• Tidak ada hasil yang ditemukan

DAFTAR LAMPIRAN

RIWAYAT HIDUP

Penulis dilahirkan di Kebumen pada tanggal 23 Desember 1977 sebagai anak ketujuh dari tujuh bersaudara pasangan Bapak S Kartoharsono dengan Ibu Lasirah. Pendidikan Sarjana ditempuh pada Teknologi Hasil Pertanian, Fakultas Pertanian, Universitas Jenderal Soedirman dan lulus pada tahun 2000 dengan predikat cumlaude.

Pada tahun 2010, penulis dengan sumber beasiswa dana Daftar Isian Pelaksanaan Anggaran (DIPA) Badan Penyuluhan dan Pengembangan SDM Pertanian memperoleh kesempatan mengikuti program magister pada Program Studi Ilmu Penyuluhan Pembangunan, Sekolah Pascasarjana, Institut Pertanian Bogor.

Pada tahun 2001-2003 penulis bekerja sebagai staf pada Dong-IL Corporation, South Korea. Pada tahun 2003-2005 penulis bekerja sebagai staf pada Pusat Pengkajian SDM Pertanian Kementerian Pertanian, dan tahun 2006 sampai sekarang penulis bekerja sebagai staf (fungsional umum) pada Bagian Evaluasi dan Pelaporan Sekretariat Badan Penyuluhan dan Pengembangan SDM Pertanian, Kementerian Pertanian.

Artikel berjudul “Hubungan Persepsi Anggota terhadap Kepemimpinan

Ketua Kelompok Tani dengan Efektifitas Kelompok Tani” menjadi salah satu calon artikel pada Jurnal Agro Ekonomi (JAE) Pusat Analisis Sosial Ekonomi dan Kebijakan Pertanian (PSE-KP), Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian, Kementerian Pertanian. Karya ilmiah tersebut merupakan bagian dari tesis penulis.

1

PENDAHULUAN

Latar Belakang

Kepemimpinan kelompok merupakan kemampuan seseorang untuk mempengaruhi anggota kelompoknya, sehingga anggota kelompoknya bertingkah laku sebagaimana dikehendaki oleh pemimpin dalam upaya mencapai tujuan kelompok. Pada umumnya perubahan perilaku kelompok sangat dipengaruhi oleh perilaku pemimpinnya. Jika pemimpin efektif dalam mempengaruhi anggotanya maka anggota akan berperilaku sesuai yang dikehendaki oleh pemimpin. Oleh karena itu, kepemimpinan kelompok tani menjadi hal yang strategis untuk diperhatikan pada upaya penyuluhan pertanian melalui pendekatan kelompok. Pemimpin (ketua) kelompok tani dapat menampilkan berbagai fungsi kepemimpinan dalam kelompok tani, khususnya menggerakkan anggota agar melakukan berbagai kegiatan untuk mencapai tujuan kelompok yang direncanakan sebaik-baiknya. Kepemimpinan yang baik diharapkan dapat membuat orang bergerak, bergiat dalam kesatuan kelompok sehingga kelompok tersebut berhasil mencapai tujuannya.

Kepemimpinan ketua kelompok tani merupakan salah satu faktor penting untuk mewujudkan kelompok tani yang berhasil mencapai tujuannya. Sills (Mardikanto 1993) menyatakan bahwa efektifitas kelompok tani merupakan keberhasilan kelompok untuk mencapai tujuannya, yang dapat dilihat pada tercapainya keadaan atau perubahan-perubahan yang memuaskan anggotanya.

