Metode yang digunakan dalam penentuan lokasi adalah purposive sampling yang dibagi menjadi 3 stasiun berdasarkan keterwakilan karakteristik yang berbeda di lokasi penelitian. Pemilihan stasiun didasarkan karena adanya perbedaan aktivitas yang ada di Pantai Pandaratan Desa Jaring Halus.

Pengukuran Parameter Fisika dan Kimia Perairan

Pengukuran parameter fisika dan kimia perairan dilakukan pada saat pasang. Pengukuran parameter fisika dilakukan secara in situ yang terdiri dari Suhu (oC), kecerahan (cm), kedalaman (cm). Pengukuran parameter kimia yang diukur secara in situ terdiri pH, Oksigen terlarut (mg/l), salinitas (ppt) dan pengukuran kimia yang dilakukan secara ex situ terdiri dari nitrat (mg/l) dan fosfat (ppm) dan pengukuran parameter substrat dilakukan secara ex situ terdiri dari tekstur substrat (%) dan C- Organik (%).

Pengambilan Sampel Bivalvia

Pengambilan sampel bivalvia dilakukan dengan metode kuadrat/plot berpetak dengan menempatkan kuadrat secara sistematis menurut garis transek.

Panjang transek adalah 10 meter dengan ukuran kuadrat 1 m x 1 m. Banyaknya plot yang digunkan pada setiap stasiun transek adalah 3 plot. Jarak dari plot 1 ke plot lain ialah 3 meter. Jumlah transek dalam satu habitat adalah 3 transek, sehingga jumlah keseluruhan plot dalam satu lokasi adalah 9 plot berbeda Identifikasi Bivalvia

Identifikasi bivalvia dilakukan dengan mengamati bivalvia yang di dapat di setiap plot dengan mengamati bentuk morfologi dari bivalvia dan idetifikasi jenis bivalvia dilakukan dengan menggunakan buku identifikasi.

Analisis Data

Data yang diperoleh kemudian diolah dengan menghitung kepadatan populasi, Indeks diversitas/keanekaragaman Shannon-Wiener, Indeks Keseragaman, Indeks dominansi, analisis Indeks Storet dan analisis Kurva ABC (Abundance and Biomass Comparison) dengan persamaan sebagai berikut:

Kepadatan Populasi (K)

Kepadatan populasi (K) bivalvia didefinisikan sebagai jumlah individu bivalvia per satuan luas (m2). Contoh bivalvia yang telah diidentifikasi dihitung kepadatannya dengan formula menurut Fachrul (2007) sebagai berikut :

Keterangan :

Ki : Kepadatan bivalvia (individu/m2)

ni : Jumlah individu dari spesies ke-i (individu) A : Luas area pengamatan (m2)

Kepadatan Relatif (KR)

Kepadatan relatif (KR) adalah perbandingan kepadatan jenis bivalvia ke-i dengan jumlah total seluruh jenis bivalvia menurut Fachrul (2007) sebagai berikut

( ) x 100%

Keterangan:

KR : Kelimpahan relatif ni : Jumlah individu ke-i N : Jumlah seluruh individu

Indeks Keanekaragaman (H’)

Indeks keanekaragaman menggambarkan keadaan bivalvia secara matematis agar memudahkan dalam mengamati keanekaragaman populasi dalam suatu komunitas. Dalam perhitungan ini digunakan indeks diversitas Shanon-Wiener menurut Fachrul (2007) yaitu :

Keterangan :

H' = Indeks Diversitas

pi = Jumlah individu masing-masing jenis (i=1,2,3,..) n = Jumlah jenis

Ln = Logaritma nature

Pi = Σ i/𝑁 (Perbandingan jumlah individu suatu jenis dengan keseluruhan jenis) Keterangan nilai H’:

H’ < 1 : Keanekaragaman jenis rendah

H’ > 3 : Keanekaragaman jenis tinggi

Indeks Keseragaman

Keseragaman (Eveness) dapat dikatakan keseimbangan yaitu komposisi individu tiap spesies yang terdapat dalam suatu komunitas. Rumus indeks seseragaman menurut Fachrul (2007) yaitu sebagai berikut:

Keterangan :

E : Indeks keseragaman H’ : Indeks keanekaragaman S : Jumlah spesies

Dengan kriteria sebagai berikut :

e > 0,4 : keseragaman populasi kecil 0,4 > e > 0,6 : keseragaman populasi sedang e < 0,6 : keseragaman populasi tinggi

Indeks keseragaman berkisar antara nol sampai satu, semakin mendekati nol semakin kecil keseragaman populasi, artinya penyebaran jumlah individu setiap spesies tidak sama dan kekayaan individu yang dimiliki masing masing spesies sangat berbeda. Semakin mendekati nilai satu, maka penyebarannya cenderung merata dan kemerataan antara spesies relatif merata atau jumlah individu masing-masing spesies relatif sama.

