ANALISIS STATUS PENCEMARAN PERAIRAN DENGAN BIVALVIA SEBAGAI BIOINDIKATOR DI PANTAI PENDARATAN DESA JARING HALUS
KECAMATAN SECANGGANG KABUPATEN LANGKAT PROVINSI SUMATERA UTARA
SATRIA 150302029
PROGRAM STUDI MANAJEMEN SUMBERDAYA PERAIRAN FAKULTAS PERTANIAN
UNIVERSITAS SUMATERA UTARA
2019
ANALISIS STATUS PENCEMARAN PERAIRAN DENGAN BIVALVIA SEBAGAI BIOINDIKATOR DI PANTAI PENDARATAN DESA JARING HALUS
KECAMATAN SECANGGANG KABUPATEN LANGKAT PROVINSI SUMATERA UTARA
SKRIPSI
SATRIA 150302029
PROGRAM STUDI MANAJEMEN SUMBERDAYA PERAIRAN FAKULTAS PERTANIAN
UNIVERSITAS SUMATERA UTARA
2019
ANALISIS STATUS PENCEMARAN PERAIRAN DENGAN BIVALVIA SEBAGAI BIOINDIKATOR DI PANTAI PENDARATAN DESA JARING HALUS
KECAMATAN SECANGGANG KABUPATEN LANGKAT PROVINSI SUMATERA UTARA
SKRIPSI
SATRIA
150302029
Skripsi Ini Sebagai Salah Satu Diantara Beberapa Syarat Untuk Dapat Memperoleh Gelar Sarjana Perikanan Di Program Studi Manajemen Sumberdaya Perairan Fakultas
Pertanian Universitas Sumatera Utara
PROGRAM STUDI MANAJEMEN SUMBERDAYA PERAIRAN FAKULTAS PERTANIAN
UNIVERSITAS SUMATERA UTARA 2019
ABSTRAK
SATRIA. Analisis Status Pencemaran Perairan Dengan Bivalvia Sebagai Bioindikator Di Pantai Pendaratan Desa Jaring Halus Kecamatan Secanggang Kabupaten Langkat Provinsi Sumatera Utara. Dibawah bimbingan RUSDI LEIDONALD.
Pantai Pendaratan adalah salah satu perairan yang terdapat di Desa Jaring Halus Kecamatan Secanggang Kabupaten Langkat dengan berbagai aktifitas di sekitarnya. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui Status Pencemaran Perairan dengan Bivalvia sebagai Bioindikator di pantai Pendaratan Desa Jaring Halus, mengetahui hubungan parameter lingkungan dengan keanekaragaman Bivalvia serta mengetahui kondisi perairan pantai Pendaratan Desa Jaring Halus Berdasarkan kurva ABC (Abundance and Biomass Comparision)dan berdasarkan Indeks Storet. Penelitian ini dilakukan pada bulan Juni-Juli 2018. Penentuan lokasi pengambilan sampel menggunakan metode purposive sampling pada 3 stasiun pengamatan. Pengambilan Bivalvia digunakan metode kuadrat/plot berpetak. Panjang transek 10 meter dengan ukuran kuadrat 1m x 1m dengan banyak 3 plot setiap stasiun. Hasil penelitian yang didapatkan terdapat 4 spesies yaitu Anadara granosa, Mactra grandis, Meretrix meretrix, Tellina remies.
Keanekaragaman bivalvia termasuk dalam kategori keanekaragaman rendah untuk stasiun II sebesar 0.38 dan stasiun II sebesar 0.89 namun pada stasiun I sebesar 1.11 dikategorikan keanekaragaman sedang. Dan menurut PP No. 82 Tahun 2001 Tentang Pengelolaan Kualitas Air dan Pengendalian Pencemaran Air, dan dengan menggunakan Indeks Storet menyatakan bahwa kondisi Perairan Pantai Pendaratan Desa jarring Halus dinyatakan tercemar dalam kategori “sedang” dan berdasarkan kurva ABC (Abundance and Biomass Comparison) menyatakan bahwa kondisi perairan dinyatakan tercemar dalam kategori “sedang” dengan kurva kepadatan dan biomassa yang saling tumpang tindih.
Kata Kunci: Perairan Pantai Pendaratan, Bivalvia, Kurva ABC, Parameter Lingkungan, Indeks Storet,
ABSTRACT
SATRIA. Analysis Status of Water Pollution With Bivalvia as a Bioindicator On the Beach Pendaratan Jaring Halus District Secanggang Langkat Regency of North Sumatra Province. Under the guidanced by RUSDI LEIDONALD.
Pantai Pendaratan is one of the water contained in the Jaring Halus Village Secanggang Langkat with various activities in the vicinity. This study aims to determine the status of Water Pollution with bivalves as bio-indicators on the Pendaratan Beach Jaring Halus Village determine the relationship of environmental parameters with the diversity of bivalves and determine the condition of the coastal waters of the Pendaratan Beach Jaring Halus Village Based on the curve ABC (Abundance and Biomass Comparision) and based on Storet index. This research was conducted in June-July 2018. The determination of the location of the sampling method purposive sampling at three observation stations. Decision bivalves used sampling method purposive sampling at three observation stations. Decision bivalves used sampling method purposive sampling at three observation stations. Decision bivalves used squares method / terraced plots. Transect length 10 meters with a size of 1m x 1m squares with many 3 plots each station. Research results obtained there are four species, namely Anadara granosa, Mactra grandis, Meretrix meretrix, Tellina Remies. Included in the category lower diversity for the second station at 0,38 and the station II of 0,89 but at the station at 1,11 categorized diversity. And according to PP 82 of 2001 on Water Quality Management and Water Pollution Control, and using Storet Index states that the conditions Bodies Pendaratan Beach Jaring Halus Village declared contaminated nets in the category "medium" and based on the curve ABC (Abundance and Biomass Comparison) stating that the conditions stated polluted waters into the category of "moderate" with the density and biomass curves overlap.
Keywords: The Coastal of Pendaratan Beach, Bivalves, curve ABC, Environmental Parameters, Storet index.
RIWAYAT HIDUP
Penulis lahir di Padangsidimpuan pada tanggal 01 September 1996 dari Ayahanda H. Rahmadi dan Ibunda Almh. Kurnia Ningsih. Penulis merupakan anak pertama dari dua bersaudara.
Penulis mengawali pendidikan formal di SD Negeri 200201/4 Kelurahan Ujung Padang Kota Padangsidimpuan pada tahun 2003–2009 dan pendidikan menengah pertama ditempuh dari tahun 2009–2012 di SMP Swasta Nurul `Ilmi Padangsidimpuan. Penulis menyelesaikan pendidikan menengah atas di SMA Swasta Nurul `Ilmi Padangsidimpuan dengan jurusan IPA pada tahun 2012–
2015.
Penulis melanjutkan pendidikan di Program Studi Manajemen Sumberdaya Perairan Fakultas Pertanian, Universitas Sumatera Utara melalui jalur Seleksi Nasional Masuk Perguruan Tinggi Negeri (SNMPTN) tahun 2015.
Penulis melaksanakan Praktik Kerja Lapangan (PKL) di Konservasi Penyu Pantai Binasi Kecamatan Sorkam Barat, Sumatera Utara.
Selain mengikuti perkuliahan penulis juga menjadi asisten Laboratorium Ekosistem Perairan Pesisir pada tahun 2017-2018, asisten Laboratorium Pengelolaan Pesisir Terpadu pada tahun 2018-2019.
KATA PENGANTAR
Syukur Alhamdulillah penulis panjatkan kehadirat Allah SWT yang telah memberikan kesehatan, sehingga penulis dapat menyelesaikan penelitian dengan judul “Analisis Status Pencemaran Perairan Dengan Bivalvia Sebagai Bioindikator di Pantai Pendaratan Desa Jaring Halus Kecamatan Secanggang Kabupaten Langkat Provinsi Sumatera Utara” yang merupakan salah satu syarat untuk memperoleh gelar Sarjana Perikanan di Program Studi Manajemen Sumberdaya Perairan, Fakultas Pertanian Universitas Sumatera Utara.
Ungkapan terima kasih yang tak ternilai penulis ucapkan kepada ayahanda H. Rahmadi dan ibunda Almh. Kurnia Ningsih atas kasih sayang, dukungan doa, materi dan semangatnya sehingga ananda dapat menyelesaikan studi ini. Kepada adik saya Annisa Amalia, terima kasih atas doa dan dukungan semangat yang diberikan, serta kepada seluruh keluarga.
Penulis juga menyadari bahwa penulisan skripsi ini tidak mungkin selesai tanpa bantuan dari berbagai pihak. Pada kesempatan ini penulis menyampaikan ucapan terima kasih kepada :
1. Bapak. Dr. Ir. Hasanuddin, M.S selaku Dekan Fakultas Pertanian Universitas Sumatera Utara.
2. Ibu Dr. Eri Yusni, M.Sc selaku Ketua Program Studi Manajemen Sumberdaya Perairan dan Bapak Rizky Febriansyah Siregar S.Pi., M.Si selaku sekretaris Program Studi Manajemen Sumberdaya Perairan.
