Spesies bambu di TWA Gunung Baung
Dari hasil penelitian diketahui terdapat tujuh spesies bambu yang ada di lokasi penelitian. Ketujuh spesies tersebut adalah Bambuasa blumeana, Bambusa
vulgaris, Dendrocalamus asper, Schizostachyum iraten, Gigantochloa. atter,
Gigantochloa apus. Terdapat satu spesies bambu yang sangat sedikit jumlahnya,
ANALISIS FAKTOR EKOLOGIS EDAFIK Sifat Fisik Sifat Kimia KLIMATIK Kelembaban mikro Suhu mikro Intensitas cahaya mikro TOPOGRAFI Ketinggian Kelerengan PREFERENSI HABITAT Faktor Lingkungan yang mendukung penyebaran populasi
Bambu ASPEK PEMANFAATAN TUMBUHAN DAN BAMBU (ICS)
Keragaman jenis bambu,
struktur populasi dan kelimpahan bambu
INP
DATA HASIL IDENTIFIKASI (DI LAPANGAN &
HERBARIUM) ANALISIS VEGETASI
Topik/ masalah penelitiann
Rancangan penelitian Studi literatur HASIL PENELITIAN ANALISIS BIOPROSPEKSI Analisis PCA Analisis Kluster Analisis CCA KOLEKSI DATA
yakni Dinochloa matmat yang merupakan spesies bambu merambat. Berikut ini pertelaan dari spesies bambu tersebut.
Bambusa blumeana Blume ex. Schult
B. blumeana atau dikenal dengan bambu duri (Indonesia), pring Ori
(Jawa), pring gesing. Bambu ini banyak terdapat di Jawa. Tumbuh baik di daerah yang lembab, di sepanjang sungai, dan juga di daerah kering. Rumpun simpodial, tegak dan padat, karena percabangannya yang berduri rapat. Rebung bambu ini berwarna jingga, tertutup bulu coklat. Tinggi buluh mencapai 25 m, berduri. Buluh muda diselimuti lapisan lilin putih dengan bulu coklat tersebar, tetapi ketika tua menjadi gundul dan berwarna hijau mengilap. Panjang ruas 25-30 cm dan berdiameter 5-10 cm.
Gambar 7 Rumpun B. blumeana
Pelepah buluh mudah luruh dan tertutup bulu coklat, kuping pelepah buluh kecil, bercuping melebar kadang berkeriput hingga dasar daun pelepah buluh, dengan panjang buluh kejur mencapai 12 mm. Ligula bertangkai rendah, lebih kurang 3 mm dengan bulu kejur panjangnya 5-6 mm. Daun pelepah buluh tegak dan pada ruas bagian atas berkeluk balik. Daun agak berbulu pada bagian bawah, kuping pelepah buluh kecil dengan panjang bulu yang pendek mencapai 3 mm; ligula menggergaji dan menggerigi, tinggi mencapai 5 mm jika dengan bulu kejur mencapai 2 mm.
Bambusa vulgaris Schrad ex Wendl
Bambu ini dicirikan oleh rumpun yang simpodial, tegak dan tidak terlalu rapat. Rebung berwarna hijau, tertutup oleh bulu coklat kehitaman. Buluh setinggi kurang lebih 12 m, dengan diameter 5,4-7,5 cm, panjang ruas 24-28 cm dan tebal buluh mencapai 7-15 mm. Buluh muda berwarna kuning bergaris-garis hijau.
Gambar 8 (a) percabangan, (b) pelepah buluh, dan (c) perawakan B. vulgaris
Dendrocalamus asper (Roem.& Schult.f.) Backer ex Heyne
Bambu ini dikenal dengan nama lokal bambu petung. Widjaja (1995) menggambarkan, bahwa bambu petung mempunyai tipe perakaran yang simpodial, dengan rumpun yang cukup rapat. Tinggi buluh mencapai 20-30 m, diameter pangkal 20-30 cm dengan panjang ruas 40-60 cm. Dinding buluh cukup tebal 11-38 mm dan pelepah daunnya jatuh, dengan panjang pelepah 20-25 cm serta memiliki cabang primer yang lebih besar dari cabang lainnya dan lebih dominan.