Indeks Dominansi (C)

Untuk melihat ada tidaknya dominansi oleh jenis tertentu pada bivalvia maka digunakan indeks dominansi Simpson menurut Fachrul (2007) yang dihitung dengan menggunakan persamaan:

∑[ 𝑁⁄ ]

Keterangan :

C : Indeks dominansi Simpson ni : Jumlah individu tiap jenis N : Jumlah total individu i : 1,2,……37 dan seterusnya Dengan kategori indeks dominansi :

C mendekati 0 ( C < 0,5) : tidak ada jenis yang mendominansi C mendekati 1 ( C > 0,5) : ada jenis yang mendominansi

Penentuan Status Mutu Air dengan Metode STORET (Strorage and Retrieval)

Nilai parameter fisika dan kimia perairan yang diperoleh dibandingkan dengan kriteria mutu air dalam Peraturan Pemerintah Nomor 82 Tahun 2001 tentang Pengelolaan Kualitas Air dan Pengendalian Pencemaran Air. Metode Storet dapat digunakan untuk mengetahui parameter-parameter yang telah memenuhi atau melampaui baku mutu air. Penentuan status mutu air ini didasarkan pada analisis parameter fisika dan kimia. Untuk mengetahui seberapa jauh contoh air tersebut diketahui baik atau tidaknya nilai dengan metode Storet.

Hasil analisis kimia percontohan air kemudian di bandingkan dengan baku mutu yang sesuai dengan pemanfaatan air. Kualitas air dinilai berdasarkan kriteria metode storet untuk mengklasifikasikan mutu air dalam empat kelas yang dapat dilihat pada tabel 2.

Tabel 2. Penentuan Status Mutu Air dengan Indeks Storet

Kelas Skor Kriteria

Penentuan status mutu air dengan menggunakan metode Storet dilakukan dengan langkah-langkah sebagai berikut.

1. Membandingkan data hasil pengukuran dari masing-masing parameter air dengan nilai baku mutu yang sesuai dengan kelas air.

2. Jika hasil pengukuran memenuhi nilai baku mutu (hasil pengukuran < baku mutu) maka diberi skor 0.

3. Jika hasil pengukuran tidak memenuhi baku mutu air (hasil pengukuran >

baku mutu) maka diberi skor Dilihat pada tabel 3.

Tabel 3. Penetapan Sistem Nilai untuk Menentukan Status Mutu Perairan

Jumlah Percontohan Nilai Parameter

Fisika Kimia

Analisis Kurva Abundance and Biomass Comparison (ABC)

Menurut Khaeksi et al (2015), analisis kurva ABC digunakan untuk mengetahui kondisi perairan dengan menganalisis jumlah total individu per satuan luas dan biomassa (berat kering) total per satuan luas. Kurva ABC (Abundance and Biomass Comparison) dapat dilakukan dengan rumus sebagai berikut

( ) ( ) ( ) ( )

( ) ( )

x 100%

( )

x 100%

Metode kurva ABC (Abundance and Biomass Comparison) digunakan untuk mengetahui kondisi lingkungan dengan menganalisis jumlah total individu persatuan luas (kelimpahan) dan berat persatuan luas dari komunitas bivalvia (Warwick, 1986 diacu dalam Khaeksi et al., 2015).

Menurut Khaeksi et al (2015), berdasarkan kurva ABC yang diperoleh, status perairan dan kualitas bivalvia dapat diklasifikasikan menjadi tiga katagori, yaitu:

1. Baik, apabila jika kurva biomassa per satuan luas berada di atas kurva jumlah individu per satuan luas.

2. Sedang, apabila jika kurva biomassa per satuan luas dan kurva jumlah individu per satuan luas saling tumpah tindih.

3. Buruk, apabila jika kurva biomassa per satuan luas berada di bawah kurva jumlah individu persatuan luas.

Dalam dokumen SATRIA Universitas Sumatera Utara (Halaman 33-44)

Dokumen terkait