BAB IV : SANGGAR ANAK ALAM (SALAM); SEKOLAH BIASA SAJA
C. Potensi yang tak Terolah Secara Optimal: Menyoal Komponen
Saya sudah mengulas pendapat saya bahwa pendidikan etika alternatif yang diajukan oleh SALAM sebenarnya mempunyai potensi atau kemungkinan memberi ruang bagi perjumpaan dengan Liyan seperti yang diharapkan oleh Bauman. SALAM juga telah memahami dirinya tidak hanya sebagai sebuah institusi pendidikan semata tetapi juga sebagai sebuah forum sosial. Namun, dalam uraian pada bab tiga kita juga telah melihat hasil pendidikan etika alternatif yang diajukan oleh SALAM ternyata belum bisa seperti yang diinginkan oleh para pendiri dan pengurusnya. Relasi dan tanggung jawab dengan Liyan belum tertanam kuat dalam diri semua anak SALAM. Oleh sebab itu, saya melangkah lebih jauh lagi untuk melihat keseluruhan komponen pendidikan etika alternatif yang diajukan oleh SALAM dengan memakai empat komponen (modelling,
dialogue, practice, dan confirmation) pendidikan kepedulian yang diajukan oleh
Nel Noddings. Dengan keempat komponen tersebut, saya berharap tidak hanya bisa mengulas soal keseluruhan komponen pengajaran tetapi juga problematika yang ada dalam praktik pendidikan etika yang diajukan oleh SALAM.
1. Pemberian teladan (Modeling)
Pemberian teladan termasuk menjadi bagian penting dalam sebuah pendidikan etika. Dari perspektif Nel Noddings, guru harus bisa menunjukkan kepada para murid apa itu yang dimaksud dengan peduli. Dalam konteks pendidikan etika yang diajukan oleh SALAM, kita kemudian membicarakan tentang keteladanan para orang dewasa SALAM baik itu para fasilitator, para pengurus maupun orangtua dalam menunjukkan seperti apa yang dimaksud dengan bertanggung jawab dan peduli kepada orang lain. Keteladanan dari orang dewasa SALAM menjadi penting karena pola pikir dan tindakan mereka sangat berpengaruh dalam proses pembentukan pola pikir dan tindakan anak-anak.
Pertama, kita akan mengkaji terlebih dahulu soal keteladanan dari para
fasilitator dan para pengurus SALAM. Dalam proses belajar-mengajar di kelas, anak-anak lah yang menjadi Liyan bagi fasilitatornya. Jika fasilitator ingin mengajarkan anak-anak untuk peduli dan bertanggung jawab dengan orang lain, maka fasilitator pun harus memberikan teladan dengan cara peduli dan bertanggung jawab pada anak-anak didiknya. Anak-anak bisa merasakan dan menilai apakah fasilitator mereka mengajar dengan kepedulian dan tanggung jawab atau tidak.
Mbak Hepi, rekan fasilitator saya di kelas lima menunjukkan keteladanannya sebagai fasilitator yang tidak hanya mendampingi proses belajar anak-anak tetapi juga berusaha untuk memahami kebutuhan mereka. Ia mendengarkan semua ide, pendapat dan pertanyaan-pertanyaan yang diajukan
oleh anak-anak. Baru setelah itu, ia merespon dengan memberikan tanggapan, pertanyaan maupun jawaban yang diakhiri dengan mengajak anak-anak untuk membuat pemaknaan dari komunikasi yang mereka lakukan. Contoh nyata dari tindakan Mbak Hepi ini bisa kita lihat dalam proses penyusunan kesepakatan kelas dan pelaksanaan riset ke Museum Sonobudoyo yang juga sudah saya uraikan pada bab tiga. Kesediaan Mbak Hepi untuk mendengarkan dan menghargai anak-anak merupakan teladan bagi mereka untuk mau mendengarkan, menghargai dan memberi respon pendapat orang lain secara bertanggung jawab.
