• Tidak ada hasil yang ditemukan

Teknologi penangkapan ikan tepat guna

ARMADA PERIKANAN TANGKAP DI PERAIRAN MALUKU

2 TINJAUAN PUSTAKA

3.3 Analisis Data

3.3.2 Teknologi penangkapan ikan tepat guna

Tujuan determinasi teknologi penangkapan ikan tepat guna adalah untuk mendapatkan jenis armada penangkapan yang mempunyai keragaan

(performance) yang baik ditinjau dari aspek teknis, biologi, ekonomi dan sosial

sehingga akan merupakan armada yang efektif dan cocok untuk pengembangan selanjutnya dimasa akan datang.

Metode skoring digunakan untuk menentukan jenis teknologi penangkapan ikan yang layak untuk dikembangkan. Setelah diperoleh nilai dengan menggunakan metode skoring terhadap semua kriteria (biologi, teknis, sosial, dan ekonomi), maka dilakukan standardisasi nilai dengan menggunakan metode fungsi nilai yang dikemukakan oleh Mangkusubroto dan Trisnadi (1985) dengan rumus sebagai berikut:

dimana:

V(X) = Fungsi nilai dari variabel X X = Nilai variabel X

X1 = Nilai tertinggi pada kriteria X X0 = Nilai terendah pada kriteria X V(A) = Fungsi nilai dari alternatif A

V1(Xi) = Fungsi nilai dari alternatif pada kriteria ke-i. i = 1,2,3,...,

Urutan alat tangkap yang sesuai untuk digunakan ditetapkan dari alternatif yang mempunyai fungsi nilai tertinggi ke alternatif dengan fungsi nilai terendah.

0 1 0

)

(

X

X

X

X

X

V

( ) ( ),( 1,2,3,4... ... ) 0 1 1 X i n V A V j i

(1) Aspek biologi

Aspek biologi dianalisis untuk melihat apakah jenis alat tangkap yang digunakan untuk memanfaatkan sumber daya ikan pelagis kecil merusak sumberdaya yang ada atau tidak. Penilaian aspek biologi unit penangkapan ikan pelagis kecil dititikberatkan pada empat kriteria yaitu CPUE (catch per unit

effort), jumlah trip, komposisi hasil tangkapan, dan ukuran ikan yang tertangkap.

Kriteria penilaian didasarkan pada hasil pengisian kuesioner dan wawancara dengan responden. Kriteria pertama yang dijadikan bahan penilaian aspek biologi adalah CPUE. Prioritas masing-masing unit penangkapan ikan pelagis kecil ditentukan berdasarkan nilai CPUE tertinggi, semakin tinggi CPUE maka prioritasnya semakin besar. Skor kriteria CPUE disajikan pada Tabel 13.

Tabel 13 Skor kriteria CPUE

Selang nilai CPUE Keterangan

1 Rendah Prioritas rendah

3 Sedang Prioritas sedang

5 Tinggi Prioritas tinggi

Kriteria ke-2 adalah jumlah trip selama satu tahun yang digunakan sebagai indikator mutu hasil tangkapan, artinya semakin lama trip penangkapan maka mutu hasil tangkapan yang diperoleh akan semakin buruk. Urutan prioritas ditentukan berdasarkan jumlah trip atau semakin banyak jumlah trip dalam satu tahun, maka nilai prioritas suatu unit penangkapan ikan semakin tinggi dan disajikan pada Tabel 14.

Tabel 14 Skor kriteria lama trip penangkapan

Selang nilai Jumlah trip Keterangan

1 1-3 Jumlah trip sedikit

3 4-7 Jumlah trip sedang

5 > 8 Jumlah trip banyak

Kriteria ke-3 adalah komposisi hasil tangkapan setiap unit penangkapan. Prioritas ditentukan berdasarkan jumlah komposisi hasil tangkapan yang diperoleh, semakin beragam jenis ikan yang tertangkap oleh alat tangkap maka nilai prioritasnya semakin buruk. Hal ini didasarkan pada tingkat selektivitas unit penangkapan ikan, semakin sedikit jumlah komposisi ikan yang diperoleh maka

tingkat selektifitas alat semakin baik. Tabel 15 menyajikan skor kriteria komposisi hasil tangkapan.

