• Tidak ada hasil yang ditemukan

DAFTAR LAMPIRAN

HASIL DAN PEMBAHASAN

Gambaran Umum Wilayah Penelitian Letak Geografi

Kabupaten Kebumen terletak pada 7,270 – 7,500 Lintang Selatan dan 109,220 – 109,500 Bujur Timur. Batas-batas wilayah Kabupaten Kebumen meliputi: sebelah utara berbatasan dengan Kabupaten Banjarnegara dan Wonosobo, sebelah selatan berbatasan dengan Samudera Hindia, sebelah barat berbatasan dengan Kabupaten Banyumas dan Kabupaten Cilacap, sebelah timur berbatasan dengan Kabupaten Purworejo.

Kabupaten Kebumen terdiri atas 26 kecamatan, yang terbagi atas 449 desa dan 11 kelurahan dengan jumlah Rukun Warga (RW) sebanyak 1.877 dan 6.755 Rukun Tetangga (RT). Pusat pemerintahan berada di Kecamatan Kebumen (Distannak Kabupaten Kebumen, 2011). Berdasarkan administratifnya lokasi penelitian meliputi tiga kecamatan, yaitu Kecamatan Buayan, Rowokele, dan Ayah, dengan pertimbangan berdasarkan informasi dari Dinas Pertanian dan Peternakan Kabupaten Kebumen bahwa pada tiga kecamatan tersebut terdapat empat kelas kemampuan kelompok tani yang masih aktif. Kecamatan Buayan terdiri dari 20 desa dan 96 kelompok tani dengan rincian 57 kelompok tani kelas Pemula, 29 kelompok tani kelas Lanjut, 9 kelompok tani kelas Madya dan 1 kelompok tani kelas Utama. Kecamatan Rowokele terdiri dari 11 desa dan 80 kelompok tani dengan rincian 56 kelompok tani kelas Pemula, 16 kelompok tani kelas Lanjut, 7 kelompok tani kelas Madya dan 1 kelompok tani kelas Utama. Kecamatan Ayah terdiri dari 18 desa dan 96 kelompok tani dengan rincian 52 kelompok tani kelas Pemula, 31 kelompok tani kelas Lanjut, 12 kelompok tani kelas Madya dan 1 kelompok tani kelas Utama.

Topografi Wilayah

Topografi wilayah Kabupaten kebumen bervariasi mulai dari pantai dataran rendah, perbukitan, sampai dataran tinggi dengan ketinggian berkisar 0- 300 m dpl. Berdasarkan strata tanah, Kabupaten Kebumen terbagi atas 3 strata yaitu: strata pantai di bagian selatan merupakan sentra padi gogo, palawija, kedele, jagung, dan kacang tanah, hortikultura semangka, kelapa, peternakan sapi serta nelayan. Strata dataran rendah di bagian tengah mulai dari perbatasan Purworejo sampai dengan Cilacap, Banyumas, dengan komoditas utama adalah padi sawah, kedele dan kacang hijau serta mangga dan kelapa. Strata pegunungan di bagian utara yang berbatasan dengan Kabupaten Wonosobo dan Banjarnegara, pengembangan tanaman terdiri dari komoditas tanaman perkebunan (cengkeh, lada, nilam, tembakau), serta tanaman komoditi kehutanan, peternakan dan perikanan darat.

Berdasarkan jenis tanahnya, Kabupaten Kebumen terdiri atas 3 bagian, yaitu: bagian selatan meliputi Kecamatan Mirit, Ambal, Klirong, Petanahan, dan Puring merupakan tanah berstruktur pasir, regosol kelabu kecoklatan yang Bagian tengah meliputi Kecamatan Prembun, Kutowinangun, Kebumen,

Pejagoan, Adimulyo, Sruweng, Karanganyar, dan Gombong, jenis tanahnya Aluvial Hidromorf, Asosiasi Gley humus rendah, dan Aluvial Kelabu. Bagian utara/urut gunung dengan jenis tanah podzolik merah kuning dan meliputi Kecamatan Padureso, Alian, Sadang, Karanggayam, Sempor, Rowokele, dan Ayah. Hal tersebut menunjukkan bahwa jenis tanah menentukan jenis komoditas utama yang diusahakan oleh petani (Distannak Kabupaten Kebumen 2011). Jenis tanah ini menentukan komoditas yang diusahakan oleh petani.