Kepemimpinan di dalam kelompok tani dianggap sangat penting dalam upaya mencapai tujuan kelompok tani dan untuk mewujudkan kelompok tani yang kuat dan mandiri. Pemerintah khususnya Kementerian Pertanian di dalam upaya menumbuhkan kader-kader pemimpin dalam kelompok tani menetapkan kebijakan berupa Peraturan Kepala Badan Penyuluhan dan Pengembangan Sumber Daya Manusia Pertanian No.168/Per/SM.170/J/11/11 tentang Petunjuk Pelaksanaan Penilaian Kemampuan Kelompok Tani, dimana aspek kepemimpinan merupakan salah satu indikator dalam penilaian kemampuan kelas kelompok tani. Kemampuan kelompok tani merupakan kapasitas yang dimiliki oleh kelompok tani dalam menjalankan fungsinya sebagai kelas belajar, wahana kerjasama dan unit produksi dalam mengembangkan usahatani (Badan Penyuluhan dan Pengembangan SDM Pertanian 2011). Penilaian kemampuan kelompok tani dirumuskan dengan pendekatan aspek manajemen dan aspek kepemimpinan, meliputi: (a) perencanaan, (b) pengorganisasian, (c) pelaksanaan, (d) pengendalian dan pelaporan, (e) pengembangan kepemimpinan kelompok tani dari fungsi- fungsi kelompok tani sebagai kelas belajar, wahana kerjasama dan unit produksi. Kemampuan kelompok tani merupakan kapasitas yang dimiliki oleh kelompok tani dalam menjalankan fungsinya sebagai kelas belajar, wahana kerjasama dan unit produksi dalam mengembangkan usahatani. Berdasarkan peringkat kemampuannya dari terendah hingga tertinggi, kelompok tani diklasifikasikan menjadi 4 (empat) kelas yaitu kelas Pemula, kelas Lanjut, kelas Madya dan kelas Utama.

Setiap pemimpin khususnya pemimpin kelompok tani berkewajiban untuk melaksanakan fungsi kepemimpinan dengan sebaik-baiknya sebagai upaya

menggerakkan kerjasama anggota dalam mencapai tujuan kelompok yang telah direncanakan. Hubungannya dengan pelaksanaan fungsi-fungsi kepemimpinan, menurut Slamet (2003) pemimpin kelompok haruslah melakukan hal-hal berikut ini agar kelompok atau organisasinya dapat dinamis atau efektif mencapai tujuannya yaitu: (1) mengidentifikasi dan menganalisis kelompok beserta tujuannya, (2) membangun struktur kelompok, (3) inisiatif, (4) pencapaian tujuan, (5) mempermudah komunikasi dalam kelompok, (6) mempersatukan kelompok (viscidity), (7) menciptakan suasana yang menyenangkan (hedonic tone), (8) menciptakan keterpaduan kelompok (syntality), dan (9) mengimplementasikan philosophy kelompok.

Kepemimpinan juga dapat dinilai dari figur seorang pemimpin. Pengembangan kelembagaan petani yang efektif didukung oleh figur kepemimpinan. Figur kepemimpinan yang utama di antaranya adalah memiliki kejujuran, berhasil meraih kepercayaan masyarakat, memiliki kemampuan berkomunikasi secara efektif, serta berkompeten (Sumardjo 2003).

Persepsi anggota dalam satu kelompok terhadap sesuatu hal adalah berbeda- beda, termasuk persepsi anggota terhadap kepemimpinan ketua kelompok. Proses pengambilan keputusan untuk terlibat dalam kegiatan kelompok sangat terkait dengan persepsi seseorang terhadap kepemimpinan ketua kelompok. Ketidaksukaan terhadap kepemimpinan ketua kelompok misalnya, menyebabkan orang enggan berkelompok.

Persepsi merupakan proses psikologis yang berlangsung pada diri kita sewaktu mengamati berbagai hal yang kita temui dalam kehidupan sehari-hari. Sebagai proses, persepsi merupakan proses membangun kesan (forming impressions) dan membuat penilaian (making judgements) (Biran 1998). Langevelt dalam Harihanto 2001 juga mengatakan bahwa persepsi berhubungan dengan pendapat dan penilaian individu terhadap suatu stimulus yang akan berakibat terhadap motivasi, kemauan dan perasaan terhadap stimulus tersebut. Hal senada juga dikemukakan oleh Robbins (2008), sejumlah faktor dapat berperan dalam membentuk dan kadang memutar balik persepsi. Diantara karakteristik pribadi yang mempengaruhi persepsi adalah sikap, kepribadian, motivasi, kepentingan atau minat, pengalaman dan harapan. Sedangkan definisi persepsi menurut Rakhmat (2007) adalah pengalaman tentang objek, peristiwa atau hubungan-hubungan yang diperoleh dengan menyimpulkan informasi dan menafsirkan pesan, serta suatu proses pemberian arti terhadap lingkungan oleh seorang individu.

