DAFTAR LAMPIRAN
TINJAUAN PUSTAKA
Kelompok Tani
Sebagai makhluk sosial yang memiliki tingkah laku sosial dan hidup dalam satu medan sosial, maka setiap individu akan mengarahkan dirinya pada pribadi lainnya, yaitu untuk bergabung dan berkelompok dengan orang-orang lain. Dengan demikian individu tersebut akan menjadi anggota kelompok serta menjadi bagian dari kelompok tersebut (Nuraini & Satari 2005). Menurut Iver dan Page (Mardikanto 1993), kelompok adalah merupakan himpunan atau kesatuan manusia yang hidup bersama sehingga terdapat hubungan timbal balik dan saling mempengaruhi serta memiliki kesadaran untuk saling tolong menolong.
Pengertian kelompok tani menurut Kementerian Pertanian (2007) adalah kumpulan petani/peternak/pekebun yang dibentuk atas dasar kesamaan kepentingan, kesamaan kondisi lingkungan (sosial, ekonomi, sumberdaya) dan keakraban untuk meningkatkan dan mengembangkan usaha anggota. Keanggotaan kelompok tani berjumlah 20-25 orang dan atau disesuaikan dengan kondisi lingkungan masyarakat serta usahataninya. Ikatan dalam kelompok berpangkal pada keserasian dalam arti mempunyai pandangan, kepentingan, dan kesenangan yang sama. Diantara ketua kelompok tani dan anggota kelompok maupun diantara sesama anggota terjalin hubungan yang luwes dan wajar. Berbagai bentuk dan jenis kelompok tani pernah dibentuk dan dikembangkan di Indonesia. Berdasarkan kemampuan, yang didasarkan pada sepuluh jurus kemampuan dalam program BIMAS (Bimbingan Massal), kelompok tani dapat dibedakan menjadi empat kelas, yaitu: kelas Pemula, kelas Lanjut, kelas Madya, dan kelas Utama (Deptan 2002).
Penumbuhan kelompok tani dapat dimulai dari kelompok yang bersifat informal yang sudah ada di masyarakat yang selanjutnya melalui kegiatan penyuluhan pertanian diarahkan menuju bentuk kelompok tani yang semakin terikat oleh kepentingan dan tujuan bersama dalam meningkatkan produksi dan pendapatan dari usahataninya. Kelompok tani juga dapat ditumbuhkan dari petani dalam satu wilayah, dapat berupa satu dusun atau lebih, satu desa atau lebih, dapat berdasarkan domisili atau hamparan tergantung dari kondisi lingkungan masyarakatnya dan usahataninya. Jumlah anggota kelompok tani 20 sampai 25 petani atau disesuaikan dengan kondisi lingkungan masyarakat dan usahataninya. Kegiatan kelompok tani yang dikelola tergantung pada kesepakatan anggotanya. Kegiatan kelompok tani dapat berdasarkan jenis usaha, dan unsur-unsur subsistem agribisnis, contohnya kelompok tani yang dikelola berdasarkan pengadaan sarana produksi, produksi, pasca panen, dan pemasaran (Departemen Pertanian.2007).
Keuntungan dibentuknya kelompok tani, antara lain diungkapkan oleh Torres (Mardikanto 1993), yaitu (1) semakin eratnya interaksi dalam kelompok dan semakin terbinanya kepemimpinan kelompok, (2) semakin terarahnya peningkatan secara cepat tentang jiwa kerjasama antarpetani, (3) semakin cepatnya proses difusi penerapan inovasi, (4) semakin meningkatnya kemampuan rata-rata pengembalian hutang petani, (5) semakin meningkatnya orientasi pasar,
(6) semakin dapat membantu efisiensi pembagian air irigasi serta pengawasan oleh petani sendiri.
