ARMADA PERIKANAN TANGKAP DI PERAIRAN MALUKU
4) Aspek ekonomis
4.8 Strategi Pengembangan Perikanan Pelagis di Perairan Maluku
Perumusan strategi pengembangan perikanan pelagis dan desain alat tangkap dengan pendekatan analisis SWOT yang meliputi kekuatan (strength), kelemahan (weakness), peluang (opportunity), dan ancaman (treaths). Analisis ini mengacu pada logika bahwa organisasi/institusi yang berwenang dan bertanggungjawab dalam pengelolaan sumberdaya selalu berada dalam satu sistem yang selalu berhubungan dan saling mempengaruhi dengan demikian, untuk menghasilkan suatu rencana pengelolaan, maka organisasi perlu mengenali dan menguasai informasi lingkungan strategis berdasarkan analisis (LAN RI 2007). Analisis ini bermanfaat untuk mendeteksi perubahan dan peristiwa penting dalam pengelolaan, merumuskan tantangan dan peluang akibat perubahan, menghasilkan informasi tentang orientasi masa depan, dan merekomendasi kegiatan yang dibuat oleh organisasi.
Pencermatan lingkungan strategik dalam pengelolaan pengembangan armada perikanan tangkap pada hakekatnya digunakan untuk mengetahui kondisi teknologi armada perikanan tangkap saat ini di perairan Maluku. Hal tersebut dilakukan untuk mencermati kondisi di dalam dan di luar institusi pengelolaan berupa kelemahan dan kekuatan sebagai lingkungan internal, serta peluang dan tantangan sebagai lingkungan eksternal (LAN RI 2007).
Dalam upaya memberikan arahan strategi pembangunan perikanan tangkap di Provinsi Maluku, dilakukan analisis SWOT dengan melihat faktor internal (kekuatan dan kelemahan) dan eksternal (peluang dan ancaman). Ketersediaan potensi sumberdaya ikan pelagis dan dukungan sarana dan prasarana perikanan (kapal, alat tangkap, nelayan dan pusat-pusat pendaratan ikan), serta jumlah nelayan, kelompok usaha maupun usaha perikanan tangkap skala besar merupakan suatu kekuatan dalam rangka pengembangan perikanan skala kecil.
Masih rendahnya tingkat pendidikan dan ketrampilan nelayan, modal usaha, diversifikasi usaha penangkapan ikan pelagis dan manajemen yang lemah merupakan unsur kelemahan dalam rangka meningkatkan produktifitas usaha penangkapan. Sementara unsur peluang meliputi pengaturan kegiatan perikanan tangkap disentralisasi, semakin berkembangnya teknologi tepat guna untuk penangkapan ikan pelagis, perluasan daerah penangkapan ikan yang produktif,
dan dukungan pemerintah daerah melalui instansi terkait dalam rangka memberikan pembinaan yang bersifat teknis dan non teknis kepada nelayan.
Unsur ancaman meliputi belum diterapkannya selektifitas alat tangkap,
pengaturan kegiatan penangkapan belum terarah, masih terjadi pencurian ikan oleh kapal-kapal asing dan penangkapan ikan pelagis dengan menggunakan bahan peledak. Hasil identifikasi berdasarkan LINSTRA sebagai berikut:
(1) Strength (kekuatan)
1) Produksi SDI di perairan Maluku dengan kapal 30 GT cukup tinggi 2) Bahan baku pembuatan kapal dengan fiberglass cukup tersedia 3) SDM untuk ABK armada penangkapan cukup tersedia
4) Di daerah ini cukup banyak tersedia alat tangkap, sumberdaya ikan, serta rumpon sebagai alat pengumpul ikan.
5) Galangan kapal rakyat juga tersedia di daerah ini
6) Penerapan CCRF perlu dilakukan agar sumberdaya tetap terjaga
(2) Weakness (kelemahan)
1) Tidak tersedianya basic design kapal ikan sebagai acuan pembangunan kapal ikan
2) Kurangnya permodalan dalam pembuatan kapal dan alat tangkap
3) Penghasilan nelayan dari sub sektor perikanan tangkap belum
memadai dan lebih rendah dari pada upah minimum regional subsektor perikanan di Maluku
4) Pengelolaan usaha perikanan tangkap masih tradisional (sederhana) 5) Pembagian hasil usaha pengelolaan kapal tidak merata antara pemilik
kapal dan anak buahnya.
