PENGUJIAN DAYA PERKECAMBAHAN BENIH DAN INDEKS VIGOR PERKECAMBAHAN
A. Hasil 1 Daya Kecambah dengan Kertas Gulung
NO Jenis Perkecambahan Hari Ke 7
1 Kecambah Normal 8
2 Kecambah Abnormal 1
3 Belum Berkecambah 11
% Perkecambahan = Benih Berkecambah NormalTotal x100 %
% Perkecambahan = 208 x100 % = 40 % Kesimpulan :
% Perkecambahan pada kertas gulung sebesar 40 %.
NO Jenis Perkecambahan Hari Ke
1 2 3 4 5 6 7
1 Kecambah Normal 0 15 3 1 0 0 0
2 Kecambah Abnormal 0 0 0 0 - - -
Indeks Vigor V = GD11+DG22+GD33…GnDn = 01+152 +33+14+05+06+07 = 0 + 7,5 + 1 + 0,25 + 0 + 0 + 0 = 8,75 Coefficient Vigor C.G = A1001T1+(AA1+2AT2+2+… AnTn… An) = 100¿ ¿ = 30+9+100x194 = 190043
=
44,186 Kesimpulan:B. Pembahasan
Vigor dapat diartikan sebagai kemampuan benih untuk tumbuh normal pada keadaan lingkungan yang suboptimal (Sutopo, 2002). Sedangkan menurut Sadjad (1993), vigor benih dalam hitungan viabilitas absolut merupakan indikasi viabilitas benih yang menunjukkan benih kuat tumbuh di lapang dalam kondisi sub optimum dan tahan untuk disimpan dalam kondisi yang tidak ideal. Vigor benih dipilah atas dua kualifikasi yaitu vigor kekuatan tumbuh dan vigor daya simpan yang dikaitkan pada analisis suatu lot benih yang merupakan parameter viabilitas absolut yang tolak ukurnya dapat bermacam-macam.
Vigor benih adalahkemampuan benih tumbuh normal dalam kondisi lapang yang sebenarnya. Biasanya dicerminkan dengan keserempakan tumbuh, kecepatan tumbuh dan keseragaman tumbuh. Persyaratan untuk perkecambahan yang berbeda-beda dari bermacam-macam biji adalah penting diketahui untuk pedoman untuk penanaman biji, pedoman untuk menetapkan treatment tertentu terhadap biji dan pada biji rumputan adalah sebagai petunjuk untuk pembrantasan tanaman pengganggu. Syarat luar yang utama yang dibutuhkan untuk dapat aktifnya kembali pertumbuhan embryonic axis adalah adanya air yang cukup untuk melembabkan biji, suhu yang pantas, cukup oksigen dan adanya cahaya yang sangat essensial untuk kebanyakan biji rumputan dan beberapa biji tanaman tertentu.
Viabilitas benih adalah daya hidup benih yang dapat ditunjukkan melalui gejala metabiolisme dan atau gejala pertumbuhan, selain itu daya kecambah juga merupakan tolak ukur parameter viabilitas potensial benih. Pada umumnya viabilitas benih diartikan sebagai kemampuan benih untuk tumbuh menjadi kecambah. Istilah lain untuk
dan jumlah benih yang berkecambah dari sekumpulan benih merupakan indeks dari viabilitas benih (Sadjad, 1993).
Viabilitas benih makin meningkat dengan bertambah tuanya benih dan mencapai perkecambahan maksimum jauh sebelum masak fisiologis atau sebelum tercapainya berat kering maksimum, pada saat itu benih telah mencapai viabilitas maksimum (100 persen) yang konstan tetapi sesudah itu akan menurun sesuai dengan keadaan lingkungan. Parameter untuk viabilitas benih yang digunakan adalah presentase perkecambahan yang cepat dan pertumbuhan perkecambahan kuat dalam hal ini mencerminkan kekuatan tumbuh yang dinyatakan sebagai laju perkecambahan. Penilaiaan dilakukan dengan membandingkan kecambah satu dengan kecambah lainnya sesuai kriteria kecambah normal, abnormal dan mati (Sutopo, 2002).