3. Bapak Rusdi Leidonald, S.P., M.Sc selaku dosen pembimbing, Ibu Dr. Eri Yusni, M.Sc dan Ibu Ipanna Enggar Susetya, S.Kel., M.Si selaku dosen penguji yang telah memberikan masukan, saran, dan ilmu yang berharga bagi penulis.
4. Seluruh Dosen Program Studi Manajemen Sumberdaya Perairan Fakultas Pertanian Sumatera Utara, dan staf tata usaha Bapak Ashari Wardana.
5. Fany Nurhidayah Ningsih yang telah membantu dan menjadi penyemangat penulis selama penelitian hingga selesainya skripsi ini.
6. Team Jaring Halus, M. Bayu Prastama Manurung, Tia Angraini, Dayun Ifanda, Ronald Prayogo, yang selalu menemani dan memberikan semangat kepada penulis selama penelitian hingga selesainya skripsi ini.
7. Dwiki Utama Nazar, Desnita Ayu, Nathania Sitompul, Loventia, Nina Puspita Sari, Vicky Syaaidil Hafid Lubis yang selalu menemani dan memberikan semangat kepada penulis selama penelitian hingga selesainya skripsi ini.
8. Febri Hermawan, Syahirul Alim, Reza Fahlevi Pohan, yang selalu menemani dan memberikan semangat kepada penulis selama penelitian hingga selesainya skripsi ini.
9. Seluruh teman-teman MSP Angkatan 2015 yang telah bersama selama 4 tahun, terima kasih atas semua bantuannya.
10. Seluruh teman sepejuangan Keluarga besar Himapikani yang telah memberikan semangat kepada penulis selama penelitian hingga selesainya skripsi ini.
11. Seluruh teman seperjuangan Keluarga Besar IMAKOPASID USU POLMED yang telah memberikan semangat kepada penulis selama penelitian hingga selesainya skripsi ini.
12. Seluruh senior MSP yang telah memberikan pembelajaran di Laboratorium dan junior MSP yang telah memberikan semangat dan dukungannya.
Terima kasih juga disampaikan kepada semua pihak yang telah memberikan dukungan dalam menyelesaikan skripsi ini. Semoga skripsi ini bermanfaat bagi pengembangan ilmu pengetahuan, khususnya bidang Manajemen Sumberdaya Perairan.
Medan, November 2019
Satria
DAFTAR ISI
Halaman
ABSTRAK ... i
ABSTRACT ... ii
RIWAYAT HIDUP ... iii
KATA PENGANTAR ... iv
DAFTAR ISI ... vii
DAFTAR GAMBAR ... ix
DAFTAR TABEL... x
DAFTAR LAMPIRAN ... xi
PENDAHULUAN Latar Belakang ... 1
Rumusan Masalah ... 2
Kerangka Pemikiran ... 3
Tujuan Penelitian ... 5
Manfaat Penelitian ... 5
TINJAUAN PUSTAKA Ekosistem Pantai ... 6
Pencemaran Air ... 7
Karakteristik Bivalvia ... 8
Bivalvia Sebagai Bioindikator ... 10
Parameter Fisika Kimia Pendukung Kehidupan Bivalvia ... 11
METODE PENELITIAN Waktu dan Tempat Penelitian ... 18
Alat dan Bahan ... 19
Deskripsi Setiap Stasiun Pengamatan Stasiun I ... 19
Stasiun II ... 20
Stasiun III ... 20
Prosedur Penelitian ... 21
Pengukuran Parameter Fisika Kimia Perairan ... 21
Pengambilan Sampel Bivalvia ... 21
Identifikasi Bivalvia ... 22
Analisis Data Kepadatan Populasi ... 22
Kepadatan Relatif ... 23
Indeks Keanekaragaman (H´)... 23
Indeks Keseragaman (E) ... 24
Indeks Dominansi (C) ... 25
Analisis Substrat ... 26
Penentuan Status Mutu Air dengan Metode STORET ... 25
Analisis Kurva Abundance and Biomass Comparison (ABC) ... 27
HASIL DAN PEMBAHASAN Hasil
Kepadatan Populasi (K) ... 29 Kelimpahan Relatif (KR) ... 30 Indeks Keanekaragaman (H´), Keseragaman (E) dan
Dominansi(C) ... 31 Parameter Lingkungan Perairan ... 31 Tekstur Substrat Pantai Pendaratan Desa Jaring Halus... 32 Sifat Fisika Kimia Pantai Pendaratan desa Jaring Halus
Berdasarkan Metode Storet ... 32 Analisis Kurva Abundance and Biomass Comparision ... 33 Pembahasan
Komposisi Bivalvia ... 35 Kepadatan Populasi (K) dan Kepadatan Relatif (KR) Bivalvia 36
Indeks Keanekaragaman (H´), Keseragaman (E) dan
Dominansi(C) ... 38 Parameter Lingkungan ... 39 Sifat Fisika Kimia Pantai Pendaratan Berdasarkan
Metode Storet ... 43 Kondisi Perairan Berdasarkan Kurva Abundance and Biomass Comparison (ABC) ... 46 Rekomendasi Pengelolaan ... 45 KESIMPULAN DAN SARAN
Kesimpulan ... 47 Saran ... 47 DAFTAR PUSTAKA
LAMPIRAN
DAFTAR GAMBAR
No. Teks Halaman
1
.
Kerangka Pemikiran Penelitian ... 42. Peta Lokasi Penelitian ... 18
3
.
Stasiun I ... 204. Stasiun II ... 20
5. Stasiun III ... 21
7. Kepadatan Populasi Bivalvia ... 30
8. Kurva ABC pada stasiun I... 34
9. Kurva ABC pada stasiun II ... 34
10.Kurva ABC pada stasiun III ... 35
DAFTAR TABEL
No. Teks Halaman
1. Alat dan Bahan Penelitian ... 19
2. Penentuan Status Mutu Air dengan Indeks Metode Storet ... 26
3. Penetapan Sistem Nilai untuk Menentukan Status Mutu Perairan... 26
4. Komposisi Bivalvia Pada Masing-Masing Stasiun Penelitian ... 29
5. Kepadatan Relatif Bivalvia ... 30
6. Indeks Keanekaragaman (H´), Indeks Keseragaman (E) dan Indeks Dominansi (C) ... 31
7. Parameter Lingkungan Perairan yang didapatkan Selama Penelitian ... 32
8. Analisis Substrat Dasar ... 32
9. Kondisi Fisika dan Kimia Perairan Kuala Tanjung Berdasarkan Metode Storet ... 33
DAFTAR LAMPIRAN
No. Teks Halaman
1. Alat dan Bahan Penelitian ... 54
2. Kegiatan Penelitian ... 56
3. Penentuan Tekstur Substrat ... 57
4. Gambar Bivalvia ... 58
5. Biomassa Bivalvia ... 59
PENDAHULUAN
Latar Belakang
Desa Jaring Halus merupakan desa pesisir yang terletak di Kecamatan Secanggang, Kabupaten Langkat. pada lokasi ini terdapat ekosistem mangrove yang berada dekat dan berbatasan dengan pemukiman warga dan laut. Desa ini merupakan sebuah perkampungan yang letaknya jauh dari pusat kota. Desa ini berbatasan langsung dengan Suaka Margasatwa Langkat Timur Laut yang didominasi oleh tumbuhan mangrove. Hutan mangrove yang berada di desa ini dikelola secara bersama-sama oleh masyarakat untuk memenuhi kebutuhan masyarakat. Di perairan tersebut ditemukan beberapa jenis bivalvia.
Bivalvia merupakan salah satu komoditas perikanan yang memiliki nilai gizi yang lengkap. Selain mengandung protein hewani yang relatif tinggi, Bivalvia juga mengandung asam-asam lemak tidak jenuh essensial dan mineral yang diperlukan oleh tubuh manusia. Bivalvia juga memliki nilai ekologis yang luar biasa dengan cara memakan polutan termasuk logam berat yang tersuspensi dalam perairan. Di samping itu, kemampuan hidupnya yang relatif lebih tahan terhadap polutan dibanding ikan mampu hidup dalam lumpur yang kering saat musim kemarau membuat Bivalvia amat tepat dimanfaatkan sebagai pembersih lingkungan, apalagi kerang bisa membersihkan polutan logam berat relatif cepat (Fitrianti, 2014).
Kerang-kerangan adalah biota yang biasa hidup di dalam substrat dasar perairan (biota bentik) yang relatif lama sehingga biasa digunakan sebagai bioindikator untuk menduga kualitas perairan. Biota ini juga merupakan salah satu
komunitas yang memiliki keanekaragaman yang tinggi. Masukan buangan ke dalam badan perairan akan mengakibatkan terjadinya perubahan faktor fisika, kimia, dan biologi di dalam perairan. Perubahan ini dapat mempengaruhi keberadaan pencemaran dan bahan-bahan yang essensial dalam perairan sehingga dapat mengganggu lingkungan perairan dan mempengaruhi struktur komunitas bentik termasuk bivalvia (Insafitri, 2010).
Banyaknya pencemar pada air limbah akan menyebabkan menurunnya kadar oksigen terlarut dalam air tersebut. Sehingga akan mengakibatkan kehidupan biota dalam air yang membutuhkan oksigen terganggu serta mengurangi perkembangannya. Selain itu kematian dapat pula disebabkan adanya zat beracun. Salah satu biota yang terdapat di Perairan Desa Jaring Halus Kabupaten Langkat adalah sejenis kelompok Bivalvia.