Pendekatan kelompok merupakan metode yang efektif digunakan dalam penyuluhan pertanian. Hal ini sejalan dengan pendapat Van den Ban dan Hawkins (1999), bahwa metode kelompok lebih menguntungkan daripada media massa karena umpan balik yang dihasilkan mengurangi salah pengertian antara penyuluh dan petani. Interaksi ini memberi kesempatan untuk bertukar pengalaman maupun pengaruh terhadap perilaku dan norma para anggota kelompok. Keuntungan metode kelompok juga diungkapkan oleh Albrecht dkk. 1989 (Anantanyu 2009) sebagai berikut: (a) Jumlah petani yang dapat dicapai jumlahnya lebih banyak, (b) Menghemat waktu dibandingkan dengan metode individu, (c) Biaya per kapita kelompok sasaran berkurang, (d) Memungkinkan partisipasi yang lebih besar dari kelompok sasaran, (e) Adanya peningkatan penilaian kemampuan penyuluh oleh petani, dan (f) Teknik-teknik dinamika kelompok dapat digunakan untuk

meningkatkan perluasan informasi dan meningkatkan kesediaan petani membuat keputusan.

Berdasarkan data kelembagaan petani di Provinsi Jawa Tengah, Kabupaten Kebumen memiliki jumlah kelompok tani terbanyak kedua setelah Kabupaten Magelang (Setbakorluh Provinsi Jawa Tengah 2011). Jumlah kelompok tani di Kabupaten Kebumen sebanyak 1.934 kelompok tani dan berdasarkan kelas kemampuannya, dibedakan menjadi empat kelas yaitu Pemula, Lanjut, Madya, dan Utama (Dinas Pertanian dan Peternakan Kabupaten Kebumen 2012). Dengan jumlah kelompok tani yang ada, secara teoritis seharusnya kelompok tani dapat menjadi media transformasi untuk peningkatan kualitas petani di Kabupaten Kebumen. Namun dilihat dari kelas kemampuannya, sebagian besar kelompok tani (1.682 kelompok tani atau sebesar 86,97%) masih merupakan kelompok tani kelas Pemula dan Lanjut (Dinas Pertanian dan Peternakan Kabupaten Kebumen 2012). Hal ini mencerminkan bahwa ketua kelompok tani sebagai pemimpin kelompok belum menjalankan fungsinya dengan baik sehingga kelompok tani belum berfungsi efektif sebagai media interaksi petani dalam meningkatkan kesejahteraannya.

Beranjak dari hal-hal tersebut di atas, maka diperlukan adanya kajian tentang persepsi anggota terhadap kepemimpinan ketua kelompok tani dalam upaya mencapai tujuan kelompok tani. Persepsi yang benar terhadap suatu objek sangat diperlukan, karena persepsi merupakan dasar pembentukan sikap dan perilaku. Apabila terdapat persepsi yang baik dari anggota kelompok tani terhadap kepemimpinan kelompok tani, maka dapat digunakan sebagai indikator keberhasilan pemimpin dalam mencapai tujuan kelompok tani yang dipimpinnya. Sebaliknya, bila terjadi persepsi yang buruk dari anggota kelompok tani, maka dapat dijadikan sebagai kontrol untuk peningkatan kualitas kepemimpinan dalam mewujudkan keberhasilan kelompok tani selanjutnya.