Gambar 9 (a) percabangan (b) buluh dan pelepah buluh, dan (c) perawakan D. asper
Bambu betung memiliki warna batang hijau kekuning-kuningan dengan ukuran yang lebih besar daripada jenis yang lainnya, warna miang coklat muda
a
b c
a
keputih-putihan dan pada batas-batas bukunya terdapat akar-akar pendek menggerombol yang memungkinkan untuk ditanam secara stek.
Schizostachyum iraten Steud
S. iraten dikenal dengan nama lokal bambu wuluh. Bambu ini merupakan
spesies bambu yang dimanfaatkan untuk membuat seruling. Sebagian masyarakat mengenalnya sebagai bambu suling. Bambu ini merupakan spesies bambu dengan diameter buluh yang kecil. Rumpun bambu rapat, dengan tipe perakaran yang simpodial. Buluh bambu tegak, terkulai di bagian ujungnya. Diameter buluh 20- 50 mm, dengan tinggi buluh mencapai 6 m. Dinding buluh tipis, panjang, dan berwarna hijau. Panjang ruas pada buluh berukuran 70-120 cm.
Percabangan muncul pada seperempat bagian terbawah dari panjang buluh. Daun pelepah buluh persisten, panjang berukuran 20-28 cm, dengan bulu halus berwarna coklat. Aurikel berukuran 7 mm. Panjang ligula pada pelepah buluh adalah 7 mm. Daun-selubung di permukaan licin dan bersilia. Daun-blade dasar dengan koneksi tangkai-seperti singkat ke sarungnya. Daun berbentuk pisau lanset, dengan panjang 15-45 cm, dan lebar 15-90 mm.
Gambar 10 (a) pelepah buluh, (b) percabangan, dan (c) perawakan S. iraten
Gigantochloa atter (Hassk.) Kurz
G. atter dikenal dengan nama lokal bambu atter. Bambu ini banyak
tumbuh di Jawa dan beberapa daerah lain di Indonesia. Habitat bambu ini adalah daerah lembab dan kering, juga dataran rendah hingga dataran tinggi. rebung bambu atter berwarna hijau hingga keunguan, tertutup oleh bulu hitam. Tinggi buluh mencapai 2 m. Percabangan tumbuh jauh dari permukaan tanah, satu cabang latteral lebih besar dari cabang lainnya, dan ujungnya yang melengkung. Buluh muda dengan bulu hitam tersebar, gundul ketika tua dan hijau hingga hijau tua. Ruas panjangnya mencapai 50 cm, diameter 5-10 cm, dengan dinding tebal yang mencapai 8 mm. Daun pelepah tertutup bulu hitam, mudah luruh, kuping pelepah buluh membulat atau membulat dengan ujung melengkung keluar, tinggi 3-7 mm, dengan panjang bulu kejur mencapai 6 mm, ligula menggerigi, tinggi 3-6
a
mm, gundul. Daun pelepah buluh terkeluk balik, menyegitiga dengan pangkal sempit.
Gambar 11 (a) bunga dan (b) percabangan pada G. atter
Gigantochloa apus
G. apus dikenal dengan nama lokal bambu tali. Persebaran bambu ini
meliputi Jawa, tumbuh meliar juga di Taman Nasional Alas Purwo dan Meru Betiri. Rumpun bambu ini simpodial, rapat dan tegak. Rebung hijau tertutup bulu coklat dan hitam. Tinggi buluh mencapai 22 m dan lurus. Percabangan sekitar 1,5 m dari permukaan tanah, terdiri atas 5-11 cabang, satu cabang latteral lebih besar daripada cabang lainnya, dan ujung bulu melengkung. Buluh muda tertutup bulu coklat tersebar, tetapi luruh ketika sudah tua dan berwarna hijau. Panjang ruas 20- 60 cm, dengan diamatter 4-15 cm, dengan tebal dinding mencapai 15 mm.