6) Kurangnya pasokan untuk pengadaan mesin kapal, teknologi
penangkapan ikan dan alat navigasi kapal (3) Peluang(opportunity)
1) Permintaan akan ikan meningkat, baik untuk kebutuhan pasar lokal, regional, dan eksport
2) Peningkatan dan penambahan kapal ikan 30GT dengan alat tangkap huhate
3) Pengolahan hasil tangkapan baik berupa ikan kaleng atau ikan beku untuk ekspor maupun konsumsi dalam negeri
4) Perlu adanya pengadaan cold storage
5) Perlunya dukungan kebijakan dari Pemda untuk meningkatkan usaha perikanan
6) Perlunya dukungan kebijakan dari Pemda untuk meningkatkan usaha perikanan
(4) Ancaman (threats)
1) Penetapan batas-batas daerah penangkapan belum diterapkan oleh
pemerintah
2) Beroperasinya armada kapal asing baik legal/ilegal di perairan Maluku 3) Selektivitas alat tangkap belum diterapkan sesuai dengan CCRF 4) Persaingan harga ikan di pasaran lokal dan regional
5) Pemakaian bahan peledak oleh beberapa nelayan untuk menangkap
ikan
6) Belum dibatasinya ukuran minimal mata jaring dari alat tangkap yang digunakan
Sasaran kebijakan pembangunan perikanan tangkap yang ditempuh pemerintah daerah Maluku saat ini adalah memanfaatkan potensi sumberdaya perikanan secara optimal dengan mengikuti aturan-aturan yang berlaku. Hal ini mengacu pada kebijakan pemerintah pusat melalui Departemen Kelautan dan Perikanan. Secara ringkas, tujuan dirumuskan sebagai optimalisasi pemanfaatan sumberdaya perikanan secara berkelanjutan dalam rangka peningkatan devisa, kecukupan gizi, penyerapan tenaga kerja, perbaikan teknologi alat tangkap dalam rangka pijakan strategis bagi pengembangan perikanan tangkap ke depan. Sumberdaya perikanan khususnya ikan pelagis besar di perairan Maluku cukup banyak sehingga perlu dikelola dengan baik dan perlu armada perikanan tangkap yang lebih efektif dalam mengelolanya.
Dalam konteks perikanan tangkap, keberadaan kapal penangkap huhate 30GT dalam mengelola sumberdaya perikanan pelagis besar di daerah ini cukup banyak sekitar 404 unit. Dari sisi teknologi, mereka cukup berpengalaman dan menguasai teknologi penangkapan sehingga memudahkan proses penangkapan.
Kapal huhate yang digunakan memiliki beberapa kelemahan yang perlu di tangani secara serius sehingga hasil tangkapan dapat optimal. Bahan baku fiberglass untuk pembuatan kapal huhate tersedia cukup banyak sehingga memungkinkan nelayan dapat membuat kapal huhate secara baik walaupun masih belum begitu sempurna.
Ketersediaan tenaga kerja nelayan berkaitan dengan produksi cukup banyak, mengingat nelayan yang mengadakan operasi penangkapan di perairan Maluku sebagian besar berasal dari lulusan SMA untuk alat tangkap pancing tonda (35%) , huhate sebagian besar lulusan SD (67%). Faktor yang berpengaruh terhadap ketersediaan sumberdaya ikan adalah kapal penangkap. Di daerah ini ada beberapa daerah yang biasanya kapal penangkap dibuat oleh nelayan dan tersebar di daerah-daerah tertentu seperti: Tulehu, Asilulu, Negerilima dan beberapa daerah lain di Maluku. Galangan kapal yang dibuat di daerah ini cukup sederhana dalam pembuatan kapal perikanan. Hal ini dilakukan karena semakin banyaknya permintaan akan kapal penangkap. Pembuatan kapal ini dilakukan tanpa adanya perhitungan-perhitungan tentang kelayakan kapal dan bersifat tradisional sehingga hal ini merupakan sebuah hambatan yang perlu diperhatikan oleh pemerintah daerah.
