RINGKASAN A. Latar Belakang
E. Kesimpulan dan Rekomendasi a) Kesimpulan
1. Berdasarkan kelas diameter maka sebaran/distribusi diameter pada semua tahun tebang masih berbentuk J-terbalik yaitu kelas diameter kecil memiliki jumlah terbanyak sedangkan makin besar makin sedikit hal ini terjadi baik pada hutan primer maupun yang telah ditebang
2. Tingkat Kematian pohon (mortalitas) masih tinggi sampai pada tahun kedua setelah penebangan, pada pengamatan tahun keempat, tingkat kematian ini telah mengalami kondisi sebagaimana hutan primer dengan kisaran 2% - 5%. Tingkat Ingrowth mengalami peningkatan sampai tahun keenam setelah penebangan dan pada tahun selanjutnya mengalami penurunan
3. Jenis-jenis dari famili dipterocapaceae memiliki keunggulan dalam pertumbuhan yang ditunjukan dengan besarnya riap pada setiap kondisi tegakan, terutama dari jenis jenis Shorea sp.
4. Ada perubahan posisi tajuk pada hutan bekas tebangan dimana kelas 2 menjadi lebih besar persentasenya dibanding sebelum penebangan, sedangkan pada hutan primer tidak berubah, sedangkan bentu tajuk tidak
Ringkasan Hasil Penelitian 2014
39 mengalami perubahan diamana kelas 2 menduduki tempat pertama pada semua perlakuan.
b) Rekomendasi
Pengamatan lanjutan sangat diperlukan untuk mengetahui perkembangan tegakan, sehingga diperoleh dinamika tegakan yang lebih lengkap dan bahan pertimbangan dalam penentuan rotasi tebang berikutnya.
Ringkasan Hasil Penelitian 2014
Program : Litbang Hutan Tanaman
Judul RPI : Pengelolaan Hutan Alam Produksi Lestari
Koordinator RPI : Dr. Ir. Darwo, M.Si
Judul Kegiatan : Kajian Karakteristik Jenis-jenis Pohon untuk
Dikembangkan pada Berbagai Kondisi Hutan Alam Bekas Tebangan
Pelaksana Kegiatan : Rini Handayani, S.P.
ABSTRAK
Usaha peningkatan produktivitas hutan alam sangat tergantung pada kualitas lingkungan dan vegetasi. Hutan alam bekas tebangan memiliki karakteristik berbeda di setiap lokasi tergantung pada tingkat pemanenan. Karakteristik jenis Dipterokarpa pada berbagai kondisi hutan alam bekas tebangan belum banyak dipelajari. Dengan demikian diperlukan penelitian karakteristik jenis Dipterokarpa pada berbagai kondisi pasca tebangan. Penelitian karakteristik jenis Dipterokarpa dilakukan dengan dua pendekatan, yaitu pengamatan morfologis jenis dan karakteristik tempat tumbuh (tanah, iklim, topografi dan vegetasi). Hasil penelitian tahun ini menunjukkan bahwa karakteristik morfologis daun dan batang anakan jenis Dipterokarpa berbeda antar jenis tergantung faktor genetik dan lingkungan. Karakteristik tempat tumbuh seperti sifat tanah, iklim, topografi dan vegetasi berbeda-beda antar lokasi tempat tumbuh jenis Dipterokarpa.
Kata kunci: produktivitas hutan alam, karakteristik tempat tumbuh, karakteristik morfologis
RINGKASAN A. Latar Belakang
Penurunan produktivitas hutan alam akibat pengelolaan hutan yang kurang baik menyebabkan pasokan kayu dari hutan alam terus menurun. Pada saat ini terdapat tiga kondisi hutan alam, yaitu hutan alam yang masih potensial/baik, hutan alam bekas tebangan yang kurang produktif dan hutan alam yang sudah rusak. Pada kondisi hutan alam bekas tebangan yang kurang produktif dan hutan alam yang sudah rusak, kegiatan penanaman merupakan suatu kebutuhan, agar kelestarian hutan tetap terjaga. Berbagai teknik silvikultur dicobakan dalam rangka meningkatkan produktivitas hutan. Jenis pohon yang disarankan dan dapat menjadi pilihan untuk pengayaan adalah jenis-jenis Dipterokarpa.