Pola Usahatani

Pola usahatani di Kabupaten Kebumen keadaannya sangat beragam sesuai kondisi ekosistem dan agroklimat setempat. Pada lahan basah terbagi atas 3 kategori yaitu sawah berpengairan teknis, ½ teknis dan tadah hujan. Sedangkan untuk lahan kering terbagi atas lahan kering daerah datar/pantai dan lahan kering daerah pegunungan. Pola usahatani secara rinci adalah sebagai berikut (Distannak Kabupaten Kebumen, 2011):

(a) Pola usahatani lahan basah/sawah berpengairan meliputi musim tanam I pada bulan Oktober s/d Februari usahatani padi sawah, musim tanam II pada bulan Maret s/d Juni usahatani padi sawah dan musim tanam III pada bulan Juli s/d September usahatani palawija kedele, kacang hijau, dan jagung.

(b) Pola usahatani lahan tadah hujan. Musim tanam I (November s/d Maret) usahatani padi sawah, musim tanam II (April s/d Juli ) usahatani palawija, musim tanam III (Agustus s/d September) usahatani sayuran, tetapi hanya sebagian kecil.

(c) Pola tanam lahan urut gunung meliputi musim tanam I (Oktober s/d Februari) usahatani padi gogo, jagung, kedele, ketela pohon,. Musim tanam II (Maret s/d September) usahatani palawija dan sayuran, tetapi hanya sebagian kecil. Penduduk

Penduduk Kabupaten Kebumen berjumlah 1.250.856 jiwa, terdiri dari 631.379 jiwa penduduk laki-laki dan 619.177 jiwa penduduk perempuan. Berdasarkan usia produktif (15-64 tahun) dan tidak produktif (0-14 tahun dan > 65 tahun), penduduk Kabupaten Kebumen terdiri dari 785.107 jiwa usia produktif, dan 465.749 jiwa usia tidak produktif (BPS Kabupaten Kebumen, 2009). Hal ini menunjukkan bahwa jumlah penduduk usia produktif jumlahnya lebih banyak dibanding usia tidak produktif yaitu selisih 288.629 jiwa atau 23,81 persen.

Berdasarkan tingkat pendidikan formal, penduduk Kabupaten Kebumen terdiri dari 338.167 orang tidak/belum tamat SD, 483.716 orang tamat SD, 171.024 orang tamat SLTP, 108.884 orang tamat SLTA, 11,568 orang tamat akademi, 8.611 orang tamat sarjana (BPS Kabupaten Kebumen, 2009). Data ini menunjukkan bahwa mayoritas penduduk Kabupaten Kebumen (30,14 persen) memiliki tingkat pendidikan formal tamat SD.

Sarana Prasarana

Panjang jalan di Kabupaten Kebumen ada 610,20 km. Apabila dilihat dari jenis permukaannya maka dari jumlah tersebut 518,39 km merupakan jalan yang sudah diaspal dan 60,58 km merupakan jalan yang sudah diperkeras dengan kerikil, sisanya 31,23 km merupakan jalan tanah. Dilihat dari kondisi jalannya, 480,51 km kondisi jalannya baik, jalan yang kondisinya sedang 89,69 km, dan sisanya yang 40,00 km dalam kondisi rusak (BPS Kabupaten Kebumen 2009). Kelembagaan formal dan informal

Kelembagaan di Kabupaten Kebumen terdiri dari kelembagaan formal dan informal. Kelembagaan formal terdiri dari: 1.877 Rukun Warga (RW) dan 6.755 Rukun Tetangga (RT). Kelembagaan informal Kelompok Tani sebanyak 1.934 kelompok tani. Adapun kelembagaan penunjang yang terkait dengan kegiatan penyuluhan meliputi : 23 Koperasi Unit Desa, 116 Koperasi Tani, 353 Tempat Pelayanan Koperasi/TPK, 271 Kios Saprotan, 45 Kios Sapronak, BRI Unit Desa (31 unit), Regu Pengendali Hama/RPH (12 regu), Perguruan tinggi (3 unit), Pasar umum (73 unit), Poultry shop (9 unit), Sentra Pelayanan IB (11 unit), dan 8 buah distributor pupuk (Distannak Kabupaten Kebumen 2011).