Aktivitas yang dilakukan di Desa Jaring Halus akan berpengaruh terhadap keanekaragaman bivalvia dan kualitas air. maka perlu dilakukan penelitian tentang Keanekaragaman dan kualitas air yang terdapat di perairan tersebut. Hasil penelitian ini diharapkan dapat memberikan gambaran keadaan alam kita terutama keanekaragaman bivalvia dan kualitas air di Perairan Desa Jaring Halus Kabupaten Langkat Sumatera Utara.
Rumusan Masalah
Aktivitas masyarakat di Perairan Pantai Pendaratan Desa Jaring Halus banyak dilakukan masyarakat sekitar dengan menangkap ikan, limbah rumah tangga masyarakat sekitar dan kegiatan pariwisata, dari kegiatan tersebut akan mempengaruhi keanekaragaman bivalvia yang terdapat diperairan tersebut.
Bivalvia umumnya dapat menggambarkan kondisi perairan, sehingga
keberadaannya sering dijadikan indikator kualitas perairan. Sejauh ini belum ada diketahui bagaimana kondisi fisik kimia dan keberadaan jenis serta keanekaragaman bivalvia pada perairan Pantai Pendaratan Desa Jaring Halus.
Maka dari itu diperlukan pengamatan di lapangan. Adapun perumusan masalah adalah sebagai berikut :
1. Seberapakah besar keanekaragaman bivalvia pada Perairan Pantai Pendaratan Desa Jaring Halus Kecamatan Secanggang Kabupaten Langkat Provinsi Sumatera Utara.
2. Seberapakah besar dampak kondisi perairan pada Perairan Pantai Pendaratan Desa Jaring Halus Kecamatan Secanggang Kabupaten Langkat Sumatera Utara berdasarkan kurva Abundance and Biomass Comparasion (ABC).
3. Seberapakah besar status pencemaran air pada Perairan Pantai Pendaratan Desa Jaring Halus Kecamatan Secanggang Kabupaten Langkat berdasarkan Indeks Storet.
Kerangka Pemikiran
Perairan Pantai Pendaratan Desa Jaring Halus Kecamatan Sicanggang Kabupaten Langkat Provinsi Sumatera Utara merupakan pantai yang mempunyai aktivitas penting yaitu aktivitas rumah tangga dan aktivitas nelayan dan dikelilingi oleh hutan mangrove. Diduga akibat aktivitas yang terdapat di Pantai Pendaratan Desa Jaring Halus mengakibatkan perubahan kualitas lingkungan baik secara fisika, kimia dan biologi berupa bivalvia. Oleh karena itu diperlukan analisis lingkungan perairan dengan menggunakan parameter kualitas air dan keanekaragaman bivalvia untuk mengetahui jenis bivalvia dan kondisi Lingkungan Perairan yang terdapat di Pantai Desa Jaring Halus serta mengetahui
rekomendasi pengelolaan yang berkelanjutan. Secara ringkas kerangka pemikiran dapat dilihat pada Gambar 1.
Pantai Pendaratan Desa Jaring Halus
Aktivitas Nelayan Aktivitas Rumah Tangga
Analisis Lingkungan Perairan
Parameter Fisika- Kimia - Suhu
- Kecerahan - pH
- Oksigen Terlarut (DO) - Salinitas
- N-Total - Fosfat
Keanekaragaman Bivalvia - Kepadatan Populasi (K) - Kepadatan Relatif (KR) - Indeks Keanekaragaman (H’) - Indeks Keseragaman (E) - Indeks Dominansi (C)
Kondisi Lingkungan Perairan
Rekomendasi Pengelolaan
Gambar 1. Kerangka Pemikiran
Aktivitas Transportasi Laut
Tujuan Penelitian
Tujuan dilakukannya penelitian ini adalah sebagai berikut :
1. Untuk mengetahui keanekaragaman bivalvia pada Perairan Pantai Pendaratan Desa Jaring Halus Kecamatan Sicanggang Kabupaten Langkat Provinsi Sumatera Utara.
2. Untuk mengetahui kondisi Perairan Pantai Pendaratan Desa Jaring Halus Kecamatan Sicanggang Kabupaten Langkat Provinsi Sumatera Utara berdasarkan kurva Abundance and Biomass Comparasion (ABC).
3. Untuk mengetahui kondisi perairan pada Perairan Pantai Pendaratan Desa Jaring Halus Kecamatan Sicanggang Kabupaten Langkat Sumatera Utara berdasarkan Indeks Storet.
Manfaat Penelitian
Manfaat dari penelitian ini diharapkan sebagai sumber informasi tentang Analisis Status Pencemaran Perairan Dengan Bivalvia Sebagai Bioindikator Di Pantai Pendaratan Desa Jaring Halus Kecamatan Secanggang Kabupaten Langkat Provinsi Sumatera Utara.
TINJAUAN PUSTAKA
Ekosistem Pantai
Perairan estuaria merupakan perairan semi tertutup (semi-enclosed coastal) yang mempunyai hubungan bebas dengan laut terbuka. Perairan ini
terjadi percampuran antara masa air laut dengan air tawar dari daratan, sehingga airnya menjadi payau. Wilayah ini juga dapat dikatakan sebagai wilayah yang sangat dinamis, karena selalu terjadi proses perubahan lingkungan fisik maupun biologis. Bercampurnya masa air laut dengan air tawar menjadikan wilayah estuaria memiliki keunikan tersendiri, yaitu terbentuknya air payau dengan salinitas yang berfluktuasi. Perubahan salinitas ini dipengauhi oleh air pasang dan surut serta musim. Selama musim kemarau, volume air sungai berkurang sehingga air laut dapat masuk sampai ke arah hulu, dan menyebabkan salinitas di wilayah estuaria menjadi meningkat. Pada musim penghujan air tawar mengalir dari hulu ke wilayah estuaria dalam jumlah besar, sehingga sanilitas menjadi berfluktuasi.
Proses terjadinya aliran air tawar secara terus menerus dari hulu sungai dan adanya proses gerakan air akibat arus pasang surut yang mengangkut mineral- mineral, bahan organik dan sedimen, menjadikan perairan estuari memiliki produktifitas perairan yang cukup tinggi, melebihi produktifitas perairan laut lepas dan perairan tawar (Supriadi, 2001).
Potensi suatu kawasan pesisir yang sangat beragam dapat dimanfaatkan sebagai kawasan perikanan, wisata dan penelitian, seperti Pantai Pandaratan adalah sebuah pantai yang berada di Desa Jaring Halus Kecamatan Sicanggang Kabupaten Langkat. Pantai ini merupakan suatu pantai yang masyarakat
bermukim disini bermata pencaharian sebagai nelayan, di pantai ini juga dikelilingi oleh kawasan mangrove di Pantai ini juga terdapat Tempat Pelelangan Ikan (TPI) dimana nelayan dapat langsung menjual hasil tangkapannya.
Pencemaran Air
Pencemaran lingkungan perairan dapat disebabkan oleh berbagai kegiatan masyarakat yang membuang limbah ke dalam perairan tanpa melakukan pengolahan terlebih dahulu. Misalnya limbah domestik, limbah industri, limbah perkotaaan, dan limbah rumah tangga, salah satu limbah yang dibuang adalah deterjen. Sumber utama air limbah rumah tangga masyarakat Indonesia berasal dari buangan ratusan ribu ton deterjen yang mengandung fosfor serta bahan organik lainnya ke saluran air, yang akibatnya juga mencemarkan perairan.
Dengan meningkatnya penggunaan deterjen sebagai bahan pembersih dalam masyarakat berpotensi mengakibatkan terjadinya pencemaran lingkungan perairan. Kondisi perairan yang semakin buruk akan mempengaruhi organisme yang hidup di dalamnya (Megawati et al., 2012).
Pada dasarnya bahan pencemar yang mencemari perairan dapat dikelompokkan menjadi: bahan pencemar organik; bahan pencemar penyebab terjadinya penyakit; bahan pencemar senyawa anorganik/mineral; bahan pencemar organic yang tidak dapat diuraikan oleh mikroorganisme; bahan pencemar berupa zat radioaktif; bahan pencemar berupa endapan/sedimen; bahan pencemar berupa kondisi (misalnya panas). Dampak pencemaran tidak hanya membahayakan kehidupan biota dan lingkungan laut, tetapi juga dapat membahayakan kesehatan manusia (Fransisca, 2011).
Peraturan pemerintah RI No. 82 tahun 2001 tentang pengelolaan kualitas air dan pengendalian pencemaran air menyebutkan bahwa pencemaran air adalah masuknya atau dimasukkannya makhluk hidup, zat. Enegi atau komponen lain ke dalam air oleh kegiatan manusia sehingga menyebabkan kualitas air menurun ke tingkat tertentu dan tidak dapat berfungsi sesuai peruntukannya.
Untuk mencegah adanya penyakit yang timbul oleh pencemaran air maka kualitas badan air harus dijaga sesuai dengan baku mutu air. Peraturan Pemerintah Republik Indonesia nomor 82 tahun 2001, baku mutu air adalah ukuran batas atau kadar makhluk hidup, zat, energi tau komponen yang ada atau harus ada dan atau unsur pencemar yang di tenggang keberadaannya dalam air.
