• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB III: PENDIDIKAN ETIKA BERBASIS PENGALAMAN:

E. Praktik Pendidikan Etika yang Dijalankan oleh SALAM

Kita telah melihat pemikiran Pak Toto tentang pendidikan etika yang ingin diterapkan melalui seluruh rangkaian dinamika yang berlangsung di SALAM. Pada sub bab ini saya akan memaparkan lebih jauh mengenai keseluruhan dinamika yang berlangsung di SALAM, mulai dari kegiatan belajar-mengajar dan

kegiatan-kegiatan lainnya yang sengaja diselenggarakan oleh SALAM sebagai bentuk praktik pendidikan etika bagi anak-anak didiknya.

1. Kegiatan Belajar-Mengajar di SALAM

Kegiatan belajar-mengajar di SALAM berlangsung dari hari Senin-Jumat. Untuk hari Senin-Kamis, anak-anak belajar di kelas sesuai dengan rencana pembelajaran yang telah dibuat oleh fasilitator berdasarkan Daur Belajar dan Garis Besar Proses Belajar Mengajar SALAM. Dan untuk hari Jumat, anak-anak melakukan olah tubuh yang biasanya berupa pencak silat, renang atau kegiatan lain sesuai dengan kesepakatan kelas.

SALAM menentukan jam kegiatan belajar-mengajarnya dari pukul 08.00 sampai 13.00. Setiap pagi begitu sampai di sekolah, anak-anak dan fasilitator tidak langsung masuk ke kelas. Sembari menunggu teman lain yang belum datang, biasanya fasilitator mengajak anak-anak membersihkan lingkungan sekitar sekolah. Ada pula yang menyiram tanaman sekaligus mencari buah talok yang matang di halaman sekolah. Setelah selesai bersih-bersih, anak-anak dan fasilitator berkumpul di halaman sekolah untuk berdoa bersama dan mendengarkan arahan atau pengumuman dari Mas Yudhis selaku ketua PKBM. Setelah itu, anak-anak baru masuk ke kelas masing-masing.

Jadi memang proses belajar mengajar baru efektif dimulai sekitar pukul 08.30. Kemudian jam istirahat di SALAM adalah pukul 10.00 sampai 10.30. Setelah istirahat, proses belajar dilanjutkan kembali hingga pukul 12.00. Setelah itu, pukul 12.00 sampai 13.00 dipakai oleh anak-anak dan fasilitator

untuk makan siang bersama. Seusai makan siang, anak-anak diperbolehkan untuk pulang. Namun, biasanya masih ada kegiatan tambahan yang biasa disebut dengan Afterschool atau semacam kegiatan ekstrakurikuler. Afterschool yang disediakan oleh SALAM adalah football, fotografi, menari, les bahasa Jepang dan les bahasa Jawa. Para fasilitator kegiatan Afterschool SALAM adalah para orangtua murid SALAM sendiri.

Materi yang dipelajari di kelas selama kurang lebih 3 jam (8.30-10.00 dan 10.30-12.00) berkaitan dengan langkah-langkah belajar yang termuat dalam Daur Belajar serta indikator yang termuat dalam Garis Besar Proses Belajar Mengajar SALAM. Lebih jauh mengenai konsep Daur Belajar dan Garis Besar Proses Belajar Mengajar serta pelaksanaannya akan saya uraikan dalam sub bab berikut ini.

a. Daur belajar dan Garis Besar Proses Belajar Mengajar SALAM Sesuai dengan prinsip utama SALAM bahwa anak-anak harus belajar dari realita yang mereka lihat dan alami sendiri maka SALAM memulai kegiatan belajar anak-anaknya dengan mengajak mereka melakukan penelitian ke lapangan (riset). Data yang diperoleh dari proses riset tersebut kemudian diolah bersama dalam kegiatan belajar selanjutnya. SALAM mempunyai daur belajar yang digunakan sebagai pedoman untuk menyusun perencanaan, pelaksanaan dan evaluasi riset. Daur Belajar yang dipakai oleh SALAM dapat kita lihat pada gambar 3.4 di bawah ini:

Gambar 3.4 Daur Belajar SALAM

Sumber: Draf Garis Besar Proses Belajar Sekolah SALAM 2013

Sesuai dengan gambar di atas ada lima langkah dalam proses daur belajar SALAM. Langkah pertama adalah rencanakan, yaitu proses dimana fasilitator bersama dengan anak-anak merencanakan riset yang akan mereka lakukan. Anak-anak membuat daftar pertanyaan yang ingin mereka ajukan ketika melakukan riset ke lapangan. Selain itu dipersiapkan pula peralatan, pembagian kelompok dan kesepakatan-kesepakatan bersama berkaitan dengan pelaksanaan riset.