Gambar 12 (a) Pelepah buluh dan (b) percabangan pada G. apus
Pelepah buluh tidak mudah luruh, tertutup bulu hitam atau coklat, kuping pelepah buluh seperti bingkai, dengan tinggi 1-3 m. Panjang bulu kejur mencapai 7 mm, ligula menggerigi dengan tinggi 2-4 mm, gundul. Daun pelepah buluh terkeluk balik, menyegitiga dengan pangkal sempit. Bagian bawah permukaan daun agak berbulu, kuping pelepah daun kecil dan membulat, tinggi 1-2 mm, gundul; ligula rata dengan tinggi 2-4 mm dan gundul.
D. matmat
D. matmat merupakan salah satu spesies bambu yang merambat. Bambu ini
dikenal dengan nama lokal bambu matmat. Bambu ini merupakan bambu
a b
sympodial, dengan panjang ruas bambu 15 cm, dengan diameter sekitar 6-20 mm, dengan batang buluh yang padat atau berrongga, umumnya permukaannya agak kasar yang ditutup oleh bulu berwarna putih. Beberapa percabangan pada setiap ruas, tunas cabang primer aktif, tetapi perpanjangan terutama ketika ujung batang bambu rusak.
Gambar 13 (a) percabangan, (b) ruas buluh, dan (c) perawakan D. matmat
Pelepah buluh berukuran 9 - 10 x 3,5 – 4 cm, pada ujung pelepah buluh terjadi penyempitan sekitar 2-3 mm dengan bentuk melancip, dengan rambut pucat, terutama dibagian pangkal pelepah, rambut lebih banyak. Pelepah buluh menyempit pada bagian pangkal bawah, dengan lebar 1-3 mm, berkerut, tertutup oleh rambut putih. Tidak ada cuping pada pelepah, panjang ligula 1 mm. Daun berukuran 9-19 (24) x 2-3 (5.5) cm, halus, sedikit berrambut, tipis dan berbentuk memanjang (lanciolate). Perbungaan spikelets dengan bunga bagian terbawah berkembang terlebih dahulu, dan panjangnya sekitar 60-75 cm. Lemma tipis dan
berrambut, panjang 1 mm, lebar 2 mm. Palea 3 x 3 mm, tipis dan berrambut
(Dransfield dan Widjaja 2000). Bambu matmat ini masih belum banyak dimanfaatkan oleh masyarakat. Sejauh ini masyarakat menggunakan sebagai tumbuhan hias.
Struktur populasi
Secara teoritis dikenal tiga struktur populasi yang dapat ditemukan dalam pertumbuhan suatu organisme. Pemisahan ini umumnya didasarkan pada tingkatan umur organisme, yaitu struktur populasi menurun, stabil dan muda (Wirakusumah 2003). Struktur populasi ideal digambarkan oleh bentuk kurva berbentuk J terbalik, di mana secara berurut jumlah individu permudaannya lebih banyak dari pada strata dewasanya.
a b
Bambu merupakan jenis tumbuhan yang tidak memiliki pusat titik tumbuh pertumbuhan sekunder, yang umumnya berlainan dengan tumbuhan lain, di mana sebagian memiliki sebagai pusat pertumbuhan sekunder. Oleh karenanya, pertambahan umur bambu tidak dapat diukur dengan pertambahan diameter batang. Pertumbuhan tanaman dari masa muda ke dewasa menunjukan pola tunas baru tumbuh dengan meningkatkan garis tengah (diameter) rumpun, sehingga pendekatan struktur ukuran populasi bambu, salah satunya ditetapkan dengan
perhitungan diameter lingkar rumpun bambu (Hakim et.al 2002). Struktur
populasi bambu dalam kajian ini diuraikan menurut fase pertumbuhan berdasarkan kriteria pertumbuhan bambu. Fase pertumbuhan yang dimaksud meliputi fase bambu muda, sedang dan dewasa.
Struktur populasi bambu di kawasan TWA Gunung Baung ditunjukkan oleh Gambar 14. Berdasarkan pengkategorian struktur populasi bambu menunjukkan bahwa bambu di kawasan ini berada pada masa struktur populasi muda.
