Identifikasi Sumber-Sumber Risiko
Risiko produksi merupakan salah satu faktor yang dapat mempengaruhi terhadap keberhasilan suatu usaha termasuk di dalam usaha pembesaran ikan hias Neon tetra yang dilakukan oleh Bapak Rodi. Risiko produksi sendiri dapat berupa penurunan hasil panen atau penyimpangan dari hasil yang diharapkan. Untuk dapat mengantisipasinya perlu adanya manajemen risiko yang dilakukan oleh pengusaha dalam hal ini Bapak Rodi. Langkah pertama yang dilakukan dalam manajemen risiko adalah identifikasi risiko, hal ini dilakukan untuk memperoleh informasi mengenai penyebab risiko dan kejadian-kejadian yang dapat menyebabkan kerugian bagi pengambil keputusan. Usaha pembesaran ikan hias neon tetra dihadapkan pada masalah risiko produksi. Risiko produksi akan mempengaruhi tingkat survival rate yang dihasilkan. Hal ini terlihat dari adanya fluktuasi dalam survival rate ikan hias yang dipanen.
Produksi ikan hias neon tetra setiap kondisi dapat dilihat dari tingkat survival rate yang diperoleh dengan dari data primer. Survival rate yang berfluktuasi menunjukkan adanya tingkat survival ratetertinggi, terendah dan normal. Peluang tertinggi, terendah dan normal diukur dari proporsi frekuensi atau berapa kali perusahaan pernah mencapai Survival rate tertinggi, terendah dan normal selama periode siklus produksi berlangsung.
Tingkat Survival rate dinilai dari perolehan hasil panen pada periode produksi yang sudah terjadi yaitu pada bulan Januari 2011 sampai dengan bulan Septembet 2013. Berdasarkan data yang diperoleh dari pemilik usaha, fluktuasi survival rate ikan hias neon tetra dapat dilihat pada Tabel 6.
Tabel 7 Rata-rata produksi, survival rate ikan hias neon tetra dan peluang yang dihadapi pengusaha
No. Kondisi Survival rate (%) Peluang
1. Tertinggi >95 0,29
2. Normal 81-94 0,42
3. Terendah < 80 0,29
Tabel 7 menunjukkan kondisi survival rate pembesaran ikan neon tetra pada kondisi tertinggi, terendah dan normal. Kondisi tertinggi merupakan kondisi dimana pengusaha mendapat tingkat produksi tertinggi selama produksi berlangsung, dalam hal ini pengusaha menganggap tingkat produksinya tertinggi apabila pencapaian produksinya mencapai lebih dari 95 persen. Pada kondisi normal dimana pengusaha menganggap tingkat produksinya yang sering terjadi dalam proses produksi yaitu saat tingkat survival rate berkisar antara 80 persen sampai dengan 94 persen. Sedangkan kondisi terendah merupakan kondisi dimana pengusaha menganggap tingkat produksinya yang dibawah normal atau minimal yaitu pada saat pengusaha mengalami tingkat survival rate dibawah 80 persen.
Dilihat berdasarkan Tabel 3 yaitu tabel tingkat survival rate yang dialami bapak Rodi pada beberapa periode panen terjadi tingkat survival rate yang lebih dari 95 persen atau mengalami kondisi maksimal sebanyak 5 kali dalam 17 periode panen yang diteliti, sehingga didapat nilai probabilitas atau peluang sebesar 0,29 persen. Kondisi ini sama dengan tingkat peluang pada kondisi minimal atau kondisi terendah yaitu saat pengusaha mengalami tingkat survival rate kurang dari 80 persen, dimana pada kondisi ini pengusaha mengalami 5 kali kejadian sehingga didapat nilai peluang 0,29 persen. Sedangkan pada kondisi normal yaitu pada saat pengusaha mengalami tingkat survival rate berkisar antara 81 persen sampai dengan 94 persen. Pengusaha, dalam hal ini bapak Rodi mengalami 7 kali kejadian dari 17 kali masa panen yang diteliti sehingga didapat nilai peluang sebesar 0,42 persen.