Langkah kedua adalah lakukan, yaitu proses di mana anak-anak

melakukan riset yang sudah mereka rencanakan. Inilah langkah di mana anak berjumpa dengan lingkungan riil yang mempunyai banyak hal untuk dipelajari. Pengalaman ini dianggap sebagai titik tolak proses selanjutnya.

Langkah ketiga adalah ungkap data, yaitu proses di mana anak-anak

dialaminya. Anak-anak juga diminta memberikan tanggapan atau kesan mereka atas pengalaman tersebut, termasuk pengalaman secara menyeluruh apa yang telah dilakukan/dialami anak-anak.

Langkah keempat adalah menganalisis, yaitu proses di mana

anak-anak menganalisis hal-hal yang sudah mereka jumpai melalui riset yang telah mereka lakukan. Langkah ini menjadi tahap di mana anak-anak bisa diajak untuk mengkaji dan mengurai data yang sudah mereka peroleh bersama teman-teman dan fasilitator.

Langkah kelima adalah simpulkan, yaitu proses di mana anak-anak

belajar merumuskan makna dari realitas yang telah dijumpai sebagai suatu pemahaman atau pengertian baru yang utuh. Langkah terakhir ini bertujuan untuk mengantar anak pada langkah puncak yaitu anak bisa memutuskan dan melaksanakan tindakan-tindakan baru berdasarkan hasil pemahaman dan pengertian dari langkah kelima tersebut. Diharapkan anak bisa membuat realitas-realitas baru dari hasil analisis dan refleksinya.

Daur belajar dengan lima langkah tersebut dipilih karena urutan prosesnya memungkinkan bagi setiap anak untuk mencapai pemahaman dan kesadaran akan realitas yang ia pelajari. Daur belajar tersebut dinilai tepat dengan tujuan pendidikan SALAM yang ingin agar anak-anaknya belajar dari realitas yang ia temui dan alami sendiri.

Dalam mengawal proses belajar mengajar, para fasilitator dipandu oleh acuan yang diberikan oleh SALAM. Acuan itu berupa Garis Besar Proses Belajar Mengajar yang pada tahap selanjutnya akan dijabarkan oleh

fasilitator sebagai silabus. Pak Toto menyatakan bahwa Garis Besar Proses Belajar Mengajar dirumuskan oleh Komite Pendidikan SALAM yang terdiri dari semua pihak yang terkait dengan pendidikan SALAM seperti para pengurus, fasilitator dan wakil dari forum orangtua SALAM (FORSALAM).28 Garis Besar Proses Belajar Mengajar SALAM dapat dilihat pada gambar 3.5 di bawah ini:

Gambar 3.5 Garis Besar Proses Belajar Mengajar di SALAM

Sumber: Draf Garis Besar Proses Belajar Sekolah SALAM 2013 Garis Besar Proses Belajar Mengajar tersebut dipakai untuk jenjang SD dan SMP SALAM, yang membedakan adalah indikator pada setiap jenjang. Fokus utama dari proses belajar di kelas satu sampai tiga SD SALAM adalah anak mampu menguasai angka dan huruf melalui peristiwa-peristiwa nyata. Belajar memahami angka dan huruf ini adalah langkah supaya siswa bisa belajar membaca yang tersirat di lingkungannya. Oleh sebab itu, belajar membaca dan berhitung sedari awal pun sudah dimulai melalui pengalaman nyata. Untuk anak kelas empat ke

atas, anak diharapkan semakin mampu dalam penguasaan angka dan huruf untuk memperluas pengetahuan, wawasan dan perspektif serta memperdalam sikap juga mengasah kemampuan dan keterampilan.29