Kelompok yang berfungsi efektif dalam lingkungan sosial menurut Sumardjo (2003), mempunyai gejala-gejala sebagai berikut (1) keanggotaan dan aktivitas kelompok lebih didasarkan kepada masalah, kebutuhan, dan minat anggota, (2) kelompok tani berkembang mulai dari informal efektif dan berpotensi serta berpeluang untuk berkembang ke formal sejalan dengan kesiapan dan kebutuhan kelompok yang bersangkutan, (3) status kepengurusan yang dikelola dengan motivasi mencapai tujuan bersama dan memenuhi kebutuhan dan kepentingan bersama, cenderung lebih efektif untuk meringankan beban bersama sesama anggota, dibandingkan bila pemecahan masalah dan pemenuhan kebutuhan dilakukan secara sendiri-sendiri, (4) inisiatif anggota kelompok tinggi untuk berusaha meraih kemajuan dan keefektivan kelompok karena adanya keinginan kuat untuk memenuhi kebutuhannya, (5) kinerja kelompok sejalan dengan berkembangnya kesadaran anggota, bila terjadi penyimpangan pengurus segera dapat dikontrol oleh proses dan suasana demokratis kelompok, (6) agen pembaharu cukup berperan secara efektif sebagai pengembang kepemimpinan dan kesadaran kritis dalam masyarakat mengorganisir diri secara dinamis dalam memenuhi kebutuhan kelompok, dan (7) kelompok tani tidak terikat harus berbasis sehamparan, karena yang menentukan efektivitas dan dinamika kelompok adalah keefektivan pola komunikasi lokal dalam mengembangkan peran kelompok.
Berdasarkan berbagai pengertian mengenai kelompok tani, maka dapat disimpulkan bahwa kelompok tani adalah kumpulan petani yang secara non- formal terbentuk atas dasar berbagai faktor seperti adanya kesamaan kebutuhan dan tujuan bersama, kesamaan wilayah tempat tinggal atau kesamaan wilayah hamparan (lahan) usahatani. Didalam kelompok tani, terjadi saling interaksi yang mengatur upaya pemenuhan kebutuhan, pemecahan masalah dan pencapaian tujuan bersama.
Kemampuan Kelompok Tani
Kemampuan kelompok tani merupakan kapasitas/kompetensi yang dimiliki oleh kelompok tani dalam menjalankan fungsinya sebagai kelas belajar, wahana kerjasama dan unit produksi dalam mengembangan usahatani. Berdasarkan kemampuannya, kelompok tani diklasifikasikan ke dalam 4 (empat) peringkat kelas yaitu kelas Pemula, kelas Lanjut, kelas, Madya, dan kelas Utama. Penilaian kemampuan kelompok tani dirumuskan dengan pendekatan aspek manajemen dan aspek kepemimpinan yang meliputi: (a) perencanaan, (b) pengorganisasian, (c) pelaksanaan, (d) pengendalian dan pelaporan, (e) pengembangan kepemimpinan kelompok tani dari fungsi-fungsi kelompok tani sebagai kelas belajar, wahana kerjasama dan unit produksi. Kelima aspek penilaian tersebut dikenal dengan Panca Kemampuan Kelompok tani atau Pakem Poktan (BPPSDMP 2011).
Klasifikasi kemampuan kelompok tani diarahkan untuk memiliki kemampuan sebagai berikut (BPPSDMP 2011):
(1) Kemampuan merencanakan, meliputi kegiatan merencanakan kebutuhan belajar, merencanakan pertemuan/musyawarah, merencanakan pemanfaatan
sumberdaya (pelaksanaan rekomendasi teknologi), merencanakan kegiatan pelestarian lingkungan, merencanakan definitif kelompok (RDK), Rencana Definitif Kebutuhan Kelompok (RDKK) dan rencana kegiatan kelompok lainnya, merencanakan kegiatan usaha (usahatani berdasarkan analisa usaha, peningkatan usaha kelompok, produk sesuai permintaan pasar, pengolahan dan pemasaran hasil, penyediaan jasa).
(2) Kemampuan mengorganisasikan, meliputi kegiatan: menumbuhkembangkan kedisiplinan kelompok, menumbuhkembangkan kemauan/motivasi belajar anggota, mengembangkan aturan organisasi kelompok, mengorganisasikan pembagian tugas anggota dan pengurus kelompok tani.
(3) Kemampuan melaksanakan, meliputi kegiatan: melaksanakan proses pembelajaran secara kondusif, melaksanakan pertemuan dengan tertib, melaksanakan kerjasama penyediaan jasa pertanian, melaksanakan kegiatan pelestarian lingkungan, melaksanakan pembagian tugas, menerapkan kedisiplinan kelompok secara taat azas, melaksanakan dan mentaati kesepakatan anggota, melaksanakan dan mentaati peratura/perundangan yang berlaku, melaksanakan pengadministrasian/pencatatan kegiatan kelompok, melaksanakan pemanfaatan sumberdaya secara optimal, melaksanakan RDK dan RDKK, melaksanakan kegiatan usahatani bersama, melaksanakan penerapan teknologi, melaksanakan pemupukan dan penguatan modal usahatani, melaksanakan pengembangan fasilitas dan sarana kerja, melaksanakan dan mempertahankan kesinambungan produktivitas.
