IMBIBISI PADA PERKECAMBAHAN BENIH
A. Hasil 1 Tabel I Imbibisi pada benih hidup dan mat
Perlakuan Bobot Awal Bobot Setelah Perendaman % Peningkatan
Benih Mati 3,5 3,8 8,50% Benih Hidup 1,9 2,1 10,50% Benih Hidup = P = 2,10 – 1,90 = 0,2 % P = 1,900,2 x 100 % = 10,5 % Benih Mati = P = 3,0 – 3,50 = 0,30 % P = 0,303,50x100 %=8,5 % Kesimpulan:
1. Imbibisi pada benih hidup lebih tinggi dari imbibisi benih mati, karena proses metabolisme pada benih hidup masih berjalan daripada benih mati
2. Tabel II. Laju Imbibisi dua Tipe Benih Data Awal/Pengamatan Spesies Bobot Awal (g) Kadar Air (g) Bobot Kering Awal (g)
Bobot Pada Pengamatan 15 Menit (g) I II III IV Kacang Tanah 1,8 0,225 g 1,58 g 2,2 2,7 3 3,3 Jagung 1,4 0,169 g 1,25 g 1,8 2,1 2,3 2,6
Bobot kering awal = 1. Kacang Tanah = 1,8 - 0,225 = 1,58
2. Jagung = 1,4 – 0,169 = 1,25
Data Perhitungan
Spesies Rerata absorbsi air per gram berat kering
15 Menit 30 Menit 45 Menit 60 Menit Kacang Tanah 0,253 0,316 0,189 0,189
Jagung 0,32 0,24 0,16 0,24
Rumus Perhitungan
Rata Absorsi (n) = Berat(n)−Berat sebelum(n) Berat Kering Awal
15 Menit = 1. Kacang Tanah = 2,2−1,81,58 =0,253
2. Jagung = 1,8−1,41,25 =0,32
30 Menit = 1. Kacang Tanah = 2,7−2,21,58 =0,316
2. Jagung = 2,1−1,81,25 =0,24
45 Menit = 1. Kacang Tanah = 3,0−2,71,58 =0,189
2. Jagung = 2,3−2,11,25 =0,16
60 Menit = 1. Kacang Tanah = 3,3−3,01,58 =0,189
Kadar Air = 1. Kacang Tanah = moisture tester100 % (%)x Bobot Awal
= 12,5 %100 % x1,8=0,225g
2. Jagung = 12,1%100 % x 1,4 = 0,169 g
Kesimpulan:
1. Laju imbibisi pada 2 tipe benih diperoleh laju imbibisi paling tinggi, benih jagung pada waktu 15 menit, sedangkan pada benih kacang tanah laju imbibisi tertinggi pada waktu 30 menit.
3. Tabel III. Pengaruh kadar air media terhadap imbibisi air
Kelompok Benih Tekanan Osmotik (Bars)
Perkecambahan
Perlakuan 0 (Kontrol) -20
Kedelai Vaseline 0 0
Kedelai 0 0
Jagung 0 0
% Perkecambahan = Benih Berkecambah NormalTotal x100 % % Perkecambahan Kedelai Vaseline = 200 x100 %=0 %
% Perkecambahan Kedelai = 200 x100 %=0 % % Perkecambahan Jagung = 200 x100 %=0 % Kesimpulan:
1. Dari semua perlakuan benih tidak ada yang berkecambah atau % perkecambahan = 0 %.
No Diameter Lubang Total Benih yang Berkecambah Normal Presentase 1 1 mm 0 0% 2 2 mm 0 0% 3 3,5 mm 0 0% 4 6 mm 0 0%
% Perkecambahan = Jumlah benih yang berkecambahnormalJumlah benihkeseluruhan x100 %
% 1 mm = 200 x100 %=0 %
% 2 mm = 200 x100 %=0 %
% 3,5 mm = 200 x100 %=0 %
% 6 mm = 200 x100 %=0 %
Kesimpulan:
1. Jadi, hasil praktikum yang diperoleh bahwa benih tidak ada yang berkecambah setelah 7 hari. Hal ini dikarenakan jummlah air dan pasir tidak sebanding sehingga air tidak mampu bersinggungan dengan benih.