Kawasan Perairan Pantai Pandaratan Desa Jaring Halus bahan pencemar yang masuk ke aliran tersebut berasal dari aktivitas masyarakat berupa limbah pemukiman , industri, transportasi laut yang dilakukan oleh nelayan juga di duga dapat menyebabkan pencemaran logam berat masuk ke Perairan Pantai Pandaratan Desa Jaring Halus. Pb yang masuk ke kawasan perairan berasal dari aktivitas masyarakat yang mencemari perairan tersebut. Diantaranya adalah air buangan limbah dari industri di darat.
Karakteristik Bivalvia
Bivalvia adalah Moluska yang secara tipikal mempunyai dua katup, dan kedua bagiannya lebih kurang simetris. Kerangkanya disusun oleh klasifikasi katup yang ada di sisi kanan dan kiri tubuh. Katupnya dikatupkan di sepanjang tepi dorsal yang disebut hinge, dan dihubungkan oleh stuktur kapur yang elastis yang disebut ligamen. Mereka ditutup dengan aksi menarik satu atau dua (kadang tiga) otot aduktor. Byssus atau kaki menonjol keluar dari anterior kerangkanya,
dimana posterior dari kerangkanya adalah dimana ada tonjolan siphon.
Kebanyakan kerang adalah filter feeder, tetapi ada beberapa yang scavenger (pemakan bangkai) atau bahkan predator. Di dunia, ada 10.0000 spesies kerang (Insafitri, 2010).
Salah satu anggota Moluska yaitu Bivalvia dapat digunakan sebagai bioindikator kualitas perairan hal ini dikarenakan Bivalvia menghabiskan seluruh hidupnya di kawasan tersebut sehingga apabila terjadi pencemaran lingkungan maka tubuh Bivalvia akan terpapar oleh bahan pencemar dan terjadi akumulasi bahan pencemar pada tubuh Bivalvia. Sehingga jika ada bahan tercemar yang masuk di tubuh spesies tersebut, maka tubuh dari spesies yang tidak toleran tidak dapat bertahan hidup, dengan demikian keberadaannya dapat digunakan sebagai bioindikator. Bivalvia yang banyak terdapat di area pesisir biasanya didominasi oleh kelas Bivalvia penggali di permukaan pantai (Nybakken, 1992).
Bivalvia (kerang-kerangan) adalah biota yang biasa hidup di dalam substrat dasar perairan (biota bentik) yang relatif lama sehingga biasa digunakan sebagai bioindikator untuk menduga kualitas perairan. Biota ini juga merupakan salah satu komunitas yang memiliki keanekaragaman yang tinggi. Masukan buangan ke dalam badan perairan akan mengakibatkan terjadinya perubahan faktor fisika, kimia, dan biologi di dalam perairan. Perubahan ini dapat mempengaruhi keberadaan bahan-bahan yang essensial dalam perairan sehingga dapat mengganggu lingkungan perairan dan mempengaruhi struktur komunitas bentik termasuk bivalvia (Insafitri, 2010).
Secara umum bagian tubuh kerang atau Bivalvia dibagi menjadi lima, yaitu kaki (foot, byssus), kepala (head), bagian alat pencernaan dan reproduksi
(visceral mass), selaput (mantle), dan cangkang (shell). Pada bagian kepala terdapat organ-organ syaraf sensorik dan mulut. Bagian kaki merupakan otot yang mudah berkontraksi, dan bagian ini merupakan bagian utama alat gerak. Warna dan bentuk cangkang sangat bervariasi, tergantung pada jenis, habitat dan makanannya. Pada bagian dalam cangkang beberapa jenis kerang dan siput terdapat lapisan mutiara yang mengkilap/ berkilau, misalnya pada oyster, abalon, dan kimah (Setyono, 2006).
Bivalvia Sebagai Bioindikator
Menurut Nugroho (2006), dalam lingkungan yang dinamis, analisis biologi khususnya analisis struktur komunitas bivalvia, dapat memberikan gambaran yang jelas tentang kualitas perairan. Melalui sifatnya yang menetap serta perubahan kualitas air dan substrat tempat hidupnya sangat mempengaruhi komposisi maupun kelimpahannya. Beberapa organisme bivalvia sering dipakai sebagai spesies indikator kandungan bahan organik dan dapat memberikan gambaran yang lebih tepat dibandingkan dengan pengujian secara fisika kimia.
Potensi kerang di suatu perairan dapat dilihat dari kelimpahan, sebaran jenisnya. Adapun kelimpahan, sebaran dan keragaman jenis spesies tersebut dipengaruhi oleh karakteristik habitat seperti kondisi perairan dan jenis substrat.
Habitat memiliki peranan penting bagi kelangsungan hidup biota perairan. Selain sebagai tempat hidup, habitat berperan sebagai tempat berkembang biak dan pemasok makanan. Oleh karena itu kondisi suatu habitat memiliki pengaruh yang besar terhadap kestabilan komunitas yang ada didalamnya (Simangunsong, 2010).
Masukan buangan limbah baik domestik dan limbah industri ke dalam badan perairan akan mengakibatkan terjadinya perubahan faktor fisika, kimia, dan
biologi di dalam perairan. Perubahan ini dapat mempengaruhi keberadaan bahan bahan yang essensial sebagai sumber nutrien yang dibutuhkan biota dalam proses pertumbuhan. Adanya perubahan tersebut dapat mengganggu lingkungan perairan dan mempengaruhi struktur komunitas bentik termasuk bivalvia (Insafitri, 2010).
Parameter Fisika Kimia Pendukung Kehidupan Bivalvia Suhu
Suhu dapat mempengaruhi nilai kelimpahan, karena bila suhu perairan tinggi maka Pelecypoda tidak dapat hidup dengan baik untuk menunjang pertumbuhan. Dan sebaliknya jika suhu rendah juga tidak dapat tumbuh dengan baik. Ketidakstabilan suhu dipengaruhi adanya peningkatan penguapan air laut sehingga menyebabkan organisme laut mati akibat kekurangan kadar air.
Pelecypoda kerang dapat tumbuh dengan baik pada perairan yang memiliki suhu antara 20 – 30ºC (Akbar et al., 2013).
Suhu suatu badan air dipengaruhi oleh musim, lintang (latitude), ketinggian dari permukaan laut (altitude), waktu dalam hari, sirkulasi udara, penutupan awan, dan aliran serta kedalaman badan air. Perubahan suhu berpengaruh terhadap proses fisika, kimia dan biologi badan air. Suhu juga sangat berperan mengendalikan kondisi ekosistem perairan. Organisme akuatik memiliki kisaran suhu tertentu (batas atas dan bawah) yang disukai bagi pertumbuhannya (Effendi, 2003).
Kisaran suhu lingkungan perairan lebih sempit dibandingkan dengan lingkungan daratan, karena itulah maka kisaran toleransi organisme akuatik terhadap suhu juga relatif sempit dibandingkan dengan organisme daratan Berubahnya suhu badan air besar pengaruhnya terhadap komunitas akuatik.
Naiknya suhu perairan dari yang biasa, karena pembuangan sisa pabrik, misalnya dapat menyebabkan organisme akuatik terganggu, sehingga dapat mengakibatkan komunitasnya berubah (Suin, 2002).
pH
Organisme perairan mempunyai kemampuan berbeda dalam mentolerir pH perairan. Batas toleransi organisme terhadap pH bervariasi dan dipengaruhi banyak faktor antara lain suhu, oksigen terlarut, alkalinitas. Sebagian besar biota akuatik menyukai nilai pH berkisar antara 5,0-9,0 hal ini menunjukkan adanya kelimpahan dari organisme makrozoobenthos, dimana sebagian besar organisme dasar perairan seperti polychaeta, moluska dan bivalvia memiliki tingkat asosiasi terhadap derajat keasaman yang berbeda-beda (Marpaung, 2013).
pH sangat penting sebagai parameter kualitas air karena mengontrol tipe dan laju kecepatan reaksi beberapa bahan air. Selain itu ikan dan makhluk makhluk akuatik lainnya hidup pada selang pH antar 7 – 8,5. Besar pH berkisar dari 0 (sangat asam) sampai dengan 14 (sangat basa/alkalin). Nilai pH kurang dari 7 menunjukkan lingkungan yang asam, nilai di atas 7 menunjukkan lingkungan yang basa (alkalin), dan pH = 7 disebut sebagai netral
(Sitorus, 2008).
DO
Oksigen terlarut digunakan oleh organisme perairan dalam proses respirasi. Secara alami senyawa kimia ini terdapat dalam air laut pada kadar yang sesuai. Perubahan kadar yang terjadi tentu akan mempengaruhi kehidupan organisme yang hidup dalam perairan. Rendahnya kadar oksigen di perairan ini
diduga karena masuknya bahan-bahan organik ke perairan, sehingga memerlukan banyak oksigen untuk menguraikannya. Semakin banyak buangan organik yang ada di dalam air, semakin sedikit sisa kandungan oksigen yang terlarut di dalamnya (Patty, 2015).
