• Tidak ada hasil yang ditemukan

Uji Aktivitas Antibakteri

Dalam dokumen Prosiding Seminar Hasil Penelitian Kanoppi (Halaman 109-115)

MAKALAH PENUNJANG

ANALISIS RANTAI NILAI PRODUK MAINAN BAMBU DARI GUNUNGKIDUL (Value Chain Analysis of Bamboo Children’s Toys from Gunungkidul)

B. Prosedur Pengumpulan Data

2. Uji Aktivitas Antibakteri

B. Prosedur Pengumpulan Data

Secara sistematik, terdapat beberapa bagian kegiatan yang dilakukan secara terpisah dalam penelitian ini, yaitu:

1. Ekstraksi Bahan Tumbuhan

Bahan utama yang digunakan adalah pelarut metanol, sedangkan bahan pendukung yang digunakan adalah akuades dan kertas saring. Peralatan yang digunakan adalah kertas saring, oven, neraca analitik, blender, dan pipet. Metode ekstraksi dilakukan dengan langkah berikut:

a) Menyiapkan sampel.

b) Melakukan ekstraksi dengan cara maserasi menggunakan pelarut metanol.

Sampel bahan tanaman yang akan diekstraksi dibersihkan dari kotoran dan kemudian dikeringanginkan. Sampel yang telah kering kemudian dirajang dan digiling halus meng-gunakan blender. Serbuk tersebut ditimbang dan dimaserasi dengan metanol selama 72 jam sehingga residu yang tertampung menjadi jernih. Filtrat yang ada ditampung, kemudian dipekatkan (lyophilized) dengan rotaryevaporator. Ekstrak pekat yang diper-oleh dikumpulkan dan ditimbang untuk mengetahui rendemen ekstrak.

c) Ektraksi dengan pelarut lain (etanol) juga dilakukan dengan merujuk bagian tanaman yang relatif potensial dalam menghambat bakteri dari ke dua bagian tanaman.

2. Uji Aktivitas Antibakteri

Metode yang digunakan dalam pengujian antibakteri adalah dilusi menggunakan

a) Menyiapkan media dan bakteri.

Media yang digunakan yaitu Nutrient Broth (NB). Sebanyak 95 µl medium steril, 100 µl sampel dilarutkan dalam DMSO 20% atau kontrol, dan 5 µl inokulum bakteri dimasuk-kan ke dalam sumur (96-well plate). Inokulum telah disiapdimasuk-kan pada konsentrasi 10-5 CFU/ml. Bakteri yang digunakan dalam uji aktivitas ini adalah Staphylococcus aureus dan Escherichia coli.

b) Pengukuran Konsentrasi Hambat Minimum (KHM) dan Konsentrasi Bunuh Minimum (KBM).

Metode yang digunakan adalah dilusi dengan menggunakan microplate. Bakteri diinku-basi dalam media selama 24 jam. Konsentrasi ekstrak yang tidak menunjukkan pertum-buhan bakteri (bening) secara visual dideskripsikan sebagai KHM (Konsentrasi Hambat Minimum). Sebanyak 100 µl dari media yang tidak menunjukkan pertumbuhan bakteri diinokulasikan pada 100 µl media baru. Konsentrasi yang tidak menunjukkan pertum-buhan bakteri setelah inokulasi kedua dideskripsikan sebagai KBM (Konsentrasi Bunuh Minimum). Kontrol negatif yang digunakan adalah DMSO dan kontrol positifnya adalah kloramfenikol.

Analisis data dilakukan dengan matriks tabulasi terhadap konsentrasi sampel yang menunjukkan KHM dan KBM.

III. HASIL DAN PEMBAHASAN

Hasil pengujian fitokimia kualitatif berdasarkan visualisasi warna terhadap bagian tanaman A. mangium tertera dalam Tabel 1.

