• Tidak ada hasil yang ditemukan

Semua hewan percobaan selama penelitian tidak ada yang mati termasuk hewan kontrol, karena diinfeksi di bawah lethal dosis (50.000-100.000 ookista).

Ookista per Gram Ekskreta

Ookista merupakan hasil fertilisasi mikrogamet dan makrogamet pada stadium seksual. Sesudah fertilisasi zigot akan membentuk ookista. Ookista E.

tenella akan keluar bersama ekskreta dalam keadaan belum bersporulasi, dan akan bersporulasi dalam waktu 1-2 hari setelah mendapatkan oksigen, suhu yang sesuai, dan lingkungan yang lembab (Tampubolon, 1992). Rata-rata produksi ookista per gram ekskreta yang ditampung selama tujuh hari pada ayam yang terinfeksi E.tenella dapat dilihat pada Tabel 8.

Tabel 8. Rata-rata Produksi Ookista Per Gram (OPG) Ekskreta Pada Ayam Yang Terinfeksi E.tenella Setelah Pemberian Larutan Jahe Merah (Zingiber officinale var Rubra)

Perlakuan

Pengamatan pada hari ke- (pasca infeksi)

6 7 8 9 10 11 12

Keterangan : Superskrip dengan huruf yang berbeda pada kolom yang sama menyatakan berbeda nyata pada taraf (P < 0,05)

0

Gambar 5. Rata-rata Produksi Ookista Per Gram (OPG) Ekskreta Pada Ayam Yang Terinfeksi E.tenella Setelah Pemberian Larutan Jahe Merah (Zingiber officinale var Rubra)

Tabel 8 menunjukkan bahwa pada hari ke-6 pasca infeksi terlihat rata-rata produksi ookista tertinggi pada perlakuan KP (9425), sedangkan terendah pada perlakuan K3 (3725). Hasil analisis statistik dengan menggunakan Anava (Analisis Varian) menunjukkan bahwa pemberian larutan jahe merah memberikan pengaruh yang nyata (P<0,05) dalam menurunkan produksi ookista pada ayam pedaging yang terinfeksi E. tenella. Hal ini terlihat dari hasil perlakuan K1,K2,K3 < kontrol positif (KP). Sedangkan perlakuan obat koksidiostat (KO) memberikan hasil yang tidak berbeda nyata (P>0,05) dengan perlakuan larutan jahe merah 1% (KO=K2=K3).

Pengamatan pada hari ke- (pasca infeksi) Jumlah ookista (OPG)

Selanjutnya pada hari ke-7 dan ke-8 pasca infeksi, hasil analisis statistik dengan menggunakan Anava menunjukkan bahwa tidak terdapat perbedaan yang nyata (P>0,05) diantara perlakuan KP,KO,K1,K3. Jumlah ookista keempat perlakuan mengalami peningkatan. Maudya (1994) menyatakan bahwa pada hari ke-6 dan ke-7 setelah infeksi produksi ookista akan meningkat kembali karena pada hari tersebut perdarahan sudah agak berkurang. Namun, keempat perlakuan tersebut (KP,KO,K1,K3) berbeda nyata (P<0,05) dengan perlakuan K2 (pada hari ke-8). Perlakuan K2 memproduksi ookista lebih sedikit dibanding perlakuan lain.

Pada hari ke-9 pasca infeksi, hasil analisis statistik dengan menggunakan Anava menunjukkan bahwa terdapat perbedaan yang nyata (P<0,05) antara perlakuan KO,K1,K2 dengan kontrol positif (KP). Sedangkan perlakuan K3 masih terus mengalami peningkatan jumlah ookista, dan perlahan-lahan menurun sampai dengan hari ke-12. Namun secara statistik, perlakuan K3 tidak menunjukkan perbedaan yang nyata (P>0,05) dengan perlakuan kontrol positif (KP).

Pada hari ke-10 dan ke-11 pasca infeksi, terdapat perbedaan yang nyata (P<0,05) antara perlakuan KO,K1,K2,K3 dengan kontrol positif (KP). Puncak sekresi / pengeluaran ookista pada hari ke-8 dan jumlah ookista akan menurun pada hari ke-9 sesudah infeksi. Selanjutnya akan berangsur-angsur menurun pada hari ke-11, tampak ookista tinggal sedikit tetapi kemungkinan masih tetap ditemukan dalam tinja sampai beberapa bulan sesudah infeksi (Reid et al., 1984).