Perilaku berkelompok

Sesuai dengan kepentingannya, kelompok dapat memiliki berbagai fungsi. Kedalam (internal), kelompok dapat berfungsi sebagai alat bagi pembentukan nilai dan perilaku yang diharapkan pada diri anggotanya. Sedangkan keluar, kelompok dapat menjadi alat untuk memperbaiki masyarakat luas yang menjadi sistem eksternalnya. Secara internal, Colley (1909) diacu dalam Suharno (2009) membuktikan pengaruh kelompok terhadap anggotanya, yaitu adanya peningkatan perasaan solidaritas dan integritas anggota dalam kelompok, sehingga peranan

kelompok (“kita”) menjadi lebih besar daripada peranan subkelompok (“kami”) dan individu anggotanya (“saya”). Hartford (1971) diacu dalam Suharno (2009) menunjukkan bukti pengaruh kelompok keluar sistemnya, yaitu penggunaan kelompok untuk memperbaiki masyarakat. Kelompok kecil dapat menjadi jembatan penghubung antara individu dengan organisasi yang lebih besar, kemudian dapat mengatur dan merubah organisasi yang lebih besar atau masyarakat di luar kelompok tersebut.

Kelompok tani sebagai bagian dari kelompok sosial yang lebih luas (masyarakat) memiliki pengertian sebagai kumpulan petani, peternak dan pekebun yang dibentuk atas dasar kesamaan kepentingan, kesamaan kondisi lingkungan (sosial, ekonomi, sumber daya) dan keakraban untuk meningkatkan dan mengembangkan usaha anggota. Pengertian ini memberikan ciri-ciri yang ada pada sebuah kelompok tani, yaitu: (1) saling mengenal, akrab dan saling percaya diantara sesama anggota, (2) mempunyai pandangan dan kepentingan yang sama dalam berusahatani, (3) memiliki kesamaan dalam tradisi dan atau pemukiman, hamparan usaha, jenis usaha, status ekonomi maupun sosial, bahasa, pendidikan dan ekologi, serta (4) ada pembagian tugas dan tanggung jawab sesama anggota berdasarkan kesepakatan bersama.

Ditengah kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi yang semakin pesat, tantangan dan tuntutan terhadap fungsi kelompok tani juga semakin meningkat.

Kelompok tani saat ini dan kedepan diharapkan dapat berfungsi sebagai unit belajar, unit usaha, unit kerjasama, dan unit percontohan atau unit informasi dan teknologi. Melalui pelaksanaan fungsi-fungsi tersebut, diharapkan kelompok tani tidak lagi terlalu bergantung pada bantuan pemerintah atau pihak-pihak lain selain atas dasar kerjasama yang saling menguntungkan.

Review Kelompok Tani di Kabupaten Kebumen

Berdasarkan data kelembagaan petani Provinsi Jawa Tengah, Kabupaten Kebumen memiliki jumlah kelompok tani terbanyak kedua setelah Kabupaten Magelang (Setbakorluh Provinsi Jawa Tengah 2011). Jumlah kelompok tani di Kabupaten Kebumen sebanyak 1.934 kelompok tani yang tersebar di 26 kecamatan. Berdasarkan klasifikasi kelas kemampuan kelompok tani, kelompok tani diklasifikasikan kedalam empat kelas yaitu kelas Pemula, Lanjut, Madya, dan Utama.

Komposisi kelompok tani di Kabupaten Kebumen berdasarkan kelas kamampuannya terdiri dari: 636 kelompok tani kelas Pemula (32,89 persen), 1.046 kelompok tani kelas Lanjut (54,08 persen), 235 kelompok tani kelas Madya (12,15 persen), dan 17 kelompok tani kelas Utama (0,88 persen) (Distannak Kabupaten Kebumen, 2012). Data tersebut menunjukkan sebagian besar kelompok tani (1.682 kelompok tani atau sebesar 86,97%) masih merupakan kelompok tani kelas Pemula dan Lanjut. Hal ini mencerminkan bahwa kelompok tani yang ada belum berfungsi efektif sebagai media interaksi petani dalam meningkatkan kesejahteraannya.

Tabel 8 menunjukkan jumlah kelompok tani di Kabupaten Kebumen sampai dengan Juni 2012 sebanyak 1.934 kelompok dengan komoditas utama adalah padi. Kelompok tani yang selama ini tumbuh terkonsentrasi di 10 (sepuluh) kecamatan yaitu Kecamatan Puring (112 kelompok tani), Ambal (112 kelompok tani), Ayah (96 kelompok tani), Buayan (96 kelompok tani), Sempor (96 kelompok tani), Petanahan (96 kelompok tani), Sruweng (96 kelompok tani), Alian (87 kelompok tani), Karang Gayam (86 kelompok tani) dan Rowokele (80 kelompok tani).