Peluang yang terjadi di dalam usaha pembesaran ikan neon tetra mencapai survival rate tertinggi sekitar 0,29 pesen yang dapat diartikan jika usaha pembesaran ini dilakukan dalam 17 kali maka frekuensi mencapai Survival rate
tertinggi hampir sekitar 5 kali. Sedangkan peluang untuk mendapatkan Survival rate terendah sebesar 0,29 dan normal sebesar 0,42. Jika memperhatikan angka peluang dari tingkat survival rate yang diperoleh, dapat dilihat bahwa selama pengusahaan pembesaran ikan neon tetra lebih sering memperoleh produktivitas tertinggi dibandingkan dengan survival rate normal dan terendah.
Terdapat faktor-faktor yang menjadi penyebab munculnya risiko produksi pada usaha pembesaran ikan hias Neon tetra . Sumber-sumber risiko produksi dapat berasal dari dalam lingkungan perusahaan maupun dari lingkungan luar perusahaan. Faktor-faktor tersebut antara lain :
Kondisi cuaca dan Iklim
Air merupakan media tempat hidup dalam budidaya ikan. Kondisi air harus disesuaikan dengan kebutuhan optimal bagi pertumbuhan ikan yang dipelihara. Keberhasilan budidaya ikan banyak ditentukan oleh keadaan kualitas dan kuantitas air, parameter baik atau buruknya kualitas air untuk budidaya ikan hias neon tetra adalah suhu dan pH. Suhu yang baik untuk ikan hias neon tetra berkisar antara 20 -
25°C dengan pH 5,5 – 7,0 (Anonim, 2005). Berdasarkan hasil wawancara kepada
pembudidaya ikan hias neon tetra antara suhu dan pH memiliki keterkaitan dimana apabila terjadi peningkatan suhu biasanya diikuti oleh peningkatan pH, begitu juga sebaliknya apabila terjadi penurunan suhu maka pH akan relative turun. suhu akan berpengaruh terhadap laju pertumbuhan ikan bila suhu terlalu rendah maka pertumbuhan ikan yang dipelihara akan lambat tumbuh, karena bila suhu rendah maka proses metabolisme ikan akan menjadi lambat dan nafsu ikan akan menurun sedangkan pada suhu yang terlalu tinggi laju metabolisme meningkat, hingga konsumsi oksigen juga meningkat.Tetapi dipihak lain, kandungan oksigen didalam air juga alami penurunan dimana penurunan tersebut dapat berakibat terhadap kematian ikan.
Salah satu indikator naik atau turunnya suhu air dipengaruhi oleh kondisi cuaca dan iklim, oleh karena itu kondisi cuaca dan iklim menjadi salah satu faktor munculnya risiko dalam produksi ikan hias, hal ini dikarenakan perubahan cuaca yang sulit diprediksi. Berdasarkan hasil wawancara di lapangan saat ini cuaca tidak dapat dikendalikan karena selalu berubah-ubah tidak sesuai dengan siklus normal. Kondisi cuaca sangat berpengaruh terhadap pertumbuhan ikan, cuaca yang ekstrim dapat mengakibatkan ikan yang dibudidaya menjadi lambat pertumbuhannya dan atau dapat mengakibatkan kematian. Pada dasarnya ikan hias dibudidayakan di ruangan tertutup dengan menempatkan akuarium sebagai media lingkungan hidup ikan. Musim kemarau menjadikan suhu udara menjadi tinggi, hal ini berpengaruh terhadap suhu air di akuarium. Kemampuan ikan dalam penyesuaian suhu air di akuarium sangat terbatas sehingga menjadikan pertumbuhan ikan menurun,sedangkan pada musim hujan suhu lingkungan budidaya menjadi menurun dan berimplikasi terhadap suhu air di akuarium akibatnya ikan tidak selera makan karena suhu yang berbeda dari suhu normal.
Ciri-ciri yang biasa dipergunakan untuk melihat perubahan suhu dan pH dengan melihat kebiasaan ikan yang dibandingkan dengan suhu yang terjadi pada saat itu, apabila ikan berada di permukaan air secara berkelompok dan warna air berubah menjadi lebih jernih/bukan berwarna kecoklatan. Ada beberapa alternative untuk menyiasati perubahan pH yang diakibatkan perubahan suhu oleh petani, apabila suhu
daun ketapang untuk membuat suasana asam pada air. Dan apabila suhu rendah dan pH dianggap rendah maka air di dalam akuarium dikurangi dan keluarnya angin ditambah atau dimasukkan batu karang sebanyak 1 krongkol (selebar kepalan tangan) ke dalam akuarium, tujuannya supaya pH menjadi naik kembali.