Ookista yang tertinggal dalam tubuh ayam akan berfungsi sebagai stimulant untuk membentuk kekebalan. Sebaliknya dosis yang tinggi yaitu 50.000 ookista E.tenella akan menimbulkan wabah penyakit (Sanda, 1985).

Pada hari ke-12 pasca infeksi, hasil analisis statistik dengan menggunakan Anava menunjukkan bahwa tidak terdapat perbedaan yang nyata (P>0,05) antara perlakuan obat koksidiostat (KO) dengan perlakuan jahe merah (K1,K2,K3) dalam menurunkan produksi ookista. Sedangkan perlakuan K2 berbeda nyata (P<0,05) dengan perlakuan kontrol positif (KP). Perlakuan K2 (larutan jahe merah yang diekstrak menggunakan ethanol dengan konsentrasi 1%) cenderung mengalami penurunan produksi ookista mulai hari ke-8 sampai dengan hari ke-12.

Adanya penurunan produksi ookista dengan pemberian larutan jahe merah menggunakan ethanol menunjukkan adanya aktivitas antikoksi. Aktivitas antikoksi ekstrak jahe tergantung pada cara pengolahan dan kandungan kimianya (Goto et al, 2005).

Jahe merah mengandung komponen bioaktif berupa oleoresin dan gingerol. Gingerol merupakan senyawa turunan fenol yang berinteraksi dengan sel protozoa melalui proses adsorbsi dengan melibatkan ikatan hidrogen. Fenol pada kadar rendah berinteraksi dengan protein membentuk kompleks protein fenol.

Ikatan antara protein dan fenol adalah ikatan yang lemah dan segera mengalami peruraian. Fenol yang bebas, akan berpenetrasi kedalam sel, menyebabkan presipitasi dan denaturasi protein. Pada kadar tinggi fenol menyebabkan koagulasi protein sehingga membran sel mengalami lisis (Juliantina et al, 2008).

Daya antikoksi terhadap ookista E.tenella terjadi melalui lisisnya memberan sel E.tenella. Hal tersebut juga sesuai dengan pendapat (Achyad dan Rosyidah, 2000) yang menyatakan bahwa oleoresin dan gingerol bersifat anti inflamasi dan anti bakteri. Konsistensi keberadaan senyawa kimia pada suatu

sediaan asal herbal dipengaruhi oleh banyak faktor diantaranya tempat tumbuh, waktu panen, cara ekstraksi dan pelarut yang digunakan.

Perlakuan yang diberikan obat antikoksi akan lebih cepat bekerja menurunkan produksi ookista. Jahe merah dapat memperbaiki pencernaan, proses yang terjadi adalah terangsangnya selaput lendir perut dan usus oleh minyak jahe.

Selain itu, jahe merah akan merangsang dan melancarkan peredaran darah (Karya Tani, 2009).

SLS (Skor Lesi Sekum)

Koksidiosis merupakan infeksi protozoa intraseluler. Infeksi oleh Eimeria tenella sebagai penyebab koksidiosis akan senantiasa berimplikasi pada kerusakan sel epitel jaringan usus, khususnya pada bagian mukosa dan submukosa sekum (Iskandar, 2006). Hasil pengamatan skor lesi sekum pada ayam pedaging tertera pada Tabel 9.

Tabel 9. Rataan Persentase Skor Lesi Sekum Pada Ayam Pedaging Umur 35 Hari

Perlakuan Ulangan

Keterangan : tn = tidak nyata

Hasil analisis statistik dengan menggunakan Anava menunjukkan bahwa pemberian larutan jahe merah memberikan pengaruh yang tidak nyata (P>0,05) dalam menurunkan skor lesi sekum pada ayam pedaging yang terinfeksi E.tenella.

KP (kontrol positif) dan K1 yaitu sebesar 0,56%, sedangkan rataan skor lesi sekum terendah (ringan) pada perlakuan K2 (larutan jahe merah yang diekstraksi menggunakan ethanol) yaitu sebesar 0,37%. Hal ini berarti bahwa pemberian jahe merah efektif dan memberi respon dalam mencegah kerusakan jaringan / perdarahan pada sekum ayam pedaging.

