D. Analisis Data
V. HASIL DAN PEMBAHASAN
A. Struktur dan Komposisi Vegetasi
Jalur D1 memiliki tipe habitat hutan dataran rendah. Pada tingkat semai terdapat 44 jenis tumbuhan, 45 jenis tingkat pancang, serta 25 jenis tingkat tiang dan pohon. Indeks Nilai Penting (INP) vegetasi pada jalur ini dapat dilihat pada tabel berikut.
Tabel 7. Indeks Nilai Penting Vegetasi Terbesar Jalur D1
Tingkat No Jenis Nama Ilmiah KR (%) FR (%) DR (%) INP (%)
Semai 1. Puspa Schima wallichii 22,18 7,1 - 29,28
2. Deluak Grewia acuminata 12,64 7,65 - 20,29
3. Tluntum Syzigium sp. 8,25 7,1 - 15,36
Pancang 1. Puspa Schima wallichii 13,5 6,96 - 20,46
2. Tluntum Syzigium sp. 9,32 8,54 - 17,86
3. Tiga urat Cinnamomum sp. 8,84 7,91 - 16,75
Tiang 1. Tluntum Syzigium sp. 19,89 14,53 18,04 52,45
2. Puspa Schima wallichii 17,68 16,24 16,78 50,69
3. Jambon Eugenia sp. 12,15 10,26 12,56 34,98
Pohon 1. Puspa Schima wallichii 42,63 19,33 38,01 99,97
2. Menggris Koompassia malaccensis 15,74 18 24,86 58,6
3. Tluntum Syzigium sp. 11,48 13,33 10,36 35,17
Pada jalur D1 jenis tumbuhan yang dominan pada tingkat pohon adalah puspa, menggris dan tluntum. Jenis puspa cukup mendominasi dengan kerapatan yang tinggi (42,63 %) dan penyebaran (19,33 %). Pada tingkat tiang jenis yang mendominasi adalah tluntum, puspa dan jambon. Untuk tingkat semai dan pancang, jenis puspa masih mendominasi. Hal ini menunjukkan adanya kemungkinan jenis puspa akan terus mendominasi pada masa yang akan datang.
Tabel 8. Tanda-tanda Keberadaan Harimau Sumatera di Jalur D1
No Tanda Keberadaan
Harimau Sumatera Jumlah Letak Ukuran Keterangan 1. Jejak kaki 3 Tanah - p = 15 cm
l = 13 cm - p = 16 cm l = 19 cm - p = 13 cm l = 12 cm 2. Cakaran (scrape) 10 Tanah p = 30 -57 cm
l = 22-26 cm
Terdapat bekas urin pada beberapa scrape 3. Cakaran (scratch ) 2 Pohon p = 15 -54 cm Pada pohon puspa Keterangan : p = panjang, l = lebar
Dari Tabel 8, dapat diketahui tanda-tanda keberadaan harimau sumatera yang terdapat di lokasi ini adalah jejak kaki, cakaran pada tanah dan cakaran pada pohon. Cakaran harimau sumatera pada pohon (scratch) sering ditemukan pada pohon jenis puspa seperti yang terlihat pada Gambar 7. Scratch harimau mempunyai ciri-ciri tertentu, diantaranya bekas 4 buah kuku pada kulit kayu dan kedalamannya 0.5 – 1.2 cm (Wahyudi, 2003). Banyaknya ditemukan scratch sebagai penanda teritori harimau pada pohon jenis ini dapat disebabkan kulit kayu puspa yang lebih lunak dibandingkan jenis kayu lain sehingga dapat meninggalkan bekas yang jelas dan dalam.
Gambar 7. Cakaran Harimau Sumatera pada Pohon
Struktur vegetasi di Taman Nasional Way Kambas terdiri dari berbagai strata. Strata A merupakan lapisan teratas dari pohon-pohon yang tinggi totalnya lebih dari 30 m, strata B terdiri dari pohon-pohon yang tingginya 15-30 m, strata C dengan tinggi 5-15 m, strata D merupakan lapisan perdu dan semak dengan tinggi 1-4 m dan strata E yang merupakan lapisan tumbuhan penutup tanah dengan tinggi 0-1 m (Soerianegara dan Indrawan, 1998).