(4) Kemampuan melaksanakan pengendalian dan pelaporan, meliputi kegiatan: mengevaluasi kegiatan perencanaan, mengevaluasi kinerja kelembagaan, mengevaluasi pelaksanaan kegiatan kelompok tani, menyusun laporan pelaksanaan kegiatan.
(5) Kemampuan mengembangkan kepemimpinan kelompok tani, meliputi kegiatan: mengembangkan keterampilan dan keahlian anggota dan pengurus kelompok tani, mengembangkan kader-kader pemimpin, meningkatkan kemampuan anggota untuk melaksanakan hak dan kewajiban, meningkatkan hubungan kerjasama dalam pengembangan organisasi, meningkatkan hubungan kerjasama dalam pengembangan usahatani, mengembangkan usaha kelompok, meningkatkan hubungan kerjasama dengan mitra.
Persepsi, Sikap, dan Perilaku
Persepsi. Sebagai cara pandang, persepsi timbul karena adanya respon terhadap stimulus. Stimulus yang diterima seseorang sangat kompleks, stimulus masuk kedalam otak, kemudian diartikan, ditafsirkan serta diberi makna melalui proses yang rumit baru kemudian dihasilkan persepsi (Atkinson dan Hilgard 1991).
Sejumlah ahli sosial, telah mendefinisikan persepsi. Persepsi, menurut Rakhmat (2007) adalah pengalaman tentang objek, peristiwa, atau hubungan- hubungan yang diperoleh dengan menyimpulkan informasi dan menafsirkan pesan. Senada dengan hal tersebut Atkinson dan Hilgard (1991) menjelaskan bahwa persepsi adalah proses pemberian arti terhadap lingkungan oleh seorang individu. Persepsi mempunyai implikasi penting untuk tingkah laku seseorang,
dan akan menentukan cara ia akan bersikap dan berinteraksi dengan obyek (benda lain, orang, maupun peristiwa) yang dipersepsi tersebut.
Persepsi, menurut Biran (1998) merupakan proses psikologis yang berlangsung pada diri kita sewaktu mengamati berbagai hal yang kita temui alam kehidupan sehari-hari. Sebagai proses, persepsi merupakan proses membangun kesan (forming impressions) dan membuat penilaian (making judgements).
Langevelt sebagaimana diacu dalam Harihanto (2001), mendefinisikan persepsi sebagai pandangan individu terhadap suatu objek (stimulus). Akibat adanya stimulus, individu memberikan respon berupa penerimaan atau penolakan terhadap stimulus tersebut. Dalam konteks persepsi anggota kelompok tani terhadap kepemimpinan kelompok tani, respon ini bisa digunakan sebagai indikator keberhasilan pemimpin dalam mengefektifkan kelompok tani yang dipimpinnya. Langevelt (Harihanto 2001) juga mengatakan bahwa persepsi berhubungan dengan pendapat dan penilaian individu terhadap suatu stimulus yang akan berakibat terhadap motivasi, kemauan dan perasaan terhadap stimulus tersebut. Hal senada juga dikemukakan oleh Robbins (2008), sejumlah faktor dapat berperan dalam membentuk dan kadang memutar balik persepsi. Diantara karakteristik pribadi yang mempengaruhi persepsi adalah sikap, kepribadian, motivasi, kepentingan atau minat, pengalaman dan harapan.
Definisi lain tentang persepsi menurut Munir (Arimbawa 2004), terdapat beberapa faktor yang mempengaruhi persepsi yaitu faktor internal dan eksternal. Faktor-faktor internal adalah (1) keturunan/hereditas, (2) kondisi dan tuntutan biologis/fisiologis, (3) kecerdasan/pendidikan, (4) proyeksi diri (asumsi tentang perilaku orang lain yang dikaitkan dengan nilai-nilai diri sendiri), (5) harapan terhadap objek, (6) efek halo (generalisasi sesuatu yang bersifat khusus), (7) sifat dan keyakinan keagamaan, (8) nilai-nilai individu yang dianut, dan (9) pengetahuan dan pengalaman masa lalu tentang objek. Sedangkan faktor-faktor eksternal adalah (1) norma masyarakat, (2) adat istiadat, (3) konformitas (upaya penyesuaian diri terhadap tuntutan orang lain/tekanan sosial), dan (4) pengaruh ekosistem lainnya.