Selain itu, cara pengolahan herbal dan senyawa aktif oleoresin, minyak atsiri, dan gingerol yang terdapat pada bahan baku herbal yaitu jahe merah dapat bekerja efektif dalam menekan infeksi E.tenella. Senyawa yang terdapat pada jahe merah telah dikenal luas dapat mengefektifkan penyerapan makanan ke dalam tubuh dengan kandungan antioksidan yang tinggi dan daya antiradang yang kuat (Goto et al, 2005). Hal ini juga sesuai dengan pendapat Iskandar et al (2000) yang menyatakan bahwa infuse jahe merah sebanyak 1% dapat bermanfaat sebagai koksidiostat pada ayam pedaging.

Gambar 6. Penilaian derajat perlukaan sekum pada ayam pedaging yang diinfeksi 10.000 ookista E.tenella per ekor. Skor 0, +1, +2, +3, dan +4

menunjukkan derajat perlukaan (skor lesi) sekum.

Perlakuan Jumlah ayam (ekor)

Berdasarkan derajat perlukaan jaringan dan perdarahan pada sekum ayam, maka skor lesi untuk semua perlakuan masih tergolong ringan. Hal ini disebabkan skor lesi yang ditimbulkan masih berkisar antara 0-1. Jika diurutkan berdasarkan skor lesi sekum terendah (ringan) ke tertinggi, maka didapatkan urutan sebagai berikut yaitu K2, KO, K3, K1, KP. Perlakuan K2 lebih ringan jika dibandingkan dengan perlakuan KO, K3, K1,KP seperti tampak pada Gambar 5.

Hal ini menunjukkan bahwa larutan jahe merah efektif mengobati lesi pada sekum ayam. Perlakuan KP yang menunjukkan hasil tidak berbeda nyata (P>0,05) dengan perlakuan K1, K2, K3, dan KO diduga karena jumlah ookista yang diberikan belum cukup untuk memberikan dampak pada ayam pedaging.

Selain itu, hal tersebut dimungkinkan respon tubuh ayam segera membentuk antibodi sehingga dapat mencegah kerusakan jaringan dan perdarahan pada sekum ayam pedaging. Hal ini sesuai dengan pendapat (Endang et al, 2000) yang menyatakan bahwa berat ringannya serangan koksidiosis dipengaruhi oleh jumlah parasit yang menyerang (dosis infeksi), daya kebal, dan umur induk semang.

Diferensiasi Leukosit

Leukosit atau sel darah putih adalah sel yang memiliki inti dan organel.

Leukosit merupakan unit yang aktif dari sistem pertahanan tubuh. Leukosit berfungsi untuk melindungi tubuh dari infeksi dan kanker, serta membantu proses penyembuhan (Corwin, 2000). Kelompok granulosit ditandai dengan terdapatnya granula didalam sitoplasma , sedang kelompok agranulosit tidak memiliki granula (Caceci, 1998). Hasil yang diperoleh setelah dilakukan penghitungan diferensiasi leukosit adalah sebagai berikut :

Tabel 10. Rataan Persentase Heterofil, Basofil, Eosinofil, Limfosit, dan Monosit Pada Ayam Pedaging Yang Diinfeksi Eimeria tenella

Pada hari ke-26 (pasca infeksi), hasil analisis statistik menggunakan Anava menunjukkan bahwa rata-rata persentase heterofil tidak berbeda nyata (P>0,05) pada setiap perlakuan (Tabel 10).

Pada hari ke-30 (3 hari pasca pengobatan), terjadi perubahan yang nyata dimana kontrol positif mengalami penurunan jumlah heterofil (Gambar 7). Infeksi selalu memicu datangnya sel radang ke lokasi infeksi yang bertujuan antara lain untuk memfagositosis agen penyebab infeksi. Respon akibat peradangan ialah

migrasi sel-sel pertahanan dari pembuluh darah ke tempat peradangan yang ditandai dengan akumulasi sel polimorfnukleus dan makrofag (Yellita et al., 2011).