Faktor-faktor yang mempengaruhi viabilitas benih selama penyimpanan dibagi menjadi faktor internal dan eksternal. Faktor internal mencakup sifat genetik, daya tumbuh dan vigor, kondisi kulit dan kadar air benih awal. Faktor eksternal yaitu kemasan benih, komposisi gas, suhu dan kelembaban ruang simpan. Sifat genetik benih antara lain tampak pada permeabilitas dan warna kulitbenih berpengaruh terhadap daya simpan benih kedelai. Penelitian terdahulumenemukan bahwa varietas kedelai berbiji sedang atau kecil umumnya memilikikulit berwarna gelap, tingkat permeabilitas rendah, dan memiliki ketahanan yanglebih baik terhadap kondisi penyimpanan yang kurang optimal dan tahan terhadapderaan cuaca lapang dibanding varietas yang berbiji besar dan berkulit biji terang(Mugnisyah, 1991). Sukarman dan Raharjo (2000), melaporkan bahwa varietaskedelai berbiji kecil dan kulit berwarna gelap lebih toleran terhadap deraan fisik(suhu 42 °C dan kelembaban 100%) dibanding varietas berbiji besar dan berkulitterang.
Benih pada saat panen biasanya memiliki kandungan air benih sekitar 16% - 20%. Agar dapat mempertahankan viabilitas maksimumnya makakandungan air tersebut harus diturunkan terlebih dahulu sebelum disimpan. Makin rendahkadar air benih makin lama daya hidup benih tersebut. Kadar air yang terlalutinggi dalam penyimpanan akan menyebabkan terjadinya peningkatan kegiatan enzim-enzim yang akan mempercepat terjadinya proses respirasi, sehingga perombakan bahan cadangan makanan dalam biji menjadi semakin besar. Akhirnya benih akan kehabisan energi pada jaringan- jaringannya yang penting. Energi yang terhambur dalam bentuk panas ditambah keadaan yang lembab akan merangsang perkembangan mikroorganisme yang dapat merusak benih (Lita Sutopo, 1998).
Menurut Justice dan Louis (1990) bila kadar air terlalu rendah dapat membahayakan benih. Benih yang sangatkering sangat peka terhadap kerusakan mekanis serta pelukaan. Perusakan itu dapat mengakibatkan bagian penting benih mengalami pecah-pecah atau retak sehingga benih tersebut peka terhadap serangan cendawan yang dapat menurunkan daya simpan. Menurut Harrington (1972), kandungan airbenih dibawah 5% mempercepat kemunduran benih yang disebabkan oleh autooksidasilipid di dalam benih. Sedangkan diatas 14%, akan terdapat cendawan gudang yang merusak kapasitas perkecambahan benih.
Suhu ruang simpan berperan dalam mempertahankan viabilitas benihselama penyimpanan, yang dipengaruhi oleh kadar air benih, suhu dankelembaban nisbi ruangan. Pada suhu rendah, respirasi berjalan lambat dibanding suhu tinggi. Dalam kondisi tersebut, viabilitas benih dapat dipertahankan lebih lama. Menurut Harrington (1972),masalah yang dihadapi dalam penyimpanan benih makin kompleks sejalan denganmeningkatnya kadar air benih. Penyimpanan benih yang berkadar air tinggi
Benih memiliki sifat higroskopis, apabila disimpan pada kelembaban yang tinggi, benih akan menyerap uap air sampai kadar air benih seimbang dengan kelembaban ruang simpan dan bila benih disimpan pada kelembaban yang rendah, benih akan mengeluarkan uap air sampai antara benih dengan kelembaban disekitarnya tercapai keseimbangan. Pengaruh kelembaban secara tidak langsung dapat menyebabkan meningkatnya aktivitas mikroorganisme. Aktivitas mikroorganisme akan meningkat seiring dengan meningkatnya kelembaban ruang simpan. Di sisi lain, benih yang mempunyai kadar air tinggi akan melakukan respirasi dengan aktif, sehinga menyebabkan vigor benih dalam penyimpanan menurun.
Menurut Utomo (1990) bahan kemasan sangat menentukan terhadap ketahanan simpan. Bahan kemasan yang terlalu banyak berlubang dapat menyebabkan pertukaran udara dari luar ke dalam atau sebaliknya sangat besar, akibatnya kadar air benih pada bahan tersebut akan meningkat lebih cepat. Hal tersebut berimplikasi kemungkinan infeksi cendawan dari luar akan semakin tinggi. Sebaliknya bila digunakan bahan kemasan yang tertutup rapat atau kedap uadara, dapat menimbulkan kondensasi pada bagian dalam dinding, bahkan bila kadar air benih yang disimpan cukup tinggi akan mengakibatkan serangan cendawan yang tinggi.