Masalah Penelitian

Proses kepemimpinan ketua kelompok tani diharapkan dapat mewujudkan dan mempertahankan kelompok terutama dalam membimbing dan mengarahkan petani anggota kelompok untuk mencapai tujuan. Dalam upaya pencapaian tujuan kelompok perlu kebersamaan dan kerjasama dari anggota kelompok tani maupun pihak lain.

Langevelt sebagaimana diacu dalam Harihanto (2001) mendefinisikan persepsi sebagai pandangan individu terhadap suatu objek (stimulus). Akibat adanya stimulus, individu memberikan respon berupa penerimaan atau penolakan terhadap stimulus tersebut. Persepsi yang benar terhadap suatu objek sangat diperlukan, karena persepsi merupakan dasar pembentukan sikap dan perilaku (Gibson 1986 diacu dalam Arey 2010). Dalam konteks persepsi anggota terhadap kepemimpinan ketua kelompok tani, respon ini bisa digunakan sebagai indikator keberhasilan pemimpin dalam mewujudkan keberhasilan kelompok tani mencapai tujuan kelompok tani yang dipimpinnya.

Produktivitas kelompok tani dapat ditingkatkan apabila kelompok dapat berjalan dengan efektif yaitu dapat mencapai tujuannya dan memuaskan anggotanya. Sills (Mardikanto 1993) menyatakan bahwa efektifitas kelompok tani merupakan keberhasilan kelompok untuk mencapai tujuannya, yang dapat dilihat

pada tercapainya keadaan atau perubahan-perubahan yang memuaskan anggotanya.

Kepemimpinan dalam kelompok dianggap sangat penting dalam usaha mencapai tujuan kelompok tani. Namun demikian, masih banyak ditemui ketua kelompok tani yang belum dapat menampilkan fungsi kepemimpinannya. Artinya, kepemimpinan ketua kelompok tani belum sepenuhnya berjalan sebagaimana yang diharapkan sehingga tidak mampu menjaga keberhasilan kelompok. Dengan demikian ada tuntutan yang harus dijawab, pemimpin yang bagaimana yang ideal bagi keberhasilan kelompok tani berdasarkan faktor internal dan eksternal petani anggota kelompok tani serta persepsi anggota terhadap kepemimpinan ketua kelompok tani.

Dari uraian tersebut di atas, dapat dirumuskan beberapa permasalahan yang dapat dikaji, di antaranya:

1. Bagaimana persepsi anggota kelompok tani terhadap kepemimpinan ketua kelompok taninya?

2. Bagaimana hubungan antara faktor internal petani anggota (umur, pendidikan formal, luas lahan, motivasi, pengalaman berusahatani, jumlah tanggungan keluarga, kekosmopolitan) dengan persepsi anggota terhadap kepemimpinan ketua kelompok tani?

3. Bagaimana hubungan antara faktor eksternal petani anggota (ketersediaan informasi, peran penyuluh, keterlibatan anggota dalam kegiatan kelompok, manfaat yang diperoleh dari kelompok) dengan persepsi anggota terhadap kepemimpinan ketua kelompok tani?

4. Bagaimana tingkat keberhasilan kelompok tani mencapai tujuan?

5. Bagaimana hubungan antara persepsi anggota kelompok tani terhadap kepemimpinan ketua kelompok tani dengan keberhasilan kelompok tani?

Tujuan Penelitian

Keberadaan kepemimpinan ketua kelompok pada kelompok tani diharapkan dapat bermanfaat pada kinerja kelompok tani, sehingga akan terwujud kelompok tani yang berhasil mencapai tujuannya. Anggota kelompok sebagai bagian dari fondasi kekuatan kelompok, diharapkan memiliki kemampuan dalam membangun kerjasama dengan ketua, menciptakan suasana yang kondusif, menjaga keutuhan kelompok untuk mencapai tujuan bersama. Oleh sebab itu dirasa perlu dilakukan kajian-kajian ilmiah dalam membantu pengayaan ilmu pengetahuan dalam hal kepemimpinan ketua kelompok. Penelitian ini bertujuan untuk:

1. Menganalisis persepsi anggota terhadap kepemimpinan ketua kelompok tani. 2. Menganalisis hubungan faktor internal petani anggota (umur, pendidikan

formal, luas lahan, motivasi, pengalaman berusahatani, jumlah tanggungan keluarga, kekosmopolitan) dengan persepsi anggota terhadap kepemimpinan ketua kelompok tani tersebut.