Kajian basic design kapal perikanan adalah suatu pekerjaan untuk
merancang kapal-kapal penangkapan ikan. Untuk merancang "basic design" kapal penangkapan ikan, agar hasil yang diperoleh maksimal mengacu pada dua dasar, yaitu laik laut dan layak tangkap. Untuk membuat atau merancang kapal agar laik laut dapat mengacu pada prinsip-prinsip perancangan suatu kapal yang sesuai dengan kaidah perancangan kapal. Sedangkan untuk kapal dapat menjadi laik tangkap, harus mengacu pada ilmu-ilmu perikanan khususnya teknologi penangkapan yang digunakan. Dalam membuat basic design kapal penangkapan ikan, diawali dengan survei yang antara lain meliputi pengukuran terhadap kapal-kapal penangkapan ikan yang sudah ada dan dioperasikan oleh para nelayan. Dan hasil pengukuran akan dilakukan kajian dan analisis terhadap data yang diperoleh di lapangan, baik ditinjau dari aspek fisik kapal dan aspek ekonomi. Khususnya hasil analisis aspek fisik kapal, akan dijadikan acuan untuk membuat rancangan-rancangan basic design pada pekerjaan ini. Tanpa pengawasan yang efektif akan
menyulitkan pemerintah untuk menerapkan pentingnya basic desain dalam pembuatan kapal ikan. Mengingat selama ini dalam mendesain kapal ikan, nelayan masih menggunakan cara-cara tradisional yang diturunkan secara turun temurun oleh pendahulu mereka.
Permasalahan utama yang sering dihadapi adalah ketersediaan modal. Ini dicerminkan antara lain berupa keterbatasan kredit dengan persyaratan yang relatif mudah untuk usaha agribisnis perikanan. Minimnya lembaga keuangan di daerah kabupaten dan kecamatan, menjadi penyebab terhambatnya usaha perikanan di daerah. Modal memiliki peranan penting dalam memperbesar kapasitas produksi dan meningkatkan permintaan efektif. Besarnya potensi sumberdaya perikanan dan kelautan membutuhkan investasi untuk pembentukan modal. Berdasarkan pendekatan ekonomi, bahwa setiap penambahan satu unit modal akan memperbesar satu satuan output dalam setiap kegiatan produksi, terutama dalam pemanfaatan sumberdaya alam. Kebutuhan terhadap alat-alat produksi (terutama teknologi modern) merupakan faktor produksi yang akan memudahkan setiap kegiatan produksi, terutama dalam pemanfaatan sumberdaya alam.
Kurangnya modal merupakan kendala yang sangat berpengaruh dalam pengelolaan sumberdaya perikanan. Dalam proses pembuatan kapal ikan dibutuhkan dana yang cukup besar sehingga hal ini menjadi kendala bagi nelayan di Maluku. Peran pemerintah dalam memberikan bantuan kepada nelayan merupakan salah satu tanggungjawab yang harus dilaksanakan mengingat keterbatasan dana pada nelayan. Salah satu cara yang efektif adalah pinjaman melalui bank kepada nelayan dengan bunga yang rendah sehingga nelayan dapat memanfaatkan itu dengan baik. Investasi berperan dalam pengadaan dan perbaikan kapal dan unit penangkapan. Hal ini dibutuhkan nelayan karena pada umumnya mereka memiliki keterbatasan modal untuk pengembangan usaha. Modal investasi diperuntukan bagi pengembangan pukat cincin, huhate, pancing tonda. Dengan demikian, investasi merupakan peluang yang perlu dimanfaatkan dalam pengembangan perikanan tangkap.
Klasifikasi nelayan tersebut atas dasar teknik kepemilikan alat produksi itu masih dibedakan berdasarkan kegiatan menjadi nelayan penuh, nelayan sebagai sambilan utama, dan nelayan sebagai sambilan tambahan. Sampai dengan tahun
2000, jumlah total nelayan Indonesia sekitar 2.486.456 orang atau mengalami kenaikan sebesar 3,21% dibandingkan tahun 1999 dan dalam kurun waktu 1990-2000 telah mengalami peningkatan sebesar 5 % per tahun. Nelayan berprofesi penuh pada tahun 2000 berjumlah 1.212.195 orang atau mengalami kenaikan sebesar 3,06 % dibandingkan pada tahun sebelumnya. Kenaikan jumlah tenaga kerja yang menjadi nelayan sambilan utama pun mengalami kenaikan 5,06 % dibanding tahun sebelumnya atau berjumlah 911.163 orang pada tahun 2000. Melihat laju pertumbuhan penduduk yang semakin tinggi, mengakibatkan perlunya tambahan lapangan kerja yang cukup besar sehingga sektor kelautan dan perikanan merupakan salah satu andalan untuk menyerap tenaga kerja tersebut (DKP Maluku 2007).