Kualitas pakan
Didalam proses pembesaran ikan hias neon tetra ada beberapa macam jenis pakan yang diberikan diantaranya adalah cacing darah segar, kutu air dan pelet. Berdasarkan pengamatan peneliti Adapun frekuensi dalam pemberian pakan untuk pembesaran ikan hias neon tetra dilakukan tiga kali sehari pada pagi hari sekitar jam tujuh pagi diberikan dua sendok makan kutu air, pada siang hari sekitar jam 12 diberikan kombinasi antara satu sendok makan pelet dan satu sendok cacing darah darah atau kutu air dan pada sore hari sekitar jam lima iken diberi pakan dua sendok makan cacing darah. banyaknya pakan yang diberikan disesuaikan dengan konsumsi ikan, semakin rakus ikan usahakan pakan yang diberikan diperbanyak.
Pakan alami yang diberikan dalam proses pembesaran ini biasanya diberikan dalam keadaan hidup. Untuk pakan kutu air didapat dari kolam-kolam ikan budidaya lele yang ada di sekitar lingkungan usaha yang pengambilannya biasanya dilakukan pada pagi hari yaitu jam 4-5 subuh, sedangkan untuk pakan cacing darah didapat dari pemasok dari bogor. Sebelum pakan cacing darah dan kutu air diberikan pada ikan hias, terlebih dahulu kedua pakan tersebut diletakkan di baskom atau wadah yang berisi air dan dalam keadaan diaerasi. Hal tersebut ditujukan untuk membersihkan pakan dari kotoran-kotoran. Sedangkan pelet yang akan diberikan pada ikan hias terlebih dahulu dicampur dengan air agar ukuran butiran pelet menjadi lebih kecil dan dapat dikonsumsi ikan hias.
Meskipun perlakuan di dalam pemilihan pakan alami ini dilakukan secara selektif dan hati-hati namun tidak menutup kemungkinan pakan tersebut terjangkit spora, virus atau bakteri sehingga tidak jarang sumber penyakit ikan tidak hanya berasal dari lingkungan budidayanya juga berasal dari pakan yang diberikan. Pakan yang buruk biasanya cepat mati dan tidak tahan lama, sehingga selama proses pembesaran ikan neon tetra , media pemeliharaan akan mengalami penurunan kualitas. Kualitas air dapat dipertahankan dengan cara penyiponan sisa pakan dan feses ikan yang mengendap di dasar akuarium setiap hari yang diikuti dengan pergantian air. Metode penyiponan adalah pengambilan kotoran dan air dengan memanfaatkan gravitasi bumi dan alat berupa selang plastik. Untuk memfungsikan sistim sipon, masukkan satu ujung selang ke air dalam wadah yang akan disipon dengan mulut selang tertutup jari dan ujung lainnya dijatuhkan ke tempat yang lebih rendah dari kedudukan wadah. Air akan mengalir begitu tutup selang dibuka menarik kotoran yang terdekat. Untuk memudahkan pembersihan kotoran yang menempel di dasar wadah ujung selang diberi sikat kecil. Pergantian air dilakukan untuk mengembalikan volume air wadah yang berkurang akibat penyiponan dan menambahkan air baru yang lebih bersih sehingga kualitas air kembali menjadi layak bagi ikan. Pergantian air dilakukan sebanyak 30% sampai dengan 50% volume air, tergantung kebutuhan atau kondisi air setiap akuarium. Setiap pergantian sebanyak 50% volume air dapat dimasukkan garam sebanyak 98,5 gram (segenggam tangan orang dewasa) yang bertujuan untuk mencegah terjadinya penyakit pada ikan yang dipelihara. Air yang ditambahkan ke dalam
wadah pemeliharaan adalah air tandon lama atau air tua. Untuk menjaga ketersediaan oksigen di air maka pemberian aerasi harus dilakukan secara terus- menerus.
Hama dan penyakit
Penyakit yang biasa menyerang neon tetra adalah bintik putih (white spot), buluk (velvet disease) dan Angsang. Penyakit bintik putih menyerang permukaan tubuh ikan (eksternal) yaitu pada bagian kulit/sisik dan sirip, penyakit ini ditandai dengan munculnya bintik-bintik putih pada bagian yang terserang biasanya dibagian sirip bawah dan ekor. Penyakit buluk menyerang permukaan tubuh yaitu pada bagian kulit/sisik dan sirip yang ditandai dengan kurang cerahnya warna tubuh ikan dan munculnya plek hitam di daerah yang terserang. Penyakit angsang ditandai dengan keluar atau menonjolnya bagian insang ikan neon tetra .