3. Menganalisis hubungan faktor eksternal petani anggota (ketersediaan informasi, peran penyuluh, keterlibatan anggota dalam kegiatan kelompok, manfaat yang diperoleh dari kelompok) dengan persepsi anggota terhadap kepemimpinan ketua kelompok tani tersebut.

5. Menganalisis hubungan antara persepsi anggota terhadap kepemimpinan ketua kelompok tani dengan keberhasilan kelompok tani.

Manfaat Penelitian

Penelitian ini diharapkan memberikan manfaat sebagai berikut :

1. Menambah khasanah ilmu pengetahuan, khususnya yang berhubungan dengan pengembangan kelompok tani dari aspek kepemimpinan dan manajemen.

2. Memperluas pemahaman tentang pentingnya peranan pemimpin suatu kelompok.

3. Salah satu acuan bagi penentu kebijakan dalam rangka penyusunan rencana pembinaan ketua kelompok tani dan pembinaan kelompok tani, sehingga nantinya dapat membantu kelompok-kelompok tani menjadi kelompok tani yang maju dan mandiri dalam mendukung pembangunan ekonomi berbasis pertanian.

TINJAUAN PUSTAKA

Kelompok Tani

Sebagai makhluk sosial yang memiliki tingkah laku sosial dan hidup dalam satu medan sosial, maka setiap individu akan mengarahkan dirinya pada pribadi lainnya, yaitu untuk bergabung dan berkelompok dengan orang-orang lain. Dengan demikian individu tersebut akan menjadi anggota kelompok serta menjadi bagian dari kelompok tersebut (Nuraini & Satari 2005). Menurut Iver dan Page (Mardikanto 1993), kelompok adalah merupakan himpunan atau kesatuan manusia yang hidup bersama sehingga terdapat hubungan timbal balik dan saling mempengaruhi serta memiliki kesadaran untuk saling tolong menolong.

Pengertian kelompok tani menurut Kementerian Pertanian (2007) adalah kumpulan petani/peternak/pekebun yang dibentuk atas dasar kesamaan kepentingan, kesamaan kondisi lingkungan (sosial, ekonomi, sumberdaya) dan keakraban untuk meningkatkan dan mengembangkan usaha anggota. Keanggotaan kelompok tani berjumlah 20-25 orang dan atau disesuaikan dengan kondisi lingkungan masyarakat serta usahataninya. Ikatan dalam kelompok berpangkal pada keserasian dalam arti mempunyai pandangan, kepentingan, dan kesenangan yang sama. Diantara ketua kelompok tani dan anggota kelompok maupun diantara sesama anggota terjalin hubungan yang luwes dan wajar. Berbagai bentuk dan jenis kelompok tani pernah dibentuk dan dikembangkan di Indonesia. Berdasarkan kemampuan, yang didasarkan pada sepuluh jurus kemampuan dalam program BIMAS (Bimbingan Massal), kelompok tani dapat dibedakan menjadi empat kelas, yaitu: kelas Pemula, kelas Lanjut, kelas Madya, dan kelas Utama (Deptan 2002).

