• Tidak ada hasil yang ditemukan

Ikan Gulamah (Johnius belangerii)

Gambar 2. Ikan Gulamah (Johnius belangerii)

Ikan gulamah mempunyai ciri-ciri yaitu mempunyai duri keras sirip punggung berjumlah 10-11 buah, duri lunak sirip punggung berjumlah sekitar 27-31 buah, duri keras sirip anal berjumlah 2 buah dan duri lunak sirip anal berjumlah 7 buah. Habitat ikan gulamah berada di pantai yang dangkal dan estuari yang terdapat banyak organisme invetebrata. Ikan ini terdistribusi di Indo-Pasifik Barat seperti Pakistan, India, Sri Langka melewati Hindia hingga China. Di Indonesia, ikan ini ditemukan di wilayah Sumatera hingga Bali. Ikan Gulamah memiliki taksonomi sebagai berikut :

Kingdom : Animalia Filum : Chordata Kelas : Actinopterygii Ordo : Perciformes Famili : Sciaenidae Genus : Johnius

Spesies : Johnius belangerii (Tangguh LNG dan LPPM IPB, 2015).

Ikan gulamah umumnya dipasarkan dalam keadaan segar atau diolah secara tradisional dengan penggaraman dan pengeringan. Ikan ini memiliki nilai ekonomis yang tidak terlalu tinggi sehingga dapat memenuhi kriteria utama dalam penyediaan bahan baku untuk diolah menjadi tepung ikan untuk konsumsi manusia (Satria et al., 2016).

Ikan asin gulamah memiliki nilai ekonomis yang lebih tinggi dibandingkan dengan harga ikan gulamah segar. Ikan gulamah sering diolah menjadi ikan asin oleh masyarakat. Pengolahan ikan asin gulamah menggunakan bahan baku ikan segar yang masih bagus dengan ukuran rata-rata 5-15 cm. Bahan baku ikan guamah segar diperoleh dari hasil tangkapan nelayan. Produk ikan asin gulamah memiliki ciri-ciri berwarna putih kekuningan, testurnya lunak, tidak bau dan jika di goreng memiliki aroma yang khas (Panjaitan et al., 2016).

Pencemaran

Berdasarkan PP No. 82 Tahun 2001 tentang Pengelolaan Kualitas Air dan Pengendalian Pencemaran Air, pencemaran air adalah masuknya atau dimasukkannya makhluk hidup, zat, energi atau komponen lain ke dalam air oleh kegiatan manusia sehingga kualitas perairan turun sampai pada tingkat tertentu yang menyebabkan air tidak dapat berfungsi sesuai dengan peruntukannya.

Pencemar memasuki badan air dengan berbagai cara, misalnya melalui atmosfer, tanah, limpasan pertanian, limbah domestik dan perkotaan, pembuangan limbah industri dan lain-lain. Bahan pencemar adalah bahan-bahan yang sifatnya asing bagi alam atau bahan yang berasal dari alam itu sendiri yang memasuki suatu tatanan ekosistem sehingga menggagu peruntukan ekosistem tersebut. Bahan pencemar di perairan di kelompokkan menjadi limbah yang menngakibatkan

penurunan kadar oksigen terlarut, limbah yang mengakibatkan munculnya penyakit, limbah senyawa organik sintetis, limbah nutrient tumbuhan, limbah senyawa anorganik dan mineral, limbah sedimen, limbah radioaktif, limbah panas dan limbah minyak (Effendi, 2003).

Pencemaran yang terjadi di perairan merupakan masalah penting yang perlu memperoleh perhatian dari berbagai pihak. Sumber bahan pencemaran yang masuk ke perairan dapat berasal dari buangan yang masuk ke perairan dapat yang dapat diklasifikasikan sebagai point source discharge (sumber titik) dan non point source (sumber menyebar). Meningkatnya beban pencemaran yang masuk ke perairan juga disebabkan oleh kebiasaan massyarakat yang berdomisili di sekitar perairan (Handayani et al., 2011).