Kadar oksigen terlarut juga berflukuasi secara harian (diurnal) dan musiman, tergantung pada pencampuran (mixing) dan pergerakan (turbulence) massa air, aktivitas fotosintesis, respirasi dan limbah (effluent) yang masuk ke badan air (Effendi, 2003).
Kandungan oksigen terlarut mempengaruhi keanekaragaman organisme dalam suatu ekosistem perairan. Perairan dengan kandungan oksigen terlarutnya sebesar 1,0-2,0 ppm maka organisme moluska masih dapat bertahan hidup karena mereka mampu beradaptasi pada kandungan oksigen yang rendah seperti halnya bivalvia dari famili Osteridae pada pasang surut mereka akan menutup cangkang dan melaakukan respirasi anaerob, karena kandungan oksigen yang rendah (Aksornkoae, 1993).
Salinitas
Salinitas dinyatakan dalam satuan g/kg atau promil (‰). Nilai salinitas perairan tawar biasanya kurang dari 0,5‰, perairan payau antara 0,5‰ - 30‰, dan perairan laut 30‰ - 40‰. Pada perairan hipersaline, nilai salinitas dapat mencapai kisaran 40‰ - 80‰. Pada perairan pesisir, nilai salinitas sangat dipengaruhi oleh masukan air tawar dari sungai (Effendi, 2003).
Pola gradien salinitas bergantung pada musim, topografis, pasang surut dan jumlah air tawar yang masuk. Semakin tinggi tingkat penguapan air laut di suatu wilayah, maka salinitasnya semakin tinggi, dan sebaliknya pada daerah yang
rendah tingkat penguapan air lautnya, maka daerah itu rendah kadar garamnya (Nybakken, 1992).
Substrat
Substrat dasar merupakan salah satu faktor ekologis utama yang mempengaruhi struktur komunitas makrozoobenthos. Penyebaran makrozoobenthos dapat dengan jelas berkorelasi dengan tipe substrat.
Makrozoobenthos yang mempunyai sifat penggali pemakan deposit cenderung melimpah pada sedimen lumpur dan sedimen lunak yang merupakan daerah yang mengandung bahan organik yang tinggi. Substrat dasar atau tekstur tanah merupakan komponen yang sangat penting bagi kehidupan organisme. Substrat di dasar perairan akan menentukan kelimpahan dan komposisi jenis dari hewan bentos. Komposisi dan kelimpahan fauna invertebrata yang berasosiasi dengan mangrove berhubungan dengan variasi salinitas dan kompleksitas substrat (Susiana, 2011).
Tipe-tipe substrat berpasir dibagi menjadi dua, yaitu tipe substrat berpasir halus dan tipe substrat berpasir kasar. Tipe substrat berpasir kasar memiliki laju pertukaran air yang cepat dan kandungan bahan organik yang rendah, sehingga oksigen terlarut selalu tersedia, proses dekmposisi di substrat dapat berlangsung secara aerob serta terhindar dari toksik (Nybakken, 1992).
Tekstur tanah merupakan salah satu faktor yang mempengaruhi penyebaran bivalvia karena berkaitan dengan ketersediaan nutrient dalam sedimen. Substrat pada stasiun yang berupa lumpur, dimana substrat berlumpur ini merupakan habitat yang paling disukai oleh bivalvia karena teksturnya halus dan memiliki kadar nutrien yang lebih besar daripada substrat yang bertekstur
kasar. Hal ini dikarenakan zat organik lebih mudah mengendap di partikel yang halus sehingga daerah tersebut kaya akan nutrien dan ini sangat baik bagi kehidupan bivalvia (Febrita et al., 2015).
N-Total
Konsentrasi nitrat di lapisan permukaan yang lebih rendah dibandingkan di lapisan dekat dasar disebabkan karena nitrat di lapisan permukaan lebih banyak dimanfaatkan atau dikomsumsi oleh fitoplankton. Selain itu konsentrasi nitrat yang sedikit leboh tinggi di dekat dasar perairan juga dipengaruhi oleh sedimen.
Di dalam sedimen nitrat diproduksi oleh biodegradasi bahan-bahan organik menjadi amonia yang selanjutnya menjadi dioksidasi menjadi nitrat. Menurut KEPMENLH No 51 (2004) disebutkan bahwa baku mutu konsentrasi nitrat air laut yang layak untuk kehidupan biota air laut adalah 0,008 mg/l.
Sumber utama nitrat di perairan berasal dari dekomposisi organisme, aktivitas pertanian, pertambakan, industri dan rumah tangga. Aktivitas pertanian dan pertambakan banyak menggunakan pupuk yang mengandung unsur N dan P.
Sebagian dari pupuk tersebut kemudian hanyut ke laut melalui aliran sungai dan pada akhirnya menyebabkan variabilitas konsentrasi nitrat secara spasial dan temporal (Faizal et al., 2012).
Salah satu fungsi dari ekosistem muara yaitu sebagai perangkap zat hara seperti nitrat, fosfat, dan bahan organik yang berasal dari perairan disekitarnya.
Nitrat di perairan merupakan makro nutrien yang mengontrol produktivitas primer di daerah eufotik. Kadar nitrat di perairan sangat dipengaruhi oleh asupan nitrat dari badan sungai. Sumber utama nitrat berasal dari buangan rumah tangga dan pertanian termasuk kotoran hewan dan manusia. Nitrit di perairan biasanya
ditemukan dalam jumlah sedikit karena bersifat tidak stabil. Senyawa nitrit yang terdapat di perairan merupakan hasil reduksi senyawa nitrat atau oksidasi amonia oleh mikroorganisme dan berasal dari hasil ekskresi fitoplankton. Fosfat merupakan nutrisi yang esensial bagi pertumbuhan suatu organisme perairan, namun tingginya konsentrasi fosfat di perairan mengindikasikan adanya zat pencemar. Senyawa fosfat umumnya berasal dari limbah industri, pupuk, limbah domestik dan penguraian bahan organik lainnya (Makmur et al., 2012).
Fosfat
Zat hara merupakan zat-zat yang diperlukan dan mempunyai pengaruh terhadap proses dan perkembangan hidup organisme. Zat hara yang umum menjadi fokus perhatian di lingkungan perairan adalah nitrat dan fosfat. Kedua unsur ini memiliki peran vital bagi pertumbuhan fitoplankton atau alga yang biasa digunakan sebagai indikator kualitas air dan tingkat kesuburan suatu perairan (Utami et al., 2016). Menurut KEPMEN-LH No 51 (2004), dapat dilihat bahwa baku mutu kandungan fosfat dalam air laut untuk kebutuhan biota laut adalah 0,015 mg/l.
Fosfor di perairan dan sedimen berada dalam bentuk senyawa fospat terlarut dan fospat partikulat. Fospat terlarut terdiri dari fospat organik (gula fospat, nukleo protein, fosfoprotein) dan fospat anorganik (ortofospat dan polifospat). Keberadaan fospat di perairan akan terurai menjadi senyawa ion dalam bentuk H2PO4-, HPO42- , dan PO43- , kemudian akan diabsorbsi oleh fitoplankton dan masuk ke dalam rantai makanan (Amien, 2015).
Fosfat unsur ini terdapat dalam perairan alami dalam jumlah yang sangat sedikit dan berperan sebagai senyawa mineral dan senyawa organik, bila
jumlahnya meningkat itu akan berbahaya bagi biota aquatik yang hidup dalam perairan tersebut. Memang secara alami lingkungan perairan memiliki kadar phospat 10 % dan 90 % sisanya bersumber dari aktifitasmanusia seperti, buangan limbah industri, domestik, dan kegiatan lainnya. Bila kadar phospat di dalam perairan tinggi akan menyebabkan masalah eutrofikasi “ketersediaan nutrient yang berlebihan” (Dewi, 2003).
C-Organik
Bahan organik adalah kumpulan beragam senyawa-senyawa organic kompleks yang sedang atau telah mengalami proses dekomposisi, baik berupa humus hasil humufikasi maupun senyawa hasil mineralisasi, termasuk mikroba heterotrofik dan ototrofik yang terlibat. Bahan organik biasanya disusun dari komponen karbon (C), hidrogen (H), dan oksigen (O) bersama-sama dengan nitrogen (N). Seringkali juga ditemukan adanya fosfor (P), belerang (S), dan besi (Fe) (Habibi et al., 2014).
METODE PENELITIAN
Waktu dan Tempat Penelitian
Penelitian ini dilaksanakan pada Bulan Juni - Juli 2019 di Perairan Pantai Pendaratan Desa Jaring Halus Kecamatan Secanggang Kabupaten Langkat Sumatera Utara. Desa Jaring Halus terletak pada 3º51'30"-3º59'45" LU dan 98º30'-98º42' BT dengan ketinggian ± 1 m dpl. (Gambar 2). Identifikasi bivalvia dilakukan di Laboratorium Lingkungan Perairan Program Studi Manajemen Sumberdaya Perairan Fakultas Pertanian Universitas Sumatera Utara. Pengukuran parameter fisika dan kimia perairan dilakukan langsung di lapangan dan analisis Sampel substrat di lakukan di laboratorium PPKS (Pusat Penelitian Kelapa Sawit) Medan.
