• Tidak ada hasil yang ditemukan

HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN A.Pelaksanaan Penelitian

B. Hasil Penelitian 1. Hasil Uji Asumsi 1.Hasil Uji Asumsi

2. Hasil Uji Hipotesis

Pengujian ini bertujuan untuk membuktikan bahwa permainan pura-pura memiliki pengaruh yang positif terhadap kemampuan berbahasa, khususnya dalam meningkatkan kemampuan artikulasi/pengucapan, perbendaharaan kata yang dikuasai, kemampuan menyusun kata-kata dalam kalimat, pemahaman dan kemampuan membuat dan melangsungkan percakapan. Untuk menguji kemampuan berbahasa, skor pada kelima aspek kemampuan berbahasa disetarakan terlebih dahulu dikarenakan adanya perbedaan spesifikasi dan kriteria penskoran dari masing-masing aspek tersebut. Penyetaraan ini dilakukan dengan mentransformasikan skor-skor tersebut ke dalam skor T (T-score). Dengan adanya kesetaraan ini, dimungkinkan untuk membandingkan kemampuan berbahasa antara kelompok eksperimen dengan kelompok kontrol.

Hasil pengujian Independent Sample t-test terhadap skor pretest kemampuan berbahasa kelompok eksperimen dengan pretest kelompok kontrol menunjukkan bahwa tidak ada perbedaan yang signifikan antara kedua kelompok (t = 1,405; p = 0,174). Data ini menunjukkan bahwa tidak ada perbedaan kemampuan berbahasa antara kelompok eksperimen dengan kelompok kontrol sebelum diberi perlakuan.

Tabel 4.3. Rangkuman Hasil Uji t pada kelompok eksperimen dan kelompok kontrol

Aspek MBpost-pre (eksperimen) MBpost-preB (kontrol) t Sig. Kemampuan Berbahasa 10,9 -15,28 4,720 p = 0,000 Artikulasi 0,64 0,1 2,159 p = 0,042 Perbendaharaan Kata 1,21 0 3,049 p = 0,006 Menyusun Kalimat 27,07 7 4,415 p = 0,000 Pemahaman 1 1,1 - 0,276 p = 0,785 Percakapan 1,5 0,4 3,612 p = 0,002

Tabel 4.3 diatas menunjukkan bahwa ada perbedaan kemampuan berbahasa yang signifikan antara kelompok eksperimen dengan kelompok kontrol (t = 4,720; p = 0,000). Kelompok eksperimen mengalami peningkatan sebesar 10,9. Hal ini membuktikan bahwa permainan pura-pura dapat meningkatkan kemampuan berbahasa anak pra sekolah. Berarti hipotesis penelitian diterima. Kemampuan berbahasa anak yang bermain pura-pura lebih baik dibandingkan anak yang bermain soliter dan pasif. Data pada tabel 4.3 diatas juga menunjukkan bahwa kemampuan berbahasa kelompok kontrol mengalami penurunan sebesar 15,28 namun pada tiap-tiap aspeknya justru tidak mengalami penurunan. Dengan tidak diberinya permainan pura-pura, kelompok kontrol mengalami penurunan performance test secara keseluruhan.

Berikut adalah pengujian terhadap tiap-tiap aspek kemampuan berbahasa. Pada aspek artikulasi, terdapat perbedaan yang signifikan antara

kelompok eksperimen dengan kelompok kontrol (t = 2,159; p = 0,042). Setelah mendapatkan permainan pura-pura, kemampuan artikulasi pada kelompok eksperimen meningkat sebesar 0,64 lebih tinggi dibandingkan pada kelompok kontrol. Berarti permainan pura-pura dapat meningkatkan kemampuan artikulasi anak.

Untuk aspek perbendaharaan kata, ada perbedaan tingkat perbendaharaan kata yang signifikan antara kelompok eksperimen dengan kelompok kontrol (t = 3,049; p = 0,006). Perbendaharaan kata pada kelompok eksperimen meningkat sebesar 1,21 lebih tinggi dibandingkan pada kelompok kontrol. Berarti permainan pura-pura dapat meningkatkan perbendaharaan kata anak.