Sehubungan dengan upaya peningkatan produktivitas kayu dari jenis Dipterokarpa, maka penerapan teknik budidaya setiap jenis yang akan dikembangkan harus tepat, dengan harapan diperoleh pertumbuhan riap
maksimal. Pertumbuhan setiap jenis Dipterokarpa dipengaruhi oleh karakteristik
jenis dan lingkungan. Kenzo, et al. (2006) menyatakan bahwa karakteristik daun memiliki hubungan sederhana dan signifikan dengan tinggi pohon, dengan
Ringkasan Hasil Penelitian 2014
42
beberapa perbedaan intra dan antar spesies Dipterokarpa. Adanya hubungan yang spesifik antara karakteristik jenis dengan lingkungan tempat tumbuhnya, memungkinkan setiap jenis Dipterokarpa dapat mengalami pertumbuhan yang berbeda di setiap lokasi. Penelitian-penelitian karakteristik jenis Dipterokarpa terkait pertumbuhan di hutan alam bekas tebangan banyak dilakukan, namun informasinya masih terpisah-pisah dan parameter karakteristik jenis yang berpengaruh nyata terhadap pertumbuhan belum banyak diketahui. Oleh karena itu, penelitian ini bertujuan untuk mengetahui parameter karakteristik jenis Dipterokarpa yang berpengaruh nyata terhadap pertumbuhan.
Kajian karakteristik jenis ini dilaksanakan dalam dua tahap. Pertama, pengamatan karakteristik tempat tumbuh alaminya di hutan alam dan karakteristik morfologis anakan jenis Dipterokarpa di persemaian. Kedua, pengamatan karakteristik jenis Dipterokarpa yang ditanam pada berbagai kondisi hutan alam bekas tebangan. Kajian karakteristik jenis Dipterokarpa tahun 2014 akan difokuskan pada tahap pertama.
B. Tujuan dan Sasaran a) Tujuan
Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui karakteristik morfologis dan karakteristik tempat tumbuh anakan jenis-jenis Dipterokarpa.
b) Sasaran
Sasaran penelitian ini adalah sebagai berikut: 1). Tersedia informasi karakteristik morfologis anakan jenis-jenis Dipterokarpa dan 2). Tersedia informasi karakteristik tempat tumbuh anakan jenis-jenis Dipterokarpa.
C. Metode Penelitian
Penelitian ini dilakukan di KHDTK Labanan, Berau dan IUPHHK-HA PT. Gunung Gajah Abadi, Kutai Timur, Kalimantan Timur. Analisis tanah dilakukan di Laboratorium Ilmu Tanah, Fakultas Kehutanan, Universitas Mulawarman. KHDTK Labanan.
Bahan yang digunakan adalah anakan Shorea smithiana, Shorea seminis, Shorea patoensis, Shorea parvistipulata, Shorea superba, Shorea macrophylla, Shorea sp., Shorea parvifolia, Dryobalanops lanceolata dan Dryobalanops sp., kompos kotoran sapi, pupuk NPK, polibag ukuran 12x18 cm. Informasi umum pohon induk jenis Dipterokarpa disajikan dalam Tabel 1.
Alat yang digunakan adalah plastik ukuran 20x0,5 cm, kertas koran, kardus box besar, tali rafia, pita survey, label mecolin, meteran, clinometer, kaliper, kompas, bor tanah, ring sampel, kantong plastik, karung beras, gunting tanaman, tongkat ukur, buku Morfologi Tumbuhan, kamera digital, alat tulis dan GPS.
Ringkasan Hasil Penelitian 2014
43 Prosedur Kerja yang dilakukan adalah sebagai berikut:
1). Pengumpulan anakan jenis-jenis Dipterokarpa. 2). Pengamatan pohon induk.
Parameter pohon induk yang diamati adalah tinggi total, diameter setinggi dada, tinggi bebas cabang dan lebar tajuk.
3). Pengamatan tempat tumbuh anakan.
Parameter yang diamati di sekitar pohon induk adalah topografi, ketinggian tempat, iklim dan vegetasi.