Penyakit yang menyerang ikan ini akan timbul jika terjadi ketidak seimbangan antara kondisi ikan, lingkungan dan patogen. Ikan yang kondisi tubuhnya buruk kemungkinan besar akan terserang penyakit. Namun jika kondisi tubuh ikan baik, maka sangat kecil kemungkinan terserang penyakit. Kondisi ikan yang buruk ini bisa disebabkan oleh perubahan lingkungan secara mendadak atau karena kondisi fisik ikan yang luka atau terjadi pendarahan pada tubuh ikan.
Pertolongan pertama pada ketiga penyakit tersebut adalah dengan memberikan daun ketapang dan garam ke dalam akuarium serta penggantian air akuarium hingga setengah volume. Selain itu obat yang biasa digunakan pengusaha untuk penyakit- penyakit tersebut adalah tetrasiklin, methylin blue, serta purasaridon. Selain obat- obatan tersebut pegusaha juga menggunakan obat yang belum diketahui jenis dan kandungannya, para pengusaha ikan hias biasa menyebutnya dengan nama obat biru. Adapun penanggulangan yang dilakukan oleh pembudidaya saat ini adalah memberikan perawatan khusus untuk akuarium yang terdapat ikan sakit dengan membersihkan akuarium dari kotoran dan endapan sisa-sisa pakan dengan cara penyiponan dan menambahkan air baru yang lebih bersih yang ditambahkan obat seperti tetracyclin atau obat biru sebanyak 2 tetes, garam satu genggam dan memasukkan daun ketapang kering sebanyak 5 sampai 10 lembar, hal ini dilakukan dengan harapan kualitas air kembali menjadi layak dan sesuai bagi ikan. Apabila cara penanggulangan tersebut dianggap tidak berpengaruh atau dikhawatirkan akan menular ke ikan lainnya maka dilakukan pemisahkan atau karantina ikan yang terjangkit penyakit ke dalam akuarium khusus yang sudah diberi perlakuan khusus seperti pemberian dosis obat-obatan yang lebih banyak.
Analisis Risiko Produksi Ikan Hias Neon Tetra
Penilaian risiko produksi dapat dihitung menggunakan variance, standard deviation, dan coefficient variation. Perhitungan pada proses penilaian risiko menggunakan data berdasarkan tingkat Survival rate yang diperoleh dan peluang yang dimiliki pengusaha dalam memperoleh tingkat Survival rate tertinggi, terendah dan normal. Peluang dihitung berdasarkan pengalaman perusahaan selama menjalankan usaha pembesaran ikan hias neon tetra . Setelah memperoleh nilai peluang usaha dalam mendapatkan survival rate tertinggi, terendah dan
normal, selanjutnya dapat dilakukan penilaian terhadap tingkat risiko produksi yang dihadapi perusahaan.
Setelah dilakukan pengukuran peluang pada kondisi tertinggi, terendah dan normal maka dilakukan penyelesaian pengambilan keputusan yang mengandung risiko dengan menggunakan expected return. Expected return dihitung berdasarkan jumlah dari nilai yang diharapkan dengan peluang masing-masing kejadian tertinggi, terendah dan normal dari pembesaran ikan hias neon tetra . Expected return merupakan nilai harapan yang dihasilkan setelah memperhitungkan risiko yang ada.
Penilaian risiko produksi juga dilakukan dengan mengukur nilai penyimpangan yang terjadi. Terdapat beberapa ukuran risiko diantaranya adalah nilai varian (variance), standar deviasi (standard deviation), dan koefisien variasi (coefficient variation). Ketiga ukuran tersebut berkaitan satu sama lain dan nilai variance sebagai penentu ukuran yang lainnya. Dalam kajian ini return yang dihitung adalah survival rate Ikan hias neon tetra .
Ukuran yang tepat digunakan untuk melakukan penilaian terhadap risiko produksi ikan hias neon tetra adalah coefficient variation. Karena ukuran variance dan standard deviation belum memperhitungkan pendapatan, sedangkan coefficient variation sudah memperhitungkan pendapatan yang diterima pada usaha pembesaran ikan hias neon tetra . Hasil penilaian risiko produksi pembesaran ikan hias neon tetra pada usaha yang dilakukan oleh Bapak Rodi dapat dilihat pada Tabel 8.
