• Tidak ada hasil yang ditemukan

Hasil

Kandungan Logam Berat Timbal (Pb) dan Kadmium (Cd) pada Ikan

Rata-rata kandungan logam Pb yang diperoleh pada tubuh ikan gulamah (J. belangerii) adalah 0,106 mg/kg dan untuk logam kadmium (Cd) adalah 0,024

mg/kg. Kandungan logam timbal (Pb) tertinggi terdapat pada stasiun I dan terendah pada stasiun II, sedangkan untuk logam kadmium (Cd) tertinggi terdapat pada stasiun III dan stasiun I. Lebih jelasnya kandungan logam berat timbal (Pb) dan kadmium (Cd) pada ikan gulamah dapat dilihat pada Tabel 3.

Tabel 3. Kandungan logam berat timbal (Pb) dan kadmium (Cd) pada tubuh ikan gulamah (J. belangerii)

No Stasiun Logam Berat (mg/kg)

Keterangan : *M = Mean dan SD = Standar Deviasi **BPOM RI No. 5 Tahun 2018 ***FAO (2019)

Kandungan Logam Berat Timbal (Pb) dan Kadmium (Cd) pada Sedimen Berdasarkan penelitian yang telah dilakukan diperoleh hasil pengukuran kandungan logam berat timbal (Pb) dan kadmium (Cd) pada sedimen di Perairan Belawan dapat dilihat pada Tabel 4.

Tabel 4. Kandungan logam berat timbal (Pb) dan kadmium (Cd) pada sedimen

Stasiun Kandungan Logam Berat (mg/kg)

Pb Cd

Keterangan *Standart USEPA Region V dalam Sudarso et al (2005) Bioaccumulation Factor (BAF) pada Ikan

Bioaccumulation factor (BAF) atau faktor bioakumulasi adalah akumulasi logam oleh ikan yang diambil secara langsung dari sedimen. Hasil perhitungan faktor akumulasi biologi ikan gulamah (J. belangerii) dapat di lihat pada Tabel 5 berikut ini.

Tabel 5. Nilai faktor akumulasi pada tubuh ikan gulamah (J. belangerii)

Stasiun Nilai Bioaccumulation Factor (BAF) (mg/kg)

Pb Cd

Mengkonsumsi ikan gulamah (J. belangerii) yang terpapar logam berat timbal (Pb) dan kadmium (Cd) secara terus menerus dalam waktu yag lama dapat mebahayakan kesehatan. Untuk mengurangi dampak keracunan logam berat timbal (Pb) dan kadmium (Cd) maka dilakukan perhitungan batas maksimum

konsumsi logam berat perminggunya. Hasil perhitungan batas maksimum konsumsi ikan gulamah yang terpapar logam berat dapat dilihat pada Tabel 6.

Tabel 6. Batas maksimum konsumsi ikan gulamah yang mengandung logam timbal (Pb) dan kadmium (Cd)

Keterangan : *PTWI (dan **Kemenkes RI 2010 dalam Cahyani (2016)

Koefisien Korelasi antara Logam Berat Sedimen dengan Ikan

Untuk mengetahui adanya hubungan antara kandungan logam berat timbal (Pb) dan kadmium (Cd) dalam sedimen terhadap kandungan logam berat timbal (Pb) dan kadmium (Cd) dalam ikan maka dilakukan uji korelasi dengan menggunakan model regresi linear sederhana (Walpole, 1997). Pada pengujian ini akan memperlihatkan adanya korelasi positif dan negatif antara kandungan logam berat yang diamati. Hasil korelasi kandungan logam timbal (Pb) dan kadmium (Cd) pada sedimen dengan ikan dapat dilihat pada Tabel 7 berikut ini.

Tabel 7. Koefisien korelasi kandungan logam berat antara sedimen dengan tubuh ikan

Logam Berat Model Regresi Linear r2 r

Pb Y = 0,1555 - 0,0106X 0,0174 -0,132

Cd Y = 0,0931 - 2,0526X 0,4681 -0,684

Parameter Fisika dan Kimia Perairan Belawan

Hasil pengukuran parameter fisika dan kimia perairan yang dilakukan selama penelitian memberikan gambaran mengenai kondisi perairan Belawan dapat dilihat pada Tabel 8.