Pada jalur ini, terdapat strata yang cukup lengkap. Strata A antara lain terdiri dari jenis puspa, menggris dan meranti. Strata B antara lain terdiri dari parutan, puspa dan berasan. Strata A dan B di jalur D1 yang memiliki tajuk lebar dapat berfungsi sebagai lindungan bagi harimau dari sinar matahari yang masuk. Jenis yang termasuk strata C dan D di jalur D1 antara lain puspa dan tluntum. Strata ini dapat berfungsi sebagai pelindung bagi harimau dan juga sebagai
sumber pakan satwa mangsa harimau yang merupakan satwa herbivor atau pemakan tumbuhan.
Jalur Kalibiru memiliki tipe habitat hutan rawa. Pada tingkat semai terdapat 34 jenis tumbuhan, 28 jenis tingkat pancang, 30 jenis tingkat tiang dan 35 jenis tingkat pohon. Indeks Nilai Penting (INP) vegetasi pada jalur ini dapat dilihat pada tabel berikut.
Tabel 9. Indeks Nilai Penting Vegetasi Terbesar Jalur Kalibiru
Tingkat No Jenis Nama Ilmiah KR (%) FR (%) DR (%) INP (%)
Semai 1. Tluntum Syzigium sp. 20,61 14,89 - 35,5
2. Klandri 20,21 9,57 - 29,79
3. Karetan Ficus sp. 17,97 10,64 - 28,6
Pancang 1. Jambon Eugenia sp. 15,75 14,84 - 30,58
2. Tluntum Syzigium sp. 13,66 12,09 - 25,75
3. Putat air 12,71 7,69 - 20,41
Tiang 1. Ki Apit Pleiocarpidia enneandra 15,28 11,82 15,21 42,31
2. Puspa Schima wallichii 9,03 10 10,85 29,88
3. Tiga urat Cinnamomum sp. 10,42 9,09 10,04 29,55
Pohon 1. Jambon Eugenia sp. 15,28 14,41 10,71 40,39
2. Karetan Ficus sp. 13,19 9,32 11,36 33,88
3. Sawon Ternsormia elongata 4,86 4,24 7,08 16,17
Dari Tabel 9 dapat dilihat bahwa jenis jambon, karetan dan sawon mendominasi pada tingkat pohon. Tingkat tiang didominasi oleh ki apit, puspa dan tiga urat. Jenis puspa hanya mendominasi pada tingkat tiang sedangkan pada tingkat pancang didominasi oleh jenis jambon, tluntum dan putat air. Tingkat semai didominasi oleh jenis tluntum, klandri dan karetan. Atas dasar komposisi tersebut, maka dapat ditafsirkan bahwa jenis yang akan mendominasi pada tingkat pohon di masa yang akan datang akan mengalami perubahan.
Pada jalur ini juga terdapat strata yang cukup lengkap. Strata A hanya terdapat 1 jenis yaitu rengas. Strata B antara lain terdiri dari sempu air, sadeng dan berasan. Jumlah pohon yang termasuk dalam strata A dan B di Kalibiru lebih sedikit diband ingkan dengan jalur D1. Strata ini dapat berfungsi sebagai pelindung bagi harimau dari sinar matahari yang masuk melalui penutupan tajuknya karena harimau merupakan satwa yang tidak tahan terhadap panas. Strata C dan D antara lain terdiri dari jenis tluntum, jambon dan karetan. Kerapatan vegetasi pada strata ini juga dapat berfungsi mengurangi sinar matahari yang
jatuh ke lantai hutan dan juga sebagai sumber pakan satwa mangsa harimau yang merupakan satwa herbivor atau pemakan tumbuhan.