Gambar 14 Struktur Populasi Bambu di TWA Gunung Baung, Purwodadi. Kelas A = diameter rumpun bambu < 5 m, B = diameter rumpun bambu 5-10 m, C = diameter rumpun bambu > 10 m
Berdasarkan hasil penelitian menunjukkan bahwa umumnya bambu yang tumbuh berada pada kelas A dan B, sedangkan untuk kelas C tidak terdapat sama sekali untuk semua spesies bambu yang ada (Gambar 14). Kelas A menunjukkan bahwa bambu termasuk dalam pengkategorian umur muda, di mana perkembangan diameter akan terus bertambah, sedangkan fase B merupakan fase dewasa, yang akan berlanjut hingga akhirnya bambu mati. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa bambu yang terdapat di TWA Gunung Baung menurun pada kelas B. B. blumeana merupakan spesies bambu yang memiliki pertumbuhan yang paling pesat dibandingkan dengan spesies bambu lainnya di kawasan ini. Jumlah bambu muda (kelas A) pada spesies bambu ini memiliki perbandingan 4,7:1 terhadap kelas reproduktifnya (kelas B). Hal ini merupakan penciri struktur populasi stadia muda. Spesies bambu lainnya, meliputi B. vulgaris, D. asper G. apus, dan G. atter hanya memiliki pertumbuhan pada fase A. Keempat spesies bambu ini memiliki persentase yang sedikit di kawasan TWA Gunung Baung, yakni tidak mencapai 5%.
Struktur populasi bambu di Gunung Baung banyak terdapat pada kelas A, lalu menurun pada kelas B dan tidak ada sama sekali pada kelas C. Kecuali pada bambu dominan B. blumeana memiliki kelas B dengan persentasi sebanyak 22%
dari fase anakannya. B. blumeana merupakan bambu yang memiliki struktur
populasi ideal di kawasan ini. Terjadinya struktur populasi yang berlimpah pada fase muda diduga disebabkan oleh faktor lingkungan tempat tumbuh. Tingginya
B. blumeana yang berada pada stadia muda diduga berkaitan dengan lingkungan
tumbuh yang sangat cocok dengan spesies bambu ini. Faktor edafik sangat berpengaruh signifikan terhadap kecepatan pertumbuhan bambu. Bambu merupakan jenis tumbuhan yang menyukai cahaya (Bitariho 2008). Pertumbuhan bambu cenderung lebih banyak berada di areal terbuka dengan intensitas cahaya yang lebih banyak, sehingga memungkinkan untuk membentuk suatu komunitas bambu yang luas. Kondisi ini sesuai dengan pernyataan Sutiyono (1999) yang menyatakan bahwa pertumbuhan bambu sangat dipengaruhi oleh keadaan iklim terutama faktor cahaya, suhu, curah hujan, dan kelembaban.
Permudaan tanaman bambu juga berkaitan erat dengan penyebarannya di alam. Seperti diketahui bahwa bambu mempunyai ruas dan buku, pada ruasnya tumbuh cabang-cabang yang ukurannya jauh lebih kecil dibandingkan dengan buluhnya sendiri. Pada ruas-ruas ini pula dapat tumbuh akar sehingga pada bambu dimungkinkan untuk memperbanyak diri dengan potongan-potongan batangnya. Selain dengan potongan batang, bambu memperbanyak diri dengan tunas-tunas akar rimpangnya atau dikenal dengan rebung.
Sistem perkembangan dasar rumpun bambu yang cenderung melebar oleh bertambahnya jumlah batang/rumpun setiap tahunnya menyebabkan bertambahnya lingkar rumpun, yang selanjutnya akan berpengaruh terhadap kerapatan rumpun. Kerapatan rumpun merupakan perbandingan jumlah batang/ rumpun dengan lingkar rumpun (Sutiyono 2007). Jarak antar rumpun berpengaruh terhadap kerapatan bambu. Hal ini berkaitan dengan pengaruh penetrasi cahaya yang masuk ke dalam rumpun bambu. Jarak antara rumpun bambu yang semakin lebar menyebabkan pencahayaan semakin efisien dalam memanfaatkan unsur hara untuk pertumbuhan dan perkembangan sistem perakaran dasar rumpun bambu.