4). Pengambilan sampel tanah utuh dan terganggu.
Sampel tanah utuh dan terganggu diambil dari kedalaman 0-20 cm dalam radius 10 meter dari pohon induk. Sampel tanah utuh untuk analisis kadar air (KA) pada tekanan pF (pF 1, pF 2, pF 2,54 dan pF 4,2), Bulk Density (BD), ruang pori total dan permeabilitas. Sampel tanah terganggu untuk analisis tekstur,
pH H2O, P-tersedia, K-tersedia, basa-basa dapat ditukar, KTK, KB, N-total,
C-organik, H-dd dan Al-dd. 5). Pembibitan.
Prosedur pembibitan yang dilakukan adalah penyiapan media tanam, penyapihan bibit, penyungkupan bibit dan pemeliharaan bibit.
6). Pengamatan karakteristik morfologi bibit.
Bagian daun yang diamati adalah bagian daun dan batang. Parameter daun yang diamati adalah susunan daun, tata letaknya, panjang daun, diameter daun, alat-alat tambahan (bentuknya, ukurannya, lekas runtuh atau tetap), bagi daun tunggal: upih daun (bentuk, ukuran), tangkai daun (ada atau tidak, bentuk, ukuran, warnanya, adanya rambut), helaian (bangunannya, susunan tulang daun, bentuk pangkal dan ujung, tepi, alat-alat tambahan pada helaian daun). Parameter batang yang diamati adalah bentuk, sifat dan arah tumbuh batang, adanya alat-alat lain seperti duri, bulu, rambut, rigi-rigi, sayap, kelenjar, bergetah atau tidak. Karakteristik morfologi diamati 1 bulan setelah sungkup dibuka. Sampel tanaman yang diamati berjumlah 10 tanaman dari masing-masing jenis.
Data karakteristik morfologi, sifat tanah, ketinggian tempat, kemiringan lereng, iklim dan vegetasi dianalisis secara deskriptif.
D. Hasil yang Dicapai
Hasil pengamatan morfologi daun anakan jenis Dipterokarpa dapat dilihat pada Tabel 1. Secara umum terlihat bahwa susunan dan tata letak daun 10 jenis Dipterokarpa yang diamati sama yaitu susunannya tunggal dan letaknya berseling. Karakteristik tersebut seperti susunan daun dan tata letaknya. Parameter panjang dan lebar daun, daun penumpu terlihat berbeda pada setiap jenis. Panjang daun terbesar terdapat pada jenis S. macrophylla dan panjang daun terkecil terdapat pada jenis Shorea patoensis. Lebar daun terbesar terdapat pada jenis Shorea macrophylla dan lebar daun terkecil terdapat pada jenis Shorea patoensis. Daun
Ringkasan Hasil Penelitian 2014
44
penumpu anakan 6 jenis Dipterokarpa mudah gugur dan daun penumpu 4 jenis lainnya melekat lama. Daun penumpu terbesar terdapat pada jenis Shorea macrophylla dan daun penumpu terkecil terdapat pada jenis Shorea patoensis. Warna daun penumpu umumnya hijau, kecuali pada jenis S. patoensis berwarna jingga. Daun penumpu S. smithiana berwarna hijau kemerahan karena adanya rambut berwarna jingga yang menutupi permukaan daun penumpu. Gambaran lebih jelas mengenai daun penumpu dapat dilihat pada Gambar 1.
Morfologi tangkai daun anakan 10 jenis Dipterokarpa dapat dilihat pada Gambar 2. Jenis Dipterokarpa yang diamati seluruhnya memiliki bentuk tangkai daun silinder agak pipih dengan pangkal menebal. Ukuran tangkai daun terbesar terdapat pada jenis Shorea macrophylla dan terkecil terdapat pada jenis Shorea parvifolia. Warna tangkai daun hijau. Alat tambahan seperti rambut terdapat pada jenis Shorea smithiana, S. macrophylla, S. parvistipulata dan Shorea sp., sedangkan pada jenis yang lainnya tidak didapati rambut pada tangkai daun. Warna rambut pada tangkai daun setiap jenis berdeda dan warna rambut tersebut merupakan salah satu karakteristik morfologi yang khas.