B. Pembahasan
Imbibisi adalah peristiwa penyerapan air oleh permukaan zat-zat yang hidrofilik, seperti protein, pati, selulosa, gelatin, dan lainnya yang menyebabkan zat tersebut dapat mengembang setelah menyerap air. Kemampuan untuk menyerap air misalnya pada biji biasa disebut dengan potensial imbibisi dan prosesnya disebut dengan imbibisi. Imbibisi atau penyerapan air dipengaruhi oleh faktor internal (faktor tumbuhan) dan faktor eksternal (faktor lingkungan) yaitu:
1. Faktor Internal (Faktor Tumbuhan) terdiri dari:
a. Kecepatan transpirasi yaitu semakin cepat transpirasi makin cepat penyerapan. b. Sistem perakaran yaitu tumbuhan yang mempunyai system perakaran berkembang
baik, akan mampu mengadakan penyerapan lebih kuat karena jumlah bulu akar semakin banyak.
c. Kecepatan metabolisme karena penyerapan memerlukan energi, maka semakin cepat metabolisme (terutama respirasi) akan mempercepat penyerapan (Yusuf, 2009).
2. Faktor Eksternal (Faktor Lingkungan) terdiri dari:
a. Ketersediaan air tanah yaitu tumbuhan dapat menyerap air bila air tersedia antara kapasitas lapang dan konsentrasi layu tetap. Bila air melebihi kapasitas lapang penyerapan terhambat karena akan berada dalam lingkungan anaerob.
b. Konsentrasi air tanah yaitu air tanah bukan air murni, tetapi larutan yang berisi berbagai ion dan molekul. Semakin pekat larutan tanah semakin sulit penyerapan. c. Temperatur tanah yaitu temperatur mempengaruhi kecepatan metabolism. Ada
temperatur optimum untuk metabolisme dan tentu saja ada temperatur optimum untuk penyerapan.
d. Aerasi tanah, aerasi adalah pertukaran udara, artinya oksigen dan lepasnya CO2 dari lingkungan. Aerasi mempengaruhi proses respirasi aerob, kalau tidak baik akan menyebabkan terjadinya kenaikan kadar CO2 yang selanjutnya menurunkan pH. Penurunan pH ini berakibat terhadap permeabilitas membran sel (Yusuf, 2009).
Imbibisi merupakan penyerapan air oleh imbiban pada penyerapan air oleh benih. Proses fisiologis benih ditandai dengan awal perkecambahan yaitu benih akan membesar, kulit benih pecah, berkecambah dan ditandai oleh keluarnya radikula dari dalam benih. Biji yang mengandung protein tinggi menyerap air lebih cepat sampai tingkat tertentu daripada biji dengan kadar karbohidrat tinggi. Biji dengan kadar minyak tinggi tetapi kadar proteinnya rendah, kecepatan serapnya sama dengan biji berkadar karbohidrat tinggi.
Potensial kimia air merupakan konsep yang sangat penting dalam fisiologi tumbuhan. Potensial air sebagai sesuatu yang sama dengan potensial kimia air yang dalam suatu sistem dibandingkan dengan potensial kimia air murni pada tekanan atmosfir dan suhu yang sama. Mereka menganggap bahwa potensial air murni dinyatakan sebagai nol. Tekanan yang diberikan pada air atau suatu larutan, akan meningkatkan energi bebasnya sehingga potensial airnya meningkat. Seperti juga gas, zat cair termasuk air dapat melakukan difusi dimana dijelaskan bahwa konsentrasi air dapat berubah apabila di dalam air tersebut dilarutkan suatu zat yang terlarut (Lakitan, 1993).
Hubungan antara potensial air terhadap proses imbibisi pada perkecambahan benih adalah bahwa tahap awal perkecambahan adalah pengambilan air dengan cepat yang disebut imbibisi. Ada indikasi bahwa sampai batas kadar air kritis tertentu
dicapai biji tidak akan rusak, tetapi apabila batas titik ini dilewati dan metabolisme telah dimulai, biji yang sedang berkecambah ini akan mati apabila dikeringkan kembali. Perkecambahan diawali dengan penyerapan air dari lingkungan sekitar biji, baik tanah maupun udara, media lainnya. Biji akan menyerap air biji akan membesar ukurannya karena sel-sel embrio membesar dan melunak. Biji sebagai alat perkembangbiakan tumbuhan harus melalui proses perkecambahan untuk membentuk tumbuhan baru. Dalam proses perkecambahan diawali dengan penyerapan air oleh biji melalui kulit biji. Perkecambahan biji bergantung pada imbibisi, penyerapan air akibat potensial air yang rendah pada biji yang kering. Air yang berimbibisi menyebabkan biji mengembang dan memecahkan kulit pembungkusnya dan juga memicu perubahan metabolic pada embrio yang menyebabkan biji tersebar melanjutkan pertumbuhan.