Kondisi cuaca yang tidak menentu akan berpengaruh pada fluktuasi hasil tangkapan, sehingga perlu diantisipasi dalam operasi penangkapan ikan. Fluktuasi produksi mempengaruhi pendapatan nelayan, yang diperoleh melalui sistem bagi hasil perikanan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pendapatan nelayan di Maluku tergolong rendah dan belum memadai (Rp 450.000/bulan) jika dibandingkan dengan upah minimum regional sektor perikanan Maluku tahun 2005 sebesar Rp 615.000/bulan.
Pengelolaan sumberdaya perikanan yang dilakukan oleh nelayan di Maluku masih bersifat tradisional. Hal ini disebabkan kemampuan dana yang dimiliki oleh nelayan, dan oleh sebab itu perlu ada dukungan dari pemerintah atau swasta untuk membantu nelayan dalam pengelolaan sumberdaya perikanan di daerah ini. Peran serta pihak stakeholder ini sangat diharapkan sehingga dapat merubah struktur pengelolaan sumberdaya yang ada. Sistem bagi hasil yang selama ini dilakukan antara pihak pemilik kapal dengan ABK tidak merata. Hasil tangkapan yang diperoleh dibagi dengan sistem 60 : 40 artinya bahwa nelayan pemilik kapal 60% dan ABK 40% dari total harga hasil tangkapan. Hal ini tentunya meresahkan ABK karena jumlah yang diperoleh relefan dengan hasil yang mereka peroleh. Oleh sebab itu sebaiknya total harga hasil tangkapan dibagi 50% : 50% antara pemilik kapal dengan ABK. Berdasarkan hasil identifikasi faktor internal dan eksternal kemudian dilakukan pembobotan, ranking, dan skor dari masing-masing unsur SWOT dapat disajikan pada Tabel 65 dan Tabel 66
Tabel 65 Matrik faktor strategi internal pengembangan perikanan pelagis di perairan Maluku
Kode Unsur SWOT Bobot Rating Skor
Faktor Internal A B AxB
KEKUATAN
K1 Produksi SDI di Perairan Maluku cukup besar serta penggunan kapal huhate 30 GT cukup tinggi
0,10 4 0,40
K2 Bahan baku untuk pembuatan kapal huhate dengan fiber glass cukup tersedia
0,10 4 0,40
K3 SDM untuk semua ABK kapal cukup banyak tersedia
0,05 3 0,15 K4 Tersedianya alat tangkap, umpan, dan
alat pengumpul ikan (rumpon)
0,10 3 0,30 K5 Tersedianya galangan kapal rakyat
untuk pembuatan kapal ikan
0,05 4 0,20 K6 Penerapan Perikanan yang
berwawasan lingkungan dan bertanggungjawab (CCRF) Sub-total 0,10 3 0,30 1,75 KELEMAHAN
L1 Tidak tersedianya basic design kapal ikan sebagai acuan pembangunan kapal ikan
0,10 2 0,20
L2 Kurangnya permodalan dalam pembuatan kapal dan alat tangkap
0,10 1 0,10 L3 Pendapatan nelayan masih rendah 0,05 1 0,05
L4 Pengelolaan usaha perikanan tangkap masih tradisional (sederhana)
0,10 1 0,10 L5 Pembagian hasil usaha pengelolaan
kapal tidak merata antara pemilik kapal dan anak buahnya.
0,05 2 0,10
L6 Kurangnya pasokan untuk pengadaan mesin kapal, teknologi penangkapan ikan dan alat navigasi kapal
Sub-total
0,10 2 0,20
0,75
TOTAL SKOR 1,00 2,50
Sumber: data penelitian 2009
Tabel 65 diatas menunjukkan adanya pengelompokkan alternatif strategi
internal sebagai kekuatan menjadi menjadi beberapa peringkat, dan ini
menghasilkan alternatif produksi SDI di perairan Maluku cukup besar serta penggunaan kapal huhate 30GT cukup tinggi (rating 4) sementara kelemahan yang terjadi sebagai akibat pendapatan nelayan rendah (rating 1). Hal ini menunjukkan bahwa dengan kekuatan yang dimiliki diharapkan dapat meningkatkan pendapatan yang diterima nelayan.