Satu orang dan atau beberapa orang berada dalam tempat yang sama, mengalami kejadian yang sama serta menerima stimulus yang sama, kemungkinan terjadi penerimaan, penafsiran yang berbeda terhadap objek atau peristiwa yang mereka alami. Persepsi ditentukan oleh faktor personal dan faktor situasional (Rakhmat 2007). Menurut Krech dan Crutchfield (Sarwono 2005) terdapat dua variabel yang mempengaruhi persepsi, yaitu (1) variabel struktural, yaitu faktor- faktor yang terkandung dalam rangsangan fisik dan proses neurofisiologik; dan (2) variabel fungsional, yaitu faktor-faktor yang terdapat dalam diri pengamat seperti kebutuhan, suasana hati, pengalaman masa lampau dan sifat-sifat individual lainnya. Kohler (Rakhmat 2007), menyebutkan jika ingin memahami suatu peristiwa, kita tidak boleh meneliti fakta-fakta secara terpisah, akan tetapi kita harus memandangnya dalam hubungan keseluruhan. Untuk memahami seseorang, kita harus melihat konteksnya, lingkungannya dan masalah yang dihadapinya.
Persepsi pada hakekatnya adalah proses kognitif yang dialami oleh setiap orang di dalam memahami informasi tentang lingkungannya, baik lewat penglihatan, pendengaran, pengahayatan, perasaan dan penciuman. Kunci untuk memahami persepsi adalah terletak pada pengenalan bahwa persepsi merupakan
penafsiran yang unik terhadap situasi, dan bukan pencatatan yang benar terhadap suatu situasi (Thoha 1999).
Menurut Asngari (1984), persepsi orang dipengaruhi oleh pandangan seseorang pada suatu keadaan, fakta atau tindakan. Terdapat tiga mekanisme pembentukan persepsi, yaitu: selectivity, closure, interpretation. Informasi yang sampai kepada seseorang menyebabkan individu yang bersangkutan membentuk persepsi, dimulai dengan pemilihan atau penyaringan, kemudian informasi yang masuk tersebut disusun menjadi kesatuan yang bermakna, dan akhirnya terjadilah interpretasi mengenai fakta keseluruhan informasi tersebut. Pada fase interpretasi, pengalaman yang lalu memegang peran yang penting. Pengalaman di masa lalu atau pengalaman yang dimiliki sebelumnya akan mempengaruhi interpretasi terhadap objek yang dipersepsi tersebut, sehingga akan mempengaruhi sikap dan perilakunya.
Proses seleksi terjadi pada saat seseorang memperoleh informasi, maka akan berlangsung proses penyeleksian pesan tentang pesan mana yang dianggap penting dan tidak penting. Proses closure terjadi ketika hasil seleksi tersebut akan disusun menjadi satu kesatuan yang berurutan dan bermakna sedangkan interpretasi berlangsung ketika yang bersangkutan memberi tafsiran atau makna terhadap informasi tersebut secara menyeluruh. Menurut Angari (1984) pada fase interpretasi ini, pengalaman masa silam atau dahulu, memegang peranan yang penting. Faktor-faktor fungsional yang menentukan persepsi seseorang berasal dari kebutuhan, pengalaman masa lalu dan hal-hal lain termasuk yang kita sebut sebagai faktor-faktor personal (Rakhmat 2007). Selanjutnya Rakhmat menjelaskan yang menentukan persepsi bukan jenis atau bentuk stimuli, tetapi karakter orang yang memberi respons terhadap stimuli.
Sikap. Sikap terbentuk dari pengalaman, melalui proses belajar (Sarwono 2005). Pengalaman yang dimaksud adalah tentang obyek yang menjadi respon evaluasi dari sikap. Proses belajar dari pengalaman adalah sebagai peningkatan pengetahuan individu terhadap obyek sikap. Proses belajar tersebut dapat melalui interaksi dengan pengalaman pribadi, pengaruh orang lain yang dianggap penting, pengaruh kebudayaan, media massa, lembaga pendidikan dan lembaga agama serta pengaruh faktor emosional (Azwar 2003). Sikap akan berarti jika diwujudkan dalam bentuk tindakan, baik lisan maupun tulisan. Menurut Arif (1995) sikap merupakan tingkah laku manusia yang masih terselubung atau belum menampakkan diri keluar, yang dapat dikatakan sebagai kesiapan atau kecenderungan untuk bereaksi terhadap obyek tertentu yang dihadapi, dilihat, diraba, didengar, dicium, dan dirasa pada suatu lingkungan tertentu.