Tabel 1. Morfologi Daun Anakan Jenis Dipterokarpa.
Jenis Susunan daun Tata letak Daun Panjang (cm) Lebar (cm) Daun Penumpu Sifat Ukuran (cm) Warna Shorea smithiana
tunggal berseling 9,7-14,8 3,9-5,6 melekat lama
0,5 x 0,3 hijau kemerahan
Shorea parvistipulata
tunggal berseling 9,0-12,7 3,2-5,6 melekat lama
0,8 x 0,3-0,8
hijau tua
Shorea superba tunggal berseling 6,5-10,0 2,4-4,0 mudah gugur
0,7 x 0,3 hijau kekuningan
Shorea seminis tunggal berseling 7,5-12,5 2,1-5,1 mudah gugur
0,8 x 0,2 hijau muda
Shorea patoensis tunggal berseling 4,6-9,5 2,0-2,9 mudah gugur 0,5 x 0,2 jingga Shorea macrophylla tunggal berseling 17,5-24,5 7,8-10,8 melekat lama 2,0 x 1,0 hijau Dryobalanops lanceolata tunggal berseling 10,0-15,4 2,3-4,3 mudah gugur 0,8 x 0,2 hijau
Shorea sp. tunggal berseling 13,0-19,0
4,2-6,8 melekat lama
0,7 x 0,5 hijau
Shorea parvifolia tunggal berseling 6,0-9,0 2,5-4,3 mudah gugur
0,8 x 0,2 hijau
Dryobalanops sp. tunggal berseling 12,0-17,5
3,8-5,7 mudah gugur
Ringkasan Hasil Penelitian 2014
45 Morfologi helaian daun anakan 10 jenis Dipterokarpa dapat dilihat pada Gambar 2. Helaian daun jenis yang diamati berbentuk jorong, kecuali pada jenis Dryobalanops sp. berbentuk lanset. Pangkal daun berbentuk tumpul sampai membulat. Morfologi ujung daun, susunan tulang daun dan tepi daun pada semua jenis yang diamati memiliki karakteristik yang sama. Alat tambahan pada helaian daun berupa rambut terdapat pada jenis Shorea smithiana, Shorea parvistipulata dan Shorea sp. Semua jenis yang diamati memiliki karakteristik bentuk dan arah tumbuh batang yang sama. Karakteristik batang yang berbeda antar jenis terdapat pada sifat permukaan batang. Sifat permukaan batang pada umumnya licin, kecuali pada jenis Shorea smithiana, S. Parvistipulata, S. macrophylla dan Shorea sp. didapati rambut.
Ringkasan Hasil Penelitian 2014 46 (a) (b) (c) (d) (e) (f) (g) (h) (i) (j)
Gambar 1. Daun Penumpu Anakan Jenis Dipterokarpa: (a) S. smithiana; (b) S. parvistipulata; (c) S. superba; (d) S. seminis; (e) S. patoensis; (f) S. macrophylla; (g) D. lanceolata; (h) Shorea sp.; (i) S. parvifolia; (j) Dryobalanops sp.
Ringkasan Hasil Penelitian 2014 47 (a) (b) (c) (d) (e) (f) (g) (h) (i) (j)
Gambar 2. Tangkai dan Helaian Daun Anakan Jenis Dipterokarpa: (a) S. smithiana; (b) S. parvistipulata; (c) S. superba; (d) S. seminis; (e) S. patoensis; (f) S. macrophylla; (g) D. lanceolata; (h) Shorea sp.; (i) S. parvifolia; (j) Dryobalanops sp.