Faktor-faktor yang mempengaruhi vigor benih : 1. Genetik
2. Tingkat kemasakan seperti waktu panen
Benih harus telah masak fisiologis, sehingga cadangan makanan dalam benih tercukup
3. Kondisi lingkungan selama perkembangan benih
Temperatur dan kesediaan air yaitu benih bit gula selama periode pemasakan benih pada kondisi suhu 35 °C lebih cepat perkecambahannya dibanding suhu 30 °C
4. Kesuburan tanah
5. Ukuran dan Densitas benih
Karbohidrat, protein, lemak, dan mineral ada dalam jaringan penyimpanan benih lebih banyak.
6. Kerusakan mekanik yaitu mempengaruhi daya kecambah dan daya simpan benih 7. Umur dan tingkat kemunduran
8. Serangan mikroorganisme selama penyimpanan 9. Suhu rendah selama imbibisi
Pengujian viabilitas bertujuan untuk mengetahui dengan cepat semua benih yang hidup, baik dorman maupun tidak dorman.Selain itu tujuan dari melakukan uji viabilitas atau daya kecambah benih adalah untuk mengkaji dan menetapkan nilai setiap contoh benih yang perlu diuji selaras dengan faktor kualitas benih (Kartasapoetra, 2003). Pada uji daya kecambah, benih dikatakan berkecambah bila mampu menghasilkan kecambah dengan bagian-bagian yang normal atau mendekati normal. Perubahan atau pola keadaan yang berbeda sangat berpengaruh terhadap viabilitas benih yang dihasilkan.
Pengujian viabilitas benih dapat dikelompokkan menjadi metode uji secara langsung dan tidak langsung. Metode uji langsung dapat digunakan untuk mengetahui dan menilai struktur-struktur penting kecambah secara langsung dengan cara mengamati dan membandingkan unsur- unsur tumbuh. Sedangkan metode uji secara tidak langsung dapat mengetahui mutu hidup benih yang ditunjukkan melalui gejala metabolisme. Dalam metode uji secara langsung diperlukan substrat pengujian berupa kertas, pasir, tanah dan sebagainya. Metode uji dengan substrat sebagai tempat, lebih cepat dan lebih mudah menilai struktur-struktur penting kecambah dan dapat dengan mudah distandarisasi. Metode uji dapat dilakukan untuk mendapatkan uji daya berkecambah,
Menurut Kartasapoetra (2003) terdapat 2 macam metode pengujian daya berkecambah dan kekuatan tumbuh, yaitu:
1. Pengujian secara langsung
Cara pengujian langsung baik dilakukan untuk benih yang cepat berkecambah. Pada benih yang sulit berkecambah benih harus melalui perlakuan lebih dulu dan membutuhkan waktu pengujian yang lebih lama. Pada pengujian secara langsung terdapat beberapa metode yang dapat digunakan yaitu diantaranya :
a. UKDp (Uji Kertas Digulung dalam plastik), Pada metode ini benih diuji dengan cara menanam benih di antara lembar substrat lalu digulung.
b. UAK (Uji Antar Kertas), Metode UAK digunakan untuk benih yang tidak peka terhadap cahaya. Pada metode ini benih ditanam di antara substrat, kemudian substrat dilipat.
c. UDK (Uji Di atasKertas) dan UDKm (Uji Di atas Kertas diMiringkan) dengan metode UDK dan UDKm dimaksudkan menguji benih di atas lembar substrat. Metode ini sangat baik digunakan untuk benih yang membutuhkan cahaya bagi perkecambahannya.
d. UKDdp (Uji Kertas Digulung didirikan dalam plastik), Metode ini menggunakan lapisan plastik diluarnya yang berfungsi mencegah tembusnya substrat kertas oleh akar.
Selain cara-cara tersebut diatas pengujian juga dapat dilakukan di media pasir. Cara pengujian daya kecambah dan kekuatan tumbuh suatu benih pada media pasir yaitu sebagai berikut:
a. Campur benih yang akan diuji dengan baik dan ambil segenggam benih kemudian rendam dengan air dingin selama satu hari.
b. Hitung 100 butir benih untuk diuji (bisa digunakan 50, 40, 20 butir benih tergantung ukuran benih yang akan diuji).
c. Tabur benih tersebut ke bak kecambah yang berisi pasir.