Tabel 66 Matrik faktor strategi eksternal pengembangan perikanan pelagis di perairan Maluku
Kode Unsur SWOT Bobot Rating Skor
Faktor Eksternal A B AxB
PELUANG
P1 Permintaan ikan meningkat baik pasar lokal, regional dan luar negeri
0,10 4 0,40 P2 Peningkatan dan penambahan kapal ikan 30GT
dengan alat tangkap huhate (pole and line)
0,10 3 0,30 P3 Pengolahan hasil tangkapan baik berupa ikan
kaleng atau ikan beku untuk ekspor maupun konsumsi dalam negeri
0,05 3 0,15
P4 Perlu adanya pengadaan cold storage 0,10 3 0,30 P5 Perlunya dukungan kebijakan dari Pemda
untuk meningkatkan usaha perikanan
0,05 4 0,20 P6 Kebijakan tentang teknologi tepat guna pada
armada penangkapan untuk menjaga mutu ikan dan kualitas ikan
0,10 4 0,40
Sub-total ANCAMAN
1,75
A1 Batas-batas daerah penangkapan belum diterapkan
0,10 4 0,40 A2 Beroperasinya armada kapal asing baik
legal/ilegal di perairan Maluku
0,10 3 0,30 A3 Selektifitas alat tangkap belum diterapkan 0,05 3 0,15
A4 Persaingan harga ikan di pasaran lokal dan regional
0,10 3 0,30 A5 Pemakaian bahan peledak oleh beberapa
sebagian nelayan
0,05 4 0,20 A6 Belum dibatasinya selektifitas ukuran mata
jaring dari alat tangkap yang digunakan
Sub-total
0,10 4 0,40 1,75
TOTAL SKOR 1,00 3,50
Sumber: data penelitian 2009
Tabel 66 diatas menunjukkan adanya pengelompokkan alternatif strategi
eksternal menjadi menjadi beberapa peringkat yang sangat berpengaruh terhadap
pengelolaan sumberdaya perikanan. Peluang akibat permintaan akan ikan di pasaran domestik maupun pasaran internasional merupakan peluang yang sangat berpengaruh terhadap alternatif strategi guna mengatasi ancaman yang terjadi (rating 4). Ancaman yang terjadi akibat beroperasinya kapal-kapal ilegal di perairan Maluku (rating 3) merupakan ancaman yang cukup serius sehingga perlu pengawasan dari instansi terkait sehingga potensi sumberdaya perikanan dapat berkelanjutan. Alternatif strategi dengan memanfaatkan peluang dalam pengelolaan sumberdaya merupakan langkah konkrit yang harus diantisipasi oleh pihak pemerintah dalam menangani masalah ini merupakan suatu terobosan sehingga dapat mengantisipasi ancaman yang kemungkinan akan terjadi. Strategi yang akan dibuat dijabarkan dan dilaksanakan untuk diimplementasikan pada
masyarakat dan stakeholder lainnya dapat dilakukan secara maksimal, hal ini tertuang dalam Tabel 67 berikut ini
Tabel 67 Strategi pengembangan perikanan pelagis di perairan Maluku
FAKTOR INTERNAL
FAKTOR EKSTERNAL
KEKUATAN (S)
> Produksi SDI di Perairan Maluku cukup banyak serta penggunaan
kapal huhate 30 GT cukup tinggi > Bahan baku untuk pembuatan kapal
huhate dengan fiber glass cukup tersedia
> SDM untuk semua ABK kapal cukup banyak tersedia
> Tersedianya alat tangkap, umpan, dan alat pengumpul ikan (rumpon) > Tersedianya galangan kapal rakyat
untuk pembuatan kapal ikan > Penerapan Perikanan yang
berwawasan lingkungan dan bertanggungjawab (CCRF)
KELEMAHAN (W)
> Tidak tersedianya Basic design kapal ikan sebagai acuan pembangunan kapal ikan > Kurangnya permodalan dalam
pembuatan kapal dan alat tangkap > Pendapatan nelayan masih rendah > Pengelolaan usaha perikanan
tangkap masih tradisional (sederhana)
> Pembagian hasil usaha pengelolaan kapal tidak merata antara pemilik kapal dan ABK > Kurangnya pasokan untuk