Berdasarkan informasi dari Dinas Pertanian dan Peternakan Kabupaten Kebumen kecamatan yang memiliki empat kelas kemampuan kelompok tani yang masih aktif dan dapat dapat mewakili kondisi Kabupaten Kebumen adalah Kecamatan Buayan, Rowokele, dan Ayah sehingga ketiga kecamatan tersebut dipilih sebagai lokasi penelitian.

Tabel 8 Distribusi kelompok tani di Kabupaten Kebumen (data s/d Juni 2012)

No. Kecamatan Jumlah kelompok tani Komoditas utama

1. Ayah 96 Padi 2. Rowokele 80 Padi 3. Buayan 96 Padi 4. Gombong 48 Padi 5. Sempor 96 Padi 6. Puring 112 Padi 7. Petanahan 96 Padi 8. Klirong 80 Padi 9. Adimulyo 80 Padi

10. Karang Anyar 48 Padi

11. Karang Gayam 86 Padi

12. Sruweng 96 Padi

13. Pejagoan 64 Padi

14. Kebumen 80 Padi

15. Karang Sambung 80 Padi

16. Sadang 40 Padi

17. Bulus Pesantren 80 Padi

18. Ambal 112 Padi 19. Mirit 76 Padi 20. Bonorowo 36 Padi 21. Prembun 48 Padi 22. Padureso 48 Padi 23. Poncowarno 41 Padi 24. Kutowinangun 64 Padi 25. Alian 87 Padi 26 Kuwarasan 64 Padi Jumlah 1.934

Sumber: Dinas Pertanian dan Peternakan Kabupaten Kebumen (2012)

Berdasarkan data keadaan umum kelompok tani di lokasi penelitian, menunjukkan bahwa kelompok tani Kelas Madya dan Utama berdiri antara tahun 1978 sampai 1984, sedangkan kelompok tani Kelas Pemula dan Lanjut berdiri antara tahun 2006 hingga 2008. Kelompok tani Kelas Pemula dan Lanjut merupakan kelompok tani yang relatif baru terbentuk. Jumlah anggota kelompok terbesar merupakan kelompok tani Kelas Pemula dan Lanjut sebanyak 45 orang, sedangkan kelompok tani yang memiliki jumlah anggota terkecil merupakan kelompok tani Kelas Utama yaitu sebanyak 27 orang. Jumlah anggota kelompok tani akan menentukan kemampuan ketua kelompok tani dalam memobilisasi sumberdaya yang dimiliki guna mengatasi permasalahan yang ada, memenuhi kepentingan atau tujuan kelompok. Keadaan umum kelompok tani di lokasi penelitian ditampilkan pada Tabel 9 berikut.

Tabel 9 Keadaan umum kelompoktani di lokasi penelitian berdasarkan kelas kemampuan kelompok tani

No. Kelas kemampuan kelompok tani Nama kelompok tani

Desa Kecamatan Tahun

berdiri

Jumlah anggota (orang)

1. Pemula Mitra Agro Nogoraji Buayan 2008 40

2. Pemula Pakarti

Saribumi

Kreteg Rowokele 2006 45

3. Pemula Candi Wulan Candirenggo Ayah 2006 40

4. Lanjut Rukun

Santoso

Rogodono Buayan 2006 40

5. Lanjut Kismorahayu Bumi Agung Rowokele 2008 45

6. Lanjut Tani Maju Bulurejo Ayah 2006 35

7. Madya Karya Utama Purbowangi Buayan 1984 32

8. Madya Eling Jaya Pring Tutul Rowokele 1983 40

9. Madya Kedung Jaya Kedung Weru Ayah 1978 39

10. Utama Sri Mulyo Rogodadi Buayan 1984 30

11. Utama Pulungsari Redisari Rowokele 1985 36

12. Utama Pucung Mangunweni Ayah 1978 27

Sumber : Dinas Pertanian dan Peternakan Kabupaten Kebumen (2012)

Jika ditinjau dari latar belakang berdirinya kelompok tani, memiliki sejarah yang berbeda. Secara garis besar latar belakang atau dasar berdirinya kelompok tani yang diamati dapat dikelompokkan kedalam dua golongan. Pertama, kelompok yang berdiri karena ada dorongan dari luar, baik karena ada program bantuan paket kredit maupun dorongan dari penyuluh pertanian setempat. Kelompok tani Kelas Pemula dan Kelas Lanjut termasuk golongan ini. Kedua, kelompok tani yang terbentuk karena dorongan dari dalam, atau masyarakat atau petani itu sendiri. Kelompok tani Kelas Madya dan Kelas Utama termasuk golongan kedua.