Dari riset yang telah dilakukan, anak-anak kemudian mempelajari ilmu hayat, ilmu bumi, ilmu alam, ilmu sosial dan teknologi. Alasan penggunaan penggolongan ilmu yang telah diterapkan pada sekolah jaman dulu dan bukannya mata pelajaran seperti yang kita kenal saat ini yaitu karena penggolongan ilmu seperti itu dianggap sudah tepat oleh Pak Toto. Soal penggolongan ilmu-ilmu tersebut dijelaskan oleh Pak Toto sebagai berikut:30

Ilmu hayat menyangkut pengenalan mereka tentang kehidupan, apakah itu yang berlangsung pada diri manusia maupun pada binatang dan tumbuh-tumbuhan. Ilmu bumi dan ilmu alam lebih dekat pada pengenalan mereka akan medan alam semesta tempat di mana manusia khususnya bertempat tinggal bersama makhluk-makhluk lainnya. Adapun ilmu sosial mereka hayati dan pelajari dengan mencermati dan merasakan hubungan-hubungan antar individu dan kelompok, baik di dalam lingkungan sekolah SALAM maupun di lingkungan sekitar SALAM.

b. Pelaksanaan Daur Belajar dan Garis Besar Proses Belajar Mengajar di SALAM

Proses pembelajaran di SALAM memang berdasar dari riset yang sudah disepakati. Saya mengalami sendiri proses belajar-mengajar di SALAM sewaktu saya ikut menjadi fasilitator pada Semester Ganjil, TA 2014/2015. Pada waktu itu, saya menjadi fasilitator kelas lima bersama Heppy Hendaryani atau yang lebih akrab disapa Mbak Hepi. Mbak Hepi

29 Ibid, hlm. 113. 30 Ibid, hlm. 115.

sudah lebih lama bergabung dengan SALAM. Sebelum mengadakan riset, kami membuat perencanaan dengan berpatokan pada target dasar belajar kelas lima yang telah ditentukan pada awal semester sebagai berikut:

Gambar 3.6 Target dasar belajar kelas lima semester 1 tahun ajaran 2014/201531

Sumber: Draf Garis Besar Proses Belajar Sekolah SALAM 2013

Saya sempat membandingkan indikator yang termuat dalam target belajar SALAM tersebut dengan indikator belajar untuk kelas lima di sekolah arus utama. Ternyata indikator SALAM yang termuat dalam target belajar hampir sama dengan indikator belajar di sekolah arus utama. Mas Yudhis menyatakan bahwa kesamaan indikator tersebut merupakan wujud negosiasi SALAM terhadap pendidikan arus utama. SALAM berupaya

31

Catatan untuk target dasar konteks sosial dan alam yang tertera pada gambar 3.6, saya tambahkan sendiri karena pada draf yang kami terima dulu ada kesalahan penulisan di mana konteks untuk kelas lima ternyata sama dengan konteks kelas 4. Konteks sosial dan alam yang saya tambahkan sesuai dengan draf perubahan yang diberikan oleh Pak Toto.

materi yang dipelajari anak-anaknya tidak ketinggalan dengan materi yang dipelajari oleh anak-anak di sekolah kebanyakan.

Berdasarkan draf target dasar belajar yang kami terima tersebut, kami kemudian menyusun rencana riset yang akan dipergunakan untuk proses belajar satu semester. Riset sendiri tidak hanya dilakukan sekali tetapi bisa beberapa kali sesuai kebutuhan. Berdasarkan dokumentasi fasilitator kelas lima tahun lalu, kami mendapatkan gambaran riset yang telah dijalankan pada semester sebelumnya. Mereka dulu mengadakan riset tubuh sebagai pintu masuk untuk belajar soal proses produksi, distribusi, konsumsi, kesehatan tubuh dan hitung-hitungan.

Untuk semester ini, kami memutuskan untuk berangkat dari konteks sosial terlebih dulu. Oleh sebab itu, kami memutuskan untuk mengajak anak-anak melakukan riset ke museum. Museum yang kami pilih adalah museum Sonobudoyo dengan alasan peninggalan di museum Sonobudoyo cukup lengkap dari peninggalan masa Pra Sejarah, Hindu-Budha, dan juga Islam. Di sana juga banyak koleksi hasil budaya dari berbagai daerah seperti wayang, topeng, dan senjata serta permainan tradisional.