Proses imbibisi berguna untuk melunakkan kulit biji dan menyebabkan pengembangan embrio dan endosperma. Hal ini menyebabkan pecah atau robeknya kulit biji. Air memberikan fasilitas untuk masuknya oksigen ke dalam biji. Dinding sel yang kering hampir tidak permeabel untuk gas, tetapi apabila dinding sel diimbibisi oleh air, maka gasakan masuk ke dalam sel secara difusi. Apabila dinding sel kulit biji dan embrio menyerap air, maka suplai oksigen meningkat kepada sel-sel hidup sehingga memungkinkan lebih aktifnya pernapasan dan CO2 yang dihasilkan oleh pernapasan tersebut lebih mudah mendifusi keluar.
Proses imbibisi yang terjadi didalam biji tumbuhan meliputi 2 proses yaitu proses difusi dan osmosis. Dikatakan proses difusi karena air bergerak dari larutan yang lebih rendah konsentrasinya di luar biji, masuk ke dalam zat di dalam biji yang mempunyai konsentrasi lebih tinggi sedangkan proses osmosis tidak lain terjadi karena kulit biji bersifat permeabel terhadap molekul-molekul, sehingga air dapat masuk ke dalam biji melalui pori-pori yang ada di dalam kulit biji. Pada Imbibisi tidak ada keterlibatan
membran, seperti pada osmosis. Imbibisi terjadi karena permukaan struktur-struktur mikroskopik dalam sel tumbuhan seperti selulosa, butir pati, protein dan bahan lainnya menarik dan memegang molekul-molekul air dengan gaya tarik antar molekul. Dengan kata lain imbibisi terjadi oleh potential matrik (Tjitrosomo, 1985) Pada proses imbibisi juga dipengaruhi oleh kadar atau konsentrasi larutan sama seperti pada proses difusi dan osmosis.
Penggunakan benih mati dan benih hidup, benih jagung dan benih kacang tanah pada saat praktikum bertujuan untuk membedakan benih murni dan benih tidak murni atau benih yang tidak atau layak untuk digunakan petani. Sebab benih akan menentukan kualitas dan hasil produksi pertanian. Selain itu kita dapat membedakan mana benih yang memiliki daya penyerapan air yang kuat. Benih yang direndam bertujuan untuk mengetahui pengaruh suhu terhadap pertumbuhan biji. Biasanya, kecambah akan cepat berkembang apabila sedikit berlembab, hal ini suhu sangat menentukan factor perkembangan kecambah.
Suhu tentunya sangat berpengaruh untuk pertumbuhan suatu tanaman, karena untuk aktivitas enzim dalam proses biokimia dalam sel tumbuhan. Suhu optimum tumbuhan bervariasi tergantung jenis tumbuhannya. Selain mengatur kerja enzim, suhu juga ada hubungannya dengan absorbsi garam mineral dalam tanah. Semakin tinggi suhu perendaman yang digunakan sampai batas tertentu akan semakin meningkatkan viabilitas benih, pertumbuhan dan hasilnya. Peranan peningkatan suhu adalah untuk pematahan dormansi, sedangkan lama perendaman benih untuk mengoptimalkan imbibisi air dalam benih sehingga bisa memacu perkecambahan.
Larutan polietilena glikol (PEG) digunakan karena mampu menahan air sehingga menjadi tidak tersedia bagi tanaman. Besarnya kemampuan larutan PEG untuk menahan
dalam air, tidak toksik terhadap tanaman, dan tidak mudah diserap menjadi pertimbangan penggunaan PEG conditioning dan invigorasi benih. Penggunaan larutan PEG sebagai bahan conditioning dan invigorasi benih telah banyak dilakukan pada benih tanaman pangan dan sayuran (Murray, 2001).
Senyawa polietilena glikol (PEG) merupakan senyawayang dapat menurunkan potensial osmotik larutan melaluiaktivitas matriks sub-unit etilena oksida yang mampumengikat molekul air dengan ikatan hidrogen. Penyiramanlarutan PEG ke dalam media tanam diharapkan dapat menciptakan kondisi cekaman karena ketersediaan air bagi tanaman menjadi berkurang. Penambahan larutan PEG dalam media diharapkan dapat mensimulasi kondisi cekaman kekeringan. Eksplan yang ditanam dalam media selektif dengan penambahan PEG diharapkan memberikan respons yang sama dengan yang mengalami cekaman kekeringan (Salisbury, 1995).