Gambar 2. Peta Lokasi Penelitian
Alat dan Bahan
Alat dan bahan yang digunakan dalam peneltian ini adalah sebagai berikut:
Tabel 1. Alat dan bahan penelitian
No Nama Alat dan Bahan Satuan Keterangan Alat
1 Global position system (gps) Menentukan titik koordinat
2 Termometer oC Mengukur suhu
3 Ph mter Mengukur ph air
4 DO meter mg/l Mengukur DO air
5 Secchi disk Cm Mengukur kecerahan air
6 Meteran gulung M Mengukur panjang plot
7 Botol sampel air Menyimpan sampel air
8 Kamera digital Dukumentasi penetian
9 Buku Identifikasi bivalvia Mengidentifikasi jenis bivalvia
10 Alat tulis Mencatat hasil penetilian
11 Refraktometer Ppt Mengukur salinitas air 12 Timbangan analitik G Menimbang biomassa Bahan
1 Sampel Bivalvia Bahan utama peneltian
2 Sampel air Menguji nitrat dan fosfat
3 Sample substrat Menguji kandungan C-Organik
4 Kertas label Menandai sampel bivalvia
5 Aquadest Mencuci bivalvia
6 Tissu Membersihkan alat penelitian
Deskripsi Setiap Stasiun Pengamatan Stasiun I
Lokasi ini merupakan daerah yang banyak mengalami aktivitas rumah tangga dan langsung berbatasan dengan laut. Stasiun ini berada pada titik koordinat 098°34"11' BT dan 03°56"53' LU Dapat dilihat pada Gambar (3)
Gambar 3. Lokasi Stasiun I Stasiun II
Stasiun ini tidak ditemukan adanya kegiatan masyarakat.Lokasi ini berada pada koordinat 098°34"15' BT dan 03°56"55' LU. Dapat dilihat pada Gambar 4.
Gambar 4. Lokasi Stasiun II
Stasiun III
Stasiun ini terjadi pemanfaatan ekosistem mangrove dan merupakan daerah nelayan meletakkan bubu untuk menangkap kepiting bakau dan mencari kerang-kerangan. Stasiun ini berada pada titik koordinat 098°34"17' BT dan 03°56"51' LU dapat dilihat pada Gambar 5.
Gambar 5. Lokasi Stasiun III Prosedur Penelitian
Metode yang digunakan dalam penentuan lokasi adalah purposive sampling yang dibagi menjadi 3 stasiun berdasarkan keterwakilan karakteristik yang berbeda di lokasi penelitian. Pemilihan stasiun didasarkan karena adanya perbedaan aktivitas yang ada di Pantai Pandaratan Desa Jaring Halus.
Pengukuran Parameter Fisika dan Kimia Perairan
Pengukuran parameter fisika dan kimia perairan dilakukan pada saat pasang. Pengukuran parameter fisika dilakukan secara in situ yang terdiri dari Suhu (oC), kecerahan (cm), kedalaman (cm). Pengukuran parameter kimia yang diukur secara in situ terdiri pH, Oksigen terlarut (mg/l), salinitas (ppt) dan pengukuran kimia yang dilakukan secara ex situ terdiri dari nitrat (mg/l) dan fosfat (ppm) dan pengukuran parameter substrat dilakukan secara ex situ terdiri dari tekstur substrat (%) dan C- Organik (%).
Pengambilan Sampel Bivalvia
Pengambilan sampel bivalvia dilakukan dengan metode kuadrat/plot berpetak dengan menempatkan kuadrat secara sistematis menurut garis transek.
Panjang transek adalah 10 meter dengan ukuran kuadrat 1 m x 1 m. Banyaknya plot yang digunkan pada setiap stasiun transek adalah 3 plot. Jarak dari plot 1 ke plot lain ialah 3 meter. Jumlah transek dalam satu habitat adalah 3 transek, sehingga jumlah keseluruhan plot dalam satu lokasi adalah 9 plot berbeda Identifikasi Bivalvia
Identifikasi bivalvia dilakukan dengan mengamati bivalvia yang di dapat di setiap plot dengan mengamati bentuk morfologi dari bivalvia dan idetifikasi jenis bivalvia dilakukan dengan menggunakan buku identifikasi.
Analisis Data
Data yang diperoleh kemudian diolah dengan menghitung kepadatan populasi, Indeks diversitas/keanekaragaman Shannon-Wiener, Indeks Keseragaman, Indeks dominansi, analisis Indeks Storet dan analisis Kurva ABC (Abundance and Biomass Comparison) dengan persamaan sebagai berikut:
Kepadatan Populasi (K)
Kepadatan populasi (K) bivalvia didefinisikan sebagai jumlah individu bivalvia per satuan luas (m2). Contoh bivalvia yang telah diidentifikasi dihitung kepadatannya dengan formula menurut Fachrul (2007) sebagai berikut :
Keterangan :
Ki : Kepadatan bivalvia (individu/m2)
ni : Jumlah individu dari spesies ke-i (individu) A : Luas area pengamatan (m2)
Kepadatan Relatif (KR)
Kepadatan relatif (KR) adalah perbandingan kepadatan jenis bivalvia ke-i dengan jumlah total seluruh jenis bivalvia menurut Fachrul (2007) sebagai berikut
( ) x 100%
Keterangan:
KR : Kelimpahan relatif ni : Jumlah individu ke-i N : Jumlah seluruh individu
Indeks Keanekaragaman (H’)
Indeks keanekaragaman menggambarkan keadaan bivalvia secara matematis agar memudahkan dalam mengamati keanekaragaman populasi dalam suatu komunitas. Dalam perhitungan ini digunakan indeks diversitas Shanon- Wiener menurut Fachrul (2007) yaitu :
∑
Keterangan :
H' = Indeks Diversitas
pi = Jumlah individu masing-masing jenis (i=1,2,3,..) n = Jumlah jenis
Ln = Logaritma nature
Pi = Σ i/𝑁 (Perbandingan jumlah individu suatu jenis dengan keseluruhan jenis) Keterangan nilai H’:
H’ < 1 : Keanekaragaman jenis rendah
H’ > 3 : Keanekaragaman jenis tinggi
Indeks Keseragaman
Keseragaman (Eveness) dapat dikatakan keseimbangan yaitu komposisi individu tiap spesies yang terdapat dalam suatu komunitas. Rumus indeks seseragaman menurut Fachrul (2007) yaitu sebagai berikut:
Keterangan :
E : Indeks keseragaman H’ : Indeks keanekaragaman S : Jumlah spesies
Dengan kriteria sebagai berikut :
e > 0,4 : keseragaman populasi kecil 0,4 > e > 0,6 : keseragaman populasi sedang e < 0,6 : keseragaman populasi tinggi
Indeks keseragaman berkisar antara nol sampai satu, semakin mendekati nol semakin kecil keseragaman populasi, artinya penyebaran jumlah individu setiap spesies tidak sama dan kekayaan individu yang dimiliki masing masing spesies sangat berbeda. Semakin mendekati nilai satu, maka penyebarannya cenderung merata dan kemerataan antara spesies relatif merata atau jumlah individu masing-masing spesies relatif sama.
Indeks Dominansi (C)
Untuk melihat ada tidaknya dominansi oleh jenis tertentu pada bivalvia maka digunakan indeks dominansi Simpson menurut Fachrul (2007) yang dihitung dengan menggunakan persamaan:
∑[ 𝑁⁄ ]
Keterangan :
C : Indeks dominansi Simpson ni : Jumlah individu tiap jenis N : Jumlah total individu i : 1,2,……37 dan seterusnya Dengan kategori indeks dominansi :
C mendekati 0 ( C < 0,5) : tidak ada jenis yang mendominansi C mendekati 1 ( C > 0,5) : ada jenis yang mendominansi
Penentuan Status Mutu Air dengan Metode STORET (Strorage and Retrieval)
Nilai parameter fisika dan kimia perairan yang diperoleh dibandingkan dengan kriteria mutu air dalam Peraturan Pemerintah Nomor 82 Tahun 2001 tentang Pengelolaan Kualitas Air dan Pengendalian Pencemaran Air. Metode Storet dapat digunakan untuk mengetahui parameter-parameter yang telah memenuhi atau melampaui baku mutu air. Penentuan status mutu air ini didasarkan pada analisis parameter fisika dan kimia. Untuk mengetahui seberapa jauh contoh air tersebut diketahui baik atau tidaknya nilai dengan metode Storet.
Hasil analisis kimia percontohan air kemudian di bandingkan dengan baku mutu yang sesuai dengan pemanfaatan air. Kualitas air dinilai berdasarkan kriteria metode storet untuk mengklasifikasikan mutu air dalam empat kelas yang dapat dilihat pada tabel 2.
Tabel 2. Penentuan Status Mutu Air dengan Indeks Storet
Kelas Skor Kriteria
A 0 Memenuhi Baku Mutu
B -1 s/d -10 Tercemar Ringan
C -11 s/d -30 Tercemar Sedang
D ≥ -30 Tercemar Berat
Sumber: Walukow (2010)
Penentuan status mutu air dengan menggunakan metode Storet dilakukan dengan langkah-langkah sebagai berikut.
1. Membandingkan data hasil pengukuran dari masing-masing parameter air dengan nilai baku mutu yang sesuai dengan kelas air.