Sebelum melakukan kunjungan dan riset, anak-anak dan fasilitator mendiskusikan soal persiapan yang dibutukan untuk riset. Anak-anak mengajukan daftar pertanyaan yang ingin mereka ajukan atau ingin mereka ketahui ketika di museum. Riset ke museum Sonobudoyo kemudian kami laksanakan pada hari Selasa, 12 Agustus 2014. Pada saat riset di museum, anak-anak diminta memilih satu benda yang informasinya

ingin mereka ketahui lebih lanjut. Ada tujuh anak yang kemudian memilih benda berbeda, yaitu Ara memilih ceret perak, Abram memilih tudung saji perak, Oka memilih stempel emas, Rafa memilih prasasti batu, Bayu memilih kepala Dewi Tara, Mikael memilih timbangan emas dan Edward memilih pekinangan dari perak.

Gambar 3.7 Riset ke museum Sonobudoyo oleh anak-anak kelas lima

Sumber: Dokumentasi pribadi

Data-data yang terkumpul dari riset kemudian digunakan sebagai bahan belajar di kelas. Anak-anak diminta untuk mengungkapkan dan menuliskan pengalaman serta data yang ia sudah beroleh untuk dibagikan kepada teman-temannya. Setelah itu mereka juga belajar untuk menganalisis benda-benda tersebut masih digunakan atau tidak di jaman sekarang. Misalnya saja, Abram mengungkapkan bahwa tudung saji saat ini masih digunakan, termasuk di rumahnya. Tetapi tudung saji yang dipakai sekarang tidak terbuat dari perak tetapi ada yang dari plastik atau

bambu. Yang memakai tudung saji juga bukan hanya raja tetapi orang banyak sekarang bisa memakainya.

Namun, pembahasan tidak berhenti di situ saja. Berangkat dari target belajar yang telah diberikan oleh Pak Toto, data anak-anak tentang peninggalan sejarah itu kemudian ditarik ke pembahasan soal sejarah kerajaan-kerajaan Hindu, Budha dan Islam di Indonesia. Jadi anak-anak SALAM tetap belajar kerajaan Majapahit, Sriwijaya, Demak dan lain-lain seperti halnya anak-anak di sekolah kebanyakan. Demikianlah contoh riset dan analisa yang diterapkan di SALAM.

c. Evaluasi kegiatan belajar mengajar di SALAM

Evaluasi kegiatan belajar-mengajar di SALAM pun tidak sama dengan evaluasi di sekolah pada umumnya yang menggunakan sistem ujian semesteran. SALAM melakukan evaluasi kegiatan belajarnya dengan sistem workshop. Pada akhir semester, anak-anak mempresentasikan pemahaman mereka dari proses belajar yang sudah mereka lalui selama satu semester di depan para orangtua, fasilitator dan teman-temannya. Setelah presentasi, para orangtua, fasilitator dan teman-teman yang lain dipersilahkan untuk menanggapi, bertanya atau menambahkan informasi yang berkaitan dengan materi yang sudah dipresentasikan.

Saya pernah mengikuti workshop evaluasi Semester Ganjil, TA 2014/2015 yang dilaksanakan pada hari Rabu, 3 Desember 2014. Pada

orangtua bukan bermaksud untuk menguji anak, tetapi karena para orangtua tidak tahu dan ingin ikut belajar dengan anak-anaknya. Jadi evaluasi yang berlangsung lebih bersifat seperti diskusi terbuka.

Setelah workshop selesai, para fasilitator kemudian menyusun Catatan Fasilitator yang nanti akan dimasukkan ke dalam Rapor. Catatan Fasilitator berisi tentang catatan proses belajar anak berdasarkan riset, catatan sikap siswa selama mengikuti proses belajar, dan catatan kemampuan olah tubuh siswa selama mengikuti proses belajar. Catatan proses belajar berisi data-data siswa terkait dengan ketertarikan, keaktifan, konsistensi, respon, kreativitas, inisiatif, ekspresi dan ketekunan selama mengikuti proses riset yang terbagi dalam empat tahapan riset yaitu tahap perencanaan, tahap proses pencarian data, tahap olah data, dan tahap

workshop. Catatan sikap siswa berisi data-data siswa terkait dengan sikap

anak selama mengikuti proses belajar. Aspek yang dicatat meliputi : performance, kerjasama, solidaritas, empati, dan tanggung jawab. Catatan kemampuan olah tubuh berisi data-data siswa terkait gerak motorik kasar dan gerak motorik halus. Catatan Fasilitator tersebut lebih bersifat uraian walaupun tetap ada penilaian terhadap aspek pembelajaran dalam skala terampil, mampu atau kurang.