Bambu marga Bambusa, Gigantochloa dan Dendrocalamus memiliki
rumpun yang rapat. Pendekatan pengukuran struktur populasi pada ketiga marga
bambu ini dianggap sama. Sedangkan S. iraten merupakan spesies bambu
berdiameter buluh kecil, sehingga pendekatan pengukuran struktur populasi dibedakan dengan spesies bambu lainnya. Namun demikian, dasar argumentasi dan hasil penelitian mengenai perkembangan vegetasi rumpun bambu ini belum banyak diketahui, sehingga kelas kategori untuk kerapatan bambu ini masih dilakukan dengan pendekatan yang sama.
Jumlah maupun jenis vegetasi dalam suatu kawasan juga dapat merupakan gambaran tingkat asosiasi suatu jenis tumbuhan dengan jenis tumbuhan lainnya. Umumnya TWA Gunung Baung di dominasi oleh bambu, sehingga dapat dikatakan bahwa keberadaan rumpun bambu memiliki tingkat asosiasi yang rendah terhadap spesies lain. Seperti halnya yang dikemukakan oleh Heyne (1987), bambu merupakan rumput raksasa yang tumbuh besar dan tinggi, berkembang biak mengambil area yang cukup luas dan tidak akan ada tumbuhan lain yang akan hidup di bawahnya jika tumbuhan ini berkembang besar. Hal ini tampak pada hasil pengamatan yang menunjukkan bahwa di kawasan Blok
Perlindungan yang umumnya didominasi bambu, memiliki nilai indeks keragaman yang lebih rendah dibanding dengan kawasan Blok Rehabilitasi.
Kelimpahan
Kelimpahan bambu dalam uraian ini diletakkan pada kelimpahan menurut spesies bambu yang ditemui di kawasan penelitian. Parameter yang digunakan untuk menjelaskan kelimpahan jenis adalah menurut jumlah rumpun dan Indeks Nilai Penting (INP). Samingan (1978) mengemukakan bahwa populasi merupakan kelompok kolektif organisme-organisme daripada jenis yang sama yang menduduki ruang/tempat tertentu. Besarnya populasi dapat diketahui melalui kerapatan populasi dalam hubungannya dengan bagian satuan ruangan. Umumnya kerapatan populasi dinyatakan dalam jumlah individu atau biomassa populasi, per satuan areal atau volume, banyaknya pohon atau individu per hektar.
Kerapatan populasi atau kerapatan tanaman memberikan gambaran ketersediaan dan potensi tanaman di areal tersebut. Nilai kerapatan tanaman umumnya dinyatakan dalam banyaknya individu per hektar. Menurut Soerianegara dan Indrawan (1998), dominasi suatu jenis terhadap jenis lain di dalam suatu tegakan dapat dinyatakan melalui berbagai besaran salah satunya adalah Indeks Nilai Penting (INP), yang merupakan hasil penjumlahan 2 atau lebih nilai-nilai nisbi (KR, FR dan DR) dengan nilai maksimum 300 %, sehingga akan didapatkan nilai yang lebih representatif dan akurat. Untuk menetapkan nilai penting /dominasi suatu jenis terhadap jenis lain dalam tegakan diperlukan nilai kerapatan relatif (KR), yaitu persen jumlah individu jenis terhadap jumlah individu semua jenis. Salah satu fisiognomi bambu pada sisi wilayah TWA Gunung Baung, adalah pada Gambar 15.
Gambar 15 Fisiognomi bambu pada bagian Utara-Selatan TWA Gunung Baung Kelimpahan spesies bambu di setiap blok yang ada dikawasan TWA Gunung Baung berlainan satu dengan yang lainnya. Hal ini dikarenakan setiap blok yang ada sudah memiliki fungsi masing-masing. Dari tujuh spesies bambu
yang ditemukan di Gunung Baung, spesies D. matmat tidak diuraikan secara
terbatas yakni tidak sampai 1%. Indeks Nilai Penting bambu di setiap blok di kawasan TWA Gunung Baung, ditunjukkan pada Gambar 16.