Penumbuhan kelompok tani dapat dimulai dari kelompok yang bersifat informal yang sudah ada di masyarakat yang selanjutnya melalui kegiatan penyuluhan pertanian diarahkan menuju bentuk kelompok tani yang semakin terikat oleh kepentingan dan tujuan bersama dalam meningkatkan produksi dan pendapatan dari usahataninya. Kelompok tani juga dapat ditumbuhkan dari petani dalam satu wilayah, dapat berupa satu dusun atau lebih, satu desa atau lebih, dapat berdasarkan domisili atau hamparan tergantung dari kondisi lingkungan masyarakatnya dan usahataninya. Jumlah anggota kelompok tani 20 sampai 25 petani atau disesuaikan dengan kondisi lingkungan masyarakat dan usahataninya. Kegiatan kelompok tani yang dikelola tergantung pada kesepakatan anggotanya. Kegiatan kelompok tani dapat berdasarkan jenis usaha, dan unsur-unsur subsistem agribisnis, contohnya kelompok tani yang dikelola berdasarkan pengadaan sarana produksi, produksi, pasca panen, dan pemasaran (Departemen Pertanian.2007).

Keuntungan dibentuknya kelompok tani, antara lain diungkapkan oleh Torres (Mardikanto 1993), yaitu (1) semakin eratnya interaksi dalam kelompok dan semakin terbinanya kepemimpinan kelompok, (2) semakin terarahnya peningkatan secara cepat tentang jiwa kerjasama antarpetani, (3) semakin cepatnya proses difusi penerapan inovasi, (4) semakin meningkatnya kemampuan rata-rata pengembalian hutang petani, (5) semakin meningkatnya orientasi pasar,

(6) semakin dapat membantu efisiensi pembagian air irigasi serta pengawasan oleh petani sendiri.

Kelompok yang berfungsi efektif dalam lingkungan sosial menurut Sumardjo (2003), mempunyai gejala-gejala sebagai berikut (1) keanggotaan dan aktivitas kelompok lebih didasarkan kepada masalah, kebutuhan, dan minat anggota, (2) kelompok tani berkembang mulai dari informal efektif dan berpotensi serta berpeluang untuk berkembang ke formal sejalan dengan kesiapan dan kebutuhan kelompok yang bersangkutan, (3) status kepengurusan yang dikelola dengan motivasi mencapai tujuan bersama dan memenuhi kebutuhan dan kepentingan bersama, cenderung lebih efektif untuk meringankan beban bersama sesama anggota, dibandingkan bila pemecahan masalah dan pemenuhan kebutuhan dilakukan secara sendiri-sendiri, (4) inisiatif anggota kelompok tinggi untuk berusaha meraih kemajuan dan keefektivan kelompok karena adanya keinginan kuat untuk memenuhi kebutuhannya, (5) kinerja kelompok sejalan dengan berkembangnya kesadaran anggota, bila terjadi penyimpangan pengurus segera dapat dikontrol oleh proses dan suasana demokratis kelompok, (6) agen pembaharu cukup berperan secara efektif sebagai pengembang kepemimpinan dan kesadaran kritis dalam masyarakat mengorganisir diri secara dinamis dalam memenuhi kebutuhan kelompok, dan (7) kelompok tani tidak terikat harus berbasis sehamparan, karena yang menentukan efektivitas dan dinamika kelompok adalah keefektivan pola komunikasi lokal dalam mengembangkan peran kelompok.

Berdasarkan berbagai pengertian mengenai kelompok tani, maka dapat disimpulkan bahwa kelompok tani adalah kumpulan petani yang secara non- formal terbentuk atas dasar berbagai faktor seperti adanya kesamaan kebutuhan dan tujuan bersama, kesamaan wilayah tempat tinggal atau kesamaan wilayah hamparan (lahan) usahatani. Didalam kelompok tani, terjadi saling interaksi yang mengatur upaya pemenuhan kebutuhan, pemecahan masalah dan pencapaian tujuan bersama.