Menurut Ashari (2006), tahapan kerja pengujiaan daya kecambah UKD dan UDK adalah sebagai berikut:
1. Pengujian Pada Uji Kertas Digulung (UKD)
Dalam pengujian ini digunakan beberapa lembar kertas substratum yang dibasahi secukupnya, Mis: 5 lembar kertas subtrtum, yang selanjutnya dihamparkan diatas alas plastik, benih-benih yang akan diuji, misalnya 100 biji benih, ditata dan ditanam secaraa teratur pada kertas kertas tersebut. Bisanya dari 8 lembar substratum tersebut diambil 3 lembar yang berisi benih, yang selanjutnya diguluh beserta alasnya dan dimasukan kedalam bak bagi perkecmbahan. Dalam keadaan demikian kelembaban tetap harus terjaga selama pengujian berlangsung.
2. Pengujian Pada Uji Diatas Kertas (UDK)
Dalam pengujian ini kertas-kertas dibuat seukuran cawan Petri (sebanyak 5 lembar) dibasahi dan diletakkan pada cawan Petri tersebut. Selanjutnya biji-biji benih yang akan diuji ditempatkan diatasnya. Selanjutnya tutup cawan Petri dengan pasangannya dan masukkan kedalam bak bagi perkecambahan dengan kelembaban yang terpelihara.
Pengujian viabilitas benih dengan metode UKD yang dilakukan oleh Santana (2005) menunjukkan bahwa kertas merang dapat digunakan sebagai alternatif substrat perkecambahan benih berukuran besar seperti pada tanaman pangan yaitu jagung, padi sedangkan pada Uji Diatas Kertas (UDK) untuk benih berukuran kecil sepeti tanaman sayuran yaitu bayam dan wijen.
Praktikum kali ini menggunakan metode uji kertas digulung (UKD) yang menggunakan kertas merang sebagai media tumbuhnya. Media kertas merang dicelupkan ke dalam air lalu diletakan benih di atasnya. Kertas yang telah berisi benih lalu digulung dan diletakan di dalam germinator yang dibuat sedemikian rupa sehingga intensitas cahaya yang masuk dan kelembaban udara di sekitarnya dapat diatur. Dari hasil pengamatan kedua jenis benih (padi dan kedelai), dilihat dari jumlah kecambah normal, kecambah abnormal dan benih yang belum kecambah, secara umum benih padi memiliki viabilitas yang lebih baik dibandingkan benih kedelai.
1. Kecambah normal, ditandai dengan akar dan batang yang berkembang baik, jumlah kotiledon sesuai, daun berkembang baik dan berwarna hijau, dan mempunyai tunas pucuk yang baik.
2. Kecambah dengan pertumbuhan lemah atau kecambah abnormal memiliki ciri-ciri plumula atau radikula tumbuh tidak semestinya yaitu plumula tumbuh membengkok atau tumbuh kebawah, sedangkan radikula tumbuh sebaliknya.
3. Kecambah busuk ialah benih yang tidak tumbuh sama sekali bahkan terjadi pembusukan pada benih tersebut.
Dari ulangan yang diamati, benih padi memiliki nilai koefisien vigornya rata-rata sebesar 44,186 % atau temasuk dalam kriteria benih yang memiliki mutu yang baik karena dari 20 benih semua dapat tumbuh dengan normal. Sedangkan benih kedelai memiliki nilai daya kecambah rata-rata yang sangat kecil, yaitu sebesar 40 % atau termasuk dalam kriteria mutu benih jelek karena benih yang belum berkecambah dan yang berkecambah abnormal lebih banyak dari yang berkecambah normal.
Jumlah kecambah normal pada benih padi jauh lebih banyak dibandingkan jumlah kecambah normal pada benih kedelai. Pada benih kedelai juga ditemukan beberapa benih yang busuk. Kedua jenis benih tadi dikecambahkan dengan cara yang sama,
media yang sama, dan tempat yang sama. Media kertas yang digunakan pada kedua jenis benih sama yaitu kertas merang. Tempat tumbuh dan lingkungan tumbuhnya juga seragam, yaitu diletakan didalam laboratorium. Ditinjau dari kualitas benih yang digunakan pada praktikum kali ini juga menggunakan benih dengan kualitas yang relatif sama bagusnya pada kedua jenis benih.