Senyawa polietilena glikol (PEG) merupakan senyawa yang dapat menurunkan potensial osmotik larutan melalui aktivitas matriks sub-unit etilena oksida yang mampu mengikat molekul air dengan ikatan hidrogen. Penyiraman larutan PEG ke dalam media tanam diharapkan dapat menciptakan kondisi cekaman karena ketersediaan air bagi tanaman menjadi berkurang. Ukuran molekul dan konsentrasi PEG dalam larutan menentukan besarnya potensial osmotik larutan yang terjadi (Michel dan Kaufmann 1973).
Styrofoam kotak merupakan media tanam dengan menambah pasir atau tanah sebagai tempat pertumbuhan tanaman. Styrofoam kotak saat praktikum digunakan membantu menguji daya tumbuh benih. Manfaat dari penggunaan styrofoam yaitu air tetap berada di dalam sistem dan dapat digunakan kembali, mudah didapatkan dan memiliki drainase yang sangat baik dan bila ada tanaman yang mati maka dapat dengan mudah diganti dengan tanaman yang baru, akar tanaman yang terendam dalam air yang
berisi larutan nutrisi yang, dapat berkembang dan tumbuh dalam larutan nutrisi yang dangkal sehingga bagian atas akar tanaman berada di permukaan antara larutan nutrisi dan styrofoam. Adanya bagian akar dalam udara ini memungkinkan oksigen masih bisa terpenuhi dan mencukupi untuk pertumbuhan secara normal.
Pada saat praktikum digunakan styrofoam dengan lubang yang berbeda-beda bertujuan untuk mengetahui seberapa besar kemampuan benih untuk berkecambah dan benih mana yang mampu tumbuh dengan cepat. Semakin besar lubang styrofoam maka cadangan makanannya juga banyak dan air yang diserap lebih banyak. Pasir sering digunakan sebagai media tanam alternatif untuk menggantikan fungsi tanah. Pasir dianggap memadai dan sesuai jika digunakan sebagai media untuk penyemaian benih, pertumbuhan bibit tanaman, dan perakaran setek batang tanaman. Sifatnya yang cepat kering akan memudahkan proses pengangkatan bibit tanaman yang dianggap sudah cukup umur untuk dipindahkan ke media lain. Sementara bobot pasir yang cukup berat akan mempermudah tegaknya setek batang. Selain itu, keunggulan media tanam pasir adalah kemudahan dalam penggunaan dan dapat meningkatkan sistem aerasi serta drainase media tanam.
Pada saat praktikum pasir lapisan bawah disiram menggunakan air, sedangkan pasir lapisan atas tidak hal ini dikarenakan pasir memiliki pori-pori berukuran besar (pori-pori makro) maka pasir menjadi mudah basah dan akan melakuka penguapan sehingga lama kelamaan pasir yang diatas juga akan tetap basah. Penggunaan pasir sebagai media tanam sering dikombinasikan dengan campuran bahan anorganik lain, seperti kerikil, batu-batuan, atau bahan organik yang disesuaikan dengan jenis tanaman. Pasir yang bersalinitas tinggi merupakan jenis pasir yang harus dihindari untuk digunakan sebagai media tanam, kendati pasir tersebut sudah dicuci terlebih dahulu.
Kadar garam yang tinggi pada media tanam dapat menyebabkan tanaman menjadi merana.
Fungsi pemberian penutupan berupa plastik seal pada seedbox yaitu untuk melindungi benih dari kontaminasi atau hal-hal yang tidal diinginkan lainnya dan menjaga benih dari efek radiasi matahari, angin, dan kelebihan temperatur. Proses perkecambahan akan berlangsung apabila berada pada kondisi lembap. Dengan kondisi lingkungan yang terlindungi dapat memberikan perkecambahan yang berkualitas.
Pada percobaan ini dilakukan perlakuan benih bertujuan untuk mempercepat air untuk masuk ke dalam benih. Peristiwa inilah yang dimaksud dengan imbibisi. Cara kerja imbibisi yaitu air yang ada pada lingkungan akan masuk kedalam benih melalui kulit biji yaitu melalui membran permiabel. Setelah air masuk kedalam benih air tersebut akan mengaktifkan enzim-enzim agar laju metabolisme dalam benih dapat berjalan lancar. Setelah metabolisme dalam biji aktif maka proses perkecambahan pun akan terjadi. Begitu juga perendaman yang dilakukan dalam percobaan ini. Perendaman dilakukan bertujuan untuk mengetahui proses masuknya air ke dalam benih. Perendaman untuk mengetahui laju imbibisi dari benih.