Kalibiru termasuk dalam areal TIMA (Tiger Intensive Monitoring Area). Tanda-tanda keberadaan harimau sumatera berupa jejak dan cakaran pada tanah (scrape) biasanya dapat dijumpai pada lokasi ini. Namun selama pengamatan tidak ditemukan tanda-tanda keberadaan harimau sumatera. Hal ini dapat disebabkan oleh kondisi tanah rawa yang kering karena musim kemarau sehingga sulit ditemukan tanda-tanda keberadaan harimau sumatera. Adanya harimau di lokasi ini dapat disebabkan karena banyaknya satwa mangsa yaitu babi hutan, rusa sambar, kijang dan beruang madu. Jenis tumbuhan yang mendominasi pada tingkat semai dan pancang kemungkinan merupakan makanan bagi satwa mangsa harimau. Selain itu juga dapat disebabkan kerapatan tumbuhan yang tidak terlalu tinggi dan relatif merata pada setiap jenis.
Jalur D2 merupakan tipe habitat hutan bekas terbakar yang sangat terbuka. Belum ada tumbuhan tingkat tiang dan pohon di lokasi ini. Kondisi disebabkan adanya kebakaran hutan yang terjadi pada tahun 1997. Vegetasi yang ada berupa tumbuhan tingkat semai, pancang, tumbuhan bawah dan bercampur dengan alang-alang. Pada lokasi ini terdapat 19 jenis tumbuhan dengan jenis yang dominan yaitu puspa (Schimma walichii) sebesar 39,22 %, mitis (Symolocos fasciculata) 30,48 % dan soka (Ixora coccinea) 18,91 %. Jalur D2 tidak terdapat strata A dan B, tetapi hanya strata C, D dan E, seperti yang dapat dilihat pada Gambar 8. Strata C, D dan E dapat berfungsi sebagai tempat untuk berlindung seperti ditemukannya alang-alang sebagai cover harimau sumatera. Strata ini juga menyediakan pakan bagi satwa mangsa harimau sumatera.
Pada jalur ini banyak ditemukan tanda-tanda keberadaan harimau sumatera. Tanda tersebut berupa cakaran pada tanah (scrape) (Gambar 9) dan feses harimau. Scrape dibuat untuk memberi tanda daerah jelajah harimau dan biasa terdapat di jalan dengan panjang ± 40 cm dan lebar ± 30 cm. Jejak kaki sering tercetak pada guratan, juga sering ditemukan feses atau air seni harimau sumatera (Wahyudi, 2003). Tanda-tanda keberadaan harimau sumatera di lokasi ini dapat dilihat pada Tabel 10.
Tabel 10. Tanda-tanda Keberadaan Harimau Sumatera di Jalur D2
No Tanda Keberadaan
Harimau Sumatera Jumlah Letak Ukuran Keterangan 1. Cakaran (scrape) 19 Tanah P = 37-57 cm
l = 20-27 cm
Terdapat bekas urin pada beberapa scrape
2. Feses 5 Tanah Satwa mangsa yang
dimakan : babi hutan, kijang, monyet dan rusa sambar
Keterangan : p = panjang, l = lebar
Harimau memiliki kecenderungan membuang feses pada tempat yang terkonsentrasi. Hal itu dilakukan agar bau kotoran lebih menyengat sehingga tanda teritori harimau lebih jelas. Vegetasi yang terbuka seperti di jalur D2 dapat membuat bau kotoran harimau sumatera tercium lebih jelas sehingga diketahui oleh individu harimau yang lain. Selain itu, banyaknya ditemukan tanda-tanda harimau sumatera di lokasi ini dapat disebabkan karena vegetasinya yang terbuka sehingga memudahkan harimau untuk menangkap mangsanya.
Jalur Way Negara Batin memiliki tipe habitat hutan dataran rendah. Pada tingkat semai terdapat 47 jenis tumbuhan, 42 jenis tingkat pancang, 26 jenis tingkat tiang dan 35 jenis tingkat pohon. Indeks Nilai Penting (INP) vegetasi pada jalur ini dapat dilihat pada tabel berikut.