Tabel 15 Skor kriteria komposisi hasil tangkapan

Selang nilai Komposisi hasil tangkapan Keterangan

1 Buruk Hasil tangkapan beragam

3 Sedang Hasil tangkapan kurang beragam

5 Baik Hasil tangkapan seragam

Kriteria terakhir dari penilaian aspek biologi adalah ukuran hasil tangkapan. Penilaian dilakukan dengan metode skoring, dengan skor tertinggi 3 dan terendah 1. Skor 1 digunakan untuk unit penangkapan yang menangkap ikan dengan ukuran kecil, dimana tidak layak tangkap secara biologi, skor 3 digunakan untuk ukuran besar dimana layak tangkap secara biologi. Selang skor yang ditetapkan disajikan pada Tabel 16

Tabel 16 Skor kriteria ukuran hasil tangkapan

Selang nilai Ukuran Keterangan

1 Kecil Tidak layak tangkap secara biologi

3 Besar Layak tangkap secara biologi

(2) Aspek teknis

Analisis ini dilakukan untuk mengetahui tingkat efektivitas alat tangkap untuk digunakan (pukat cincin, bagan dan jaring insang). Kriteria teknis yang meliputi pengoperasian alat tangkap, daya jangkau operasi, pengaruh lingkungan fisik, selektivitas alat dan penggunaan teknologi. Penilaian dilakukan dengan cara skoring dengan rentang skor 1 hingga 5 untuk semua kriteria kecuali daya jangkau operasi. Kriteria pertama penilaian/skoring metode penangkapan didasarkan pada tingkat kemudahan operasi penangkapan. Skor 1 menunjukkan sulit, skor 3 sedang dan 5 merupakan skor yang menunjukkan tingkat pengoperasian cukup mudah dan mudah. Selang skor yang ditetapkan disajikan pada Tabel 17.

Tabel 17 Skor kriteria metode pengoperasian alat tangkap

Selang nilai

Metode pengoperasian

Keterangan

1 Sulit Nelayan mengalami kesulitan dalam pengoperasian alat

tangkap

3 Sedang Nelayan mengalami kesulitan tetapi masih dapat

mengoperasikan alat tangkap

Kriteria ke-2 adalah daya jangkau operasi penangkapan ikan, penilaian dilakukan berdasarkan daya jangkau (mil) unit penangkapan dimana semakin jauh maka nilainya semakin baik dan disajikan pada Tabel 18.

Tabel 18 Skor kriteria daya jangkau operasi penangkapan ikan

Selang nilai Daya jangkau operasi Keterangan

1 ≤ 1 mil Dekat

3 1 mil – 5 mil Sedang

5 ≥ 5 mil Jauh

Kriteria ke-3 adalah pengaruh lingkungan fisik terhadap pengoperasian alat tangkap. Penilaian dilakukan dengan metode skoring dimana skor 1 menunjukkan bahwa lingkungan fisik berpengaruh, skor 3 cukup berpengaruh, dan skor 5 menunjukkan tidak berpengaruh. Adapun selang nilai penetapan pengaruh lingkungan fisik terhadap pengoperasian alat penangkapan ikan disajikan pada Tabel 19

Tabel 19 Skor kriteria pengaruh lingkungan fisik terhadap pengoperasian alat tangkap

Selang nilai Pengaruh lingkungan fisik Keterangan

1 Berpengaruh Arus dan gelombang menjadi

kendala

3 Cukup berpengaruh Arus dan gelombang menjadi kendala

tetapi masih bisa diatasi oleh nelayan

5 Tidak berpengaruh Arus dan gelombang tidak ditemukan

Kriteria ke-4 adalah selektivitas alat penangkapan. Penilaian untuk masing-masing unit penangkapan dilakukan dengan cara skoring, dimana skor 1 menunjukkan sangat tidak selektif, skor 3 selektif sedang, dan skor 5 selektif, yang disajikan pada tabel dibawah ini:

Tabel 20 Skor kriteria selektivitas teknologi penangkapan ikan

Selang nilai

Selektivitas Keterangan

1 Tidak selektif Desain, konstruksi alat tangkap dan hasil tangkapan

tidak dapat terseleksi

3 Selektivitas sedang Desain, konstruksi alat tangkap dan hasil tangkapan

hanya menyeleksi ikan-ikan tertentu

5 Selektif Desain, konstruksi alat tangkap dan hasil tangkapan

dapat terseleksi

Kriteria terakhir dari aspek teknis adalah tingkat penggunaan teknologi. Skoring dilakukan untuk menilai kriteria ini, dimana skor 1 menunjukkan tingkat

penerapan teknologi rendah, skor 3 sedang dan skor 5 tinggi. Selang nilai tingkat penggunaan teknologi disajikan pada Tabel 21

Tabel 21 Skor kriteria tingkat penggunaan teknologi

Selang nilai Tingkat penggunaan teknologi Keterangan

1 Teknologi rendah Tidak menggunakan alat bantu

penangkapan ikan

3 Teknologi sedang Menggunakan alat bantu penangkapan

sederhana

5 Teknologi tinggi Menggunakan teknologi alat bantu

penangkapan yang lengkap

(3) Aspek sosial

Kriteria aspek sosial ditinjau dari penilaian dan penerimaan masyarakat terhadap jenis alat tangkap yang digunakan, tingkat pendidikan, ada tidaknya konflik antar nelayan, pengalaman kerja, dapat memberikan kesempatan kerja kepada nelayan setempat atau tidak, banyaknya tenaga kerja yang diserap serta upah yang diterima oleh nelayan.

Tabel 22 Skor kriteria penilaian dan penerimaan masyarakat terhadap alat tangkap baru

Selang nilai Penilaian dan penerimaan

masyarakat

Keterangan

1 Berbahaya Berbahaya dan menimbulkan konflik dalam

masyarakat

3 Berbahaya sedang Masih dapat ditoleransi oleh nelayan sekitar

5 Tidak terbahaya Dapat diterima oleh seluruh nelayan

Tabel 23 Skor tingkat pendidikan

Selang nilai Tingkat pendidikan Keterangan

1 SD Tidak terlalu trampil

3 SMP Cukup trampil

5 SMA Lebih trampil

Tabel 24 Ada tidaknya konflik antar nelayan

Selang nilai Konflik nelayan Keterangan

1 Sering Berbahaya dan menimbulkan konflik antar

nelayan

3 Ada Masih dapat ditoleransi oleh nelayan sekitar

Tabel 25 Skor kriteria pengalaman kerja sebagai nelayan

Selang nilai Pengalaman kerja Keterangan

1 Kurang Pengalaman kerja hampir tidak ada

3 Sedang Belum terlalu berpengalaman kerja

5 Banyak Cukup berpengalaman

Tabel 26 Skor kriteria jumlah tenaga kerja

Selang nilai Jumlah tenaga kerja Keterangan

1 1 - 5 Cukup baik

3 5 - 10 Baik

5 > 10 Sangat baik

Penilaian terhadap kriteria penyerapan tenaga kerja dilakukan dengan melihat jumlah nelayan yang dipekerjakan dalam satu unit penangkapan ikan. Untuk kriteria pendapatan nelayan dilihat dari pendapatan bersih yang diterima seorang nelayan dalam satu tahun, penilaian terhadap kriteria pendapatan nelayan per unit per orang per tahun didapatkan dari perhitungan analisis ekonomi.

Tabel 27 Skor kriteria pendapatan nelayan

Selang nilai Pendapatan nelayan Keterangan

1 ≤ Rp. 1.000.000 Dibawah UMR

3 Rp. 1.000.000 – Rp. 3.000.000 Hampir sama dengan UMR

5 ≥ Rp. 3.000.000 Diatas UMR