Tabel 1. Kandungan senyawa kimia A. mangium berdasarkan hasil uji fitokimia kualitatif

Senyawa kimia Bagian tanaman A. mangium

Daun Kulit Alkaloid - - Flavonoid ++ + Phenol hidroquinon ++ +++ Steroid +++ + Triterpen + + Tanin + +++ Saponin ++ +++

Hasil analisis senyawa fitokimia kualitatif A. mangium bagian daun dan kulit menunjukkan bahwa A. mangium memiliki kandungan senyawa fitokimia kualitatif yang potensial untuk tujuan bioaktivitas. Senyawa flavonoid, phenol hidroquinon, steroid,

triterpen, tanin, dan saponin terindikasi terdapat dalam jaringan daun dan kulit batang A. mangium. Alkaloid terindikasi tidak terdapat dalam jaringan daun ataupun kulit batang A. mangium. Kandungan senyawa fitokimia phenol hidroquinon, tanin, dan saponin terindikasi

lebih kuat terdapat dalam jaringan tanaman bagian kulit batang dibandingkan bagian daun. Kandungan steroid terindikasi kuat dalam bagian daun dibandingkan bagian kulit.

Hasil analisis antibakteri tahap awal adalah mengukur KHM ekstrak yang diujikan. Nilai KHM ekstrak bagian tanaman A. mangium terhadap bakteri S. aureus dan E. coli tertera dalam Tabel 2.

Tabel 2. Konsentrasi Hambat Minimum A. mangium terhadap S. auereus dan E. coli

No. Jenis tumbuhan Bagian

tumbuhan

S. aureus E. coli

KHM (ppm) KHM (ppm)

1. Ekstrak metanol A. mangium daun >2.000 2.000

kulit 1.000 1.000

2. Ekstrak etanol A. mangium kulit 1.000 500

3. Kontrol positif - 31,25 15

Berdasarkan KHM, hasil analisis antibakteri menunjukkan bahwa ekstrak metanol kulit A. mangium memiliki potensi antibakteri baik terhadap jenis bakteri gram positif (S.

aureus) dan gram negatif (E. coli). Ekstrak etanol A. mangium menunjukkan konsentrasi

yang lebih rendah daripada ekstrak metanol A. mangium. Hal ini mengindikasikan bahwa ekstrak etanol A. mangium lebih potensial dalam menghambat bakteri S. aureus dan E. coli. Daya hambat terhadap bakteri dari ekstrak metanol dan etanol A. mangium lebih rendah daripada kontrol positif. Hasil ini juga mengindikasikan bahwa ekstrak A. mangium relatif sebagai antibakteri yang menghambat bakteri jenis gram negatif (E. coli). Terhadap sampel ekstrak A. Mangium, sampel diuji lebih lanjut berdasarkan KBM. Hasil analisis KBM dari ekstrak metanol dan etanol A. mangium tertera dalam Tabel 3.

Tabel 3. Konsentrasi Bunuh Minimum A. mangium terhadap S. auereus dan E. Coli

No. Jenis tumbuhan Bagian

tumbuhan

S. aureus E. coli

KBM (ppm) KBM (ppm)

1. Ekstrak metanol A. mangium daun >2.000 >2.000

kulit >2.000 >2.000

2. Ekstrak etanol A. mangium kulit 2.000 2.000

3. Kontrol positif - 250 250

Nilai KBM ekstrak metanol daun dan kulit A. mangium berada di atas 2.000 ppm. Hal yang berbeda ditunjukkan oleh ekstrak etanol bagian kulit A. mangium yang mana nilai KBM-nya berada pada konsentrasi 2.000 ppm. Kontrol positif memiliki nilai KBM pada konsentrasi 250 ppm terhadap S. aureus dan E. coli. Walaupun nilai ekstrak dari A. mangium lebih rendah dari kontrol positif, penggunaan A. mangium masih memungkinkan karena ekstrak kasar tersebut masih dapat diproses lebih lanjut untuk mendapatkan bioaktivitas yang lebih baik.