Kanndungan Logam Berat Pada Sedimen Perairan

Pencemaran lingkungan akibat logam berat dapat terjadi karena banyaknya penggunaan logam berat tersebut oleh manusia. Salah satu tanda-tanda adanya pencemaran logam berat terhadap lingkungan adalah proses perkaratan pada logam yang disebabkan oleh proses oksidasi. Logam digolongkan ke dalam dua katagori, yaitu logam berat dan logam ringan. Logam berat ialah logam yang mempunyai berat 5 g atau lebih untuk setiap cm3 sedangkan logam yang beratnya kurang dari 5 g setiap cm3 termasuk logam ringan (Agustina, 2014).

Menurut Suheryanto et al. (2013) kadar logam berat dalam sedimen lebih tinggi dibandingkan dalam air. Hal ini menunjukkan adanya akumulasi logam berat dalam sedimen. Hal ini karena logam berat dalam air mengalami proses pengenceran dengan adanya pengaruh pola arus pasang surut. Perjalanan perpindahan ion logam dalam partikel di dalam sedimen terutama melalui proses

partisi air – sedimen, yaitu perpindahan logam dari bentuk terlarut dalam air ke dalam sedimen melalui proses fenomenaadsorpsi.

Berdasarkan Standart USEPA Region V dalam Sudarso et al (2005), batas baku mutu logam timbal (Pb) dan kadmium (Cd) adalah 0,06 mg/kg dan 0,006 mg/kg. Jika konsentrasi logam berat di dalam sedimen memiliki nilai lebih kecil dari nilai tersebut maka konsentrasi logam dalam sedimen tidak terlalu membahayakan lingkungan perairan. Namun jika nilai konsentrasi logam lebih besar dari nilai yang sudah dditetapkan maka konsentrasi logam pada sedimen dapat membahayakan lingkungan.

Kandungan Logam Berat Pada Ikan

Logam berat yang masuk ke perairan akan mengalami berbagai proses mencakup transport oleh arus pasang surut, pengenceran, berasosisasi dengan bahan tersuspensi, koagulasi dan sedimentasi ke dasar, berasosiasi dengan bahan organik sedimen dan diserap oleh plankton. Logam berat yang beasosiasi dengan plankton dan sedimen, pada gilirannya akan memasuki rantai makanan (food chain) yang selanjutnya mengalami akumulasi pada ikan. Ikan laut, pada hirarki rantai makanan tingkat atas, secara langsung akan menyerap (uptake) pencemaran dari badan air, atau secara tidak langsung akan terjadi biomagnifikasi melalui rantai makanan (Siregar dan Edward, 2010).

Siboro et al. (2016) menyatakan bahwaorganisme air sangat dipengaruhi oleh keberadaan logam berat di dalam air, sangat mempengaruhi organisme air terutama pada konsentrasi yang melebihibatas normal. Organisme air mengambil logam berat dari badan air atau sedimen dan menyerapnya ke dalam tubuh

mencapai 100-1000 kali lebih besar darilingkungan. Akumulasi melalui proses ini disebut bioakumulasi.

Logam berta masuk ke dalam tubuh ikan melalui beberapa jalan yaitu saluran pernapasan, pencernaan dan penetrasi melalui kulit. Logam diabsorpsi melalui darah dan berikatan dengan protein darah lalu disebarkan ke seluruh jaringan tubuh. Hati dan ginjal adalah bagian tubuh ikan yang terakumulasi logam dengan nilai tinggi. Penyerapan logam oleh tubuh dapat berasal dari air, sedimen atau melalui makanan yang terkontaminasi (Suyanto et al., 2010).