Gambar 16 Indeks Nilai Penting (INP) bambu pada blok kawasan di TWA Gunung Baung
B. blumeana merupakan spesies bambu dengan INP paling tinggi mencapai
127,97%. Adanya INP tertinggi menggambarkan struktur bambu di kawasan ini termasuk ke dalam habitat alaminya, tanpa ada aspek pemanfaatan atau gangguan
dari manusia. Menurut Muller dan Ellenberg (1974 dalam Setiadi 2005)
dikemukakan bahwa komposisi bervegetasi hutan alami yang telah terbentuk dalam jangka panjang akan memperlihatkan fisiognomi, fenologi dan daya regenerasi yang lambat dan cenderung mantap, sehingga dinamika floristik komunitas hutan tidak terlalu nyata dengan dan menyolok. Dalam konteks ini pergantian generasi atau regenerasi spesies seakan-akan tidak tampak, akibatnya jarang dijumpai spesies tertentu yang kemudian muncul dominan, karena semua spesies telah beradaptasi dalam jangka waktu yang lama.
Hasil perhitungan jumlah populasi rumpun bambu dan indeks nilai penting enam spesies bambu menunjukkan bahwa B. blumeana memiliki jumlah individu paling banyak INP paling tinggi diantara semua spesies bambu, bahkan diantara
semua spesies tumbuhan dalam komunitas bambu di Gunung Baung. B. blumeana
merupakan spesies bambu yang memiliki kerapatan dan dominansi yang tinggi. Suatu jenis tumbuhan dapat merupakan jenis tumbuhan indikator apabila memiliki nilai INP yang tinggi, terutama dibandingkan dengan nilai INP tertinggi kedua dan seterusnya. Dominansi merupakan pengukuran nilai jumlah spesies per luas basal area dari tanaman tersebut. Secara ekologi nilai penting diperlihatkan oleh suatu spesies, merupakan indikasi bahwa spesies yang bersangkutan dianggap dominan pada kondisi habitat tersebut. Parameter kemelimpahan bambu di TWA Gunung Baung ditunjukkan pada Tabel 4.
Tabel 4 Parameter kemelimpahan bambu dominan B. blumeana Parameter LOKASI Blok Perlindungan (Konservasi) Blok Rehabilitasi Blok Pemanfaatan Terbatas Blok Pemanfaatan Intensif Kerapatan 0,0070 0,0023 0,0003 0,0001 Frekuensi 0,8850 0,4000 0,0667 0,0333 Dominansi 0,0703 0,0317 0,0050 0,0006 Kerapatan relatif (%) 72,4806 21,5385 3,1250 0,6667 Frekuensi relatif (%) 53,7994 27,2727 3,1746 1,5873 Dominansi relatif (%) 1,6881 0,3647 0,1100 0,0061 Indeks Nilai Penting (%) 127,9681 49,1759 6,4096 2,2601 Indeks Keragaman Shannon (H') 0,3366 0,4771 0,1563 0,0482
Parameter kemelimpahan B. blumeana yang diamati di TWA Gunung
Baung diperlihatkan Tabel 4. Paremeter kemelimpahan pada Blok Perlindungan menunjukkan nilai tertinggi dibandingkan pada blok lainnya. Fenomena ini mengarah pada adanya preferensi habitat dari B. blumeana, yang diduga berada di daerah terbuka, menyukai cahaya, berada pada kelerengan dan kemiringan tertentu yang ditemui di kawasan ini.
Parameter ekologi tumbuhan secara kuantitatif dapat diketahui melalui jumlah individu jenis tumbuhan yang ditemui pada plot pengamatan. Jumlah inidividu spesies akan menentukan kerapatan dan kepadatan spesies tersebut pada suatu area. Tabulasi jumlah rumpun bambu pada setiap blok di TWA Gunung Baung, ditunjukkan pada Gambar 17.
Gambar 17 Jumlah rumpun bambu pada setiap blok di kawasan TWA Gunung Baung
B. blumeana merupakan spesies bambu yang memiliki jumlah rumpun
paling banyak dibandingkan bambu lainnya. Berdasarkan keterangan jumlah rumpun yang ditemui pada setiap blok di kawasan TWA Gunung Baung (Gambar 17), menunjukkan bahwa Blok Perlindungan adalah area dengan jumlah bambu yang terbanyak, yaitu B. blumeana dengan jumlah 460 rumpun, pada luasan area plot teramati adalah 8 ha. Dengan demikian rata-rata jumlah rumpun bambu ini pada kawasan TWA Gunung Baung adalah 57,5 individu ha-1 atau 57,5 rumpun
ha-1. Blok Perlindungan merupakan area yang memiliki unsur kimia tanah fosfor dan kalium yang paling tinggi dibandingkan blok lainnya. Seperti diketahui bahwa unsur fosfor merupakan unsur kimia tanah yang sangat diperlukan pada pertumbuhan tanaman, khususnya suku Poaceae, diantaranya bambu. Pada Poaceae, unsur ini sangat signifikan terhadap pertumbuhan, terutama berkaitan dengan sifat batang yang kokoh dan tegak serta tidak mudah rebah (Sofiah 2005). Jumlah rumpun tertinggi kedua setelah B. blumeana adalah S. iraten, dengan jumlah 58 rumpun atau 7 rumpun ha-1.