Pada praktikum diperoleh data pada benih mati dengan bobot awal 3,50 dan bobot setelah perendaman 3,80 sehingga dapat dihitung % peningkatan sebesar 8,5 % dan pada benih hidup diperoleh bobot awal 1,90 dan bobot setelah perendaman 2,10 dengan % peningkatan sebesar 10,5 %. Berdasarkan data diatas bahwa benih hidup dan benih mati mengalami imbibisi. Pada benih mati terjadi imbibisi karena terjadinya pengaktifan enzi akibat adanya air. Dalam benih mati terjadi aktivitas enzim yang meningkat atau berfungsi. Hal ini disebabkan terjadinya perombakan atau penguraian enzim akibat perendaman yang dapat menyebabkan benih memiliki kemampuan untuk hidup kembali.
Kacang tanah memiliki laju imbibisi pada menit 15 adalah 0,253, menit ke-30 adalah 0,316 dan pada menit ke-45 adalah 0,189 dan menit ke-60 adalah 0,189. Laju imbibisi paling rendah terdapat pada benih kacang tanah yaitu pada menit ke-45 dan menit ke-60 dengan laju imbibisinya 0,189 sedangkan laju imbibisi untuk jagung adalah peda menit ke-15 ialah 0,32 pada menit ke-30 laju imbibisinya adalah 0,24 dan pada menit ke-45 laju imbibisnya adalah 0,16 dan pada menit ke-60 yaitu 0,24. Besarnya laju imbibisi pada acara ini lebih tergantung pada faktor internal dari biji tersebut. Kandungan air pada biji lebih berpengaruh karena adanya air pada benih dapat merangsang penyerapan air oleh benih dari lingkungan. Laju imbibisi tertinggi pada benih kacang tanah terdapat pada menit ke-30 atau penyerapan airnya lebih lambat dapat disebabkan oleh keadaan benih pada saat direndam sudah terlalu kering sehingga penyerapan air menjadi lambat. Sedangkan pada benih jagung, laju imbibisi tertinggi terdapat pada menit ke-15 yaitu penyerapan airnya lebih cepat dikarenakan benih memiliki kemampuan menyerap air bagus.
Pada praktikum pengaruh kadar air media terhadap imbibisi air yaitu diperoleh data yang menunjukkan bahwa tiap perlakuan yang telah diberi larutan PEG pada kontrol menghasilkan -20, kedelai veseline 0 dengan % perkecambahannya 0 %, kedelai 0 dengan % perkecambahannya 0 %, dan benih jagung 0 dengan % perkecambahannya 0 %, dari semua data menunjukkan perlakuan benih tidak ada yang berkecambah pada hari ke delapan atau % perkecamahan semua perlakuan adalah 0 %.
Pada data diatas terlihat bahwa faktor tekanan osmotik PEG menunjukkan pengaruh sangat nyata terhadap semua variabel yang diamati. Hasil analisis menunjukkan adanya interaksi sangat nyata terhadap variabel sehingga benih tidak berkecambah dan terjadi penggelembungan. Penggelembungan terjadi karena jaringan
benih tidak mampu berkecamah karena hadirnya zat penghambat perkecambahan dalam embrio.
Benih jagung sudah tidak mampu berkecambah secara normal dan banyak terserang cendawan. Hal ini sejalan dengan penelitian Widoretno (2002) yang menyatakan bahwa perkecambahan benih jagung menurun akibat meningkatnya konsentrasi PEG pada media perkecambahan. Hal ini diduga terjadi karena semakin terhambatnya proses metabolisme sel akibat cekaman kekeringan yang disimulasikan dengan PEG.
Pengujian benih dilakukan dengan cara simulasi kondisi kekeringan menggunakan. Polyethylen Glycol (PEG). Penggunaan PEG menyebabkan penurunan potensial air secara homogen sehingga dapat digunakan untuk meniru besarnya potensial air tanah (Michel, 1973). PEG telah digunakan pada perkecambahan kacang hijau dengan konsentrasi PEG -0.05 Mpa, -0.2 Mpa, -0.5 dan -1 Mpa yang ditanam dalam media pasir, untuk identifikasi somaklonal beberapa varietas padi tahan kekeringan menggunakan PEG serta untuk menyeleksi genotipe kacang hijau terhadap cekaman kekeringan pada tekanan osmotik -3 bar. Metode menggunakan PEG tergolong sederhana dan singkat, namun memiliki kelemahan antara lain harga PEG yang relatif mahal dan sering terjadinya kontaminasi cendawan pada saat benih dikecambahkan, sehingga diperlukan alternatif pengujian vigor benih yang berkolerasi dengan ketahanan benih terhadap cekaman kekeringan (Dutta, 2008).
