• Tidak ada hasil yang ditemukan

Umur Volume

D. Hasil yang dicapai

Pertumbuhan tanaman W. trilobata L. di bawah tanaman utama S. leprosula ditampilkan pada gambar berikut ini:

Gambar 1. Pertumbuhan W. trilobata pada tiap perlakuan

Hasil pengamatan pertumbuhan W.trilobata menunjukkan bahwa tanaman ini mampu hidup di tempat tanpa naungan (terbuka) maupun dengan naungan (tertutup), meskipun pertumbuhannya akan lebih baik di tempat terbuka. Hal ini menunjukkan bahwa W. trilobata mempunyai kisaran toleransi ekologi yang sangat luas dan bisa hidup di daerah kering maupun lembap. Meskipun tampak lebih menyukai dan tumbuh lebih baik di daerah dengan intensitas cahaya tinggi, tetapi tanaman ini juga bisa bertahan dengan baik di bawah naungan (Thaman, 1999). Dengan sifat-sifat tersebut maka W. trilobata cocok digunakan sebagai tanaman penutup tanah untuk lahan bekas ladang yang relatif terbuka. Sampai tahap tertentu pertumbuhan W. trilobata akan difokuskan ke pemanjangan sulur. Berikutnya akan tumbuh akar dan rumpun baru dari setiap ruas batangnya, hal ini akan mempercepat terjadinya penutupan tanah.

Riap tanaman merupakan laju pertumbuhan tanaman baik berupa individu pohon maupun tegakan per satuan waktu tertentu atau pertambahan

Ringkasan Hasil Penelitian 2014

116

nilai dimensi tumbuh tanaman seperti diameter maupun tinggi setiap tahunnya. Dalam penelitian ini, pengamatan dilakukan pada riap diameter maupun tinggi tanaman meranti, pengamatan dilakukan pada setiap jalur tanam dengan tujuan untuk mengetahui produktivitas pertumbuhan dari tanaman meranti tersebut. Pertumbuhan tanaman utama secara tidak langsung juga akan mempengaruhi pertumbuhan gulma yang ada di bawahnya. Pembentukan naungan akan menghalangi sinar matahari yang dibutuhkan oleh gulma untuk tumbuh.

Hasil pengamatan terhadap riap diameter maupun tinggi tanaman meranti per jalur tanam di lokasi penelitian dapat dilihat pada Tabel 2.

Tabel 1. Riap rata-rata tahunan (MAI) dan riap tahunan berjalan (CAI) untuk diameter dan tinggi meranti (S. leprosula Miq.)

No. Jalur Diameter (D) Tinggi (T)

MAI-D (mm/thn) CAI-D (mm) MAI-T (cm/thn) CAI-T (cm)

1 17,20 0,55 184,02 7,72 2 16,43 0,58 213,79 12,53 3 18,70 0,60 247,58 13,96 4 10,39 0,62 229,43 15,46 5 11,99 0,98 254,75 9,30 6 9,10 0,98 224,85 8,60 7 11,34 0,87 221,13 7,80 8 8,70 0,73 200,10 6,64 9 8,42 0,75 182,23 4 10 9,17 0,84 205,27 8,60  Rataan 12,14 0,75 216,32 9,46

Riap rata-rata tahunan untuk diameter dan tinggi pada tanaman meranti yang ditanam pada memiliki keragaman pada setiap jalur pengamatan (Tabel 1). Keragaman riap parameter pertumbuhan tanaman ini diduga karena usaha-usaha tanaman dalam penyesuaian tempat tumbuh di lahan terbuka, selain itu meningkatnya kebutuhan energi tanaman hasil dari fotosintesis untuk menunjang proses-proses metabolisme (respirasi, translokasi, penyerapan air dan unsure hara), sehingga energi yang tersisa untuk pertumbuhan tidak sebanyak seperti sebelumnya (Pamoengkas dan Juniar 2011). Namun bila diambil rataan dapat terlihat bahwa riap diameter rata-rata tahunan tanaman meranti adalah sebesar 12,14 mm/thn atau 1,21 cm/thn, sedangkan riap tinggi rata-rata tahunan sebesar 216,32 cm/thn atau 2,16 m/thn. Mawazin dan Suhaendi (2012) melaporkan bahwa dengan semakin lebarnya jarak tanam semakin besar juga riap diameter yang dihasilkan. Namun dalam penelitian ini dengan jarak tanam 10 m x 2,5 m hanya menghasilkan riap diameter sebesar 1,21 cm/thn, sedangkan

Ringkasan Hasil Penelitian 2014

117 dalam penelitian Mawazin dan Suhaendi (2012) di PT. Erna Djuliawati Kalimantan Tengah, menyebutkan dengan jarak tanam 1 m x 1 m hingga 3 m x 3 m menghasilkan rataan riap diameter sebesar 1,61 cm/thn. Untuk itu dapat diasumsikan bahwa untuk memacu pertumbuhan tanaman tersebut, masih diperlukan perlakuan silvikultur yang intensif yang juga tidak mengganggu tujuan awal untuk menekan berkembangnya atau meningkatnya pertumbuhan gulma.