Tabel 8. Hasil pengukuran parameter fisika dan kimia perairan Belawan

Parameter Satuan

Kandungan Logam Berat Timbal (Pb) dan Kadmium (Cd) pada Ikan

Pada Tabel 3 dapat dilihat bahwa kandungan logam berat timbal (Pb) pada ikan gulamah di stasiun I adalah 0,176 mg/kg, stasiun II adalah 0,084 mg/kg dan stasiun III adalah 0,057 mg/kg. Sedangkan kandungan logam berat kadmium (Cd) pada stasiun I adalah 0,017 mg/kg, stasiun II adalah 0,023 mg/kg dan stasiun III adalah 0,032 mg/kg. Berdasarkan Peraturan BPOM No. 5 Tahun 2018 batas kandungan nilai logam berat timbal (Pb) untuk ikan adalah 0,2 mg/kg dan kadmium (Cd) adalah 0,1 mg/kg. Jika dibandingkan dengan hasil yang diperoleh maka kandungan logam berta timbal (Pb) dan kadmium (Cd) pada ikan gulamah di masing-masing stasiun masih dalam kategori aman untuk di konsumsi. Begitu

pula jika hasil tersebut dibandingkan dengan batas toleransi logam berat didalam ikan yang ditetapkan oleh FAO (2019).

Terdapat perbedaan nilai kandungan logam berat timbal (Pb) dan kadmium (Cd) pada ikan gulamah. Hal ini dapat disebabkan karena perbedaan kemampuan akumulasi logam oleh ikan. Menurut Prabowo et al (2016), kemampuan ikan dalam mengakumulasi logam berat sangat dipengaruhi oleh jenis ikan dan kepekatan kadar logam yang terdapat pada lingkungan perairan serta kondisi lingkungan perairan.

Ditemukannya logam berat timbal (Pb) dan kadmium (Cd) pada tubuh ikan gulamah perlu menjadi perhatian karena sifat logam timbal (Pb) dan kadmium (Cd) yang beracun. Logam timbal (Pb) dan kadmium (Cd) merupakan jenis logam non esensial di dalam tubuh ikan maupun manusia sehingga jika logam ini terus menumpuk di dalam tubuh akan meberikan bahaya pada kesehatan tubuh ikan dan manusia itu sendiri. Hal ini sesuai dengan Muliyani et al (2016) yang mengatakan bahwa logam berat yang terdapat pada tubuh ikan perlu diperhatikan karena sifat logam yang akumulatif dan sangat berbahaya jika di konsumsi oleh manusia. Hal tersebut dapat disebabkan oleh adanya proses biomagnifikasi yaitu proses perpindahan melalui rantai makanan hingga ke dalam jaringan tubuh manusia sebagai top konsumen yang mengonsumsi hasil perairan yang tercemar logam berat seperti logam timbal (Pb) dan kadmium (Cd).

Kandungan logam berat yang terus menumpuk pada ikan gulamah secara terus menerus dapat menyebabkan kematian pada ikan tersebut. Namun, jika ikan tersebut terpapar logam berat dalam kadar yang rendah belum tentu mengakibatkan kematian. Ikan akan mengalamai perubahan pada fisiologi dan

sistem metabolismenya. Menurut Diana et al (2017), organisme yang terpapar logam dengan konsentrasi rendah biasanya akan mengalami pengaruh subletal seperti terhambatnya sistem pertumbuhan, perkembangan, reproduksi dan terjadinya perubahan morfologi serta terjadinya perubahan tingkah laku pada organisme tersebut.

Kandungan Logam Berat Timbal (Pb) dan Kadmium (Cd) pada Sedimen Berdasarkan hasil analisis yang terdapat pada Tabel 4 terlihat bahwa kandungan logam timbal (Pb) lebih besar dibandingkan logam kadium (Cd) pada sedimen di semua stasiun pengambilan sampel. Nilai kandungan logam berat timbal (Pb) di stasiun I, II dan III berkisar antara 4,117-5,573 mg/kg dan logam kadmium (Cd) berkisar antara 0,031-0,034 mg/kg. Relatif tingginya kandungan logam timbal (Pb) pada sedimen di perairan Belawan dapat disebabkan oleh banyaknya limbah yang berasal dari aktivitas di daerah pelabuhan. Daerah perairan Belawan merupakan kawasan perairan yang banyak disinggahi kapal-kapal mulai dari kapal-kapal perikanan, kapal-kapal transportasi dan kapal-kapal tengker. Kapal-kapal yang berlabuh di perairan Belawan mungkin saja membuang limbah tanpa memperhatikan kerugian yang diperoleh lingkungan perairan. Selain itu logam berat timbal (Pb) juga dapat berasal dari aktivitas di darat seperti perindustrian dan pemukiman masyarakat sekitar. Hal ini sesuai dengan Ginting et al (2014), yang mengatakan bahwa kapal-kapal yang ada di pelabuhan Belawan yang membuang limbah secara langsung ke badan air dan aktivitas masyarakat sekitarnya berperan memberikan pencemaran logam berat ke perairan.