Pada praktikum persinggungan antara benih dan air tanah diperoleh data bahwa benih yang ditempatkan pada lubang 1 mm tidak ada benih yang berkecambah sehingga persentasenya 0 %, pada lubang 2 mm tidak ada benih yang berkecambah sehingga persentasenya 0 %, pada lubang 3,5 mm tidak ada benih yang berkecambah sehingga persentasenya 0 %, pada lubang 6 mm tidak ada benih yang berkecambah sehingga
persentasenya 0 %, sehingga dapat disimpulkan bahwa benih dari tiap perlakuan tidak berkecambah setelah 7 hari karena jumlah air dan pasir tidak sebanding sehingga air tidak mampu bersinggungan dengan benih.
Berdasarkan data diatas dapat diketahui benih tidak berkecambah karena pasir memiliki daya serap air yang cukup tinggi sehingga air yang tergenang selama beberapa hari dapat menyebabkan akar tidak dapat melaksanakan respirasi normal aerob namun terjadi respirasi anaerob. Keadaan seperti ini akan menyebabkan tingginya kadar alkohol dalam benih yang selanjutnya akan meracuni benih dan tidak dapat tumbuh.
Hasil penelitian Purwanti (2004) menunjukkan bahwa benih kedelai kuning yang disimpan pada suhu rendah, daya tumbuh dan vigor benihnya masih tinggi (> 80%). Dan apabila ditanaman pada suhu tinggi atau kelembapan yang tinggi daya tumbuhnya akan mulai turun sampai 41%. Hal tersebut disebabkan oleh adanya perubahan kadar air benih yang telah naik sekitar 1%, perbedaan ini sangat berpengaruh terhadap kualitas benih daya berkecambah benih. Kelembapan yang tinggi akan mudah terserang oleh cendawan sehingga tidak dapat tumbuh dan berkembang.
DAFTAR PUSTAKA
Drajat, Sasmitamihardja. 1996. Fisiologi Tumbuhan. Universitas Negeri Makassar. Makassar
Lakitan, Benyamin. 1993. Dasar-Dasar Fisiologi Tumbuhan. Rajagrafindo Persada. Jakarta.
Siregar, Arbaya. 2003. Fisiologi Tumbuhan. Direktoral Jendral Pendidikan Tingkat DEPDIKBUD. Bandung.
Bewley, J. Derek and Michael Black. 1994. Seed Physicology of Development and Germination. Plenum Press, New York.
Bot, Ann. 2002. How plants cope with water stress in the field?. Oxford Journals. 89: 907-916.
Campbell, Neil A., Jane B. Reece, dan Lawrence G. Mitchell. 2003. Biologi Edisi Kelima Jilid Dua. Erlangga, Jakarta.
Hardiman, S. 1993. Seri Budu Daya Jagung. Kanisius, Jakarta.
Susanti, Yuliana. 2011. Pengaruh Cekaman Air Setelah Fase Vegetatif terhadap Hasil. Vale, Marcia de, Egidio Neto, and Helio A. 2001. Water stress response on the enzymatic activity in cowpea nodules. Brazilian Journal of Microbiology. 32: 17-24.
LAMPIRAN Sub A
Benih Hidup Benih Mati
LAMPIRAN Sub B
LAMPIRAN Sub C
A B
Gambar A: kontrol pengujian kadar air media terhadap imbibisi B: pemberian PEG(-20) pada media
LAMPIRAN Sub D
A B
Gambar A: Benih kedelai pada styrofoam dengan diameter lubang 1mm, 2 mm, 3,5 mm dan 6 mm diletakkan pada wadah box yang berisi pasir steril.
B: Pemberian siller pada styrofoam yang telah berisi kedelai.
C D
Gambar C: Pengamatan styrofoam dengan membenarkan posisi kedelai yang tergeser. D: Kondisi styrofoam setelah 7 hari pengamatan.
LAPORAN PRAKTIKUM
TEKNOLOGI DAN PRODUKSI BENIH
ACARA VIII