Berdasarkan struktur kepengurusan, pada kelompok tani Kelas Madya dan Kelas Utama ternyata jauh lebih lengkap dibanding dengan kelompok tani Kelas Lanjut dan Kelas Pemula. Struktur kepengurusan kelompok tani Kelas Pemula maupun Kelas Lanjut hanya meliputi: (1) Ketua, (2) Sekretaris, (3) Bendahara, (4) Seksi Saprodi dan Pemasaran. Struktur kepengurusan kelompok tani Kelas Pemula dan Kelas Lanjut seperti tampak pada Gambar 2.

Seksi Pengolahan Seksi Usaha Tani Seksi Sarana Prasarana Produksi Seksi Pemasaran Seksi Informasi /Teknologi Seksi Permodalan Wkl. Ketua Bendahara Sekretaris Ketua Pelindung Pembina

Struktur kepengurusan kelompok tani Kelas Madya dan Kelas Utama dapat dikatakan lengkap seperti tampak pada Gambar 3.

Gambar 2 Struktur kepengurusan pada kelompok tani Kelas Pemula dan Kelas Lanjut

Ketua

Bendahara Sekretaris

Seksi Saprodi dan Pemasaran

Gambar 3 Struktur kepengurusan pada kelompok tani Kelas Madya dan Kelas Utama

Berdasarkan penjelasan dari pengurus kelompok tani Kelas Madya dan Kelas Utama, pada awal didirikan, struktur kepengurusan hanya terdiri dari ketua dan anggota. Selanjutnya berkembang menjadi ketua, sekretaris dan bendahara. Struktur organisasi terbaru dilengkapi dengan seksi-seksi yaitu seksi usaha tani, permodalan, pengolahan, sarana dan prasarana produksi, pemasaran dan informasi/teknologi.

Kendala yang dihadapi oleh kelompok-kelompok tersebut dalam menjalankan organisasi kepengurusannya adalah terbatasnya sumberdaya manusia yang memadai. Tingkat pendidikan formal pengurus umumnya rendah, terkecuali untuk beberapa pengurus kelompok tani Kelas Madya dan Kelas Utama. Sebagai contoh pada kelompok tani Pulung Sari Desa Redisari Kecamatan Rowokele yang merupakan kelompok tani Kelas Utama, terdapat 1 (satu) orang pengurusnya berpendidikan sarjana (S1). Salah satu kiat yang dijalankan oleh kelompok tani tersebut dalam mengatasi kelangkaan sumberdaya manusia pengurusnya adalah mencoba memadukan pengalaman berorganisasi kemasyarakatan yang dimiliki oleh ketua kelompok tani selama ini dengan semangat dari anggota pengurus yang potensial.

Berdasarkan pengamatan di lokasi penelitian, kegiatan yang dilakukan kelompok tani meliputi kegiatan sosial (pengajian, kesenian, kerja bakti), kegiatan agribisnis (pengadaan sarana prasarana produksi/saprodi hingga pemasaran hasil) serta kegiatan lainnya seperti simpan pinjam, rapat anggota, pembagian air, pemeliharaan fasilitas irigasi dilakukan secara teratur dengan melibatkan seluruh anggota. Keteraturan tersebut membuat mereka dapat mengatur curahan waktu kerjanya dengan pola yang relatif tetap dari musim ke musim. Keuntungan yang diperoleh dari keteraturan tersebut adalah mereka dapat mengatur dan mencurahkan waktu luangnya pada pekerjaan di luar usahatani, sehingga mereka dapat meningkatkan penghasilannya. Selain itu mereka tidak menutup diri dari perubahan atau perkembangan lingkungan yang terjadi, sehingga kegiatan yang semula hanya mengatur usahatani saja dapat berkembang dengan kegiatan- kegiatan lainnya seperti simpan pinjam uang, pengadaan sarana produksi bersama, pengolahan dan pemasaran produk secara bersama sama.