Ada perbedaan kemampuan menyusun kalimat yang signifikan antara kelompok eksperimen dengan kelompok kontrol (t = 4,415; p = 0,000). Kemampuan menyusun kalimat pada kelompok eksperimen meningkat sebesar 27,07 lebih tinggi dibandingkan pada kelompok kontrol. Dapat dikatakan bahwa permainan pura-pura dapat meningkatkan kemampuan anak untuk merangkai kata-kata dalam kalimat.

Untuk aspek pemahaman, tidak ada perbedaan antara kelompok eksperimen dengan kelompok kontrol (t = -0,276; p = 0,785). Kelompok eksperimen terjadi peningkatan rerata sebesar 1 sementara kelompok kontrol meningkat sebesar 1.1. Peningkatan pada kelompok kontrol lebih besar daripada kelompok eksperimen. Berarti permainan pura-pura tidak dapat meningkatkan tingkat pemahaman anak.

Ada perbedaan kemampuan untuk membuat dan melangsungkan percakapan yang signifikan antara kelompok eksperimen dengan kelompok kontrol (t = 3,612; p = 0,002). Setelah mendapatkan permainan pura-pura, kemampuan membuat dan melangsungkan percakapan meningkat sebesar 1,5. Peningkatan pada kelompok eksperimen lebih tinggi dibandingkan pada kelompok kontrol sehingga dapat dikatakan bahwa permainan pura-pura dapat meningkatkan kemampuan anak untuk membuat dan melangsungkan percakapan.

C. Pembahasan

Hasil penelitian menunjukkan bahwa hipotesis diterima. Ada pengaruh positif atau konstruktif dari permainan pura-pura terhadap perkembangan kemampuan berbahasa anak pra sekolah. Anak yang memainkan permainan pura-pura memiliki kemampuan berbahasa yang lebih baik dibandingkan dengan yang bermain soliter dan bermain pasif. Hal ini dikarenakan permainan pura-pura mengutamakan penggunaan bahasa sebagai mediator untuk menjelaskan perilaku bermain anak. Ketika bermain bersama dengan temannya, anak tidak hanya mengucapkan kata dan kalimat yang telah ia kuasai dan menggunakan kosakata yang telah dimiliki, namun anak juga mempelajari dan mengucapkan kata-kata baru, memperkaya perbendaharaan kata, menjelaskan peran dan aktivitas yang dimainkan dengan menggunakan kata yang tepat dan kalimat yang bermakna serta memahami maksud yang disampaikan oleh teman bermainnya dalam suatu percakapan. Mereka memiliki kesempatan untuk mempraktekkan kemampuan

yang telah dimiliki maupun kemampuan yang baru saja diperoleh selama bermain pura-pura.

Permainan pura-pura dapat meningkatkan kemampuan artikulasi atau kemampuan anak untuk memproduksi bunyi-bunyi menjadi kata yang jelas dan berarti. Hasil penelitian ini sejalan dengan teori yang dikemukakan oleh Siegler (1991) yang menyatakan bahwa anak dapat diikutsertakan dalam aktivitas mental yang beragam sehingga mereka mampu mengembangkan sistem persepsi-auditoris yang baik. Permainan pura-pura termasuk dalam aktivitas mental yang dapat membantu anak pra sekolah belajar mengucapkan kata dengan benar. Ketika bermain, anak memperoleh kesempatan untuk mempraktekkan bunyi-bunyi yang sudah dikuasai maupun yang baru ia pelajari. Bunyi-bunyi tersebut harus diucapkan dengan jelas supaya dapat dipahami oleh teman bermainnya. Dengan berusaha mengucapkan kata-kata dengan jelas akan berdampak pada keberlangsungan permainan itu sendiri.