Kemampuan Kelompok Tani

Kemampuan kelompok tani merupakan kapasitas/kompetensi yang dimiliki oleh kelompok tani dalam menjalankan fungsinya sebagai kelas belajar, wahana kerjasama dan unit produksi dalam mengembangan usahatani. Berdasarkan kemampuannya, kelompok tani diklasifikasikan ke dalam 4 (empat) peringkat kelas yaitu kelas Pemula, kelas Lanjut, kelas, Madya, dan kelas Utama. Penilaian kemampuan kelompok tani dirumuskan dengan pendekatan aspek manajemen dan aspek kepemimpinan yang meliputi: (a) perencanaan, (b) pengorganisasian, (c) pelaksanaan, (d) pengendalian dan pelaporan, (e) pengembangan kepemimpinan kelompok tani dari fungsi-fungsi kelompok tani sebagai kelas belajar, wahana kerjasama dan unit produksi. Kelima aspek penilaian tersebut dikenal dengan Panca Kemampuan Kelompok tani atau Pakem Poktan (BPPSDMP 2011).

Klasifikasi kemampuan kelompok tani diarahkan untuk memiliki kemampuan sebagai berikut (BPPSDMP 2011):

(1) Kemampuan merencanakan, meliputi kegiatan merencanakan kebutuhan belajar, merencanakan pertemuan/musyawarah, merencanakan pemanfaatan

sumberdaya (pelaksanaan rekomendasi teknologi), merencanakan kegiatan pelestarian lingkungan, merencanakan definitif kelompok (RDK), Rencana Definitif Kebutuhan Kelompok (RDKK) dan rencana kegiatan kelompok lainnya, merencanakan kegiatan usaha (usahatani berdasarkan analisa usaha, peningkatan usaha kelompok, produk sesuai permintaan pasar, pengolahan dan pemasaran hasil, penyediaan jasa).

(2) Kemampuan mengorganisasikan, meliputi kegiatan: menumbuhkembangkan kedisiplinan kelompok, menumbuhkembangkan kemauan/motivasi belajar anggota, mengembangkan aturan organisasi kelompok, mengorganisasikan pembagian tugas anggota dan pengurus kelompok tani.

(3) Kemampuan melaksanakan, meliputi kegiatan: melaksanakan proses pembelajaran secara kondusif, melaksanakan pertemuan dengan tertib, melaksanakan kerjasama penyediaan jasa pertanian, melaksanakan kegiatan pelestarian lingkungan, melaksanakan pembagian tugas, menerapkan kedisiplinan kelompok secara taat azas, melaksanakan dan mentaati kesepakatan anggota, melaksanakan dan mentaati peratura/perundangan yang berlaku, melaksanakan pengadministrasian/pencatatan kegiatan kelompok, melaksanakan pemanfaatan sumberdaya secara optimal, melaksanakan RDK dan RDKK, melaksanakan kegiatan usahatani bersama, melaksanakan penerapan teknologi, melaksanakan pemupukan dan penguatan modal usahatani, melaksanakan pengembangan fasilitas dan sarana kerja, melaksanakan dan mempertahankan kesinambungan produktivitas.

(4) Kemampuan melaksanakan pengendalian dan pelaporan, meliputi kegiatan: mengevaluasi kegiatan perencanaan, mengevaluasi kinerja kelembagaan, mengevaluasi pelaksanaan kegiatan kelompok tani, menyusun laporan pelaksanaan kegiatan.

(5) Kemampuan mengembangkan kepemimpinan kelompok tani, meliputi kegiatan: mengembangkan keterampilan dan keahlian anggota dan pengurus kelompok tani, mengembangkan kader-kader pemimpin, meningkatkan kemampuan anggota untuk melaksanakan hak dan kewajiban, meningkatkan hubungan kerjasama dalam pengembangan organisasi, meningkatkan hubungan kerjasama dalam pengembangan usahatani, mengembangkan usaha kelompok, meningkatkan hubungan kerjasama dengan mitra.

Persepsi, Sikap, dan Perilaku

Persepsi. Sebagai cara pandang, persepsi timbul karena adanya respon terhadap stimulus. Stimulus yang diterima seseorang sangat kompleks, stimulus masuk kedalam otak, kemudian diartikan, ditafsirkan serta diberi makna melalui proses yang rumit baru kemudian dihasilkan persepsi (Atkinson dan Hilgard 1991).