Bambu pada Blok Pemanfataan Terbatas hanya sedikit, yakni 3 rumpun B.
blumeana dan 2 rumpun G. atter (pada luasan area 1,2 Ha). Blok Pemanfaatan
Intensif terdapat 18 rumpun spesies bambu D. asper dan 23 rumpun untuk spesies
bambu G. atter, sedangkan pada Blok Rehabilitasi terdapat 14 rumpun B.
blumeana dan 16 rumpun G. atter. Populasi suatu jenis tumbuhan merupakan
interaksi jenis tumbuhan tersebut dengan faktor biotik dan abiotiknya. Secara alami, adanya perbedaan jenis dan populasi bambu pada setiap blok di kawasan TWA, Gunung Baung dapat dipengaruhi oleh faktor lingkungan fisik maupun edafiknya.
Karakteristik Habitat Faktor Edafik
Berdasarkan peta tanah, seluruh kawasan Gunung Baung dikategorikan pada dua (2) jenis tanah, yakni Latosol Coklat Kemerahan dan Mediteran Kemerahan. Tanah latosol adalah tanah bersolum dalam, mengalami pencucian dan pelapukan lanjut, berbatas horizon baur, kandungan mineral primer dan unsure hara rendah, konsistensi gembur dengan stabilitas agregat kuat dan terjadi penumpukan relative seskuioksida di dalam tanah akibat pencucian silikat. Warna tanah merah, coklat kemerahan, coklat, coklat kekuningan atau kuning tergantung bahan induk. Di Indonesia ditentukan terutama di daerah volkanik baik berasal dari tufa maupun batuan beku. Tanah latosol coklat kemerahan, tanah yang belum begitu lanjut perkembangannya, terbentuk dari tufa vulkan andesitis – basaltis, tingkat kesuburannya rendah – cukup, mudah meresapkan air, tahan terhadap erosi, tekstur halus. Tanah di kawasan ini berasal dari batuan kwarter tua dengan bahan induk berupa batu endapan metamorf. Tingkat pelapukan mineral pada jenis tanah ini umumnya memiliki pelapukan yang lebih lanjut. Hal ini berkaitan dengan proses oksidasi yang lebih intensif terutama pada lereng yang lebih curam. Dan pada tanah latosol memiliki jenis mineral liat haloisit hidrat.
Berdasarkan dari hasil penelitian, kemiringan lereng di kawasan Gunung Baung berkisar antara 1% sampai dengan 60%, yang menunjukkan bahwa terdapat variasi kelerengan yang cukup besar. Namun umumnya spesies bambu dominan B. blumeana berada pada kawasan bagian atas perbukitan, atau berada pada kelerengan sekitar 20-50%. Pada tanah-tanah dengan kelerengan yang terjal umumnya proses oksidasi berlangsung lebih intensif, sehingga faktor iklim seperti curah hujan, akan berpengaruh terhadap pelapukan yang lebih lanjut. Jenis tanah latosol memiliki sifat tanah yang baik yaitu tekstur liat berdebu hingga lempung berliat, struktur granular dan remah, kedalaman efektif umumnya > 90 cm dan tahan terhadap erosi, serta sifat kimia tanah pada dasarnya tergolong baik dengan kemasaman tanah (pH) agak netral serta kandungan bahan organik biasanya
rendah atau sedang. Adanya perkembangan jenis batuan induk membentuk karakteristik tanah yang ada di atasnya. Faktor edafik yang secara langsung