Permainan pura-pura juga dapat meningkatkan perbendaharaan kata anak. Hasil penelitian ini sejalan dengan penelitian yang pernah dilakukan oleh Nurnindyah, Hartati dan Hidayati (2004) yang menyatakan bahwa permainan ini dapat meningkatkan perbendaharaan kata yang dapat dikuasai oleh anak. Ketika bermain dengan temannya, anak menjelaskan peran dan situasi yang sedang dimainkan, memperagakan dan menamai obyek/benda serta saling mengungkapkan ide, keinginan dan pertanyaan secara lisan. Hal ini dapat meningkatkan perbendaharaan kata sehingga anak memiliki perbendaharaan kata yang cukup memadai untuk mengungkapkan pikiran, perasaan dan keinginannya, dapat memunculkan ide/gagasannya terhadap peristiwa yang terjadi dengan

penggunaan kata-kata yang sesuai serta meningkatkan kemampuan anak untuk menghubungkan antara arti dengan ekspresi dari suatu kata.

Permainan ini dapat mengembangkan kemampuan anak untuk menggabungkan kata-kata dalam kalimat yang sesuai dan mengandung makna. Kemampuan anak untuk menyusun kalimat meningkat setelah memainkan permainan pura-pura. Menurut Sachs, Goldman dan Chaillé (1985) interaksi verbal yang dilakukan anak ketika bermain memiliki alur cerita/runtutan peristiwa. Untuk mendapatkan alur cerita tersebut, mereka saling bertukar ide/gagasan, pengetahuan dan pengalaman dengan menggunakan kalimat yang sesuai dan mengandung makna. Hal ini dapat meningkatkan kemampuan anak untuk merangkai kata-kata menjadi kalimat yang bermakna sehingga anak mengungkapkan ide/pikirannya tidak lagi menggunakan kalimat pendek atau yang terdiri dari 1 dan 2 kata melainkan anak dapat menyusun kalimat dengan 3 – 7 kata di dalamnya, pemilihan kata-kata yang tepat sehingga membentuk kalimat yang bermakna dan sesuai dengan apa yang hendak disampaikan.

Permainan pura-pura tidak dapat meningkatkan kemampuan anak untuk memahami makna/arti dari apa yang diucapkan oleh orang lain. Kemampuan untuk memahami makna dari apa yang diucapkan orang lain antara anak yang bermain pura-pura dengan anak yang bermain soliter dan bermain pasif tidak berbeda secara signifikan. Hal ini disebabkan karena pemahaman arti kata kurang dapat ditentukan melalui praktek/latihan layaknya ketika bermain pura-pura melainkan dipengaruhi oleh hal lain yang lebih kompleks seperti tingkat perhatian, kemampuan mendengarkan serta mengasosiasikan arti kata dengan tindakan, intonasi suara dan gerakan tubuh.

Permainan ini dapat digunakan untuk mengembangkan kemampuan anak untuk membuat dan melangsungkan percakapan dengan orang lain. Hasil penelitian ini juga didukung oleh teori Guttman dan Frederikson (1985) yang menyatakan bahwa ketika bermain pura-pura, anak melakukan negosiasi dan mencapai kesepakatan bersama dengan teman bermainnya agar permainan dapat berlangsung dengan baik. Untuk itu anak berusaha mengekspresikan ide/gagasannya secara lisan sekaligus juga memahami dan menginterpretasikan apa yang dibicarakan oleh temannya. Anak tidak hanya menjelaskan apa yang ingin dilakukan namun juga turut mendengar dan memahami apa yang ingin dilakukan oleh temannya selama bermain. Anak melakukan komunikasi yang sesungguhnya dengan berperan sebagai pembicara sekaligus pendengar. Mereka dapat saling mengklarifikasi guna mencapai kesepakatan bersama dan melangsungkan permainan dengan baik serta sesuai tema, dengan cara membangun percakapan secara kooperatif dan koheren serta bekerja sama dengan peran dan aktivitas temannya.

Berdasarkan pembahasan diatas dapat disimpulkan bahwa permainan pura-pura memiliki pengaruh positif terhadap kemampuan berbahasa, terlebih pada kemampuan artikulasi, perbendaharaan kata yang dikuasai, kemampuan menyusun kata-kata dalam kalimat serta kemampuan membuat dan melangsungkan percakapan. Dari kelima aspek kemampuan berbahasa, aspek pemahaman tidak mengalami peningkatan yang signifikan setelah memainkan permainan pura-pura.

BAB V

KESIMPULAN DAN SARAN

Dokumen terkait