Hal ini sesuai dengan pernyataan Melvin dan William (1993) bahwa heterofil muncul di daerah peradangan dalam jumlah yang besar. Heterofil dan makrofag merupakan bagian utama dari respon imun bawaan (innate) pada unggas (Stabbler et al., 1994).

Sedangkan pada perlakuan KO,K1,K2,K3 mengalami sedikit penurunan jumlah heterofil dengan persentase terendah pada KO (22,13%). Jumlah heterofil pada perlakuan jahe merah (K1,K2,K3) cenderung mendekati nilai normal. Hal ini terjadi karena heterofil termobilisasi untuk memasuki peredaran darah dari sumsum tulang (Trilestari, 2001). Kemungkinan lain adalah adanya kandungan antioksidan dalam jahe yang berkhasiat sebagai anti inflamasi (Friedli, 1997).

Secara umum persentase heterofil normal adalah 27,2% (Sturkie, 1976).

Pada hari ke-35 (8 hari pasca pengobatan), rata-rata persentase heterofil kembali meningkat, namun secara statistik tidak terdapat perbedaan yang nyata (P>0,05) pada setiap perlakuan. Rata-rata persentase heterofil terendah pada perlakuan K2 (25,63%), sedikit dibawah nilai normal. Dari pengamatan ookista pada hari ke-35 menunjukkan bahwa jumlah ookista pada perlakuan K2 paling rendah dibandingkan perlakuan lain. Hal ini mengindikasikan bahwa heterofil yang termobilisasi dari sumsum tulang lebih banyak berada dijaringan daripada di peredaran darah. Seperti yang dinyatakan oleh Carlson dan Allen (1969) bahwa sel heterofil aktif memfagosit mikroorganisme baik dalam peredaran darah maupun didaerah terjadinya inflamasi.

0

pasca Infeksi 3 hari pasca diobati 8 hari pasca diobati

KP KO K1 K2 K3

Gambar 7. Persentase heterofil pada ayam yang terinfeksi E.tenella setelah pemberian larutan jahe merah yang diamati selama3 kali pengambilan (pada ayam umur 26 hari, 30 hari, dan 35 hari)

Basofil

Pada hari ke-26 (pasca infeksi), hasil analisis statistik menggunakan Anava menunjukkan bahwa rata-rata persentase basofil tidak berbeda nyata (P>0,05) pada setiap perlakuan (Tabel 10). Persentase jumlah basofil tertinggi terdapat pada perlakuan KP (9,54%) sedangkan terendah pada perlakuan KO (7,50%). Secara umum persentase basofil normal adalah 1,7% (Sturkie, 1976).

Pada tahap ini terlihat peningkatan basofil dalam darah. Basofil akan muncul dan meningkat ketika terjadi infeksi. Basofil berperan sebagai mediator untuk aktifitas perbarahan dan alergi (Dharmawan, 2002).

Pada hari ke-30 dan ke-35 dimana ayam telah diobati, terjadi penurunan jumlah basofil yang tidak signifikan pada perlakuan KO,K1,K2,K3 (Gambar 8) dan secara statistik menunjukkan hasil tidak berbeda nyata (P>0,05) pada setiap perlakuan. Hal ini mungkin dikarenakan kondisi peradangan usus belum

Heterofil

produksi basofil oleh sumsum tulang. Sedangkan jumlah basofil pada perlakuan KP masih tinggi. Hal ini mungkin terjadi karena pada perlakuan tersebut masih berlangsung siklus coccidia dan timbul peradangan. Seperti yang dinyatakan oleh Melvin dan William (1993) bahwa di daerah peradangan, basofil memproduksi heparin, histamine, bradykinin, serotonin, dan enzim lisosom yang membantu melawan antigen.

pasca Infeksi 3 hari post diobati 8 hari post diobati

KP KO K1 K2 K3

Gambar 8. Persentase basofil pada ayam yang terinfeksi E.tenella setelah pemberian larutan jahe merah yang diamati selama 3 kali pengambilan (pada ayam umur 26 hari, 30 hari, dan 35 hari)