Sherif dan Sherif (Rakhmat 2007) sikap adalah kecenderungan bertindak, berpersepsi, berpikir dan merasa, menghadapi objek, ide, situasi, atau nilai. Sikap mempunyai daya pendorong atau motivasi bukan hanya sekedar rekaman masa lalu, tetapi menentukan apakah seseorang pro atau kontra terhadap sesuatu, menentukan apa yang disukai, diharapkan, diinginkan, mengesampingkan apa yang tidak diinginkan apa yang harus dihindari. Sikap mengandung aspek evaluatif, yaitu mengandung nilai menyenangkan atau tidak menyenangkan. Sikap timbul dari pengalaman, tidak dibawa sejak lahir tetapi merupakan hasil belajar (Rakhmat 2007).
Perilaku. Perilaku merupakan suatu tindakan nyata (action) yang dapat dilihat atau diamati (Rogers dan Shoemaker 1986). Perilaku tersebut terjadi akibat adanya proses penyampaian pengetahuan suatu stimulus sampai pada penentuan sikap untuk bertindak atau tidak bertindak, dan hal ini dapat dilihat dengan menggunakan panca indera. Selanjutnya. Arif (1995) menjelaskan bahwa perilaku atau tingkah laku adalah kebiasaan bertindak yang menunjukkan tabiat seseorang yang terdiri dari pola-pola tingkah iaku yang digunakan oleh individu dalam melakukan kegiatan.Clarke 2008 (Ozmete dan Hira 2011) perilaku adalah bagaimana seseorang melihat, menggunakan dan memproses informasi (stimulus). Dengan demikian, teori perilaku berupaya menjelaskan mengapa dan bagaimana seseorang bertindak. Perilaku manusia pada hakekatnya adalah suatu aktivitas dari manusia itu sendiri, oleh sebab itu, perilaku manusia itu mempunyai bentangan yang sangat luas termasuk kegiatan internal seperti berpikir, persepsi dan emosi.
Hubungan antara persepsi, sikap, dan perilaku. Persepsi yang benar terhadap suatu objek sangat diperlukan, karena persepsi merupakan dasar pembentukan sikap dan perilaku. Asngari (1984) mengatakan bahwa persepsi individu terhadap lingkungannya merupakan faktor penting, karena akan berlanjut dalam menentukan tindakan tersebut. Menurut Thoha (1999), persepsi merupakan unsur penting dalam penyesuaian perilaku. Dengan demikian dapat dikatakan bahwa jika diinginkan agar seseorang berperilaku tertentu terhadap suatu kelompok, maka harus dilakukan intervensi untuk membentuk persepsi yang benar pada diri orang tersebut, terutama jika persepsinya belum benar.
Persepsi Anggota terhadap Kepemimpinan
Persepsi anggota tentang kepemimpinan ketua kelompok tani berhubungan dengan faktor internal dan faktor eksternal petani.
Faktor Internal Petani
Persepsi anggota tentang kepemimpinan sangat dipengaruhi oleh faktor internal masing-masing individu petani. Sampson (Rakhmat 2007) menyatakan faktor internal individu merupakan ciri-ciri yang dimiliki oleh seseorang yang berhubungan dengan semua aspek kehidupan dengan lingkungannya. Karakteristik individu merupakan ciri-ciri atau sifat-sifat individual yang berhubungan dengan semua aspek kehidupan dan lingkungan seseorang. Karakteristik individu merupakan salah satu faktor yang penting untuk diketahui dalam rangka mengetahui suatu perilaku dalam masyarakat. Perilaku seseorang sangat dipengaruhi oleh karakteristik individu. Karakteristik individu adalah ciri- ciri atau sifat-sifat pribadi yang dimiliki oleh seseorang yang diwujudkan dalam pola pikir, sikap, dan tindakannya dalam lingkungan. Karakteristik individu merupakan bagian dari pribadi dan melekat pada diri seseorang. Karakteristik ini mendasari tingkah laku seseorang dalam situasi kerja maupun situasi yang lainnya (Rogers dan Shoemaker 1995). Menurut Mardikanto (1993), karakteristik individu ialah sifat-sifat yang melekat pada diri seseorang dan berhubungan dengan aspek kehidupan, antara lain: umur, jenis kelamin, posisi, jabatan, status sosial dan agama. Menurut Lionberger dan Gwin (1982) beberapa jenis variabel yang berhubungan dengan faktor internal individu diantaranya adalah pendidikan, umur, tempat tinggal, jabatan, kemampuan manajemen, kesehatan dan sikap.