Kandugan logam kadmium (Cd) relatif bernilai rendah hal ini dapat disebabkan karena tidak terlalu banyaknya pemakaian logam kadmium (Cd) pada

berbagai aktivitas di perindustrian maupun pelabuhan. Logam kadmium (Cd) terakumulasi di tempat pengambilan sampel dapat disebabkan karena lokasi yang berada dekat dengan aktivitas pelayaran sehingga dicemari oleh tumpahan minyak di kapal dan pengikisan cat kapal. Menurut Indirawati (2017) logam berat kadmium (Cd) pada air laut dapat bersumber dari industri seperti industri baja yang berlokasi disekitar pesisir Belawan.

Dari hasil penelitian yang diperoleh dapat dinyatakan bahwa kandungan logam berat timbal (Pb) dan kadmium (Cd) pada sedimen di Perairan Belawan telah melebihi nilai baku mutu yang ditetapkan oleh Standard USEPA Region V dalam Sudarso et al (2005) yaitu konsentrasi logam berat pada sedimen untuk timbal (Pb) 0,06 mg/kg dan kadmium (Cd) 0,006 mg/kg. Dengan demikian kandungan logam berat timbal (Pb) dan kadmium (Cd) pada sedimen termasuk kriteria terpolusi berat dan membahayakan kehidupan biota serta lingkungan sekitarnya.

Bioaccumulation Factor (BAF) pada Ikan

Bioaccumulation factor (BAF) atau faktor bioakumulasi adalah proses akumulasi bahan kimia seperti logam berat dalam suatu organisme melalui berbagai jalur seperti respirasi, konsumsi makanan ataupun kontak langsung dengan air dan sedimen yang tercemar (EPA, 2000). Nilai BAF logam berat Pb pada ikan gulamah (J.belangerii) terhadap logam timbal (Pb) pada sedimen yang diperoleh pada penelitian adalah antara 0,014-0,040 mg/kg dengan rata-rata 0,023 mg/kg. Sedangkan BAF logam kadmium (Cd) pada ikan gulamah terhadap logam sedimen adalah 0,505-1,045 mg/kg dengan rata-rata 0,601 mg/kg. Hasil perhitungan ini menjukkan bahwa besarnya akumulasi logam berat timbal (Pb)

dan kadmium (Cd) tergolong bioakumulasi rendah. Hal ini sesuai dengan Filipus et al (2018) yang mengatakan bahwa nilai faktor bioakumulasi < 1 maka kemampuan organisme dalam mengakumulasi logam berat dikatakan rendah.

Akumulasi logam timbal (Pb) dan kadmium (Cd) pada ikan gulamah harus diwaspadai. Jika logam timbal (Pb) dan kadmium (Cd) terus terakumulasi dalam jangka waktu yang lama dapat meimbulkan keracunan yang bersifat kronis pada organisme dan membahayakan lingkungan. Hal ini sesuai dengan Mardani et al (2018), yang mengatakan bahwa limbah logam berat yang menumpuk pada air laut akan masuk ke dalam sistem rantai makanan dan berpengaruh pada kehidupan organisme didalamnya serta dapat mengancam kelestarian hayati dan fungsi pemanfaatan perairan.

Batas Maksimum Konsumsi Logam Berat

Nilai konsumsi maksimum digunakan untuk mengurangi efek negatif logam berat yang masuk ke dalam tubuh manusia. Logam timbal (Pb) dan kadmium (Cd) sangat berbahaya bagi tubuh dan akan mengganggu fungsi organ tubuh. Masuknya logam timbal (Pb) ke dalam tubuh dapat menimbulkan gangguan pada sistem syaraf sehingga menyebabkan ataxia, coma dan kejang pada tubuh anak-anak. Efek logam timbal (Pb) pada tubuh lebih sensitif pada anak-anak dibandingkan dengan orang dewasa (Sudarmaji et al., 2006).

Keracunan logam timbal dapat menyebabkan anemia, sakit kepala, halusinasi, gampang lupa dan bahkan menurunkan kecerdasan. Menurut Suyanto et al (2010) kadar kadmium (Cd) yang berlebihan di dalam tubuh akan mengganggu metabolism tubuh dan menimbulkan gangguan kesehatan antara lain gangguan

pada ginjal, hati, paru-paru, jantung, kerapuhan pada tulang dan sistem reproduksi.