Eosinofil

Pada hari ke-26 (pasca infeksi), hasil analisis statistik menggunakan Anava menunjukkan bahwa rata-rata persentase eosinofil tidak berbeda nyata (P>0,05) pada setiap perlakuan (Tabel 10). Persentase jumlah eosinofil tertinggi terdapat pada perlakuan KP (10,00%) sedangkan terendah pada perlakuan K1 dan K3 (6,50%). Secara umum persentase eosinofil normal adalah 2–8% dari jumlah leukosit (Tizard, 1988). Pada tahap ini terlihat adanya peningkatan eosinofil pada

Basofil

perlakuan KP dan jumlahnya sudah melebihi batas normal, sedangkan keempat perlakuan lainnya normal. Hal ini mengindikasikan bahwa pada perlakuan KP terjadi peradangan sehingga eosinofil tetap berada dalam darah untuk menuju jaringan tempat terjadinya peradangan (Piatina, 2001).

Pada hari ke-30 (3 hari pasca pengobatan), rata-rata persentase eosinofil berbeda nyata (P<0,05) antara perlakuan KP dengan KO,K1,K2,K3. Perlakuan yang diobati dengan koksidiostat dan larutan jahe merah masih mampu mempertahankan jumlah eosinofil normal dalam darah walaupun telah diinfeksi oleh E. tenella. Kandungan antioksidan dalam jahe dapat merangsang selaput lendir usus untuk meredam peradangan (Friedli, 1997).

Pada hari ke-35 (8 hari pasca pengobatan), rata-rata persentase eosinofil tidak berbeda nyata (P<0,05) pada setiap perlakuan. Pada tahap ini peradangan usus mulai mereda. Jumlah eosinofil pada perlakuan KO,K1,K2,K3 dalam batas normal, sedangkan perlakuan KP masih di atas normal (Gambar 9). Hal ini mungkin dikarenakan infeksi coccidia tanpa pengobatan mampu menggertak keluarnya eosinofil dari sumsum tulang. Seperti yang dinyatakan oleh Melvin dan William (1993), jumlah eosinofil dalam pembuluh darah akan meningkat dalam kondisi alergik dan eosinofil akan bermigrasi ke daerah dimana terjadinya inflamasi akut dan kronis (Jones, 1993).

0

pasca infeksi 3 hari pasca diobati 8 hari pasca diobati

KP KO K1 K2 K3

Gambar 9. Persentase eosinofil pada ayam yang terinfeksi E.tenella setelah pemberian larutan jahe merah yang diamati selama 3 kali pengambilan (pada ayam umur 26 hari, 30 hari, dan 35 hari)

Limfosit

Pada hari ke-26 (pasca infeksi), hasil analisis statistik menggunakan Anava menunjukkan bahwa rata-rata persentase limfosit tidak berbeda nyata (P>0,05) pada setiap perlakuan (Tabel 10). Persentase jumlah limfosit tertinggi terdapat pada perlakuan K1 (55,00%) sedangkan terendah pada perlakuan K3 (39,12%). Secara umum persentase limfosit normal adalah 59,1–64,6% dari jumlah leukosit (Sturkie, 1976).

Pada ayam, limfosit paling banyak berperan dan paling banyak jumlahnya dalam leukosit (Sturkie, 1995). Jumlah limfosit kelima perlakuan ini mengalami penurunan. Hal ini dikarenakan ayam berusaha untuk bertahan melewati fase perdarahan akibat infeksi. Sel limfosit berfungsi sebagai imunitas yang mampu menyerang antigen dengan memproduksi antibodi (Sumarni, 2010).

Pada hari ke-30 (3 hari pasca pengobatan), rata-rata persentase limfosit mengalami peningkatan pada semua perlakuan (Gambar 10). Jumlah limfosit pada

Eosinofil

karena adanya reaksi pemberian antikoksi pada tiap perlakuan sehingga meminimalkan jumlah antigen dalam darah yang berbanding lurus dengan jumlah antibodi yang dihasilkan oleh limfosit. Sedangkan perlakuan KP jumlah limfositnya melebihi batas normal (65,00%) dikarenakan infeksi tersebut merangsang sumsum tulang untuk memproduksi limfosit dalam jumlah banyak.