Hasil penelitian yang sudah dilakukan oleh beberapa peneliti sebelumnya yaitu Carmelita (2002) dan Dadang (2002), faktor internal yang diduga berhubungan dengan perilaku pada kegiatan kelompok adalah tingkat pendidikan formal, pendidikan nonformal, pengalaman berusahatani, pendapatan petani, sikap terhadap perubahan, kekosmopolitan, kepemilikan lahan usahatani, dan motivasi berkelompok.
Berdasarkan faktor-faktor tersebut di atas, faktor-faktor internal yang diduga berpengaruh terhadap persepsi anggota dalam penelitian ini adalah umur petani, pendidikan formal, luas lahan garapan, motivasi, pengalaman berusahatani, jumlah tanggungan keluarga, dan kekosmopolitan.
Umur. Umur merupakan suatu indikator umum tentang kapan suatu perubahan harus terjadi. Umur menggambarkan pengalaman dalam diri seseorang sehingga terdapat keragaman tindakannya berdasarkan usia yang dimiliki. Rakhmat (2007) mengatakan bahwa kelompok orang tua melahirkan pola tindakan yang pasti berbeda dengan anak-anak muda. Kemampuan mental tubuh lebih cepat pada masa anak-anak sampai dengan pubertas, dan agak lambat sampai awal dua puluhan dan merosot perlahan-lahan sampai tahun-tahun terakhir.
Umur juga berkorelasi dengan tingkat penerimaan suatu inovasi atau teknologi baru. Robbins (2008) mengatakan bahwa para pekerja yang sudah tua cenderung kurang luwes dan menolak teknologi baru. Keterampilan individu terutama menyangkut kecepatan, kecekatan, kekuatan, koordinasi menurun seiring berjalannya waktu, dan kurangnya rangsangan intelektual, semua berkontribusi terhadap menurunnya produktivitas.
Menurut Suprijanto (2007), ada beberapa faktor yang mempengaruhi orang dewasa ketika dia berada dalam situasi belajar. Faktor tersebut mencakup faktor internal, misalnya adalah umur, dan faktor eksternal, yaitu faktor yang berasal dari luar diri peserta, misalnya keadaaan ruang belajar, perlengkapan belajar, dorongan belajar dari teman dan sebagainya.
Komposisi penduduk menurut usia produktif berdasarkan penggolongan yang dilakukan oleh Badan Pusat Statistik (BPS) dibagi dalam 4 (empat) kategori (Umar 2011) yaitu; (1) usia kurang produktif 65 tahun ke atas, (2) usia produktif 50 – 64 tahun, (3) usia sangat produktif 15 – 49 tahun dan usia tidak produktif 0 – 14 tahun.
Pendidikan Formal. Pendidikan merupakan suatu faktor penting bagi kehidupan manusia. Pendidikan merupakan proses pembentukan pribadi seseorang. Melalui pendidikan seseorang akan memperoleh pengetahuan, sikap, dan keterampilan baru. Pendidikan dapat mempengaruhi cara berfikir, cara merasa, dan cara bertindak. Pendidikan seseorang mempengaruhi perilaku individu baik dari segi pengetahuan, sikap, maupun keterampilan (Slamet 2003). Mardikanto (1993) menyatakan bahwa pendidikan petani umumnya mempengaruhi cara dan pola pikir petani dalam mengelola usahatani. Pendidikan yang relatif tinggi dan umur yang muda menyebabkan petani lebih dinamis. Semakin tinggi tingkat pendidikan seseorang, semakin efisien bekerja dan semakin banyak mengetahui cara-cara atau teknik berusahatani yang lebih baik dan menguntungkan. Dengan demikian, diduga tingkat pendidikan petani berhubungan dengan persepsi petani terhadap kepemimpinan suatu kelompok.