2. Jika hasil pengukuran memenuhi nilai baku mutu (hasil pengukuran < baku mutu) maka diberi skor 0.
3. Jika hasil pengukuran tidak memenuhi baku mutu air (hasil pengukuran >
baku mutu) maka diberi skor Dilihat pada tabel 3.
Tabel 3. Penetapan Sistem Nilai untuk Menentukan Status Mutu Perairan
Jumlah Percontohan Nilai Parameter
Fisika Kimia
Maksimum -1 -2
< 10 Minimum -1 -2
Rata-rata -3 -6
Maksimum -2 -4
≥ 10 Minimum -2 -4
Rata-rata -6 -12
Sumber: Walukow (2010)
Analisis Kurva Abundance and Biomass Comparison (ABC)
Menurut Khaeksi et al (2015), analisis kurva ABC digunakan untuk mengetahui kondisi perairan dengan menganalisis jumlah total individu per satuan luas dan biomassa (berat kering) total per satuan luas. Kurva ABC (Abundance and Biomass Comparison) dapat dilakukan dengan rumus sebagai berikut
( ) ( ) ( ) ( )
( ) ( )
x 100%
( )
x 100%
Metode kurva ABC (Abundance and Biomass Comparison) digunakan untuk mengetahui kondisi lingkungan dengan menganalisis jumlah total individu persatuan luas (kelimpahan) dan berat persatuan luas dari komunitas bivalvia (Warwick, 1986 diacu dalam Khaeksi et al., 2015).
Menurut Khaeksi et al (2015), berdasarkan kurva ABC yang diperoleh, status perairan dan kualitas bivalvia dapat diklasifikasikan menjadi tiga katagori, yaitu:
1. Baik, apabila jika kurva biomassa per satuan luas berada di atas kurva jumlah individu per satuan luas.
2. Sedang, apabila jika kurva biomassa per satuan luas dan kurva jumlah individu per satuan luas saling tumpah tindih.
3. Buruk, apabila jika kurva biomassa per satuan luas berada di bawah kurva jumlah individu persatuan luas.
HASIL DAN PEMBAHASAN
Hasil
Bivalvia yang ditemukan di Pantai Pendaratan Desa Jaring Halus diperoleh sebanyak 456 individu terdiri dari 4 famili dan 4 spesies. Pada stasiun I ditemukan sebanyak 4 spesies dengan jumlah 152 individu, stasiun II ditemukan sebanyak 4 spesies dengan jumlah 156 individu dan pada stasiun III ditemukan sebanyak 4 spesies dengan jumlah 148 individu. Komposisi bivalvia dapat dilihat pada tabel 4.
Tabel 4. Komposisi Bivalvia Pada Masing-Masing Stasiun Penelitian
No Jenis Bivalvia Nama Lokal Stasiun
I II III
1 Mactra grandis - + + +
2 Tellina remies Tiram + + +
3 Meretrix meretrix Kepah + + +
4 Anadara granosa Kerang Batu + + +
Jumlah 4 4 4
Keterangan : (+) ditemukan;
Analisis Bivalvia
Kepadatan Populasi (K)
Kepadatan populasi Bivalvia menunjukkan pada stasiun II mempunyai nilai kepadatan (K) tertinggi yaitu 52 ind/m2, diikuti stasiun I dengan nilai kepadatan 51 ind/m2 sedangkan nilai kepadatan terendah terdapat pada stasiun III dengan nilai 49 ind/m2. Berdasarkan jumlah bivalvia yang diperoleh pada setiap stasiun penelitian, diperoleh nilai kepadatan populasi seperti tertera pada gambar 7.
Gambar 7. Kepadatan Populasi Bivalvia
Kepadatan Relatif (KR)
Nilai kepadatan relatif (KR) tertinggi terdapat pada stasiun I dan terendah pada stasiun II dengan yang paling banyak didapatkan selama penelitian adalah Meretrix meretrix dan spesies yang paling sedikit ditemukan adalah Anadara granosa. Berdasarkan jumlah bivalvia yang diperoleh pada setiap stasiun penelitian, diperoleh nilai kepadatan populasi seperti tertera pada tabel 5.
Tabel 5. Kepadatan Relatif Bivalvia
No Jenis Bivalvia Jumlah
Kepadatan Relatif (%) Stasiun
I
Stasiun II
Stasiun III
1 Mactra grandis 122 17,11 36,54 26,35
2 Tellina remies 103 27,63 10,90 29,73
3 Meretrix meretrix 161 40,79 37,82 27,03
4 Anadara granosa 70 14,47 14,74 16,89
Jumlah 100% 100% 100%
48 49 49 50 50 51 51 52 52 53
STASIUN 1 STASIUN 2 STASIUN 3
IND/M²
Indeks Keanekaragaman (H´), Keseragaman (E) dan Dominansi (C) pada setiap Stasiun Penelitian
Analisis keanekaragaman bivalvia dapat ditentukan dengan menggunakan Indeks Keanekaragaman Shannon-Wienner. Nilai indeks keanekaragamn (H´) berkisar antara 0,38-1,11 termasuk dalam kategori rendah , nilai Indeks Keseragaman (E) berkisar antara 0,88-0,93 dengan kategori tinggi dan nilai Indeks Dominansi (C) berkisar antara 0,27-0,38 termasuk dalam kategori tidak ada jenis yang mendominasi. Nilai Indeks Keanekaragaman (H´), Indeks Keseragaman (E) dan Indeks Dominansi (C) bivalvia pada setiap stasiun dapat dilihat pada tabel 6.
Tabel 6. Indeks Keanekaragaman (H´), Indeks Keseragaman (E) dan Indeks Dominansi (C)
Stasiun H´ E C
I 1.11 0.89 0,38
Kategori Sedang Tinggi Tidak Ada yang
Mendominasi
II 0,89 0,93 0,37
Kategori Rendah Tinggi Tidak Ada yang
Mendominasi
III 0,38 0,88 0,27
Kategori Rendah Tinggi Tidak Ada yang
Mendominasi
Parameter Lingkungan Perairan
Berdasarkan hasil pengamatan nilai rata-rata parameter lingkungan pada Pantai Pendaratan Desa Jaring Halus Kabupaten Langkat dapat dilihat pada tabel 7.
Tabel 7. Parameter Lingkungan Perairan yang didapatkan Selama Penelitian
Tekstur Substrat Perairan Pantai Pendaratan Desa Jaring Halus
Dari hasil penelitian yang diperoleh bahwa hasil tekstur substrat yaang didapat pada Pantai Pendaratan Desa Jaring Halus Kecamatan Secanggang Kabupaten Langkat yaitu lempung berpasir. Hasil analisis substrat dapat dilihat pada tabel 8.
Tabel 8. Analisis Substrat Dasar Stasiun C-Organik
(%)
Fraksi
USDA Pasir (%) Debu (%) Liat (%)
I 0,9 86 7 7 Lempung
Berpasir
II 0,42 86 7 7 Lempung
Berpasir
III 0,52 80 15 5 Lempung
Berpasir
Sifat Fisika dan Kimia Pantai Pendaratan Desa Jaring Halus Berdasarkan Metode Storet
Sifat fisika dan kimia Pantai Pendaratan Desa Jaring Halus Kecamatan Secanggang Kabupaten Langkat dihubungkan dengan metode Storet dengan pemanfaatan kelas tertinggi adalah kelas C untuk kegiatan pariwisata, diperoleh
Parameter Satuan Baku Mutu
Stasiun Pengamatan
I II III
Fisika
Suhu oC 28-32 27 26 27
Salinitas Ppt s/d 34 27 28 25
Kecerahan cm - 27,33 33,17 22
Kimia
pH - 7-8,5 7,33 7,33 7,33
DO mg/l >5 6,43 6,80 6,87
N total mg/l 0,008 42,26 4,80 3,96
Phospat mg/l 0,015 0,35 0,16 0,07
hasil yaitu untuk stasiun I, Stasiun II dan Stasiun III tercemar sedang. Nilai skor setiap stasiunnya dapat dilihat pada tabel 9.
Tabel 9. Kondisi Fisika dan Kimia Pantai Pendaratan Desa Jaring Halus Berdasarkan Metode Storet
Analisis Kurva Abundance and Biomass Comparison (ABC)
Analisis kualitas air yang ditentukan dengan parameter biologi perairan dapat digambarkan menggunakan kurva ABC. Analisis kurva ABC digunakan untuk mengetahui kondisi lingkungan dengan menganalisis total kepadatan relatif (ind/m²) dan biomassa relatif dari bivalvia (g/m²). Nilai persentase kumulatif kepadatan relatif dan persentase kumulatif biomassa relatif bivalvia pada setiap stasiun yang diperoleh selama penelitian. Stasiun I, jenis jenis bivalvia ranking yang membentuk kurva ABC terdiri 4 jenis yaitu Mactra grandis, Tellina remies, Meretrix meretrix, Anadara granosa. Nilai kepadatan relatif bivalvia berkisar antara 14,47-40,79% dan nilai biomassa relatif bivalvia berkisar antara 12,07-40%
yang akan membentuk nilai persentase kumulatif pada kurva ABC. Hasil kurva ABC menggambarkan stasiun I termasuk katagori perairan yang tercemar sedang karena kurva biomassa per satuan luas dan kurva kepadatan per satuan luas saling tumpang tindih. Hasil kurva ABC stasiun I (Gambar 8).