Pada hari ke-35 (8 hari pasca pengobatan), perlakuan K2 (larutan jahe merah yang diekstraksi menggunakan ethanol 1%) memperlihatkan jumlah limfosit normal dimana perlakuan lain cenderung mengalami penurunan limfosit.

Aktivitas antikoksi ekstrak jahe tergantung pada cara pengolahan dan kandungan kimianya (Goto et al, 2005). Jahe merah mengandung komponen bioaktif berupa oleoresin dan gingerol. Gingerol merupakan senyawa turunan fenol yang berinteraksi dengan sel protozoa melalui proses adsorbsi dengan melibatkan ikatan hydrogen (Juliantina dkk, 2008).

Perlakuan KP memiliki jumlah limfosit terendah (49,88%) dibanding perlakuan lain. Jumlah ookista pada perlakuan KP di hari ke-35 sudah mengalami penurunan sehingga memungkinkan rangsangan terhadap produksi limfosit juga rendah. Hal ini sejalan dengan teori yang dikemukakan oleh Sumarni (2010) dimana populasi dari limfosit dalam darah ada 2 tipe sel yaitu sel T dan sel B.

Limfosit T diperkirakan proporsinya adalah 70-75% dari seluruh jumlah limfosit sedangkan limfosit B jumlahnya antara 10-20% dari jumlah seluruh limfosit.

Limfosit B berfungsi sebagai imunitas humoral yang mampu menyerang antigen dengan memproduksi antibodi. Limfosit T berperan sebagai sel imunitas yang diperoleh dari pembentukan limfosit teraktivasi yang mampu menghancurkan benda asing. Lalu apabila ayam-ayam tersebut mampu bertahan melewati hari

ke-8 dan ke-9 dimana produksi ookista mencapai puncaknya, maka ayam-ayam akan menuju kesembuhan dengan sendirinya (Soulsby, 1982).

0

Gambar 10. Persentase limfosit pada ayam yang terinfeksi E.tenella setelah pemberian larutan jahe merah yang diamati selama 3 kali pengambilan (pada ayam umur 26 hari, 30 hari, dan 35 hari) Monosit

Pada hari ke-26 (pasca infeksi), hasil analisis statistik menggunakan Anava menunjukkan bahwa rata-rata persentase monosit tidak berbeda nyata (P>0,05) pada setiap perlakuan (Tabel 10). Persentase jumlah monosit tertinggi terdapat pada perlakuan K2 (3,37%) sedangkan terendah pada perlakuan K3 (2,13%). Secara umum persentase monosit normal adalah 8,9-10,2% dari jumlah leukosit (Sturkie, 1976). Pada tahap ini terlihat penurunan jumlah monosit dalam darah. Hal ini terjadi karena monosit sudah bermigrasi ke dalam saluran pencernaan tempat terjadinya peradangan. Hal ini sesuai dengan pendapat Kende (1982) yang menyatakan bahwa sejumlah faktor kemotaksis berperan pada monosit dan menyebabkan mereka bermigrasi ke dalam jaringan.

Limfosit

Pada hari ke-30 dan ke-35 dimana ayam telah diobati, tampak bahwa jumlah monosit kelima perlakuan (KP,KO,K1,K2,K3) masih dibawah batas normal (Gambar 11) dan secara analisis statistik menggunakan Anava menunjukkan bahwa hasil tidak berbeda nyata (P>0,05) pada setiap perlakuan.

Hal ini dikarenakan monosit lebih sedikit di peredaran darah dan lebih banyak berada disaluran pencernaan tempat terjadinya peradangan. Selama peradangan, monosit akan membesar, menyebar lebih cepat dan mengalami peningkatan fungsi metabolik. Monosit sebagai respon peradangan terutama menelan dan membunuh mikroorganisme dan merupakan garis pertahanan kedua setelah heterofil (Ganong, 1995). Aktifitas fagositosis dari monosit tergantung pada bahan yang akan difagosit (Tizard, 1988).

Sebelum diobati 3 hari pasca diobati 8 hari pasca diobati

KP KO K1 K2 K3

Gambar 11. Persentase monosit pada ayam yang terinfeksi E.tenella setelah pemberian larutan jahe merah yang diamati selama 3 kali pengambilan (pada ayam umur 26 hari, 30 hari, dan 35 hari) Monosit

Dokumen terkait