2. Kegiatan-kegiatan Lain yang Digunakan sebagai Praktik Pendidikan Etika di SALAM

a. Kesepakatan kelas

Kesepakatan merupakan kata yang penting dalam dinamika pendidikan SALAM. Kesepakatan dipakai selama proses pembelajaran baik sejak perencanaan riset, pelaksanaan, maupun ketika pengolahan data hasil riset di kelas. Selain itu, kesepakatan dipakai sebagai jalan untuk membuat semacam aturan di kelas atau juga ketika menyelesaikan beberapa masalah yang terjadi di antara anak-anak. Kesepakatan dijadikan ajang dialog di antara anak-anak, anak dengan fasilitator, sesama fasilitator maupun fasilitator dengan orangtua.

Pada hari pertama masuk sekolah, yaitu hari Senin, 7 Juli 2014 kami para fasilitator bersama dengan anak-anak membuat kesepakatan kelas berkaitan dengan pelaksanaan proses belajar dan aturan di kelas. Anak-anak diminta menjabarkan semboyan SALAM “jaga diri, jaga teman, jaga lingkungan” ke dalam beberapa tindakan nyata yang perlu mereka

lakukan. Masing-masing anak kemudian menuliskan usul mereka di papan tulis. Beberapa contoh usul anak adalah sebagai berikut:

Usul Bayu: tidak boleh mengganggu kelas sebelah (kelas 6) Usul Rafa: tidak boleh merusak kelas

Usul Abram: tidak boleh mengganggu teman Usul Edward: tidak boleh berkata kasar Usul Oka: tidak boleh datang terlambat

Melihat usul-usul tersebut, Mbak Hepi mengatakan kepada saya bahwa dalam pikiran anak-anak, aturan itu bernada negatif dan berupa batasan-batasan yang harus dipatuhi. Hal semacam inilah yang perlu di

diskusikan kembali dengan anak. Mbak Hepi lalu mengajak anak-anak untuk menyusun kembali usulan-usulan anak-anak-anak-anak tersebut pada ungkapan yang lebih menggambarkan kesadaran dan tanggung jawab mereka. Lalu, kesepakatan yang berhasil dibuat adalah:

Belajar dengan tenang ketika di kelas Bekerja sama dengan teman dan fasilitator Menjaga barang-barang yang ada di kelas Usil pada waktu dan tempatnya

Sampai kelas paling lambat jam 8.30, kalau terlambat akan membuat karya untuk hiasan kelas

Kesepakatan ini juga dipakai dalam menyelesaikan perselisihan yang terjadi di antara anak-anak. Jika ada perselisihan atau pertengkaran yang terjadi, fasilitator dan anak-anak kemudian berkumpul untuk mendiskusikan peristiwa yang terjadi di antara mereka. Peristiwa yang terjadi inilah yang dipakai untuk berdiskusi dengan anak-anak karena mereka yang mengalami peristiwa perselisihan itu sendiri. Sesuai dengan pernyataan Pak Toto bahwa peristiwa yang terjadi justru dipakai oleh fasilitator untuk mengingatkan soal tanggung jawab yang harus dipenuhi oleh anak-anak. Kalau tidak ada peristiwa yang terjadi maka fasilitator tidak akan memberi wejangan atau nasihat karena soal tanggung jawab itu bukan soal hapalan.

Pada saat proses belajar dan memperkenalkan pengetahuan kepada anak-anak, kata kesepakatan juga sering muncul. Hal ini dimaksudkan untuk memberikan pemahaman kepada anak-anak bahwa ilmu pengetahuan yang sedang dipelajari bersama itu adalah hasil kesepakatan antara para penemunya dan masyarakat yang menyakininya. Jadi

anak-anak dimungkinkan akan adanya kenyataan atau kesepakatan lain yang bisa mereka temukan.

b. Pasar Tradisional SALAM

SALAM menyelenggarakan Pasar Tradisional SALAM setiap 35 hari sekali, yaitu pada hari Senin Legi. Pasar Tradisional ini juga sering disebut dengan Pasar Legi. Pak Toto menjelaskan tujuan dari diselenggarakannya Pasar Legi di SALAM sebagai berikut:32

Pasar tersebut dimaksudkan sebagai sarana pembelajaran agar anak secara otentik memahami struktur pasar dan bagaimana relasi antar fungsi dalam salah satu kehidupan nyata ekonomi-disamping sebagai media sekolah untuk melihat kecenderungan anak.