Beradasarkan hasil perhitungan batas maksimum kandungan logam berat timbal (Pb) untuk berat rata-rata orang dewasa (50 kg bb) yang diperbolehkan adalah sebesar 1,250 mg/minggu dan logam berat kadmium (Cd) adalah 0,350 mg/minggu. Sedangkan batas konsumsi ikan gulamah (J.belangerii) yang diperbolehkan berdasarkan batas maksimum kandungan logam per kandungan logam berat yang terdapat pada ikan adalah logam berat timbal (Pb) sebesar 11,792 kg/minggu dan logam berat kadmium (Cd) 14,583 kg/minggu.

Sedangkan hasil perhitungan batas maksimum kandungan logam berat timbal (Pb) untuk berat rata-rata orang anak-anak (15 kg bb) yang diperbolehkan adalah sebesar 0,380 mg/minggu dan logam berat kadmium (Cd) adalah 0,110 mg/minggu. Batas konsumsi ikan gulamah (J. belangerii) yang diperbolehkan berdasarkan batas maksimum kandungan logam per kandungan logam berat yang terdapat pada ikan adalah logam berat timbal (Pb) sebesar 3,538 kg/minggu dan logam berat kadmium (Cd) 4,375 kg/minggu.

Koefisien Korelasi antara Logam Berat dalam Sedimen dengan Ikan

Berdasarkan hasil yang diperoleh pada Tabel 7 maka hubungan korelasi antara kandungan logam berat dalam sedimen dengan ikan dinyatakan dengan nilai negatif. Nilai korelasi (r) antara kandungan logam berat timbal (Pb) sedimen dengan ikan adalah -0,132 dan pada logam berat kadmium (Cd) adalah -0,684.

Hal ini menunjukkan bahwa hubungan kandungan logam berat timbal (Pb) dalam sedimen dengan ikan memiliki hubungan yang sangat lemah dan logam berat kadmium (Cd) memiliki hubungan yang sedang.

Penjelasan adanya hubungan negatif antara kandungan logam berat dalam sedimen dengan ikan pada penelitian ini kemungkinan adalah rendahnya sifat akumulasi logam berat timbal (Pb) dan kadmium (Cd) oleh ikan gulamah. Hal ini dapat disebabkan karena ikan yang cenderung berada di kolom air dibandingkan di dasar perairan. Menurut penelitian yang dilakukan Mulyani et al (2016), bioakumulasi antara ikan dengan air lebih tinggi daripada ikan dengan sedimen.

Hal ini dikarenakan ikan cenderung hidup di kolom air sehingga banyak terjadi kontak dengan air. Selain itu, pola pergerakan ikan yang luas mengakibatkan ikan tidak hanya memperoleh logam dari lingkungan yang sama. Masuknya logam berat kedalam tubuh ikan dapat melalui berbagai jalur transportasi di air dan sedimen serta bersumber dari makanan (Prastyo et al., 2017).

Ikan gulamah merupakan ikan demersal yang sumber makanannya berada di dasar perairan. Ikan gulamah termasuk jenis ikan karnivora yang hidup di perairan laut dan payau. Makanan alami ikan ini adalah ikan-ikan kecil, udang dan serasah (Siagian et al., 2017). Ikan gulamah yang dijadikan sampel penelitian kemungkinan memakan makanan yang telah terakumulasi logam berat sehingga terjadi transfer logam berat dari makanan ke tubuh ikan. Menurut Mardani et al (2018), sifat logam berat yang mudah mengendap pada makanan ikan yang bersifat demersal menyebabkan terjadinya biomagnifikasi yaitu terjadinya pemindahan logam pada ikan melalui ranngkaian rantai makanan.

Parameter Fisika dan Kimia Perairan Belawan Suhu

Suhu merupakan faktor penting di suatu perairan untuk mendukung kehidupan organisme perairan. Peningkatan suhu di perairan dapat menurunkan

daya tahan tubuh ikan terhadap racun termasuk akumulasi logam pada tubuh ikan (Prabowo et al., 2016). Kenaikan suhu yang terjadi diperairan selain meningkatkan metabolisme organisme perairan juga dapat meningkatkan toksisitas logam berat di peraran (Mardani et al., 2018). Pada hasil pengukuran suhu di perairan Belawan diperoleh nilai suhu pada stasiun I adalah 32,3 0C, stasiun II adalah 32,1 0C dan stasiun III adalah 31 0C. Berdasarkan hasil pengukuran tersebut maka dapat dikatakan bahwa suhu di perairan Belawan masih sesuai dengan baku mutu yang ditetapkan oleh Kepmen LH No. 51 tahun 2004 tentang baku mutu suhu air laut untuk keperluan biota yaitu 28-32 0C.