Tabel 11. Indeks Nilai Penting Vegetasi Terbesar Jalur Way Negara Batin
Tingkat No Jenis Nama Ilmiah KR (%) FR (%) DR (%) INP (%)
Semai 1. Plangas Aporosa aurita 17,85 7,27 - 25,13
2. Meranti Shorea sp. 7,21 6,55 - 13,76
3. Keruing Dipterocarpus sp. 4,89 7,27 - 12,16
Pancang 1. Joho Buchanania sessifolia 9,08 8,67 - 17,75
2. Sempu air Dillenia excelsa 7,71 8,68 - 16,39
3. Tluntum Syzigium sp. 5,59 7,31 - 12,9
Tiang 1. Sempu air Dillenia excelsa 13,59 11,9 13,81 39,31
2. Meranti Shorea sp. 12,62 10,71 13,21 36,55
3. Salaman Syzigium polyanthum 8,74 5,95 8,35 23,04
Pohon 1. Meranti Shorea sp. 17,39 13,47 17,56 48,42
2. Menggris Koompassia malaccensis 10,87 7,09 16,64 34,6
3. Keruing Dipterocarpus sp. 7,61 7,8 9,82 25,23
Pada jalur Way Negara Batin, jenis pohon yang dominan adalah meranti, menggris dan keruing. Untuk tingkat tiang jenis yang dominan adalah sempu air, meranti dan salaman. Di waktu mendatang, jenis yang akan mendominasi pada tingkat tiang dan pohon akan berubah karena jenis yang dominan pada tingkat semai dan pancang komposisinya berbeda. Untuk tingkat pancang yang dominan adalah joho dan pada tingkat semai, jenis yang dominan adalah plangas.
Pada jalur ini juga terdapat strata yang cukup lengkap. Strata A antara lain terdiri dari jenis medang, keruing dan meranti. Strata B antara lain terdiri dari parutan, menggris dan nangi. Penutupan tajuk strata A dan B dapat berfungsi sebagai lindungan bagi harimau dari sinar matahari yang masuk karena harimau merupakan satwa yang tidak tahan terhadap panas. Strata C dan D yang rapat dapat berfungsi mengurangi sinar matahari yang jatuh ke lantai hutan dan juga sebagai sumber pakan satwa mangsa harimau yang merupakan satwa herbivor.
Tanda-tanda keberadaan harimau sumatera sangat jarang ditemukan pada lokasi ini dan pada saat pengamatan, tidak dijumpai tanda tersebut. Hal ini dapat disebabkan karena kerapatan individu vegetasi pada strata C, D dan E yang terlalu rapat sehingga menyulitkan harimau untuk mengenali dan berburu mangsa. Jalur tersebut juga berbatasan langsung dengan jalan yang menghubungkan Resort
Plang Hijau dan Resort Way Kanan sehingga intensitas manusia yang lewat cukup tinggi.
Jalur Pos Bulus memiliki tipe habitat hutan dataran rendah. Pada tingkat semai terdapat 34 jenis tumbuhan, 33 jenis tingkat pancang, 26 jenis tingkat tiang dan 31 jenis tingkat pohon. Indeks Nilai Penting (INP) vegetasi pada jalur ini dapat dilihat pada tabel berikut.
Tabel 12. Indeks Nilai Penting Vegetasi Terbesar Jalur Pos Bulus
Tingkat No Jenis Nama Ilmiah KR (%) FR (%) DR (%) INP (%)
Semai 1. Parutan Cleistanthus sumatranus 11,17 8,62 - 19,79
2. Soka Ixora coccinea 11,42 5,75 - 17,17
3. Meranti Shorea sp 6,22 6,9 - 13,11
Pancang 1. Sempu air Dillenia excelsa 9,91 9,63 - 19,54
2. Soka Ixora coccinea 11,71 5,93 - 17,64
3. Berasan Memecylon edule 7,21 5,18 - 12,39
Tiang 1. Puspa Schima wallichii 17,27 10,67 16,91 44,85
2. Rambutan
hutan Nephelium mutabile 14,54 13,33 14,79 42,66
3. Meranti Shorea sp 13,64 12 15,68 41,31
Pohon 1. Puspa Schima wallichii 21,09 9,52 20,36 50,98
2. Meranti Shorea sp 16,4 10,71 10,56 37,68
3. Sempu air Dillenia excelsa 7,81 8,33 6,48 22,62
Berdasarkan Tabel 10 dapat dilihat bahwa jenis puspa, meranti dan sempu air mendominasi pada tingkat pohon. Tingkat tiang didominasi oleh puspa, rambutan hutan dan meranti. Pada tingkat pancang didominasi oleh jenis sempu air, soka dan berasan. Tingkat semai didominasi oleh jenis tluntum, klandri dan karetan. Dengan melihat komposisi tersebut maka jenis yang akan mendominasi pada tingkat pohon di masa yang akan datang akan mengalami perubahan.
