• Tidak ada hasil yang ditemukan

HASIL DAN PEMBAHASAN A. Teknik Silvikultur Pada Tegakan Jati

Dalam dokumen Prosiding Seminar Hasil Penelitian Kanoppi (Halaman 31-37)

TEKNIK SILVIKULTUR UNTUK PENINGKATAN PRODUKTIVITAS JATI PADA HUTAN RAKYAT DI SUMBAWA DENGAN POLA AGROFORESTRI

B. Analisis Data

III. HASIL DAN PEMBAHASAN A. Teknik Silvikultur Pada Tegakan Jati

Rerata pertumbuhan diameter tegakan jati dengan pola agroforestri lebih tinggi jika dibandingkan dengan pola tanam monokultur (Gambar 1). Pada pola agroforestri,

pertumbuhan diameter tertinggi pada plot pruning 50% dan penjarangan 25% (P1J1), yaitu 2,42 cm. Sementara itu, pada demplot jati monokultur, pertumbuhan diameter tertinggi pada plot tanpa pruning dan penjarangan 25% (P0J1) sebesar 1,45 cm.

Gambar 1. Grafik rerata pertumbuhan diameter batang jati

Hasil uji anova terlihat bahwa teknik silvikultur penjarangan (thinning) yang diterap-kan pada demplot, baik agroforestri maupun monokultur, memberiditerap-kan pengaruh yang nyata terhadap pertambahan diameter batang pohon jati pada tingkat α 5%. Sebaliknya, teknik silvikultur pemangkasan cabang tidak memberikan pengaruh yang nyata. Pada demplot monokultur, perlakuan interaksi antara penjarangan dan pemangkasan cabang memberikan pengaruh yang nyata terhadap pertambahan diameter jati pada taraf α 5% sebagaimana terlihat pada Tabel 2.

Tabel 2. Hasil sidik ragam pada pola agroforestri dan monokultur

Dependent variable: Pertumbuhan diameter

Pola agroforestri Pola monokultur

Source Mean Square F Sig. Mean Square F Sig.

Corrected Model 1.750 1.990 0.056 1.049 2.170 0.040 Intercept 1358.143 1544.574 0.000 223.323 461.941 0.000 Block 0.255 0.290 0.748 0.078 0.161 0.851 Pruning 0.038 0.044 0.957 0.837 1.731 0.181 Thinning 10.270 11.680 0.001** 1.948 4.030 0.046** Pruning * Thinning 0.642 0.730 0.483 1.744 3.607 0.029** Error 0.879 0.483

Perlakuan silvikultur penjarangan sebesar 25% memberikan pengaruh yang signifikan terhadap pertumbuhan diameter tegakan jati, baik pada pola agroforestri maupun mono-kultur. Hal tersebut sesuai dengan yang dinyatakan oleh Perez dan Kanninen (2005), yaitu bahwa penjarangan yang dilakukan pada tegakan jati akan memberikan pengaruh positif terhadap pembentukan batang, pertambahan diameter, dan tinggi pohon. Penjarangan yang dilakukan pada umur-umur awal akan meningkatkan biomasa daun dan meningkatkan diameter batang (Kanninen et al., 2004; Ola-Adams, 1990). Hal tersebut juga sesuai dengan hasil penelitian Yahya et al. (2011) bahwa perlakuan penjarangan dengan menyisakan jumlah tegakan sebanyak 200 pohon/ha dapat meningkatkan kerapatan tegakan dan mening-katkan pertumbuhan diameter batang. Dengan adanya penjarangan, persaingan antar-tanaman dalam memperoleh unsur hara di dalam tanah ataupun cahaya matahari yang diperlukan dalam proses pertumbuhan menjadi berkurang sehingga unsur hara yang ada dapat dimanfaatkan secara maksimal oleh tegakan jati. Selain itu, adanya penjarangan menjadikan proses pergantian tajuk akan berlangsung lebih cepat karena daun yang baru tumbuh akan mudah beradaptasi dengan lingkungan baru sehingga dapat meningkatkan diameter dan tingginya (Malimbwi et al., 1992; Kanninen et al., 2004; Kamo et al., 2004). Sementara itu, perlakuan pemangkasan cabang tidak memberikan pengaruh signifikan terhadap pertumbuhan diameter batang tanaman jati. Hal ini karena tunas baru akan cepat tumbuh setelah dilakukan pemangkasan cabang dan tidak dilakukan pembersihan oleh petani. Selain itu, teknik silvikultur pemangkasan cabang sudah terlambat dilakukan karena umur tanaman saat dilakukan pemangkasan cabang sudah berumur delapan tahun dengan ketinggian pohon rerata sudah >14 m. Pemangkasan cabang dilakukan untuk tujuan menda-patkan kualitas kayu pertukangan yang bagus, yaitu mendamenda-patkan batang dengan tinggi bebas cabang yang tinggi dan mengurangi mata kayu yang dapat menurunkan kualitas kayu pertukangan.