Berdasarkan Peraturan Badan Pengawas Obat dan Makanan Nomor 5 Tahun 2018 tentang Batas Maksimum Cemaran Logam Berat dalam Pangan Olahan, ambang batas kadar logam berat arsen (As), timbal (Pb), merkuri (Hg) dan kadmium (Cd) pada ikan berturut-turut adalah 0,25 mg/kg, 0,20 mg/kg, 0,50 mg/kg dan 0,10 mg/kg. Sedangkan pada SNI 7387:2009 mengenai batas maksimum cemaran logam berat dalam ikan adalah arsen (As) 1 mg/kg, kadmium (Cd) 0,1 mg/kg, merkuri (Hg) 0,5 mg/kg dan timbal (Pb) 0,3 mg/kg.

Timbal (Pb)

Timbal (Pb) merupakan jenis logam berat tidak esensial atau beracun.

Keberadaannya dalam tubuh makhluk hidup masih belum diketahui manfaatnya.

Logam timbal banyak digunakan sebagai konstituen di dalam cat, baterai dan saat ini banyak digunakan pada bensin unuk meningkatkan nilai oktan, penghirup asap tembakau, sebagai bahan pelapis untuk bahan kerajinan dari tanah karena pada temperatur yang rendah bahan pelapis dapat digunakan, banyak juga digunakan sebagai pelapis pipa-pipa, karena mempunyai sikap resisten terhadap bahan korosif (Siboro, et al., 2016).

Timbal (Pb) mempunyai sifat titik lebur yang rendah, mudah dibentuk, memiliki sifat kimia aktif untuk melapisi logam agar tidak terjadi perkaratan. Jika di campur dengan logam lain maka dapat membentuk logam campuran yang lebih bagus daripada logam murni dan mempunyaikepadatan yang lebih padat daripada logam lainnya (Agustina, 2014).

Kadmium (Cd)

Kadmium adalah logam yang bersifat toksis dan terjadi secara primer di alam bercampur dengan seng (Zn) dan timbal (Pb). Pencemaran kadmium pada lingkungan sering disebabkan oleh adanya proses ekstraksi pengolahan logam seng dan timbal. Pembakaran bahan logam tersebut dapat melepaskan kadmium ke lingkungan. Kadmium banyak dimanfaatkan secara luas dalam industri-industri dalam electroplating, pewarnaan cat dan pembuatan plastik (Endrinaldi, 2010).

Logam berat kadmium dapat menurunkan kualitas perairan karena adanya aktivitas masyarakat seperti industri, perbaikan kapal, bongkar muat kapal minyak dan transportasi laut sehingga kadmium masuk ke dalam perairan. Kadmium dapat menngendap di sedimen karena mempunyai sifat mengikat bahan organik sehingga konsentrasi logam kadmium di dalam sedimen lebih tinggi dibandingkan konsentrasi logam berat di dalam air. Kadmium dapat diserap oleh organisme dalam bentuk ion-ion bebas (Cd2+) dan berasosiasi dengan ion klorida (Cl-) pada pH 7. Keberadaan kadmium dalam tubuh organisme perairan didapatkan melalui proses penyerapan dari rantai makanan (Rumahlatu, 2011)

Parameter Fisika Air Suhu

Suhu air adalah salah satu karakteristik paling penting yang menentukan, sampai batas tertentu, tren dan kecenderungan perubahan kualitas air suatu perairan. Peningkatan suhu air dapat menurunkan kelarutan oksigen terlarut dan suhu air di atas 27 °C tidak cocok untuk penggunaan umum di atas 32 °C dianggap tidak layak untuk penggunaan umum (Bahailu et al., 2017). Menurut Patil et al. (2012) dalam sistem yang baik, suhu air mengontrol laju semua reaksi kimia memengaruhi pertumbuhan, reproduksi dan imunitas ikan sedangkan perubahan suhu yang drastis bisa berakibat fatal bagi ikan.