Tabel 8 Penilaian risiko produksi pembesaran ikan hias neon tetra pada usaha Bapak Rodi tahun 2011-2013
No. Ukuran Nilai
1 Expected Return 78,52
2 Variance 315,59
3 Standard Deviation 17,76 4 Coefficient Variation 0,23
Berdasarkan Tabel 8, terlihat bahwa penilaian risiko berdasarkan tingkat survival rate diperoleh penilaian risiko produksi ikan hias neon tetra berdasarkan nilai coefficient variation diperoleh hasil sebesar 0,23. Dengan kata lain bahwa untuk setiap satu persen tingkat keberhasilan ikan hias neon tetra yang diperoleh akan mengalami risiko sebesar 0,23 persen pada saat terjadi risiko produksi. Risiko produksi yang dimaksud adalah pada saat kondisi cuaca dan iklim yang sulit diprediksi, kurang baiknya kualitas pakan, dan adanya serangan hama dan penyakit. Semakin besar nilai coefficient variation, maka semakin tinggi tingkat risiko yang dihadapi.
Berdasarkan penilaian risiko produksi di dalam usaha Bapak Rodi dapat diukur besarnya pendapatan yang diharapkan dari kegiatan pembesaran ikan hias neon tetra . Besarnya pendapatan yang diharapkan dapat dilihat dari nilai expected
return yang diperoleh. Berdasarkan hasil penilaian risiko produksi pada usaha pembesaran ikan hias neon tetra diperoleh nilai expected return sebesar 78,52 untuk satu kali periode. Artinya, Bapak Rodi dapat mengharapkan perolehan hasil sebanyak 78,52 persen survival rate dalam usaha pembesaran ini untuk setiap periode panen. Dengan mengetahui harapan pendapatan yang diperkirakan akan didapatkan kembali dari kegiatan usaha pembesaran neon tetra berdasarkan perhitungan risiko produksi, maka hal ini dapat digunakan sebagai pertimbangan untuk kelanjutan usaha ataupun sebagai perencanaan untuk menentukan langkah yang akan diambil dalam perkembangan usaha yang Bapak Rodi jalankan saat ini. Risiko produksi yang dialami Bapak Rodi dalam menjalankan kegiatan usaha pembesaran ikan hias neon tetra dapat menimbulkan kerugian. Kerugian tersebut akan berpengaruh terhadap jumlah hasil produksi. Jika hasil produksi berkurang maka penerimaan usaha juga akan berkurang, karena jumlah yang dijual menjadi lebih sedikit. Brdasarkan perhitungan rata-rata harga jual ikan hias ukuran ML pada harga Rp 350 per ekor dan dalam satu akuarium terdapat 500 ekor maka setiap satu akuarium yang dipanen, penerimaan yang diperoleh adalah sebesar Rp 1.750.000,- dengan risiko produksi yang dihadapi adalah kurang lebih sebesar Rp 400.000 per akuarium. Tetapi perhitungan tersebut tidak bersifat mutlak karena tergantung dari ukuran ikan hias, semakin besar ikan akan dipanen maka akan semakin lama waktu yang dibutuhkan dan semakin besar juga kebutuhan pakan, biaya tenaga kerja dan biaya lainnya. Oleh karena itu, sebaiknya dilakukan langkah penanganan yang sesuai untuk menghindari atau memperkecil risiko yang dihadapi.
Strategi Pengelolaan Risiko Produksi
Usaha Bapak Rodi saat ini telah melakukan penanganan risiko secara optimal untuk mengurangi risiko yang ada namun masih terdapat kendala yang dihadapi pada saat proses produksi. Hal ini terlihat pada hasil Survival rateyang fluktuatif apabila masih terjadi risiko terutama pada saat proses produksi. Dengan mengetahui bahwa Usaha Bapak Rodi masih berpotensi untuk terjadinya risiko produksi maka perencanaan penanganan yang dapat dilakukan adalah dengan pengawasan dan penerapan kesadaran akan risiko serta kesadaran untuk melakukan penanganan risiko sehingga dapat meminimalkan kerugian yang dialami.