Pertumbuhan diameter tegakan jati yang ditanam dengan pola agroforestri membe-rikan hasil yang lebih baik jika dibandingkan dengan pola monokultur. Pada pola agroforestri, ada proses pengolahan tanah lanjutan untuk penanaman tanaman semusim dan juga adanya penambahan pupuk pada tanah. Hal ini berarti adanya tambahan unsur hara dan pengolahan tanah dapat memperbaiki aerasi tanah. Sebaliknya, pada pola monokultur tidak dilakukan pengolahan tanah lanjutan dan penambahan pupuk sehingga pohon jati hanya memanfaatkan unsur hara yang tersedia dengan aerasi tanah yang kurang bagus.

Interaksi antara perlakuan silvikultur penjarangan dan pemangkasan cabang pada pola tanam monokultur memberikan pengaruh yang nyata terhadap pertumbuhan diameter batang. Hal ini mengindikasikan bahwa perlakuan silvikultur penjarangan dan pemangkasan cabang harus dilakukan secara bersamaan jika ingin meningkatkan pertumbuhan diameter tegakan jati.

B. Produktivitas Tanaman Jahe dan Kencur

Hasil panen tanaman jahe dan kencur yang ditanam di bawah tegakan jati pada pola agroforestri secara lengkap dapat dilihat pada Gambar 2. Hasil panen jahe tertinggi yaitu yang ditanam di bawah plot dengan perlakuan pemangkasan cabang 50% dan tanpa

penjarangan (P1J0), yaitu sebanyak 0,063 kg setiap rimpang (lubang tanam). Sementara itu, tanaman kencur hasil panen tertinggi yang ditanam di bawah plot dengan perlakuan pemang-kasan cabang 60% dan penjarangan 25% (P2J1) sebanyak 0,037 kg.

Gambar 2. Grafik rerata hasil panen jahe dan kencur

Teknik silvikultur yang diterapkan pada tegakan jati dengan pemangkasan cabang dan penjarangan secara statistik tidak memberikan pengaruh yang nyata, baik terhadap produk-tivitas tanaman jahe maupun kencur (Tabel 3).

Tabel 3. Hasil uji Anova tanaman jahe dan kencur

Dependent variable: Produktivitas hasil panen

Jahe Kencur

Source Mean Square F Sig. Mean Square F Sig.

Corrected Model 0.083 0.736 0.648 0.022 0.509 0.808 Intercept 20.365 181.660 0.000 6.783 160.256 0.000 Block 0.043 0.379 0.694 0.015 0.363 0.705 Pruning 0.075 0.670 0.533 0.023 0.555 0.591 Thinning 2.222E-07 0.000 0.999 0.048 1.135 0.312 Pruning * Thinning 0.171 1.527 0.264 0.013 0.298 0.749 Error 0.112 0.042

Tanaman jahe dan kencur dapat tumbuh dengan baik ketika ditanam di bawah tegakan jati dengan pola agroforestri (Lampiran 1). Hal ini karena tanaman empon-empon pada umumnya tahan ditanam di bawah naungan dan dapat tumbuh dengan baik. Hal ini sesuai pula dengan hasil analisis Anova bahwa pertumbuhan tanaman jahe dan kencur tidak terpengaruh ketika tanaman tersebut ditanam di bawah tegakan jati (Tabel 4).