Strata A antara lain terdiri dari jenis kenari, joho dan bayur. Strata B antara lain terdiri dari puspa, berasan dan meranti. Strata A dan B yang memiliki tajuk lebar dapat berfungsi sebagai lindungan bagi harimau dari sinar matahari yang masuk. Strata C, D dan E yang rapat dapat berfungsi mengurangi sinar matahari yang jatuh ke lantai hutan dan juga sebagai sumber pakan satwa mangsa harimau.
Kondisi di jalur Pos Bulus hampir sama dengan jalur Way Negara Batin. Tanda-tanda keberadaan harimau sumatera sangat jarang ditemukan pada lokasi ini. Strata C, D dan E yang memiliki kerapatan tinggi menyebabkan harimau sulit berburu mangsa. Selain itu, jalur tersebut berbatasan langsung dengan jalan yang
menghubungkan Resort Plang Hijau dan Resort Way Kanan. Dengan cukup tingginya aktivitas manusia di sekitar jalur dan sifat dasar harimau yang menghindari perjumpaan dengan manusia dapat menyebabkan sedikitnya harimau sumatera pada lokasi ini.
Kondisi vegetasi di jalur Kepala Kerbau hampir sama dengan di jalur D2 yang merupakan hutan bekas terbakar yang sangat terbuka (Gambar 10). Pada lokasi ini terdapat 33 jenis tumbuhan dengan jenis yang dominan yaitu lingi (21,98 %) dan waru-waruan (Hibiscus sp) 21,06 %. Sama seperti jalur D2, jalur Kepala Kerbau tidak memiliki strata tajuk yang lengkap. Pada lokasi ini juga jarang ditemui tanda-tanda keberadaan harimau sumatera, seperti yang dapat dilihat pada tabel berikut.
Tabel 13. Tanda-tanda Keberadaan Harimau Sumatera di Jalur Kepala Kerbau
No Tanda Keberadaan
Harimau Sumatera Jumlah Letak Ukuran Keterangan 1. Jejak 1 Tanah p = 15 cm
l = 13 cm
Umur jejak sudah lama Keterangan : p = panjang, l = lebar
Pada saat pengamatan hanya ditemukan satu jejak harimau sumatera dengan umur jejak sekitar satu bulan (Gambar 11). Kepala Kerbau dan areal di sekitarnya merupakan daerah bekas terbakar. Luas areal dengan vegetasi yang terbuka di Kepala Kerbau lebih besar dibandingkan dengan pada jalur D2. Kondisi tersebut menyebabkan kurangnya pelindung bagi harimau yang tidak tahan cuaca panas sehingga tanda-tanda keberadaan harimau sumatera sedikit.
Gambar 10. Jalur Kepala Kerbau Gambar 11. Jejak Harimau Sumatera di Kepala Kerbau
Tidak semua jalur pengamatan memiliki strata yang lengkap. Jalur D1, Kalibiru, Way Negara Batin dan Pos Bulus memiliki strata A sampai E. Pada jalur D2 dan Kepala Kerbau hanya terdiri dari strata C sampai E. Jalur D2 cukup
banyak ditemukan tanda-tanda keberadaan harimau sumatera. Jalur Way Negara Batin dan Pos Bulus memiliki strata tajuk yang lengkap tetapi populasi harimau sumatera lebih rendah dibandingkan jalur D2. Untuk menentukan habitat yang baik bagi harimau sumatera tidak hanya dapat dilihat dari struktur dan komposisi vegetasinya saja. Harimau sumatera sangat tergantung pada adanya satwa mangsa sebagai sumber pakan, fungsi cover serta air yang terpe nuhi, sehingga perlu diketahui ketersediaan faktor-faktor tersebut.