BAB III: PENDIDIKAN ETIKA BERBASIS PENGALAMAN:
F. Hasil dari Pendidikan Etika Alternatif yang Diajukan
berbagai kegiatan dengan harapan bisa membentuk kepribadian anak yang humanis dan bertanggung jawab baik pada dirinya sendiri, teman, serta lingkungannya. Dengan demikian, ukuran keberhasilan SALAM dikembalikan
kepada tujuan tersebut. Inilah saatnya kita melihat hasil dari proses pendidikan yang sudah diupayakan oleh SALAM.
Saya berkenalan pertama kali dengan anak-anak SALAM pada observasi pertama yang saya lakukan pada hari Senin, 24 maret 2014. Pada waktu itu saya masuk ke kelas empat yang kemudian pada tahun ajaran baru saya dampingi bersama Mbak Hepi. Anak-anak tersebut bersikap baik dan terbuka kepada saya dan seorang teman dari kampus lain yang juga ingin mengadakan penelitian di SALAM. Mereka mendengarkan perkenalan diri dari kami kemudian menanyakan soal jurusan apa yang kami ambil dan apa saja yang kami pelajari selama ini.
Perkenalan dengan anak-anak SALAM semakin berlanjut ketika saya ikut menjadi fasilitator di SALAM dari bulan Juli sampai Desember 2014. Selama enam bulan di SALAM, saya banyak bersentuhan dengan anak-anak kelas lima dan kelas enam yang mayoritas sudah lama bersekolah di SALAM bahkan ada yang sudah sejak dari TA. Segala kebiasaan dan dinamika SALAM seharusnya sudah melekat pada diri anak-anak yang sudah lama bersekolah di SALAM tersebut.
Anak-anak SALAM cukup kritis dalam menanggapi cerita-cerita dari fasilitator maupun cerita teman-temannya. Hal ini nampak misalnya saat Imung yang merupakan anak pindahan dari sekolah berbasis agama menceritakan pengalamannya tentang cara sekolahnya dulu mengajarkan kedisiplinan kepada para muridnya. Berikut adalah cerita Imung:33
Ya kalau sekolahku dulu itu berangkat jam 7.15 sudah harus sampai di sekolah. Kalau misalnya pas upacara telat, itu nanti buat barisan sendiri.
Terus nanti untuk kelas 1 ngumpulin sampah 10, sampai kelas enam itu 60. Itu tergantung kelasnya. Padahal itu sudah bersih ngak ada sampah, jadi susah kan nyarinya.
Cerita Imung itu ditanggapi oleh teman-temannya dengan pertanyaan-pertanyaan seperti kenapa disuruh ngumpulin sampah kalau sekolahannya sudah bersih dan kalau tujuannya untuk membersihkan lingkungan kenapa tidak semua anak disuruh dan seterusnya. Anak-anak SALAM memang banyak mengajukan pertanyaan dan tanggapan yang kadang tidak terpikirkan sebelumnya oleh para fasilitator.
Berkaitan dengan pembentukan karakter melalui berbagai kegiatan yang sengaja diadakan oleh SALAM, Satiti anak kelas enam menyampaikan pendapatnya sebagai berikut:34
Ya kan itu, misalnya suruh buang sampah itu, terus suruh ngantri. Terus misalnya ngak sopan sama orang aja kita dibilangin bukan malah mulutnya disamplak atau gimana. Anak kecil itu lebih seneng digituin daripada dihukum. Kalau dihukum dia malah tambah ngeyel.
Pendapat Satiti tersebut kemudian ditambahi oleh Lange yang juga murid kelas enam sebagai berikut:35
Kita modelnya kesepakatan sama konsekuensi. Ini bukannya hukuman, tapi apa yang kita perbuat itu adalah tanggung jawab kita.
Waktu saya menanyakan lebih lanjut apakah mereka juga mempraktikkan kebiasaan-kebiasaan tersebut di rumah masing-masing, anak-anak tersebut mengatakan mereka juga melakukannya di rumah tetapi memang masih
bolong-bolong, belum konsisten. Keberadaan pembantu rumah tangga atau orangtua yang
tidak mengingatkan mereka kadang membuat anak-anak tersebut tidak
34 Wawancara dengan Satiti tanggal 17 Februari 2015
mempraktikkan kebiasaan-kebiasaan yang tersebut di rumah. Satiti mengungkapkan pengalamannya sejak ibunya hamil dan ada pembantu rumah tangga di rumah sebagai berikut:36
Biasanya aku nyuci, beresin kasur tapi kemudian mikir ah Mbak Har masuk kok. Mikirnya jadi kayak gitu. Terus aku inget-inget lagi. Maksudnya oh iya dulu ngak ada mbak Har, aku ngak kayak gini, gitu. Jadi kadang ngak dilakukan tapi kalau pas ingat ya dilakukan.
Cara mendidik orangtua dan kebiasaan di rumah memang turut berpengaruh besar bagi karakter anak-anak SALAM. Satiti memiliki pemikiran demikian karena hasil didikan ayahnya. Dalam wawancara yang saya lakukan dengannya, ia sering mengatakan “bapakku ngajarinnya kayak gitu”. Betapa besar
pengaruh didikan orangtua ke anak juga pernah saya jumpai dari cerita salah satu teman fasilitator saya. Ketika saya sedang tidak masuk sekolah, ada mahasiswa dari sebuah universitas ingin mengadakan penelitian kepada anak-anak kelas enam SALAM. Anak-anak diberi kuesioner yang berisi ilusterasi peristiwa kemudian diminta memberi tanggapan atau sikap yang diambil ketika berhadapan dengan peristiwa tersebut. Ada satu pertanyaan soal bagaimana jika suatu ketika kamu naik bis dan ketika sedang duduk nyaman kemudian ada ibu hamil yang tidak mendapat tempat duduk? Apa yang akan kamu lakukan? Teman fasilitator saya mengatakan bahwa ada salah satu anak yang mengatakan bahwa ia akan cuek saja karena kedua orangtuanya mengajarkan bahwa urusan orang lain itu bukan urusan saya. Dari cerita teman saya itu saya melihat bahwa selain didikan orangtua itu juga memberikan pengaruh yang besar, ternyata privatisasi itu memang sangat nyata di sekitar kita.
Berkaitan dengan kenyataan seperti itu, Pak Toto memang memberikan catatannya bahwa SALAM memang hanya mampu menyumbangkan berapa persen saja dalam upaya pembentukan karakter anak-anaknya. Karakter anak-anak SALAM itu tidak hanya ditentukan oleh proses yang berlangsung di SALAM saja. Lingkungan di luar SALAM pun turut berpengaruh terhadap karakter anak-anaknya seperti yang diungkapkan oleh Pak Toto:37
Tapi jangan lupa bahwa karakter itu tidak hanya... emm mereka kan tidak hanya hidup di SALAM. Nah, makanya SALAM hanya menyumbangkan sekian persen terhadap pembentukan karakter. Kecuali kalau dia sudah 24 jam di sini, kan ngak ya.
Dengan demikian memang masih ada cukup banyak tantangan yang perlu dihadapi oleh SALAM. Proses negosiasi dan evaluasi yang di SALAM terhadap segala aspek yang melingkupi keseluruhan dinamika pendidikannya akan saya uraikan dalam sub bab selanjutnya.