Kegiatan kelompok tani bervariasi, dari kegiatan yang terkait dengan pertanian sampai kegiatan yang tidak terkait dengan pertanian. Namun demikian, semuanya masih dalam rangka memajukan kelompok tani. Rincian kegiatan umum dari sebagian besar kelompok tani menurut kelas kemampuan kelompok tani dari kelas terendah sampai dengan kelas tertinggi dapat dilihat pada uraian berikut:

Kelompok Tani kelas Pemula, kegiatannya berkisar pada: (1) pertemuan rutin (selapanan, bulanan), (2) arisan, (3) simpan-pinjam, dan (4) pengadaan sarana produksi pertanian. Kelompok Tani kelas Lanjut, kegiatannya berkisar pada: (1) pertemuan rutin (selapanan, bulanan), (2) arisan, (3) simpan-pinjam, (4) pengadaan sarana produksi pertanian, (5) kerja kelompok/arisan kerja, (6) persewaan peralatan non-pertanian (pecah-belah, tikar, dan sebagainya), (7) perbenihan, dan (8) pengendatian hama dan penyakit tanaman.

Kelompok Tani kelas Madya, kegiatannya berkisar pada: (1) pertemuan rutin (selapanan, bulanan), (2) arisan, (3) simpan-pinjam, (4) pengadaan sarana produksi pertanian, (5) kerja kelompok/arisan kerja, (6) persewaan peralatan non-

(8) pengendatian hama dan penyakit tanaman, (9) persewaan peralatan pertanian (sprayer, mesin pompa air diesel, dan sebagainya), dan (10) warung kelompok/koperasi. Kelompok Tani kelas Utama, kegiatannya berkisar pada: (1) pertemuan rutin (selapanan, bulanan), (2) arisan, (3) simpan-pinjam, (4) pengadaan sarana produksi pertanian, (5) kerja kelompok/arisan kerja, (6) persewaan peralatan non-pertanian (pecah-belah, tikar, dan sebagainya), (7) perbenihan, dan (8) pengendatian hama dan penyakit tanaman, (9) persewaan peralatan pertanian (sprayer, mesin pompa air diesel, dan sebagainya), (10) warung kelompok/koperasi dan (11) menjalin kerjasama dengan pihak swasta.

Penilaian Kelas Kemampuan Kelompok Tani

Kemampuan kelompok tani merupakan kapasitas/kompetensi yang dimiliki oleh kelompok tani dalam menjalankan fungsinya sebagai kelas belajar, wahana kerjasama dan unit produksi dalam mengembangan usahatani. Berdasarkan kemampuannya, kelompok tani diklasifikasikan ke dalam 4 (empat) peringkat kelas yaitu kelas Pemula, kelas Lanjut, kelas Madya, dan kelas Utama.

Penilaian kemampuan kelompok tani berdasarkan pada Keputusan Kepala Badan Penyuluhan dan Pengembangan Sumber Daya Manusia Pertanian No. 168/Per/SM.170/J/11/11, tanggal 18 November 2011 tentang Petunjuk Pelaksanaan Penilaian Kemampuan Kelompoktani. Petunjuk dimaksudkan untuk memberikan acuan kepada penyelenggara penyuluhan dalam melaksanakan penilaian kemampuan kelompoktani sehingga diperoleh tingkat perkembangan dan klasifikasi kemampuan kelompoktani.

Prinsip penilaian kemampuan kelompok tani adalah: sahih (valid), objektif, keterandalan (reliable), relevan, dan efisien. Penilaian kemampuan kelompok tani dirumuskan dan disusun dengan pendekatan aspek managemen dan aspek kepemimpinan, yang meliputi : (a) perencanaan, (b) pengorganisasian, (c) pelaksanaan, (d) pengendalian dan pelaporan, (e) pengembangan kepemimpinan Kelompoktani. Lima aspek penilaian itulah yang disebut Lima Kemampuan Kelompoktani atau Panca Kemampuan Kelompoktani disingkat Pakem Poktan. Pakem Poktan didasarkan pada fungsi-fungsi kelompoktani sebagai kelas belajar, wahana kerjasama, dan unit produksi (BPPSDMP 2011). Adapun penilaian dilakukan dengan menggunakan instrumen yang merupakan pengembangan dari aspek dan indikator Pakem Poktan dengan total nilai kemampuan kelompoktani adalah 1.000. Nilai maksimum pada masing-masing aspek adalah sebagai berikut :  Kemampuan merencanakan kegiatan, dengan nilai maksimum indikator : 200  Kemampuan mengorganisasikan kegiatan, dengan nilai maksimum indikator :

100

 Kemampuan melaksanakan kegiatan, dengan nilai maksimum indikator : 400  Kemampuan melakukan pengendalian dan pelaporan, nilai maksimum

indikator : 150

 Kemampuan mengembangkan kepemimpinan kelompok, nilai maksimum indikator: 150.