Pendidikan menunjukkan tingkat inteligensia yang berhubungan dengan daya pikir seseorang. Menurut Gonzalez (Jahi 1988) merangkum pendapat beberapa ilmuwan bahwa pendidikan merupakan faktor yang menentukan dalam memperoleh pengetahuan. Pendidikan menggambarkan tingkat kemampuan kognitif dan derajat ilmu pengetahuan yang dimiliki seseorang.
Menurut Mosher (1987) pendidikan formal mempercepat proses belajar, memberikan pengetahuan, kecakapan, dan keterampilan-keterampilan yang diperlukan dalam masyarakat. Mulyasa (2002) mengemukakan bahwa pendidikan berperan dalam mewujudkan masyarakat yang berkualitas, menampilkan individu yang memiliki keunggulan yang tangguh, kreatif, mandiri, dan profesional dalam bidangnya masing-masing. Slamet (2003) mengemukakan bahwa perubahan perilaku yang disebabkan oleh kegiatan pendidikan berupa: (1) perubahan dalam pengetahuan atau hal yang diketahui, (2) perubahan dalam keterampilan atau kebiasaan dalam melakukan sesuatu, dan (3) perubahan dalam sikap mental atau segala sesuatu yang dirasakan. Hernanto (1993) menyatakan rendahnya tingkat pendidikan akan berpeluang kepada rendahnya adopsi teknologi. Tingkat pendidikan merupakan salah satu tolok ukur kualitas sumberdaya manusia. Tingkat pendidikan yang relatif tinggi akan mendorong tumbuhnya pola pikir dan kreatifitas yang mampu menangkap peluang atau kesempatan berusaha.
Hasil penelitian Arey (2010) tentang Persepsi anggota tentang Kepemimpinan, Dinamika dan Keefektifan Kelompok Peternak Sapi Perah menunjukkan bahwa faktor internal anggota kelompok yang berhubungan dengan persepsi anggota tentang kepemimpinan ketua kelompok adalah pendidikan, jumlah ternak yang dimiliki dan pendapatan anggota.
Luas Lahan. Hernanto (1993) menyatakan bahwa lahan merupakan suatu sumberdaya alam fisik yang mempunyai peran sangat penting dalam berbagai segi kehidupan manusia. Luas lahan merupakan sumberdaya alam yang dimiliki oleh petani. Luas lahan garapan petani mempengaruhi pendapatan, taraf hidup, dan derajat kesejahteraan rumah tangga tani. Luas lahan usahatani dapat digolongkan menjadi tiga bagian yaitu (1) sempit dengan luas lahan < 0,5 ha, (2) sedang dengan luas lahan antara 0,5 sampai 2 ha, dan (3) luas dengan luas lahan > 2 ha.
Kepemilikan lahan adalah luas lahan yang dimiliki oleh responden, dinyatakan dalam satuan hektar per kepala keluarga. Kepemilikan lahan sebagian besar responden, dapat dikategorikan rendah yaitu 0,1 – 0,5 hektar berdasarkan klasifikasi lahan petani (Sastraatmaja 2010).
Tohir (1983) mengemukakan luas lahan yang sangat sempit dengan pengelolaan cara tradisional dapat menimbulkan: (1) kemiskinan, (2) kurang mampunyai motivasi dalam memproduksi bahan makanan pokok khususnya beras, (3) ketimpangan dalam penggunaan teknologi, (4) bertambahnya jumlah pengangguran, (5) ketimpangan dalam penggunaan sumber daya alam.
Motivasi. Motivasi sebagai salah satu karakteritik pribadi yang mempengaruhi persepsi. Menurut Terry (Riduwan 2007), motivasi merupakan keinginan yang terdapat pada diri seseorang individu yang merangsangnya untuk melakukan tindakan. Sedangkan menurut Hasibuan dalam Riduwan (2007), teori motivasi mempunyai sub variabel yaitu (1) motif, (2) harapan, dan (3) insentif.
Motivasi berasal dari dua kata yaitu motif dan asi. Motif berarti dorongan, sedangkan asi berarti usaha sehingga motivasi merupakan usaha yang dilakukan
manusia untuk menimbulkan dorongan berbuat dan melakukan tindakan (Soedijanto 1994).
Secara umum motivasi adalah sesuatu yang mendorong seseorang melakukan sesuatu. Menurut Kartono (2006), motivasi adalah:
1. Gambaran penyebab yang akan menimbulkan tingkah laku menuju sasaran tertentu.
2. Pikiran dasar, dorongan bagi seseorang untuk berbuat.