Untuk mengetahui efektivitas tanaman penutup tanah W. trilobata sebagai pengendali gulma pada tanaman utama S. leprosula informasi mengenai kehadiran jenis gulma atau tumbuhan yang potensial sebagai gulma sangat diperlukan. Kehadiran gulma pada tiap perlakuan bisa dilihat pada gambar di bawah ini:

Gambar 2. Kehadiran gulma pada tiap perlakuan

Pada gambar 2 bisa dilihat bahwa gulma lain masih tetap tumbuh pada tiap perlakuan dengan frekuensi yang bervariasi. Tumbuhan bawah yang berpotensi sebagai gulma lebih banyak muncul di tempat terbuka dibanding pada tempat tertutup pada perlakuan yang sama. Hal ini sesuai dengan sifat tumbuhan yang membutuhkan cahaya untuk pertumbuhannya. Tumbuhan bawah yang berpotensi sebagai gulma lebih banyak muncul pada perlakuan dengan luasan

tanam 4 m2 yaitu sekitar 28,7%, dibandingkan dengan perlakuan dengan luas

tanam 1 m2. Hal ini berkaitan dengan kondisi tanah maupun intensitas cahaya, di

mana perlakuan tersebut lebih banyak berada di tempat yang terbuka dengan sedikit naungan. Kecenderungan ini juga ditemukan pada pengamatan W. trilobata, pada perlakuan dengan jarak tanam 4 m2 pertumbuhannya lebih baik

Ringkasan Hasil Penelitian 2014

118

Keberhasilan penelitian ini secara umum bisa diketahui dengan melihat korelasi antara rerata panjang sulur W. trilobata, tinggi S. leprosula dan kehadiran gulma pada Tabel 2.

Tabel 2. Analisis korelasi antara panjang sulur W. trilobata , tinggi S. leprosula dan kehadiran gulma

Correlations Panjang sulur Tinggi shorea Kehadiran gulma Panjangs ulur Pearson Correlation 1 ,321 ,884** Sig. (2-tailed) ,438 ,004

Sum of Squares and Cross-products 4406,466 1433,027 1607,115 Covariance 629,495 204,718 229,588 N 8 8 8 Tinggi shorea Pearson Correlation ,321 1 ,094 Sig. (2-tailed) ,438 ,826

Sum of Squares and Cross-products 1433,027 4521,500 172,147 Covariance 204,718 645,929 24,592 N 8 8 8 Kehadiran gulma Pearson Correlation ,884** ,094 1 Sig. (2-tailed) ,004 ,826

Sum of Squares and Cross-products

1607,115 172,147 749,634

Covariance 229,588 24,592 107,091

N 8 8 8

**. Correlation is significant at the 0.01 level (2-tailed).

Pada Tabel 2 dapat dilihat bahwa ada korelasi positif antara rerata panjang sulur terhadap kehadiran gulma. Hal ini justru bermakna kurang baik, di mana saat pertumbuhan W. trilobata baik ternyata kehadiran gulma di situ juga meningkat. Jadi penanaman W. trilobata dalam hal ini dikatakan tidak berhasil untuk mengendalikan gulma. Pertumbuhan W. trilobata dan Kehadiran gulma kemungkinan lebih dipengaruhi oleh kondisi tanah tempat mereka tumbuh.

Dari hasil analisis korelasi diketahui bahwa tidak ada korelasi antara pertumbuhan tinggi S. leprosula, pertumbuhan W. trilobata dan kehadiran

Ringkasan Hasil Penelitian 2014

119 gulma. Hal ini mungkin disebabkan karena penanaman W. trilobata dan kehadiran gulma tidak menimbulkan persaingan untuk mendapatkan unsur hara yang dibutuhkan oleh tanaman S. leprosula. Selain itu pembentukan naungan oleh tanaman S. leprosula belum berpengaruh terhadap intensitas cahaya yang diterima oleh tanaman W. trilobata dan tumbuhan bawah lainnya.

E. Kesimpulan dan Rekomendasi