pengadaan mesin kapal, teknologi penangkapan ikan dan alat navigasi kapal
PELUANG (O)
> Permintaan ikan meningkat, baik pasar lokal, regional dan luar negeri > Peningkatan dan penambahan kapal
ikan 30GT dengan alat tangkap huhate (pole and line)
> Pengolahan hasil tangkapan baik berupa ikan kaleng atau ikan beku untuk ekspor maupun konsumsi dalam negeri
> Perlu adanya pengadaan cold storage
> Perlunya dukungan kebijakan dari Pemda untuk meningkatkan usaha perikanan
> Perlu adanya kebijakan tentang teknologi tepat guna pada armada penangkapan untuk menjaga mutu ikan dan kualitas ikan
Strategi SO
> Pengembangan usaha perikanan tangkap dengan penambahan armada kapal ikan
> Penerapan CCRF perlu segera dilaksanakan sehingga SDI tetap lestari
Strategi WO
> Peningkatan investasi dari luar untuk usaha perikanan skala kecil > Menyediakan cold storage dan
pengadaan teknologi tepat guna untuk menjaga mutu ikan.
ANCAMAN (T)
> Batas-batas daerah penangkapan belum diterapkan
> Beroperasinya armada kapal asing baik legal/ilegal di perairan Maluku > Selektifitas alat tangkap belum
diterapkan
> Persaingan harga ikan di pasaran lokal dan regional
> Pemakaian bahan peledak oleh sebagian nelayan
Strategi ST
> Melakukan aturan batas
penangkapan sesuai dengan fungsi masing-masing alat tangkap dan menetapkan tempat pemasangan rumpon yang sesuai
> Memaksimalkan potensi perikanan dan penentuan galangan kapal perikanan pada daerah desa nelayan yang dianggap produktif.
Strategi WT > Menerapkan adanya basic design
kepada armada kapal perikanan yang akan dibangun/ dan sekaligus design alat tangkap dan teknologi tepat guna
> Menerapkan ukuran mata jaring yang sesuai dengan selektifitas alat tangkap
Analisis pilihan strategi dikembangkan berdasarkan matriks internal-eksternal (LAN RI 2007). Analisis ini menyatakan bahwa apa yang harus dicapai dalam pengelolaan, serta kegiatan spesifik apa yang harus dilakukan untuk mencapai tujuan pengelolaan. Dalam hal ini, pengalokasian sumberdaya perlu dilakukan untuk menjelaskan berbagai kemungkinan strategi pengembangan perikanan ikan pelagis dan desain alat tangkap di Maluku. Pemilihan strategi ini dilakukan ini untuk menjelaskan berbagai macam kemungkinan strategi pengembangan perikanan pelagis di perairan Maluku. Setelah diberi bobot/nilai unsur-unsur SWOT dihubungkan dengan keterkaitannya untuk memperoleh beberapa alternatif strategi (SO, ST, WO,WT). Kemudian alternatif-alternatif tersebut dijumlah bobot/nilainya untuk menentukan peringkat masing-masing.
Strategi dengan peringkat tertinggi merupakan alternatif strategi yang diprioritaskan untuk dilakukan. Alternatif strategi pada matriks hasil analisis SWOT dijabarkan dari penggunaan unsur-unsur kekuatan untuk meraih peluang yang ada (SO), penggunaan kekuatan yang ada untuk menghadapi ancaman yang akan datang (ST), penggunaan kelemahan yang ada dengan memanfaatkan peluang yang ada (WO) dan penggurangan kelemahan yang ada untuk menghadapi ancaman yang akan datang (WT).
Prioritas strategi pengembangan didasarkan pada skor masing-masing faktor
yang disusun berdasarkan Tabel IFAS (internal strategic factor analysis
summary) dan Tabel EFAS (external strategic factor analysis summary)
penentuan prioritas strategi dilakukan dengan instrumen analisis SWOT (Rangkuti 2000).