Klasifikasi kemampuan kelompoktani didasarkan pada hasil penilaian (nilai) sebagai berikut: kelompok tani Kelas Pemula, dengan nilai 0-250, kelompok tani Kelas Lanjut, dengan nilai 251-500. Kelompok tani Kelas Madya dengan nilai 501-750, dan kelompok tani Kelas Utama dengan nilai 751-1.000.

Pengukuhan Kelas Kelompoktani dilaksanakan berdasarkan pengklasifikasian hasil penilaian, yaitu dengan pemberian sertifikat yang ditandatangani oleh Kepala Desa, Camat, Bupati/Walikota sesuai klasifikasi kelas kemampuan kelompok. Kelas Pemula, sertifikat ditandatangani oleh Kepala Desa; Kelas Lanjut, sertifikat ditandatangani oleh Camat; Kelas Madya dan Utama, sertifikat ditandatangani oleh Bupati/Walikota.

Penilaian dilaksanakan mulai bulan Januari, kemudian dilaporkan perkembangan hasil penilaian setiap satu tahun sekali mulai bulan September, secara berjenjang dari desa/kelurahan ke Balai Penyuluhan Kecamatan, kemudian dari Balai Penyuluhan Kecamatan ke Badan Pelaksana Penyuluhan Pertanian (Bapelluh) Kab/Kota, dari Bapelluh Kab/Kota ke Sekretariat Badan Koordinasi Penyuluhan Pertanian (Bakorluh) Provinsi, dari Sekretariat Bakorluh Provinsi ke Pusat Penyuluhan Pertanian Badan Penyuluhan dan Pengembangan SDM Pertanian Jakarta (BPPSDMP 2011).

Setiap tingkatan wilayah administrasi penyelenggara dan pelaksana penyuluhan pertanian disusun organisasi penyelenggara penilaian kelompoktani, yaitu:

(1) Tim Penilaian Tingkat Desa/Kelurahan, terdiri dari: ketua adalah penyuluh pertanian setempat, sekretaris adalah penyuluh pertanian swadaya;

(2) Tim Pelaksana Penilaian Tingkat Kecamatan, ketua adalah pimpinan Balai Penyuluhan Kecamatan, sekretaris penyuluh pertanian senior di Balai Penyuluhan, dan anggota adalah penyuluh pertanian setempat;

(3) Tim Pelaksana Penilaian Tingkat Kabupaten/Kota: ketua adalah Kepala Badan Pelaksana Penyuluhan/Kelembagaan Penyuluh Kabupaten/Kota, sekretaris adalah Kepala Bidang/Bagian yang menangani kelembagaan petani di kabupaten/kota, dan anggota kepala seksi/sub bagian yang menangani kelembagaan tani dan kelompok jabatan fungsional pertanian di kabupaten/kota.

(4) Tim Pembina Penilaian Tingkat Provinsi: ketua adalah Kepala Sekretariat Badan Koordinasi Penyuluhan/ Kelembagaan Penyuluhan Propinsi, sekretaris adalah Kepala Bidang/ Bagian yang menangani kelembagaan petani, dan anggota adalah Kepala Seksi/SubBagian yang menangani kelembagaan tani dan Kelompok Jabatan Fungsional Penyuluh Pertanian Provinsi.

Faktor Internal Petani Anggota Kelompok Tani

Faktor internal petani anggota adalah ciri-ciri yang dimiliki oleh petani anggota yang berhubungan dengan semua aspek kehidupan dengan lingkungannya. Faktor internal petani anggota kelompok tani yang diamati pada penelitian ini meliputi: (1) umur, (2) pendidikan formal, (3) luas lahan, (4) motivasi, (5) pengalaman berusahatani, (6) jumlah tanggungan keluarga, dan (7) kekosmopolitan.