Berdasarkan identifikasi risiko yang dilakukan, diperoleh hasil bahwa Usaha Bapak Rodi mengalami risiko dalam kegiatan pembesaran ikan hias neon tetra . Risiko produksi tersebut disebabkan oleh berbagai faktor antara lain perubahan cuaca dan iklim, kualitas pakan, serta serangan hama dan penyakit. Setelah dilakukan pengukuran terhadap risiko tersebut, diperoleh hasil sebesar 0,20. Nilai tersebut merupakan kerugian yang dihadapi atas perolehan hasil produksi dengan adanya risiko produksi. Maka dapat ditentukan strategi dalam menangani risiko produksi pembesaran ikan hias neon tetra pada usaha Bapak Rodi.
Upaya penanganan risiko dapat diterapkan dalam fungsi manajemen yang dijalankan perusahaan yaitu perencanaan, pengorganisasian, pelaksanaan dan pengontrolan atau planning, organizing, actuating, controlling (POAC).
Perencanaan Produksi
Perencanaan produksi yang dilakukan oleh Bapak Rodi dimulai pada saat penanaman bibit ukuran S kedalam akuarium pembesaran sampai dengan pemanenan. Hal ini bertujuan untuk meningkatkan produksi komoditas yang dihasilkan oleh pengusahaannya. Disamping itu perencanaan pencegahan penyakit dan pemberian obat-obatan diperhatikan dengan baik terutama pada saat terjadi perubahan cuaca yang ekstrim.Perencanaan penanaman bibit sebaiknya dilakukan dengan mempertimbangkan trend pasar yang sedang terjadi, jika trend pasar meningkat atas suatu komoditas maka sebaiknya merespon dengan cara memproduksi lebih tinggi dibandingkan dengan produksi sebelumnya. Sebaliknya jika trend pasar suatu komoditas menurun sebaiknya merespon dengan cara mengurangi jumlah produksi. Selain itu perencanaan produksi juga mempertimbangkan curah hujan dan suhu lingkungan budidaya. Jika curah hujan relatif tinggi maka akan berimplikasi negatif terhadap produksi akhir ikan maka seharusnya pihak dapat mengantisipasi dengan cara menambah jumlah heather yang berfungsi sebagai penetral suhu air lingkungan budidaya.
Pengorganisasian
Pengorganisasian untuk para tenaga kerja yang terlibat langsung dengan kegiatan produksi sangat penting, yaitu dengan mengkomunikasikan hak dan kewajibannya dengan yang jelas termasuk pada saat pembagian hasil usaha. Hal ini bertujuan agar semua tenaga kerja mempunyai peranan dan bertanggung jawab atas hasil produksinya. Adanya pengorganisasian maka perawatan tehadap ikan hias neon tetra akan semakin terkoordinir dengan baik.
Pelaksanaan
Dalam pelaksanaannya usaha ini dilakukan dengan cara bagi hasil sehingga memiliki kapasitas yang hampir sama rata antara investor yaitu Bapak Rodi dan pelaksana yaitu Bapak Marpudin, akan tetapi di dalam perjanjian awal diantara keduanya sudah dijelaskan bahwa pelaksana bertanggung jawab kepada investor, oleh karena itu Bapak Rodi memiliki kewenangan untuk dapat mengkoordinir pelaksanaan usaha pembesaran ikan hiasnya. Bapak Rodi berupaya menjaga komunikasi yang baik sehingga pada pelaksanaannya terjalin komunikasi yang baik dalam memaksimal produksi dan meminimumkan risiko. Adanya kooordinasi dalam pengelolaan bertujuan untuk menyinkronkan setiap kegiatan produksi dalam masalah perawatan dan pemeliharaan seperti mengkoordinasikan awal kegiatan produksi dan dalam tindakan pencegahan hama dan penyakit.
Pengontrolan
Proses pengontrolan yang dilakukan Bapak Rodi, pemilik tidak melakukan pengontrolan secara khusus karena selalu melakukan penyeleksian rekan kerja salah satunya dengan cara bekerja sama dengan keluarganya sendiri atau orang yang sudah dikenalnya sejak lama, untuk mengantisipasi timbulnya tindakan kecurangan (moral hazard) Bapak Rodi sendiri melakukan pengawasan dengan melakukan pengecekan secara rutin ke rumah budidaya.
Strategi penanganan risiko yang dapat dijadikan sebagai alternatif penanganan dalam kajian ini adalah strategi preventif. Strategi preventif merupakan strategi penanganan yang dilakukan untuk menghindari risiko produksi (Kountur, 2008). Strategi yang dapat dilakukan oleh usaha Bapak Rodi