Pada Tabel 8 dapat dilihat bahwa suhu terendah terdapat pada stasiun III dibandingkan suhu di stasiun I dan II. Perbedaan intensitas cahaya yang masuk ke perairan juga menyebabkan perbedaan suhu ke dalam perairan. Hal ini dikarenakan pengukuran suhu di stasiun III di lakukan pada pagi hari. Suhu di perairan dipengaruhi oleh musim, lintang, ketinggian dari permukaan laut, waktu dalam hari, sirkulasi udara, penutupan awan, aliran serta kedalaman badan air (Ginting et al., 2014).

Kecerahan

Kecerahan perairan merupakan salah satu parameter fisika perairan yang menggambarkan tingkat transparansi suatu perairan. Haimuna et al (2018) pada penelitiannya mengatakan bahwa proses asimilasi air dapat diketahui dengan melihat nilai kecerahan pada suatu perairan sehingga dapat diketahui lapisan-lapisan yang tidak keruh dan yang paling keruh. Berdasarkan hasil pengukuran diperoleh nilai kecerahan di stasiun I, II dan III berkisar antara 1,3-1,5 meter.

Nilai tersebut menunjukkan bahwa tingkat kecerahan di perairan Belawan berada

di bawah baku mutu air laut untuk biota laut yang ditetapkan oleh KepMen LH No.51 tahun 2004. Hal ini dikarenakan perairan Belawan yang berada diantara dua muara sungai yang membawa sedimen ke laut sehingga perairan ini di dominasi oleh substrat lumpur.

Kecerahan dipengaruhi oleh penetrasi cahaya dan kekeruhan.

Meningkatnya tingkat kekeruhan di suatu perairan disebabkan oleh adanya suplai sedimen, partikel terlarut, bahan organik dan anorganik melalui run off dari daratan. Semakin keruh suatu perairan maka akan mengurangi penetrasi cahaya ke dalam perairan sehingga akan mempengaruhi kehidupan biota di perairan.

Salinitas

Nilai salinitas di perairan Belawan berkisar antara 28-31 0/00. Sedangkan nilai terendah berada pada stasiun III dikarenakan stasiun ini berada dekat dengan muara yang dipengaruhi oleh masukan air tawar dari Sungai Deli. Berdasarkan hasil pengukuran salinitas yang dilakukan maka dapat dikatakan bahwa nilai salinitas di perairan Belawan berada di bawah baku mutu salinitas air tawar yang telah ditetapkan oleh KepMen LH No. 51 tahun 2004 yakni sampai dengan 34 0/00. Perbedaan nilai salinitas pada stasiun penelitian dapat terjadi karena dipengaruhi oleh berbagai faktor seperti adaya masukan air tawar, gelombang, angin dan kecepatan pasang surut air. Menurut Ginting et al (2014), perbedaan salinitas setiap stasiun sangat dipengaruhi oleh jarak posisinya terhadap sungai dan laut serta adanya pengaruh debit arus pasang surut yang cenderung berfluktuasi. Salinitas tinggi dapat menyebabkan rendahnya konsentrasi logam berat dalam perairan dan sebaliknya (Pradifta et al., 2017).

Kedalaman

Pada peneitian ini kedalaman perairan pada lokasi penelitian berbeda-beda dengan kisaran 9-15 meter. Berdasarkan hasil pengukuran kedalaman pada masing-masing stasiun penelitian diperoleh nilai kedalaman di stasiun I adalah 9,5 meter, stasiun II adalah 15 meter dan stasiun III adalah 2 meter. Kedalaman perairan berbeda-beda pada masing-masing stasiun pengukuran dapat dikarenakan perbedaan kondisi lokasi pengukuran.

Pada stasiun II memiliki kedalaman lebih dalam dibandingkan stasiun lain dikarenakan stasiun berada di lepas pantai berjarak 700 m dari tempat pembangunan reklamasi. Stasiun II memiliki kedalaman berbeda dengan stasiun III dikarenakan stasiun ini merupakan kawasan alur kapal atau pelayaran. Menurut Arifin et al. (2003) kapal dapat melewati alur kapal dengan kedalaman 10-12 meter. Kedalaman perairan di daerah alur kapal dapat berubah sewaktu-waktu jika terjadi proses sedimentasi.