Ringkasan Hasil Penelitian 2014
48
Karakteristik tanah di sekitar pohon induk jenis Dipterokarpa disajikan dalam Tabel 5, 6, 7 dan 8. Reaksi keasaman tanah pada semua jenis pohon induk tergolong sangat masam, yaitu berkisar antara 3,26 sampai dengan 4,48. Kandungan C-organik tertinggi terdapat di sekitar pohon jenis S. Smithiana yaitu sebesar 1,46 % dan terendah terdapat di sekitar pohon induk jenis S. parvifolia dan Shorea sp. yaitu sebesar 0,15 %. Kandungan N-total tertinggi terdapat di sekitar jenis S. macrophylla dan Dryobalanops lanceolata yaitu sebesar 0,15 % dan terendah terdapat di sekitar jenis S. parvifolia dan Shorea sp. yaitu sebesar 0,8 %. Kandungan P-tersedia tertinggi terdapat di sekitar jenis Shorea parvistipulata yaitu sebesar 11,14 ppm dan terendah terdapat di sekitar jenis Shorea superba yaitu sebesar 0,34 ppm. Kandungan K-tersedia tertinggi terdapat di sekitar jenis Shorea seminis yaitu sebesar 53,83 ppm dan terendah terdapat di sekitar jenis S. parvifolia dan Shorea sp. yaitu sebesar 25,06 ppm.
Tabel 2. Karaktersistik pH, C-organik, N-total, P-tersedia dan K-tersedia di sekitar pohon Induk Jenis Dipterokarpa.
Pohon Induk pH H2O C-organik (%) N-total (%) P-tersedia (ppm) K-tersedia (ppm) Shorea smithiana 4,28 1,46 0,09 6,17 44,90 Shorea parvistipulata 4,48 1,15 0,11 11,14 34,38 Shorea superba 4,42 1,36 0,14 0,34 42,06 Shorea seminis 3,64 0,76 0,13 1,56 53,83 Shorea patoensis 3,33 0,92 0,13 2,49 45,07
Shorea macrophylla dan Dryobalanops lanceolata
3,86 0,97 0,15 1,46 35,98
Shorea parvifolia dan Shorea sp.
3,88 0,15 0,08 1,04 25,06
Dryobalanops sp. 3,26 1,01 0,14 1,46 28,84
Tekstur tanah paling kasar terdapat di sekitar jenis Shorea parvifolia dan Shorea sp. Tekstur paling halus terdapat di sekitar jenis Shorea smithiana dan Dryobalanops sp. Bulk Density (BD) tanah tertinggi terdapat di sekitar jenis Shorea parvistipulata yaitu 1,36 g/cm3 dan BD terendah terdapat di sekitar jenis Shorea sp.
dan S. Parvifolia yaitu 1,04 g/cm3. Sedangkan porositas tanah tertinggi terdapat di
sekitar jenis Shorea sp. dan S. Parvifolia yaitu 60,79 % dan terendah terdapat di sekitar jenis Shorea parvistipulata yaitu 48,75 %.
Ringkasan Hasil Penelitian 2014
49 Tabel 3. Karakteristik Kation Dapat Ditukar dan Kapasitas Tukar Kation (KTK)
di sekitar pohon Induk Jenis Dipterokarpa.
Pohon Induk Ca-dd Mg-dd K-dd Na-dd Al-dd H-dd KTK KB (%) (cmol/kg) Shorea smithiana 2,41 2,71 0,08 0,02 0,21 2,73 19,34 27 Shorea parvistipulata 3,68 2,42 0,07 0,02 0,21 2,93 15,30 40 Shorea superba 4,77 0,88 0,10 0,03 0,30 5,68 19,86 29 Shorea seminis 0,39 2,25 0,31 0,09 1,67 1,67 6,37 48 Shorea patoensis 0,23 0,26 0,05 0,22 5,33 1,50 7,59 10 Shorea macrophylla dan Dryobalanops lanceolata 0,45 1,13 0,07 0,18 2,08 1,50 5,41 34 Shorea parvifolia dan Shorea sp. 0,52 1,43 0,07 0,15 2,67 1,50 6,34 34 Dryobalanops sp. 0,16 0,57 0,06 0,17 4,17 1,50 6,62 15 Keterangan: Ca-dd = Kalsium dapat ditukar; KTK = Kapasitas Tukar Kation;
KB = Kejenuhan Basa
Tabel 4. Distribusi Partikel dan Tekstur Tanah di Sekitar Pohon Induk Jenis Dipterokarpa.