Mbak Hepi adalah salah satu contoh fasilitator yang mampu memberi teladan baik bagi anak-anaknya. Namun berdasarkan sharing Mbak Hepi kepada saya dan juga dari pengalaman saya sendiri, memberikan teladan untuk peduli dan bertanggung jawab kepada orang lain memang cukup sulit karena sebagai fasilitator kami harus memiliki pengetahuan mendalam tentang karakter dan latar belakang masing-masing anak. Sementara itu, seperti yang sudah saya ungkapkan dalam deskripsi hasil penelitian, dokumentasi SALAM tentang anak-anak sendiri tidak berjalan dengan terlalu baik karena adanya pergantian fasilitator dalam waktu yang relatif cepat. Dan masih ditambah lagi dengan persoalan SALAM yang ingin membangun relasi dalam suasana cair tetapi rentan dengan sikap tidak bertanggung jawab semakin membuat persoalan pemberian teladan ini menjadi lebih rumit.
Kedua, kita akan mengkaji keteladanan orang dewasa lain yang tidak
murid ini juga sangat penting karena anak-anak justru lebih banyak menghabiskan waktunya di rumah dibanding di SALAM yang waktu efektif belajarnya hanya tiga jam sehari. Pengaruh orangtua juga sangat nampak sekali dalam menentukan pola pikir dan sikap anak-anak SALAM. Hal ini terlihat dari anak-anak yang saya wawancarai sering menyebutkan “kata orangtuaku”.
Berdasarkan sharing para fasilitator dan juga tanggapan anak-anak, nampak bahwa tidak semua orangtua mendidik anak-anaknya sejalan dengan cita-cita SALAM. Seperti yang sudah saya uraikan sebelumnya bahwa ada pula anak yang memberi respon akan bersikap cuek jika bertemu dengan perempuan hamil di bis yang tidak mendapat tempat duduk. Anak tersebut memberi respon demikian karena juga berangkat dari kata-kata orangtuanya. Privatisasi memang telah menyusup ke dalam relasi masyarakat kita dan orangtua SALAM pun merupakan bagian yang tak terpisahkan dari persoalan tersebut.
2. Dialog (Dialogue)
SALAM pun mengikuti konsep dialog yang diajukan oleh Paulo Friere seperti yang dilakukan oleh Nel Noddings. Dialog tersebut berusaha direalisasikan tidak hanya dalam dinamika proses belajar mengajar maupun dalam kesepakatan kelas tetapi juga dalam komunikasi di antara para fasilitator, pengurus, dan orangtua SALAM.
Dalam proses belajar yang cair, fasilitator di SALAM berupaya membangun dialog bersama anak-anak. Praktik mengajar kemudian sebisa mungkin tidak seperti memindahkan pengetahuan ke kepala anak-anak, tetapi
memancing mereka supaya mau saling bicara dan saling mendengarkan pendapat teman-temanya. Penekanan pada kesediaan anak-anak untuk saling bicara dan mendengarkan merupakan upaya agar anak-anak menangkap keinginan dan kebutuhan teman-temannya.
Kita pun telah melihat bahwa tata tertib di SALAM dibuat berdasarkan kesepakatan kelas dan tidak disusun dalam rupa kalimat perintah ataupun larangan. Penyusunan tata tertib kelas dengan menggunakan kesepakatan ini bisa menunjukkan kepada anak-anak bahwa tata tertib itu bukan hukum yang turun dari langit tapi hasil dari kesepakatan beberapa orang yang bisa saja berubah sesuai kebutuhan.
Masalah yang terjadi di antara anak-anak SALAM pun diselesaikan dengan menggunakan kesepakatan kelas. Dengan cara seperti itu, fasilitator atau sekolah kemudian tidak tampil sebagai otoritas penuh yang bisa menghukum anak-anak yang dianggap bersalah. Dengan anak-anak duduk bersama, saling membicarakan masalah yang terjadi dan mendengarkan berbagai argumentasi, anak-anak justru bisa menyelesaikan masalah tersebut.
Penerapan dialog ini selain dirasakan lebih menyenangkan untuk anak-anak dan fasilitator, ternyata juga bisa membuat relasi yang lebih cair baik antara anak-anak dan fasilitator maupun sesama anak-anak sendiri. Namun, dialog ini membutuhkan pengetahuan dan keterampilan dari para fasilitator sebagai pembimbing jalannya dialog. Sehingga bagi para fasilitator yang baru bergabung di SALAM tentu butuh waktu dan penyesuaian dalam memahami dan menerapkan konsep dialog tersebut.