Sejumlah ahli sosial, telah mendefinisikan persepsi. Persepsi, menurut Rakhmat (2007) adalah pengalaman tentang objek, peristiwa, atau hubungan- hubungan yang diperoleh dengan menyimpulkan informasi dan menafsirkan pesan. Senada dengan hal tersebut Atkinson dan Hilgard (1991) menjelaskan bahwa persepsi adalah proses pemberian arti terhadap lingkungan oleh seorang individu. Persepsi mempunyai implikasi penting untuk tingkah laku seseorang,

dan akan menentukan cara ia akan bersikap dan berinteraksi dengan obyek (benda lain, orang, maupun peristiwa) yang dipersepsi tersebut.

Persepsi, menurut Biran (1998) merupakan proses psikologis yang berlangsung pada diri kita sewaktu mengamati berbagai hal yang kita temui alam kehidupan sehari-hari. Sebagai proses, persepsi merupakan proses membangun kesan (forming impressions) dan membuat penilaian (making judgements).

Langevelt sebagaimana diacu dalam Harihanto (2001), mendefinisikan persepsi sebagai pandangan individu terhadap suatu objek (stimulus). Akibat adanya stimulus, individu memberikan respon berupa penerimaan atau penolakan terhadap stimulus tersebut. Dalam konteks persepsi anggota kelompok tani terhadap kepemimpinan kelompok tani, respon ini bisa digunakan sebagai indikator keberhasilan pemimpin dalam mengefektifkan kelompok tani yang dipimpinnya. Langevelt (Harihanto 2001) juga mengatakan bahwa persepsi berhubungan dengan pendapat dan penilaian individu terhadap suatu stimulus yang akan berakibat terhadap motivasi, kemauan dan perasaan terhadap stimulus tersebut. Hal senada juga dikemukakan oleh Robbins (2008), sejumlah faktor dapat berperan dalam membentuk dan kadang memutar balik persepsi. Diantara karakteristik pribadi yang mempengaruhi persepsi adalah sikap, kepribadian, motivasi, kepentingan atau minat, pengalaman dan harapan.

Definisi lain tentang persepsi menurut Munir (Arimbawa 2004), terdapat beberapa faktor yang mempengaruhi persepsi yaitu faktor internal dan eksternal. Faktor-faktor internal adalah (1) keturunan/hereditas, (2) kondisi dan tuntutan biologis/fisiologis, (3) kecerdasan/pendidikan, (4) proyeksi diri (asumsi tentang perilaku orang lain yang dikaitkan dengan nilai-nilai diri sendiri), (5) harapan terhadap objek, (6) efek halo (generalisasi sesuatu yang bersifat khusus), (7) sifat dan keyakinan keagamaan, (8) nilai-nilai individu yang dianut, dan (9) pengetahuan dan pengalaman masa lalu tentang objek. Sedangkan faktor-faktor eksternal adalah (1) norma masyarakat, (2) adat istiadat, (3) konformitas (upaya penyesuaian diri terhadap tuntutan orang lain/tekanan sosial), dan (4) pengaruh ekosistem lainnya.

Satu orang dan atau beberapa orang berada dalam tempat yang sama, mengalami kejadian yang sama serta menerima stimulus yang sama, kemungkinan terjadi penerimaan, penafsiran yang berbeda terhadap objek atau peristiwa yang mereka alami. Persepsi ditentukan oleh faktor personal dan faktor situasional (Rakhmat 2007). Menurut Krech dan Crutchfield (Sarwono 2005) terdapat dua variabel yang mempengaruhi persepsi, yaitu (1) variabel struktural, yaitu faktor- faktor yang terkandung dalam rangsangan fisik dan proses neurofisiologik; dan (2) variabel fungsional, yaitu faktor-faktor yang terdapat dalam diri pengamat seperti kebutuhan, suasana hati, pengalaman masa lampau dan sifat-sifat individual lainnya. Kohler (Rakhmat 2007), menyebutkan jika ingin memahami

Dokumen terkait