Pohon Induk Pasir Debu Liat Tekstur
(%)
Shorea smithiana 22,56 37,04 40,40 Liat
Shorea parvistipulata 41,88 23,93 34,19 Lempung Liat
Shorea superba 13,04 46,58 40,37 Liat Berdebu
Shorea seminis 50,10 24,80 25,10 Lempung Liat
Shorea patoensis 52,30 24,50 23,20 Lempung
Shorea macrophylla dan Dryobalanops lanceolata
30,00 49,30 20,70 Lempung
Shorea parvifolia dan Shorea sp.
72,50 9,30 18,20 Pasir Berlempung
Ringkasan Hasil Penelitian 2014
50
Tabel 5. Karakteristik Fisika Tanah di Sekitar Pohon Induk Jenis Dipterokarpa.
Pohon Induk
Bulk Density ( g/cm3)
Porositas
( % ) Kadar Air (% Volume) pada PF
Permea bilitas (cm/ Jam ) PF 1 PF 2 PF 2.54 PF 4.2 S. smithiana 1.30 51.07 41.80 36.24 29.44 20.92 3.80 S. parvistipulata 1.36 48.75 45.54 38.36 29.87 19.62 4.72 S. superba 1.25 52.80 44.84 38.47 28.37 21.53 11.29 S. seminis 1.15 56.75 43.34 35.42 28.91 19.04 10.07 S. patoensis 1.20 54.82 42.59 33.54 27.01 20.67 7.83 S. macrophylla dan D. lanceolata 1.11 58.13 46.91 36.18 27.25 14.18 7.72 Shorea sp. dan S. parvifolia 1.04 60.79 51.69 38.23 32.34 17.46 16.46 Dryobalanops sp. 1.12 57.90 46.16 39.35 32.06 21.82 9.64
Hasil pengamatan karakteristik tempat tumbuh seperti ketinggian tempat, lereng, posisi topografi dapat dilihat pada Tabel 9. Jenis Dipterokarpa yang diteliti ditemukan pada ketinggian antara 90 m sampai 141 m di atas permukaan laut. Besaran lereng beragam mulai dari 0 % sampai dengan 75%. Posisi topografi beragam yaitu lembah, lereng cembung dan punggung lipatan.
Tabel 6. Ketinggian tempat, Lereng dan Posisi Topografi di Sekitar Pohon Induk Jenis Dipterokarpa.
Pohon Induk Ketinggian Tempat (m dpl)
Lereng (%)
Posisi Topografi
S. smithiana 100 11 lereng cembung
S. parvistipulata 101 75 lereng cembung
S. superba 117 1 punggung lipatan
S. seminis 103 24 lereng cembung
S. patoensis 126 63 lereng cembung
S. macrophylla 141 0 lembah
Dryobalanops lanceolata 141 0 lembah
Shorea parvifolia 90 3 lembah
Shorea sp. 90 3 lembah
Dryobalanops sp. 100 30 lereng cembung
Curah hujan tahunan pada kedua lokasi penelitian lebih dari 2400 mm/tahun. Hasil pengamatan vegetasi di sekitar pohon induk jenis Dipterokarpa di
Ringkasan Hasil Penelitian 2014
51 sajikan pada Tabel 11. Jumlah vegetasi tertinggi terdapat di sekitar pohon induk jenis Shorea smithiana dan terendah terdapat di sekitar pohon induk jenis Shorea parvifolia dan Dryobalanops sp. Jumlah vegetasi yang tumbuh di suatu lahan tergantung pada kemampuan regenerasi suatu jenis dan faktor lingkungan
Tabel 7. Vegetasi di Sekitar Pohon Induk Jenis Dipterokarpa.
Pohon Induk Jumlah Jumlah (batang)
Famili jenis Pancang Tiang Pohon
Shorea smithiana 14 24 12 12 11 Shorea parvistipulata 10 15 12 4 12 Shorea superba 7 17 23 8 7 Shorea seminis 10 13 18 5 6 Shorea patoensis 9 16 18 9 14 Shorea macrophylla 1 4 5 10 4 Dryobalanops lanceolata 3 4 2 1 3 Shorea parvifolia 2 2 2 0 2 Shorea sp. 2 3 1 0 4 Dryobalanops sp. 1 2 6 2 5
E. Kesimpulan dan Saran