Umerfarud dan Solanki (2015) menyatakan bahwa suhu memainkan peran penting untuk mengendalikan parameter fisika-kimia dan biologis air dan dianggap sebagai salah satu faktor terpenting dalam lingkungan akuatik terutama untuk air tawar. Suhu tertinggi perairan di musim panas tercatat 27 °C yang disebabkan oleh radiasi matahari yang tinggi, permukaan air yang rendah, atmosfer yang jernih dan suhu atmosfer yang tinggi sedangkan suhu terendah perairan yang dilaporkan selama musim dingin adalah 18 °C karena suhu lingkungan yang rendah yang dingin dan penyinaran matahari yang lebih singkat.

Kecerahan

Kecerahan air tergantung pada warna dan kekeruhan. Kecerahan merupakan ukuran transparansi perairan, yang ditentukan secara visual dengan menggunakan secchi disk dan dinyatakan dalam satuan meter. Nilai kecerahan sangat dipengaruhi oleh keadaan cuaca, waktu pengukuran, kekeruhan dan

padatan tersuspensi. Pengukuran kecerahan sebaiknya dilakukan pada saat cuaca cerah (Effendi, 2003).

Kemampuan cahaya matahari untuk menembus sampai ke dasar perairan dipengaruhi oleh kekeruhan suatu perairan. Dengan mengetahui nilai kecerahan suatu perairan, maka dapat diketahui pula sampai dimana kemungkinan terjadi proses asimilasi dalam perairan. Kecerahan yang baik bagi usaha budidaya budidaya ikan dan biota berkisar 30 – 40 cm. Bila kecerahan sudah mencapai kedalaman kurang dari 25 cm berarti akan terjadi penurunan oksigen terlarut secara dratis (Maniagasi et al., 2013).

Salinitas

Salinitas adalah jumlah konsentrasi seluruh larutan garam yang ada di dalam air laut. Salinitas dapat mempengaruhi tekanan osmotik air dimana semakin tinggi salinitas maka semakin tinggi tekanan osmotiknya. Proses pengupan dan presipitasi dapat menyebabkan perubahan nilai salinitas di perairan laut. Secara umum nilai salinitas perairan laut adalah 32-34 0/00 (Haimuna et al., 2018).

Pengaruh salinitas di perairan dapat menyebabkan penurunan konsentrasi oksigen termasuk yang terdapat pada badan sungai yang mendapat pengaruh dari perairan estuari. Kadar oksigen dalam air akan semakin berkurang dengan semakin tingginya salinitas. Pada daerah muara sungai terjadi pertemuan antara air asin dari laut dan air tawar dari sungai. Faktor penyebab pencampuran salinitas di muara sungai dapat diakibatkan oleh salah satu dari ketiga sumber penyebab

percampuran yaitu angin, pasang surut dan debit aliran sungai (Armis et al., 2017).

Kedalaman

Informasi kedalaman laut sangat berguna pada kegiatan navigasi pelayaran dan mengetahui sebaran makhluk hidup yang tinggal di dalamnya. Kedalaman laut dapat diukur secara manual menggunakan kapal namun membutuhkan waktu yang lama (Pambuko et al., 2013). Kedalaman perairan yang dangkal dengan substrat dasar berlumpur memungkinkan terjadnya kekeruhan perairan melalui pengadukan gelombang dan arus sampai ke dasar perairan (Mustafa et al., 2017).

Jika kedalaman bertambah makan terjadi penurunan oksigen terlarut karena berkurangnya proses fotosintesis (Mainassy, 2017). Kedalaman 0-5 m disebut juga kedalaman dengan kategori datar (Salim et al., 2017).