Tabel 68 Priorias strategi pengembangan perikanan pelagis di perairan Maluku
IFAS EFAS Kekuatan (S) 1,75 Kelemahan (W) 0,75 Peluang (O) 1,75 Strategi SO 2,90 Strategi WO 1,65 Ancaman (T) 1,75 Strategi ST 1,85 Strategi WT 1,20 Sumber: data penelitian 2009
Berdasarkan IFAS (internal strategic factor analysis summary) prioritas strategipengembangan perikanan pelagis hasil analisis SWOT (Tabel 68) terlihat bahwa penggunaan unsur-unsur strategi kekuatan (S) (1,75) mempunyai peluang besar untuk mengalahkan kelemahan (0,75). Hal ini menunjukkan bahwa sumberdaya ikan di perairan Maluku cukup banyak serta penggunaan kapal huhate untuk penangkapan ikan pelagis cukup tersedia walaupun terdapat beberapa kelemahan yang dihadapi seperti kurangnya permodalan dalam pembuatan kapal dan alat tangkap, teknologi masih sederhana, tidak tersedianya
basic design. Untuk menunjang kekuatan yang ada dengan melihat kelemahan
yang terjadi maka perlu pengembangan teknologi tepat guna seperti perbaikan teknologi, SDM ditingkatkan, modal, sehingga pengelolaan sumberdaya dapat maksimal.
Berdasarkan EFAS (external strategic factor analysis summary) terlihat bahwa strategi kekuatan (SO) (2,90) berupa pengembangan usaha perikanan tangkap dengan penambahan armada penangkapan dan penerapan CCRF merupakan kekuatan besar untuk menindaklanjuti peluang (O) (1,75) sebagai proses untuk mengantisipasi permintaan akan ikan meningkat pada pasaran domestik maupun internasional. Strategi (WO) (0,165) berupa peningkatan investasi dari luar untuk skala usaha perikanan skala kecil, penyediaan cold
storage dan pengadaan teknologi tepat guna merupakan strategi yang sangat
membantu dalam mengantisipasi kekuatan penambahan armada tangkap. Strategi (ST) (1,85) menegaskan tentang penetapan aturan batas penangkapan sesuai dengan fungsi masing-masing alat tangkap mengalahkan ancaman (T) (1,75) mengingat penetapan batas-batas penangkapan sampai saat ini belum ditetapkan oleh instansi yang berkepentingan untuk menetapkan kebijakan ini. Hal ini sangat didukung dengan strategi (WT) (1,20) dengan menerapkan adanya basic design serta penggunaan ukuran mata jaring yang selektif sehingga sumberdaya dapat berkelanjutan.
Berdasarkan matrik skor strategi, maka prioritas kebijakan pengembangan perikanan pelagis di perairan Maluku adalah sebagai berikut:
1) Strategi – SO, kebijakannya:
kapal ikan
(2)Penerapan CCRF segera dilaksanakan sehingga SDI tetap lestari 2) Strategi – ST, kebijakannya:
(1)Menerapkan aturan batas penangkapan sesuai dengan fungsi masing-masing alat tangkap dan menetapkan tempat pemasangan rumpon yang sesuai
(2)Memaksimalkan potensi sumberdaya yang ada dan penentuan
galangan kapal perikanan di daerah-daerah yang dianggap sebagai desa nelayan produktif
(3) Strategi – WO, kebijakannya:
(1) Peningkatan investasi dari luar daerah untuk peningkatan usaha perikanan skala kecil
(2) Menyediakan cold storage dan pengadaan teknologi tepat guna untuk menjaga mutu ikan
4) Strategi – WT, kebijakannya:
(1) Menerapkan adanya basic design kepada armada kapal perikanan yang akan dibangun sekaligus desain alat tangkap dan teknologi tepat guna
(2) Menerapkan ukuran mata jaring yang sesuai sesuai selektifitas alat tangkap.
Tahapan ini merupakan kegiatan analisis secara terpadu semua pertimbangan berkaitan dengan empat unit alat tangkap yang dijadikan opsi, menentukan kriteria pembatasnya dan menentukan prioritas pengembangannya. Untuk mendapatkan hasil yang menyeluruh dan akurat, maka berbagai komponen yang berinteraksi/terkait dengan pengembangan teknologi alat penangkapan ikan