Apabila penyebabnya faktor eksternal, seperti faktor lingkungan, suhu, kelembaban, hama, penyakit, dll. Maka seharusnya benih padi juga akan mengalami hal yang serupa dengan yang dialami benih kedelai, karena keduanya dikecambahkan pada tempat dan lingkungan yang sama. Jadi kemungkinan besar penyebabnya adalah faktor internal benih. Secara internal proses perkecambahan biji ditentukan keseimbangan antara promotor dan inhibitor perkecambahan, terutam asam giberelin (GA) dan asam absisat (ABA). Faktor eksternal yang merupakan ekologi perkecambahan meliputi air, suhu, kelembaban, cahaya dan adanya senyawa-senyawa kimia tertentu yang berperilaku sebagai inhibitor perkecambahan (Dwidjoseputro, 1983).
Selain itu faktor internal yang lain adalah kemasakan benih. Jika benih yang sudah masak maka kandungan cadangan makan pada benih tersebut sudah ada, sehingga waktu benih ditanam maka perkecambahan akan mudah karena dalam melakukan perkecambahan benih melakukan aktivitasnya dengan cadangan makanan tersebut (Pramono, 2010).
V. KESIMPULAN DAN SARAN
A. Kesimpulan
Kesimpulan dari hasil percobaan adalah metode perkecamabahan UKDdp (Uji kertas digulung didirikan dalam plastik) menunjukkan persentase viabilitas tertinggi terdapat pada benih yang belum berkecambah sebesar 11 sehingga % perkecambahan 40 %. Dengan uji indeks vigor diperoleh indeks vigor 8,75 dan coefficient vigornya 4,186.
B. Saran
Sebaiknya penyiraman dilakukan lebih tepat waktu agar benih dapat berkecambah dengan normal dan alat yang dibutuhkan lebih dilengkapi lagi.
DAFTAR PUSTAKA
Ashari. 2006. Meningkatkan Produksi Jagung di Lahan Kering, Sawah dan Pasang Surut. Penebar Swadaya. Jakarta.
Dwidjoseputro. 1983. Biologi Sains dalam Kehidupan 1 B. Penerbit Yudhistira. Yogyakarta.
Harrington. 1972. Substrat Kertas Alternatif Pada Uji Viabilitas Benih. Balai Besar Perbenihan dan Proteksi Tanaman Perkebunan. Surabaya.
Justice and Louis. 1990. Penuntun Pratikum Teknologi Benih. Universitas Jambi. Jambi. Kartasapoetra. 2003. Ilmu dan Teknologi Benih. Rineka Cipta. Jakarta.
Kuswanto. 1997. Analisis Banih. Penerbit Andi. Yogyakarta.
Lestari. 2006. Efesiensi Beberapa Substrat dalam Pengujian Beberapa Varietas Benih Berukuran Besar dan Kecil. J. Agron. Indonesia. 37 (3) : 249-255 (2009). Lita Sutopo. 1998. Diktat Kuliah dan Penuntun Praktikum Dasar Ilmu dan Teknologi
Benih. Departemen Agronomi dan Hortikultura Fakultas Pertanian. IPB. Bogor.
Mugnisjah. 1995. Pengantar Produksi Benih. Raja Grafindo Press. Jakarta.
Pratomo. 2010. Peran Mutu Fisiologik Benih dan Pengembangan Industri Benih Tanaman Industri. Jurnal Litbang Pertanian, 21(3).
Shanker. 2006. Hubungan Antara Kandungan Lignin Kulit Benih dengan Permeabilitas dan Daya Hantar Listrik Rendemen Benih Kedelai. Jurnal Alta Agrosia 6 (2). Sutopo, L. 2002. Teknologi Benih. Raja Grafindo Persada. Jakarta.
Utomo. 1990. Pengaruh Perbedaan Tingkat Kemasakan, Periode After-ripening, Pematahan Dormansi dan Media Perkecambahan terhadap Dormansi Benih.
LAMPIRAN
Gambar awal pengujian daya kecambah dengan kertas gulung
Gambar pengamatan terakhir daya kecambah dengan kertas gulung
A B
Gambar A: benih yang akan diuji indeks vigor perkecambahannya B: benih pada pengamatan terakhir uji indeks vigor perkecambahan
LAPORAN PRAKTIKUM
TEKNOLOGI DAN PRODUKSI BENIH
ACARA VI