Pasar Legi sengaja diadakan untuk memperkenalkan pasar tradisional kepada anak-anak beserta dinamika yang berlangsung di dalamnya. Tujuan SALAM ini berangkat dari kegelisahan akan realita bahwa saat ini kebanyakan anak-anak menjauhi pasar tradisional dan lebih senang berbelanja di supermarket atau mall.

Selain bertujuan untuk memperkenalkan pasar tradisional, Pasar Legi digunakan sebagai media untuk melihat kecenderungan anak-anaknya misalnya soal kepekaan menghitung, kecenderungan menjadi penjual, pembeli, petugas keamanan dan kebersihan atau perantara dalam proses jual beli. Dari situ juga dapat dilihat kemampuan anak dalam

mengkomunikasikan barang yang dijual termasuk kecenderungan anak memproduksi barang yang dijualnya.

SALAM berusaha menciptakan panggung melalui Pasar Legi ini. Anak-anak bebas memilih perannya, apakah mau menjadi penjual, pembeli, petugas keamanan, petugas kebersihan ataukah penjaga Bank SALAM. Namun ada juga anak-anak yang memilih menjadi peminta-minta di pasar. Bagi para petugas keamanan, kebersihan dan petugas Bank disediakan upah berupa gaji uang SALAM.

Saya pernah mengikuti Pasar Legi sebanyak dua kali yaitu pada tanggal 25 Agustus 2014 dan 3 November 2014. Persiapan Pasar Legi dilakukan oleh anak-anak sendiri dengan dibantu oleh para fasilitator. Pertama-tama, anak-anak menyiapkan tempat dan bangku-bangku untuk menaruh barang jualan terlebih dahulu. Lalu, anak-anak yang ingin berjualan harus mendaftarkan dulu jenis, harga dan berapa jumlah barang dagangannya. Bagi anak yang memakai bungkus plastik akan mendapat denda sebesar 500. Anak yang tidak menaruh sampah pada tempat yang telah disediakan juga akan mendapat denda sebesar 500.

Sebelum pasaran dimulai anak-anak dan fasilitator berkumpul bersama di lapangan untuk membuka Pasar Legi sekaligus mengingatkan kembali tentang tujuan diadakannya pasaran. Pasar kemudian secara resmi dibuka oleh Lurah Pasar, yaitu biasanya berasal dari fasilitator. Setelah itu, semua orang baik anak-anak, fasilitator maupun orangtua atau orang lain yang ingin berbelanja di Pasar Legi mengambil kartu antrian. Kartu antrian

itu digunakan untuk mengambil uang SALAM di petugas Bank yang telah siap melayani mereka. Uang SALAM sengaja dibuat sendiri dan memang hanya berlaku di SALAM. Hal ini dimaksudkan supaya anak tahu tentang uang sebagai hasil kesepakatan bersama juga. Setiap orang yang baru pertama kali mengikuti Pasar Legi akan mendapatkan modal awal sebesar 5.000. Modal awal itu bisa digunakan untuk berbelanja apa saja dan apabila ada uang sisa nanti bisa ditabung kembali.

Setelah semua anak mengambil uang mereka, maka mereka sudah boleh membeli barang dagangan yang dijual oleh teman-teman sendiri. Barang dagangan yang dijual biasanya berupa makanan yang terbuat dari bahan lokal dan barang-barang hasil prakarya anak-anak sendiri. Walaupun daftar harga sudah terpampang jelas di depan barang dagangan namun tawar menawar masih menjadi sumber keramaian Pasar Legi di SALAM. Soal barang dagangan Pasar Legi kadang juga disesuaikan dengan tema yang sedang ingin diangkat.

Keramaian dan antusias anak-anak dalam Pasar Legi yang diadakan oleh SALAM dapat dilihat dari gambar 3.8 berikut ini:

Gambar 3.8 Pasar Legi yang diselenggarakan oleh SALAM

Pasar Legi adalah panggung kecil yang sengaja di buat oleh