Hingga saat ini, belum banyak penelitian tentang pemanfaatan A. mangium dari kawasan tambang sebagai antibakteri. Acacia mangium juga dikenal sebagai antioksidan. Jenis akasia yang sedikit berbeda yaitu A. auriculiformis dikenal karena sifat farmakologinya yang tercatat sebagai anti-helminthic, antifilarial, aktivitas antimikrob (Mandal et al., 2005). Acacia auriculiformis merupakan salah satu jenis akasia yang juga potensial sebagai antioksidan (Sing et al., 2007). Mihara et al. (2005) menemukan bahwa ekstrak dari batang kayu akasia memiliki kapasitas antioksidan.

IV. KESIMPULAN

Bagian tanaman A. mangium mengandung senyawa flavonoid, phenol hidroquinon, steroid, triterpen, tanin, dan saponin. Bagian kulit terindikasikan lebih kuat mengandung senyawa phenol hidroquinon, tanin, dan saponin dibandingkan bagian daun. Sementara itu, kandungan steroid terindikasi kuat dalam bagian daun dibandingkan bagian kulit. Jenis senyawa fitokimia yang tidak terindikasikan pada bagian tanaman A. mangium adalah alkaloid.

Nilai KHM terhadap bakteri S. aureus dari ekstrak metanol daun, kulit, dan ekstrak etanol kulit A. mangium secara berurutan adalah >2.000 ppm, 1.000 ppm, dan 1.000 ppm. Nilai KHM terhadap bakteri E. coli dari ekstrak metanol daun, kulit, dan ekstrak etanol kulit

A. mangium secara berurutan adalah 2.000 ppm, 1.000 ppm, dan 500 ppm. Nilai KBM dari

ekstrak metanol daun, kulit, dan ektrak etanol kulit A. mangium terhadap S. aureus secara berurutan adalah pada konsentrasi >2.000 ppm, >2.000 ppm, dan 2.000 ppm. Nilai KBM dari ekstrak metanol daun, kulit, dan ektrak etanol kulit A. mangium terhadap E. coli secara berurutan adalah pada konsentrasi >2.000 ppm, >2.000 ppm, dan 2.000 ppm. Kemampuan ekstrak etanol kulit A. mangium sebagai antibakteri lebih baik dibandingkan ekstrak metanol bagian daun dan kulit A. mangium. Penggunaan bagian tanaman A. mangium dari kawasan revegetasi tambang masih memiliki potensi dan peluang dikembangkan sebagai antibakteri.

DAFTAR PUSTAKA

Croteau, R., Kutchan, T.M., & Lewis, N.G. 2000. Natural Products (Secondary

Metabolites) Biochemistry & Molecular Biology of Plants. Eds. © 2000, American

Society of Plant Physiologists.

Leksono, B. & Setyaji, T. 2003. Teknik Persemaian dan Informasi Benih Acacia mangium. Seri GN-RHL. Departemen Kehutanan.

Mandal, P., SinhaBbbu, S.P., & Mandal, N.C. 2005. Antimicrobial activity of saponins from

Acacia auriculiformis. Fitoterapia, 76(5), 462−465.

Mihara, R., Barry, K.M., Mohammed, C.L., & Mitsunaga, T. 2005. Comparison of antifungal and antioxidant activities of A. mangium and A. auriculiformis heartwood extracts. J Chem Ecol., 31(4), 789−804.

National Research Council. 1983. Mangium and other fast growing Acacias for the humid

tropics. National Academy Press. Washington DC. USA.

Otsamo, R. 2002. Early effects of four fast-growing tree species and their planting density on ground vegetation in Imperata grasslands. New Forests, 23, 1–17.

Singh, R., Singh, S., Kumar, S., & Arora, S. 2007. Studies on antioxidant potential of methanol extract/fractions of Acacia auriculiformis A.Cunn. Food Chem., 103, 505−511

UPAYA KONSERVASI EX SITU TUMBUHAN OBAT DATARAN RENDAH

Dalam dokumen Prosiding Seminar Hasil Penelitian Kanoppi (Halaman 109-115)