3. Praktik (Practice)
SALAM menyediakan banyak kesempatan untuk mempraktikkan ketiga bentuk tanggung jawab (jaga diri, jaga teman, jaga lingkungan) yang ingin diperkenalkan kepada anak-anaknya. Saya sudah menguraikan berbagai kegiatan yang diselenggarakan oleh SALAM mulai dari kegiatan belajar mengajar dan berbagai kegiatan lainnya yang diharapkan mampu menjadi lahan praktik tanggung jawab anak-anaknya.
Apabila kegiatan-kegiatan tersebut direncanakan dengan serius dan sungguh-sungguh sebenarnya sangat berpotensi dalam membangkitkan komunikasi dan tanggung jawab anak baik kepada dirinya sendiri, lingkungan, teman maupun orang-orang lain di sekitarnya. Misalnya saja penggunaan Daur Belajar sebagai panduan proses belajar mengajar sebenarnya bisa mengantar anak-anak menjumpai berbagai realitas di lingkungan sekitarnya. Tetapi penerapan Daur Belajar tersebut memang membutuhkan banyak waktu dan tenaga dari fasilitator. Waktu perencanaan sangat dibutuhkan bagi fasilitator untuk menentukan tema, mengeksplorasi sumber-sumber serta mendiskusikan cara dan kebutuhan belajar siswa. Sementara itu juga seperti yang sudah saya ungkapkan bahwa masih banyak tarik ulur di SALAM yang membuat fasilitator belum bisa optimal dalam mempersiapkan dan menerapkan Daur Belajar tersebut. Belum lagi penggunaan indikator yang mengacu pada indikiator pemerintah juga memiliki tantangan tersendiri bagi para fasilitator maupun juga anak-anak. Hasil yang diperoleh kemudian belum sesuai dengan yang dicita-citakan oleh SALAM.
Sungguh disayangkan, berbagai kegiatan yang bisa menjadi kesempatan untuk praktik bagi anak-anak itu belum bisa digarap secara serius oleh SALAM. Walaupun memiliki konsep dan tujuan yang baik, tetapi karena tidak dipersiapkan dengan matang dan sungguh-sungguh maka banyak kegiatan yang berlangsung hanya menjadi kegiatan rutinitas biasa. Soal keseriusan ini memang yang digarisbawahi oleh Nel Noddings sebagai poin utama yang harus diperhatikan dalam memberikan kesempatan bagi para murid untuk mempraktikkan kepedulian terhadap orang lain. Dan SALAM belum bisa memenuhi poin utama tersebut.
4. Konfirmasi (Confirmation)
SALAM yang menggunakan kesepakatan kelas untuk menyelesaikan masalah-masalah yang terjadi di antara anak-anak berpotensi untuk menjauhkan konfirmasi dalam pengertian dakwaan, pengakuan, permohonan maaf dan penebusan dosa seperti dalam pengertian pendidikan agama yang dikritik oleh Nel Noddings. Jika ada masalah, fasilitator tidak langsung tampil sebagai pihak yang berwenang untuk menghakimi anak yang dianggap bersalah tetapi mengajak semua anak-anak untuk mendialogkan permasalahan tersebut.
Melalui dialog yang berusaha diwujudkan melalui kesepakatan kelas SALAM, semua anak diminta merefleksikan kembali tindakannya sendiri dan sekaligus mendengarkan pendapat teman-temannya. Dengan demikian diharapkan anak-anak tidak langsung mudah berhenti pada menyalahkan diri
sendiri ataupun orang lain tetapi bisa belajar mempertanyakan kembali tindakan yang sudah ia lakukan atau temannya lakukan.
Tetapi seperti yang sudah diingatkan pula oleh Nel Noddings bahwa tindakan konfirmasi ini membutuhkan pengenalan mendalam para fasiliatator akan karakteristik dan kebutuhan masing-masing anak. Dan pengenalan mendalam tersebut membutuhkan waktu kebersamaan antara fasilitator dan anak-anak yang intens dan berkesinambungan. Hal itu juga yang masih sulit dipenuhi oleh SALAM sehingga tindakan konfirmasi ini menjadi cukup sulit untuk dipraktikkan.
D. Menyoal Tarik Ulur yang dihadapi SALAM: Resiko yang Mengiringi