BAB III: PENDIDIKAN ETIKA BERBASIS PENGALAMAN:
D. Konsep Pendidikan Etika yang Diajukan oleh SALAM
Berangkat dari pandangannya terhadap realitas pendidikan etika arus utama di atas, maka pengurus SALAM kemudian berkeinginan untuk mewujudkan sebuah pendidikan yang keseluruhan dinamikanya mulai dari kegiatan belajar-mengajar dan berbagai kegiatan lainnya berdiri atas tujuan dan metode yang seirama yaitu ingin mengantar anak-anaknya menjadi manusia yang
humanis. Pendidikan etika yang diterapkan di SALAM kemudian tidak memisahkan antara pengajaran akademik dengan moral dan juga tidak disampaikan melalui mata pelajaran seperti Pendidikan Agama, Pendidikan Kewarganegaraan dan semacamnya. Di SALAM sendiri memang tidak menggunakan pembagian materi yang diajarkan dalam rupa berbagai mata pelajaran seperti di sekolah lain pada umumnya. Oleh sebab itu, SALAM juga tidak mempunyai jadwal pelajaran yang pasti untuk setiap harinya.
Pendidikan etika di SALAM diberikan melalui keseluruhan dinamika yang berlangsung di sana. Baik sistem pengelolaan sekolah, proses belajar-mengajar dan adanya berbagai kegiatan lainnya sengaja disusun untuk saling mendukung pembentukan etika anak-anak. Hal ini berangkat dari pemaknaan Pak Toto bahwa pendidikan etika itu memang seharusnya diberikan melalui keseluruhan dinamika yang berlangsung di sekolah seperti yang diungkapkannya sebagai berikut:25
Karakter itu kan mestinya akibat dari seluruh proses pergaulan atau proses belajar mengajar yang ada di SALAM. Dari A sampai Z, dari hari pertama sampai hari terakhir.
Kalau tadi ngomong karakter itu lebih pada sikap. Saya kira ya tidak bisa kalau hanya dipelajari tetapi juga harus dilakukan juga di sini. Umpamanya (eee) kenapa anak disuruh bekerja bersama, kenapa di SALAM tidak ada sistem kompetisi. Nah itu kan bagian yang... yang... kalau umpamanya di SALAM ini yang dikedepankan adalah kompetisi, anak itu pasti karakternya akan terpengaruh oleh itu. Jadi karakter ini saya kira bukan mata pelajaran menurut saya. Ini sebetulnya satu pola kehidupan yang coba dibangun bersama di sini. Termasuk bagaimana hubungan orangtua dengan orangtua, orangtua dengan guru dan sebagainya. Saya kira itu akan membangun karakter itu sendiri terhadap semua orang. Sama seperti kenapa mereka belajar berhitung belajar membaca atau belajar apapun harus dari fakta ya dari realita. Supaya apa? supaya mereka kelak tidak akan bicara sesuatu yang tidak ia tahu. Sesuatu yang ngak ada. Harus ada faktanya, harus ada datanya. Saya kira itu, itu kan bagian..bagian dari membangun karakter.
Sama juga kenapa anak harus.. selesai makan harus mencuci piringnya sendiri. Itu kan sumbangan aja sebetulnya. Atau kalau makan bareng itu, coba kalau dia ambil lauknya banyak, anak yang terakhir bisa ngak kebagian lauk kan. Dan jangan lupa bahwa kemiskinan itu terjadi juga karena ada yang serakah. Kita itu mau menyadarkan bahwa kamu itu jangan serakah. Jangan ngambil bagian temanmu. Nah, sekali lagi karakter itu sebetulnya akibat... akibat dari seluruh tidak hanya di pelajaran yang dipelajari aja tetapi dari seluruh proses.
Serangkaian proses belajar dan kegiatan-kegiatan yang berlangsung di SALAM seperti Kesepakatan Kelas, Pasar Tradisional, Piket Harian, Bank Sampah dan Home Visit sengaja diadakan sebagai upaya menghadirkan realita di hadapan anak-anak didiknya dan sekaligus sebagai kesempatan bagi anak-anak didiknya untuk mempraktikkan serangkaian tanggung jawab yang diperkenalkan oleh SALAM. Cara tersebut diambil karena berangkat dari kegelisahan akan pendidikan etika yang lebih bersifat ajaran, wejangan dan nasehat-nasehat yang jauh dari bayangan anak-anak seperti yang diungkapkan oleh Pak Toto sebagai berikut:26
Saya kira itu bagian karena bahwa (eee) tadi upaya-upaya menghasilkan realita itu melalui apa ya Bank Sampah dan sebagainya. Itu kan susah ya, kalau selama ini kan kita sering menghadapi bahwa yang namanya pendidikan itu diterjemahkan sebagai nasihat.
SALAM juga mempunyai motto “jaga diri, jaga teman, jaga lingkungan”
sebagai nilai-nilai dasar yang ingin ditanamkan pada anak-anaknya. Motto tersebut dibuat berangkat dari pemaknaan SALAM soal apa itu kebebasan. Kebebasan yang ingin diperkenalkan kepada anak bukanlah kebebasan di mana yang penting anak senang tetapi kebebebasan yang mengarah pada menanamkan tanggung jawab anak baik terhadap dirinya, orang lain maupun lingkungannya.
Berkaitan dengan motto SALAM tersebut, Pak Toto memberikan uraian sebagai berikut:27
Kalimat itu sendiri kan kalimat anak-anak. Kalimat yang ngak terlalu susah. Artinya hanya sebagai toolnya guru, seorang dewasa ketika menghadapi anak-anak gitu lho. Juga itu hanya akan dibahas ketika ada peristiwa yang terjadi. Ketika tiba-tiba ada anak-anak yang berantem, naa tool itu baru digunakan. Tapi kalau ngak ada peristiwa ya ngak bisa dituntut untuk ayo anak-anak ingat ngak. Ya ngak seperti itu, itu akan selalu diingatkan ketika ada yang terjadi waktu itu. Atau tiba-tiba ada anak yang mau buang sampah sembarangan dan gurunya seorang dewasa memproses, maka toolnya akan berbunyi. Tapi kalau ngak ada peristiwa ya ngak. Artinya ini bukan hapalan. Ini hanya pola aja untuk menjadi alat saling mengingatkan dan anak-anak pun pasti akan melakukan itu. Ketika melihat orang dewasa yang sembarangan dia akan melakukan itu.
Sebenarnya Pak Toto masih ingin mengembangkan alat-alat lain sebagai cara untuk menyampaikan materi belajar maupun pendidikan etika. Salah satu alat yang ingin dikembangkan oleh Pak Toto adalah kesenian. Namun karena masih adanya keterbatasan pengajar maka keinginan tersebut belum dapat terwujud secara maksimal. Selama ini, kesenian baru dimunculkan bersamaan dengan berlangsungnya Pasar Sehat dan Kreatif yang diselenggarakan oleh Forum Orangtua SALAM.