Umur

Umur petani yang dimaksud dalam penelitian ini adalah usia responden dihitung dari lahir hingga saat penelitian, dinyatakan dalam tahun. Umur responden dibagi menjadi tiga kategori berdasarkan penggolongan yang dilakukan oleh Badan Pusat Statistik (BPS) yaitu: (1) Kurang produktif (≥ 65 tahun), (2) Produktif (50 s/d 64 tahun), dan (3) Sangat produktif (15 s/d 49 tahun).

Berdasarkan hasil penelitian, distribusi responden berdasarkan umur disajikan pada Tabel 10.

Tabel 10 Distribusi responden berdasarkan umur

Kelas kemampuan poktan

Kategori umur Kurang produktif

(≥ 65 thn) (50 s/d 64 thn) Produktif Sangat produktif (15 s/d 49 thn)

∑ % ∑ % ∑ % KP (n=30) 9 30,00 8 26,67 13 43,33 KL (n=30) 4 13,33 18 60,00 8 26,67 KM (n=30) 2 6,67 15 50,00 13 43,33 KU (n=30) 1 3,33 16 53,33 13 43,33 Total (n=120) 16 13,33 57 47,50 47 39,17 Catatan :

KP : Kelompok tani kelas Pemula, KL : Kelompok tani kelas Lanjut KM : Kelompok tani kelas Madya, KU : Kelompok tani kelas Utama

Berdasarkan data yang diperoleh di lapangan menunjukkan bahwa umur petani yang menjadi responden dalam penelitian ini bervariasi antara 27 tahun sampai 75 tahun. Pada Kelompok tani kelas Pemula, mayoritas petani (43,33 persen) termasuk kategori umur sangat produktif yaitu berumur antara 15 tahun sampai 49 tahun. Hal ini sesuai dengan komposisi penduduk menurut usia produktif berdasarkan penggolongan yang dilakukan oleh Badan Pusat Statistik (BPS) dibagi dalam 4 (empat) kategori (Umar 2011) yaitu; (1) usia kurang produktif 65 tahun ke atas, (2) usia produktif 50 – 64 tahun, (3) usia sangat produktif 15 – 49 tahun dan usia tidak produktif 0 – 14 tahun.

Pada Kelompok tani kelas Lanjut sebanyak 60,00 persen merupakan petani usia produktif. Sebagian petani anggota Kelompok tani kelas Madya (50,00 persen) berusia produktif. Pada Kelompok tani kelas Utama, mayoritas petani (53,33 persen) tergolong usia produktif.

Hasil penelitian pada Tabel 10 menunjukkan bahwa dari 120 responden mayoritas (47,50 persen) berusia produktif (50-64 tahun). Hal tersebut mengindikasikan bahwa anggota kelompok mampu menjalankan aktifitas usahatani, sehingga diharapkan dapat memberikan hasil berkualitas dan produksi tinggi yang pada akhirnya akan meningkatkan pendapatan petani. Hasil uji beda nonparametrik Kruskal-Wallis tidak menunjukkan adanya perbedaan umur antara petani anggota kelompok tani Kelas Pemula, Lanjut, Madya, dan Utama.

Pendidikan Formal

Pendidikan formal adalah lamanya pendidikan formal (proses belajar mengajar disekolah atau sederajat) yang pernah ditempuh/dicapai oleh responden. Pengukuran berdasarkan jumlah tahun respoden mengikuti pendidikan di bangku sekolah.

Pendidikan formal responden dibagi menjadi tiga kategori yaitu: (1) Rendah, (2) Sedang, dan (3) Tinggi. Kategori rendah berkisar tidak sekolah sampai dengan tamat/lulus Sekolah Dasar (SD). Kategori sedang berkisar tidak lulus SLTP sampai dengan lulus SLTA. Kategori tinggi untuk pendidikan diatas SLTA.

Berdasarkan hasil penelitian, distribusi responden berdasarkan pendidikan formal disajikan pada Tabel 11.

Tabel 11 Distribusi responden berdasarkan pendidikan formal Kelas kemampuan

poktan

Kategori pendidikan formal Rendah (≤ SD ) Menengah (≤ SLTP s/d SLTA) Tinggi (> SLTA) ∑ % ∑ % ∑ % KP (n=30) 15 50,00 14 46,67 1 3,33 KL (n=30) 22 73,33 8 26,67 0 0,00 KM (n=30) 15 50,00 14 46,67 1 3,33 KU (n=30) 9 30,00 17 56,67 4 13,33 Total (n=120) 61 50,83 53 44,17 6 5,00 Catatan :

Dokumen terkait