Kecepatan Arus

Berdasarkan hasil pengukuran terhadap kecepatan arus diketahui bahwa kecepatan arus di stasiun I adalah 0,27 m/s, stasiun II adalah 0,36 m/s dan stasiun III adalah 0,22 m/s. Kecepatan arus di stasiun I dan II memiliki kecepatan arus yang sedang. Sedangkan stasiun III memiliki kecepatan arus yang lambat.

Menurut Kurniawa et al (2015), ada empat kategori kecepatan arus yaitu kecepatan arus 0-0,25 m/s disebut sebaagai arus lambat, kecepatan arus 0,25-0,50 m/s disebut sebagai arus sedang, kecepatan arus 0,50-1 m/s disebut arus cepat dan kecepatan arus di atas 1 m/s disebut arus sangat cepat. Perbedaan pergerakan arus di permukaan perairan dipengaruhi oleh perbedaan kecepatan angin yang

berhembus. Hal ini sesuai dengan Saraswati et al (2017) yang mengatakan bahwa kecepatan arus permukaan dapat diukur secara in situ dimana pergerakannya dipengaruhi oleh angin.

Derajat Keasaman (pH)

Derajat keasaman (pH) adalah salah satu faktor kimia air yang sangat mempengaruhi kehidupan biota dan lingkungan perairan. pH menggambarkan tingkat keasaman atau basa suatu perairan. Kisaran pH yang diperoleh pada ketiga stasiun penelitian yaitu 7,9-8,1. Nilai pH tertinggi berada pada stasiun I yaitu 8,1 dan nilai pH terendah berada pada stasiun III yaitu 7,9. Berdasarkan Kepmen LH No. 51 tahhu 2004 tentang baku mutu kualitas air unntuk kehidupan biota laut, pH di perairan Belawan sesuai dengan baku mutu yang telah ditetapkan. Menurut Haimuna et al (2018), nilai pH yang ideal untuk lingkungan perairan adalah berkisar antara 7 – 8,5. Jika kondisi perairan terlalu asam atau basa akan membahayakan kelangsungan hidup biota karena terganggunya proses metabolisme dan respirasi.

pH dapat mempengaruhi proses reaksi bahan-bahan perairan seperti kelarutan pada logam berat. Nilai pH yang rendah akan menyebabkan logam lebih mudah larut (Wulandari et al., 2009). Kelarutan logam akan cenderung stabil pada kondisi pH mendekati normal yaitu 7-8, logam akan berikatan dengan anion sehingga membentuk senyawa kompleks organologam yang cenderung mengendap di dasar (Suwarsito dan Sarjanti, 2014).

Oksigen Terlarut (Disolved Oxygen/DO)

Hasil pengukuran oksigen terlarut (Disolved Oxygen/DO) di pada ketiga stasiun penelitian memiliki nilai antara 4,6-5,8 mg/l. Nilai DO terendah pada

stasiun III yaitu 4 mg/l dan tertinggi pada stasiun II yaitu 5,8 mg/l. Sedangkan nilai DO di stasiun I yaitu 5 mg/l. Rendahnya nilai DO pada stasiun III disebabkan karena suplai oksigen yang sedikit ke dalam perairan. Arus berperan dalam suplai oksigen ke dalam perairan. Pada hasil penelitian stasiun III memiliki pergerakan arus yang lambat sehingga difusi oksigen dari permukaan air sedikit.

Tingginya DO di stasiun II dikarenakan stasiun ini berada pada jalur keluar masuknya kapal-kapal tengker yang memugkinkan terjadinya pengadukan air sehingga terjadi difusi oksigen ke dalam air. Hal ini sesuai dengan Husainy et al (2014) yang menyatakan bahwa kandungan DO dipengaruhi oleh tingginya gerakan air yang dapat mengaabsorbsi oksigen dari udara ke dalam air.

Kandungan DO berperan penting dalam kelangsungan hidup biota perairan. Berdasarkan KepMen LH No. 51 Tahun 2004 nilai DO yang optimal untuk kehidupan biota laut adalah >5 mg/l. Berdasarkan hasil penelitian menunjukkan bahwa nilai DO pada stasiun I dan II sesuai dengan baku mutu.

Namun di stasiun III nilai DO berada di bawah 5 mg/L sehingga tidak dapat mendukung kehidupan biota.

Dokumen terkait