Parameter Satuan Baku Mutu
Skor
St I St II St III
Suhu oC 28-32 0 0 0
pH - 7-8,5 0 0 0
DO mg/l >5 0 0 0
N-Total mg/l 0,008 -18 -10 -10
Phospat mg/l 0,015 -10 -8 -10
Salinitas ppt s/d 34 0 0 0
Jumlah -28 -18 -20
Gambar 8. Kurva ABC pada stasiun I
Pada stasiun II, jenis jenis bivalvia ranking yang membentuk kurva ABC terdiri 4 jenis yaitu Mactra grandis, Tellina remies, Meretrix meretrix, Anadara granosa.
Nilai kepadatan relatif bivalvia berkisar antara 10,90-37,82% dan nilai biomassa relatif bivalvia berkisar antara 10,14-38,60% yang akan membentuk nilai persentase kumulatif pada kurva ABC. Hasil kurva ABC menggambarkan stasiun II termasuk katagori perairan yang tercemar sedang karena kurva biomassa per satuan luas dan kurva kepadatan per satuan luas saling tumpang tindih. Hasil kurva ABC stasiun II (Gambar 9).
` Gambar 9. Kurva ABC pada stasiun II
05 1015 2025 3035 4045
1 2 3 4
PERSENTASE KUMULATIF (%)
RANGKING
KR BR
0.0 5.0 10.0 15.0 20.0 25.0 30.0 35.0 40.0 45.0
1 2 3 4
PERSENTASE KUMULATIF (%)
RANGKING
KR BR
Pada stasiun III, jenis-jenis bivalvia ranking yang membentuk kurva ABC terdiri 4 jenis yaitu Mactra grandis, Tellina remies, Meretrix meretrix, Anadara granosa.
Nilai kepadatan relatif bivalvia berkisar antara 16,89-29,73% dan nilai biomassa relatif bivalvia berkisar antara 13,69-34,17% yang akan membentuk nilai persentase kumulatif pada kurva ABC. Hasil kurva ABC menggambarkan stasiun III termasuk kategori perairan yang tercemar sedang karena kurva biomassa per satuan luas dan kurva kepadatan per satuan luas saling tumpang tindih. Hasil kurva ABC stasiun III (Gambar 10).
Gambar 10. Kurva ABC pada stasiun III Pembahasan
Komposisi Bivalvia
Hasil penelitian pada stasiun I, II dan III terdapat 4 spesies bivalvia. Pada stasiun I, II, dan III spesies bivalvia yang ditemukan adalah Mactra grandis, Tellina remies, Meretrix meretrix dan Anadara granosa. Bivalvia yang ditemukan berada pada daerah pesisir yang masih dipengaruhi oleh adanya air tawar dari sungai seperti pada stasiun III terdapat 4 jenis. Komposisi bivalvia pada setiap
0.00 5.00 10.00 15.00 20.00 25.00 30.00 35.00 40.00
1 2 3 4
PERSENTASE KUMULATIF (%)
RANGKING
KR BR
stasiun dipengaruhi oleh perbedaan faktor lingkungan yang dibutuhkan untuk kehidupan bivalvia di perairan oleh setiap spesies yang berbeda. Hal ini sesuai dengan Setyono (2006) yang menyatakan kekerangan ada yang hidup di air tawar, darat, maupun di perairan pesisir dan laut. Namun demikian, mayoritas kekerangan hidup di perairan laut, baik di perairan pantai (dangkal) maupun di laut dalam.
Meretrix meretrix adalah spesies yang semuanya ada di keempat stasiun.
Meretrix meretrix hidup di perairan dipengaruhi oleh beberapa faktor lingkungan yang akan mendukung kehidupan Meretrix meretrix salah satunya adalah salinitas. Rendahnya salinitas pada stasiun III tetap mendukung kehidupan dari spesies tersebut. Hal ini sesuai dengan Indraswari et al, (2014) yang menyatakan bahwa Meretrix meretrix dapat ditemukan hidup membenamkan diri pada substrat berpasir, mulai dari tepi pantai hingga masuk sekitar 300 m ke badan sungai dengan kisaran salinitas perairan antara 1‰ hingga 30‰.
Kepadatan Populasi (K) dan Kepadatan Relatif Bivalvia (KR)
Secara keseluruhan nilai total kepadatan tertinggi bivalvia yang ditemukan pada setiap stasiun penelitian terdapat pada stasiun II dengan total nilai kepadatan sebesar 52 ind/m2, total kepadatan terendah terdapat pada stasiun III yaitu sebesar 48 ind/m2. Hal ini sesuai dengan Simangunsong (2010) yaitu potensi kerang di suatu perairan dapat dilihat dari kelimpahan, sebaran jenisnya. Adapun kelimpahan, sebaran dan keragaman jenis spesies tersebut dipengaruhi oleh karakteristik habitat seperti kondisi perairan dan jenis substrat. Habitat memiliki peranan penting bagi kelangsungan hidup biota perairan. Selain sebagai tempat hidup, habitat berperan sebagai tempat berkembang biak dan pemasok makanan.
Oleh karena itu kondisi suatu habitat memiliki pengaruh yang besar terhadap kestabilan komunitas yang ada di dalamnya. Selanjutnya Nybakken (1992) mengatakan bahwa bivalvia tersebar di perairan pesisir seperti estuari, dengan dasar perairan lumpur bercampur pasir. Beberapa diantaranya hidup pada substrat yang lebih keras seperti lempung, kayu atau batu, air tawar serta sedikit yang hidup di daratan seperti, mussels (kepah), clamp (kerang) dan tiram yang merupakan anggota Bivalvia yang hidup di laut.
Nilai kepadatan tertinggi terdapat pada stasiun II dengan nilai 52 ind/m2 dapat dikategorikan bahwa kepadatan kerang di Pantai Pendaratan Desa Jaring Halus khususnya pada stasiun II tergolong maksimum. Hal ini sesuai dengan Apriliani (2012) bahwa kerang dengan kepadatan 50-100 ind/m2 disebut kepadatan maksimum.
Nilai kepadatan relatif di setiap stasiun bervariasi, nilai tertinggi terdapat pada stasiun I yaitu 40,79% dengan jenis Meretrix meretrix dan yang terendah yaitu terdapat pada stasiun II dengan spesies Tellina remies dengan nilai 10,09%
dan stasiun III Anadara granosa dengan nilai 16,89%. Nilai kepadatan relatif yang rendah menunjukkan bahwa stasiun II tidak sesuai untuk kehidupan Tellina remies dan stasiun III tidak sesuai untuk Anadara granosa. Menurut Barus (2004), kepadatan relatif merupakan proporsi dari jumlah total individu suatu jenis yang terdapat pada seluruh sampling area. Sedangkan frekuensi kehadiran merupakan nilai yang menyatakan jumlah kehadiran suatu jenis dalam sampling plot yang ditentukan. Suatu habitat dikatakan sesuai dengan perkembangan suatu organisme apabila nilai KR > 20%.
Indeks Keanekaragaman (H´), Keseragaman (E) dan Dominansi (C) pada setiap Stasiun Penelitian
Dari Hasil perhitungan nilai indeks keanekaragaman (H´) selama tiga kali pengamatan diperoleh nilai indeks keanekaragaman berkisar antara 0,38-1,11.
Keanekaragaman bivalvia pada stasiun I tergolong keanekaragaman sedang, pada stasiun II tergolong rendah dan pada stasiun III tergolong rendah Nilai indeks keanekaragaman pada stasiun I sebesar 1,11 stasiun II sebesar 0,89 dan stasiun III sebesar 0,38. Hal ini sesuai dengan Fitrianti (2014) bahwa H’ < 1 : Keanekaragaman jenis rendah, 1 < H’ < 3 : Keanekaragaman jenis sedang.
Dari ketiga stasiun nilai H’ yang didapatkan dapat dijadikan sebagai pendugaan bagaimana kondisi perairan tersebut. Pada stasiun I yaitu 1,11 dapat diduga bahwa kondisi perairan berpolusi berat dikarenakan pada stasiun I merupakan dekat dengan pemukiman penduduk yang padat. Pada stasiun II yaitu dan 0,89 berada pada laut daerah peralihan antara air tawar dan air laut dan pada stasiun III yaitu 0,38 dapat diduga dengan kondisi perairan berpolusi rendah dikarenakan berada pada muara sungai. Hal ini sesusai dengan Setyono (2006) yang menyatakan kategori H’ terhadap kondisi perairan yaitu nilai H’ 1,0 - 2,0 : polusi sedang; 0,0 - 1,0: polusi berat. Selanjutnya Dahuri et al, (1996) menjelaskan bahwa muara sungai merupakan daerah peralihan antara air tawar dan air laut, kerang darah biasanya lebih banyak dijumpai pada daerah yang lebih jauh dari muara sungai karena muara sungai merupakan daerah yang paling banyak terkena dampak dari ke tiga faktor yaitu bahan pencemar dan kegiatan perikanan yang mengeksploitasi kerang secara berlebihan.