Kecepatan Arus

Arus air adalah salah satu faktor penting pada perairan karena berhubungan dengan penyebaran organisme,gas-gas terlarut dan mineral yang terdapat di dalam air. Arus berfungsi mengangkut energi panas dan substansi yang terdapat di dalam air. Nilai kecepatan arus di suatu perairan berfluktuasi dari waktu ke waktu tergantung dari fluktuasi debit dan aliran air serta kondisi substrat yang ada. Pengukuran arus dapat dilakukan meggunakan flow meter dengan memasukkan detektor arus air berupa baling-baling kecil yang dihubungkan dengan alat pengukur digital (Barus 2004). Kecepatan arus sangat berpengaruh pada kemampuan perairan mengasimilasi dan mengangkut bahan pencemar. Kecepatan arus perlu diketahui untuk mengetahui kapan bahan

pencemar akan mencapai suatu lokasi apabila bagian hulu mengalami pencemaran (Effendi, 2003).

Kecepatan arus dipengaruhi oleh kemiringan, topografi perairan, jenis batuan besar, debit air dan curah hujan. Kecepatan arus dapat menentukan peyebaran organisme yang hidup di badan perairan (Mainassy, 2017). Kecepatan arus dapat dibedakan dalam 4 kategori yakni kecepatan arus 0-0,25 m/dtk yang disebut arus lambat, kecepatan arus 0,25-0,50 m/dtk yang disebut arus sedang, kecepatan arus 50 - 1 m/dtk yang disebut arus cepat, dan kecepatan arus diatas 1 m/dtk yang disebut arus sangat cepat (Sari dan Usman, 2012).

Parameter Kimia Air Derajat Keasaman (pH)

Derajat Keasaman (pH) adalah ukuran keasaman suatu larutan air. Skala pengukuran pH umumnya berkisar antara 0 hingga 14. Skala ini tidak linier melainkan bentuk logaritmik misalnya larutan dengan pH 6 sepuluh kali lebih asam daripada larutan murni dengan pH 7. Air murni dikatakan netral dengan pH 7. Air dengan pH di bawah 7 dianggap bersifat asam sedangkan air dengan pH lebih besar di atas 7 dianggap bersifat basa (Nayan, 2018).

Derajat keasaman merupakan salah satu faktor pembatas suatu perairan.

Perairan umumnya memiliki kisaran tertentu untuk hidup yakni bersifat netral atau berada pada keadaan asam lemah hingga basa lemah (pH 7-8,5). Semakin rendah pH suatu perairan maka semakin tinggi mobilitas logam berat, sedangkan semakin tinggi pH perairan menyebabkan keseimbangan ammonium dan ammoniak dalam air terganggu (Elfidasari et al., 2015) .

Menurut Siahaan (2017), badan perairan yang di dalamnya ditemukan sampah dedaunan, tunggul kayu dan ranting-ranting pohon yang jatuh di sekitar danau dapat berpengaruh terhadap kondisi pH perairan danau tersebut. Hal ini

diduga karena proses dekomposisi bahan organik dan aktifitas mikroorganisme dalamproses pelapukan dan pembusukan kayu yang mengendap di dasarperairan.

Rendahnya nilai pH mengindikasikan menurunnya kualitas perairan yang pada akhirnya berdampak terhadapkehidupan biota di dalamnya.Terjadinya perubahan ini akan membunuh biota yang paling peka sekalipun, karena jaringan makanan dalam perairan terganggu.

Oksigen Terlarut (Dissolved Oxygen/DO)

Nilai oksigen terlarut di perairan sebaiknya berkisar antara 6–8 mg/l, semakin rendah nilai DO di dalam suatu perairan maka semakin tinggi tingkat pencemaran pada ekosistem perairan tersebut. Kehidupan di air dapat bertahan

jika oksigen terlarut minimum sebanyak 5 mg oksigen setiap liter air (Sandy et al., 2015).

Pada siang hari, oksigen dihasilkan melalui proses fotosintesa sedangkan pada malam hari oksigen yang terbentuk akan digunakan kembali oleh alga untuk proses metabolisme pada saat tidak ada cahaya. Kadar oksigen maksimum terjadi pada sore hari dan minimum menjelang pagi hari (Tatangindatu et al., 2013).

Dokumen terkait