Tabel 4. Hasil uji Anova tanaman jahe dan kencur

Dependent variable: Jahe Kencur

Pertumbuhan tinggi tanaman Pertumbuhan tunas baru

Source Mean Square F Sig. Mean Square F Sig.

Corrected Model 34.651 0.844 0.576 0.022 0.509 0.808 Intercept 33891.929 825.919 0.000 6.783 160.256 0.000 Block 20.105 0.490 0.627 0.015 0.363 0.705 Pruning 53.693 1.308 0.313 0.023 0.555 0.591 Thinning 21.473 0.523 0.486 0.048 1.135 0.312 Pruning * Thinning 36.745 0.895 0.439 0.013 0.298 0.749 Error 41.035 0.042

Rerata hasil panen jahe adalah 20–60 g/rimpang atau 2,5 ton/ha, sedangkan rerata hasil kencur adalah 20–30 g/rimpang atau 1,25 ton/ha. Hasil tersebut sangat berbeda jika dibandingkan dengan hasil pemanenan jahe di daerah Batudulang, Kecamatan Batulanteh Sumbawa, yang rata rata menghasilkan 8,3 ton/ha (wawancara dengan petani jahe: Junaedi, 2016). Hal ini disebabkan bibit jahe dan kencur yang digunakan menjadi penyebab kurang maksimalnya hasil panen. Bibit jahe yang ditanam berasal dari Batulanteh dan bukan benih unggul. Rostiana et al. (2008) menjelaskan bahwa untuk mendapatkan hasil panen yang maksimal diperlukan bahan tanaman dengan jaminan dan mutu benih yang baik dan menerapkan budi daya anjuran. Penggunaan bibit varietas unggul jahe merah dipadukan dengan penerapan budi daya dengan menggunakan Prosedur Operasional Standar Budi Daya Jahe akan menghasilkan potensi produksi rerata sebanyak 22 ton/ha, sedangkan untuk kencur jika menggunakan bibit varietas unggul Balittro-V2 dapat menghasilkan potensi produksi 14–16 ton/ha. Selain itu, umur panen tanaman juga memengaruhi hasil panen yang didapatkan. Jahe untuk konsumsi dipanen pada umur 6–10 bulan, tetapi rimpang untuk bibit dipanen pada umur 10–12 bulan. Tanaman jahe dan kencur dipanen pada bulan Juni 2016 atau berumur kurang dari enam bulan. Hal tersebut dilakukan karena pada saat bulan Juni, kondisi iklim di Sumbawa sudah memasuki musim kemarau. Kondisi tanaman juga sudah terlihat mulai mati sehingga jika tidak dilakukan pemanenan maka dikhawatirkan rimpang jahe akan membusuk dan mengempes. Data curah hujan tahun 2015 menunjukan bahwa pada bulan Mei sudah memasuki musim kemarau (Tabel 5). Tanaman jahe akan tumbuh dengan optimal pada curah hujan di atas 100 mm/bulan dengan jumlah bulan basah 7–9 bulan dan ketinggian tempat 300–900 m dpl.

Tabel 5. Data iklim di lokasi penelitian

Jumlah curah hujan (mm)

Tahun Bulan

Jan. Feb. Mar. Apr. Mei Jun. Jul. Ags. Sep. Okt. Nov. Des.

2015 69 216 168 242 54 0 2 0 0 0 51 174

2016 302 464 158 135 40 107 19 4 44 162

Jumlah hari hujan

Tahun Bulan

Jan. Feb. Mar. Apr. Mei Jun. Jul. Ags. Sep. Okt. Nov. Des.

2015 13 17 12 17 3 - 1 - - - 5 14

2016 13 20 10 12 7 11 5 1 5 11

Sumber: BMKG Sumbawa, 2016

Hasil penelitian menunjukkan bahwa tidak ada perbedaan yang nyata antara pertumbuhan tanaman jahe dan kencur di bawah tegakan jati yang diterapkan perlakuan silvikultur dan yang tidak. Hal tersebut sesuai dengan Prosedur Operasional Standar Budi Daya Jahe yang menyebutkan bahwa tanaman jahe dapat tumbuh dengan optimal dengan intensitas cahaya matahari 70–100 % atau agak ternaungi sampai terbuka (Rostiana et al., 2008). Secara umum, tanaman empon-empon tahan terhadap naungan sehingga sangat cocok untuk diterapkan pada pola agroforestri.

C. Analisis Finansial

Anlisis finansial pengusahaan tanaman jahe dan kencur di bawah tegakan jati menunjukkan bahwa setelah tanaman berusia enam bulan, hasil panen tidak mampu menutupi biaya yang dikeluarkan untuk kegiatan penanaman dan pemeliharaannya sehingga mengalami kerugian (Tabel 6).

Tabel 6. Aliran kas pengusahaan jahe dan kencur pada pola agroforestri dengan jati

No. Komponen analisis Bulan ke- (2016) Jumlah

1 2 3 4 5 6

A. Biaya

1. Pembelian bibit jahe sebanyak 18 kg @ Rp10.000

180.000 180.000

2. Pembelian bibit kencur sebanyak 9 kg @ Rp12.000

108.000 108.000

3. Biaya tenaga kerja persiapan lahan dan penanaman sebanyak 4 orang @ Rp50.000

200.000 200.000

4. Pembelian pupuk kandang sebanyak 400 kg @ Rp500

200.000 200.000

5. Pembelian pupuk SP sebanyak 10 kg @ Rp3.000

No. Komponen analisis Bulan ke- (2016) Jumlah

1 2 3 4 5 6

6. Pembelian pupuk KCL sebanyak 10 kg @ Rp4.000

40.000 40.000

7. Pembelian pupuk urea sebanyak 10 kg @ Rp2.000

20.000 20.000

8. Biaya tenaga kerja pemeliharaan dan pemupukan sebanyak 2 orang @ Rp50.000

100.000 100.000

9. Biaya tenaga kerja pemanenan sebanyak 2 orang @ Rp50.000

100.000 100.000

Subtotal biaya (A) 978.000

A. Penerimaan

1. Hasil panen jahe sebanyak 35,66 kg @ Rp6.000

210.000 210.000

2. Hasil panen kencur sebanyak 13,53 kg @ Rp8.000 104.000 104.000 Subtotal penerimaan (B) 314.000 Keuntungan = B – A -664.000 𝜋 = 𝑇𝑅 − 𝑇𝐶 𝜋 = Rp314.000 − Rp978.00 𝜋 = −Rp664.000 𝐵/𝐶 𝑅𝑎𝑡𝑖𝑜 = 0,32

Pengusahaan tanaman jahe dan kencur dengan pola agroforestri di Desa Pelat tidak layak untuk di usahakan dengan Benefit Cost Rasio (B/C) <1 (sebesar 0,32). Ketidaklayakan pengusahaan ini disebabkan hasil panen dari tanaman jahe dan kencur tidak optimal. Umur panen yang belum memenuhi syarat diindikasikan menjadi penyebab kurang optimalnya hasil panen. Jahe dan kencur ditanam pada bulan Januari 2016 dan dipanen pada bulan Juni 2016. Jika menganalisis data iklim, penanaman jahe seharusnya sudah dilakukan pada akhir bulan November 2015 sehingga pada saat bulan Juni 2016 (saat memasuki musim kemarau), umur tanaman sudah mencapai 8 bulan.

Dalam dokumen Prosiding Seminar Hasil Penelitian Kanoppi (Halaman 31-37)